بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

RASULULLAH SAW. SEBAGAI
RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM 3

Dalam urutan keutamaan, setelah Rasulullah Muhammad saw. secara berurut ditempati oleh Nabi Ibrahim, kemudian Nabi Musa, Nabi “Isa dan Nabi Nuh. Urutan selanjutnya adalah para rasul selain mereka, lalu para nabi, kemudian para penghulu malaikat (yakni jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat maut (iizra’il). Kemudian urutan selanjutnya adalah Khula a’ ar-Rasyidin yang empat, lalu para malaikat selain yang lima, baru manusia biasa lainnya. :
Khalifah yang paling utama adalah Abu Bakr r.a. Beliau menjabat kekhalifahan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari. Kemudian “Umar ibn al-Khaththab r.a. Beliau menjabat kekhalifahan selama sepuluh tahun enam bulan delapan hari. Kemudian “Utsman ibn “Affan r.a. yang menjabat kekhalifahan selama sebelas tahun sebelas bulan sembilan hari. Lalu Imam “Ali ibn Abi Thalib k.w. yang menjabat kekhalifahan selama empat tahun sembilan bulan tujuh hari.
Keutamaan para khalifah ini diikuti secara gradual dan berurut oleh enam sahabat dari sepuluh sahabat yang digembirakan dengan kabar kepastian mereka masuk surga (yang empat adalah khula a arrasyidin). Yakni: Thalhah ibn “Ubaidillah, az-Zubair ibn al-Awwam, Abdurrahman ibn Auf, Sa’ad ibn Abi Waqqas, Sa’id ibn Zaid dan Abu Ubaidah Amir ibn al-Jarrah. Kemudian disusul oleh para syuhada yang gugur pada Perang Badar, mereka berjumlah 3813 orang. Ada ulama yang berpendapat bahwa jumlah syahid di Perang Badar sebanyak 370 orang.
Setelah para syuhada Perang Badar, urutan selanjutnya ditempati para syuhada yang gugur pada Perang Uhud. Mereka berjumlah kurang lebih seribu orang. Kemudian para sahabat yang mengikuti Bai’ah ar Ridhwan, berjumlah 1400 orang. Ada pendapat yang mengatakan bahwa jumlah mereka 1500 orang. Peristiwa tersebut dinamakan peristiwa bai’ah ar-ridhwan karena firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)".
Urutan selanjutnya baru ditempati semua sahabat yang tidak masuk dalam kategori di atas. Mereka semua adalah orang-orang yang adil, Kita mesti menangguhkan penilaian (jangan menilai buruk) setiap pertentangan yang terjadi di antara para sahabat, atau kita harus menakwilnya dengan takwil yang baik. Sebab pertentangan yang terjadi di antara mereka merupakan hasil ijtihad. Seperti yang terjadi antara Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib k.a. dan Mu’awiyah r.a. Ketika itu para sahabat terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berijtihad dan tampak bagi mereka bahwa yang benar adalah Imam “Ali, lalu mereka berperang bersamanya. Kelompok yang kedua berijtihad dan nampak bagi mereka bahwa yang benar adalah Mu’awiyyah, maka mereka bergabung bersamanya. Sedangkan kelompok yang ketiga berijtihad mengambil sikap diam, tidak memihak. Karena itu, siapa pun di antara tiga golongan ini tetap mendapat pahala. Yang ijtihadnya tepat mendapat dua pahala, sedangkan yang ijtihadnya tidak tepat hanya mendapat satu pahala.

Di dalam sebuah hadis disebutkan, “Allah, Allah, tentang sahabat sahabatku, kalian jangan sampai menjadikan mereka sebagai sasaran sepeninggal aku.” Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Kalian jangan mencaci-maki sahabat-sahabatku. Barangsiapa yang mencaci maki sahabat-sahabatku, maka laknat Allah, laknat para malaikat dan semua manusia. Dan Allah tidak akan menerima amal ibadahnya, tidak yang sunnah dan tidak pula yang fardhu.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan yang lainnya.
Wanita paling utama adalah Siti Maryam binti ‘Imran—sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ar-Ramli—kemudian Siti Fathimah, Siti Khadijah, A’isyah, dan Asiyah istri Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Ath-Thabrani meriwayatkan, “Wanita terbaik di alam semesta ini adalah Maryam binti Imran, kemudian Khadijah binti Khuwailid, lalu Fathimah binti Muhammad saw., lalu Asiyah istri Fir’aun.”
Di dalam riwayat tersebut, ath-Thabrani menempatkan penyebutan Khadijah sebelum Fathimah, berbeda dengan ar-Ramli. Tetapi ini tidak berarti bahwa riwayat ini bertentangan. Karena, pengutamaan Khadijah atas Fathimah dalam penyebutan di dalam riwayat tersebut lebih dikarenakan ke-ibu-an Khadijah, bukan dari sisi ke-penghulu-an.
Pendapat lain mengatakan bahwa urutan tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Dan pendapat ini yang lebih aman.
Hal lain yang merupakan bagian dari hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf adalah kenyataan bahwa kurun waktu yang paling utama adalah kurun waktu mereka yang sempat berkumpul bersama Nabi Muhammad saw. dalam keadaan iman. Kemudian kurun waktu mereka yang setelahnya, lalu kurun waktu selanjutnya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, “Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian mereka yang setelahnya, lalu mereka yang sesudahnya.”
Imran ibn Hashin berkata, “Aku lupa apakah Rasulullah saw. mengucapkan setelah generasi beliau itu dua kali atau tiga kali.”
Yang jelas bahwa yang dimaksud dengan kurun (al-qarn) di sini adalah generasi. Kurun pertama adalah generasi para sahabat sampai mereka semua tiada. Kurun kedua adalah generasi para tabiin sampai mereka semua tiada. Dan kurun ketiga adalah generasi tabiit-tabiin sampai mereka semua tiada.
Pendapat yang paling absah tentang interval waktu satu kurun ada. lah seratus tahun (satu abad). Pendapat ini berdasar pada sabda Rasulullah saw. ketika beliau mengusap kepala anak yatim, “Hiduplah engkau satu qarn.” Dan anak itu ternyata hidup selama seratus tahun.
Setiap kurun itu lebih baik dari kurun sesudahnya, sebagaimana ditegaskan oleh beliau, “Tidak ada tahun, atau tidak ada hati, melainkan yang sesudahnya itu lebih buruk darinya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan at-Tirmidzi.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB II :RASULULLAH SEBAGAI RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM 3
Description : RASULULLAH SAW. SEBAGAI RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM 3 Dalam urutan keutamaan, setelah Rasulullah Muhammad saw. secara berurut ditempati ...