بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
11. DZAUQ DAN SYURB
الذَّوْقُ
وَالشُرْبُ
وَمِنْ جُمْلَةِ مَا يَجْرِي فِي كَلَامِهِمْ : الذَّوْقُ وَالشُرْبُ ، وَيُعَبِّرُونَ بِذَلِكَ عَمَّا يَجِدُونَهُ مِنْ ثَمَرَاتِ التَّجَلِّي ، وَنَتَائِجِ الْكَشُوفَاتِ ، وَبَوَادِهِ الْوَارِدَاتِ ، وَأَوَّلُ ذَلِكَ : الذَّوْقُ ، ثُمَّ الشُرْبُ ، ثُمَّ الرِّيُّ
فَصَفَاءُ مُعَامَلَاتِهِمْ يُوجِبُ لَهُمْ ذَوْقَ الْمَعَانِي ، وَوَفَاءُ مَنَازِلَاتِهِمْ يُوجِبُ لَهُمُ الشُِّرْبَ ، وَدَوَامُ مُوَاصَلَاتِهِمْ يَقْتَضِي لَهُمُ الرِّيَّ
فَصَاحِبُ الذَّوْقِ مُتَسَاكِرٌ ، وَصَاحِبُ الشُرْبِ سَكْرَانُ ، وَصَاحِبُ الرِّيِّ صَاحٍ
وَمَنْ قَوِيَ حُبُّهُ .. تَسَرْمَدَ شُرْبُهُ ، فَإِذَا دَامَتْ بِهِ تِلْكَ الصِّفَةُ .. لَمْ يُورِثْهُ الشُرْبُ سُكْراً ، فَكَانَ صَاحِياً بِالْحَقِّ ، فَانِياً عَنْ كُلِّ حَظٍّ ، لَمْ يَتَأَثَّرْ بِمَا يَرِدُ عَلَيْهِ ، وَلَا يَتَغَيَّرُ عَمَّا هُوَ بِهِ
وَمَنْ صَفَا سِرُّهُ .. لَمْ يَتَكَدَّرْ عَلَيْهِ الشُِّرْبُ ، وَمَنْ صَارَ الشَّرَابُ لَهُ غِذَاءً .. لَمْ يَصْبِرْ عَنْهُ ، وَلَمْ يَبْقَ دُونَهُ ، وَأَنْشَدُوا
إِنَّمَا الْكَأْسُ رَضَاعٌ بَيْنَنَا ... فَإِذَا مَا لَمْ نَذُقْهَا لَمْ نَعِشْ
وَأَنْشَدُوا
شَرِبْتُ الْحُبَّ كَأْساً بَعْدَ كَأْسٍ ... فَمَا نَفِدَ الشَّرَابُ وَلَا رَوِيتُ
وَيُقَالُ : كَتَبَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيُّ إِلَى أَبِي يَزِيدَ الْبِسْطَامِيِّ رَحِمَهُمَا اللَّهُ
هَا هُنَا مَنْ شَرِبَ كَأْساً لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ أَبُو يَزِيدَ : عَجِبْتُ مِنْ ضَعْفِ حَالِهِ ! هَا هُنَا مَنْ تَحَسَّى بِحَارَ الْكَوْنِ وَهُوَ فَاغِرٌ يَسْتَزِيدُ
وَاعْلَمْ : أَنَّ كَاسَاتِ القُرْبِ تَبْدُو مِنَ الغَيْبِ ، وَلَا تُدَارُ إِلَّا عَلَى أَسْرَارٍ مُعْتَقَةٍ ، وَأَرْوَاحٍ عَنْ رِقِّ الأَشْيَاءِ مُحَرَّرَةٍ
Rasa (Dzauq) dan Minuman (Syurb)
Di antara istilah yang berlaku dalam
ucapan mereka (kaum Sufi) adalah: Dzauq (Cita rasa spiritual) dan Syurb
(Minuman spiritual). Dengan istilah tersebut, mereka menggambarkan buah dari tajalli
(manifestasi Ilahi), hasil dari kasyf (singkapan gaib), dan ketibaan
limpahan karunia (waridat). Tingkatan pertamanya adalah Dzauq,
kemudian Syurb, lalu Riyy (rasa puas/segar setelah minum).
Kesenangan dan kebersihan perbuatan
(mu'amalat) mereka membuahkan rasa (dzauq) akan makna-makna
spiritual; kesetiaan pada kedudukan (manazil) mereka membuahkan syurb
(tegukan minuman cinta); dan kesinambungan hubungan (muwasalah) mereka
menghasilkan riyy (rasa puas yang sempurna).
Maka, pemilik dzauq itu
bagaikan orang yang berpura-pura/merasakan mabuk, pemilik syurb adalah
orang yang mabuk (sakran), sedangkan pemilik riyy adalah orang
yang sadar (sah).
Barangsiapa yang cintanya sangat
kuat... minuman spiritualnya akan abadi/terus-menerus. Jika sifat itu bertahan
lama padanya... minuman itu tidak lagi membuatnya mabuk. Ia menjadi orang yang
sadar bersama Yang Mahabenar (Allah), lebur (fana') dari segala bagian
keheningan diri, tidak terpengaruh oleh apa pun yang mendatangi jiwanya, dan
tidak berubah dari keadaannya.
Barangsiapa yang rahasia hatinya (sirr)
telah bersih... minumannya tidak akan keruh. Dan barangsiapa yang minuman itu
telah menjadi makanannya... ia tidak akan mampu bersabar tanpanya dan tidak
dapat hidup tanpa keberadaannya. Kaum Sufi melantunkan bait syair:
Piala ini hanyalah susuan di antara kita,
Maka jika kita tidak mencicipinya,
kita takkan dapat hidup.
Dan mereka juga melantunkan syair:
Aku telah meminum cinta cangkir demi
cangkir,
Namun minuman itu tak kunjung habis,
dan aku pun tak kunjung puas.
Dan dikatakan: Yahya bin Mu'adz
ar-Razi menulis surat kepada Abu Yazid al-Busthami (semoga Allah meratai
keduanya dengan rahmat-Nya):
"Di sini ada seseorang yang
telah meminum satu cangkir dan tidak pernah merasa haus lagi setelahnya."
Maka Abu Yazid membalas suratnya: "Aku
heran dengan kelemahan keadaannya! Di sini ada seseorang yang telah meneguk
lautan semesta, namun mulutnya masih terbuka meminta tambahan."
Ketahuilah: Bahwa cangkir-cangkir
kedekatan (qurb) itu tampak dari alam gaib, dan tidak digilirkan
melainkan kepada rahasia-rahasia (asrar) yang murni/terpelihara, serta
jiwa-jiwa yang telah dibebaskan dari perbudakan materi/duniawi.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.