بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
3*AL-HAAL (KONDISI SPIRITUAL)*
**الحال**
والحالُ عندَ القومِ : معنىً يَرِدُ على
القلبِ مِنْ غيرِ تعمُّلٍ منهم، ولا اجتلابٍ ولا اكتسابٍ لهُم ؛ مِنْ طَرَبٍ أَوْ حَزَنٍ،
أَوْ قَبْضٍ أَوْ بَسْطٍ، أَوْ شوقٍ أَوْ انزعاجٍ، أَوْ هيبةٍ أَوْ احتياجٍ
فالأحوالُ مواهبُ، والمقاماتُ مكاسبُ ،
والأحوالُ تأتي مِنْ عينِ الجودِ ، والمقاماتُ تحصلُ ببذلِ المجهودِ
فصاحبُ المقامِ مُمَكَّنٌ في مقامِهِ ،
وصاحبُ الحالِ مُرَقَّىً عَنْ حالِهِ
سُئِلَ ذو النونِ المصريُّ عَنِ العارفِ
، فقالَ : كانَ ها هنا فذهبَ
وقالَ المشايخُ : ( الأحوالُ كالبروقِ ،
فإنْ بَقِيَ .. فحديثُ نفسٍ
وقالوا : ( الأحوالُ كاسمِها ) يعني : أنَّها
كما تحُلُّ بالقلبِ .. تزولُ في الوقتِ
وأنشدوا
لَوْ لَمْ تَحُلْ مَا سُمِّيَتْ حَالَا
... وَكُلُّ مَا حَالَ فَقَدْ زَالَا
أُنْظُرْ إِلى الْفَيْءِ إِذَا مَا انْتَهَى
... يَأْخُذُ فِي النَّقْصِ إِذَا طَالَا
وأشارَ قومٌ إلى بقاءِ الأحوالِ ودوامِها
، وقالوا : إنَّها إذا لَمْ تدُمْ ولَمْ تتوالَ .. فهيَ لوائحُ وبوادٍ ، ولَمْ يصِلْ
صاحِبُها بعدُ إلى الأحوالِ ، فإذا دَامَتْ تلكَ الصفةُ .. فعندَ ذلكَ تُسَمَّى حالاً
هذا أبو عثمانَ الحيريُّ يقولُ : ( مُنْذُ
أربعينَ سنةً ما أقامَنيَ اللهُ في حالٍ فكرهتُهُ ) ، أشارَ إلى دوامِ الرِّضا ، والرِّضا
مِنْ جملةِ الأحوالِ
والواجبُ في هذا أنْ يُقالَ : إنَّ مَنْ
أشارَ إلى بقاءِ الأحوالِ .. فصحيحٌ ما قالَ ؛ فقدْ يصيرُ المعنى شِرْباً لأحدٍ فيرْبى
فيهِ ، ولكنْ لصاحبِ هذِهِ الحالِ أحوالٌ هيَ طوارقُ لا تدومُ فوقَ أحوالِهِ التي صارَتْ
شِرْباً لَهُ ، فإذا دَامَتْ هذِهِ الطوارقُ لَهُ كما دَامَتِ الأحوالُ المتقدِّمَةُ
.. ارتقى إلى أحوالٍ أُخَرَ فوقَ هذِهِ ، وألطفَ مِنْ هذِهِ ، فأبداً يكونُ في الترَقِّي
**AL-HAAL (KONDISI SPIRITUAL)**
**Al-Haal menurut para ahli tasawuf adalah:** Suatu makna
(perasaan/kondisi kejiwaan) yang hinggap di dalam hati tanpa sengaja
diupayakan, diusahakan, maupun dicari oleh mereka; baik berupa kegembiraan
(*tharab*), kesedihan (*hazan*), rasa sempit (*qabdh*), rasa lapang (*basth*),
kerinduan (*syauq*), kegelisahan (*inzijaj*), rasa segan/agung (*haibah*),
maupun rasa butuh (*ihtiyaj*).
**Haal** (kondisi spiritual) adalah pemberian (*mwahib*),
sedangkan **Maqam** (kedudukan spiritual) adalah hasil usaha (*makasib*).
**Haal** timbul dari kemurahan Allah semata, sedangkan **Maqam**
dicapai dengan mengerahkan segenap usaha.
Oleh karena itu, orang yang memiliki **Maqam** ditetapkan
teguh pada kedudukannya, sedangkan orang yang memiliki **Haal** senantiasa
dinaikkan derajatnya dari kondisinya tersebut.
> Dzul Nuun Al-Mishri pernah ditanya tentang seorang yang
*'Arif* (mengenal Allah), maka beliau menjawab: *"Tadi ia ada di sini,
lalu ia pergi."*
Para guru tasawuf berkata: *(Haal itu bagaikan kilat; jika
ia bertahan lama, maka itu hanyalah bisikan nafsu/pikiran sendiri).*
Mereka juga berkata: *(Haal itu sesuai dengan namanya
[artinya: sesuatu yang berpindah/berubah]),* yakni sebagaimana ia singgah di
hati, maka ia juga akan hilang dalam sekejap.
Para penyair bersyair :
* *Seandainya ia tidak berpindah/berubah, niscaya tidak
dinamakan "Haal". Dan segala sesuatu yang berubah, sungguh ia akan
sirna.*
**Lihatlah pada bayangan ketika telah mencapai puncaknya, ia
akan mulai berkurang saat ia semakin memanjang.*
Namun, sekelompok ulama mengisyaratkan bahwa *Hal* itu bisa
bertahan dan berlanjut. Mereka berkata: *"Sesungguhnya jika ia tidak
bertahan dan tidak berkesinambungan, maka itu hanyalah sekilas kilatan (kilatan
cahaya yang lewat saja), dan pemiliknya belum mencapai kondisi Haal yang
sebenarnya. Jika sifat itu telah menetap, barulah dinamakan Haal."*
Oleh sebab itu Abu 'Utsman Al-Hiri berkata: *(Sejak 40 tahun
lalu, tidak pernah Allah menempatkanku dalam suatu keadaan (haal) melainkan aku
menyukainya).* Beliau mengisyaratkan tentang berlanjutnya rasa ridha, padahal
ridha adalah bagian dari *Haal*.
**Pendapat yang tepat dalam mengkompromikan hal ini
adalah:**
Barangsiapa yang mengisyaratkan bahwa *Haal* itu bisa
bertahan lama, maka ucapannya benar; karena suatu kondisi spiritual bisa
menjadi seteguk minuman (karakter yang mendarah daging) bagi seseorang lalu ia
tumbuh berkembang di dalamnya. Namun, orang yang berada dalam *Haal* seperti
ini tetap memiliki kondisi-kondisi baru (*thawariq*) yang datang sepintas di
atas kondisinya yang telah mendarah daging tadi.
Jika kondisi-kondisi baru ini bertahan padanya sebagaimana
bertahan/tetapnya kondisi spiritual sebelumnya, maka ia akan naik (*artaqa*) ke
kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih halus dari ini, sehingga ia
senantiasa berada dalam proses peningkat derajat (*taraqqi*).
سمعتُ الأستاذَ أبا عليٍّ الدَّقَّاقَ رحمهُ
اللهُ يقولُ في معنى قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ : « إِنَّهُ لَيُغَانُ على
قلبي ، حتَّى أستغفرُ اللهَ في اليومِ سبعينَ مرَّةً » : إنَّهُ كانَ صَلَّى اللهُ
عليه وسلَّمَ أبداً في الترَقِّي مِنْ أحوالِهِ ، فإذا ارتقَى عَنْ حالَةٍ إلى حالَةٍ
أعلَى ممَّا كانَ فيها .. فرُبَّما حصلَ لهُ ملاحظةٌ إلى ما ارتقَى عنها ، فكانَ يعُدُّها
غَيْناً بالإضافَةِ إلى ما حصلَ فيها ، فأبداً كانَتْ أحوالُهُ في التزايدِ
ومقدوراتُ الحقِّ سبحانَهُ مِنَ الألطافِ
لا نهايةَ لها ، وإذا كانَ حقُّ الحقِّ العِزَّ ، والوصولُ إليهِ بالتحقيقِ محالاً
.. فالعبدُ أبداً في ارتقاءِ أحوالِهِ
فلا معنىً يُوصَلُ إليهِ إلَّا وفي مقدورِهِ
سبحانَهُ ما هوَ فوقَهُ يقدرُ أنْ يُوصِلَهُ إليهِ ، وعلى هذَا يُحْمَلُ قَوْلُهُمْ
: ( حسناتُ الأبرارِ سيِّئاتُ المقَرَّبِينَ
وسُئِلَ الجُنيدُ عَنْ هذَا - أعني : عَنْ
قَوْلِهِمْ : ( سيِّئاتُ المقَرَّبِينَ ) - فأنشَدَ
طَوَارِقُ أَنْوَارٍ تَلُوحُ إِذَا بَدَتْ
... فَتُظْهِرُ كِثْمَاناً وَتُخْبِرُ عَنْ جَمْعِ
Saya mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq *rahimahullah*
berkata mengenai makna sabda Nabi Muhammad {SAW}:
> *"Sesungguhnya hatiku pernah diliputi (kabut
tipis/ghaen), sehingga aku memohon ampunan kepada Allah sebanyak tujuh puluh
kali dalam sehari."*
**Penjelasan Abu Ali Ad-Daqqaq:**
Bahwasanya Rasulullah {SAW} senantiasa berada dalam proses peningkatan
(*taraqqi*) kondisi-kondisi spiritualnya (*ahwal*). Maka ketika beliau naik
dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih tinggi dari sebelumnya, terkadang
muncul perhatian/keterikatan beliau pada kondisi yang telah ditinggalkannya
tersebut. Beliau menganggap perhatian pada kondisi sebelumnya itu sebagai
"kabut" (*ghaen*) jika dibandingkan dengan keagungan kondisi baru
yang ia capai. Oleh karena itu, kondisi spiritual beliau senantiasa bertambah
dan meningkat secara terus-menerus.
Kekuasaan dan ketetapan Allah SWT} berupa kelembutan-kelembutan (*althaf*) itu
tidak ada batasnya. Karena hakikat keagungan Allah adalah Maha Perkasa
(*Al-'Izz*) dan sampai kepada hakikat Zat-Nya secara sempurna adalah hal yang
mustahil, maka seorang hamba akan senantiasa mengalami peningkatan (*irtiqa'*)
dalam kondisi spiritualnya.
Tidak ada satu pun tingkatan pencapaian yang diraih seorang
hamba, melainkan dalam kekuasaan Allah $\text{SWT}$ ada tingkatan yang lebih
tinggi darinya yang mampu Allah sampaikan kepadanya. Atas dasar pemahaman
inilah diartikan ungkapan para ulama:
> *"Kebaikan-kebaikan orang yang berbuat baik
(Al-Abrar), dianggap sebagai keburukan/kekurangan bagi orang-orang yang
didekatkan kepada Allah (Al-Muqarrabun)."*
Syaikh Al-Junaid al-Baghdadi pernah ditanya tentang hal ini
— yakni tentang ungkapan *(keburukan orang-orang yang didekatkan)* — lalu
beliau melantunkan bait syair :
*Kilatan-kilatan
cahaya spiritual menyala saat ia tampak... maka ia menyingkapkan apa yang
selama ini tersembunyi dan mengabarkan tentang penyatuan (*jam'*).
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.