بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
12. Al-Mahw wa Al-Itsbat
المَحْوُ وَالإِثْبَاتُ
فَالْمَحْوُ : رَفْعُ أَوْصَافِ العَادَةِ ، وَالإِثْبَاتُ : إِقَامَةُ أَحْكَامِ العِبَادَةِ
فَمَنْ نَفَى عَنْ أَحْوَالِهِ الخِصَالَ الذَّمِيمَةَ ، وَأَتَى بَدَلَهَا بِالأَفْعَالِ وَالأَحْوَالِ الحَمِيدَةِ .. فَهُوَ صَاحِبُ مَحْوٍ وَإِثْبَاتٍ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ يَقُولُ : قَالَ بَعْضُ المَشَايِخِ لِوَاحِدٍ : أَيَّ شَيْءٍ تَمْحُو وَأَيَّ شَيْءٍ تُثْبِتُ ؟ فَسَكَتَ الرَّجُلُ : فَقَالَ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الوَقْتَ مَحْوٌ وَإِثْبَاتٌ ؟! فَمَنْ لَا مَحْوَيَ لَهُ وَلَا إِثْبَاتَ لَهُ .. فَهُوَ مُعَطَّلٌ مُهْمَلٌ
وَيَنْقَسِمُ المَحْوُ : إِلَى مَحْوِ الزَّلَّةِ عَنِ الظَّوَاهِرِ ، وَمَحْوِ الغَفْلَةِ عَنِ الضَّمَائِرِ ، وَمَحْوِ العِلَّةِ عَنِ السَّرَائِرِ ؛ فَفِي مَحْوِ الزَّلَّةِ إِثْبَاتُ المُعَامَلَاتِ ، وَفِي مَحْوِ الغَفْلَةِ إِثْبَاتُ المَنَازِلَاتِ ، وَفِي مَحْوِ العِلَّةِ إِثْبَاتُ المَوَاصَلَاتِ
هَذَا مَحْوٌ وَإِثْبَاتٌ بِشَرْطِ العُبُودِيَّةِ
فَأَمَّا حَقِيقَةُ المَحْوِ وَالإِثْبَاتِ .. فَصَادِرَانِ عَنِ القُدْرَةِ ؛ فَالْمَحْوُ : مَا سَتَرَهُ الحَقُّ وَنَفَاهُ ، وَالإِثْبَاتُ : مَا أَظْهَرَهُ الحَقُّ وَأَبْدَاهُ
وَالمَحْوُ وَالإِثْبَاتُ مَقْصُورَانِ عَلَى المَشِيئَةِ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ﴾ ، قِيلَ : يَمْحُو عَنْ قُلُوبِ العَارِفِينَ ذِكْرَ غَيْرِ اللهِ ، وَيُثْبِتُ عَلَى أَلْسِنَةِ المُرِيدِينَ ذِكْرَ اللهِ
وَمَحْوُ الحَقِّ لِكُلِّ أَحَدٍ وَإِثْبَاتُهُ عَلَى مَا يَلِيقُ بِحَالِهِ
وَمَنْ مَحَاهُ الحَقُّ سُبْحَانَهُ عَنْ شَاهِدِهِ .. أَثْبَتَهُ بِحَقِّ حَقِّهِ ، وَمَنْ مَحَاهُ عَنْ إِثْبَاتِهِ بِهِ .. رَدَّهُ إِلَى شُهُودِ الأَغْيَارِ ، وَأَثْبَتَهُ فِي أَوْدِيَةِ التَّفَرُّقَةِ
وَقَالَ رَجُلٌ لِلشِّبْلِيِّ : مَا لِي أَرَاكَ قَلِقاً ؟ أَلَيْسَ هُوَ مَعَكَ وَأَنْتَ مَعَهُ ؟! فَقَالَ الشِّبْلِيُّ : لَوْ كُنْتُ أَنَا مَعَهُ .. كُنْتُ أَنَا ، وَلَكِنِّي مَحْوٌ فِيمَا هُوَ
وَالمَحْقُ فَوْقَ المَحْوِ ؛ لأَنَّ المَحْوَ يُبْقِي أَثَراً ، وَالمَحْقُ لَا يُبْقِي أَثَراً
وَغَايَةُ هِمَّةِ القَوْمِ : أَنْ يَمْحَقَهُمُ الحَقُّ سُبْحَانَهُ عَنْ شَوَاهِدِهِمْ ، ثُمَّ لَا يَرُدَّهُمْ إِلَيْهِمْ بَعْدَمَا مَحَقَهُمْ عَنْهُمْ
Penghapusan (Al-Mahw) dan
Penetapan (Al-Itsbat)
Al-Mahw (Penghapusan) adalah: mengangkat/menghilangkan sifat-sifat
kebiasaan buruk (kebiasaan diri). Sedangkan Al-Itsbat (Penetapan)
adalah: menegakkan hukum-hukum peribadatan.
Maka barangsiapa yang meniadakan
sifat-sifat tercela dari perilakunya dan menggantinya dengan perbuatan serta
keadaan terpuji, maka ia adalah pemilik mahw dan itsbat.
Aku mendengar Ustaz Abu Ali
ad-Daqqaq berkata: Sebagian syekh bertanya kepada seseorang, "Hal
apakah yang engkau hapuskan dan hal apakah yang engkau tetapkan?"
Orang tersebut diam. Lalu syekh itu berkata, "Tidakkah engkau tahu
bahwa waktu itu adalah penghapusan dan penetapan?! Barangsiapa yang tidak
memiliki penghapusan dan penetapan, maka ia adalah orang yang sia-sia dan
terabaikan."
Penghapusan (Al-Mahw) terbagi
menjadi: penghapusan kekeliruan (zal-lah) dari perbuatan lahiriah,
penghapusan kelalaian (ghaflah) dari nurani/hati nurani, dan penghapusan
cacat/penyakit ('illah) dari rahasia hati (sarair). Dalam
penghapusan kekeliruan terdapat penetapan mu'amalat (pengabdian lahir);
dalam penghapusan kelalaian terdapat penetapan manazilat (kedudukan
spiritual); dan dalam penghapusan cacat terdapat penetapan muwasalat
(hubungan spiritual dengan Allah).
Ini adalah penghapusan dan penetapan
dengan syarat kehambaan (ubudiyyah).
Adapun hakikat penghapusan dan
penetapan yang sebenarnya... keduanya bersumber dari Kekuasaan (Qudrah)
Allah. Maka Al-Mahw adalah apa yang ditutupi dan ditiadakan oleh Allah,
sedangkan Al-Itsbat adalah apa yang ditampakkan dan dimunculkan oleh
Allah.
Penghapusan dan penetapan itu
terbatas pada kehendak (Masyi'ah) Allah. Allah Ta'ala berfirman: "Allah
menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia
kehendaki)." Dikatakan: Allah menghapuskan sebutan selain Allah dari
hati orang-orang yang arif ('arifīn), dan menetapkan zikir kepada Allah
pada lidah orang-orang yang menginginkan-Nya (murīdīn).
Penghapusan dan penetapan dari Allah
bagi setiap orang adalah sesuai dengan apa yang layak bagi keadaannya.
Barangsiapa yang dihapuskan oleh
Allah Maha Suci Dia dari persaksian dirinya (syahid)... maka Allah
menetapkannya dengan hak-Nya yang sejati. Dan barangsiapa yang dihapuskan
oleh-Nya dari penetapan-Nya bersama-Nya... Allah mengembalikannya pada
persaksian terhadap selain-Nya (aghyar), dan menetapkannya di
lembah-lembah perpecahan (tafarruqah).
Seseorang berkata kepada asy-Syibli:
"Mengapa aku melihatmu begitu gelisah? Bukankah Dia bersamamu dan
engkau bersama-Nya?!" Asy-Syibli menjawab: "Jika aku
bersama-Nya... maka aku masih ada sebagai 'aku'. Akan tetapi aku telah terhapus
(mahw) dalam keberadaan-Nya."
Dan Al-Mahq (Pemusnahan
total) itu lebih tinggi tingkatannya daripada Al-Mahw (Penghapusan);
karena Al-Mahw masih menyisakan bekas, sedangkan Al-Mahq tidak
menyisakan bekas sama sekali.
Dan puncak cita-cita kaum Sufi
adalah: agar Allah Yang Maha Suci memusnahkan (yamaqa) mereka dari
kesadaran/persaksian diri mereka, kemudian tidak mengembalikan mereka kepada
diri mereka sendiri setelah Dia memusnahkan mereka darinya.
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : TERJEMAH RISALATUL-QUSYAIRIYYAH (Bab 4): 12. MAHUW DAN ITSBAT
Description : TERJEMAH KITAB RISALATUL-QUSYAIRIYYAH الرسالة القشيرية Bab Keempat 12. Al-Mahw wa Al-Itsbat المَحْوُ وَالإِثْبَاتُ فَالْمَحْوُ : رَ...