بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
الرسالة القشيرية
بابُ المُجَاهَدَةِ
(Bab Mujahadah / Perjuangan Melawan
Hawa Nafsu)
قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ﴾ (١)
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ
الصَّفَّارُ قَالَ : حَدَّثَنَا العَبَّاسُ بْنُ الفَضْلِ الأَسْفَاطِيُّ قَالَ :
حَدَّثَنَا ابْنُ كَاسِبٍ قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ عَلِيِّ
بْنِ زَيْدٍ ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ :
سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَفْضَلِ الجِهَادِ ،
فَقَالَ : « كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ ، وَدَمِعَتْ عَيْنَا
أَبِي سَعِيدٍ
سَمِعْتُ
الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : ( مَنْ
زَيَّنَ ظَاهِرَهُ بِالمُجَاهَدَةِ . . حَسَّنَ اللهُ سَرَائِرَهُ بِالمُشَاهَدَةِ
، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا ﴾
قَالَ
الأُسْتَاذُ الإِمَامُ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ : وَاعْلَمْ : أَنَّ مَنْ لَمْ
يَكُنْ فِي بِدَايَتِهِ صَاحِبَ مُجَاهَدَةٍ . . لَمْ يَجِدْ مِنْ هَذِهِ
الطَّرِيقَةِ شَمَّةً
سَمِعْتُ
الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا
عُثْمَانَ المَغْرِبِيَّ يَقُولُ : ( مَنْ ظَنَّ أَنَّهُ يُفْتَحُ عَلَيْهِ شَيْءٌ
مِنْ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ ، أَوْ يُكْشَفُ لَهُ عَنْ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا
بِلُزُومِ المُجَاهَدَةِ . . فَهُوَ فِي غَلَطٍ
سَمِعْتُ
الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ يَقُولُ : ( مَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ فِي بِدَايَتِهِ
قَوْمَةٌ . . لَمْ تَكُنْ لَهُ فِي نِهَايَتِهِ جَلْسَةٌ
وَبِسَمْعِهِ
يَقُولُ : ( قَوْلُهُمْ : « الحَرَكَةُ بَرَكَةٌ » حَرَكَاتُ الظَّوَاهِرِ تُوجِبُ
بَرَكَاتِ السَّرَائِرِ
سَمِعْتُ
مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ عَلِيِّ بْنِ
جَعْفَرٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ الحَسَنَ بْنَ عَلَوَيْهِ يَقُولُ : قَالَ أَبُو
يَزِيدَ : ( كُنْتُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً حَدَّادَ نَفْسِي ، وَخَمْسَ
سِنِينَ كُنْتُ مِرْآةَ قَلْبِي ، وَسَنَةً أَنْظُرُ فِيمَا بَيْنَهُمَا ؛ فَإِذَا
فِي وَسَطِي زُنَّارٌ ظَاهِرٌ ، فَعَمِلْتُ فِي قَطْعِهِ ثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً
، ثُمَّ نَظَرْتُ ؛ فَإِذَا فِي بَاطِنِي زُنَّارٌ ، فَعَمِلْتُ فِي قَطْعِهِ
خَمْسَ سِنِينَ أَنْظُرُ كَيْفَ أَقْطَعُ ، فَكُشِفَ لِي ، فَنَظَرْتُ إِلَى
الخَلْقِ ، فَرَأَيْتُهُمْ مَوْتَى ، فَكَبَّرْتُ عَلَيْهِمْ أَرْبَعَ
تَكْبِيرَاتٍ )
سَمِعْتُ
الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا
العَبَّاسِ البَغْدَادِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ جَعْفَرًا يَقُولُ : سَمِعْتُ
الجُنَيْدَ يَقُولُ : سَمِعْتُ السَّرِيَّ يَقُولُ : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ ،
جِدُّوا قَبْلَ أَنْ تَبْلُغُوا مَبْلَغِي فَتَضْعُفُوا وَتَقْصُرُوا كَمَا
قَصَرْتُ . وَكَانَ السَّرِيُّ فِي ذَلِكَ الوَقْتِ لا يَلْحَقُهُ الشَّبَابُ فِي العِبَادَةِ
Allah Ta'ala berfirman:"Dan
orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS.
Al-Ankabut: 69)
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad Al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid
Ash-Shaffar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Fadhl
Al-Asfathi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn Kasib, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Ibn Uyainah, dari Ali bin Zaid, dari Abu
Nadhrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya
tentang jihad yang paling utama, lalu beliau bersabda:
"Kalimat keadilan (kebenaran)
di hadapan penguasa yang zalim."
(Dan kedua mata Abu Sa'id pun
meneteskan air mata).
Aku mendengar Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq rahimahullah berkata:
"Barang siapa yang menghiasi
lahiriahnya dengan mujahadah (kesungguhan beribadah/melawan nafsu), maka Allah
akan memperindah batinnya dengan musyahadah (kesadaran akan kehadiran Allah).
Allah Ta'ala berfirman: 'Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan)
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.'"
Ustadz Al-Imam rahimahullah
berkata:
"Ketahuilah, sesungguhnya
barang siapa yang pada permulaannya (dalam menempuh jalan spiritual) tidak
memiliki kesungguhan (mujahadah), maka ia tidak akan mencium wewangian dari
jalan (tarekat/kesucian) ini sedikit pun."
Aku mendengar Syaikh Abu Abdurrahman
As-Sulami berkata: Aku mendengar Abu Utsman Al-Maghribi berkata:
"Barang siapa yang mengira
bahwa akan dibukakan baginya sesuatu dari jalan ini, atau akan disingkapkan
baginya sesuatu darinya tanpa melalui kesungguhan (mujahadah) yang konsisten,
maka dia berada dalam kekeliruan."
Aku mendengar Ustadz Abu Ali
berkata:
"Barang siapa yang pada
permulaannya tidak memiliki 'bangkit' (perjuangan keras), maka pada akhirnya ia
tidak akan mendapatkan 'duduk' (kedudukan/ketenangan)."
Dan darinya juga, beliau berkata:
"Ungkapan mereka: 'Gerak itu
membawa keberkahan,' artinya gerak-gerik lahiriah (dalam ketaatan) akan
membuahkan keberkahan-keberkahan pada batin."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ali bin Ja'far berkata: Aku mendengar Al-Hasan
bin Alawih berkata: Abu Yazid (Al-Busthami) berkata:
"Aku menjadi tukang besi bagi
diriku (menempa nafsu) selama 12 tahun, dan selama 5 tahun aku menjadi cermin
bagi hatiku, lalu selama 1 tahun aku memperhatikan apa yang ada di antara
keduanya; tiba-tiba di pinggangku terdapat tali ikat (sabuk
kesyirikan/penghalang) yang tampak nyata. Maka aku berjuang untuk memotongnya
selama 12 tahun. Kemudian aku melihat lagi, ternyata di batin-ku masih ada tali
ikat itu. Maka aku berjuang untuk memotongnya selama 5 tahun sambil mencari
cara memotongnya hingga dibukakan bagiku. Lalu aku melihat kepada para makhluk,
dan aku melihat mereka seolah-olah telah mati, maka aku menyalatkan mereka
dengan empat kali takbir (takbir janazah)."
Aku mendengar Syaikh Abu Abdurrahman
As-Sulami berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas Al-Baghdadi berkata: Aku
mendengar Ja'far berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: Aku mendengar
As-Sari (Al-Saqathi) berkata:
"Wahai para pemuda,
bersungguh-sungguhlah kalian sebelum kalian mencapai usia seperti diriku hingga
kalian menjadi lemah dan berkurang (kekuatannya) sebagaimana aku telah
berkurang."
(Padahal pada saat itu, tidak ada
seorang pemuda pun yang mampu menandingi As-Sari dalam hal kesungguhan
beribadah).
وسمعتُه
يقولُ : سمعتُ أبا بكرٍ الرازيَّ يقولُ : سمعتُ عبدَ العزيزِ النجرانيَّ يقولُ :
سمعتُ الحسنَ القَزَّازَ يقولُ : ( بُنِيَ هذا الأمرُ على ثلاثةِ أشياءَ : ألا
تأكلَ إلا عندَ الفاقةِ ، ولا تنامَ إلا عندَ الغلبةِ ، ولا تتكلَّمَ إلا عندَ
الضرورةِ
وسمعتُه يقولُ : سمعتُ منصورَ بنَ عبدِ اللهِ يقولُ : سمعتُ محمدَ بنَ حامدٍ يقولُ : سمعتُ أحمدَ بنَ خضرويهِ يقولُ : عن إبراهيمَ بنِ أدهمَ يقولُ : ( لنْ ينالَ الرجلُ درجةَ الصالحينَ حتَّى يجوزَ ستَّ عقابٍ : أوَّلُها : يغلقُ بابَ النعمةِ ، ويفتحُ بابَ الشدَّةِ . والثاني : يغلقُ بابَ العزِّ ، ويفتحُ بابَ الذلِّ . والثالثُ يغلقُ بابَ الراحةِ ، ويفتحُ بابَ الجهدِ . والرابعُ : يغلقُ بابَ النومِ ، ويفتحُ بابَ السهرِ . والخامسُ : يغلقُ بابَ الغنى ، ويفتحُ بابَ الفقرِ . والسادسُ : يغلقُ بابَ الأملِ ، ويفتحُ بابَ الاستعدادِ للموتِ
سمعتُ
الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ يقولُ : سمعتُ جَدِّي أبا عمرو بنَ نُجَيْدٍ
يقولُ : ( مَنْ كَرُمَتْ عليهِ نفسُهُ . . هانَ عليهِ دينُهُ
وسمعتُه
يقولُ : سمعتُ منصورَ بنَ عبدِ اللهِ يقولُ : سمعتُ أبا عليٍّ الرُّوذْبَارِيَّ
يقولُ : ( إذا قالَ الصوفيُّ بعدَ خمسةِ أيامٍ : أنا جائعٌ . . فألزموهُ السوقَ ،
وأْمُرُوهُ بالكسبِ
واعلمْ
: أنَّ أصلَ المجاهدةِ ومِلاَكَها : فِطَامُ النفسِ عنِ المألوفاتِ ، وحملُها على
خلافِ هواها في عمومِ الأوقاتِ
وللنفسِ
صفتانِ : انهماكٌ في الشهواتِ ، وامتناعٌ عنِ الطاعاتِ ، فإذا جَمَحَتْ عندَ ركوبِ
الهوى . . يجبُ كَبْحُها بلجامِ التقوى ، وإذا حَرَنَتْ عندَ القيامِ بالموافقاتِ
. . يجبُ سوقُها على خلافِ الهوى ، وإذا ثَارَتْ عندَ غضبِها . . فمنَ الواجبِ
مراعاةُ حالِها ، فما مِنْ منازلةٍ أحسنَ عاقبةً مِنْ غضبٍ يُكسَرُ سلطانُهُ
بخلُقٍ حسنٍ ، وتُخْمَدُ نيرانُهُ برفقٍ ، وإذا استحَلَّتْ شرابَ الرعونةِ فضاقتْ
إلَّا عنْ إظهارِ مناقبِها ، والتزَيُّنِ لِمَنْ ينظرُ إليها ويلاحظُها . . فمنَ
الواجبِ كسرُ ذلكَ عليها ، وإحلالُها بعَفْوَةِ الذُّلِّ ، بما يُذكِّرُها مِنْ
حقارةِ قدرِها ، وخساسةِ أصلِها ، وقذارةِ فعلِها
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abdul Aziz An-Najrani
berkata: Aku mendengar Al-Hasan Al-Qazzaz berkata: "Perkara
(tasawuf/jalan spiritual) ini dibangun di atas tiga hal: Hendaklah engkau tidak
makan kecuali saat benar-benar lapar (butuh), tidak tidur kecuali saat sangat
terkalahkan (mengantuk berat), dan tidak berbicara kecuali dalam keadaan
darurat."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Manshur bin Abdillah berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hamid
berkata: Aku mendengar Ahmad bin Khadhrawaih berkata dari Ibrahim bin Adham,
beliau berkata: "Seseorang tidak akan mencapai derajat orang-orang
saleh sampai ia melewati enam rintangan/tanjakan:
- Yang pertama:
Menutup pintu kenikmatan, dan membuka pintu kesulitan.
- Yang kedua:
Menutup pintu kemuliaan (duniawi), dan membuka pintu kerendahan hati.
- Yang ketiga:
Menutup pintu santai/istirahat, dan membuka pintu kesungguhan/kerja keras.
- Yang keempat:
Menutup pintu tidur, dan membuka pintu terjaga (ibadah malam).
- Yang kelima:
Menutup pintu kekayaan, dan membuka pintu kefakiran (kesederhanaan).
- Yang keenam:
Menutup pintu angan-angan (duniawi), dan membuka pintu persiapan
menghadapi kematian."*
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar kakekku Abu 'Amr bin Nujaid
berkata: "Barangsiapa yang mengagungkan dirinya sendiri, maka agamanya
akan menjadi murah (diabaikan) baginya."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Manshur bin Abdillah berkata: Aku mendengar Abu Ali Ar-Rudzbari
berkata: "Jika seorang sufi setelah lima hari berkata: 'Aku lapar',
maka bawalah dia ke pasar dan perintahkan dia untuk bekerja (mencari
nafkah)."
Ketahuilah: Bahwa pondasi dan inti
dari mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu) adalah: Menyapih/mencegah
nafsu dari kebiasaan-kebiasaannya, serta membawanya untuk menyelisihi
keinginannya sepanjang waktu.
Nafsu memiliki dua sifat: tenggelam
dalam syahwat, dan enggan melakukan ketaatan. Jika ia liar saat menunggangi
hawa nafsu, maka wajib mengekangnya dengan kendali takwa. Jika ia
mogok/membangkang saat hendak menjalankan ketaatan, maka wajib menuntunnya dengan
menyelisihi hawa nafsunya. Dan jika ia bergejolak saat marah, maka wajib
memperhatikan kondisinya; sebab tidak ada perlawanan yang lebih baik
kesudahannya selain marah yang dipatahkan kekuasaannya dengan akhlak yang baik,
dan dipadamkan apinya dengan kelembutan. Apabila nafsu merasa nikmat dengan
'minuman' kebodohan/kesombongan sehingga terasa sempit baginya kecuali untuk
memamerkan kebaikan-kebaikannya dan berhias bagi orang yang melihatnya, maka
wajib mematahkan hal itu darinya, serta menempatkannya dalam kerendahan hati
yang tulus dengan mengingatkannya akan betapa hina kedudukannya, rendah
asal-usulnya, dan kotor perbuatannya.
وَجَهْدُ
العَوَامِّ في تَوْفِيَةِ الأَعْمَالِ ، وَقَصْدُ الخَوَاصِّ إِلى تَصْفِيَةِ
الأَحْوَالِ ؛ فَإِنَّ مُقَاسَاةَ الجُوعِ وَالسَّهَرِ سَهْلٌ يَسِيرٌ ،
وَمُعَالَجَةَ الأَخْلاَقِ وَالتَّنَقِّيَ مِنْ سَفْسَافِهَا صَعْبٌ شَدِيدٌ
وَمِنْ
غَوَامِضِ آَفَاتِ النَّفْسِ : رُكُونُهَا إِلى اسْتِحْلاَءِ المَدْحِ ؛ فَإِنَّ
مَنْ تَحَسَّى مِنْهُ جُرْعَةً . . حَمَلَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرَضِينَ مَثَلاً
عَلَى أَشْفَارِهِ ، وَأَمَارَةُ ذَلِكَ : أَنَّهُ إِذَا انْقَطَعَ عَنْهُ ذَلِكَ
الشِّرْبُ . . آَلَ حَالُهُ إِلى الكَسَلِ وَالفَشَلِ
كَانَ
بَعْضُ المَشَايِخِ يُصَلِّي في مَسْجِدِهِ في الصَّفِّ الأَوَّلِ سِنِينَ
كَثِيرَةً ، فَعَاقَهُ يَوْماً عَنِ الاِبْتِكَارِ إِلى المَسْجِدِ عَائِقٌ ،
فَصَلَّى في الصَّفِّ الأَخِيرِ ، فَلَمْ يُرَ بَعْدَ ذَلِكَ مُدَّةً ، فَسُئِلَ
عَنِ السَّبَبِ ، فَقَالَ : كُنْتُ أَقْضِي صَلاَةَ كَذَا وَكَذَا سَنَةً
صَلَّيْتُهَا في الصَّفِّ الأَوَّلِ وَعِنْدِي أَنِّي مُخْلِصٌ فِيهَا لِلَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ ، فَدَاخَلَنِي يَوْمَ تَأَخُّرِي عَنِ المَسْجِدِ مِنْ شُهُودِ
النَّاسِ إِيَّايَ في الصَّفِّ الأَخِيرِ نَوْعُ خَجَلٍ ، فَعَلِمْتُ أَنَّ
نَشَاطِي طُولَ عُمْرِي إِنَّمَا كَانَ عَلَى رُؤْيَتِهِمْ ، فَقَضَيْتُ
صَلَوَاتِي
وَيُحْكَى
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ المُرْتَعِشِ أَنَّهُ قَالَ : حَجَجْتُ كَذَا وَكَذَا
حَجَّةً عَلَى التَّجْرِيدِ ، فَبَانَ لِي أَنَّ جَمِيعَ ذَلِكَ كَانَ مَشُوباً
بِحَظِّي ؛ وَذَلِكَ أَنَّ وَالِدَتِي سَأَلَتْنِي يَوْماً أَنْ أَسْتَقِيَ لَهَا
جَرَّةَ مَاءٍ ، فَثَقُلَ ذَلِكَ عَلَى نَفْسِي ، فَعَلِمْتُ أَنَّ مُطَاوَعَةَ
نَفْسِي في الحَجَّاتِ كَانَتْ لِحَظٍّ وَشَوْبٍ لِنَفْسِي ؛ إِذْ لَوْ كَانَتْ
نَفْسِي فَانِيَةً . . لَمْ يَصْعُبْ عَلَيْهَا مَا هُوَ حَقٌّ في الشَّرْعِ
وَكَانَتِ
امْرَأَةٌ قَدْ طَعَنَتْ في السِّنِّ ، فَسُئِلَتْ عَنْ حَالِهَا ، فَقَالَتْ :
كُنْتُ في حَالِ الشَّبَابِ أَجِدُ مِنْ نَفْسِي أَحْوَالاً أَظُنُّهَا قُوَّةَ
الحَالِ ، فَلَمَّا كَبِرْتُ زَالَتْ عَنِّي ، فَعَلِمْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ
قُوَّةَ الشَّبَابِ ، فَتَوَهَّمْتُهَا أَحْوَالاً
سَمِعْتُ
الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ : مَا سَمِعَ
هَذِهِ الحِكَايَةَ أَحَدٌ مِنَ الشُّيُوخِ إِلاَّ رَقَّ لِهَذِهِ العَجُوزِ
وَقَالَ : إِنَّهَا كَانَتْ مُنْصِفَةً
سَمِعْتُ
مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ
ابْنَ شَاذَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ يُوسُفَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ
ذَا النُّونِ المِصْرِيَّ يَقُولُ : ( مَا أَعَزَّ اللَّهُ عَبْداً بِعِزٍّ هُوَ
أَعَزُّ لَهُ مِنْ أَنْ يَدُلَّهُ عَلَى ذُلِّ نَفْسِهِ ، وَمَا أَذَلَّ اللَّهُ
عَبْداً بِذُلٍّ هُوَ أَذَلُّ لَهُ مِنْ أَنْ يَحْجُبَهُ عَنْ ذُلِّ نَفْسِهِ
وَسَمِعْتُهُ
يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ
إِبْرَاهِيمَ الخَوَّاصَ يَقُولُ : ( مَا هَالَنِي شَيْءٌ إِلاَّ رَكِبْتُهُ
وَسَمِعْتُهُ
يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ
الفَضْلِ يَقُولُ : ( الرَّاحَةُ هُوَ الخَلاَصُ مِنْ أَمَانِيِّ النَّفْسِ
Kesungguhan orang-orang awam
berfokus pada penyempurnaan amal perbuatan, sedangkan tujuan orang-orang khusus
(khawash) berfokus pada pembersihan keadaan hati (ahwal). Maka
sesungguhnya menahan lapar dan tidak tidur itu mudah dan ringan, tetapi
memperbaiki akhlak serta membersihkannya dari sifat-sifat yang rendah adalah
hal yang sangat sulit dan berat.
Di antara bahaya tersembunyi dari
hawa nafsu adalah: kecenderungannya untuk menikmati pujian. Barangsiapa yang
meneguk seteguk saja dari pujian itu, niscaya ia merasa seolah-olah sanggup
mengangkut langit dan bumi hanya di atas bulu matanya. Tanda dari hal itu
adalah: jika 'minuman' (pujian) tersebut terputus darinya, keadaan dirinya akan
berubah menjadi malas dan gagal/lesu.
Pernah ada seorang syekh yang selalu
shalat di masjidnya di shaf pertama selama bertahun-tahun. Suatu hari, ada
suatu kendala yang menghalanginya untuk datang lebih awal ke masjid, sehingga
ia pun shalat di shaf paling belakang. Setelah hari itu, ia tidak terlihat lagi
beberapa waktu. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: "Aku sedang
mengqadha shalatku selama sekian dan sekian tahun yang dahulu aku kerjakan di
shaf pertama, padahal dulu aku mengira diriku ikhlas karena Allah 'Azza wa
Jalla. Namun, pada hari aku terlambat dan orang-orang melihatku berada di shaf
belakang, timbul rasa malu dalam diriku. Dari situ aku tahu bahwa semangatku
selama hidupku hanyalah karena pandangan mereka, maka aku pun mengqadha
shalat-shalatku."
Dikisahkan dari Abu Muhammad
Al-Murta'isy bahwa beliau berkata: "Aku telah menunaikan ibadah haji
sekian dan sekian kali secara tajrid (tanpa membawa bekal duniawi), lalu
tampak jelas bagiku bahwa seluruh hajiku itu bercampur dengan bagian dari hawa
nafsuku. Hal itu terjadi ketika ibuku pada suatu hari memintaku untuk
mengambilkan sebotol/sekendi air, lalu rasanya berat sekali bagi nafsuku. Maka
aku pun tahu bahwa kepatuhan nafsuku dalam menunaikan haji-haji tersebut adalah
karena ada bagian dan kepuasan untuk nafsuku sendiri. Sebab, jika nafsuku
benar-benar telah lebur (fana'), tentu ia tidak akan merasa berat
menjalankan apa yang menjadi hak (kewajiban) dalam syariat."
Ada seorang wanita yang sudah sangat
tua, lalu ia ditanya tentang keadaan dirinya. Ia menjawab: "Dahulu pada
masa mudaku, aku merasakan adanya keadaan-keadaan kerohanian (ahwal)
dalam diriku yang kuga kira sebagai kekuatan spiritual (quwwatul hal).
Namun ketika aku tua, hal itu hilang dariku. Maka aku pun tahu bahwa itu
hanyalah kekuatan masa muda belaka, yang dahulu aku sangka sebagai ahwal
spiritual."
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: "Tidak ada seorang pun dari para
syekh yang mendengar kisah ini melainkan hati mereka menjadi lembut kepada
wanita tua ini dan berkata: 'Sesungguhnya wanita ini sangat jujur/obyektif
terhadap dirinya sendiri.'"
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdillah bin Syadzan berkata: Aku mendengar
Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku mendengar Dzun Nun Al-Mishri berkata: "Tidaklah
Allah memuliakan seorang hamba dengan suatu kemuliaan yang lebih mulia baginya
daripada Dia menunjukkan kehinaan nafsunya sendiri kepadanya. Dan tidaklah
Allah menghinakan seorang hamba dengan suatu kehinaan yang lebih hina baginya
daripada Dia menghalanginya dari menyadari kehinaan nafsunya."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Muhammad bin Abdillah Ar-Razi berkata: Aku mendengar Ibrahim
Al-Khawwash berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang menakutkanku melainkan
aku langsung menerjangnya (menghadapinya)."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abdullah Ar-Razi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Fadhl
berkata: "Ketenangan yang sejati adalah terbebas dari angan-angan hawa
nafsu."
سَمِعْتُ
الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ يقولُ : سمعتُ منصورَ بنَ عبدِ اللهِ يقولُ
: سمعتُ أبا عليٍّ الرُّوذْبَارِيَّ يقولُ : دَخَلَتِ الآفَةُ مِنْ ثلاثٍ : سَقَمُ
الطبيعةِ ، وملازمةُ العادةِ ، وفسادُ الصحبةِ
فأنكَرْتُهُ
: ما سَقَمُ الطبيعةِ ؟ فقالَ : أكلُ الحرامِ
فقلتُ
: ما ملازمةُ العادةِ ؟ فقالَ : النظرُ ، والاستماعُ بالحرامِ ، والغيبةُ
قلتُ
: فما فسادُ الصحبةِ ؟ قالَ : كلَّما هَاجَ في النفسِ شهوةٌ . . تَتَبَّعْتَهَا
وسمعتُه
يقولُ : سمعتُ النصراباذيَّ يقولُ : ( سِجْنُكَ نفسُكَ ، إذا خرجْتَ منها
وقعْتَ فيراحةِ الأبدِ
وسمعتُه
يقولُ : سمعتُ محمداً الفرَّاءَ يقولُ : سمعتُ أبا الحسينِ الورَّاقَ يقولُ : (
كانتْ أحكامُنا في مبادئِ أمرِنا في مسجدِ أبي عثمانَ الحيريِّ . . الإيثارَ بما
يُفْتَحُ علينا ، وألَّا نَبِيتَ على معلومٍ ، ومَنِ اسْتَقْبَلَنا بمكروهٍ . . لا
ننتقمُ لأنفسِنا ، بلْ نعتذرُ إليهِ ونتواضعُ لهُ ، وإذا وقعَ في قلوبِنا حقارةٌ
لأحدٍ . . قُمْنا بخدمتِهِ والإحسانِ إليهِ حتَّى تزولَ
وقالَ
أبو حفصٍ : ( النفسُ ظلمةٌ علَّها ، وسِراجُها سرُّها ، ونورُ سِراجِها التوفيقُ ،
فمَنْ لم يصحبْهُ في سرِّهِ توفيقٌ مِنْ ربِّهِ . . كانَ ظلمةً كلُّهُ
قالَ
الأستاذُ الإمامُ أبو القاسمِ رضيَ اللهُ عنهُ : معنى قولِهِ : ( سِراجُها سرُّها
) : يريدُ سرَّ العبدِ الذي بينَهُ وبينَ اللهِ تعالى ، وهوَ محلُّ إخلاصِهِ ،
وبهِ يعرفُ أنَّ الحادثاتِ باللهِ لا بنفسِهِ ولا مِنْ نفسِهِ ؛ ليكونَ متبرِّئاً
مِنْ حولِهِ وقوَّتِهِ على استدامةِ أوقاتِهِ ، ثمَّ بالتوفيقِ يعتصمُ مِنْ شرورِ
نفسِهِ ؛ فإنَّ مَنْ لم يدركْهُ التوفيقُ . لم ينفعْهُ علمُهُ بنفسِهِ ولا
بربِّهِ ، ولهذا قالَ الشيوخُ : ( مَنْ لم يكنْ لهُ سِرٌّ . . فهو مُصِرٌّ
وقالَ
أبو عثمانَ الحيريُّ : ( لا يرى أحدٌ عيبَ نفسِهِ وهوَ مستحسنٌ مِنْ نفسِهِ شيئاً
، وإنَّما يرى عيوبَ نفسِهِ مَنْ يتَّهمُها في جميعِ الأحوالِ
وقالَ
أبو حفصٍ : ( ما أسرعَ هلاكَ مَنْ لا يعرفُ عيبَهُ ؛ فإنَّ المعاصيَ بريدُ الكفرِ
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Manshur bin Abdillah berkata: Aku
mendengar Abu Ali Ar-Rudzbari berkata: "Bencana (kerusakan diri) masuk
melalui tiga hal: penyakit tabiat/watak, terus-menerus menuruti kebiasaan, dan
rusaknya pertemanan/pergaulan."
Maka aku bertanya kepadanya: "Apa
itu penyakit tabiat?" Beliau menjawab: "Memakan makanan yang
haram."
Aku bertanya lagi: "Apa itu
terus-menerus menuruti kebiasaan?" Beliau menjawab: "Melihat
dan mendengarkan hal yang haram, serta berbuat ghibah
(mewadul/menggunjing)."
Aku bertanya lagi: "Lalu apa
itu rusaknya pertemanan/pergaulan?" Beliau menjawab: "Setiap
kali timbul gejolak syahwat di dalam dirimu... engkau terus
memperturutkannya."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar An-Nashrabadzi berkata: "Penjaramu adalah dirimu (nafsumu)
sendiri. Jika engkau telah keluar darinya... niscaya engkau akan jatuh ke dalam
kenikmatan dan ketenangan yang abadi."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Muhammad Al-Farra' berkata: Aku mendengar Abu Al-Husain Al-Warraq
berkata: "Aturan-aturan kami pada awal perjalanan spiritual kami di
masjid Abu 'Utsman Al-Hiri adalah: selalu mengutamakan orang lain (itsar) atas
rezeki yang dibukakan untuk kami, tidak menyimpan bekal (makanan/harta) untuk
esok hari, dan barangsiapa menghadapi kami dengan hal yang tidak
menyenangkan... kami tidak menuntut balas untuk diri kami sendiri, melainkan
kami justru meminta maaf dan bertawadhu (berendah hati) kepadanya. Serta jika
terbersit di hati kami perasaan merendahkan seseorang... kami segera berdiri
melayaninya dan berbuat baik kepadanya hingga perasaan itu hilang."
Abu Hafs berkata: "Nafsu itu
seluruhnya adalah kegelapan, pelitanya adalah rahasia terdalamnya (sirr/hati
nuraninya), dan cahaya bagi pelitanya adalah taufik (bimbingan Allah).
Barangsiapa yang batinnya tidak disertai taufik dari Tuhannya... maka ia
menjadi kegelapan sepenuhnya."
Al-Ustadz Al-Imam Abu Al-Qasim radhiyallahu
'anhu menjelaskan: Maksud dari perkataannya (pelitanya adalah rahasia
terdalamnya) adalah: rahasia seorang hamba yang ada di antara dirinya
dengan Allah Ta'ala, yaitu tempat keikhlasannya. Melalui itu ia menyadari bahwa
segala peristiwa terjadi karena Allah, bukan karena dirinya sendiri dan bukan
pula berasal dari dirinya; agar ia berlepas diri dari daya dan upayanya
sepanjang waktu. Kemudian dengan taufik Allah-lah ia terlindungi dari
kejahatan-kejahatan nafsunya. Sebab barangsiapa yang tidak mendapatkan
taufik... maka ilmunya tentang dirinya sendiri maupun tentang Tuhannya tidak
akan memberi manfaat baginya. Oleh karena itulah para syekh berkata: "Barangsiapa
yang tidak memiliki rahasia batin (keikhlasan bersama Allah)... maka ia adalah
orang yang terus-menerus berada dalam kemaksiatan (mushirr)."
Abu 'Utsman Al-Hiri berkata: "Seseorang
tidak akan mampu melihat aib/kekurangan dirinya sendiri selama ia masih
menganggap baik sesuatu yang ada pada dirinya. Sesungguhnya orang yang mampu
melihat aib-aib nafsunya adalah orang yang selalu curiga (selalu mengutak-atik
& mengevaluasi) nafsunya dalam segala keadaan."
Abu Hafs berkata: "Betapa
cepatnya kebinasaan orang yang tidak mengenali aib/kekurangan dirinya sendiri;
karena sesungguhnya kemaksiatan itu adalah perantara/jalan menuju
kekufuran.
وَقَالَ أَبُﻮ سُلَيْمَانَ : ( مَا اسْتَحْسَنْتُ مِنْ نَفْسِي عَمَلًا فَاحْتَسَبْتُ بِهِ )
وَقَالَ السَّرِيُّ : ( إِيَّاكُمْ وَجِيرَانَ الْأَغْنِيَاءِ ، وَقُرَّاءَ الْأَسْوَاقِ ، وَعُلَمَاءَ الْأُمَرَاءِ )
وَقَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ : ( إِنَّمَا دَخَلَ الْفَسَادُ عَلَى الْخَلْقِ مِنْ سِتَّةِ أَشْيَاءَ
أَوَّلُهَا : ضَعْفُ النِّيَّةِ بِعَمَلِ الْآخِرَةِ .
وَالثَّانِي : صَارَتْ أَبْدَانُهُمْ رَهِينَةً لِشَهَوَاتِهِمْ .
وَالثَّالِثُ : غَلَبَهُمْ طُولُ الْأَمَلِ مَعَ قُرْبِ الْأَجَلِ .
وَالرَّابِعُ : آثَرُوا رِضَا الْمَخْلُوقِينَ عَلَى رِضَا الْخَالِقِ .
وَالْخَامِسُ : اتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ، وَنَبَذُوا سُنَّةَ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
وَالسَّادِسُ : جَعَلُوا قَلِيلَ زَلَّاتِ السَّلَفِ حُجَّةً لِأَنْفُسِهِمْ ، وَدَفَنُوا كَثِيرَ مَنَاقِبِهِمْ
Abu Sulaiman berkata:"Tidaklah aku menganggap baik
suatu amal dari diriku, lalu aku mengharapkan pahala darinya."
As-Sari berkata:"Waspadalah kalian terhadap
tetangga-tetangga orang kaya, para pembaca Al-Qur'an (yang mencari dunia) di
pasar-pasar, dan para ulama penguasa."
Dzu An-Nun Al-Misri berkata:"Sesungguhnya kerusakan masuk
kepada manusia melalui enam perkara:
1.
Pertama: Lemahnya niat dalam beramal untuk akhirat.
2.
Kedua: Tubuh/fisik mereka menjadi tawanan bagi hawa nafsu mereka.
3.
Ketiga: Mereka dikuasai oleh angan-angan yang panjang, padahal ajal
sudah dekat.
4.
Keempat: Mereka lebih mengutamakan keridaan makhluk daripada
keridaan Sang Pencipta (Khaliq).
5.
Kelima: Mereka mengikuti hawa nafsu mereka, dan melemparkan
(mencampakkan) sunnah Nabi mereka ﷺ di belakang
punggung mereka.
6.
Keenam: Mereka menjadikan sedikit kesalahan/kekhilafan para
generasi terdahulu (salaf) sebagai alasan/pembenaran bagi diri mereka sendiri,
dan mengubur (mengabaikan) banyak dari keutamaan/kebaikan mereka."*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.