بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
13. AS SATRU WA AT TAJALLI
السَّتْرُ وَالتَّجَلِّي
العَوَامُّ فِي غِطَاءِ السَّتْرِ ، وَالخَوَاصُّ فِي
دَوَامِ التَّجَلِّي
وَفِي الخَبَرِ : « إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا
تَجَلَّى لِشَيْءٍ .. خَشَعَ لَهُ
فَصَاحِبُ السَّتْرِ أَبَداً بِوَصْفِ شُهُودِهِ ، وَصَاحِبُ
التَّجَلِّي أَبَداً بِنَعْتِ خُشُوعِهِ
وَالسَّتْرُ لِلْعَوَامِّ عُقُوبَةٌ ، وَلِلْخَوَاصِّ
رَحْمَةٌ ؛ إِذْ لَوْلَا أَنَّهُ يَسْتُرُ عَلَيْهِمْ مَا يُكَاشِفُهُمْ بِهِ ..
لَتَلَاشَوْا عِنْدَ سُلْطَانِ الحَقِيقَةِ ، وَلَكِنَّهُ كَمَا يَظْهَرُ لَهُمْ
يَسْتُرُ عَلَيْهِمْ
سَمِعْتُ مَنْصُوراً المَغْرِبِيَّ يَقُولُ : وَافَى
بَعْضُ الفُقَرَاءِ حَيّاً مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ ، فَأَضَافَهُ شَابٌّ ،
فَبَيْنَا الشَّابُّ فِي خِدْمَةِ هَذَا الفَقِيرِ .. إِذْ غُشِيَ عَلَيْهِ ،
فَسَأَلَ الفَقِيرُ عَنْ حَالِهِ ، فَقَالُوا : لَهُ بِنْتُ عَمٍّ وَقَدْ
عَلِقَهَا ، فَمَشَتْ فِي خَيْمَتِهَا ، فَرَأَى الشَّابُّ غُبَارَ ذَيْلِهَا ،
فَغُشِيَ عَلَيْهِ
فَمَضَى الفَقِيرُ إِلَى بَابِ الخَيْمَةِ وَقَالَ :
إِنَّ لِلْغَرِيبِ فِيكُمْ حُرْمَةً وَذِمَاماً ، وَقَدْ جِئْتُ مُتَشَفِّعاً
إِلَيْكِ فِي أَمْرِ هَذَا الشَّابِّ ، فَتَعَطَّفِي عَلَيْهِ فِيمَا بِهِ مِنْ
هَوَاكِ ، فَقَالَتِ المَرْأَةُ : سُبْحَانَ اللهِ ! أَنْتَ سَلِيمُ القَلْبِ ،
إِنَّهُ لَا يَطِيقُ شُهُودَ غُبَارِ ذَيْلِي ،
كَيْفَ يَطِيقُ صُحْبَتِي ؟
وَعَوَامُّ هَذِهِ الطَّائِفَةِ عَيْشُهُمْ فِي
التَّجَلِّي ، وَبَلَاؤُهُمْ فِي السَّتْرِ ، وَأَمَّا الخَوَاصُّ .. فَهُمْ
بَيْنَ طَيْشٍ وَعَيْشٍ ؛ إِذَا تَجَلَّى لَهُمْ .. طَاشُوا ، وَإِذَا سَتَرَ
عَلَيْهِمْ .. رُدُّوا إِلَى الحَظِّ فَعَاشُوا
وَقِيلَ : إِنَّمَا قِيلَ لِمُوسَى عَلَيْهِ
السَّلَامُ : ﴿ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَمُوسَى ﴾ لِيَسْتُرَ عَلَيْهِ بِبَعْضِ
مَا يَعْلَلُهُ بَعْضَ مَا أَثَّرَ فِيهِ مِنَ المُكَاشَفَةِ بِفَجْأَةِ
السَّمَاعِ
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّهُ
لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي ، حَتَّى أَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي اليَوْمِ سَبْعِينَ
مَرَّةً » ، وَالاسْتِغْفَارُ طَلَبُ السَّتْرِ ؛ لِأَنَّ الغَفْرَ هُوَ السَّتْرُ
، وَمِنْهُ : غَفْرُ الثَّوْبِ ، وَالمِغْفَرُ وَغَيْرُهُ ، فَكَأَنَّهُ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ أَنَّهُ يَطْلُبُ السَّتْرَ عَلَى قَلْبِهِ
عِنْدَ سَطَوَاتِ الحَقِيقَةِ إِذِ الخَلْقُ لَا بَقَاءَ لَهُمْ مَعَ وُجُودِ
الحَقِّ سُبْحَانَهُ ، وَفِي الخَبَرِ : « لَوْ كَشَفَ عَنْ وَجْهِهِ ..
لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا أَدْرَكَ بَصَرُهُ
Penutupan (Satr) dan Penampakan (Tajalli)
Orang-orang awam berada dalam tirai penutupan (satr), sedangkan
orang-orang khusus (khawass) berada dalam keabadian penampakan (tajalli).
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala
apabila menampakkan diri (tajalli) pada sesuatu... niscaya sesuatu itu tunduk
khusyuk kepada-Nya."
Maka pemilik satr senantiasa berada dalam sifat persaksian dirinya (syuhud),
sedangkan pemilik tajalli senantiasa berada dalam sifat kekhusyukan-Nya.
Penutupan (satr) bagi awam adalah suatu hukuman/sebab terhalang,
sedangkan bagi khawass adalah suatu rahmat; sebab jikalau Allah tidak menutupi
mereka dari apa yang dibukakan (kasyf) kepada mereka... niscaya mereka
akan hancur lenyap di hadapan kekuasaan Hakikat Ilahi. Akan tetapi, sebagaimana
Allah menampakkan Diri kepada mereka, Dia juga menutupi mereka.
Aku mendengar Manshur al-Maghribi berkata: Seorang fakir mendatangi suatu
perkampungan Arab, lalu seorang pemuda menjamunya. Ketika pemuda itu sedang
melayani si fakir... mendadak ia pingsan. Si fakir bertanya tentang keadaannya,
dan orang-orang menjawab: "Ia memiliki sepupu perempuan yang sangat
dicintainya. Tadi sepupunya berjalan di kemahnya, lalu pemuda itu melihat debu
dari gaunnya, maka ia pun pingsan!"
Pemuda fakir itu pergi ke pintu kemah perempuan tersebut dan berkata: "Sesungguhnya
orang asing di antara kalian memiliki kehormatan dan perlindungan, dan aku
datang memohon kepadamu demi pemuda ini, maka kasihanilah dia atas rasa cinta
yang menimpanya." Wanita itu menjawab: "Subhanallah! Betapa
lugunya hatimu,
dia tidak sanggup melihat debu dari gaun pakaiaanku, bagaimana mungkin ia
sanggup bersamaku?!"
Adapun orang-orang awam dari kelompok (sufi) ini, kehidupan mereka ada pada tajalli
dan ujian/penderitaan mereka ada pada satr. Sedangkan bagi kaum khawass...
kehidupan mereka berada di antara guncangan (thaysh) dan kelangsungan
hidup ('aysh); apabila Allah tajalli kepada mereka... mereka
hilang kesadaran/guncang, dan apabila Allah menutupi (satr) mereka...
mereka dikembalikan pada bagian/kesadaran diri sehingga mereka dapat
melanjutkan hidup.
Dan dikatakan: Sesungguhnya firman Allah kepada Musa 'alaihissalam: "Apakah
itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?" adalah untuk
menutupi/mencairkan suasana baginya dengan percakapan biasa, guna meredakan
sebagian dampak dari kejutan mendengarkan kalam Ilahi secara mendadak.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya
hatiku kadang diliputi tumpukan kabut halus, hingga aku memohon ampun (istighfar)
kepada Allah dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali." Istighfar adalah
permohonan perlindungan/penutupan (satr); karena kata al-ghafr
berarti penutupan (as-satr), contohnya: ghafru ats-thawb (kain
pelindung) dan al-mighfar (helm pelindung kepala) dan sebagainya.
Seolah-olah Nabi صلى الله عليه وسلم
mengabarkan bahwa beliau memohon satr (penutupan/perlindungan) atas
hatinya ketika berhadapan dengan kedahsyatan Hakikat Ilahi; karena makhluk
tidak akan sanggup bertahan bersama wujud Allah Yang Maha Suci. Dalam riwayat
disebutkan: "Sekiranya Allah membuka tirai wajah-Nya... niscaya
keagungan wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk yang terjangkau oleh
pandangan-Nya."
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.