بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
الرسالة القشيرية
BAB TUJUH
بَابُ الخَلْوَةِ وَالعُزْلَةِ
Bab
Kholwah (Menyendiri untuk Ibadah) dan 'Uzlah (Mengasingkan Diri)
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ
البَصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُعَاوِيَةَ قَالَ :
حَدَّثَنَا القَعْنَبِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ
، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ بَعْجَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَدْرٍ الجُهَنِيِّ ، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ مِنْ خَيْرِ مَعَايِشِ النَّاسِ لَهُمْ : رَجُلاً
آخِذاً بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ ؛ إِنْ سَمِعَ فَزْعَةً أَوْ
هَيْعَةً . . كَانَ عَلَى مَتْنِ فَرَسِهِ ، يَبْتَغِي المَوْتَ أَوْ القَتْلَ فِي
مَكَانِهِ ، أَوْ رَجُلاً فِي غُنَيْمَةٍ لَهُ فِي رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ
الشَّعَفِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الأَوْدِيَةِ ، يُقِيمُ الصَّلاةَ ،
وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ ، وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ اليَقِينُ ، لَيْسَ
مِنَ النَّاسِ إِلاَّ فِي خَيْرٍ »
قَالَ
الأُسْتَاذُ الإِمَامُ رَحْمَةُ اللهِ : الخَلْوَةُ صِفَةُ أَهْلِ الصَّفْوَةِ ،
وَالعُزْلَةُ مِنْ أَمَارَاتِ الوُصْلَةِ
وَلا
بُدَّ لِلْمُرِيدِ فِي ابْتِدَاءِ حَالِهِ مِنَ العُزْلَةِ عَنْ أَبْنَاءِ
جِنْسِهِ ، ثُمَّ فِي نِهَايَتِهِ مِنَ الخَلْوَةِ لِتَحَقُّقِهِ بِأُنْسِهِ
وَمِنْ
حَقِّ العَبْدِ إِذَا آثَرَ العُزْلَةَ : أَنْ يَعْتَقِدَ بِاعْتِزَالِهِ عَنِ
الخَلْقِ سَلامَةَ النَّاسِ مِنْ شَرِّهِ ، وَلا يَقْصِدَ سَلامَتَهُ مِنْ شَرِّ
الخَلْقِ ؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ مِنَ القِسْمَيْنِ نَتِيجَةُ اسْتِصْغَارِ نَفْسِهِ
، وَالثَّانِيَ شُهُودُ مَزِيَّتِهِ عَلَى الخَلْقِ ، وَمَنِ اسْتَصْغَرَ نَفْسَهُ
. . فَهُوَ مُتَوَاضِعٌ ، وَمَنْ رَأَى لِنَفْسِهِ مَزِيَّةً عَلَى أَحَدٍ . .
فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ
وَرُؤِيَ
بَعْضُ الرُّهْبَانِ ، فَقِيلَ لَهُ : إِنَّكَ رَاهِبٌ ؟ فَقَالَ : لا ، بَلْ
أَنَا حَارِسُ كَلْبٍ ؛ إِنَّ نَفْسِي كَلْبٌ يَعَقُرُ الخَلْقَ ، أَخْرَجْتُهَا
مِنْ بَيْنِهِمْ لِيَسْلَمُوا مِنْهَا
وَمَرَّ
إِنْسَانٌ بِبَعْضِ الصَّالِحِينَ ، فَجَمَعَ ذَلِكَ الشَّيْخُ ثِيَابَهُ مِنْهُ ،
فَقَالَ الرَّجُلُ : لِمَ تَجْمَعُ عَنِّي ثِيَابَكَ ؟! لَيْسَتْ ثِيَابِي
نَجِسَةً ! فَقَالَ الشَّيْخُ : وَهِمْتَ فِي ظَنِّكَ ، ثِيَابِي هِيَ النَّجِسَةُ
، جَمَعْتُهَا عَنْكَ لِئَلا تَنَجَّسَ ثِيَابُكَ ، لا لِكَيْلا تَنَجَّسَ
ثِيَابِي
وَمِنْ
آدَابِ العُزْلَةِ : أَنْ يَحْصُلَ مِنَ العُلُومِ مَا يَصِحُّ بِهِ عَقْدُ
تَوْحِيدِهِ ؛ لِكَيْلا يَسْتَهْوِيَهُ الشَّيْطَانُ بِوَسَاوِسِهِ ، ثُمَّ
يَحْصُلَ مِنْ عُلُومِ الشَّرْعِ مَا يُؤَدِّي بِهِ فَرْضَهُ ؛ لِيَكُونَ بِنَاءُ
أَمْرِهِ عَلَى أَسَاسٍ مُحْكَمٍ
Bab
Kholwah (Menyendiri untuk Ibadah) dan 'Uzlah (Mengasingkan Diri)
Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan
kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ubaid Al-Bashri mengabarkan kepada kami, ia
berkata: Abdul Aziz bin Mu'awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata:
Al-Qa'nabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Abi Hazim
menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ba'jah bin Abdullah bin Badr
Al-Juhani, dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya
di antara kehidupan manusia yang paling baik adalah seseorang yang memegang
tali kekang kudanya di jalan Allah; setiap kali ia mendengar suara jeritan
perang atau ketakutan, ia langsung melesat di atas punggung kudanya untuk
mencari kematian atau terbunuh di tempatnya. Atau seseorang yang berada di
kelompok kambing kecilnya di puncak salah satu gunung ini atau di dasar salah
satu lembah ini; ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Rabb-nya
hingga datang kematian padanya, dan ia tidak bergaul dengan manusia kecuali
dalam kebaikan.”
Al-Ustadz Al-Imam (semoga Allah
merahmatinya) berkata: “Kholwah adalah sifat orang-orang pilihan (ahlus
shafwah), dan 'uzlah adalah salah satu tanda/tanda-tanda terhubungnya seorang
hamba dengan Allah (al-wushlah).”
Seorang murid (penempuh jalan
spiritual) pada awal keadaannya wajib melakukan 'uzlah (mengasingkan
diri) dari sesama manusia, kemudian pada tingkat akhirnya melakukan kholwah
(penyendirian batin) demi mewujudkan rasa tentram/keakraban (uns) bersama
Allah.
Di antara kewajiban seorang hamba
ketika memilih 'uzlah adalah: ia harus berkeyakinan bahwa pengasingan
dirinya dari makhluk bertujuan untuk menyelamatkan orang lain dari keburukan
dirinya, bukan bertujuan untuk menyelamatkan dirinya dari keburukan
makhluk. Sebab, sikap yang pertama merupakan buah dari rasa merendahkan diri
(tawaduk), sedangkan sikap kedua menunjukkan anggapan bahwa dirinya memiliki
kelebihan dibanding orang lain. Barang siapa yang merendahkan dirinya, maka ia
adalah orang yang tawaduk; dan barang siapa yang menganggap dirinya memiliki
kelebihan atas orang lain, maka ia adalah orang yang sombong.
Pernah seorang rahib (ahli ibadah)
terlihat, lalu ditanyakan kepadanya: "Apakah engkau seorang
rahib?" Ia menjawab: "Bukan, aku hanyalah seorang penjaga
anjing. Sesungguhnya nafsuku adalah anjing melukai/menggigit orang-orang, maka
aku mengeluarkannya dari tengah-tengah mereka agar mereka selamat dari
gangguannya."
Ada seorang laki-laki berjalan
melewati seorang saleh, lalu syekh (orang saleh) tersebut menarik/mengumpulkan
pakaiannya dari laki-laki itu. Laki-laki itu berkata: "Mengapa engkau
menarik pakaianmu dariku?! Pakaianku tidaklah najis!" Syekh itu
menjawab: "Dugaanmu keliru. Pakaianku dialah yang najis, aku menariknya
darimu agar pakaianmu tidak terkena najis dari pakaianku, bukan karena aku
takut pakaianku tertular najis darimu."
Di antara adab/etika 'uzlah
adalah: hendaknya seseorang terlebih dahulu memperoleh ilmu yang dapat
meluruskan ikatan tauhidnya, agar setan tidak menyesatkannya dengan bisikan
bisikan waswas; kemudian mempelajari ilmu-ilmu syariat secukupnya untuk
menunaikan kewajiban-kewajibannya, agar bangunan amalnya berdiri di atas
fondasi yang kokoh.
وَالعُزْلَةُ
فِي الحَقِيقَةِ : اعْتِزَالُ الخِصَالِ المَذْمُومَةِ ، فَالتَّأْثِيرُ
لِتَبْدِيلِ الصِّفَاتِ ، لا لِلتَّنَائِي عَنِ الأَوْطَانِ ، وَلِهَذَا قِيلَ :
مَنِ العَارِفُ ؟ قَالُوا : كَائِنٌ بَائِنٌ ؛ يَعْنِي : كَائِنٌ مَعَ الخَلْقِ ،
بَائِنٌ عَنْهُمْ بِالسِّرِّ
سَمِعْتُ
الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَقُولُ : (
اِلْبَسْ مَعَ النَّاسِ مَا يَلْبَسُونَ ، وَتَنَاوَلْ مِمَّا يَأْكُلُونَ ،
وَانْفَرِدْ عَنْهُمْ بِالسِّرِّ
وِسَمِعْتُهُ
يَقُولُ : جَاءَنِي إِنْسَانٌ وَقَالَ : جِئْتُكَ مِنْ مَسَافَةٍ بَعِيدَةٍ ،
فَقُلْتُ لَهُ : لَيْسَ هَذَا الحَدِيثُ مِنْ حَيْثُ قَطْعُ المَسَافَاتِ
وَمُقَاسَاةُ الأَسْفَارِ ، فَارِقْ نَفْسَكَ بِخَطْوَةٍ وَقَدْ حَصَلَ
مَقْصُودُكَ
وَيُحْكَى
عَنْ أَبِي يَزِيدَ قَالَ : رَأَيْتُ رَبِّي فِي المَنَامِ ، فَقُلْتُ : كَيْفَ
أَجِدُكَ ؟ قَالَ : فَارِقْ نَفْسَكَ وَتَعَالَ
سَمِعْتُ
الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ رَحْمَةُ اللهِ يَقُولُ :
سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ المَغْرِبِيَّ يَقُولُ : ( مَنِ اخْتَارَ الخَلْوَةَ
عَلَى الصُّحْبَةِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ خَالِياً عَنْ جَمِيعِ الأَذْكَارِ
إِلَّا ذِكْرَ رَبِّهِ ، وَخَالِياً عَنْ جَمِيعِ الإِرَادَاتِ إِلَّا رِضَا
رَبِّهِ ، وَخَالِياً مِنْ مَطَالَبَةِ النَّفْسِ مِنْ جَمِيعِ الأَسْبَابِ ؛
فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِهَذِهِ الصِّفَةِ . . فَإِنَّ خَلْوَتَهُ تُوقِعُهُ فِي
فِتْنَةٍ أَوْ بَلِيَّةٍ
وَقِيلَ
: الاِنْفِرَادُ فِي الخَلْوَةِ أَجْمَعُ لِدَوَاعِي السَّلْوَةِ
وَقَالَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيُّ : ( انْظُرْ : أُنْسُكَ بِالخَلْوَةِ ، أَوْ
أُنْسُكَ مَعَهُ فِي الخَلْوَةِ ؟ فَإِنْ كَانَ أُنْسُكَ بِالخَلْوَةِ . . ذَهَبَ
أُنْسُكَ إِذَا خَرَجْتَ مِنْهَا ، وَإِنْ كَانَ أُنْسُكَ بِهِ فِي الخَلْوَةِ . .
اسْتَوَتْ بِكَ الأَمَاكِنُ فِي الصَّحَارِي وَالبَرَارِي
سَمِعْتُ
مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللهِ
يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ حَامِدٍ يَقُولُ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى زِيَارَةِ
أَبِي بَكْرٍ الوَرَّاقِ ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ قَالَ لَهُ :
أَوْصِنِي ، فَقَالَ : وَجَدْتُ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ فِي الخَلْوَةِ
وَالقِلَّةِ ، وَشَرَّهُمَا فِي الكَثْرَةِ وَالاخْتِلاطِ
وِسَمِعْتُهُ
يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ الجُرَيْرِيَّ
يَقُولُ وَقَدْ سُئِلَ عَنِ العُزْلَةِ ، فَقَالَ : هِيَ الدُّخُولُ بَيْنَ
الزِّحَامِ وَتَحْفَظُ سِرَّكَ أَلاَّ يُزَاحِمُوكَ ، وَتَعْزِلُ نَفْسَكَ عَنِ
الآثَامِ ، وَيَكُونُ سِرُّكَ مَرْبُوطاً بِالحَقِّ
وَقِيلَ
: مَنْ آثَرَ العُزْلَةَ . . حَصَلَ العِزُّ لَهُ
وَقَالَ
سَهْلٌ : ( لا تَصِحُّ الخَلْوَةُ إِلَّا بِأَكْلِ الحَلالِ ، وَلا يَصِحُّ أَكْلُ
الحَلالِ إِلَّا بِأَدَاءِ حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَقَالَ
ذُو النُّونِ : ( لَمْ أَرَ شَيْئاً أَبْعَثَ عَلَى الإِخْلاصِ مِنَ الخَلْوَةِ
وَقَالَ
أَبُو عَبْدِ اللهِ الرَّمْلِيُّ : ( لِيَكُنْ خِدْنُكَ الخَلْوَةَ ، وَطَعَامُكَ
الجُوعَ ، وَحَدِيثُكَ المُنَاجَاةَ ؛ فَإِمَّا أَنْ تَمُوتَ ، وَإِمَّا أَنْ
تَصِلَ إِلَى اللهِ تَعَالَى
Dan 'uzlah (mengasingkan diri) pada
hakikatnya adalah: menyingkirkan sifat-sifat yang tercela. Maka pengaruh yang
dicari adalah untuk mengubah sifat/perangai, bukan sekadar menjauh dari tanah
air. Oleh karena itu pernah ditanyakan: "Siapakah orang yang arif
(mengenal Allah) itu?" Mereka menjawab: "Ia adalah orang yang
hadir sekaligus berpisah (ka'in ba'in); yaitu hadir bersama makhluk secara
lahiriah, namun berpisah dari mereka secara batin/rahasia (sirr)."
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq (semoga Allah merahmatinya) berkata: “Pakailah bersama manusia apa
yang mereka pakai, makanlah dari apa yang mereka makan, namun menyendirilah
dari mereka dalam batinmu (sirr).”
Dan aku mendengarnya berkata: Seseorang
datang kepadaku dan berkata: "Aku datang kepadamu dari jarak yang
sangat jauh." Maka aku katakan padanya: "Urusan (perjalanan
spiritual) ini bukanlah dengan menempuh jarak yang jauh dan beratnya
perjalanan. Tinggalkanlah nafsumu dengan satu langkah saja, maka engkau telah
mencapai maksud/tujuanmu."
Diceritakan dari Abu Yazid bahwa ia
berkata: "Aku melihat Rabb-ku dalam mimpi, lalu aku bertanya:
'Bagaimana caranya agar aku dapat sampai kepada-Mu?' Allah berfirman:
'Tinggalkan nafsumu, dan kemarilah!'"
Aku mendengar Syaikh Abu Abdirrahman
As-Sulami (semoga Allah merahmatinya) berkata: Aku mendengar Abu Utsman
Al-Maghribi berkata: “Barang siapa yang memilih kholwah (menyendiri)
daripada bergaul, hendaknya ia kosong dari segala zikir kecuali zikir kepada
Rabb-nya, kosong dari segala kehendak kecuali keridaan Rabb-nya, dan kosong
dari tuntutan nafsu terhadap segala sebab-sebab duniawi. Jika ia tidak memiliki
sifat ini, maka kholwah-nya justru akan menjatuhkannya ke dalam fitnah atau
bahaya.”
Dan dikatakan: Menyendiri dalam
kholwah itu lebih menghimpun pendorong-pendorong ketenangan hati.
Yahya bin Mu'adh Ar-Razi berkata: “Perhatikanlah:
apakah rasa tentrammu itu karena kholwah-nya, ataukah rasa tentrammu itu
bersama Allah di dalam kholwah? Jika rasa tentrammu hanya karena kholwah, maka
rasa tentram itu akan hilang ketika engkau keluar darinya. Namun jika rasa
tentrammu adalah bersama Allah di dalam kholwah, maka sama saja bagimu semua
tempat, baik di padang pasir maupun belantara.”
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Aku mendengar Muhammad bin
Hamid berkata: Seseorang datang mengunjungi Abu Bakr Al-Warraq. Ketika ia
hendak pulang, ia berkata kepadanya: "Berilah aku wasiat."
Maka Abu Bakr berkata: "Aku menemukan kebaikan dunia dan akhirat berada
dalam kholwah (menyendiri) dan qillah (menyedikitkan hal duniawi), serta
keburukan keduanya ada pada katsrah (kebanyakan) dan ikhtilath (berbaur tanpa
batas)."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Aku mendengar Al-Jurairi berkata ketika
ditanya tentang 'uzlah, lalu ia menjawab: “'Uzlah adalah engkau masuk di
tengah-tengah keramaian namun engkau menjaga batinmu (sirr) agar mereka tidak
mendesaknya, engkau mengasingkan dirimu dari dosa-dosa, dan batinmu senantiasa
terikat dengan Al-Haq (Allah).”
Dan dikatakan: Barang siapa yang
mengutamakan 'uzlah, maka ia akan memperoleh kemuliaan ('izz).
Sahl berkata: “Kholwah tidak akan
sah kecuali dengan memakan makanan yang halal, dan makan makanan yang halal
tidak akan sah kecuali dengan menunaikan hak Allah 'Azza wa Jalla.”
Dzun Nun berkata: “Aku tidak
melihat sesuatu yang lebih mendorong lahirnya keikhlasan daripada kholwah.”
Abu Abdullah Ar-Ramli berkata: “Jadikanlah
kholwah sebagai teman dekatmu, lapar sebagai makananmu, dan munajat sebagai
pembicaraanmu. Dengan demikian, bisa jadi engkau mati (dalam keadaan baik) atau
engkau sampai (wushul) kepada Allah Ta'ala.”
وقال
ذو النون: (ليسَ مَنِ احتَجَبَ عنِ الخَلْقِ بالخَلوَةِ كَمَنِ احتَجَبَ عنهُم
باللهِ عزَّ وجلَّ
سمعتُ
الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ يقولُ: سمعتُ أبا بكرٍ الرازيَّ يقولُ:
سمعتُ جعفرَ ابنَ نُصَيرٍ يقولُ: سمعتُ الجُنَيدَ يقولُ: (مُكابَدَةُ العُزْلَةِ
أيسَرُ مِنْ مُداراةِ الخِلْطَةِ
وقال
مكحولٌ: (إن كانَ في مخالطةِ الناسِ خيرٌ.. فإنَّ في العُزْلَةِ السلامةَ
وقال
يحيى بنُ معاذٍ: (الوَحدَةُ جليسُ الصِّدِّيقينَ
سمعتُ
الشيخَ أبا عليٍّ الدَّقّاقَ رحمةُ اللهِ عليهِ يقولُ: سُمِعَ الشِّبْلِيُّ يقولُ:
الإفلاسُ الإفلاسُ يا ناسُ، فقيلَ لهُ: يا أبا بكرٍ؛ ما علامهُ الإفلاسِ؟ فقالَ:
(مِنْ علاماتِ الإفلاسِ: الاستِئناسُ بالناسِ
وقال
يحيى بنُ أبي كثيرٍ: (مَنْ خالَطَ الناسَ.. داراهُمْ، ومَنْ داراهُمْ.. راءاهُمْ
وقال
شعيبُ بنُ حربٍ: دخلتُ على مالكِ بنِ مِغْوَلٍ بالكوفةِ وهوَ في دارهِ وحدَهُ،
فقلتُ لهُ: أَمَا تَستوحِشُ وحدَكَ؟! فقالَ: ما كنتُ أرىٰ أنَّ أحداً يستوحِشُ معَ
اللهِ عزَّ وجلَّ
سمعتُ
الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ يقولُ: سمعتُ أبا بكرٍ الرازيَّ يقولُ:
سمعتُ أبا عمرٍ الأنماطيَّ يقولُ: سمعتُ الجُنَيدَ يقولُ: (مَنْ أرادَ أنْ يَسلَمَ
لهُ دينُهُ، ويستريحَ بَدنُهُ وقلبُهُ.. فليعتَزِلِ الناسَ؛ فإنَّ هذا زمانُ
وحشَةٍ، والعاقلُ مَنِ اختارَ فيهِ الوَحدَةَ
وسمعتُهُ
يقولُ: سمعتُ أبا بكرٍ الرازيَّ يقولُ: قالَ أبو يعقوبَ السُّوسيُّ: (الانفرادُ لا
يَقوىٰ عليهِ إلَّا الأقوياءُ، ولأمثالِنا الاجتماعُ أوفَقُ وأنفَعُ، يعملُ
بعضُهُمْ علىٰ رؤيةِ بعضٍ
وسمعتُهُ
يقولُ: سمعتُ أبا عثمانَ سعيدَ بنَ أبي سعيدٍ يقولُ: سمعتُ أبا العباسِ
الدامَغانيَّ يقولُ: أوصاني الشِّبْلِيُّ وقالَ: (الزَمِ الوَحدَةَ، وامحُ اسمَكَ
عنِ القومِ، واستَقبِلِ الجِدارَ حتَّىٰ تموتَ
Dzun Nun berkata: "Bukanlah orang yang menutupi
dirinya dari makhluk dengan berkhalwat (menyendiri) itu sama dengan orang yang
menutupi dirinya dari mereka dengan (mengingat) Allah Azza wa Jalla."
Saya mendengar Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Saya mendengar Abu Bakar Ar-Razi
berkata: Saya mendengar Ja'far bin Nushair berkata: Saya mendengar Al-Junaid
berkata:
"Menanggung kesusahan dalam
menyendiri (uzlah) itu lebih ringan daripada menanggung kesusahan dalam
melayani/membujuk pergaulan dengan orang banyak."
Makhul berkata:
"Jika dalam bergaul dengan
manusia terdapat kebaikan, maka sungguh dalam menyendiri terdapat
keselamatan."
Yahya bin Mu'adz berkata:
"Kenyataan menyendiri adalah
teman duduk bagi orang-orang yang jujur/benar (ash-shiddiqin)."
Saya mendengar Syaikh Abu Ali
Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Asy-Syibli terdengar berkata:
"Bangkrut! Bangkrut! Wahai manusia!" Lalu ada yang bertanya
kepadanya: "Wahai Abu Bakar, apa tanda kebangkrutan itu?"
Beliau menjawab:
"Di antara tanda kebangkrutan
adalah merasa nyaman/terhibur dengan manusia (bukan dengan Allah)."
Yahya bin Abi Katsir berkata:
"Barangsiapa yang bergaul
dengan manusia, maka ia akan membujuk/bermanis-manis dengan mereka; dan
barangsiapa yang membujuk mereka, maka ia akan berbuat riya kepada
mereka."
Syu'aib bin Harb berkata: Saya menemui Malik bin Mighwal di Kufah
saat beliau berada di rumahnya sendirian. Lalu saya bertanya kepadanya: "Apakah
engkau tidak merasa kesepian/takut sendirian?" Maka beliau menjawab:
"Saya tidak pernah mengira
bahwa ada seseorang yang merasa kesepian bersama Allah Azza wa Jalla."
Saya mendengar Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Saya mendengar Abu Bakar Ar-Razi
berkata: Saya mendengar Abu Umar Al-Anmathi berkata: Saya mendengar Al-Junaid
berkata:
"Barangsiapa yang ingin agamanya
selamat, serta badan dan hatinya beristirahat (tenang), maka hendaklah ia
menjauhi (mengasingkan diri dari) manusia. Karena ini adalah zaman
kesepian/fitnah, dan orang yang berakal adalah orang yang memilih untuk
menyendiri pada zaman ini."
Dan saya mendengarnya berkata: Saya
mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata: Abu Ya'qub As-Susi berkata:
"Menyendiri itu tidak sanggup
dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat. Sedangkan bagi orang-orang
seperti kita, berkumpul (berinteraksi) itu lebih sesuai dan lebih bermanfaat,
di mana sebagian saling beramal karena melihat yang lainnya."
Dan saya mendengarnya berkata: Saya
mendengar Abu Utsman Sa'id bin Abi Sa'id berkata: Saya mendengar Abu
Al-Abbas Ad-Damaghani berkata: Asy-Syibli memberi wasiat kepadaku
dan berkata:
"Pegang teguhlah kesendirian,
hapuslah namamu dari kaum (masyarakat), dan hadaplah tembok hingga engkau
mati."
وجاءَ رجلٌ إلىٰ شعيبِ بنِ حربٍ، فقالَ لهُ: ما جاءَ بكَ؟ فقالَ: أكونُ معَكَ، قالَ: يا أخي؛ إنَّ العبادةَ لا تكونُ بالشِّرْكَةِ، ومَنْ لم يَستأنِسْ باللهِ.. لم يَأنَسْ بشيءٍ
وقيلَ لبعضِهِمْ: ها هنا أحدٌ تستأنِسُ بهِ؟ فقالَ: نَعَمْ، ومَدَّ يدَهُ إلىٰ مصحفِهِ في حِجرِهِ وقالَ: هٰذا
وفي معناهُ أنشَدوا
وَكُتْبُكَ حَوْلِي مَا تُفَارِقُ مَضْجَعِي ... وَفِيهَا شِفَاءٌ لِلَّذِي أَنَا كَاتِمُ
وقالَ رجلٌ لذي النونِ المصريِّ: متىٰ تصحُّ لي العُزْلَةُ؟ فقالَ: إذا قويتَ علىٰ عُزْلَةِ النفسِ
وقيلَ لابنِ المباركِ: ما دواءُ القلبِ؟ فقالَ: قِلَّةُ الملاقاةِ
وقيلَ: إذا أرادَ اللهُ أنْ ينقُلَ العبدَ مِنْ ذِلِّ المعصيةِ إلىٰ عِزِّ الطاعةِ.. آنَسَهُ بالوَحْدَةِ، وأغناهُ بالقناعةِ، وبصَّرَهُ عيوبَ نفسِهِ؛ فمَنْ أُعْطِيَ ذٰلِكَ.. فقد أُعْطِيَ خيرَ الدنيا والآخرةِ
Seseorang datang kepada Syu'aib
bin Harb, lalu beliau bertanya kepadanya: "Apa yang membuatmu
kemari?" Orang itu menjawab: "Aku ingin bersamamu."
Beliau berkata:
"Wahai saudaraku, sesungguhnya
ibadah itu tidak bisa dilakukan secara berserikat (beramai-ramai). Dan
barangsiapa yang tidak merasa terhibur/nyaman bersama Allah, maka ia tidak akan
bisa merasa terhibur dengan apa pun."
Dikatakan kepada sebagian dari
mereka (seorang ulama): "Apakah di sini ada seseorang yang bisa
membuatmu merasa nyaman/kerasan?" Ia menjawab: "Ya," lalu
ia mengulurkan tangannya ke mushaf (Al-Qur'an) yang ada di pangkuannya seraya
berkata: "Ini dia."
Mengenai makna tersebut, mereka
melantunkan bait syair
"Kitab-kitab-Mu berada di
sekelilingku, tidak pernah berpisah dari tempat tidurku... Di dalamnya terdapat
penawar bagi segala (kerinduan/keluh kesah) yang aku sembunyikan."
Seseorang bertanya kepada Dzun
Nun Al-Mishri: "Kapan berkhalwat/menyendiri (uzlah) itu dianggap
sah/benar bagiku?" Beliau menjawab:
"Jika engkau telah mampu menyendirikan
(mengendalikan) nafsumu."
Dikatakan kepada Ibnu al-Mubarak:
"Apa obat hati itu?" Beliau menjawab:
"Sedikit bertemu (dengan banyak
orang)."
Dan dikatakan pula:
"Jika Allah berkehendak
memindahkan seorang hamba dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan ketaatan, maka
Allah akan membuatnya merasa nyaman dalam kesendirian, membuatnya merasa cukup
dengan sifat qana'ah, dan memperlihatkan kepadanya cacat/kekurangan
dirinya sendiri. Maka barangsiapa yang dikaruniai hal itu, sungguh ia telah
diberi kebaikan dunia dan akhirat."
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.