بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
9. Al-Ghaibah wal-Hudhur
**الغيبة والحضور**
فالغَيْبةُ : غيبةُ القلبِ عنْ عِلْمِ ما
يجرِي مِنْ أحوالِ الخَلْقِ ؛ لاشتغالِ الحِسِّ بما ورَدَ عليهِ
ثُمَّ قدْ يغيبُ عنْ إحساسِهِ بنفسِهِ وغيرِهِ
بوارِدٍ ؛ مِنْ تذكُّرِ ثوابٍ ، أوْ تفكُّرٍ في عقابٍ
كما رُوِيَ أنَّ الربيعَ بنَ خُثَيْمٍ كانَ
يذهبُ إلَى ابنِ مسعودٍ رضِيَ اللهُ عنهُ ، فمَرَّ بحانوتِ حدَّادٍ ، فرأَى الحديدةَ
المَحْمَاةَ في الكِيرِ ، فَغُشِيَ عليهِ ولمْ يَفِقْ إلَى الغدِ ، فلَمَّا أفاقَ
. . سُئِلَ عنْ ذلكَ ، فقالَ : تذكَّرْتُ كونَ أهلِ النارِ في النارِ
فهذهِ غيبةٌ زادَتْ علَى حدِّها حتَّى صارَتْ
غَشْيةً
ورُويَ عنْ عليِّ بنِ الحسينِ أنَّهُ كانَ
في سجودِهِ ، فوقَعَ حريقٌ في دارِهِ ، فلَمْ ينصرِفْ عنْ صلاتِهِ ، فسُئِلَ عنْ حالِهِ
، فقالَ : ألهَتْنِي النارُ الكُبْرَى عنْ هذهِ النارِ
ورُبَّما تكونُ الغَيْبةُ عنْ إحساسِهِ
بمعْنًى يُكاشَفُ بهِ مِنَ الحقِّ سبحانَهُ وتعالَى
ثُمَّ إنَّهُمْ مختلِفُونَ في ذلكَ علَى
حسَبِ أحوالِهِمْ
ومِنَ المشهورِ أنَّ ابتداءَ حالِ أبي حفصٍ
النيسابوريِّ الحدَّادِ في تركِهِ الحِرْفةَ أنَّهُ كانَ علَى حانوتِهِ ، فقرَأَ قارئٌ
آيةً مِنَ القرآنِ ، فورَدَ علَى قلبِ أبي حفصٍ واردٌ تغافَلَ عنْ إحساسِهِ ، فأدخلَ
يدَهُ في النارِ وأخرجَ الحديدةَ المَحْمَاةَ بيدِهِ ! فرأَى تلميذُهُ ذلكَ ، فقالَ
: يا أستاذُ ؛ ما هذا ؟! فنظَرَ أبو حفصٍ إلَى ما ظهرَ عليهِ ، فترَكَ الحِرْفةَ وقامَ
مِنْ حانوتِهِ
وكانَ الجنيدُ قاعداً وعندَهُ امرأتُهُ
، فدخَلَ الشِّبْليُّ ، فأرادَتِ امرأتُهُ أنْ تستتِرَ ، فقالَ لها الجنيدُ : لا خبرَ
لِلشِّبْليِّ عنكِ ، فاقعُدِي
فلَمْ يزَلْ يكلِّمُهُ الجنيدُ ، فبكَى
الشِّبْليُّ ، فلَمَّا أخذَ الشِّبْليُّ في البكاءِ . . قالَ الجنيدُ لامرأتِهِ : استتِرِي
؛ فقدْ أفاقَ الشِّبْليُّ مِنْ غيبتِهِ
سمِعْتُ أبا نصرٍ المؤذِّنَ بنَسا وكانَ
رجلاً صالحاً قالَ : كنْتُ أقرَأُ القرآنَ في مجلسِ الأستاذِ أبي عليٍّ الدَّقَّاقِ
بنَسا وقْتَ كونِهِ هناكَ ، وكانَ يتكلَّمُ في الحجِّ كثيراً ، فأثَّرَ في قلبي كلامُهُ
، وخرجْتُ إلَى الحجِّ تلكَ السنةَ ، وترَكْتُ الحانوتَ والحِرْفةَ ، وكانَ الأستاذُ
أبو عليٍّ رحمةُ اللهِ خرجَ إلَى الحجِّ أيضاً في تلكَ السنةِ
وكانتْ مدَّةَ كونِهِ بنَسا أخدمُهُ وأواظبُ
علَى القراءةِ في مجلسِهِ ، فرأيتُهُ يوماً في الباديةِ تطهَّرَ ونسِيَ قُمْقُمَةً
كانَتْ بيدِهِ ، فحملْتُها ، فلَمَّا عادَ إلَى رحْلِهِ . . وضعْتُها عندَهُ ، فقالَ
: جزاكَ اللهُ خيراً حيثُ حملْتَ هذا ، ثُمَّ نظرَ إليَّ طويلاً كأنَّهُ لمْ يرَنِي
قطُّ ، وقالَ : رأيْتُكَ مرَّةً ؟! فقلْتُ : المستغاثُ باللهِ ! صحِبْتُكَ مدَّةً ،
وخرجْتُ عنْ مسكَنِي ومالِي بسببِكَ ، وقطعْتُ المفازةَ بكَ ، الساعةَ تقولُ : رأيْتُكَ
مرَّةً
**Al-Ghaibah (Ketidaksadaran/Ghaib dari Makhluk) dan
Al-Hudhur (Hadirnya Hati Bersama Allah)**
*Al-Ghaibah * adalah
ghaibnya (ketidaksadaran) hati dari pengetahuan tentang keadaan makhluk yang
terjadi di sekitarnya, karena panca indra terfokus/tersibukkan oleh limpahan
perasaan spiritual (*warid*) yang datang kepadanya.
Kemudian, terkadang seseorang ghaib (hilang kesadaran) dari
perasaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain akibat suatu *warid*;
seperti karena mengingat pahala, atau merenungkan siksaan.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa **Ar-Rabi' bin Khutsaim**
pernah pergi menemui Ibn Mas'ud *radiyallahu 'anhu*, lalu ia melewati kedai
seorang pandai besi. Ia melihat besi yang dibakar membara di dalam perapian,
seketika ia pingsan dan tidak sadarkan diri hingga keesokan harinya. Ketika
sadar dan ditanya tentang hal itu, ia menjawab: *"Aku teringat akan
keberadaan penghuni neraka di dalam neraka."
Maka ini adalah bentuk *ghaibah* yang melampaui batasnya
hingga menjadi kondisi pingsan (*ghasyyah*).
Diriwayatkan pula dari **'Ali bin Al-Husain** (*Zainal
Abidin*) bahwa sewaktu beliau sedang sujud, terjadi kebakaran di rumahnya,
namun beliau tidak membatalkan salatnya. Ketika ditanya tentang keadaannya itu,
beliau menjawab: *"Api yang lebih besar (neraka) telah mengalihkan perhatianku
dari api (dunia) ini."*
Terkadang *ghaibah* dari panca indra itu terjadi karena
suatu makna/hakikat spiritual yang disingkapkan (*mukashafah*) kepadanya dari
Allah *Subhanahu wa Ta'ala*.
Kemudian, derajat mereka berbeda-beda dalam hal tersebut
sesuai dengan kondisi spiritual (*ahwal*) masing-masing:
* Di antara kisah yang masyhur adalah awal mula keadaan
**Abu Hafsh An-Naisaburi sang pandai besi** saat ia meninggalkan profesinya:
Ketika ia sedang berada di kedainya, seorang pembaca Al-Qur'an membaca suatu
ayat. Seketika datanglah limpahan *warid* ke dalam hati Abu Hafsh yang
membuatnya sama sekali tidak menyadari perasaannya, hingga ia memasukkan
tangannya ke dalam api perapian dan mengeluarkan besi yang membara dengan
tangan kosong! Muridnya yang melihat hal itu berkata: *"Wahai Ustadz, apa
ini?!"* Abu Hafsh pun menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya,
lalu ia meninggalkan profesinya dan berdiri beranjak dari kedainya saat itu
juga.
* Dahulu **Syaikh Al-Junaid** sedang duduk bersama istrinya,
lalu **Asy-Syibli** masuk bertamu. Istri Al-Junaid hendak menutup diri/memakai
hijabnya, tetapi Al-Junaid berkata kepadanya: *"Asy-Syibli tidak memiliki
kesadaran tentangmu (ia sedang ghaib dari makhluk), duduklah."* Maka
Al-Junaid terus mengajak Asy-Syibli berbicara hingga Asy-Syibli menangis.
Ketika Asy-Syibli mulai menangis, Al-Junaid berkata kepada istrinya:
*"Tutupilah dirimu, karena Asy-Syibli telah sadar dari ghaibah-nya."*
* Saya mendengar **Abu Nashr Al-Mu'adzdzin di Nasa**—seorang
laki-laki yang saleh—berkata: *"Aku dahulu membaca Al-Qur'an di majelis
Al-Ustadz Abu 'Ali Ad-Daqqaq di Nasa sewaktu beliau berada di sana. Beliau
banyak berbicara tentang ibadah haji, sehingga ucapan beliau sangat berbekas di
hatiku. Aku pun berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun tersebut, serta
meninggalkan kedai dan pekerjaanku. Al-Ustadz Abu 'Ali—semoga Allah
merahmatinya—juga berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun yang sama."*
Selama beliau berada di Nasa, aku melayaninya dan tekun
mengaji di majelisnya. Suatu hari di padang pasir, aku melihat beliau bersuci
lalu lupa membawa wadah air (*qumqumah*) yang sebelumnya ada di tangannya. Aku
pun membawakan wadah tersebut. Ketika beliau kembali ke kemah/tempat
singgahnya, aku meletakkannya di dekat beliau. Beliau berkata: *"Semoga
Allah membalas kebaikanmu karena telah membawakan ini."* Kemudian beliau
menatapku lama seolah-olah belum pernah melihatku sama sekali, lalu bertanya:
*"Apakah aku pernah melihatmu sekali saja?!"* Aku menjawab:
*"Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan! Aku telah menemanimu
sekian lama, aku meninggalkan rumah dan hartaku karenamu, serta menempuh padang
sahara bersamamu, lalu sekarang engkau berkata: 'Apakah aku pernah melihatmu
sekali saja?!
وأمَّا الحضورُ : فقدْ يكونُ حاضراً بالحقِّ
؛ لأنَّهُ إذا غابَ عنِ الخَلْقِ . . حضَرَ بالحقِّ ؛ علَى معْنًى أنْ يكونَ كأنَّهُ
حاضرٌ ؛ وذلكَ لاستيلاءِ ذكْرِ الحقِّ علَى قلبِهِ ، فهو حاضرٌ بقلبِهِ بينَ يدَيْ
ربِّهِ ، فعلَى حسَبِ غيبتِهِ عنِ الخَلْقِ يكونُ حضورُهُ بالحقِّ ، فإنْ غابَ بالكلِّيَّةِ
. . كانَ الحضورُ علَى حسَبِ الغيبةِ
فإذا قيلَ : فلانٌ حاضرٌ . . فمعناهُ :
أنَّهُ حاضرٌ بقلبِهِ لربِّهِ ، غيرُ غافلٍ عنهُ ولا ساهٍ ، مستديمٌ لذِكْرِهِ ، ثُمَّ
يكونُ مُكاشَفاً في حضورِهِ علَى حسَبِ رتبتِهِ بمعانٍ يخصُّهُ الحقُّ سبحانَهُ بها
وقدْ يُقالُ لرجوعِ العبدِ إلَى إحساسِهِ
بأحوالِ نفسِهِ وأحوالِ الخَلْقِ : إنَّهُ حضَرَ ؛ أيْ : رجَعَ عنْ غيبتِهِ ، فهذا
يكونُ حضوراً بخَلْقٍ وحضوراً بحقٍّ ، والأوَّلُ حضورٌ بحقٍّ
وقدْ تختلِفُ أحوالُهُمْ في الغيبةِ ؛ فمنْهُمْ
مَنْ لا تمتَدُّ غيبتُهُ ، ومنْهُمْ مَنْ تدومُ غيبتُهُ
وقدْ حُكِيَ أنَّ ذا النونِ المصريَّ بعَثَ
إنساناً مِنْ أصحابِهِ إلَى أبي يزيدَ لينقُلَ إاليهِ صفةَ أبي يزيدَ ، فلَمَّا جاءَ
الرجلُ إلَى بسطامَ . . سألَ عنْ دارِ أبي يزيدَ ، فدخلَ عليهِ ، فقالَ لهُ أبو يزيدَ
: ما تريدُ ؟ فقالَ : أُريدُ أبا يزيدَ ، فقالَ : مَنْ أبو يزيدَ ؟ وأيْنَ أبو يزيدَ
؟ أنا في طلبِ أبي يزيدَ
فخرجَ الرجلُ ، وقالَ : هذا مجنونٌ ، ورجَعَ
إلَى ذي النونِ فأخبرَهُ بما شهِدَ ، فبكَى ذو النونِ وقالَ : أخِي أبو يزيدَ ذهَبَ
في الذَّاهبينَ إلَى اللهِ تعالَى
**Adapun *Al-Hudhur* (Hadirnya Hati):** Seseorang bisa
dikatakan hadir bersama *Al-Haq* (Allah); karena apabila ia ghaib (tidak sadar)
dari makhluk... ia akan hadir bersama *Al-Haq*. Dalam artian, seolah-olah ia
benar-benar hadir disebabkan oleh dominasi dzikir kepada Allah atas hatinya.
Maka hatinya hadir di hadapan Tuhannya. Sebesar tingkat *ghaibah*-nya dari makhluk,
sebesar itu pula tingkat *hudhur*-nya bersama Allah. Jika ia ghaib secara
menyeluruh... maka *hudhur*-nya pun sesuai dengan tingkat *ghaibah*-nya
tersebut.
Apabila dikatakan: *"Fulan sedang hadir
(*hadhir*)"*... maknanya adalah: hatinya sedang hadir menghadap Tuhannya,
tidak lalai dan tidak lupa dari-Nya, serta terus-menerus berdzikir kepada-Nya.
Kemudian, dalam *hudhur*-nya tersebut ia mengalami singkapan spiritual
(*mukashafah*) sesuai dengan derajat kedudukannya, berupa makna-makna khusus
yang dikaruniakan Allah *Subhanahu wa Ta'ala* kepadanya.
Terkadang, kembalinya seorang hamba pada kesadaran atas
kondisi dirinya dan kondisi makhluk juga disebut sebagai: **"ia telah
hadir"**; yaitu ia telah kembali dari keadaan *ghaibah*-nya. Kondisi ini
disebut sebagai *hudhur* bersama makhluk sekaligus *hudhur* bersama Allah.
Sedangkan kondisi yang pertama tadi adalah *hudhur* murni bersama Allah.
Kondisi para sufi dalam hal *ghaibah* ini berbeda-beda: di
antara mereka ada yang *ghaibah*-nya tidak berlangsung lama, dan di antara
mereka ada pula yang *ghaibah*-nya berlangsung secara terus-menerus.
Dikisahkan bahwa **Dzun Nun Al-Mishri** pernah mengutus
salah seorang sahabatnya kepada **Abu Yazid (Al-Busthami)** untuk menggambarkan
kepadanya bagaimana sosok/sifat Abu Yazid. Ketika orang tersebut sampai di
Bistam... ia menanyakan rumah Abu Yazid lalu masuk menghadapnya. Abu Yazid
bertanya kepadanya: *"Apa yang engkau inginkan?"* Orang itu menjawab:
*"Aku mencari Abu Yazid."* Abu Yazid merespons: *"Siapakah Abu Yazid
itu? Dan di manakah Abu Yazid? Aku sendiri sedang mencari Abu Yazid!"*
Maka utusan itu keluar seraya berkata: *"Orang ini
gila!"* Ia pun kembali kepada Dzun Nun dan memberitahukan apa yang
disaksikannya. Dzun Nun menangis lalu berkata: *"Saudaraku Abu Yazid telah
pergi bersama orang-orang yang lenyap/lebur menuju Allah Ta'ala."*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.