بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
8. Al-Fana' wal-Baqa'
*الفناء والبقاء*
أشارَ القومُ بالفناءِ إلى سقوطِ الأوصافِ
المذمومةِ ، وأشاروا بالبقاءِ إلى قيامِ الأوصافِ المحمودةِ
فإذا كانَ العبدُ لا يخلو عن أِحدِ هذينِ
القسمينِ . . فَمِنَ المعلومِ أنَّهُ إذا لم يكنْ أحدُ القسمينِ . . كانَ القسمُ الآخَرُ
لا محالةَ ؛ فمنْ فَنِيَ عنْ أوصافِهِ المذمومةِ . . ظهرَتْ عليهِ الخصالُ المحمودةُ
، ومنْ غلبَتْ عليهِ الخصالُ المذمومةُ . . استترَتْ عنه الصفاتُ المحمودةُ
واعلمْ : أنَّ الذي يتَّصِفُ بهِ العبدُ
أفعالٌ ، وأخلاقٌ ، وأحوالٌ ؛ فالأفعالُ تصرُّفاتُهُ باختيارِهِ ، والأخلاقُ جِبِلَّةٌ
فيهِ ، ولكنْ تتغيَّرُ بمعالجتِهِ على مستمرِّ العادةِ ، والأحوالُ ترِدُ على العبدِ
على وجهِ الابتداءِ ، لكنْ صفاؤُها بعدَ زكاءِ الأعمالِ ، فهيَ كالأخلاقِ مِنْ هذا
الوجهِ ، لأنَّ العبدَ إذا نازلَ الأخلاقَ بقلبِهِ ، فينفي بجهدِهِ سَفْسَافَها .
. مَنَّ اللهُ عليهِ بتحسينِ أخلاقِهِ ، وكذلكَ إذا واظبَ على تزكيةِ أعمالِهِ ببذلِ
وُسْعِهِ . . مَنَّ اللهُ عليهِ بتصفيةِ أحوالِهِ ، بلْ بتوفيةِ أحوالِهِ
فمنْ تركَ مذمومَ أفعالِهِ بلسانِ الشريعةِ
. . يُقالُ : إنَّهُ فَنِيَ عنْ شهوتِهِ ، فإذا فَنِيَ عنْ شهوتِهِ . . بقِيَ بنيَّتِهِ
وإخلاصِهِ في عبوديَّتِهِ
ومَنْ زهدَ في دنياهُ بقلبِهِ . . يُقالُ
: فَنِيَ عنْ رغبتِهِ ، فإذا فَنِيَ عنْ رغبتِهِ . . بقِيَ بصدقِ إنابتِهِ
ومَنْ عالجَ أخلاقَهُ ؛ فنفى عنْ قلبِهِ
الحسدَ والحقدَ ، والبخلَ والشُّحَّ ، والغضبَ والكِبْرَ ، وأمثالَ هذا مِنْ رُعوناتِ
النفسِ . . يُقالُ : فَنِيَ عنْ سوءِ الخُلُقِ ، فإذا فَنِيَ عنْ سوءِ الخُلُقِ . بقِيَ بالفُتُوَّةِ والصدقِ
ومَنْ شاهدَ جريانَ القدرةِ في تصاريفِ
الأحكامِ . . يُقالُ : فَنِيَ عنْ حُسْبانِ الحَدَثَانِ مِنَ الخَلْقِ ، فإذا فَنِيَ
عنْ توهُّمِ الآثارِ مِنَ الأغيارِ . . بقِيَ بصفاتِ الحقِّ
ومَنِ استولى عليهِ سلطانُ الحقيقةِ حتَّى
لم يشهدْ مِنَ الأغيارِ لا عيناً ولا أثراً ، ولا رَسْماً ولا طَلَلاً . . يُقالُ
: إنَّهُ فَنِيَ عنِ الخَلْقِ وبقِيَ بالحقِّ
**Al-Fana’ (Sifat Fana/Kenaifan Diri) dan Al-Baqa’ (Sifat
Kekal/Kelangsungan Bersama Allah)**
Para ulama (sufi) mengartikan *Fana’* sebagai
gugurnya/sirnanya sifat-sifat yang tercela, dan mereka mengartikan *Baqa’*
sebagai tegaknya/munculnya sifat-sifat yang terpuji.
Maka, apabila seorang hamba tidak terlepas dari salah satu
dari dua bagian ini... sudah maklum (diketahui secara pasti) bahwa jika salah
satu bagian tidak ada... maka bagian yang lain pasti akan ada. Barangsiapa yang
fana (sirnah) dari sifat-sifat tercelanya... maka akan tampak padanya
perangai-perangai terpuji. Dan barangsiapa yang didominasi oleh perangai-perangai
tercela... maka sifat-sifat terpuji akan tertutupi darinya.
Ketahuilah: Bahwa apa yang menjadi sifat bagi seorang hamba
itu meliputi **perbuatan (af'al)**, **akhlak**, dan **kondisi spiritual
(ahwal)**:
**Perbuatan** adalah tindakan-tindakannya yang didasari atas
kehendaknya (pilihannya).
**Akhlak** adalah pembawaan/watak dasar padanya, namun dapat
berubah melalui latihan dan penanganan secara terus-menerus.
**Ahwal (keadaan spiritual)** datang kepada seorang hamba
sebagai karunia awal, namun kesuciannya didapat setelah bersihnya
perbuatan-perbuatan. Maka ahwal mirip dengan akhlak dalam hal ini. Karena jika
seorang hamba berjuang mengatasi akhlaknya dengan hatinya, lalu ia berusaha
keras menyingkirkan hal-hal yang hina darinya... Allah akan mengaruniakannya
perbaikan akhlak. Begitu pula jika ia terus-menerus menyucikan perbuatannya
dengan mengerahkan segenap kemampuannya... Allah akan mengaruniakannya
kejernihan ahwal, bahkan kesempurnaan ahwal baginya.
Maka barangsiapa meninggalkan perbuatannya yang tercela
menurut hukum syariat... dikatakan: *"Sesungguhnya ia telah fana dari
syahwatnya."* Apabila ia telah fana dari syahwatnya... ia akan kekal
(*baqa'*) dengan niat dan keikhlasannya dalam beribadah.
Barangsiapa berzuhud terhadap dunianya dengan hatinya...
dikatakan: *"Ia telah fana dari keinginannya."* Apabila ia telah fana
dari keinginannya... ia akan kekal dengan kebenaran/kesungguhan taubatnya
(*inabah*).
Barangsiapa yang mengobati akhlaknya; lalu menyingkirkan
dari hatinya rasa dengki, dendam, kikir, pelit, pemarah, sombong, dan kebodohan
jiwa sejenisnya... dikatakan: *"Ia telah fana dari keburukan
akhlak."* Apabila ia telah fana dari keburukan akhlak... ia akan kekal
dengan sifat kesatria (*futuwwah*) dan kejujuran.
Barangsiapa yang menyaksikan berlakunya kekuasaan Allah
dalam ketetapan-ketetapan hukum-Nya... dikatakan: *"Ia telah fana dari
menganggap/memperhitungkan kejadian-kejadian berasal dari makhluk."*
Apabila ia telah fana dari prasangka adanya bekas/pengaruh dari selain Allah
(*aghyar*)... ia akan kekal dengan sifat-sifat Al-Haq (Allah).
Dan barangsiapa yang telah dikuasai oleh kebenaran hakiki
(sultan al-haqiqah) hingga ia tidak lagi menyaksikan sesuatu dari selain Allah
(*aghyar*), baik wujudnya, bekasnya, tandanya, maupun peninggalannya...
dikatakan: *"Sesungguhnya ia telah fana dari makhluk dan kekal (*baqa'*)
bersama Al-Haq (Allah)."
فَفَناءُ العَبْدِ عنْ أفعالِهِ الذميمةِ
وأحوالِهِ الخسيسةِ : بعدَمِ هذهِ الأفعالِ ، وفَناؤُهُ عنْ نفسِهِ وعنِ الخَلْقِ
: بزَوالِ إحساسِهِ بنفسِهِ وبهمْ
فإذا فَنِيَ عنِ الأفعالِ والأخلاقِ والأحوالِ
. . فلا يجوزُ أنْ يكونَ ما فَنِيَ عنهُ مِنْ ذلكَ موجوداً
وإذا قيلَ : فَنِيَ عنْ نفسِهِ وعنِ الخَلْقِ
. . فتكونُ نفسُهُ موجودةً والخَلْقُ موجودِينَ ، ولكنَّهُ لا علمَ لَهُ بهمْ ولا بِهِ
، ولا إحساسَ ولا خبرَ ، فتكونُ نفسُهُ موجودةً والخَلْقُ موجودِينَ ولكنَّهُ غافلٌ
عنْ نفسِهِ وعنِ الخَلْقِ أجمعينَ ، غيرُ مُحِسٍّ بنفسِهِ وبالخَلْقِ
وقدْ ترَى الرجلَ يدخلُ علَى ذِي سلطانٍ
أوْ محتشمٍ ، فيذهَلُ عنْ نفسِهِ وعنْ أهلِ مجلسِهِ ، ورُبَّما يذهَلُ عنْ ذلكَ المحتشمِ
، حتَّى إذا سُئِلَ بعدَ خروجِهِ مَنْ عندَهُ عنْ أهلِ مجلسِهِ وهَيْئاتِ ذلكَ الصَّدْرِ
وهَيْئاتِ نفسِهِ . . لمْ يُمكنْهُ الإخبارُ عنْ شيءٍ
قالَ اللهُ تعالَى : ﴿ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ
أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ﴾ ، لمْ يجِدْنَ عندَ لقاءِ يوسفَ عليهِ السلامُ
علَى الوَهْلَةِ ألمَ قطعِ الأيدي وَهُنَّ أضعفُ الناسِ ، وقُلْنَ : ﴿ مَا هَذَا بَشَرًا
﴾ ولقدْ كانَ بشَراً ، وقُلْنَ : ﴿ إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ ﴾ ولمْ يكنْ مَلَكاً
فهذا تغافُلُ مخلوقٍ عنْ أحوالِهِ عندَ
لقاءِ مخلوقٍ ، فما ظَنُّكَ بِمَنْ يُكاشَفُ بشهودِ الحقِّ سبحانَهُ وتعالَى ؟! فلوْ
تغافلَ عنْ إحساسِهِ بنفسِهِ وأبناءِ جنسِهِ . . فأَيُّ أُعجوبةٍ فيهِ ؟
فَمَنْ فَنِيَ عنْ جَهْلِهِ . . بقِيَ بعلمِهِ
، ومَنْ فَنِيَ عنْ شهوتِهِ . . بقِيَ بإنابتِهِ ، ومَنْ فَنِيَ عنْ رغبتِهِ . . بقِيَ
بزَهادَتِهِ ، ومَنْ فَنِيَ عنْ مُنْيَتِهِ . . بقِيَ بإرادتِهِ
وكذلكَ القولُ في جميعِ صفاتِهِ ، فإذا
فَنِيَ العبدُ عنْ صِفَتِهِ بما جَرَى ذِكْرُهُ . . يرتَقِي عنْ ذلكَ بفنائِهِ عنْ
رؤيةِ فنائِهِ ، وإلَى هذا أشارَ قائلُهُم
**وَقَوْمٌ تَاهُوا فِي أَرْضِ بَقْفَرِ *** وَقَوْمٌ تَاهُوا فِي مَيْدَانِ
حُبِّهْ**
**فَأُفْنُوا ثُمَّ أُفْنُوا ثُمَّ أُفْنُو *** وَأُبْقُوا بِالْبَقَا مِنْ قُرْبِ قُرْبِهْ**
فالأَوَّلُ : فناءٌ عنْ نفسِهِ وصفاتِهِ
بقائِهِ بصفاتِ الحقِّ ، ثمَّ فناؤُهُ عنْ صفاتِ الحقِّ بشهودِ الحقِّ ، ثمَّ فناؤُهُ
عنْ شهودِ فنائِهِ باستهلاكِهِ في وجودِ الحقِّ
Maka **fana-nya seorang hamba dari perbuatannya yang tercela
dan kondisinya yang hina** bermakna: ketiadaan/sirnanya perbuatan-perbuatan
tersebut. Sedangkan **fana-nya dari dirinya sendiri dan dari makhluk**
bermakna: hilangnya kesadaran/perasaannya terhadap dirinya dan terhadap mereka.
Jika ia fana dari perbuatan, akhlak, dan kondisinya
(*ahwal*)... maka tidak boleh (secara logis) apa yang telah sirna itu masih
tetap ada padanya.
Namun jika dikatakan: *"Ia fana dari dirinya dan dari
makhluk..."* maka sesungguhnya dirinya tetap ada dan makhluk pun tetap
ada. Hanya saja, ia tidak lagi memiliki pengetahuan, perasaan, maupun kabar
tentang mereka ataupun dirinya. Jadi, dirinya tetap ada dan makhluk pun ada,
tetapi ia lalai/lupa dari dirinya dan dari seluruh makhluk, serta tidak lagi
merasakan eksistensi dirinya maupun makhluk.
Engkau kerap melihat seseorang masuk menghadap seorang
penguasa atau tokoh yang disegani, lalu ia menjadi terpesona/terpana hingga
lupa akan dirinya dan orang-orang di majelis itu. Bahkan terkadang ia lupa akan
tokoh yang disegani itu sendiri. Sehingga jika seusai keluar ia ditanya oleh
orang di sekitarnya tentang siapa saja yang ada di majelis, bagaimana keadaan
sang tokoh, atau bagaimana keadaan dirinya sendiri... ia tidak mampu memberitahukan
apa pun.
Allah Ta'ala berfirman: *“Maka tatkala wanita-wanita itu
melihatnya, mereka terpesona dengan (ketampanan)nya, dan mereka (tanpa sadar)
melukai tangan mereka sendiri...”* (QS. Yusuf: 31). Mereka tidak merasakan
sakitnya luka terpotongnya tangan saat pertama kali bertemu Yusuf
'alaihissalam, padahal mereka adalah kaum yang paling lemah. Mereka berkata:
*“Ini bukanlah manusia”*—padahal beliau adalah manusia, dan mereka berkata:
*“Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”*—padahal beliau bukanlah
malaikat.
Jika ini adalah kelalaian/ketidaksadaran seorang makhluk
atas kondisinya sendiri saat bertemu dengan sesama makhluk, maka bagaimana
prasangkamu terhadap orang yang disingkapkan (*mukashafah*) baginya penyaksian
(*syuhud*) kepada *Al-Haq* (Allah) *Subhanahu wa Ta'ala*?! Maka jikalau ia
tidak menyadari lagi perasaan terhadap dirinya dan sesama jenisnya... keajaiban
mana lagi yang patut diherankan dari hal itu?!
* Barangsiapa yang **fana dari kebodohannya**... ia akan
**kekal (*baqa'*) dengan ilmunya**.
* Barangsiapa yang **fana dari syahwatnya**... ia akan
**kekal dengan taubatnya (*inabah*)**.
* Barangsiapa yang **fana dari keingingan duniawinya**... ia
akan **kekal dengan kesederhanaannya (*zahadah*)**.
* Barangsiapa yang **fana dari angan-angannya
(*munyah*)**... ia akan **kekal dengan kehendak murninya (*iradah*)**.
Demikian pula halnya pada seluruh sifat-sifatnya. Apabila
seorang hamba telah fana dari sifatnya sebagaimana yang telah disebutkan... ia
akan naik tingkat dari hal itu dengan **fana dari penglihatan atas fana-nya
sendiri** (tidak merasa bahwa dirinya sedang fana). Kepada tingkatan inilah
penyair mereka mengisyaratkan:
> *Ada kaum yang tersesat di tanah padang sahara...*
> *Dan ada kaum yang terpesona di medan mahabah
(cinta)-Nya.*
> *Mereka di-fana-kan, kemudian di-fana-kan, lalu
di-fana-kan...*
> *Dan mereka di-baqa-kan (dikekalkan) dalam keabadian
karena sangat dekat dengan kedekatan-Nya.*
1. **Fana pertama:** Fana dari diri dan sifat-sifatnya untuk
kekal (*baqa'*) dengan sifat-sifat *Al-Haq* (Allah).
2. **Fana kedua:** Fana dari sifat-sifat *Al-Haq* karena
menyaksikan (*syuhud*) Zat *Al-Haq*.
3. **Fana ketiga:** Fana dari kesadaran akan fana-nya
sendiri karena telah larut/tenggelam (*istihlak*) dalam wujud *Al-Haq*.
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.