بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
14. MUHADHARAH, MUKASYAFAH DAN MUSYAHADAH
المُحَاضَرَةُ وَالمُكَاشَفَةُ وَالمُشَاهَدَةُ
المَحَاضَرَةُ ابْتِدَاءً ، وَالمُكَاشَفَةُ بَعْدَهُ
، ثُمَّ المُشَاهَدَةُ
فَالْمُحَاضَرَةُ : حُضُورُ القَلْبِ ، وَقَدْ
يَكُونُ بِتَوَاتِرِ البُرْهَانِ ، وَهُوَ بَعْدُ وَرَاءَ السَّتْرِ ، وَإِنْ
كَانَ حَاضِراً بِاسْتِيلَاءِ سُلْطَانِ الذِّكْرِ
ثُمَّ بَعْدَهُ : المُكَاشَفَةُ ؛ وَهُوَ حُضُورُهُ
بِنَعْتِ البَيَانِ غَيْرَ مُفْتَقِرٍ فِي هَذِهِ الحَالَةِ إِلَى تَأَمُّلِ
الدَّلِيلِ وَتَطَلُّبِ السَّبِيلِ ، وَلَا مُسْتَجِيرٍ مِنْ دَوَاعِي الرَّيْبِ ،
وَلَا مَحْجُوبٍ عَنْ نَعْتِ الغَيْبِ
ثُمَّ المُشَاهَدَةُ ؛ وَهِيَ وُجُودُ الحَقِّ مِنْ
غَيْرِ بَقَاءِ تُهْمَةٍ
وَإِذَا أَصْحَتْ سَمَاءُ السِّرِّ عَنْ غُيُومِ
السَّتْرِ .. فَشَمْسُ الشُّهُودِ مُشْرِقَةٌ عَنْ بُرْجِ الشَّرَفِ
وَحَقُّ المُشَاهَدَةِ : مَا قَالَهُ الجُنَيْدُ :
وُجُودُ الحَقِّ مَعَ فِقْدَانِكَ
فَصَاحِبُ المُحَاضَرَةِ مَرْبُوطٌ بِآيَاتِهِ ،
وَصَاحِبُ المُكَاشَفَةِ مَبْسُوطٌ بِصِفَاتِهِ ، وَصَاحِبُ المُشَاهَدَةِ
مُلْقَىً بِذَاتِهِ ، وَصَاحِبُ المُحَاضَرَةِ يَهْدِيهِ عَقْلُهُ ، وَصَاحِبُ
المُكَاشَفَةِ يُدْنِيهِ عِلْمُهُ ، وَصَاحِبُ المُشَاهَدَةِ تَمْحُوهُ
مَعْرِفَتُهُ
وَلَمْ يَزِدْ فِي بَيَانِ تَحْقِيقِ المُشَاهَدَةِ
أَحَدٌ عَلَى مَا قَالَهُ عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ المَكِّيُّ ، وَمَعْنَى مَا
قَالَهُ : أَنَّهُ تَتَوَالَى أَنْوَارُ التَّجَلِّي عَلَى قَلْبِهِ مِنْ غَيْرِ
أَنْ يَتَخَلَّلَهَا سَتْرٌ وَانْقِطَاعٌ ، كَمَا لَوْ قُدِّرَ اتِّصَالُ
البُرُوقِ ، فَكَمَا أَنَّ اللَّيْلَةَ الظَّلْمَاءَ بِتَوَالِي البُرُوقِ
وَاتِّصَالِهَا إِذَا قُدِّرَتْ تَصِيرُ فِي ضَوْءِ النَّهَارِ ؛ فَكَذَلِكَ
القَلْبُ إِذَا دَامَ بِهِ دَوَامُ التَّجَلِّي .. مَتَّعَ نَهَارُهُ فَلَا لَيْلَ
،
وَأَنْشَدُوا
لَيْلِي بِوَجْهِكَ مُشْرِقٌ ... وَظَلَامُهُ فِي
النَّاسِ سَارِي
وَالنَّاسُ فِي سُدَفِ الظَّلَا ... مِ وَنَحْنُ فِي
ضَوْءِ النَّهَارِ
وَقَالَ النُّورِيُّ : ( لَا يَصِحُّ لِلْعَبْدِ
المُشَاهَدَةُ وَقَدْ بَقِيَ لَهُ عِرْقٌ قَائِمٌ )
وَقَالُوا : ( إِذَا طَلَعَ الصَّبَاحُ ..
اسْتُغْنِيَ عَنِ المِصْبَاحِ )
وَتَوَهَّمَ قَوْمٌ أَنَّ المُشَاهَدَةَ تُشِيرُ
إِلَى طَرَفٍ مِنَ التَّفَرُّقَةِ ؛ لِأَنَّ بَابَ المُفَاعَلَةِ فِي
العَرَبِيَّةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ
وَهَذَا وَهْمٌ مِنْ صَاحِبِهِ ؛ فَإِنَّ فِي ظُهُورِ
الحَقِّ ثُبُورَ الخَلْقِ ، وَبَابُ المُفَاعَلَةِ جُمْلَتُهَا لَا تَقْتَضِي
مُشَارَكَةَ الاثْنَيْنِ ؛ نَحْوُ : سَافَرَ ، وَطَارَقَ النَّعْلَ ،
وَأَمْثَالِهِ
وَأَنْشَدُوا
فَلَمَّا اسْتَبَانَ الصُّبْحُ أَدْرَجَ ضَوْءُهُ ...
بِأَنْوَارِهِ أَنْوَارَ ضَوْءِ الكَوَاكِبِ
يُجَرِّعُهُمْ كَأْساً لَوِ ابْتُلِيَتْ لَظَى ...
بِتَجْرِيعِهِ طَارَتْ كَأَسْرَعَ ذَاهِبِ
كَأْسٌ وَأَيُّ كَأْسٍ ؟! كَأْسٌ تَصْطَلِمُهُمْ
عَنْهُمْ وَتُفْنِيهِمْ ، وَتَخْتَطِفُهُمْ مِنْهُمْ وَلَا تُبْقِيهِمْ ، كَأْسٌ
لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ، تَمْحُو بِالكُلِّيَّةِ ، وَلَا تُبْقِي شَظِيَّةً
مِنْ آثَارِ البَشَرِيَّةِ ؛ كَمَا قَالَ قَائِلُهُمْ
سَارُوا فَلَمْ يَبْقَ لَا رَسْمٌ وَلَا أَثَرُ
Kehadiran Hati (Al-Muhadharah), Singkapan Gaib (Al-Mukasyafah), dan
Persaksian Langsung (Al-Musyahadah)
Al-Muhadharah adalah tingkatan awal, Al-Mukasyafah berada
setelahnya, dan kemudian Al-Musyahadah.
Al-Muhadharah adalah: hadirnya hati (bersama Allah), yang terkadang
terjadi melalui beruntunnya bukti-bukti (burhan). Keadaan ini masih
berada di balik tirai (satr), meskipun hatinya hadir karena didominasi
oleh kekuatan zikir.
Kemudian setelahnya adalah Al-Mukasyafah; yaitu hadirnya hati dengan
kejelasan penjelasan, sehingga dalam kondisi ini tidak lagi membutuhkan
perenungan dalil dan pencarian jalan, tidak mencari perlindungan dari dorongan
keraguan, serta tidak terhalang dari sifat-sifat ke-Ghaiban.
Kemudian Al-Musyahadah; yaitu hadirnya/terwujudnya Keberadaan Yang
Mahabenar (Allah) tanpa menyisakan sedikit pun tuduhan/prasangka.
Apabila langit rahasia hati (sirr) telah bersih dari awan-awan
penutup (satr)... maka matahari persaksian (syuhud) akan terbit
bercahaya dari tempat tertingginya.
Hakikat Al-Musyahadah adalah sebagaimana yang dikatakan oleh
Al-Junaid: "Hadirnya/terwujudnya Yang Mahabenar (Allah) bersamaan
dengan ketiadaan dirimu."
Pemilik Al-Muhadharah terikat dengan ayat-ayat/tanda-tanda-Nya,
pemilik Al-Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya, dan pemilik Al-Musyahadah
diliputi langsung oleh Zat-Nya. Pemilik Al-Muhadharah dibimbing oleh
akalnya, pemilik Al-Mukasyafah didekatkan oleh ilmunya, sedangkan
pemilik Al-Musyahadah dileburkan/dihapuskan oleh makrifatnya.
Tidak ada seorang pun yang menambahkan penjelasan tentang hakikat Al-Musyahadah
melebihi apa yang disampaikan oleh 'Amr bin 'Utsman Al-Makki. Makna dari ucapan
beliau adalah: bahwasanya cahaya-cahaya tajalli (manifestasi Ilahi)
terus berdatangan secara beruntun ke dalam hatinya tanpa terhalang oleh penutup
atau terputus sama sekali, seolah-olah kilat yang menyambar tanpa henti.
Sebagaimana malam yang gelap gulita jika kilat menyambar terus-menerus tanpa
putus akan berubah tampak terang benderang bagaikan siang hari; demikian pula
hati, jika tajalli terus menerus terjadi padanya... siang harinya akan
terasa indah dan tak ada lagi malam baginya.
Kaum Sufi melantunkan syair:
Malamku menjadi terang benderang karena wajah-Mu, sedang kegelapannya
menyelimuti manusia.
Orang-orang berada dalam gulitanya malam, sedangkan kami berada dalam
terangnya siang.
An-Nuri berkata: "Tidaklah sah persaksian (musyahadah) seorang hamba
jika masih tersisa padanya satu urat keakuan/keberadaan diri yang berdiri
tegak."
Mereka juga berkata: "Apabila fajar telah menyingsing... maka tidak
diperlukan lagi lampu penerang."
Sebagian orang beranggapan bahwa Al-Musyahadah menunjukkan adanya
unsur pemisahan/perpecahan (tafarruqah); karena pola kata mufa'alah
dalam bahasa Arab biasanya terjadi antara dua pihak.
Namun ini adalah sangkaan keliru dari pemikirnya; sebab ketika Yang
Mahabenar (Allah) menampakkan Diri, maka musnahlah makhluk. Lagipula, bentuk
pola kata mufa'alah secara keseluruhan tidak selalu menuntut
keterlibatan dua pihak; seperti kata safara (bepergian) dan tharaqa
an-na'l (memperbaiki sandal), serta contoh sejenisnya.
Kaum Sufi melantunkan syair:
Ketika fajar telah benderang, cahayanya meleburkan... sinar
bintang-gemintang dengan cahayanya.
Ia meminumkan cangkir kepada mereka, yang sekiranya neraka Jahannam
ditetesi dengannya... niscaya neraka itu akan lenyap secepat-cepatnya.
Cangkir, dan cangkir apakah itu?! Cangkir yang mencabut keberadaan mereka
dan memusnahkan mereka, merenggut mereka dari diri mereka sendiri tanpa
menyisakan mereka. Cangkir yang tidak membiarkan dan tidak meninggalkan,
menghapuskan secara total, serta tidak menyisakan sedikit pun dari bekas-bekas
kemanusiaan (basyariyyah); sebagaimana yang dikatakan oleh penyair
mereka:
Merekapun berlalu, hingga tak tersisa lagi tanda maupun bekas.
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.