بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB II :
KENABIAN (NUBUWWAH) 2
Sungguh, Allah telah menegaskan kemestian mereka untuk
diikuti tanpa komentar, dan kita diperintah untuk mengikuti semua perkataan,
perbuatan dan perilaku mereka.
Jika ternyata para rasul Allah itu berkhianat dengan
melakukan perbuatan haram atau makruh, tentu perbuatan tersebut akan menjadi
perbuatan yang diperintahkan sekaligus dilarang. Menjadi diperintahkan karena
perbuatan tersebut dilakukan rasul yang menjadi panutan dan mesti kita ikuti,
sekaligus dilarang karena rasul telah menyampaikan keterlarangannya. Dan ini
sungguh batil, karena mengandung kontradiksi. Karena itu para rasul mestilah
bersifat amanah, mustahil mereka bersifat khiyanah.
Dalil naqlinya adalah firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu.”
Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu khawatir akan
(terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian
itu kepada mereka dengan cara yang jujur Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orangorang yang berkhianat.”’ Sebagaimana Anda ketahui, para rasul adalah
orang-orang yang dicintai Allah Ta’ala, dan tentunya mereka bukan pengkhianat.
Para ulama telah sepakat tentang keterpercayaan para
nabi dan rasul Allah. Mereka juga sepakat bahwa para nabi dan rasul disucikan
dari segala kekurangan dan dosa. Karena itu kita wajib membenarkan
keterpercayaan mereka.
Sifat ketiga yang wajib adanya dalam diri pada rasul
adalah at-tabligh (menyampaikan semua yang diperintahkan Allah kepada
mereka untuk mereka sampaikan kepada manusia). Mereka tidak menyembunyikan
sesuatu pun dari semua yang telah Dia perintahkan kepada mereka untuk mereka
sampaikan sesuai perintah-Nya kepada umat, entah dengan sengaja atau karena
lupa, kepada sebagian umat ataupun kepada semua.
Dalil akal yang menunjukkan kemestian para rasul
bersifat tabligh dan mustahil menyembunyikan sesuatu dari yang telah
diperintahkanNya untuk mereka sampaikan, sudah sangat jelas dari argumen
kemestian mereka bersifat amanah. Sungguh, apabila mereka menyembunyikan
sesuatu yang telah diperintahkan untuk disampaikan, berarti mereka telah
berkhianat. Dan ini mustahil, sebab para rasul Allah sungguh terjaga dan
terpelihara (ma ‘shum) dari sifat khianat.
Dalil naqlinya adalah firman Allah Ta’ala, (yaitu)
orang-orang yang menyampaikan risalah-nsalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan
mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan
cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.”
Alqur’an suci telah menjelaskan kesempurnaan tabligh
yang dila. kukan oleh Rasulullah saw. Allah Ta’ala berfirman, “Diharamkan
bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih
atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk,
dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga)
mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah
kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridha: Islam itu Jadi agama bagimu. Maka
barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sifat keempat yang mesti adanya dalam diri para rasul
adalah al-fathanah (cerdas dan tidak lupa). Mustahil para rasul bersifat
ghaflah (lupa) dan baladah (idiot). Rasul diutus untuk menegakkan hujjah
(argumen), untuk mengatasi musuh dan membatalkan pengakuan mereka yang batil.
Seandainya para rasul tidak mempunyai sifat fathanah, tentu mereka tidak akan
mampu menegakkan hujjah untuk mengatasi musuh. Dan hal ini adalah keliru.
Dalil naqli yang menunjukkan kemestian para rasul
bersifat fathanah adalah firman Allah Ta’ala, “Dan itulah hujjah Kami yang Kami
berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami
kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.”
Allah Ta’ala juga berfirman, “Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” Membantah dengan cara yang terbaik hanya bisa dilakukan
oleh orang yang cerdas, si tolol tentu tidak akan bisa melakukannya.

Kesimpulannya, sifat-sifat yang wajib ada dalam diri
para rasul berjumlah empat sifat, yakni al-shidg, al-amanah, at-tabligh dan
al-fathanah. Dan mereka mustahil tersifati dengan sifat-sifat kebalikannya,
yakni alkidzbu, al-khiyanah, al-kitman dan al-baladah.
Adapun sifat yang wenang ada dalam diri para rasul
adalah al-a radh al-basyariyyah, yakni sifat-sifat manusiawi yang tidak sampai
menafikan keluhuran derajat mereka. Di antaranya adalah mengalami sakit, lapar,
fakir, makan, minum dan tidur. Hanya saja, meski mata para rasul itu
kadang tidur, hati mereka tetap terjaga. Dalilnya
sebagaimana disaksikan akal, sifat-sifat manusiawi itu nyata terjadi pada diri
semua rasul Allah. Sedangkan dalil naglinya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan
Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan
makanan dan berjalan di pasar-pasar.”“ Yakni, “Engkau, wahai Muhammad, memiliki
sifat manusiawi seperti mereka.”
Apa faedah kenyataan para rasul terkena sifat-sifat
manusiawi layaknya manusia lain? Faedahnya adalah untuk menambah kemuliaan
mereka, menambah keluhuran derajat mereka dan menambah kebesaran pahala mereka.
Hal ini didukung oleh kesaksian sabda Rasulullah saw., “Yang paling berat
cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian mereka yang berderajat
di bawahnya, lalu yang di bawahnya lagi.” Hadis ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila Allah mencintai
seorang hamba, Dia akan menimpakan ujian berat kepadanya, untuk mendengar
tadharru’-nya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihagi di dalam Sya b aliman,
dan oleh ad-Dailami di dalam Musnad al-Firdaus.
Faedah lainnya dari kenyataan para rasul terkena
sifat-sifat manusiawi adalah penghiburan hati dan pelipur lara bagi kita saat
kita ditimpa derita yang serupa menimpa para rasul. Selain itu juga untuk
memperingatkan kita akan ke-hina-an dunia dan kerendahan nilai duniawi.
Apabila seorang berakal sehat merenungi keadaan yang
dialami para rasul: bagaimana rasa sakit yang mereka derita, bagaimana
kemiskinan yang mereka alami dan tindakan menyakitkan yang mereka terima dari
para penentangnya, tentu dia akan tahu betapa semua derita itu tidak berarti di
hadapan Allah Ta’ala. Lalu dia akan berpaling dengan hatinya dari dunia ini
serta menggatungkan qalbunya kepada Allah Ta’ala.
Kenyataan para rasul terkena sifat-sifat manusiawi juga
merupakan petunjuk dari Allah Ta’ala bahwa mereka adalah hamba-hamba-Nya.
Sehingga orang-orang yang lemah tidak merasa lemah hati melihat
mukjizat-mukjizat agung yang muncul di tangan para rasul.
Kami mengatakan bahwa yang mungkin adanya dalam diri
para rasul itu adalah sifat-sifat manusiawi yang tidak menafikan keluhuran
derajat mereka, untuk mengecualikan sifat-sifat yang dapat menghilangkan
keluhuran derajat mereka, seperti buta, lepra, gila dan sifat lain yang membuat
orang lari dari mereka. Atau seperti makan di tengah jalan dan
perbuatan-perbuatan lain yang dinilai rendah. Atau mimpi (ihtilam) yang muncul
dari setan.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.