بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ


BAB II :
KENABIAN (NUBUWWAH)
Bab ini berisi uraian tentang permasalahan-permasalah
yang berkaitan dengan para nabi,
Yang merupakan bagian kedua dari dua bagian
iman. Iman tersusun dari dua bagian. Pertama, iman kepada Allah Ta’ala, yakni
haditsun-nafsi yang mengikuti pengenalan sifat yang wajib, yang mustahil dan
yang mungkin bagi Allah Ta’ala. Uraian tentang bagian iman yang pertama ini
sudah kami jelaskan pada Bab I. Adapun bagian iman yang kedua adalah iman
kepada para rasul, yakni haditsun-nafsi yang mengikuti pengenalan sifat yang
wajib, yang mustahil dan yang mungkin bagi para rasul Allah. Yang dimaksud
dengan haditsun-nafsi adalah penerimaan dan keyakinan hati akan apa yang
diketahuinya walaupun kesombongan tidak bisa menghalangi dia untuk
membenarkannya.
Ketahuilah bahwa rasul adalah manusia laki-laki yang
merdeka (bukan budak) yang diutus oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya,
untuk menyampaikan hukum-hukum-Nya yang bersifat taklifi dan wadhi kepada
mereka. Yang dimaksud dengan hukum taklifi dan wadhi ialah kewajiban syariat
yang pasti, kenyataan sesuatu menjadi syarat, atau menjadi sebab, atau
penghalang, atau sah, atau rusak, serta halhal lain yang menjadi ikutannya,
seperti janji dan ancaman-Nya. Adapun nabi adalah manusia laki-laki merdeka
yang diberi wahyu oleh Allah Ta’ala berupa syari’at yang harus diamalkannya,
entah kemudian dia diperintah untuk menyampaikan syari’at yang diterimanya itu
kepada yang lain maupun tidak.
Kerasulan para rasul merupakan kelembutan dan rahmat
dari Allah Ta’ala yang dengannya Dia mengistimewakan hamba-hamba-Nya yang Dia
kehendaki. Dan kenabian tidak bisa diupayakan, entah dengan riyadhah (latihan
spiritual), dengan mujahadah (memerangi nafsu) maupun dengan upaya-upaya
lainnya. Kenabian semata-mata merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, yang
mengandung hikmah dan kemaslahatan.
Adapun jalan untuk menegaskan kerasulan, dilakukan
dengan mukjizat. Mukjizat ialah perkara luar biasa yang menyalahi kebiasaan,
dimunculkan untuk membenarkan dan memperkuat pengakuan kenabian para nabi. Seperti
peristiwa keluarnya air dari jari-jari (Nabi Muhammad) dan peristiwa tidak
terbakarnya Nabi Ibrahim saat dilempar ke dalam kobaran api. Mukjizat-mukjizat
itu merupakan penegas yang amat jelas dari Allah Ta’ala akan kebenaran
pengakuan kenabian para nabi.
Iman kita tidak akan sempurna sebelum kita mengenal
para rasul Allah, dan iman kepada para rasul itu tidak akan didapat selain
dengan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang jaiz bagi
mereka. Karena itu di sini kami akan menguraikan sifat-sifat yang wajib, yang
mustahil dan yangja’tz adanya pada diri para rasul.
Ada empat sifat yang mesti ada dalam diri para rasul
Allah, dan empat sifat pula yang mustahil adanya pada diri mereka. Pertama, as-shidqu
(benar dan jujur) di dalam semua hal yang mereka sampaikan dari Allah Tabaraka
wa Ta’ala. Para rasul mustahil bersifat al-kidzbu (tidak benar, bohong) di
dalam semua itu. Karena al-kidzbu merupakan kebalikan dari ash-shidiq.

Ash-shidiq adalah kesesuaian berita yang disampaikan
dengan kenyataan dan hakikat berita itu. Misalnya berita yang disampaikan
mereka, “Sesungguhnya Allah Maha esa, tidak ada Tuhan selain Dia.” Mereka telah
berkata benar dan jujur, karena apa yang mereka sampaikan itu sesuai dengan
kenyataan. Sedangkan al-kidzbu adalah ketidaksesuaian berita dengan kenyataan
dan hakikat berita itu.Dalil akal yang menunjukkan kemestian para rasul
bersifat jujur dan mustahil bersifat bohong adalah, apabila para rasul itu
berbohong di dalam berita menyampaikan kepada orang lain, berarti berita dari
Allah yang berupa mukjizat itu juga bohong. Karena, Allah menegaskan kebenaran
seorang rasul dengan mukjizat yang Dia munculkan di tangannya. Penegasan
kebenaran dengan pemunculan mukjizat ini menempati posisi penegasan kebenaran
dengan firman yang tegas. Pemunculan mukjizat ini menempati posisi firman Allah
Ta’ala, “hamba-Ku ini benar dan jujur di dalam setiap kabar yang disampaikannya
dari-Ku.”
Apabila para rasul itu berbohong, berarti Allah
Tabaraka wa Ta’ala juga berbohong dalam penegasan-Nya akan kebenaran diri
mereka. Dan bohong, sungguh hal yang mustahil adanya pada Allah Ta’ala. Sebab,
berita dari Allah itu sesuai dengan ilmu-Nya, dan ilmu-Nya tidak megandung
sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan, demikian pula firman-Nya. Maka
nyatalah bahwa para rasul itu mustahil bersifat bohong. Karena itu mereka mesti
bersifat benar dan jujur.
Selain dalil akal, ada banyak dalil naqli yang
menunjukkan kemestian para rasul bersifat jujur dan mustahil bersifat bohong.
Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan tatkala orang-orang mukmin
melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan
yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
Allah Ta’ala berfirman, “Mereka berkata: Aduh celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan
(Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).”
Sifat kedua yang mesti adanya di dalam diri para rasul
Allah adalah al-amanah (terpercaya), mustahil mereka bersifat
al-khiyanah (khianat). Aminah ialah menjaga diri lahir batin dari hal-hal yang
terlarang, yang haram maupun yang makruh, seringan apa pun keterlarangan itu.
Sedangkan khiyanah adalah kebalikannya.
Secara argumentatif akal menunjukkan kemestian para
rasul bersifat amanah dan mustahil berisfat khiyinah. Kita tahu bahwa para
rasul merupakan makhluk yang paling mulia dalam pandangan Allah Ta’ala, paling
bertakwa kepada-Nya, paling mengenal-Nya dan paling takut kepada-Nya. Allah
telah memilih dan mengistimewakan mereka lebih dari manusia lainnya. Allah
menjadikan mereka sebagai duta untuk menyampaikan hukum-hukum syariat-Nya
kepada umat manusia, disertai dengan penegasan kebenaran dari-Nya akan kebenaran
hukum yang mereka sampaikan itu. Karena itu mereka mesti menjadi panutan bagi
umat.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.