قَالَ الأُسْتَاذُ الإِمَامُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : فَهٰذَا طَرَفٌ مِنْ تَفْسِيْرِ إِطْلَاقَاتِهِمْ ، وَبَيَانِ عِبَارَاتِهِمْ فِيْمَا انْفَرَدُوْا بِهِ مِنْ أَلْفَاظٍ ، ذَكَرْنَاهَا عَلَى شَرْطِ الإِيْجَازِ
وَنَذْكُرُ الآنَ أَبْوَاباً فِي شَرْحِ المَقَامَاتِ الَّتِي هِيَ مَدَارِجُ أَرْبَابِ السُّلُوْكِ ، ثُمَّ بَعْدَهَا أَبْوَاباً فِي تَفْصِيْلِ الأَحْوَالِ عَلَى الحَدِّ الَّذِيْ يُسَهِّلُ اللهُ تَعَالَى بِفَضْلِهِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
Al-Ustadz Al-Imam (Imam Al-Qusyairi)
radiyallahu 'anhu berkata: "Ini adalah sebagian penjelasan mengenai
istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang khusus mereka (kaum Sufi) gunakan,
yang telah kami sebutkan secara ringkas. Dan sekarang kami akan menyebutkan
bab-bab tentang penjelasan maqamat (tingkatan spiritual) yang merupakan
jenjang bagi para pengelana jalan spiritual (arbabus suluk). Kemudian
setelahnya, bab-bab mengenai rincian ahwal (kondisi spiritual) sejauh
yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala dengan karunia-Nya, insya Allah Ta'ala."
Bab Kelima
Taubat 1
بَابُ التَّوْبَةِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ . حَدَّثَنَا الإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الحَسَنِ بْنِ فَوْرَكٍ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَحْمُوْدٍ ابْنِ خُرَّزَاذَ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الفَضْلِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَكَرِيَّا قَالَ : حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ : سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : « التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ ، وَإِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْداً . . لَمْ يَضُرَّهُ ذَنْبٌ » ، ثُمَّ تَلَا : ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ ﴾ ، قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ؛ وَمَا عَلَامَةُ التَّوْبَةِ ؟ قَالَ : « النَّدَامَةُ
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو الحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الفَضْلِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا الحَكَمُ بْنُ مُوْسَى قَالَ : حَدَّثَنَا غَسَّانُ بْنُ عُبَيْدٍ ، عَنْ أَبِي عَاتِكَةَ طَرِيْفِ بْنِ سَلْمَانَ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَا مِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ شَابٍّ تَائِبٍ
قَالَ الأُسْتَاذُ الإِمَامُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : التَّوْبَةُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ السَّالِكِيْنَ ، وَأَوَّلُ مَقَامٍ مِنْ مَقَامَاتِ الطَّالِبِيْنَ
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Telah menceritakan kepada kami
Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Hasan bin Furak, ia berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Ahmad bin Mahmud ibn Khurrazadz Al-Ahwazi, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl bin Jabir, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Sa'id bin Abdillah, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Zakariyya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami
ayahku, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Orang yang bertaubat dari dosa
seperti orang yang tidak memiliki dosa. Dan apabila Allah telah mencintai
seorang hamba, maka dosa tidak akan membahayakannya (karena ia selalu dibimbing
untuk bertaubat)."
Kemudian beliau membaca ayat: “Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). Lalu ada yang bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah tanda taubat itu?" Beliau menjawab: "Penyesalan
(al-nadamah)."
Telah mengabarkan kepada kami 'Ali
bin Ahmad bin 'Abdan Al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu
Al-Hasan Ahmad bin 'Ubaid Al-Saffar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Al-Fadhl bin Jabir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam
bin Musa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ghassan bin 'Ubaid, dari
Abu 'Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik radiyallahu 'anhu:
Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada sesuatu pun yang
lebih dicintai oleh Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat."
Al-Ustadz Al-Imam radiyallahu
'anhu berkata: "Taubat adalah persinggahan/singgasana pertama dari
persinggahan para pengelana jalan Allah (salikin), dan tingkatan (maqam)
pertama dari tingkatan para pencari kebenaran (thalibin)."
وَحَقِيْقَةُ التَّوْبَةِ فِي لُغَةِ العَرَبِ : الرُّجُوْعُ ، يُقَالُ : تَابَ ؛ أَي : رَجَعَ
فَالْتَّوْبَةُ : الرُّجُوْعُ عَمَّا كَانَ مَذْمُوْمًا فِي الشَّرْعِ إِلَى مَا هُوَ مَحْمُوْدٌ فِي الشَّرْعِ
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « النَّدَمُ تَوْبَةٌ
فَأَرْبَابُ الأُصُوْلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ قَالُوا : شَرْطُ التَّوْبَةِ حَتَّى تَصِحَّ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ
• النَّدَمُ عَلَى مَا عَمِلَ مِنَ المُخَالَفَاتِ .
• وَتَرْكُ الزَّلَّةِ فِي الحَالِ .
• وَالعَزْمُ عَلَى أَلَّا يَعُوْدَ إِلَى مِثْلِ مَا عَمِلَ مِنَ المَعَاصِي .
فَهٰذِهِ الأَرْكَانُ لَا بُدَّ مِنْهَا حَتَّى تَصِحَّ تَوْبَتُهُ .
قَالَ هٰؤُلَاءِ : وَمَا فِي الخَبَرِ أَنَّ النَّدَمَ تَوْبَةٌ إِنَّمَا نَصَّ عَلَى مُعْظَمِهِ ؛ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : « الحَجُّ عَرَفَةُ » ؛ أَيْ : مُعْظَمُ أَرْكَانِهِ عَرَفَةُ ؛ أَي : الوُقُوْفُ بِهَا ، لَا أَنَّهُ لَا رُكْنَ فِي الحَجِّ سِوَى الوُقُوْفِ بِعَرَفَاتٍ ، وَلٰكِنْ مُعْظَمُ أَرْكَانِهِ الوُقُوْفُ ، كَذٰلِكَ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « النَّدَمُ تَوْبَةٌ » أَيْ : مُعْظَمُ أَرْكَانِهَا النَّدَمُ
وَمِنْ أَهْلِ التَّحْقِيْقِ مَنْ قَالَ : يَكْفِي النَّدَمُ فِي تَحْقِيْقِ ذٰلِكَ ؛ لِأَنَّ النَّدَمَ يَسْتَتْبِعُ الرُّكْنَيْنِ الآخَرَيْنِ ؛ فَإِنَّهُ يَسْتَحِيْلُ تَقْدِيْرُ أَنْ يَكُوْنَ نَادِمًا عَلَى مَا هُوَ مُصِرٌّ عَلَى مِثْلِهِ ، أَوْ عَازِمٌ عَلَى الإِتْيَانِ بِمِثْلِهِ
هٰذَا مَعْنَى التَّوْبَةِ عَلَى جِهَةِ التَّحْدِيْدِ وَالإِجْمَالِ
فَأَمَّا عَلَى جِهَةِ الشَّرْحِ وَالإِبَانَةِ : فَإِنَّ لِلتَّوْبَةِ أَسْبَابًا وَتَرْتِيْبًا وَأَقْسَامًا
فَأَوَّلُ ذٰلِكَ : انْتِبَاهُ القَلْبِ عَنْ رَقْدَةِ الغَفْلَةِ ، وَرُؤْيَةُ العَبْدِ مَا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ سُوْءِ الحَالَةِ
وَيَصِلُ إِلَى هٰذِهِ الجُمْلَةِ بِالتَّوْفِيْقِ لِلإِصْغَاءِ إِلَى مَا يَخْطُرُ بِبَالِهِ مِنْ زَوَاجِرِ الحَقِّ سُبْحَانَهُ بِسَمْعِ قَلْبِهِ ؛ فَإِنَّ فِي الخَبَرِ : « وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ » ، وَفِي الخَبَرِ : « إِنَّ فِي بَدَنِ المَرْءِ لَمُضْغَةً ؛ إِذَا صَلَحَتْ . . صَلَحَ جَمِيْعُ البَدَنِ ، وَإِذَا فَسَدَتْ . . فَسَدَ جَمِيْعُ البَدَنِ ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
Hakikat taubat secara bahasa menurut
orang Arab berarti: Kembali (al-ruju'). Dikatakan: taaba,
artinya raja'a (dia telah kembali).
Maka taubat (secara istilah) adalah:
Kembali dari apa yang dicela oleh syariat menuju apa yang dipuji oleh
syariat.
Dan Rasulullah bersabda: "Penyesalan
adalah taubat."
Para ulama ushul dari kalangan Ahlu
Sunnah berkata: Syarat taubat agar menjadi sah ada tiga hal:
- Menyesali atas pelanggaran/kemaksiatan yang telah
diperbuat.
- Meninggalkan kekhilafan/dosa tersebut seketika (pada
saat itu juga).
- Bertekad kuat untuk tidak mengulangi maksiat serupa.
Maka rukun-rukun inilah yang harus
ada agar taubat seseorang menjadi sah.
Mereka (para ulama) berkata: Adapun
hadis yang menyebutkan bahwa "Penyesalan adalah taubat", hal itu
menegaskan tentang rukun utamanya (mu'dzam); sebagaimana sabda Nabi: "Haji
itu adalah Arafah." Artinya, rukun terbesar dalam haji adalah Arafah
(wukuf di Arafah), bukan berarti tidak ada rukun haji selain wukuf di Arafah,
melainkan rukun terutamanya adalah wukuf. Begitu pula sabda beliau: "Penyesalan
adalah taubat," artinya: Rukun terutamanya adalah penyesalan.
Di antara para peneliti ulama (ahlut-tahqiq)
ada yang berpendapat: Penyesalan saja sudah cukup untuk mewujudkan taubat
tersebut, karena penyesalan secara otomatis akan diikuti oleh dua rukun
lainnya. Sebab, sangat mustahil membayangkan seseorang benar-benar menyesal
atas suatu dosa padahal ia masih terus-menerus melakukannya, atau masih bertekad
untuk melakukan hal serupa di kemudian hari.
Inilah makna taubat secara garis
besar dan definisi dasarnya.
Adapun secara rincian dan penjelasan
lebih lanjut: Sesungguhnya taubat itu memiliki sebab-sebab, tingkatan, dan
pembagian:
Sebab pertama dari taubat adalah: Terjaganya hati dari tidurnya kelalaian, serta kesadaran
seorang hamba akan buruknya keadaan dirinya.
Seseorang dapat mencapai tahap ini
dengan pertolongan Allah (ilmiah/taufiq) untuk mendengarkan teguran-teguran
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang terlintas di pikirannya melalui
pendengaran hatinya. Karena dalam sebuah hadis disebutkan: "Nasihat
(peringatan) Allah itu ada di dalam hati setiap orang muslim." Dan
dalam hadis lain disebutkan: "Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia
ada segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan
apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal
daging itu adalah hati."
فَإِذَا تَفَكَّرَ بِقَلْبِهِ فِي سُوْءِ مَا يَصْنَعُهُ ، وَأَبْصَرَ مَا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ قَبِيْحِ الأَفْعَالِ . . سَنَحَ فِي قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ ، وَالإِقْلَاعُ عَنْ قَبِيْحِ المُعَامَلَةِ ، فَيُمِدُّهُ الحَقُّ سُبْحَانَهُ بِتَصْحِيْحِ العَزِيْمَةِ ، وَالأَخْذِ فِي جَمِيْلِ الرَّجْعَى ، وَالتَّأَهُّبِ لِأَسْبَابِ التَّوْبَةِ
فَأَوَّلُ ذٰلِكَ : هِجْرَانُ أَخْدَانِ السُّوْءِ ؛ فَإِنَّهُمْ هُمُ الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَهُ عَلَى رَدِّ هٰذَا القَصْدِ ، وَيُشَوِّشُوْنَ عَلَيْهِ صِحَّةَ هٰذَا العَزْمِ
وَلَا يَتِمُّ ذٰلِكَ إِلَّا بِالمُوَاظَبَةِ عَلَى المُشَاهَدَةِ الَّتِي تَزِيْدُ رَغْبَتَهُ فِي التَّوْبَةِ ، وَتَوَفُّرِ دَوَاعِيْهِ عَلَى إِتْمَامِ مَا عَزَمَ عَلَيْهِ ، مِمَّا يُقَوِّي خَوْفَهُ وَرَجَاءَهُ ، فَعِنْدَ ذٰلِكَ تَنْحَلُّ مِنْ قَلْبِهِ عُقْدَةُ الإِصْرَارِ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ مِنْ قَبِيْحِ الأَفْعَالِ ، فَيَقِفُ عَنْ تَعَاطِي المَحْظُوْرَاتِ ، وَيَكْبُحُ لِجَامَ نَفْسِهِ عَنْ مُتَابَعَةِ الشَّهَوَاتِ ، فَيُفَارِقُ الزَّلَّةَ فِي الحَالِ ، وَيُبْرِمُ العَزِيْمَةَ عَلَى أَلَّا يَعُوْدَ إِلَى مِثْلِهِ فِي الاِسْتِقْبَالِ
فَإِنْ مَضَى عَلَى مُوْجَبِ قَصْدِهِ ، وَنَفَذَ بِمَقْتَضَى عَزْمِهِ . . فَهُوَ المُوَفَّقُ صِدْقًا ، وَإِنْ نَقَضَ التَّوْبَةَ مَرَّةً أَوْ مَرَّاتٍ ، وَتَحْمِلُهُ إِرَادَتُهُ عَلَى تَجْدِيْدِهَا . . فَقَدْ يَكُوْنُ مِثْلُ هٰذَا أَيْضًا كَثِيْرًا ، فَلَا يَنْبَغِي قَطْعُ الرَّجَاءِ عَنْ تَوْبَةِ أَمْثَالِ هٰؤُلَاءِ ؛ فَإِنَّ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابًا
حُكِيَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ : اِخْتَلَفْتُ إِلَى مَجْلِسِ قَاصٍّ ، فَأَثَّرَ كَلَامُهُ فِي قَلْبِي ، فَلَمَّا قُمْتُ . . لَمْ يَبْقَ فِي قَلْبِي شَيْءٌ ، فَعُدْتُ ثَانِيًا فَسَمِعْتُ كَلَامَهُ ، فَبَقِيَ كَلَامُهُ فِي قَلْبِي فِي الطَّرِيْقِ ، ثُمَّ زَالَ عَنْ قَلْبِي ، قَالَ : ثُمَّ عُدْتُ ثَالِثًا ، فَبَقِيَ أَثَرُ كَلَامِهِ فِي قَلْبِي ، حَتَّى رَجَعْتُ إِلَى مَنْزِلِي وَكَسَرْتُ آلَاتِ المُخَالَفَاتِ ، وَلَزِمْتُ الطَّرِيْقَ
فَحَكَى هٰذِهِ الحِكَايَةَ لِيَحْيَى بْنِ مَعَاذٍ فَقَالَ : عُصْفُوْرٌ اِصْطَادَ كُرْكِيًّا . أَرَادَ بِالعُصْفُوْرِ : ذٰلِكَ القَاصَّ ، وَبِالكُرْكِيِّ : أَبَا سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيَّ
Maka ketika ia merenungkan dalam
hatinya tentang keburukan apa yang dilakukannya, dan menyadari betapa buruk
perbuatannya... terbersitlah di dalam hatinya keinginan untuk bertobat dan
berhenti dari perlakuan buruk tersebut. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala
membantunya dengan menguatkan tekadnya, membimbingnya menuju jalan kembali yang
indah, serta bersiap-siap menyiapkan perantara (sebab-sebab) taubat.
Langkah pertama dari hal itu adalah: Meninggalkan teman-teman yang buruk (akhdanus-su');
karena merekalah orang-orang yang mendorongnya untuk membatalkan niat baik ini
dan mengacaukan ketetapan tekadnya.
Hal itu tidak akan sempurna kecuali
dengan berkesinambungan menghadiri perjumpaan/nasihat (mushahadah) yang
dapat menambah keinginannya untuk bertobat, serta menyempurnakan dorongan-dorongan
dalam dirinya untuk menyelesaikan apa yang telah ia tekadkan—yaitu hal-hal yang
dapat memperkuat rasa takut dan harapnya kepada Allah. Pada saat itulah simpul
keterikatan untuk terus-menerus melakukan perbuatan buruk akan terurai dari hatinya.
Ia pun berhenti dari melakukan hal-hal yang dilarang, mengekang kendali
nafsunya dari menuruti syahwat, meninggalkan dosa/kesalahan seketika itu juga,
dan menetapkan tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.
Jika ia terus berjalan sesuai tujuan
niatnya dan merealisasikannya berdasarkan tuntutan tekadnya... maka dialah
orang yang benar-benar mendapat petunjuk (al-muwaffaq). Namun, jika ia
merusak/membatalkan taubatnya sekali atau beberapa kali, lalu keinginannya
mendorongnya kembali untuk memperbarui taubatnya... hal seperti ini juga sering
terjadi. Maka tidak sepatutnya memutuskan harapan dari taubat orang-orang
seperti mereka; karena sesungguhnya setiap ketetapan (ajal) ada masanya
(kitab).
Diceritakan dari Abu Sulaiman
Ad-Darani bahwasanya beliau berkata: "Aku bolak-balik mendatangi
majelis seorang penceramah/pemberi nasihat (qash). Nasihatnya memberi pengaruh
di hatiku, namun ketika aku berdiri (beranjak pergi)... tidak ada yang tersisa
lagi di hatiku. Lalu aku kembali untuk kedua kalinya dan mendengarkan
perkataannya, maka pengaruh perkataannya bertahan di hatiku selama di
perjalanan, kemudian lenyap lagi dari hatiku." Beliau melanjutkan: "Lalu
aku kembali untuk ketiga kalinya, maka bekas pengaruh perkataannya tetap
melekat di hatiku hingga aku pulang ke rumahku, lalu aku hancurkan alat-alat
kemaksiatan (pelanggaran), dan aku menempuh jalan yang lurus."
Kisah ini kemudian diceritakan
kepada Yahya bin Ma'adz, lalu beliau berkata: "Seekor burung pipit
telah menangkap seekor burung bangau (kurki)." Yang dimaksud burung
pipit adalah penceramah tersebut, sedangkan burung bangau adalah Abu Sulaiman
Ad-Darani (menunjukkan betapa besarnya maqam Abu Sulaiman dibanding penceramah
tersebut).
DATAR ISI:
.