بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
Riwayat-riwayat Karamah yang tidak disebutkan
sanad-sanadnya 3
وَحُكِيَ عَنْ أَبِي القَاسِمِ بْنِ مَزْدَانَ النَّهَاوَنْدِيِّ قَالَ : كُنْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ الوَرَّاقُ مَعَ أَبِي سَعِيدٍ الخَرَّازِ نَمْشِي عَلَى سَاحِلِ البَحْرِ نَحْوَ صَيْدَاءَ ، فَرَأَى شَخْصاً مِنْ بَعِيدٍ ، فَقَالَ : اجْلِسُوا لَا يَخْلُو هَذَا مِنْ أَنْ يَكُونَ وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى . قَالَ : فَمَا لَبِثْنَا أَنْ جَاءَ شَابٌّ حَسَنُ الوَجْهِ ، وَبِيَدِهِ رَكْوَةٌ وَمَعَهُ مَحْبَرَةٌ وَعَلَيْهِ مُرَقَّعَةٌ ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ أَبُو سَعِيدٍ مُنْكِراً عَلَيْهِ لِحَمْلِهِ المَحْبَرَةَ مَعَ الرَّكْوَةِ ، فَقَالَ لَهُ : يَا فَتَى ؛ كَيْفَ الطَّرِيقُ إِلَى اللهِ تَعَالَى ؟ فَقَالَ : يَا أَبَا سَعِيدٍ ؛ أَعْرِفُ إِلَى اللهِ طَرِيقَيْنِ ؛ طَرِيقاً خَاصًّا وَطَرِيقاً عَامًّا ، فَأَمَّا الطَّرِيقُ العَامُّ . . فَالَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ ، وَأَمَّا الطَّرِيقُ الخَاصُّ . . فَهَلُمَّ ، ثُمَّ مَشَى عَلَى المَاءِ حَتَّى غَابَ عَنْ أَعْيُنِنَا ، فَبَقِيَ أَبُو سَعِيدٍ حَيْرَانَ مِمَّا رَأَى . ا
ا
وَقَالَ الجُنَيْدُ : جِئْتُ مَسْجِدَ الشُّونِيزِيَّةِ ، فَرَأَيْتُ فِيهِ جَمَاعَةً مِنَ الفُقَرَاءِ يَتَكَلَّمُونَ فِي الآيَاتِ ، فَقَالَ فَقِيرٌ مِنْهُمْ : أَعْرِفُ رَجُلًا لَوْ قَالَ لِهَذِهِ الأُسْطُوَانَةِ : كُونِي ذَهَباً نِصْفُكِ وَفِضَّةً نِصْفُكِ . . كَانَتْ ، قَالَ الجُنَيْدُ : فَنَظَرْتُ ؛ فَإِذَا الأُسْطُوَانَةُ نِصْفُهَا ذَهَبٌ وَنِصْفُهَا فِضَّةٌ . ا
ا
وَقِيلَ : حَجَّ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ مَعَ شَيْبَانَ الرَّاعِي ، فَعَرَضَ لَهُمْ سَبُعٌ ، فَقَالَ سُفْيَانُ لِشَيْبَانَ : أَمَا تَرَى هَذَا السَّبُعَ ؟! فَقَالَ : لَا تَخَفْ ، فَأَخَذَ شَيْبَانُ أُذُنَهُ فَعَرَكَهَا ، فَبَصْبَصَ وَحَرَّكَ ذَنَبَهُ ، فَقَالَ سُفْيَانُ : مَا هَذِهِ الشُّهْرَةُ ؟ فَقَالَ : لَوْلَا مَخَافَةُ الشُّهْرَةِ . . لَمَا وَضَعْتُ زَادِي إِلَّا عَلَى ظَهْرِهِ حَتَّى آتِيَ مَكَّةَ . ا
ا
وَحُكِيَ أَنَّ السَّرِيَّ لَمَّا تَرَكَ التِّجَارَةَ . . كَانَتْ أُخْتُهُ تُنْفِقُ عَلَيْهِ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا ، فَأَبْطَأَتْ عَلَيْهِ يَوْماً ، فَقَالَ لَهَا السَّرِيُّ : لِمَ أَبْطَأْتِ ؟ فَقَالَتْ : لِأَنَّ غَزْلِي لَمْ يُشْتَرَ ، وَذَكَرُوا أَنَّهُ مُخَلَّطٌ ، فَامْتَنَعَ السَّرِيُّ عَنْ طَعَامِهَا . ثُمَّ إِنَّ أُخْتَهُ دَخَلَتْ عَلَيْهِ يَوْماً فَرَأَتْ عَجُوزاً تَكْنُسُ بَيْتَهُ وَتَحْمِلُ كُلَّ يَوْمٍ إِلَيْهِ رَغِيفَيْنِ ، فَحَزِنَتْ أُخْتُهُ ، وَشَكَتْ إِلَى أَحْمَدَ ابْنِ حَنْبَلٍ ، فَقَالَ أَحْمَدُ لِلسَّرِيِّ فِيهِ ، فَقَالَ : لَمَّا امْتَنَعْتُ مِنْ أَكْلِ طَعَامِهَا . . قَيَّضَ اللهُ لِيَ الدُّنْيَا لِتُنْفِقَ عَلَيَّ وَتَخْدُمَنِي . ا
ا
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الصُّوفِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَارُونَ قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ التَّمِيمِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ القَاسِمِ الخَوَّاصُ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّوسِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِيُّ قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ أَبِي مَحْفُوظٍ مَعْرُوفٍ الكَرْخِيِّ ، فَدَعَا لِي ، وَرَجَعْتُ إِلَيْهِ مِنَ الغَدِ وَفِي وَجْهِهِ أَثَرٌ ، فَقَالَ لَهُ إِنْسَانٌ : يَا أَبَا مَحْفُوظٍ ؛ كُنَّا عِنْدَكَ بِالأَمْسِ وَلَمْ يَكُنْ بِوَجْهِكَ هَذَا الأَثَرُ ، فَمَا هَذَا ؟ فَقَالَ : سَلْ عَمَّا يَعْنِيكَ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : بِمَعْبُودِكَ أَنْ تَقُولَ ، فَقَالَ : صَلَّيْتُ البَارِحَةَ هَا هُنَا ، وَاشْتَهَيْتُ أَنْ أَطُوفَ بِالبَيْتِ ، فَمَضَيْتُ إِلَى مَكَّةَ وَطُفْتُ ، ثُمَّ مِلْتُ إِلَى زَمْزَمَ لِأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا ، فَزَلِقْتُ عَلَى البَابِ ، فَأَصَابَ وَجْهِي مَا تَرَاهُ . ا
ا
وَقِيلَ : كَانَ عُتْبَةُ الغُلَامُ يَقْعُدُ فَيَقُولُ : يَا وَرَشَانُ ؛ إِنْ كُنْتَ أَطْوَعَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنِّي . . فَتَعَالَ وَاقْعُدْ عَلَى كَفِّي ، فَيَجِيءُ الوَرَشَانُ وَيَقْعُدُ عَلَى كَفِّهِ . ا
Diceritakan dari Abu al-Qasim bin
Mazdan an-Nahawandi, ia berkata: "Aku dan Abu Bakr al-Warraq pernah
berjalan bersama Abu Sa'id al-Kharraz di tepi pantai menuju Shaida. Lalu beliau
melihat seseorang dari kejauhan dan berkata: 'Duduklah kalian, orang ini pasti
merupakan salah satu wali Allah Ta'ala.' Ia berkata: Tidak lama kemudian
datanglah seorang pemuda berwajah tampan, di tangannya memegang tempat air (rakwah),
membawa tempat tinta (mahbarah), dan mengenakan pakaian tambal-tambalan
(muraqqa'ah). Abu Sa'id memandangnya dengan agak heran/mengingkari
karena ia membawa tempat tinta bersama tempat air. Abu Sa mebertanya kepadanya:
'Wahai pemuda, bagaimana jalan menuju Allah Ta'ala?' Pemuda itu menjawab:
'Wahai Abu Sa'id, aku mengetahui dua jalan menuju Allah; jalan khusus dan jalan
umum. Adapun jalan umum... adalah jalan yang sedang engkau tempuh. Sedangkan
jalan khusus... mari ikutlah.' Kemudian pemuda itu berjalan di atas air hingga
hilang dari pandangan kami. Abu Sa'id pun tercengang heran melihat apa yang
disaksikannya."
Al-Junaid berkata: "Aku datang
ke Masjid asy-Syuniziyyah, lalu aku melihat sekelompok fuqara (ahli tasawuf)
sedang membicarakan ayat-ayat Al-Qur'an. Salah seorang fakir di antara mereka
berkata: 'Aku mengenal seorang laki-laki yang jika berkata kepada tiang ini:
Jadilah setengahmu emas dan setengahmu perak... maka ia akan menjadi demikian.'
Al-Junaid berkata: 'Lalu aku melihat tiang itu, dan ternyata setengahnya telah
berubah menjadi emas dan setengahnya lagi menjadi perak.'"
Dikatakan: Sufyan ats-Tsauri pernah
berhaji bersama Syaiban ar-Ra'i, lalu seekor binatang buas (sabu')
menghampiri mereka. Sufyan berkata kepada Syaiban: "Apakah engkau tidak
melihat binatang buas ini?!" Syaiban menjawab: "Jangan takut."
Lalu Syaiban memegang telinga binatang buas itu dan memilinnya, maka binatang
itu mengibaskan badannya dan menggerak-gerakkan ekornya. Sufyan berkata:
"Apakah ini tidak memicu ketenaran (syuhrah)?" Syaiban
menjawab: "Jika bukan karena takut akan ketenaran... niscaya tidaklah aku
meletakkan bekal perjalananku melainkan di atas punggungnya sampai aku tiba di
Mekkah."
Diceritakan bahwa as-Sari
(al-Saqathi) ketika meninggalkan dunia perdagangan... saudarinya biasa
menafkahinya dari hasil pemintalan benangnya. Suatu hari saudarinya terlambat
membawakan nafkah, lalu as-Sari bertanya: "Mengapa engkau terlambat?"
Saudarinya menjawab: "Karena benang spun-ku belum terjual, mereka
mengatakan benang itu bercampur (kualitasnya)." Maka as-Sari menolak
memakan makanannya. Kemudian suatu hari saudarinya masuk menemui as-Sari dan
melihat seorang wanita tua sedang menyapu rumahnya dan membawakan dua potong
roti untuknya setiap hari. Saudarinya merasa sedih lalu mengadukan hal itu
kepada Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad kemudian menanyakan hal tersebut kepada
as-Sari, lalu as-Sari menjawab: "Ketika aku menolak memakan makanannya...
Allah menundukkan dunia untukku agar menafkahiku dan melayaniku."
Telah mengabarkan kepada kami
Muhammad bin 'Abdillah as-Sufi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Ali
bin Harun, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Abi Muhammad
at-Tamimi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin al-Qasim
al-Khawwash, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad
at-Thusi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur
at-Thusi, ia berkata: "Aku pernah berada di dekat Abu Mahfuzh Ma'ruf
al-Karkhi, lalu beliau mendoakanku. Keesokan harinya aku kembali kepadanya dan
di wajahnya terdapat luka/bekas luka. Seseorang bertanya kepadanya: 'Wahai Abu
Mahfuzh, kemarin kami bersamamu dan tidak ada luka ini di wajahmu, ada apa
ini?' Beliau menjawab: 'Tanyakanlah apa yang penting bagimu saja.' Orang itu
berkata: 'Demi Tuhan yang engkau sembah, beritahukanlah.' Beliau menjawab:
'Tadi malam aku shalat di sini, lalu aku berhasrat untuk thawaf di Baitullah.
Maka aku berangkat ke Mekkah dan melakukan thawaf, kemudian aku menyimpang ke
sumur Zamzam untuk meminum airnya, lalu aku terpeleset di pintu, maka wajahku
terkena benturan seperti yang engkau lihat ini.'"
Dikatakan: Utbah al-Ghulam pernah
duduk lalu berkata: "Wahai burung Warasyan (sejenis merpati); jika engkau
lebih taat kepada Allah 'Azza wa Jalla daripada aku... maka kemarilah dan
duduklah di telapak tanganku." Maka burung Warasyan itu datang dan duduk
di telapak tangannya.
وَحُكِيَ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ الرَّازِيِّ أَنَّهُ قَالَ : مَرَرْتُ يَوْماً عَلَى الفُرَاتِ ، فَعَرَضَتْ لِنَفْسِي شَهْوَةُ السَّمَكِ الطَّرِيِّ ، فَإِذَا المَاءُ قَدْ قَذَفَ بِسَمَكَةٍ نَحْوِي ، وَإِذَا رَجُلٌ يَعْدُو وَيَقُولُ : أَشْوِيهَا لَكَ ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ ، فَشَوَاهَا ، فَقَعَدْتُ وَأَكَلْتُهَا . ا
ا
وَقِيلَ : كَانَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ فِي رُفْقَةٍ ، فَعَرَضَ لَهُمُ السَّبُعُ ، فَقَالُوا : يَا أَبَا إِسْحَاقَ ؛ قَدْ عَرَضَ لَنَا السَّبُعُ ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ وَقَالَ : يَا أَسَدُ ؛ إِنْ كُنْتَ أُمِرْتَ فِينَا بِشَيْءٍ . . فَامْضِ ، وَإِلَّا . . فَارْجِعْ ، فَرَجَعَ الأَسَدُ وَمَضَوْا . ا
ا
وَقَالَ حَامِدٌ الأَسْوَدُ : كُنْتُ مَعَ الخَوَّاصِ فِي البَرِّيَّةِ ، فَبِتْنَا عِنْدَ شَجَرَةٍ ، وَجَاءَ السَّبُعُ ، فَصَعِدْتُ الشَّجَرَةَ إِلَى الصَّبَاحِ لَا يَأْخُذُنِي النَّوْمُ ، وَنَامَ إِبْرَاهِيمُ الخَوَّاصُ وَالسَّبُعُ يَشُمُّ مِنْ رَأْسِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ ، ثُمَّ مَضَى . فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الثَّانِيَةُ . . بِتْنَا فِي مَسْجِدٍ فِي قَرْيَةٍ ، فَوَقَعَتْ بَقَّةٌ عَلَى وَجْهِهِ ، فَضَرَبَهَا ، فَأَنَّ أَنَّةً ، فَقُلْتُ : هَذَا عَجَبٌ ! البَارِحَةَ لَمْ تَجْزَعْ مِنَ الأَسَدِ وَاللَّيْلَةَ تَصِيحُ مِنَ البَقِّ ؟! فَقَالَ : أَمَّا البَارِحَةُ . . فَتِلْكَ حَالَةٌ كُنْتُ فِيهَا بِاللهِ ، وَأَمَّا اللَّيْلَةُ . . فَهَذِهِ حَالَةٌ أَنَا فِيهَا بِنَفْسِي . ا
ا
وَحُكِيَ عَنْ عَطَاءِ الأَزْرَقِ أَنَّهُ دَفَعَتْ إِلَيْهِ امْرَأَتُهُ دِرْهَمَيْنِ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا لِيَشْتَرِيَ الدَّقِيقَ لَهُمْ ، فَخَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ ، فَلَقِيَ خَادِمَةً تَبْكِي ، فَقَالَ : مَا بَالُكِ ؟ فَقَالَتْ : دَفَعَ إِلَيَّ مَوْلَايَ دِرْهَمَيْنِ أَشْتَرِي لَهُمْ شَيْئاً ، فَسَقَطَا مِنِّي ، فَأَخَافُ أَنْ يَضْرِبَنِي ، فَدَفَعَ عَطَاءٌ الدِّرْهَمَيْنِ إِلَيْهَا وَمَرَّ ، وَقَعَدَ عَلَى حَانُوتِ صَدِيقٍ لَهُ مِمَّنْ يَشُقُّ السَّاجَ ، وَذَكَرَ لَهُ الحَالَ وَمَا يَخَافُ مِنْ سُوءِ خُلُقِ امْرَأَتِهِ ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ : خُذْ مِنْ هَذِهِ النُّشَارَةِ فِي هَذَا الجِرَابِ لَعَلَّكُمْ تَنْتَفِعُونَ بِهَا فِي سَجْرِ التَّنُّورِ ؛ إِذْ لَيْسَ يُسَاعِدُنِي الإِمْكَانُ فِي شَيْءٍ آخَرَ . فَحَمَلَ النُّشَارَةَ ، وَفَتَحَ بَابَ دَارِهِ ، وَرَمَى بِالجِرَابِ ، وَرَدَّ البَابَ ، وَدَخَلَ المَسْجِدَ إِلَى مَا بَعْدَ العَتَمَةِ ؛ لِيَكُونَ النَّوْمُ أَخَذَهُمْ وَلَا تَسْتَطِيلَ عَلَيْهِ المَرْأَةُ ، فَلَمَّا فَتَحَ البَابَ . . وَجَدَهُمْ يَخْبِزُونَ الخُبْزَ ، فَقَالَ : مِنْ أَيْنَ لَكُمْ هَذَا الخُبْزُ ؟ فَقَالُوا : مِنَ الدَّقِيقِ الَّذِي كَانَ فِي الجِرَابِ ، لَا تَشْتَرِ غَيْرَ هَذَا الدَّقِيقِ ، فَقَالَ : أَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى . ا
ا
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرِ بْنَ تُزْكَانَ يَقُولُ : كُنْتُ أُجَالِسُ الفُقَرَاءَ ، فَفُتِحَ عَلَيَّ بِدِينَارٍ ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْفَعَهُ إِلَيْهِمْ ، ثُمَّ قُلْتُ فِي نَفْسِي : لَعَلِّي أَحْتَاجُ إِلَيْهِ ، فَهَاجَ بِي وَجَعُ الضِّرْسِ ، فَقَلَعْتُ سِنًّا ، فَوَجِعَتِ الأُخْرَى حَتَّى قَلَعْتُهَا ، فَهَتَفَ بِي هَاتِفٌ : إِنْ لَمْ تَدْفَعْ إِلَيْهِمُ الدِّينَارَ . . فَلَا يَبْقَى فِي فَمِكَ سِنٌّ وَاحِدَةٌ . قَالَ الأُسْتَاذُ : وَهَذَا فِي بَابِ الكَرَامَةِ أَتَمُّ مِنْ أَنْ يُفْتَحَ عَلَيْهِ دَنَانِيرُ كَثِيرَةٌ بِنَقْضِ العَادَةِ . ا
Diceritakan dari Abu Ali ar-Razi
bahwa ia berkata: "Suatu hari aku melintas di tepi sungai Efrat, lalu
timbul keinginan dalam diriku untuk memakan ikan segar. Tiba-tiba air
melemparkan seekor ikan ke arahku, dan ada seorang pria yang berlari seraya
berkata: 'Apakah aku panggangkan untukmu?' Aku menjawab: 'Ya.' Lalu ia
memanggangnya, maka aku pun duduk dan memakannya."
Dikatakan: Ibrahim bin Adham pernah
berada dalam suatu rombongan, lalu seekor binatang buas menghampiri mereka.
Rombongan itu berkata: "Wahai Abu Ishaq, binatang buas telah menghadang
kita." Ibrahim mendatangi binatang itu dan berkata: "Wahai singa,
jika engkau diperintahkan untuk melakukan sesuatu pada kami... maka lakukanlah.
Jika tidak... maka kembalilah." Singa itu pun kembali/pergi dan mereka
melanjutkan perjalanan.
Hamid al-Aswad berkata: "Aku
pernah bersama Ibrahim al-Khawwash di padang sahara, lalu kami bermalam di
dekat sebuah pohon. Datanglah seekor binatang buas, maka aku memanjat pohon
sampai pagi tanpa bisa tidur. Sedangkan Ibrahim al-Khawwash tetap tidur
sementara binatang buas itu menciumnya dari kepala hingga kedua kakinya, lalu
binatang itu pergi. Ketika malam kedua... kami bermalam di sebuah masjid di
suatu desa, lalu seekor nyamuk hinggap di wajahnya, lalu beliau memukulnya dan
mengeluh kesakitan. Aku berkata: 'Ini sungguh aneh! Semalam engkau tidak gentar
terhadap singa, tetapi malam ini engkau merintih hanya karena nyamuk?!' Beliau
menjawab: 'Adapun semalam... itu adalah keadaan di mana aku sedang bersama
Allah. Sedangkan malam ini... adalah keadaan di mana aku sedang bersama diriku
sendiri.'"
Diceritakan dari 'Atha' al-Azraq
bahwa istrinya memberinya dua dirham dari hasil penjualan pintalan benangnya
untuk dibelikan tepung. Ia pun keluar dari rumahnya, lalu bertemu dengan
seorang hamba sahaya perempuan yang sedang menangis. 'Atha bertanya: "Ada
apa denganmu?" Ia menjawab: "Majukanku memberiku dua dirham untuk
membeli sesuatu, tetapi uang itu jatuh dari peganganku, dan aku takut dia akan
memukulku." 'Atha menyerahkan dua dirham tersebut kepadanya lalu berlalu.
Beliau kemudian duduk di toko seorang temannya yang bekerja memotong kayu jati.
Beliau menceritakan kejadian tersebut dan rasa takutnya akan kemarahan
istrinya. Temannya berkata: "Ambillah serbuk gergaji ini di dalam karung,
mudah-mudahan bisa kalian manfaatkan untuk menyalakan tungku, karena aku tidak
mampu membantu dengan hal lain." Beliau membawa serbuk gergaji itu,
membuka pintu rumahnya, melempar karung tersebut, menutup pintu, lalu pergi ke
masjid hingga lewat tengah malam; agar orang rumah sudah tidur dan istrinya
tidak memarahinya. Ketika ia membuka pintu rumahnya... ia mendapati mereka
sedang membakar roti. Beliau bertanya: "Dari mana kalian mendapatkan roti
ini?" Mereka menjawab: "Dari tepung yang ada di dalam karung tadi.
Jangan beli tepung selain tepung ini lagi!" Beliau berkata: "Akan
kulakukan, insya Allah Ta'ala."
Aku mendengar Syaikh Abu
'Abdirrahman as-Sulami berkata: Aku mendengar Manshur bin 'Abdillah berkata:
Aku mendengar Abu Ja'far bin Tuzkan berkata: "Aku pernah duduk bersama
para fuqara (ahli tasawuf), lalu aku diberi rezeki berupa uang satu dinar. Aku
berniat memberikan dinar itu kepada mereka, tetapi kemudian aku berkata pada
diriku sendiri: 'Mungkin saja nanti aku membutuhkannya.' Tiba-tiba gigi
gerahamku sakit hebat, sehingga aku mencabut satu gigi. Lalu gigi yang lain
ikut sakit hingga aku mencabutnya juga. Tiba-tiba ada suara tanpa rupa (hatif)
berseru kepadaku: 'Jika engkau tidak memberikan dinar itu kepada mereka...
tidak akan tersisa satu gigi pun di mulutmu!'"
Sang Guru (Pengarang) berkata:
"Hal seperti ini dalam bab karamah jauh lebih sempurna daripada sekadar
diberi banyak dinar secara ajaib (menyalahi adat kebiasaan)."
وَحَكَى أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ قَالَ : خَرَجَ عَامِرُ بْنُ عَبْدِ قَيْسٍ إِلَى الشَّامِ وَمَعَهُ شَكْوَةٌ ، إِذَا شَاءَ . . صَبَّ مِنْهَا مَاءً يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ، وَإِذَا شَاءَ . . صَبَّ مِنْهَا لَبَناً يَشْرَبُهُ . ا
ا
وَرَوَى عُثْمَانُ بْنُ أَبِي العَاتِكَةِ قَالَ : كُنَّا فِي غَزَاةٍ فِي أَرْضِ الرُّومِ ، فَبَعَثَ الوَالِي سَرِيَّةً إِلَى مَوْضِعٍ ، وَجَعَلَ المِيعَادَ يَوْمَ كَذَا . قَالَ : فَجَاءَ المِيعَادُ وَلَمْ تَقْدَمِ السَّرِيَّةُ ، فَبَيْنَا أَبُو مُسْلِمٍ يُصَلِّي إِلَى رُمْحِهِ الَّذِي رَكَزَهُ فِي الأَرْضِ . . جَاءَ طَيْرٌ إِلَى رَأْسِ السِّنَانِ وَقَالَ : إِنَّ السَّرِيَّةَ قَدْ سَلِمَتْ وَغَنِمَتْ ، وَسَيَرِدُونَ عَلَيْكُمْ يَوْمَ كَذَا فِي وَقْتِ كَذَا . فَقَالَ أَبُو مُسْلِمٍ لِلطَّيْرِ : مَنْ أَنْتَ رَحِمَكَ اللهُ ؟! فَقَالَ : مُذْهِبُ الحَزَنِ عَنْ قُلُوبِ المُؤْمِنِينَ . فَجَاءَ أَبُو مُسْلِمٍ إِلَى الوَالِي وَأَخْبَرَهُ ، فَلَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي قَالَ . . أَتَتِ السَّرِيَّةُ عَلَى الوَجْهِ الَّذِي قَالَ . ا
ا
وَعَنْ بَعْضِهِمْ قَالَ : كُنَّا فِي مَرْكَبٍ ، فَمَاتَ رَجُلٌ كَانَ مَعَنَا عَلِيلٌ ، فَأَخَذْنَا فِي جَهَازِهِ ، وَأَرَدْنَا أَنْ نُلْقِيَهُ فِي البَحْرِ ، فَصَارَ البَحْرُ جَافًّا ، وَنَزَلَتِ السَّفِينَةُ ، فَخَرَجْنَا ، فَحَفَرْنَا لَهُ قَبْراً وَدَفَنَّاهُ ، فَلَمَّا فَرَغْنَا . . اسْتَوَى المَاءُ ، وَارْتَفَعَ المَرْكَبُ ، وَسِرْنَا . ا
ا
وَقِيلَ : إِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ بِالبَصْرَةِ ، فَاشْتَرَى حَبِيبٌ العَجَمِيُّ طَعَاماً بِالنَّسِيئَةِ وَفَرَّقَهُ عَلَى المَسَاكِينِ ، وَخَاطَ كِيساً وَجَعَلَهُ تَحْتَ رَأْسِهِ ، فَلَمَّا جَاءُوا يَتَقَاضَوْنَهُ . . أَخَذَهُ ، وَإِذَا هُوَ مَمْلُوءٌ دَرَاهِمَ ، فَقَضَى مِنْهَا دُيُونَهُمْ . ا
ا
وَقِيلَ : أَرَادَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ أَنْ يَرْكَبَ السَّفِينَةَ ، فَأَبَوْا إِلَّا أَنْ يُعْطِيَهُمْ دِينَاراً ، فَصَلَّى عَلَى الشَّطِّ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ : اللَّهُمَّ ؛ قَدْ سَأَلُونِي مَا لَيْسَ عِنْدِي ، فَصَارَ الرَّمْلُ دَنَانِيرَ . ا
ا
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الصُّوفِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ الفَضْلِ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ المَزْوَرُوذِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ : قَالَ أَبُو حَمْزَةَ نُصَيْرُ بْنُ الفَرَجِ خَادِمُ أَبِي مُعَاوِيَةَ الأَسْوَدِ قَالَ : كَانَ أَبُو مُعَاوِيَةَ ذَهَبَ بَصَرُهُ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ . . نَشَرَ المُصْحَفَ ، فَيَرُدُّ اللهُ عَلَيْهِ بَصَرَهُ ، فَإِذَا أَطْبَقَ المُصْحَفَ . . ذَهَبَ بَصَرُهُ . ا
ا
وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ الهَيْثَمِ المُتَطَبِّبُ : قَالَ لِي بِشْرٌ الحَافِي : قُلْ لِمَعْرُوفٍ الكَرْخِيِّ : إِذَا صَلَّيْتَ ا. . جِئْتُكَ . قَالَ : فَأَدَّيْتُ الرِّسَالَةَ وَانْتَظَرْتُهُ ، فَصَلَّيْنَا الظُّهْرَ وَلَمْ يَجِئْ ، ثُمَّ صَلَّيْنَا العَصْرَ ، ثُمَّ المَغْرِبَ ، ثُمَّ العِشَاءَ ، فَقُلْتُ فِي نَفْسِي : سُبْحَانَ اللهِ ! مِثْلُ بِشْرٍ يَقُولُ شَيْئاً ثُمَّ لَا يَفْعَلُ ؟! لَا يَجُوزُ أَلَّا يَفْعَلَ . فَانْتَظَرْتُهُ وَأَنَا فَوْقَ مَسْجِدٍ عَلَى مَشْرَعَةٍ ، فَجَاءَ بِشْرٌ بَعْدَ هُوَيٍّ مِنَ اللَّيْلِ وَعَلَى رَأْسِهِ سَجَّادَةٌ ، فَتَقَدَّمَ إِلَى دِجْلَةَ وَمَشَى عَلَى المَاءِ ، وَعَبَرَ ، وَتَحَدَّثَا ، ثُمَّ جَاءَ وَقْتُ السَّحَرِ وَعَبَرَ عَلَى وَجْهِ المَاءِ ، فَرَمَيْتُ بِنَفْسِي مِنَ السَّطْحِ ، وَقَبَّلْتُ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ ، وَقُلْتُ : ادْعُ اللهَ لِي ، فَدَعَا لِي ، وَقَالَ : اسْتُرْهُ عَلَيَّ ، قَالَ : فَلَمْ أَتَكَلَّمْ بِهَذَا حَتَّى مَاتَ . ا
Abu Sulaiman ad-Darani menceritakan,
ia berkata: "'Amir bin 'Abd Qais keluar menuju Syam dengan membawa sebuah
tempat air dari kulit (syakwah). Jika ia menghendaki... ia menuangkan
air darinya untuk berwudhu shalat, dan jika ia menghendaki... ia menuangkan
susu darinya untuk ia minum."
'Utsman bin Abi al-'Atikah
meriwayatkan, ia berkata: "Kami pernah dalam suatu peperangan di tanah
Rum, lalu wali/gubernur mengirim pasukan khusus (sariyyah) ke suatu
tempat dan menetapkan janji kembali pada hari tertentu. Ia berkata: Ketika hari
yang dijanjikan tiba, pasukan tersebut belum juga datang. Saat Abu Muslim
sedang shalat menghadap tombaknya yang ditancapkan di tanah... tiba-tiba seekor
burung hinggap di ujung mata tombak dan berkata: 'Sesungguhnya pasukan tersebut
telah selamat dan mendapatkan rampasan perang (ghanimah), dan mereka
akan tiba kepada kalian pada hari ini di waktu ini.' Abu Muslim bertanya kepada
burung itu: 'Siapakah engkau, semoga Allah merahmatimu?' Burung itu menjawab:
'Aku adalah penghilang kesedihan dari hati orang-orang beriman.' Maka Abu
Muslim mendatangi gubernur dan memberitahukannya. Ketika tiba hari yang
disebutkan... pasukan tersebut datang persis seperti yang dikatakan burung
itu."
Diriwayatkan dari sebagian mereka,
ia berkata: "Kami berada di atas kapal, lalu seorang laki-laki yang sakit
bersama kami meninggal dunia. Kami pun menyiapkan jenazahnya dan hendak
melemparnya ke laut. Tiba-tiba laut menjadi kering dan kapal berhenti hinggap
di dasar. Kami keluar, menggali kubur untuknya, dan menguburkannya. Setelah
kami selesai... air kembali tergenang, kapal terangkat, dan kami pun
melanjutkan perjalanan."
Dikatakan: Sesungguhnya penduduk
Bashrah pernah ditimpa kelaparan. Habib al-'Ajami kemudian membeli makanan
secara kredit lalu membagikannya kepada orang-orang miskin. Ia menjahit sebuah
kantong dan meletaknya di bawah kepalanya. Ketika orang-orang datang menagih
hutangnya... ia mengambil kantong tersebut, dan ternyata kantong itu telah
penuh berisi dirham, lalu ia melunasi hutang-hutang mereka dengannya.
Dikatakan: Ibrahim bin Adham hendak
naik kapal, tetapi para pemilik kapal enggan membawanya kecuali jika ia
memberikan satu dinar. Maka beliau shalat dua rakaat di tepi pantai dan berdoa:
"Ya Allah, mereka meminta sesuatu yang tidak aku miliki." Tiba-tiba
pasir di tempat itu berubah menjadi dinar.
Muhammad bin 'Abdillah as-Sufi
menceritakan kepada kami, ia berkata: 'Abdul 'Aziz bin al-Fadhl menceritakan
kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad al-Mazwarudzi menceritakan kepada
kami, ia berkata: 'Abdullah bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata:
Abu Hamzah Nusair bin al-Faraj (pelayan Abu Mu'awiyah al-Aswad) berkata:
"Abu Mu'awiyah telah kehilangan penglihatannya (buta). Namun jika ia
hendak membaca... ia membuka mushaf, lalu Allah mengembalikan penglihatannya.
Apabila ia menutup mushaf... penglihatannya hilang kembali."
Ahmad bin al-Haitsam al-Mutathabbib
berkata: Bisyir al-Hafi berkata kepadaku: "Katakan kepada Ma'ruf
al-Karkhi: Jika engkau telah shalat... aku akan mendatangimu." Ahmad
berkata: Maka aku menyampaikan pesan tersebut dan menunggunya. Kami shalat
Zhuhur tetapi Bisyir belum datang, kemudian kami shalat Ashar, Maghrib, lalu
Isya'. Aku berkata dalam hati: "Subhanallah! Orang seperti Bisyir
mengatakan sesuatu lalu tidak melakukannya?! Tidak mungkin ia tidak
menepatinya." Maka aku menunggunya di atas masjid dekat tempat
penyeberangan air. Bisyir pun datang setelah berlalu sebagian malam dengan
sajadah di atas kepalanya. Ia maju ke Sungai Tigris (Dijlah), berjalan
di atas air lalu menyeberang, dan mereka berdua (Bisyir dan Ma'ruf)
berbincang-bincang. Kemudian ketika tiba waktu sahur, Bisyir menyeberang
kembali di atas permukaan air. Maka aku menjatuhkan diriku dari atap, lalu
mencium kedua tangan dan kakinya seraya berkata: "Doakanlah Allah
untukku." Ia pun mendoakanku dan berkata: "Rahasiakanlah hal ini
dariku." Ahmad berkata: "Maka aku tidak pernah menceritakan kejadian ini
hingga ia meninggal dunia."
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الشِّيرَازِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الفَرَجِ الوَرْثَانِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ يَعْقُوبَ بِدِمَشْقَ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ قَالَ : سَمِعْتُ قَاسِماً الجُوعِيَّ قَالَ : رَأَيْتُ رَجُلًا فِي الطَّوَافِ لَا يَزِيدُ عَلَى قَوْلِهِ : إِلَهِي ؛ قَضَيْتَ حَوَائِجَ الكُلِّ وَلَمْ تَقْضِ حَاجَتِي . فَقُلْتُ : مَا لَكَ لَا تَزِيدُ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ ؟! فَقَالَ : أُحَدِّثُكَ ، اعْلَمْ أَنَّا كُنَّا سَبْعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ بُلْدَانٍ شَتَّى ، فَخَرَجْنَا إِلَى الغَزَاةِ ، فَأَسَرَنَا الرُّومُ وَمَضَوْا بِنَا لِنُقْتَلَ ، فَرَأَيْتُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ فُتِحَتْ مِنَ السَّمَاءِ ، وَعَلَى كُلِّ بَابٍ جَارِيَةٌ حَسْنَاءُ مِنَ الحُورِ العِينِ ، فَتَقَدَّمَ وَاحِدٌ مِنَّا فَضُرِبَتْ عُنُقُهُ ، فَرَأَيْتُ جَارِيَةً مِنْهُنَّ هَبَطَتْ إِلَى الأَرْضِ بِيَدِهَا مِنْدِيلٌ فَقَبَضَتْ رُوحَهُ ، حَتَّى ضُرِبَ أَعْنَاقُ سِتَّةٍ مِنَّا ، فَاسْتَوْهَبَنِي بَعْضُ رِجَالِهِمْ ، فَقَالَتِ الجَارِيَةُ : أَيُّ شَيْءٍ فَاتَكَ يَا مَحْرُومُ ؟! وَأُغْلِقَتِ الأَبْوَابُ ، فَأَنَا - يَا أَخِي - مُتَأَسِّفٌ مُتَحَيِّرٌ عَلَى مَا فَاتَنِي . قَالَ قَاسِمٌ الجُوعِيُّ : أَرَاهُ أَفْضَلَهُمْ ؛ لِأَنَّهُ رَأَى مَا لَمْ يَرَوْا ، وَعَمِلَ عَلَى الشَّوْقِ بَعْدَهُمْ . ا
ا
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا النَّجْمِ أَحْمَدَ بْنَ الحُسَيْنِ بِخُوزِسْتَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الكَتَّانِيَّ يَقُولُ : كُنْتُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فِي وَسَطِ السَّنَةِ ، فَإِذَا أَنَا بِهِمْيَانٍ مَلآنَ يَلْتَمِعُ دَنَانِيرَ ، فَهَمَمْتُ أَنْ أَحْمِلَهُ لِأُفَرِّقَهُ بِمَكَّةَ عَلَى الفُقَرَاءِ ، فَهَتَفَ بِي هَاتِفٌ : إِنْ أَخَذْتَهُ . . سَلَبْنَاكَ فَقْرَكَ . ا
ا
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الصُّوفِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الخَيَّاطُ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا العَبَّاسِ الشَّزَقِيَّ يَقُولُ : كُنَّا مَعَ أَبِي تُرَابٍ النَّخْشَبِيِّ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ ، فَعَدَلَ عَنِ الطَّرِيقِ إِلَى نَاحِيَةٍ ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ : أَنَا عَطْشَانُ ، فَضَرَبَ بِرِجْلِهِ ، فَإِذَا عَيْنٌ مِنْ مَاءٍ زُلاَلٍ ، فَقَالَ الفَتَى : أُحِبُّ أَنْ أَشْرَبَهُ فِي قَدَحٍ ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ إِلَى الأَرْضِ فَنَاوَلَهُ قَدَحاً مِنْ زُجَاجٍ أَبْيَضَ كَأَحْسَنِ مَا رَأَيْتُ ، فَشَرِبَ وَسَقَانَا ، وَمَا زَالَ القَدَحُ مَعَنَا إِلَى مَكَّةَ . ا
ا
فَقَالَ لِي أَبُو تُرَابٍ يَوْماً : مَا يَقُولُ أَصْحَابُكَ فِي هَذِهِ الأُمُورِ الَّتِي يُكْرِمُ اللهُ بِهَا عِبَادَهُ ؟ فَقُلْتُ : مَا رَأَيْتُ أَحَداً إِلَّا وَهُوَ مُؤْمِنٌ بِهَا . فَقَالَ : مَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهَا . . فَقَدْ كَفَرَ (١) ، إِنَّمَا سَأَلْتُكَ عَنْ طَرِيقِ الأَحْوَالِ ، فَقُلْتُ : مَا أَعْرِفُ لَهُمْ قَوْلاً فِيهِ . فَقَالَ : بَلَى ؛ قَدْ زَعَمَ أَصْحَابُكَ أَنَّهَا خُدَعٌ مِنَ الحَقِّ ، وَلَيْسَ الأَمْرُ كَذَلِكَ ، إِنَّمَا الخُدَعُ فِي حَالِ السُّكُونِ إِلَيْهَا ، فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَقْتَرِحْ ذَلِكَ وَلَمْ يَسْكُنْهَا . . فَتِلْكَ مَرْتَبَةُ الرَّبَّانِيِّينَ . ا
Abu 'Abdillah asy-Syirazi
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu al-Faraj al-Wartani menceritakan
kepada kami, ia berkata: Aku mendengar 'Ali bin Ya'qub di Damsyik berkata: Aku
mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ahmad berkata: Aku mendengar Qasim al-Ju'i
berkata: "Aku melihat seorang laki-laki ketika thawaf tidak menambah
ucapannya selain: 'Wahai Tuhanku, Engkau telah menuntaskan hajat/kebutuhan semua
orang, namun Engkau belum menuntaskan hajatku.' Aku pun bertanya: 'Mengapa
engkau tidak menambah doa selain ucapan ini?!' Maka ia menjawab: 'Aku akan
menceritakannya kepadamu. Ketahuilah bahwa dahulu kami bertujuh dari berbagai
negeri keluar untuk berperang. Lalu bangsa Rum (Romawi) menawan kami dan
membawa kami untuk dibunuh. Aku melihat tujuh pintu terbuka dari langit, dan di
setiap pintu terdapat seorang bidadari (hur 'in) yang jelita. Ketika
seorang dari kami maju lalu dipenggal lehernya, aku melihat salah satu bidadari
turun ke bumi membawa sapu tangan untuk menggenggam/menyambut ruhnya. Hal itu
terjadi hingga enam orang dari kami dipenggal lehernya. Kemudian salah seorang
dari mereka memohon agar aku dihibahkan (diampuni/dibebaskan) kepadanya, maka
bidadari itu berkata: Betapa malangnya apa yang luput darimu wahai orang
yang terhalang?! Lalu pintu-pintu itu pun ditutup. Maka aku—wahai
saudaraku—sangat menyesal dan bingung atas apa yang telah luput dariku.' Qasim
al-Ju'i berkata: 'Aku memandang laki-laki itu adalah yang paling utama di
antara mereka; karena ia telah melihat apa yang tidak mereka lihat, dan ia
beramal atas dasar kerinduan setelah kepergian mereka.'"
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abu an-Najm Ahmad bin al-Husain di Khuzestan berkata: Aku mendengar
Abu Bakr al-Kattani berkata: "Aku pernah berada di jalan menuju Mekkah di
pertengahan tahun, tiba-tiba aku menemukan sebuah pundi-pundi (himyan)
yang penuh berkilauan berisi dinar. Aku bermaksud mengambilnya untuk kubagikan
kepada orang-orang fakir di Mekkah, lalu ada suara tanpa rupa (hatif)
berseru kepadaku: 'Jika engkau mengambilnya... kami akan mencabut kefakiran
(kemiskinan spiritual)-mu.'"
Muhammad bin 'Abdillah as-Sufi
menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Yusuf al-Khayyath menceritakan
kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu 'Ali ar-Rudzbari berkata: Aku
mendengar Abu al-'Abbas asy-Szaqi berkata: "Kami pernah bersama Abu Turab
an-Nakhsyabi di jalan menuju Mekkah. Beliau membelok dari jalan ke satu arah,
lalu sebagian sahabatnya berkata kepadanya: 'Aku haus.' Maka Abu Turab
menghentakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba memancarlah mata air yang sangat
jernih. Pemuda itu berkata: 'Aku ingin meminumnya dari sebuah gelas.' Maka Abu
Turab menghentakkan tangannya ke tanah lalu menyerahkan kepadanya sebuah gelas
dari kaca putih yang sangat indah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pemuda
itu pun minum dan memberi kami minum, dan gelas itu terus berada bersama kami
hingga kami tiba di Mekkah.
Suatu hari Abu Turab bertanya
kepadaku: 'Apa yang dikatakan oleh teman-temanmu mengenai perkara-perkara ini
yang dengannya Allah memuliakan para hamba-Nya (karamah)?' Aku menjawab: 'Aku
tidak melihat seorang pun melainkan ia beriman/percaya padanya.' Abu Turab
berkata: 'Barang siapa tidak beriman padanya... maka sungguh ia telah kufur.
Sebenarnya aku menanyakan kepadamu tentang jalan kedudukan/kondisi kerohanian (ahwal).'
Aku menjawab: 'Aku tidak tahu pendapat mereka tentang hal itu.' Abu Turab
berkata: 'Tentu, teman-temanmu mengira bahwa hal itu (karamah) adalah tipu daya
(khuda') dari Allah, padahal sejatinya tidak demikian. Tipu daya itu
hanya terjadi jika seseorang bersandar/merasa tenang dengannya. Adapun orang
yang tidak meminta hal itu dan tidak pulas bersandar padanya... maka itu adalah
derajat orang-orang Rabbani.'"
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KISAH-KISAH TENTANG KAROMAH 1
KISAH-KISAH TENTANG KAROMAH 2
KISAH-KISAH TENTANG KAROMAH 4
KISAH-KISAH TENTANG KAROMAH 5
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.