بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Ikutilah Salafus sholih
ويجب اتباع السلف الصالح في أقوالهم وأفعالهم ، وفيما تأولوه واستنبطوه ، واقتفاء آثار هم باطناً وظاهراً ، فمن أطاع بظاهره دون باطنه فهو عاص وليس بمطيع ، قال العلامة اللقاني : وكن كما كان خيار الخلق حليف حلم تابعاً للحق فكل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف وقال شارحه العلامة الشيخ عبد السلام : « ولا تكن كما كان عليه شرار الخلف من الأخلاق الرديئة والأفعال الغير المرضية ، لأن كل شر حاصل في ابتداع من خلف ، أى بسبب ابتداع بدعة الخلف السيء الذين أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات » اهـ . والخلف في كلامه بسكون اللام
ويجب الإيمان بالأولياء ، فمن أنكر وجودهم كفر المصادمة القرآن ، قال تعالى : ( أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لا خَوْفٌ عليهمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُون ) ، وكذا يجب اعتقاد كراماتهم في حياتهم وبعد وفاتهم ، والكرامة أمر خارق للعادة يظهر على يد عبد ظاهر الصلاح غير مقرون بدعوى النبوة، وكل ذلك وردبه الكتاب والسنة . وأجمعت عليه الأمة قبل ظهور المخالفين وكل ما كان كذلك فالإيمان به واجب و مما يجب اعتقاده أن أئمة الدين كلهم عدول . ومن قلد واحداً منهم نجا . الأئمة ثلاثة أقسام [ قسم ] اعتنوا بضبط الفقه وتحريره على الكتاب والسنة ، والمشهور منهم أبو حنيفة ومالك والشافعي وأحمد رضى الله عنهم . وكلهم على هدى من الله . وتقليد واحد منهم فرض لقوله تعالى فَاسْألُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Kita juga wajib mengikuti para ulama salaf yang shalih di dalam perkataan dan perbuatan mereka, mengikuti ta’wil dan istinbath hukum mereka, serta mengikuti jejak-jejak mereka lahir batin. Barangsiapa mengikuti mereka hanya pada lahiriahnya saja, tidak beserta batinnya, berarti dia seorang penentang, bukan orang yang taat.
Al-‘Allamah al-Laqani berkata,
Jadilah engkau sebagaimana makhluk pilihan, adil dan bijak mengikuti kebenaran.
Setiap kebaikan ada dalam mengikuti salaf dan setiap keburukan ada dalam bid’ah khalaf.
Asy-Syaikh ‘Abdussalam menjelaskan bait tersebut, “Jangan sampai engkau mengikuti akhlak yang buruk dan perbuatan yang tidak diridhai seperti dilakukan orang khalf yang buruk. Sebab setiap keburukan muncul dari bid’ah jelek yang diada-adakan orang khalf yang mengabaikan shalat dan mengikuti syahwat.” Kata al-khalfu dalam kata-kata beliau dibaca dengan lam yang sukun (bukan khalaf, tetapi khalf).
Hal lain yang wajib diimani setiap mukmin adalah adanya para wali Allah. Barangsiapa mengingkari keberadaan wali Allah, dia telah kafir, karena dia menolak keterangan yang ada dalam Alqur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wah Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’
Begitu juga kita wajib mengimani keberadaan karamah para wali Allah, dan karamah mereka itu ada di saat mereka masih hidup maupun setelah mereka wafat. Karamah adalah perkara luar biasa (menyalahi adat) yang muncul pada diri hamba Allah yang shalih dan tidak disertai dengan pengakuan kenabian. Hal ini diterangkan di dalam Alqur’an dan hadis. Umat juga telah sepakat atas keberadaan karamah mereka sebelum munculnya orang-orang yang melakukan penentangan.
Kita juga harus meyakini bahwa para imam dalam agama (a’immatuddin) adalah orang-orang yang adil. Siapa yang mengikuti salah seorang di antara mereka, maka ia akan selamat.
Para imam itu dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, imam yang menekuni dan mendalami bidang fikih, menggali dan menetapkan hukum-hukum dari Alqur’an dan hadis dalam masalah fikih. Di antara mereka yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan Imam Hanbali r.a. Mereka semua adalah orangorang yang mendapat petunjuk dari Allah. Mengikuti salah satu di antara imam yang empat tersebut hukumnya fardhu, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
ولقوله صلى الله عليه وسلم : ( ألا سألوا إذ لم يعلموا ) ولا يجوز تقليد غيرهم بعد عقد الإجماع عليهم لأن مذاهب الغير لم تدون ولم تضبط بخلاف هؤلاء ، ومن لم يقلد واحداً منهم، وقال: أنا أعمل بالكتاب والسنة ، مدعيا فهم الأحكام منهما فلا يسلم له بل هو مخطىء ضال مضل سيما في هذا الزمان الذي عم فيه الفسق وكثرت فيه الدعوى الباطلة لأنه استظهر على أئمة الدين وهو دونهم فى العلم والعمل والعدالة والاطلاع.
إذ لا يسمع لغيرهم كلام حتى يزيد عليهم أو يماثلهم في العلم والعدالة والإحاطة بعلم العربية وأقوال الصحابة والأصول والتفسير والحديث وفي تحقيق بقية شروط الاجتهاد وهذا مستحيل لأن من الأئمة أبا حنيفة وهو تابعي وكذا قيل في مالك والشافعي وأحمد من تابعى التابعين ، وفي الحديث الصحيح « خير القرون قرنى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم » والاختلاف في الفروع لا يضر بل هو رحمة لقوله صلى الله عليه وسلم « اختلاف أمتي رحمة» رواه البيهقي ، ومراعاة الخلاف والأخذ بالأحوط مندوب عند الكل ( وقسم ) اعتنوا ببيان أصول الدين ، كالأشعرى والماتريدي وأثبتوا أدلتها من العقل والنقل وردوا شبه أهل الضلال ( وقسم ( اعتنوا بتطهير النفوس من الخبائث الباطنة ، ومن أمراض القلوب كالكبر والحسد وأوجبوا على المكلف حفظ قلبه وجوارحه مما يكرهه لقوله تعالى ( يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أتى الله بقلب سليم ) ، وقوله تعالى ( إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤاد كل أولئك كان عنه مسئولاً )
Selain itu, juga karena sabda Rasulullah Muhammad saw., “Ingatlah, bertanyalah kalian apabila kalian tidak tahu.”
Setelah ijma’ diputuskan, mengikuti selain dari madzhab yang empat itu tidak boleh. Karena mazhab-mazhab selain yang empat tidak tersusun secara sistematis, berbeda dengan mazhab yang empat.
Barangsiapa tidak mengikuti salah satu dari madzhab yang empat dan ia berkata, “Aku beramal menurut Alqur’an dan sunnah”, seraya mengaku diri faham hukum-hukum dari Alqur’an dan sunnah, dia tidak diterima. Karena dia telah keliru, sesat dan menyesatkan. Terutama di zaman ini, zaman yang penuh dengan kefasikan dan banyak pengakuan yang keliru. Dia keliru dan sesat karena telah tampil mengungguli para imam, padahal dia lebih rendah dari para imam, baik dalam derajat keilmuannya, amalnya, keadilannya maupun dalam ketelitiannya. Sebab belum terdengar ada selain para imam itu yang punya ilmu dan keadilan yang lebih unggul atau setingkat dengan mereka.
Begitu juga dalam penguasaaan ilmu-ilmu bahasa Arab, penguasaan aqwal (ungkapan dan pendapat) para sahabat, ushuluddin, tafsir, hadis dan hal-hal lain yang menjadi syarat-syarat ijtihad.
Imam Abu Hanifah dari kalangan tabiin, demikian pula Imam Malik. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Hanbali dari kalangan tabiit-tabiin. Masa mereka hidup adalah masa orang-orang yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih, “Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian mereka yang setelahnya, lalu mereka yang sesudahnya.”
Adanya perbedaan di dalam masalah furu iyyah (syariat fikih) tidak menjadi soal, bahkan merupakan rahmat, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw., “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat.” (HR. al-Baihaqi)
Menurut para imam, sebaiknya kita menjaga dan tidak mempertentangkan perbedaan, lalu berusaha mengambil pendapat yang lebih berhati-hati.
Kategori kedua adalah imam yang menekuni dan menjelaskan masalah-masalah ushuluddin (ketauhidan). Di antara mereka adalah alAsy’ari dan al-Maturidi. Mereka menetapkan dalil aqli dan dalil naqli untuk menjelaskan masalah-masalah tersebut, dan mereka telah berhasil menolak ketidakjelasan yang muncul dari orang-orang yang berkeyakinan sesaat.
Kategori ketiga adalah imam di bidang tasawuf, yang menekuni pembersihan hati dan jiwa dari kotoran-kotoran batin dan penyakit penyakit hati seperti sombong dan hasad. Mereka mewajibkan mukallaf agar menjaga kebersihan hati dan anggota badan dari semua hal yang tidak disukai, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak memberikan manfaat, kecuali orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih.” Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
وهؤلاء الجماعة كأبي يزيد البسطامي ، والشيخ عبد الخالق الغجدواني ، والسيد محمد بهاء الدين النقشبند ، والشيخ أحمد الفاروقي السرهندي والجنيد البغدادي وحجة الإسلام أبي حامد الغزالي، والسهروردي ، ومعروف الكرخي ، والسيد عبد القادر الجيلاني وأضرابهم وهم الصوفية ، واتباعهم فيما دعوا إليه من أن تقوى الله سرا وجهراً فرض ، والكل على هدى من الله كأئمة الفقه ، وبنوا أمرهم على اعتقاد أهل السنة والجماعة وفقه العلماء المجتهدين ، فكل صوفى فقيه. وبداية طريقهم الفرار إلى الله من كل شيء كما قال تعالى ( فَفَرُّوا إلى الله ) وغاية أمرهم التعلق بالله وحده كما قال الله تعالى (قُلِ اللهُ ثم ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ) وكذلك تجب الطاعة لأئمة المسلمين فى غير معصية الله تعالى لقوله تعالى ( أَطِيعُوا الله وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولي الأمْرِ مِنْكُمْ ) . قال بعضهم : المراد بهم العلماء العاملون بعلمهم الأمرون بالمعروف والناهون عن المنكر ، وقال بعضهم : المراد بهم أمراء الحق العاملون بأمر الله وأمر السنة ، ولا يطاعون في معصية الله لقوله صلى الله عليه وسلم : « لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ» رواه الإمام أحمد والحاكم . ومن هذه المادة قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه « مَنْ رَأَى منكم في اعوجاجاً » يعنى ميلا عن الحق « فَلْيُذ كرنى» فقام إليه بلال أو سلمان فقال لو رأينا فيك اعوجاجاً لق ومناك بسيوفنا ، فقال : ( الحمد لله الذي جعل فى هذه الأمة من إذا رأى في اعوجاجاً قومنى بسيفه )
Mereka yang menjadi imam di bidang tasawuf ini di antaranya adalah Abu Yazid al-Busthami, asy-Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani, as-Sayyid Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi, asy-Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi, al-Junaidi al-Baghdadi, Hujjatul-Islam Abi Hamid al-Ghazali, asy-Syaikh as-Suhrawardi, Ma’ruf al-Karkhi, asy-Syaikh ‘Abdul Oadir al-Jailani dan lainnya. Mereka itu adalah para sufi, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka menjalankan kewajiban bertakwa kepada Allah di dalam kesendirian maupun di keramaian. Para imam sufi itu berada dalam petunjuk Allah Ta’ala sebagaimana halnya imam-imam fikih. Mereka mendasari ajaran mereka dengan akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dan fikih para Imam Mujtahid. Karena itu semua imam sufi itu juga ahli fikih. Dan yang menjadi langkah awal perjalanan mereka adalah melarikan diri kepada Allah Ta’ala dari segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”
Target urusan mereka adalah bergantung hanya kepada Allah se. mata, sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menu. runkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”
Menaati imam merupakan hal yang wajib, selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Dengan dalil firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alqur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “ulilamri adalah ulama yang mengamalkan ilmunya serta memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa “ulil-amri adalah para pemimpin yang hak, yang mengamalkan perintah Allah dan perintah Rasulullah.
Namun demikian, tidak dibenarkan menaati mereka di dalam kemasiatan. Karena sabda Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan bagi makhluk di dalam maksiat kepada Allah.” (HR. al-Imam Ahmad dan al-Hakim)
Tentang tema ini, di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Sayyidina “Umar ibn al-Khaththab pernah berkata, “Siapa saja di antara kalian yang melihat ada penyimpangan pada diriku—yakni melenceng dari kebenaran—maka ingatkanlah aku.” Lalu Bilal atau Salman maju dan berkata kepada ‘Umar, “Seandainya kami melihat ada penyimpangan pada dirimu, niscaya kami akan meluruskanmu dengan pedang kami.” Kemudian “Umar memuji, “Alhamdulilah, segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan di antara umat ini orang yang mau meluruskan aku dengan pedangnya bila melihat ada penyimpangan pada diriku.”Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.