بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

BAB 1 KETUHANAN (Sifat-sifat Allah ) 8

Ketahuilah bahwa kalam Allah Ta’ala bersifat satu,
seperti sifat-sifat Dia yang lainnya, sebagaimana telah kami terangkan pada
penjelasan sifat wahdiniyyat-Nya. Hanya saja, sifat kalam Allah beragam dengan
keragaman relasinya. Apabila berkaitan dengan tuntutan mengerjakan shalat atau
menunaikan zakat misalnya, maka sifat kalam-Nya itu amar (perintah), seperti
dalam firman Allah Ta’ala, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat…” Apabila
berkaitan dengan tuntutan untuk meninggalkan zina, membunuh tanpa hak dan
menggunjing misalnya, maka sifat kalam-Nya memberi kefahaman nahyi (larangan).
Seperti di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang
buruk.” Atau di dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar..”S
dan di dalam firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, Jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain…”
Apabila berkaitan semisal Nabi Musa mengerjakan
sesuatu, maka sifat kalam Allah memberi kefahaman khabar (berita). Seperti
firman Allah Ta’ala, “Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat
itu (menjadi) ular yang nyata.”
Apabila berkaitan dengan ketentuan bahwa orang yang
taat akan beroleh surga, maka sifat kalam-Nya memberi kefahaman al wa’d
(janji). Seperti firman Allah Ta’ala, “…dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Apabila berkaitan dengan ketentuan bahwa orang yang
bermaksiat akan masuk ke neraka, maka sifat kalam-Nya memberi kefahaman alwa’id
(ancaman). Seperti firman Allah Ta’ala, “Dan peliharalah dirimu dari api
neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.”
Selain ragam sifat kalam tersebut, masih ada ragam
sifat kalam lainnya sesuai dengan keragaman relasinya.
Kebalikan dari sifat kalam adalah al-bukmu (bisu).
Dalil akal yang menunjukkan kemestian Allah Ta’ala bersifat kalam dan mustahil
bisu adalah kenyataan bahwa bisu merupakan sifat kekurangan yang tidak mungkin
ada pada Allah Ta’ala. Allah mesti bersifat kalam yang merupakan sifat
kesempurnaan. Dalil naqli-nya adalah firman Allah Ta’ala “Dan Allah telah
berbicara kepada Musa dengan langsung.”” Dalil naqli ini sudah masyhur di
kalangan para nabi dan para rasul. Demikian pula ulama sepakat bahwa Allah
Ta’ala mutakallim (berfirman).

Tanbihat (Catatan)
1. Sifat yang tujuh dari dua puluh sifat yang mesti ada
pada Allah Ta’ala, yakni al-gudrah (kuasa), al-iradah (berkehendak), al-‘Imu
(mengetahui), al-hayat (hidup), as-sama’ (mendengar), al-bashar (melihat) dan
al-kalam (berfirman) disebut sifat ma’ani, karena sifat-sifat itu nyata adanya,
yang sekiranya penghalang antara kita dan Allah disingkapkan atau dihilangkan,
niscaya kita dapat melihatnya. Telah dijelas di muka bahwa sifat sna’ani adalah
semua sifat yang nyata adanya.
2. Dari penjelasan yang telah kami uraikan, Anda paham
bahwa sifat sifat memiliki ta’alluq (kaitan dengan maujud) yang tidak sama.
Sifat qudrah berkaitan dengan semua yang mumkin dari segi ta’tsir (pengaruh),
sedangkan iradah berkaitan dengan semua yang mumkin dari segi takhshish
(pengkhususan). Sifat iImu berkaitan dengan yang wajib, yang mustahil dan yang
mungkin dalam bentuk al-ihithah (meliputi) dan altnkisyaf (ketersingkapan).
Sedangkan sifat kalam berkaitan dengan yang wajib, yang mustahil dan yang
mungkin dalam bentuk dilalah (penunjukan). Sifat sama” (mendengar) dan bashar
(melihat) berkaitan dengan semua yang maujud yang wajib dan mungkin dalam
bentuk inkisyaf (ketersingkapan). Sedangkan sifat hayat (hidup) tidak berkaitan
dengan segala sesuatu. Karena hayat tidak menuntut sesuatu yang lebih daripada
Dzat-Nya.
Adapun sifat kaunuhu qadiran
(kenyataan Allah Mahakuasa), kaunuhu muridan (Kenyataan Allah Berkehendak),
kaunuhu aliman (kenyataan Allah Mengetahui), kaunuhu hayyan (kenyataan Allah
Hidup), kaunuhu sami’an (kenyataan Allah Mendengar), kaunuhu bashiran
(kenyataan Allah Melihat) dan kaunuhu mutakalliman (kenyataan Allah berfirman),
Itu semua merupakan sifat-sifat ma ‘nawiyyah, yakni sifat-sifat yang
dinisbatkan pada sifat ma ‘ani. Karena berdasarkan akal, penyifatan dengan
sifat-sifat tersebut merupakan cabang dari penyifatan dengan sifat-sifat
ma’ani. Penyifatan Dzat Allah dengan kaunuhu Aaliman (kenyataan Dia Mengetahui)
hanya akan sah bila Dia memiliki sifat ilmu (mengetahui). Demikian pula
sifat-sifat ma‘nawiyah lainnya. Kami telah menjelaskan bahwa sifat-sifat ma
nawiyyah adalah semua sifat yang tetap dan menjadi kelaziman bagi sifat-sifat
ma’ini.
Kebalikan dari sifat-sifat
ma’naunyah tersebut (yang mesti adanya pada Allah Ta’ala) berikut dalilnya,
diambil dari sifat-sifat ma’an: yang mustahil adanya pada Allah Ta’ala.
Kebalikan dari sifat kaunuhu gadiran adalah kaunuhu jahilan (kenyataan Allah
tidak mengetahui). Kaunuhu jahilan merupakan sifat ma ‘nawiyah dari al-jahl
yang merupakan sifat ma’ani. Demikian pula sifat-sifat ma nawriyah lainnya,
yang mustahil adanya pada Allah Ta’ala. Kami tidak perlu mengulang dalilnya di
sini.

Selain yang wajib dan yang mustahil, ada pula yang
mungkin adanya pada Allah Ta’ala. Yang ja’iz adanya pada Allah Ta’ala adalah Fi’lu
kulli mumkinin aw tarkuhu (melakukan semua yang mumkin atau tidak melakukan).
Misalnya: menciptakan dzat, menciptakan sifat, menciptakan tindakan refleks
atau tindakan bebas, menciptakan rezeki, menghidupkan, mematikan, memberi
petunjuk, menyesatkan, menimpakan siksa, memberikan pahala dan lain sebagainya.
Siksa semata-mata merupakan keadilan-Nya, dan pahala semata-mata merupakan
kemurahan-Nya. Penerimaan pahala atas keimanan dan ketaatan serta penetapan
siksa atas kekufuran dan kemaksiatan semata-mata merupakan pilihan bebas Allah
Ta’ala. Kalaupun Allah memilih penetapan yang sebaliknya, pilihan-Nya itu tetap
benar dan baik. Karena Allah Ta’ai, tidak berkewajiban menciptakan sesuatu pun
hal yang mumkin, tidak pula sesuatu pun hal yang mumkin itu mustahil bagi-Nya.
Dalil akal menunjukkan kenyataan tersebut. Apabila
Allah Ta’ala berkewajiban menciptakan segala sesuatu yang mumkin, maka sesuatu
yang mumkin itu menjadi yang wajib. Apabila sesuatu yang mumkin itu mustahil
bagi Allah Ta’ala, tentu yang mumkin itu menjadi mustahil bagi-Nya. Ini sungguh
batil, jelas-jelas batil.
Adapun dalil naqli yang menunjukkan kenyataan tersebut
di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia
kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci
Allah dan Maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Sampai
di sini tema hukum yang menjadi target uraian kami pada bab ini telah selesai.

Dari uraian
tersebut Anda sudah mendapat kejelasan bahwa Allah Ta’ala wajib ada-Nya sejak
azali dan selama-lamanya. Telah jelas pula bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan
apa pun yang selain Dia, dan bahwa segala sesuatu yang selain Dia itu sungguh
membutuhkan-Nya. Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Allahlah yang memiliki pengaruh terhadap
sesuatu. Sementara manusia, jin, malaikat atau makhluk-makhluk lainnya sama
sekali tidak memiliki pengaruh tanpa pengaruh-Nya. Allah Mahasuci dari semua
yang dirasa sebagai kekurangan, Allah suci dari sakit, lupa, ngantuk, terputus,
atau membutuhkan penolong, atau teman, anak, istana, kursi, pena, buku,
pasukan, sekretaris, atau penjaga dan lain sebagainya. Sebaliknya, semua
makhluk berada dalam kuasa paksa keagungan dan kuasa Allah Ta’ala. Allah Yang
mengatur segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. Tidak sesuatu pun
yang membuat Dia telah mengatur mahluk-Nya. Dia telah Ada saat sesuatu tidak
ada bersama-Nya, dan Dia akan senantiasa ada apa Ada-Nya. Dia tidak berpindah,
tidak berganti, tidak berubah oleh keadaan apa pun. “Sesungguhnya perintah-Nya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka
terjadilah ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala
sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Maka, wahai saudaraku, engkau mesti mengetahui semua
yang telah kami paparkan, agar engkau menjadi bagian dari orang-orang yang
selamat, bahagia, menang dan memperoleh kebahagiaan yang abadi. Janganlah
engkau sampai menyalahi sesuatu pun dari akidah tersebut. Jika tidak, niscaya
engkau akan menjadi bagian dari mereka yang merugi, sesat dan menyesatkan.
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menunjukkan
kita ke jalan petunjuk dan menolong kita agar senantiasa berada pada jalan yang
diridhai-Nya, sehingga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bahagia di
Hari panggilan Allah. Dan semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke surga bersama
golongan hamba-hamba-Nya yang didekatkan, yang “doa mereka di dalamnya ialah,
Subhanakallahumma, dan salam penghormatan mereka ialah Salam. Dan penutup doa
mereka ialah, Alhamdulillah rabbil-‘alamin.”? Shalawat dan salam senantiasa
melimpahi paduka kami yang mulia, Muhammad saw., serta keluarga dan para
sahabatnya.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.