بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
7. AL-JAM'U WA AL-TAFRIQAH
*الجمعُ والتَّفْرِقَةُ*
لفْظُ : ( الجمعِ والتَّفْرِقَةِ ) يجْري في كلامِهِمْ كَثيراً
وكانَ الأستاذُ أبو عليٍّ الدَّقَّاقُ يقولُ : ( الفَرْقُ : ما نُسِبَ إليْكَ ، والجمعُ : ما سُلِبَ عنْكَ )
ومعناهُ : أنَّ ما يكونُ كَسْباً للعبْدِ ؛ مِنْ إقامَةِ العبوديَّةِ ، وما يليقُ بأحوالِ البشريَّةِ . . فهُوَ فَرْقٌ ، وما يكونُ مِنْ قِبَلِ الحقِّ ؛ مِنْ إبداءِ معانٍ ، وإسداءِ لطْفٍ وإحسانٍ . . فهُوَ جمْعٌ
هذَا أدْنَى أحوالِهِمْ في الجمعِ والفرْقِ ؛ لأنَّهُ في شهودِ الأفعالِ .
فمَنْ أشْهَدَهُ الحقُّ سبحانَهُ أفعالَهُ مِنْ طاعتِهِ ومخالَفاتِهِ . . فهُوَ عبْدٌ بوصْفِ التَّفْرِقَةِ ، ومَنْ أشْهَدَهُ الحقُّ سبحانَهُ ما يُولِيهِ مِنْ أفعالِ نفسِهِ سبحانَهُ . . فهُوَ عبْدٌ بشاهِدِ الجمعِ
فإثباتُ الخلْقِ مِنْ بابِ التَّفْرِقَةِ ، وإثباتُ الحقِّ مِنْ نعْتِ الجمعِ
ولا بُدَّ للعبْدِ مِنَ الجمعِ والفرْقِ ؛ فإنَّ مَنْ لا تفْرِقَةَ لهُ . . فلا عبوديَّةَ لهُ ، ومَنْ لا جمْعَ لهُ . . لا معرفَةَ لهُ ، فقولُهُ : ﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ﴾ : إشارةٌ إلى الفرْقِ ، وقولُهُ : ﴿ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾ : إشارةٌ إلى الجمعِ
وإذا خاطَبَ العبْدُ الحقَّ سبحانَهُ بلسانِ نجواهُ ؛ إِمَّا سائلاً ، أَوْ داعياً ، أَوْ مُثْنِياً ، أَوْ شاكِراً ، أَوْ متَنَصِّلاً ، أَوْ مبتَهلاً . . قامَ في محلِّ التَّفْرِقَةِ
وإذا أصْغَى بسِرِّهِ إلى ما يناجيهِ مولاهُ ، واسْتَمَعَ بقلْبِهِ ما يُخاطِبُهُ بِهِ فيما ناداهُ ، أَوْ ناجاهُ ، أَوْ عرَّفَهُ معناهُ ، أَوْ لَوَّحَ لقلْبِهِ وأراهُ . . فهُوَ بشاهِدِ الجمعِ
سمعتُ الأستاذَ أبا عليٍّ الدَّقَّاقَ يقولُ : أنشَدَ قَوَّالٌ بينَ يدَيِ الأستاذِ أبي سهْلٍ الصُّعْلُوكِيِّ رحمهُ اللهُ
جَعَلْتُ تَنَزُّهِي نَظَرِي إِلَيْكَ
وكانَ أبو القاسِمِ النَّصْرَابَاذِيُّ حاضِراً ، فقالَ الأستاذُ أبو سهْلٍ : ( جَعَلْتَ ) بنصْبِ التاءِ ، فقالَ النَّصْرَابَاذِيُّ : بلْ ( جَعَلْتُ ) بضمِّ التاءِ ، فقالَ الأستاذُ أبو سهْلٍ : أليْسَ عَيْنُ الجمعِ أتَمَّ ؟! فسكتَ النَّصْرَابَاذِيُّ
وسمعتُ الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ يحْكي هذِهِ الحكايةَ علَى هذَا الوَجْهِ
**AL-JAM'U WA AL-TAFRIQAH**
(PENYATUAN DAN PEMISAHAN)
Lafaz **"Al-Jam'u"** (Penyatuan/Konsentrasi Batin
pada Allah) dan **"At-Tafriqah/Al-Farq"** (Pemisahan/Kesadaran akan
Syariat dan Makhluk) sangat sering digunakan dalam perkataan para ahli tasawuf.
Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq berkata:
> *"Al-Farq adalah segala sesuatu yang dinisbatkan
kepadamu (perbuatan/usaha hamba). Sedangkan Al-Jam'u adalah segala sesuatu yang
ditarik/diambil dari dirimu (kebijakan dan karunia Allah semata)."*
**Maknanya adalah:**
* Segala hal yang merupakan hasil usaha (*kasb*) hamba—seperti
menjalankan pengabdian (*'ubudiyyah*) dan hal-hal yang sesuai dengan
sifat-sifat kemanusiaan—maka itu adalah **Farq** (pemisahan).
* Sedangkan segala hal yang datang langsung dari sisi Allah SWT—seperti penampakan makna-makna batin, limpahan kelembutan, dan
kebaikan-Nya—maka itu adalah **Jam'u** (penyatuan).
# Tingkatan Jam'u dan Farq
Ini adalah tingkatan paling mendasar dari kondisi *Jam'u*
dan *Farq* mereka, karena baru berada pada tahap **menyaksikan perbuatan
(*syuhud al-af'al*)**:
* Barangsiapa yang diperlihatkan oleh Allah {SWT} perbuatan
dirinya sendiri—baik berupa ketaatan maupun pelanggarannya—maka ia adalah hamba
dengan sifat **Tafriqah/Farq**.
* Barangsiapa yang diperlihatkan oleh Allah {SWT}
perbuatan-perbuatan yang Allah impas/limpahkan kepadanya dari perbuatan Allah
sendiri, maka ia adalah hamba dengan persaksian **Jam'u**.
> Mengakui keberadaan makhluk adalah bagian dari
**Tafriqah**, sedangkan menetapkan keberadaan Allah adalah sifat dari
**Jam'u**.
# Keterkaitan antara Jam'u dan Farq
Seorang hamba harus memiliki kedua kondisi ini (*Jam'u* dan
*Farq*):
* Barangsiapa yang tidak memiliki *Tafriqah* (tidak sadar
akan tugas kemanusiaan/syariat), maka **tidak ada pengabdian (*'ubudiyyah*)
baginya**.
* Barangsiapa yang tidak memiliki *Jam'u* (tidak sadar akan
takdir dan karunia Allah), maka **tidak ada ma'rifat baginya**.
Hal ini tergambar dalam firman Allah {SWT}:
* Firman-Nya: {﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ﴾} *(Hanya kepada Engkaulah kami menyembah)*
— adalah isyarat menuju **Farq** (karena menetapkan adanya perbuatan hamba).
* Firman-Nya: {﴿ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾} *(Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon
pertolongan)* — adalah isyarat menuju **Jam'u** (karena menyerahkan segala
pertolongan hanya kepada Allah).
# Kondisi Hamba saat Bermunajat
1. **Kondisi Farq:**
Ketika seorang hamba bermunajat kepada Allah $\text{SWT}$
dengan lisannya—baik saat meminta, berdoa, memuji, bersyukur, meminta maaf,
atau berserah diri—maka ia sedang berdiri di maqam **Tafriqah**.
2. **Kondisi Jam'u:**
Ketika batinnya (*sirr*) mendengarkan panggilan Tuannya, dan
hatinya menyimak apa yang Allah sampaikan kepadanya—baik saat Allah
memanggilnya, membisikkan rahasia kepadanya, mengenalkan maknanya, atau memberi
isyarat dan memperlihatkan Hakikat ke dalam hatinya—maka ia berada dalam
persaksian **Jam'u**.
# Perdebatan Tata Bahasa (Nahwu) Abu Sahl As-Su'luki dan
An-Nasrabadzi
Saya mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq menceritakan:
Seorang penyanyi (*qawwal*) melantunkan bait syair di hadapan Al-Ustadz **Abu
Sahl As-Su'luki** *rahimahullah*:
جَعَلْتُ تَنَزُّهِي نَظَرِي إِلَيْكَا
*(Aku menjadikan tamasya/hiburanku adalah dengan memandang
kepada-Mu)*
Abu Al-Qasim An-Nasrabadzi hadir di majelis tersebut. Lalu
Al-Ustadz Abu Sahl membenarkan bacaan penyanyi itu dengan membaca:
*"Ja'alta" (جَعَلْتَ)** — dengan baris fathah pada huruf *Ta'*
(artinya: *"Engkau [Allah] yang menjadikan tamasyaku..."*).
Namun An-Nasrabadzi menyela: *"Bukan, tapi dibaca **"Ja'altu" (جَعَلْتُ)** dengan dhammah
pada huruf Ta'"* (artinya: *"Aku [hamba] yang menjadikan..."*).
Maka Al-Ustadz Abu Sahl merespons:
> *"Bukankah bentuk **Jam'u** (menisbatkan perbuatan
kepada Allah: Ja'alta) itu jauh lebih sempurna?!"*
Mendengar hal itu, An-Nasrabadzi pun diam (menerima). Saya
juga mendengar Syekh Abu Abdurrahman menceritakan kisah ini dengan jalan cerita
yang sama.
قالَ الأستاذُ أبو القاسِمِ : ومعنَى هذَا : أنَّ مَنْ قالَ : ( جَعَلْتُ ) بضمِّ التاءِ . . يكونُ إخْباراً عَنْ حالِ نفسِهِ ، فكأنَّ العبْدَ يقولُ هذَا ، وإذا قالَ : ( جَعَلْتَ ) بالفتحِ . . فكأنَّهُ يتبرَّأُ مِنْ أنْ يكونَ ذلِكَ بتكَلُّفِهِ ، بلْ يُخاطِبُ مولاهُ فيقولُ : أنْتَ الذي خصَّصْتَني بهذَا ، لا أنا بتكَلُّفي
فالأوَّلُ علَى خَطَرِ الدَّعْوَى ، والثاني بوصفِ التبَرِّي مِنَ الحوْلِ ، والإقْرارِ بالفَضْلِ والطَّوْلِ وفرْقٌ بينَ مَنْ يقولُ : بجهْدي أعْبُدُكَ ، وبينَ مَنْ يقولُ : بفَضْلِكَ ولُطْفِكَ أشْهَدُكَ
وجَمْعُ الجمْعِ فوقَ هذَا
ويخْتَلِفُ الناسُ في هذِهِ الجملَةِ علَى حسَبِ تباينِ أحْوالِهِمْ وتفاوُتِ درَجاتِهِمْ
فمَنْ أثْبَتَ نفسَهُ ، وأثْبَتَ الخلْقَ ، ولكِنْ شاهَدَ الكُلَّ قائماً بالحقِّ . . فهذَا هُوَ جمْعٌ
وإذا كانَ مخْتَطَفاً عَنْ شهُودِ الخلْقِ ، مصْطَلَماً عَنْ نفسِهِ ، مأخُوذًا بالكُليَّةِ عَنِ الإحْساسِ بكُلِّ غيرٍ بِمَا ظهَرَ واسْتَولَى مِنْ سُلْطانِ الحقيقَةِ . . فذاكَ جمْعُ الجمْعِ
فالتَّفْرِقَةُ : شهُودُ الأغْيارِ للَّهِ عزَّ وجلَّ ، والجمْعُ : شهُودُ الأغْيارِ باللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وجَمْعُ الجمْعِ : الاسْتِهْلاكُ بالكُليَّةِ ، وفَناءُ الإحْساسِ بِمَا سِوَى اللهِ عزَّ وجلَّ عندَ غَلَباتِ الحقيقَةِ
وبعدَ هذَا حالَةٌ عزيزَةٌ يسَمِّيها القومُ الفرْقَ الثانيَ ؛ وهُوَ أنْ يُرَدَّ إلَى الصَّحْوِ عندَ أوقاتِ أداءِ الفرائِضِ لِيَجْرِيَ عليهِ القِيامُ بالفَرائضِ في أوقاتِها ، فيكونُ رجُوعاً للَّهِ باللَّهِ ، لا للعبْدِ بالعبْدِ ، فالعبْدُ يُطالِعُ نفسَهُ في هذِهِ الحالَةِ في تصْريفِ الحقِّ سبحانَهُ ، يشهَدُ مبْدَأَ ذاتِهِ وعينِهِ بقُدْرَتِهِ ، يُجْري أحْوالَهُ وأفْعالَهُ عليهِ بعِلْمِهِ ومشيئَتِهِ
#
Penjelasan Imam Al-Qusyairi tentang Makna Taa' (Perbedaan Pandangan)
Al-Ustadz Abu Al-Qasim (Imam Al-Qusyairiy) berkata:
> *"Makna dari perdebatan ini adalah: barangsiapa
yang membaca **"Ja'altu"** (جَعَلْتُ) dengan baris dhammah pada huruf Ta',
berarti ia mengabarkan tentang kondisi dirinya sendiri; seolah-olah hamba itu
berkata 'Aku yang menjadikan...'.*
> *Sedangkan jika ia membaca **"Ja'alta"** (جَعَلْتَ) dengan baris fathah,
seolah-olah ia berlepas diri dari prasangka bahwa hal itu terjadi karena
usahanya sendiri. Ia bermunajat kepada Tuannya seraya berkata: 'Engkaulah yang
mengkhususkan hal ini untukku, bukan karena usahaku sendiri.'*
> *Maka cara baca yang pertama berisiko memunculkan
pengakuan diri (klaim/da'wa). Sedangkan cara baca kedua memiliki sifat berlepas
diri dari daya dan upaya (*al-haul*), serta mengakui karunia dan kemurahan
Allah. Sungguh sangat berbeda antara orang yang berkata: **'Dengan segenap
usahaku aku menyembah-Mu'**, dengan orang yang berkata: **'Dengan karunia dan
kelembutan-Mu aku menyaksikan-Mu.'*
# **JAM'U AL-JAM'I (PENYATUAN DI ATAS PENYATUAN)**
Tingkatan **Jam'u Al-Jam'i** berada di atas tingkatan
*Al-Jam'u*:
Manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam hal ini
sesuai dengan perbedaan kondisi spiritual (*ahwal*) dan tingkatan kedudukan
(*darajat*) mereka:
1. **Al-Jam'u (Penyatuan Biasa):**
Barangsiapa yang menetapkan keberadaan dirinya dan
menetapkan keberadaan makhluk, namun ia menyaksikan bahwa **segalanya berdiri
teguh dengan kuasa Allah**, maka ini dinamakan **Al-Jam'u**.
2. **Jam'u Al-Jam'i (Penyatuan Sempurna):**
Apabila ia ditarik (dicabut kesadarannya) dari menyaksikan
makhluk, dileburkan dari kesadaran atas dirinya sendiri, dan diambil secara
keseluruhan dari perasaan terhadap segala sesuatu selain Allah akibat dari
manifestasi dan dominasi keagungan Hakikat (*Sultan Al-Haqiqah*)... maka itulah
**Jam'u Al-Jam'i**.
# Ringkasan Perbedaan Ketiga Maqam
{Pengertian
dan Hakikatnya} {At-Tafriqah} Menyaksikan makhluk/selain Allah yang
ditujukan untuk Allah } {(keberadaan
makhluk masih mendominasi kesadaran).} {Al-Jam'u}
{Menyaksikan makhluk/selain Allah
melalui kuasa Allah } {(melihat Allah di balik setiap makhluk).} {Jam'u Al-Jam'i} {Peleburan total (istihlak)
dan sirnanya kesadaran akan segala sesuatu selain Allah } {saat Hakikat-Nya
mendominasi batin.}
# **AL-FARQ AL-THANI (PEMISAHAN KEDUA / KESADARAN SETELAH
FANA)**
Setelah tingkatan-tingkatan di atas, ada satu kondisi
spiritual yang sangat istimewa dan langka yang dinamakan oleh para sufi sebagai
**Al-Farq Al-Thani (Pemisahan Kedua)**.
**Hakikat Al-Farq Al-Thani adalah:**
Seorang hamba **dikembalikan pada kondisi sadar (*sahw*)**
di waktu-waktu pelaksanaan ibadah fardhu, agar ia dapat menjalankan
kewajiban-kewajiban syariat tepat pada waktunya.
Maka kembalinya ia ke dalam kesadaran ini adalah **kembali
kepada Allah dengan bimbingan Allah** (bukan kembali kepada kesadaran hamba
yang bersandar pada kekuatan dirinya sendiri).
Dalam kondisi ini, hamba melihat dirinya berada sepenuhnya
dalam ketetapan dan pengaturan Allah {SWT} ; ia menyaksikan asal-usul zat
dan keberadaannya berdiri dengan kekuasaan Allah, di mana Allah menjalankan
seluruh keadaan dan perbuatannya sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
وأشارَ بعضُهُمْ بلَفْظِ ( الجمعِ والتَّفْرِقَةِ ) إلى تصْريفِ الحقِّ سبحانَهُ جميعَ الخلْقِ ، فجمَعَ الكُلَّ في التَّقْلِيبِ والتَّصْريفِ مِنْ حيثُ إنَّهُ منْشِئُ ذَواتِهِمْ ومُجْري صِفاتِهِمْ ، ثُمَّ فرَّقَهُمْ في التَّنْويعِ ؛ ففريقاً أسْعَدَهُمْ ، وفريقاً أبْعَدَهُمْ ، وفريقاً هَداهُمْ ، وفريقاً أضَلَّهُمْ فأعْماهُمْ ، وفريقاً حجَبَهُمْ ، وفريقاً جَذَبَهُمْ ، وفريقاً آنَسَهُمْ بوُصْلَتِهِ ، وفريقاً آيَسَهُمْ مِنْ رحْمَتِهِ ، وفريقاً أكْرَمَهُمْ بتَوْفيقِهِ ، وفريقاً اصْطَلَمَهُمْ عندَ رؤْيَتِهِمْ لتَحْقيقِهِ ، وفريقاً أصْحاهُمْ ، وفريقاً مَحاهُمْ ، وفريقاً قرَّبَهُمْ ، وفريقاً غيَّبَهُمْ ، وفريقاً أدْناهُمْ وأحْضَرَهُمْ ، ثُمَّ سَقاهُمْ فأسْكَرَهُمْ ، وفريقاً أشْقاهُمْ وأخَّرَهُمْ ، ثُمَّ أقْصاهُمْ وهجَرَهُمْ
وأنْواعُ أفعالِهِ سبحانَهُ لا يُحيطُ بِها حصْرٌ ، ولا يأْتي علَى تفْصيلِها شرْحٌ وذِكْرٌ
وأَنْشَدُوا لِلْجُنَيْدِ في معنَى الجمعِ والتَّفْرِقَةِ
وَتَحَقَّقْتُكَ فِي سِـ ٭٭٭ ـرِّي فَنَاجَاكَ لِسَانِي
فَاجْتَمَعْنَا لِمَعًى ٭٭٭ وَافْتَرَقْنَا لِمَعَانِ
إِنْ يَكُنْ غَيَّبَكَ التَّـ ٭٭٭ ـعْظِيمُ عَنْ لَحْظِ عِيَانِي
فَلَقَدْ صَيَّرَكَ الْوَجْـ ٭٭٭ ـدُ مِنَ الْأَحْشَاءِ دَانِ
وأَنْشَدُوا
إِذَا مَا بَدَا لِي تَعَاظَمْتُهُ ٭٭٭ فَأَصْدُرُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَرُدْ
جُمِعْتُ وَفُرِّقْتُ عَنِّي بِهِ ٭٭٭ فَقِزْدُ التَّوَاصُلِ مَثْنَى الْعَدَدْ
**Makna Jam'u dan Tafriqah dalam Pengaturan Allah atas
Makhluk**
Sebagian ulama sufi mengisyaratkan istilah **Al-Jam'u** dan
**At-Tafriqah** pada pengaturan (*tasrif*) Allah Maha Suci Dia terhadap seluruh
makhluk:
**Al-Jam'u (Penyatuan dalam Pengaturan):**
Allah menghimpun (*jama'a*) seluruh makhluk dalam
membolak-balikkan dan mengatur kondisi mereka, karena Dialah pencipta zat-zat
mereka dan yang menjalankan sifat-sifat mereka.
**At-Tafriqah (Pemisahan/Pembedaan Nasib):**
Kemudian Allah membedakan (*farraqa*) kondisi mereka ke
dalam beragam kehendak-Nya:
* Sebagian kelompok Dia
bahagiakan , dan sebagian kelompok Dia
jauhkan .
* Sebagian kelompok Dia
beri petunjuk, dan sebagian kelompok Dia
sesatkan serta butakan hatinya .
* Sebagian kelompok Dia
batasi/pelihara dengan hijab , dan sebagian kelompok Dia tarik menuju keharibaan-Nya .
* Sebagian kelompok Dia
berikan rasa tenteram dengan keterhubungan (*wuslah*) kepada-Nya , dan sebagian
kelompok Dia buat putus asa dari
rahmat-Nya .
* Sebagian kelompok Dia
muliakan dengan taufik-Nya , dan sebagian kelompok Dia leburkan/fana-kan ketika mereka
menyaksikan hakikat-Nya .
* Sebagian kelompok Dia
sadarkan (*ashāhum*), dan sebagian kelompok Dia leburkan (*mahāhum*) .
* Sebagian kelompok Dia
dekatkan , dan sebagian kelompok Dia
gaibkan .
* Sebagian kelompok Dia
dekatkan dan hadirkan ke hadirat-Nya , lalu Dia beri minum hingga mereka mabuk akan
cinta-Nya .
* Dan sebagian kelompok Dia celakakan dan akibatkan keterbelakangan ,
lalu Dia jauhi dan tinggalkan .
> *Segala jenis perbuatan Allah $\text{SWT}$ tidak akan
sanggup dibatasi oleh hitungan, dan rincian penjelasannya tidak akan pernah
habis oleh penjelasan maupun sebutan kata.*
# **Lantunan Syair dari Al-Junaid al-Baghdadi tentang
Jam'u dan Tafriqah**
Mereka melantunkan syair karya Imam Al-Junaid mengenai makna
*Al-Jam'u* dan *At-Tafriqah* :
* *Aku telah meyakini-Mu di dalam lubuk rahasiaku
(sirr-ku)... Maka lisanku pun bermunajat kepada-Mu.*
* *Kita bersatu (*Jam'u*) dalam satu makna hakikat... Namun
kita terpisah (*Tafriqah*) dalam berbagai makna/tampilan lahiriah.*
* *Jika rasa keagungan-Mu membuat-Mu gaib dari pandangan
kasatmata mataku...*
* *Namun sungguh, gejolak rasa kerinduan (*Al-Wajd*) telah
menjadikan-Mu begitu dekat di dalam hatiku.*
# **Lantunan Syair Lainnya**
Dan mereka juga melantunkan syair :
* *Ketika Keagungan-Nya tampak bagiku, aku merasa sangat
kecil di hadapan-Nya... Maka aku kembali seperti kondisi orang yang belum
pernah sampai ke sana.*
* *Aku disatukan (*jumi'tu*) dan dipisahkan (*furriqtu*)
dari diriku melalui diri-Nya... Maka bertambahlah kerapatan hubungan
(*perjumpaan*) hingga menjadi dua kali lipat.*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.