بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
10. Ash-Shahwu was-Sukr
**الصحو والسكر**
فالصَّحْوُ : رجوعٌ إلى الإحساسِ بعدَ الغَيْبةِ
، والسُّكْرُ : غَيْبةٌ بوارِدٍ قوِيٍّ
والسُّكْرُ زِيادةٌ على الغَيْبةِ مِنْ
وجهٍ ؛ وذلكَ أَنَّ صاحبَ السُّكْرِ قدْ يكونُ مبسوطاً إذا لم يكنْ مستوفًى في سُكْرِهِ
، وقدْ يسقُطُ إخطارُ الأشياءِ عنْ قلبِهِ في حالِ سُكْرِهِ ، وتلكَ حالُ التساكُرِ
الذي لم يستوفِهِ الوارِدُ ، فيكونُ للإحساسِ فيهِ مساغٌ
وقدْ يقوى سُكْرُهُ حتَّى يزيدَ على الغَيْبةِ
؛ فرُبَّما يكونُ صاحبُ السُّكْرِ أَشَدَّ غَيْبةً مِنْ صاحبِ الغَيْبةِ إذا قوِيَ
سُكْرُهُ ، ورُبَّما يكونُ صاحبُ الغَيْبةِ أَتَمَّ في الغَيْبةِ مِنْ صاحبِ السُّكْرِ
إذا كانَ متساكِراً غيرَ مستوفًى
والغَيْبةُ قدْ تكونُ للعبادِ بما يغْلِبُ
على قلوبِهمْ مِنْ موْجِبِ الرغبةِ والرهبةِ ، ومقتضياتِ الخوفِ والرجاءِ ، والسُّكْرُ
لا يكونُ إلَّا لأصحابِ المواجيدِ
فإذا كُوشِفَ العبدُ بنعَتِ الجمالِ .
. حصَلَ السُّكْرُ ، وطرِبَ الروحُ ، وهامَ القلبُ ، وفي معناهُ أنْشدوا
**فَصَحْوُكَ مِنْ لَفْظِي هُوَ الْوَصْلُ
كُلُّهُ ... وَسُكْرُكَ مِنْ لَحْظِي يُبِيحُ لَكَ الشُّرْبَا**
ويتقدَّمُهُ
**فَمَا مَلَّ سَاقِيهَا وَمَا مَلَّ شَارِبٌ
... عُقَارَ لِحَاظٍ كَأْسُهُ يُسْكِرُ الأَلْبَا**
وأنْشدوا
**فَأَسْكَرَ الْقَوْمَ دَوْرُ كَأْسٍ
... وَكَانَ سُكْرِي مِنَ الْمُدِيرِ**
وأنْشدوا
**لِي سَكْرَتَانِ وَلِلنَّدْمَانِ وَاحِدَةٌ
... شَيْءٌ خُصِصْتُ بِهِ مِنْ بَيْنِهِمْ وَحْدِي**
وأنْشدوا
**سُكْرَانِ سُكْرُ هَوًى وَسُكْرُ مُدَامَةٍ
... فَمَتَى يُفِيقُ فَتًى بِهِ سُكْرَانِ**
قالَ الأستاذُ رضِيَ اللهُ عنهُ : واعلَمْ
: أَنَّ الصَّحْوَ على حسَبِ السُّكْرِ ؛ فكلُّ مَنْ كانَ سُكْرُهُ بحقٍّ . . كانَ
صَحْوُهُ بحقٍّ ، ومَنْ كانَ سُكْرُهُ بحظٍّ مشوباً . . كانَ صَحْوُهُ بحظٍّ مصحوباً
، ومَنْ كانَ محقَّاً في حالِهِ . . كانَ محفوظاً في سُكْرِهِ
والسُّكْرُ والصَّحْوُ يشيرانِ إلى طرَفٍ
مِنَ التفرقةِ ، فإذا ظهرَ مِنْ سلطانِ الحقيقةِ علمٌ . . فصفَةُ العبدِ الثبورُ والقهرُ
، وفي معناهُ أنْشدوا
**إِذَا طَلَعَ الصَّبَاحُ لِنَجْمِ رَاحٍ
... تَسَاوَى فِيهِ سُكْرَانٌ وَصَاحِ**
قالَ اللهُ تعالَى : ﴿ فَلَمَّا تَجَلَّى
رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا ﴾
هذا معَ رسالتِهِ خرَّ صَعِقاً ، وهذا معَ
صلابتِهِ وقوَّتِهِ [صارَ] دكّاً متكثِّراً !
والعبدُ في حالِ سُكْرِهِ بشاهدِ الحالِ
، وفي حالِ صَحْوِهِ بشرطِ العلمِ ، إلَّا أَنَّهُ في حالِ سُكْرِهِ محفوظٌ لا بتكلُّفِهِ
، وفي حالِ صَحْوِهِ متحرِّزٌ بتصرُّفِهِ
والصَّحْوُ والسُّكْرُ بعدَ الذوقِ والشربِ
**Ash-Shahwu (Kesadaran Spiritual) dan As-Sukr (Mabuk Spiritual)**
*Ash-Shahwu* (kesadaran) adalah kembalinya panca indra dan
kesadaran setelah mengalami *ghaibah* (hilang kesadaran dari makhluk).
Sedangkan *As-Sukr* (mabuk) adalah hilangnya kesadaran karena
limpahan *warid* (perasaan spiritual) yang sangat kuat.
*As-Sukr* merupakan tingkatan lebih lanjut dari *ghaibah*
dari satu sisi; sebab orang yang mengalami *sukr* bisa jadi merasa lapang
(*mabsuth*) jika ia belum sepenuhnya larut dalam *sukr*-nya, dan terkadang
terlintasnya bayangan benda-benda dari hatinya sirna saat mabuk. Hal tersebut
merupakan kondisi berpura-pura mabuk (*tasakur*) yang belum dikuasai sepenuhnya
oleh *warid*, sehingga panca indra masih memiliki celah untuk beroperasi.
Namun, terkadang mabuknya begitu kuat hingga melebihi
*ghaibah*; orang yang mengalami *sukr* bisa saja lebih ghaib (hilang kesadaran)
daripada orang yang sekadar mengalami *ghaibah* biasa jika mabuknya sangat
kuat. Sebaliknya, orang yang mengalami *ghaibah* terkadang lebih sempurna
*ghaibah*-nya daripada orang yang *sukr* jika orang yang *sukr* itu hanya
berpura-pura (*tasakur*) dan belum larut sepenuhnya.
*Ghaibah* bisa terjadi pada para hamba disebabkan oleh
dorongan keinginan (*raghbah*) dan rasa takut (*rahbah*) yang menguasai hati
mereka, serta konsekuensi dari rasa takut (*khauf*) dan harapan (*raja'*).
Sedangkan *sukr* (mabuk spiritual) tidak akan terjadi kecuali bagi orang-orang
yang memiliki kedalaman rasa/pengalaman spiritual (*ash-hab al-mawajid*).
Maka, apabila seorang hamba disingkapkan (*mukashafah*) padanya
sifat Keindahan (*Jamal*) Allah... terjadilah *sukr* (mabuk spiritual), ruhnya
merasa gembira, dan hatinya menjadi terpesona. Berkenaan dengan makna ini, para
penyair bersyair:
> *Sadar-mu dari ucapanku adalah kesempurnaan hubungan
(wushal),*
> *Sedangkan mabuk-mu dari tatapanku membolehkanmu untuk
terus meminumnya.*
Dan bait sebelumnya:
> *Penuang minumannya tidak pernah bosan, dan sang
peminum tak pernah jemu...*
> *Arak tatapan mata yang pialanya sanggup memabukkan
akal pikiran.*
Para penyair juga bersyair:
> *Putaran piala telah memabukkan orang-orang...*
> *Namun mabukku berasal dari Sang Penuang minuman itu
sendiri.*
Dan mereka bersyair:
> *Aku memiliki dua jenis mabuk sedangkan teman minumku
hanya satu...*
> *Suatu keistimewaan yang dikhususkan bagiku seorang di
antara mereka.*
Dan mereka bersyair:
> *Dua jenis mabuk: mabuk karena cinta dan mabuk karena
khamar...*
> *Lalu bilakah seorang pemuda yang dihinggapi dua mabuk
sekaligus akan tersadar?!*
Al-Ustadz (*Abu Ali Ad-Daqqaq*) *radiyallahu 'anhu* berkata:
Ketahuilah bahwa **kesadaran (*ash-shahwu*) itu diukur sesuai dengan tingkat
mabuknya (*as-sukr*)**:
* Barangsiapa yang mabuknya bersama *Al-Haq* (Allah)... maka
sadarnya pun bersama *Al-Haq*.
* Barangsiapa yang mabuknya bernoda dengan kepentingan hawa
nafsu... maka sadarnya pun akan disertai dengan kepentingan nafsu.
* Dan barangsiapa yang benar/tulus (*muhiqqan*) dalam kondisinya...
maka ia akan senantiasa terjaga (*mahfuzh*) saat mabuknya.
*As-Sukr* dan *Ash-Shahwu* mengisyaratkan pada
bagian dari *Tafriqah* (pemisahan/keterpisahan diri dari Allah). Jika telah
tampak kebenaran yang nyata dari kekuasaan Hakikat... maka sifat seorang hamba
adalah kehancuran dan ketundukan pasrah (*qahr*). Berkenaan dengan makna ini,
mereka bersyair:
> *Apabila fajar telah menyingsing bagi bintang
kebahagiaan...*
> *Maka sama sajalah di dalamnya antara orang yang mabuk dan
orang yang sadar.*
Allah Ta'ala berfirman: *“Tatkala Tuhannya menampakkan diri
kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”*
(QS. Al-A'raf: 143).
Musa—dengan kedudukannya sebagai seorang Rasul—jatuh
pingsan, dan gunung itu—dengan keteguhan dan kekuatannya—menjadi hancur luluh
berkeping-keping!
Seorang hamba pada saat mabuknya (*sukr*) dibimbing oleh
saksi keadaan spiritualnya (*syahid al-haal*), sedangkan pada saat sadarnya
(*shahwu*) ia terikat oleh syarat ilmu. Hanya saja, saat mabuk ia tetap terjaga
(*mahfuzh*) bukan karena usahanya sendiri, dan saat sadar ia berhati-hati (*mutaharriz*)
melalui tindakannya.
*Ash-Shahwu* (kesadaran) dan *As-Sukr* (mabuk)
terjadi setelah mencicipi (*dzauq*) dan meminum (*syurb*).
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.