بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB KELIMA
Amal Perbuatan dan Keadaan Spiritual
(Al-A'māl wa al-Aḥwāl )
الأعمال والأحوال
وَمِمَّا يَتَأَكَّدُ النَّظَرُ إِلَيْهِ فِي الْمَصْحُوبِ : الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا ، وَرَفْعُ الْهِمَّةِ عَنْهَا وَلَوْ قَلَّ عَمَلُهُ فِي الظَّاهِرِ ، وَإِلَى ذَلِكَ أَشَارَ بِقَوْلِهِ : [ مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ ، وَلَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ ] . قُلْتُ : الزُّهْدُ فِي الشَّيْءِ : هُوَ خُرُوجُ مَحَبَّتِهِ مِنَ الْقَلْبِ وَبُرُودَتُهُ مِنْهُ . وَعِنْدَ الْقَوْمِ : بَغْضُ كُلِّ مَا يَشْغَلُ عَنِ اللهِ ، وَيَحْبِسُ عَنْ حَضْرَةِ اللهِ ، وَيَكُونُ أَوَّلًا فِي الْمَالِ . وَعَلَامَتُهُ : أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَهُ الذَّهَبُ وَالتُّرَابُ ، وَالْفِضَّةُ وَالْحَجَرُ ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ ، وَالْمَنَعُ وَالْعَطَاءُ . وَيَكُونُ ثَانِيًا فِي الْجَاهِ وَالْمَرَاتِبِ . وَعَلَامَتُهُ : أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَهُ الْعِزُّ وَالذُّلُّ ، وَالظُّهُورُ وَالْخُمُولُ ، وَالْمَدْحُ وَالذَّمُّ ، وَالرِّفْعَةُ وَالسُّقُوطُ . وَيَكُونُ ثَالِثًا فِي الْمَقَامَاتِ وَالْكَرَامَاتِ وَالْخُصُوصِيَّاتِ ، وَعَلَامَتُهُ : أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَهُ الرَّجَاءُ وَالْخَوْفُ ، وَالْقُوَّةُ وَالضَّعْفُ ، وَالْبَسْطُ وَالْقَبْضُ ، يَسِيرُ بِهَذَا كَمَا يَسِيرُ بِهَذَا ، أَوْ يَعْرِفُ فِي هَذَا كَمَا يَعْرِفُ فِي هَذَا ، ثُمَّ يَكُونُ الزُّهْدُ فِي الْكَوْنِ بِأَسْرِهِ بِشُهُودِ الْمُكَوِّنِ وَأَمْرِهِ . ا
فَإِذَا تَحَقَّقَ الْمُرِيدُ بِهَذِهِ الْمَقَامَاتِ فِي الزُّهْدِ أَوْ جَلِّهَا كَانَ عَمَلُهُ كُلُّهُ عَظِيمًا كَبِيرًا فِي الْمَعْنَى عِنْدَ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ قَلِيلًا فِي الْحِسِّ عِنْدَ النَّاسِ ، وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « عَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ فِي بِدْعَةٍ » . وَأَيُّ بِدْعَةٍ أَعْظَمُ وَأَشْنَعُ مِنْ حُبِّ الدُّنْيَا وَالِانْكِبَابِ عَلَيْهَا بِالْقَلْبِ وَالْقَالَبِ ، الَّذِي لَمْ يَكُنْ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ ، حَتَّى ظَهَرَتِ الْفَرَاعِنَةُ فَبَنَوْا وَشَيَّدُوا وَزَخْرَفُوا ، فَهَذِهِ هِيَ الْبِدْعَةُ الْحَقِيقِيَّةُ ، فَعَمَلُ هَؤُلَاءِ قَلِيلٌ فِي الْمَعْنَى ، وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا فِي الْحِسِّ ، إِذْ لَا عِبْرَةَ بِحَرَكَةِ الْأَشْبَاحِ ، وَإِنَّمَا الْعِبْرَةُ بِخُضُوعِ الْأَرْوَاحِ . عِبَادَةُ الزَّاهِدِ بِاللهِ لِلَّهِ ، وَعِبَادَةُ الرَّاغِبِ بِالنَّفْسِ لِلنَّفْسِ ، عِبَادَةُ الزَّاهِدِ حَيَّةٌ بَاقِيَةٌ ، وَعِبَادَةُ الرَّاغِبِ مَيِّتَةٌ فَانِيَةٌ ، عِبَادَةُ الزَّاهِدِ مُتَّصِلَةٌ عَلَى الدَّوَامِ ، وَعِبَادَةُ الرَّاغِبِ مُنْقَطِعَةٌ بِلَا تَمَامٍ . عِبَادَةُ الزَّاهِدِ فِي مَسَاجِدِ الْحَضْرَةِ الَّتِي أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ ، وَعِبَادَةُ الرَّاغِبِ فِي مَزَابِلِ الْقَذَرَاتِ الَّتِي أَذِنَ اللهُ أَنْ تُوضَعَ ، وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ : عِبَادَةُ الْغَنِيِّ كَالْمُصَلِّي عَلَى الْمَزْبَلَةِ ، وَمَامَثَلُ عِبَادَةِ الزَّاهِدِ مَعَ قِلَّتِهَا فِي الْحِسِّ وَكَثْرَتِهَا فِي الْمَعْنَى ، وَعِبَادَةِ الرَّاغِبِ مَعَ كَثْرَتِهَا فِي الْحِسِّ وَقِلَّتِهَا فِي الْمَعْنَى إِلَّا كَرَجُلَيْنِ أَهْدَيَا لِلْمَلِكِ : أَحَدُهُمَا أَهْدَى يَاقُوتَةً صَافِيَةً صَغِيرَةً قِيمَتُهَا قِنْطَارًا ، وَالْآخَرُ أَهْدَى سِتِّينَ صُنْدُوقًا خَاوِيَةً فَارِغَةً ، فَلَا شَكَّ أَنَّ الْمَلِكَ يَقْبَلُ الْيَاقُوتَةَ وَيُكْرِمُ صَاحِبَهَا ، وَيَرُدُّ الصَّنَادِيقَ وَيُهِينُ صَاحِبَهَا ، وَيَغْضَبُ عَلَيْهِ لِكَوْنِهِ اسْتَهْزَأَ بِالْمَلِكِ حَيْثُ أَهْدَى لَهُ خَشَبًا خَاوِيَةً شُهْرَتُهَا أَعْظَمُ مِنْ مَنْفَعَتِهَا .ا
وَسَمِعْتُ شَيْخَنَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ : الرَّاغِبُ فِي الدُّنْيَا غَافِلٌ وَلَوْ كَانَ يَقُولُ اللهَ اللهَ بِلِسَانِهِ عَلَى الدَّوَامِ ، إِذْ لَا عِبْرَةَ بِاللِّسَانِ . وَالزَّاهِدُ فِي الدُّنْيَا ذَاكِرٌ عَلَى الدَّوَامِ وَلَوْ قَلَّ ذِكْرُهُ بِاللِّسَانِ اهـ . قُلْتُ : وَبِهَذَا فَسَّرَ بَعْضُهُمْ قَوْلَهُ تَعَالَى : ﴿لَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ (١) . أَيْ مَعَ الْغَفْلَةِ وَالرَّغْبَةِ وَإِنْ كَثُرَ فِي الْحِسِّ اهـ . وَقَالَ سَيِّدُنَا عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ مِنْكُمْ اهْتِمَامًا لِلْعَمَلِ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَقِلَّ عَمَلٌ مَعَ التَّقْوَى ، وَكَيْفَ يَقِلُّ عَمَلٌ يُتَقَبَّلُ اهـ . وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : رَكْعَتَانِ مِنْ زَاهِدٍ عَالِمٍ خَيْرٌ وَأَحَبُّ عِنْدَ اللهِ مِنْ عِبَادَةِ الْمُتَعَبِّدِينَ الْمُجْتَهِدِينَ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ أَبَدًا سَرْمَدًا . قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ : لَمْ يَفْتَكُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ إِلَّا أَنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا اهـ .ا
Di antara hal yang sangat penting
untuk diperhatikan pada diri seorang sahabat/pendamping adalah: sifat zuhud
terhadap dunia dan tingginya cita-cita spiritual (himmah) darinya,
meskipun amalnya secara lahiriah tampak sedikit. Mengenai hal tersebut, beliau
(Ibnu Ataillah) mengisyaratkan melalui perkataannya:
مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ ، وَلَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ
[Tidaklah bernilai sedikit suatu
amal yang terbit dari hati yang zuhud, dan tidaklah bernilai banyak suatu amal
yang terbit dari hati yang gandrung (raghib) pada dunia.]
Aku katakan: Zuhud terhadap sesuatu adalah keluarnya rasa cinta pada
sesuatu itu dari dalam hati serta dinginnya rasa terhadap hal tersebut. Menurut
para sufi (al-qaum), zuhud adalah membenci segala sesuatu yang
memalingkan dari Allah dan yang merintangi seseorang dari hadirat Allah.
- Pertama pada harta:
Tanda kebersihannya adalah ketika baginya emas setara dengan tanah, perak
setara dengan batu, kaya setara dengan miskin, serta penolakan (al-man'u)
setara dengan pemberian (al-'aṭā').
- Kedua pada kedudukan dan tingkatan (al-jāh wa
al-marātib): Tanda kebersihannya adalah
ketika baginya kemuliaan setara dengan kehinaan, popularitas (azh-zhuhūr)
setara dengan keterasingan (al-khumūl), pujian setara dengan
celaan, serta tingginya derajat setara dengan jatuhnya kedudukan.
- Ketiga pada maqam spiritual, karamah, dan keistimewaan
(al-khaṣā'iṣ):
Tanda kebersihannya adalah ketika baginya rasa harap (ar-rajā')
setara dengan rasa takut (al-khauf), kekuatan setara dengan
kelemahan, serta kelapangan batin (al-basṭ) setara dengan kesempitan
batin (al-qabḍ). Ia dapat berjalan di kondisi yang satu sebagaimana
ia berjalan di kondisi lainnya, atau ia mengenal Allah di kondisi ini
sebagaimana ia mengenal-Nya di kondisi itu. Hingga kemudian zuhud itu
mencakup seluruh alam semesta (al-kaun) melalui penyaksian (syuhūd)
terhadap Sang Pencipta (Al-Mukawwin) dan perintah-Nya.
Apabila seorang murid telah
merealisasikan maqam-maqam zuhud ini atau sebagian besarnya, maka seluruh
amalnya akan bernilai sangat agung dan besar secara makna di sisi Allah, meskipun
amalnya secara indrawi (zahir) tampak sedikit di mata manusia. Inilah makna
sabda Nabi 'alaihissalātu wassalām:
"Amal yang sedikit namun di
atas sunnah lebih baik daripada amal yang banyak namun di dalam bid'ah."
Bid'ah apakah yang lebih besar dan
lebih buruk daripada mencintai dunia serta mencurahkan diri kepadanya dengan
hati dan raga? Hal yang tidak ada pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dan tidak pula pada zaman para sahabat, hingga bermunculan
orang-orang yang berwatak Firaun lalu mereka mendirikan, membangun, dan
memperindah megahnya dunia. Maka inilah bid'ah yang hakiki. Amal orang-orang
seperti ini bernilai sedikit secara makna, meskipun amalnya banyak secara
indrawi; sebab tidak ada gunanya gerak-gerik raga, melainkan yang dinilai adalah
ketundukan ruh.
Ibadah orang yang zuhud dilakukan
demi Allah dan bersama Allah, sedangkan ibadah orang yang gandrung dunia (raghib)
dilakukan dengan dorongan nafsu dan untuk kepuasan nafsu. Ibadah orang yang
zuhud itu hidup dan abadi, sedangkan ibadah orang yang gandrung dunia itu mati
dan sirna. Ibadah orang yang zuhud tersambung secara terus-menerus, sedangkan
ibadah orang yang gandrung dunia terputus tanpa kesempurnaan. Ibadah orang yang
zuhud berada di masjid-masjid hadirat-Nya yang telah Allah izinkan untuk
ditinggikan, sedangkan ibadah orang yang gandrung dunia berada di tempat-tempat
sampah kotoran yang telah Allah izinkan untuk dihinakan.
Oleh karena itu, sebagian dari
mereka berkata: "Ibadah orang yang kaya (gandrung dunia) bagaikan orang
yang shalat di atas tempat sampah."
Perumpamaan ibadah orang yang
zuhud—dengan sedikit amalnya secara lahiriah namun melimpah secara
makna—dibandingkan dengan ibadah orang yang gandrung dunia—dengan banyaknya
amal secara lahiriah namun sangat sedikit secara makna—tidak lain seperti dua
orang yang memberikan hadiah kepada seorang Raja:
- Yang satu memberikan hadiah berupa sebuah batu
permata yaqut yang jernih dan kecil, namun nilainya seharga satu qintar
(sangat mahal).
- Sedangkan yang lainnya memberikan hadiah berupa enam
puluh peti kayu yang kosong melompong.
Tidak diragukan lagi bahwa sang Raja
akan menerima permata yaqut tersebut dan memuliakan pemiliknya. Sebaliknya,
Raja akan menolak peti-peti kosong itu, menghinakan pemiliknya, dan murka
kepadanya karena ia dianggap mengolok-olok Raja dengan menghadiahkan kayu
kosong yang keterkenalannya lebih besar daripada manfaatnya.
Aku mendengar guru kami radhiyallahu
'anhu berkata: "Orang yang mencintai dunia adalah orang yang lalai,
meskipun lisannya terus-menerus menguapkan kata 'Allah, Allah', karena tidak
ada ukuran pada lisan semata. Sedangkan orang yang zuhud terhadap dunia adalah
orang yang senantiasa berzikir, meskipun zikir lisannya sedikit."
Aku katakan: Dengan pemahaman inilah sebagian ulama menafsirkan firman Allah
Ta'ala:
﴿Mereka tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit﴾ (QS. An-Nisa: 142). Yakni zikir yang disertai dengan kelalaian dan kecintaan
pada dunia, meskipun jumlah amalnya tampak banyak secara lahiriah (al-hiss).
Sayyidina Ali karramallāhu wajhah
berkata: "Hendaklah kalian lebih memperhatikan penerimaan suatu amal
daripada banyaknya amal itu sendiri. Sebab tidak ada amal yang bernilai sedikit
jika disertai ketakwaan, dan bagaimanakah suatu amal yang diterima bisa
dikatakan sedikit?"
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu
berkata: "Dua rakaat dari seorang yang zuhud lagi berilmu itu lebih
baik dan lebih dicintai di sisi Allah daripada ibadah para ahli ibadah yang
bersungguh-sungguh sepanjang masa selamanya."
Sebagian ulama salaf berkata: "Para
sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah mengungguli kalian
karena banyaknya shalat maupun puasa, melainkan karena mereka lebih zuhud
terhadap dunia."
وَفِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ : أَنَّ سَيِّدَنَا عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّ بِرَجُلٍ نَائِمٍ وَالنَّاسُ يَتَعَبَّدُونَ ، فَقَالَ لَهُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : قُمْ فَتَعَبَّدْ مَعَ النَّاسِ ، فَقَالَ : تَعَبَّدْتُ يَا رُوحَ اللهِ ، فَقَالَ لَهُ : وَمَا عِبَادَتُكَ ؟ قَالَ : تَرَكْتُ الدُّنْيَا لِأَهْلِهَا ، فَقَالَ لَهُ : نَعَمْ ، نِعْمَتِ الْعِبَادَةُ هَذِهِ أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ . ا
وَقَالَ رَجُلٌ لِلشَّيْخِ أَبِي الْحَسَنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : مَا لِي أَرَى النَّاسَ يُعَظِّمُونَكَ وَلَمْ أَرَ لَكَ كَبِيرَ عَمَلٍ ، فَقَالَ : بِسُنَّةٍ وَاحِدَةٍ افْتَرَضَهَا اللهُ عَلَى رَسُولِهِ تَمَسَّكْتُ بِهَا ، فَقَالَ لَهُ : وَمَا هِيَ ؟ قَالَ : الْإِعْرَاضُ عَنْكُمْ وَعَنْ دُنْيَاكُمْ اهـ . قَالَ الشَّيْخُ زَرُّوقٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : وَإِنَّمَا كَانَتْ لِلزُّهَّادِ هَذِهِ الْفَضِيلَةُ لِثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ : أَمَّا أَحَدُهَا فَمَا فِيهِ مِنْ فَرَاغِ الْقَلْبِ عَنِ الشَّوَاغِلِ وَالشَّوَاغِبِ . الثَّانِي لِأَنَّهُ شَاهِدٌ بِوُجُودِ الصِّدْقِ فِي الْمَحَبَّةِ ، إِذِ الدُّنْيَا مَحْبُوبَةٌ لَا تُتْرَكُ إِلَّا بِمَا هُوَ أَحَبُّ . قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ » . قِيلَ عَلَى حُبِّ الْعَبْدِ رَبَّهُ . الثَّالِثُ لِأَنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ وَالثِّقَةِ بِهِ ، لِأَنَّ بَذْلَ الْمَوْجُودِ مِنَ الثِّقَةِ بِالْمَعْبُودِ ، وَمَنْعَ الْمَوْجُودِ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِالْمَعْبُودِ اهـ . وَلَمَّا كَانَ حُسْنُ الْعَمَلِ الظَّاهِرِ وَإِتْقَانُهُ الَّذِي يَكُونُ بِهِ كَمَالُهُ وَنُقْصَانُهُ إِنَّمَا هُوَ نَتَائِجُ حُسْنِ الْبَاطِنِ وَأَحْوَالِهِ أَشَارَ إِلَى ذَلِك بِقَوْلِهِ : [ حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ ] .ا
قُلْتُ : الْأَعْمَالُ حَرَكَةُ الْجِسْمِ بِالْمُجَاهَدَةِ ، وَالْأَحْوَالُ حَرَكَةُ الْقَلْبِ بِالْمُكَابَدَةِ ، وَالْمَقَامَاتُ سُكُونُ الْقَلْبِ بِالطُّمَأْنِينَةِ ، مِثَالُ ذَلِكَ مَقَامُ الزُّهْدِ مَثَلًا ، فَإِنَّهُ يَكُونُ أَوَّلًا عَمَلُهُ مُجَاهَدَةً بِتَرْكِ الدُّنْيَا وَأَسْبَابِهَا ، ثُمَّ يَكُونُ مُكَابَدَةً بِالصَّبْرِ عَلَى الْفَاقَةِ حَتَّى يَصِيرَ حَالًا ، ثُمَّ يَسْكُنُ الْقَلْبُ وَيَذُوقُ حَلَاوَتَهُ فَيَصِيرُ مَقَامًا ، وَكَذَلِكَ التَّوَكُّلُ يَكُونُ مُجَاهَدَةً بِتَرْكِ الْأَسْبَابِ ، ثُمَّ يَكُونُ مُكَابَدَةً بِالصَّبْرِ عَلَى مَرَارَةِ تَصَرُّفَاتِ الْأَقْدَارِ ، ثُمَّ يَصِيرُ حَالًا ، ثُمَّ يَسْكُنُ الْقَلْبُ فِيهِ وَيَذُوقُهُ فَيَصِيرُ مَقَامًا ، وَكَذَلِكَ الْمَعْرِفَةُ تَكُونُ مُجَاهَدَةً بِالْعَمَلِ فِي الظَّاهِرَةِ كَخَرْقِ الْعَوَائِدِ مِنْ نَفْسِهِ ، ثُمَّ تَكُونُ مُكَابَدَةً بِالْمَعْرِفَةِ وَالْإِقْرَارِ عِنْدَ التَّصَرُّفَاتِ ، ثُمَّ تَصِيرُ حَالًا . فَإِذَا سَكَنَتِ الرُّوحُ فِي الشُّهُودِ وَتَمَكَّنَتْ صَارَتْ مَقَامًا ، فَالْأَحْوَالُ مَوَاهِبُ ، وَالْمَقَامَاتُ مَكَاسِبُ ، يَعْنِي أَنَّ الْأَحْوَالَ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَزَاءً لِثَوَابِ الْأَعْمَالِ ، فَإِذَا دَامَ الْعَمَلُ وَاتَّصَلَ الْحَالُ صَارَ مَقَامًا ؛ فَالْأَحْوَالُ تَتَحَوَّلُ وَتَذْهَبُ وَتَجِيءُ ، فَإِذَا سَكَنَ الْقَلْبُ فِي ذَلِكَ الْمَعْنَى صَارَ مَقَامًا وَهُوَ مُكْتَسَبٌ مِنْ دَوَامِ الْعَمَلِ .ا
وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَقَامَ وَالْحَالَ لِكُلِّ وَاحِدٍ عِلْمٌ وَعَمَلٌ ، فَالْمَقَامُ يَتَعَلَّقُ بِهِ الْعِلْمُ أَوَّلًا ، ثُمَّ يَسْعَى فِي عَمَلِهِ حَتَّى يَكُونَ حَالًا ، ثُمَّ يَصِيرُ مَقَامًا ، وَكَذَلِكَ الْحَالُ يَتَعَلَّقُ بِهِ الْعِلْمُ أَوَّلًا ، ثُمَّ الْعَمَلُ ، ثُمَّ يَصِيرُ مَقَامًا حَالًا ، وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ . فَعَلَامَةُ التَّحَقُّقِ بِمَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ ، هُوَ حُسْنُ الْحَالِ ، وَعَلَامَةُ حُسْنِ الْحَالِ هُوَ حُسْنُ الْعَمَلِ ، فَإِتْقَانُ الْأَعْمَالِ وَحُسْنُهَا هُوَ ثَمَرَةُ وَنَتِيجَةُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ وَإِتْقَانُهَا هُوَ نَتِيجَةُ التَّحَقُّقِ بِمَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ ، أَيِ التَّحَقُّقُ بِالْإِنْزَالِ فِي الْمَقَامَاتِ . أَوْ تَقُولُ : حُسْنُ الْأَحْوَالِ دَلِيلٌ عَلَى التَّحَقُّقِ بِالْمَقَامَاتِ الَّتِي يُنْزِلُ اللهُ عَبْدَهُ فِيهَا ، وَحُسْنُ الْأَعْمَالِ دَلِيلٌ عَلَى حُسْنِ الْأَحْوَالِ . وَالتَّحَقُّقُ بِالْحَالِ وَالسُّكُونِ فِي الْمَقَامِ أَمْرٌ بَاطِنِيٌّ ، وَيَظْهَرُ أَثَرُهُ فِي عَمَلِ الْجَوَارِحِ .ا
Dalam sebagian riwayat (akhbār)
disebutkan: Bahwa Nabi Isa 'alaihissalām pernah melewati seorang pria
yang sedang tidur, sementara orang-orang sedang sibuk beribadah. Maka Nabi Isa 'alaihissalām
berkata kepadanya: "Bangunlah dan beribadahlah bersama
orang-orang!" Pria itu menjawab: "Aku telah beribadah, wahai
Ruhullah." Nabi Isa bertanya: "Apakah ibadahmu?" Ia
menjawab: "Aku telah meninggalkan dunia untuk para penghuninya."
Maka Nabi Isa berkata kepadanya: "Ya, ini adalah sebaik-baik
ibadah," atau sebagaimana yang beliau katakan 'alaihissalāt
wassalām.
Seseorang pernah berkata kepada
Syekh Abu Al-Hasan (Asy-Syadzili) radhiyallahu 'anhu: "Mengapa
aku melihat orang-orang begitu mengagungkanmu, padahal aku tidak melihatmu
melakukan banyak amal (zahir)?" Beliau menjawab: "Sebab satu
sunnah yang difardukan oleh Allah kepada Rasul-Nya yang selalu kupegang
teguh." Orang itu bertanya: "Apakah sunnah itu?"
Beliau menjawab: "Berpaling dari kalian dan dari dunia kalian."
Syekh Zarruq radhiyallahu 'anhu
berkata: "Keutamaan bagi orang-orang yang zuhud ini memiliki tiga
alasan:
- Ditinjau dari kosongnya hati dari hal-hal yang menyibukkan dan mengganggu.
- Sebagai bukti adanya kejujuran cinta (shidq
al-mahabbah), karena dunia itu dicintai dan
tidak akan ditinggalkan kecuali demi sesuatu yang lebih dicintai.
Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah adalah bukti (burhān)."
Dikatakan: Bukti atas cintanya seorang hamba kepada Tuhannya.
- Sebagai bukti atas makrifat kepada Allah dan
kepercayaan teguh kepada-Nya.
Sebab menginfakkan/mengeluarkan apa yang dimiliki bersumber dari
kepercayaan (tsiqah) kepada Sang Sesembahan, sedangkan menahan apa
yang ada bersumber dari prasangka buruk (sū'uzh-zhann)
kepada-Nya."
Ketika kebaikan dan kesempurnaan
amal lahiriah yang menjadi ukuran kesempurnaan dan kekurangannya merupakan buah
dari kebaikan batin dan keadaannya (aḥwāl), maka Ibnu Ataillah
mengisyaratkan hal tersebut melalui perkataannya:
حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ
[Kebaikan amal-amal lahiriah adalah
buah dari kebaikan keadaan batin (aḥwāl), dan kebaikan keadaan batin
bersumber dari pemantapan (taḥaqquq) pada kedudukan-kedudukan spiritual
(maqāmāt) yang diturunkan oleh Allah.]
Aku katakan:
- Amal (Al-A'māl) adalah gerakan raga melalui kesungguhan usaha (mujāhadah).
- Keadaan batin (Al-Aḥwāl) adalah gerakan hati melalui perjuangan menanggung
beban batin (mukābadah).
- Kedudukan spiritual (Al-Maqāmāt) adalah ketenangan hati dengan penuh kedamaian (țuma'nīnah).
Contohnya pada maqam Zuhud:
- Pada mulanya, amalnya berupa kesungguhan (mujāhadah)
meninggalkan dunia beserta sebab-sebabnya.
- Kemudian menjadi perjuangan batin (mukābadah)
dengan bersabar atas ketidakberdayaan hingga hal itu menjadi keadaan batin
(ḥāl).
- Kemudian hati menjadi tenang dan merasakan manisnya,
sehingga berubah menjadi kedudukan yang mantap (maqām).
Demikian pula pada Tawakal:
- Dimulai dengan kesungguhan (mujāhadah)
meninggalkan ketergantungan pada sebab-sebab.
- Kemudian menjadi perjuangan batin (mukābadah)
dengan bersabar atas pahitnya ketetapan takdir, hingga menjadi keadaan
batin (ḥāl).
- Kemudian hati menjadi tenang di dalamnya dan
merasakannya, sehingga menjadi kedudukan yang mantap (maqām).
Demikian pula pada Makrifat:
- Berawal dari kesungguhan (mujāhadah) dengan
beramal secara lahiriah seperti mendobrak kebiasaan-kebiasaan nafsunya.
- Kemudian menjadi perjuangan batin (mukābadah)
dengan mengenal dan mengakui kekuasaan Allah saat takdir berlaku, hingga
menjadi keadaan batin (ḥāl).
- Apabila ruh telah tenang dan mantap dalam penyaksian (syuhūd),
maka ia berubah menjadi kedudukan tetap (maqām).
Maka aḥwāl adalah
anugerah murni (mawāhib), sedangkan maqāmāt adalah hasil
usaha (makāsib). Maksudnya, aḥwāl adalah karunia dari Allah
sebagai balasan atas pahala amal. Jika amal dilakukan secara berkesinambungan
dan keadaan batin (ḥāl) berlangsung terus-menerus, maka ia berkembang
menjadi kedudukan tetap (maqām). Sebab, aḥwāl itu bersifat
dinamis (berubah-ubah, datang dan pergi). Namun ketika hati telah tenang dan
mantap dalam makna tersebut, ia berubah menjadi maqām, yang mana ia
diperoleh dari kesinambungan dalam beramal.
Ketahuilah bahwa setiap maqām
dan ḥāl memiliki ilmu dan amalnya masing-masing:
- Pada maqām, ilmu berkaitan dengannya terlebih
dahulu, kemudian seseorang berusaha dalam amalnya hingga menjadi ḥāl,
lalu memuncak menjadi maqām.
- Demikian pula pada ḥāl, ilmu berkaitan dengannya
terlebih dahulu, kemudian amal, lalu menjadi maqām dan ḥāl.
Wallahu Ta'ala A'lam.
Tanda pemantapan (taḥaqquq)
pada maqam-maqam yang diturunkan Allah adalah kebaikan keadaan batin (ḥusn
al-ḥāl), dan tanda kebaikan keadaan batin adalah kebaikan amal lahiriah (ḥusn
al-'amal). Maka kesempurnaan dan kebaikan amal adalah buah/hasil dari
kebaikan keadaan batin, sedangkan kebaikan keadaan batin beserta
kesempurnaannya adalah hasil dari pemantapan pada maqam-maqam ketaatan (maqāmāt
al-inzāl).
Atau dapat engkau katakan: Kebaikan
keadaan batin adalah bukti atas pemantapan pada maqam-maqam tempat Allah
menempatkan hamba-Nya, sedangkan kebaikan amal adalah bukti atas kebaikan
keadaan batin. Pemantapan pada ḥāl dan ketenangan pada maqām adalah
perkara batiniah, yang mana pengaruhnya tampak nyata pada perbuatan anggota
badan (zahir).
وَالْحَاصِلُ : أَنَّ حَرَكَةَ الْقَالَبِ تَدُلُّ عَلَى صَلَاحِ الْقَلْبِ أَوْ فَسَادِهِ ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ » .ا
ا
فَإِذَا تَحَقَّقَ الْقَلْبُ بِالزُّهْدِ مَثَلًا وَصَارَ لَهُ حَالًا أَوْ مَقَامًا ، ظَهَرَ ذَلِكَ عَلَى جَوَارِحِهِ ، مِنَ الثِّقَةِ بِاللهِ ، وَالِاعْتِمَادِ عَلَيْهِ ، وَقِلَّةِ الْحَرَكَةِ عِنْدَ الْأَسْبَابِ الْمُحَرِّكَةِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « لَيْسَ الزُّهْدُ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ ، وَلَا بِإِضَاعَةِ الْمَالِ ، إِنَّمَا الزُّهْدُ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ أَوْثَقَ مِمَّا فِي يَدِكَ » .ا
ا
وَقَالَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِأَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ فِي النَّوْمِ : عَلَامَةُ خُرُوجِ حُبِّ الدُّنْيَا مِنَ الْقَلْبِ بَذْلُهَا عِنْدَ الْوَجْدِ ، وَوُجُودُ الرَّاحَةِ مِنْهَا عِنْدَ الْفَقْدِ . وَعَلَامَةُ التَّحَقُّقِ بِالْإِنْزَالِ فِي مَقَامِ التَّوَكُّلِ السُّكُونُ وَالطُّمَأْنِينَةُ عِنْدَ مُحَرِّكَاتِ الْأَسْبَابِ . وَعَلَامَةُ التَّحَقُّقِ بِالْإِنْزَالِ فِي مَقَامِ الْمَعْرِفَةِ هُوَ الْأَدَبُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ مَعَ كُلِّ مَخْلُوقٍ ، وَلِذَلِكَ قَالَ أَبُو حَفْصٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : حُسْنُ أَدَبِ الظَّاهِرِ عُنْوَانُ حُسْنِ أَدَبِ الْبَاطِنِ ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ » اهـ .ا
ا
وَرَاجِعْ مَا تَقَدَّمَ مِنْ شَرْحِ قَوْلِهِ : تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الْأَعْمَالِ بِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ ، فَفِيهِ زِيَادَةُ شَرْحٍ عَلَى هَذَا الْمَحَلِّ ، وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ . وَأَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي يَقْطَعُ بِهَا الْمُرِيدُ الْمَقَامَاتِ وَأَقْرَبُهَا هُوَ ذِكْرُ اللهِ ، وَلِذَلِكَ ذَكَرَهُ بِأَثَرِهِ فَقَالَ : لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِ قَلْبِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ .ا
ا
قُلْتُ : الذِّكْرُ رُكْنٌ قَوِيٌّ فِي طَرِيقِ الْقَوْمِ ، وَهُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ﴾ (١) وَقَالَ تَعَالَى : ﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾ (٢) .ا
ا
وَالذِّكْرُ الْكَثِيرُ : أَلَّا يَنْسَاهُ أَبَدًا . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : كُلُّ عِبَادَةٍ فَرَضَهَا اللهُ تَعَالَى جَعَلَ لَهَا وَقْتًا مَخْصُوصًا وَعَذَرَ الْعِبَادَ فِي غَيْرِ أَوْقَاتِهَا إِلَّا الذِّكْرَ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ وَقْتًا مَخْصُوصًا قَالَ تَعَالَى : ﴿اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾ وَقَالَ تَعَالَى : ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ﴾ (٣) . وَقَالَ رَجُلٌ : « يَا رَسُولَ اللهِ كَثُرَتْ عَلَيَّ شَعَائِرُ الْإِسْلَامِ فَأَوْصِنِي بِأَمْرٍ أُدْرِكُ بِهِ مَا فَاتَنِي وَأُوجِزْ ، فَقَالَ : لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللهِ » . وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « لَوْ أَنَّ رَجُلًا فِي حِجْرِهِ دَرَاهِمُ يُقَسِّمُهَا وَآخَرُ يَذْكُرُ اللهَ لَكَانَ الذَّاكِرُ لِلَّهِ أَفْضَلَ » . وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ، قَالُوا : وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ ذِكْرُ اللهِ » .ا
Kesimpulannya: Bahwa gerak-gerik
raga (qālab) menunjukkan atas baik atau rusaknya hati, berdasarkan sabda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Ketahuilah, sesungguhnya di
dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh
tubuh itu, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah,
segumpal daging itu adalah hati."
Apabila hati telah merealisasikan
nilai zuhud—sebagai contoh—dan hal itu telah menjadi ḥāl (keadaan batin)
atau maqām (kedudukan spiritual) baginya, maka pengaruhnya akan tampak
nyata pada anggota badannya (jawāriḥ), berupa kepercayaan penuh kepada
Allah, bersandar kepada-Nya, serta minimnya dorongan emosi/gerak saat
menghadapi sebab-sebab yang memicu, berdasarkan sabda Nabi 'alaihissalātu
wassalām:
"Zuhud itu bukanlah dengan
mengharamkan yang halal, dan bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Akan
tetapi, zuhud itu adalah engkau lebih percaya pada apa yang ada di tangan Allah
daripada apa yang ada di dalam tanganmu sendiri."
Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu
'anhu berkata kepada Abu Al-Hasan Asy-Syadzili di dalam mimpi: "Tanda
keluarnya cinta dunia dari dalam hati adalah dengan menyedekahkannya ketika ada
(mempunyainya), dan merasakan kelapangan dada darinya ketika tidak ada. Tanda
pemantapan (taḥaqquq) pada maqam tawakal adalah ketenangan dan kedamaian batin
saat menghadapi pemicu sebab-sebab. Serta tanda pemantapan pada maqam makrifat
adalah menjaga adab secara lahir dan batin, serta berakhlak mulia kepada setiap
makhluk." Oleh karena itu, Abu Hafs radhiyallahu 'anhu berkata:
"Kebaikan adab lahiriah merupakan cerminan dari kebaikan adab
batiniah." Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda:
"Seandainya hati orang ini khusyuk,
niscaya anggota badannya pun akan ikut khusyuk."
Dan rujuklah penjelasan yang telah
berlalu mengenai syarah ungkapan beliau: "Beraneka ragamnya jenis amal
disebabkan oleh beraneka ragamnya keadaan batin (al-aḥwāl) yang masuk ke dalam
hati," karena di sana terdapat penjelasan tambahan mengenai topik ini,
wallāhu ta'ālā a'lam.
Amal yang paling utama untuk
digunakan seorang murid dalam melintasi maqam-maqam spiritual dan yang paling
dekat menghantarkan (kepada Allah) adalah zikir kepada Allah. Oleh karena itu,
beliau menyertakannya setelah pembahasan ini dengan berkata: "Janganlah
engkau meninggalkan zikir hanya karena hatimu belum bisa hadir bersama Allah di
dalam zikir tersebut. Sebab, kelalaianmu dari sama sekali tidak berzikir
kepada-Nya jauh lebih buruk daripada kelalaianmu saat engkau sedang berzikir.
Maka mudah-mudahan Allah mengangkat derajatmu dari zikir yang disertai
kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran (yaqazhah), dan dari zikir yang
disertai kesadaran menuju zikir yang disertai kehadiran hati (hudhūr), serta
dari zikir yang disertai kehadiran hati menuju zikir yang disertai
peleburan/sirnanya pandangan (ghaibah) dari segala sesuatu selain Zat yang
Diingat (Al-Madzkūr). Dan hal yang demikian itu tidaklah sulit bagi
Allah."
Aku katakan: Zikir merupakan rukun/pilar yang sangat kuat dalam jalan
para sufi (ṭarīq al-qaum), dan ia adalah seutama-utamanya amal. Allah
Ta'ala berfirman: ﴿Maka
ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu﴾
(QS. Al-Baqarah: 152), dan Allah Ta'ala berfirman: ﴿Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya﴾
(QS. Al-Ahzab: 41).
Maksud dari zikir yang banyak
adalah: tidak pernah melupakan-Nya sama sekali. Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhumā berkata: "Setiap ibadah yang difardukan oleh Allah Ta'ala
pasti memiliki waktu tertentu dan Allah memberi uzur kepada hamba-Nya di luar
waktu tersebut, kecuali zikir; Allah tidak menjadikan waktu tertentu baginya
(berlaku sepanjang waktu)." Allah Ta'ala berfirman: ﴿Berzikirlah
kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya﴾,
dan Allah Ta'ala berfirman: ﴿Maka
apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di
waktu duduk dan di waktu berbaring﴾ (QS.
An-Nisa: 103).
Seseorang pernah bertanya: "Wahai
Rasulullah, sungguh syariat-syariat Islam telah banyak bagiku, maka
beritahukanlah kepadaku suatu perkara yang dengannya aku dapat meraih apa yang
terluput dariku dan buatlah secara ringkas!" Maka beliau bersabda: "Hendaklah
lisanmu senantiasa basah dengan berzikir kepada Allah."
Dan Nabi 'alaihissalātu wassalām
bersabda:
"Seandainya ada seseorang yang
di pangkuannya terdapat dirham-dirham yang ia bagikan (sedekahkan), sementara
orang lain sibuk berzikir kepada Allah, niscaya orang yang berzikir kepada Allah
itu lebih utama."
Dan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
"Maukah aku beritahukan kepada
kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling suci di sisi Raja kalian
(Allah), yang paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian, serta lebih baik
bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian
daripada bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka
memenggal leher kalian?"
Para sahabat bertanya: "Apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab: "Berzikir kepada Allah."
وَعَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : « قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الطُُّرُقِ أَقْرَبُ إِلَى اللهِ وَأَسْهَلُهَا عَلَى عِبَادِ اللهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى ؟ فَقَالَ : يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِمُدَاوَمَةِ ذِكْرِ اللهِ ، فَقَالَ عَلِيٌّ : كُلُّ النَّاسِ يَذْكُرُونَ اللهَ ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا عَلِيُّ : لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَنْ يَقُولُ اللهَ ، فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ : كَيْفَ أَذْكُرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ فَقَالَ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قُلْ مِثْلَهَا وَأَنَا أَسْمَعُ ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مُغْمِضًا عَيْنَيْهِ ، ثُمَّ قَالَهَا عَلِيٌّ كَذَلِكَ » . ا
ثُمَّ لَقَّنَهَا عَلِيٌّ لِلْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ ، ثُمَّ الْحَسَنُ لِحَبِيبٍ الْعَجَمِيِّ ثُمَّ حَبِيبٌ لِدَاوُدَ الطَّائِيِّ ، ثُمَّ دَاوُدُ لِمَعْرُوفٍ الْكَرْخِيِّ ، ثُمَّ مَعْرُوفٌ لِلسَّرِيِّ ، ثُمَّ السَّرِيُّ لِلْجُنَيْدِ ، ثُمَّ انْتَقَلَتْ إِلَى أَرْبَابِ التَّرْبِيَةِ ، فَلَا مَدْخَلَ عَلَى اللهِ إِلَّا مِنْ بَابِ الذِّكْرِ ، فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَسْتَغْرِقَ فِيهِ أَوْقَاتَهُ ، وَيَبْذُلَ فِيهِ جُهْدَهُ ، فَإِنَّ الذِّكْرَ مَنْشُورُ الْوِلَايَةِ وَلَا بُدَّ مِنْهُ فِي الْبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ ، فَمَنْ أُعْطِيَ الذِّكْرَ فَقَدْ أُعْطِيَ الْمَنْشُورَ وَمَنْ تَرَكَ الذِّكْرَ فَقَدْ عُزِلَ ، وَأَنْشَدُوا : ا
وَالذِّكْرُ أَعْظَمُ بَابٍ أَنْتَ دَاخِلُهُ ... لِلَّهِ فَاجْعَلْ لَهُ الْأَنْفَاسَ حُرَّاسًا
فَبِقَدْرِ مَا يَفْنَى فِي الِاسْمِ يَفْنَى فِي الذَّاتِ ، وَبِقَدْرِ مَا يَفْتُرُ فِي الِاسْمِ يَكُونُ مُتَفَتِّرًا فِي الْفَنَاءِ فِي الذَّاتِ ، فَيَلْتَزِمُ الْمُرِيدُ الذِّكْرَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلَا يَتْرُكُ الذِّكْرَ بِاللِّسَانِ لِعَدَمِ حُضُورِ قَلْبِهِ فِيهِ ، بَلْ يَذْكُرُهُ بِلِسَانِهِ وَلَوْ كَانَ غَافِلًا بِقَلْبِهِ ، فَإِنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ ، وَفِي وُجُودِ ذِكْرِهِ إِقْبَالٌ بِوَجْهٍ مَا ، وَفِي شَغْلِ اللِّسَانِ بِذِكْرِ اللهِ تَزْيِينُ جَارِحَةٍ بِطَاعَةِ اللهِ ، وَفِي فَقْدِهِ تَعَرُّضٌ لِاشْتِغَالِهَا بِالْمَعْصِيَةِ . ا
قِيلَ لِبَعْضِهِمْ : مَا لَنَا نَذْكُرُ اللهَ بِاللِّسَانِ وَالْقَلْبُ غَافِلٌ ؟ فَقَالَ : اشْكُرِ اللهَ عَلَى مَا وَفَّقَ مِنْ ذِكْرِ اللِّسَانِ ، وَلَوْ أَشْغَلَهُ بِالْغِيبَةِ مَا كُنْتَ تَفْعَلُ . فَيَلْزَمُ الْإِنْسَانُ ذِكْرَ اللِّسَانِ حَتَّى يَفْتَحَ اللهُ فِي ذِكْرِ الْجَنَانِ ، فَعَسَى أَنْ يَنْقُلَكَ الْحَقُّ تَعَالَى مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ ، أَيْ انْتِبَاهٍ لِمَعَانِي الذِّكْرِ عِنْدَ الِاشْتِغَالِ بِهِ ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورِ الْمَذْكُورِ وَارْتِسَامِهِ فِي الْخَيَالِ ، حَتَّى يَطْمَئِنَّ الْقَلْبُ بِذِكْرِ اللهِ وَيَكُونَ حَاضِرًا بِقَلْبِهِ مَعَ دَوَامِ ذِكْرِهِ ، وَهَذَا هُوَ ذِكْرُ الْخَوَاصِّ وَالْأَوَّلُ ذِكْرُ الْعَوَامِّ ، فَإِنْ دُمْتَ عَلَى ذِكْرِ الْحُضُورِ رَفَعَكَ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ الْغَيْبَةِ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ ، لِمَا يَغْمُرُ قَلْبَكَ مِنَ النُّورِ ، وَرُبَّمَا يَعْظُمُ قُرْبُ نُورِ الْمَذْكُورِ فَيَغْرَقُ فِي النُّورِ ، حَتَّى يَغِيبَ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ ، حَتَّى يَصِيرَ الذَّاكِرُ مَذْكُورًا ، وَالطَّالِبُ مَطْلُوبًا ، وَالْوَاصِلُ مَوْصُولًا . ا
Diriwayatkan dari Sayyidina Ali karramallāhu
wajhah:
"Aku bertanya: 'Wahai
Rasulullah, jalan manakah yang paling dekat menuju Allah, paling mudah bagi
hamba-hamba Allah, dan paling utama di sisi Allah Ta'ala?' Maka beliau
bersabda: 'Wahai Ali, hendaknya engkau senantiasa melanggengkan berzikir kepada
Allah.' Ali berkata: 'Semua orang berzikir kepada Allah.' Maka Rasulullah SAW
bersabda: 'Wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi di muka
bumi orang yang mengucapkan: Allah.' Kemudian Ali bertanya: 'Bagaimana cara aku
berzikir wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Pejamkan kedua matamu, lalu
dengarkan dariku tiga kali, kemudian ucapkanlah seperti itu dan aku akan
mendengarkannya.' Maka Rasulullah SAW mengucapkan: Lā ilāha illallāh sebanyak
tiga kali dengan memejamkan kedua matanya, kemudian Ali mengucapkannya demikian
pula."
Kemudian Ali mengajarkan
(men-talqin-kan) zikir tersebut kepada Al-Hasan Al-Basri, lalu Al-Hasan kepada
Habib Al-Ajami, lalu Habib kepada Dawud At-Ta'i, lalu Dawud kepada Ma'ruf
Al-Karkhi, lalu Ma'ruf kepada As-Sari As-Saqati, lalu As-Sari kepada Al-Junaid
Al-Baghdadi. Kemudian tradisi ini berpindah kepada para pembimbing spiritual (arbāb
at-tarbiyah). Maka tidak ada jalan masuk menuju Allah kecuali melalui pintu
zikir. Oleh karena itu, wajib bagi seorang hamba untuk menghabiskan seluruh
waktunya dalam zikir dan mengerahkan segala kemampuannya, karena zikir adalah
"surat keputusan" (mansyūr) kewalian yang harus ada pada
tingkatan awal (bidāyah) maupun akhir (nihāyah). Barang siapa
diberi karunia zikir, maka sungguh ia telah diberi surat keputusan kewalian, dan
barang siapa meninggalkan zikir, maka ia telah dipecat. Para penyair
menginternalisasikan hal ini:
Dan zikir adalah pintu terbesar yang
engkau masuki ... demi Allah, maka jadikanlah setiap helaan napasmu sebagai
penjaganya.
Sejauh mana seseorang lebur (fanā')
dalam Nama-Nya (Al-Ism), sejauh itulah ia lebur dalam Zat-Nya (Adz-Dzāt).
Dan sejauh mana ia melemah/kendur dalam berzikir dengan Nama-Nya, sejauh itu
pula ia akan kendur dalam melebur pada Zat-Nya. Maka seorang murid harus
melanggengkan zikir dalam setiap keadaan dan jangan meninggalkan zikir lisan
hanya karena hatinya belum hadir di dalamnya. Hendaklah ia tetap berzikir
dengan lisannya meskipun hatinya sedang lalai. Sebab, kelalaianmu dari sama
sekali tidak berzikir jauh lebih buruk daripada kelalaianmu saat engkau sedang
berzikir. Dalam keberadaan zikir lisan itu setidaknya terdapat bentuk menghadap
(iqbāl) kepada Allah dari satu sisi. Selain itu, menyibukkan lisan
dengan zikir kepada Allah berarti menghiasi anggota tubuh dengan ketaatan
kepada-Nya, sedangkan meninggalkannya akan membuka peluang bagi lisan untuk
terjerumus dalam kemaksiatan.
Dikatakan kepada sebagian ulama: "Mengapa
kita berzikir kepada Allah dengan lisan sementara hati kita lalai?"
Maka beliau menjawab: "Bersyukurlah kepada Allah atas taufik-Nya yang
telah menggerakkan lisanmu untuk berzikir. Seandainya Allah menyibukkan lisanmu
itu dengan menggunjing (ghibah), tentu engkau tidak akan mampu berbuat
apa-apa."
Maka seseorang wajib melanggengkan
zikir lisan hingga Allah membukakan pintu zikir hati (jannān). Maka
mudah-mudahan Allah Yang Mahabenar memindahkanmu dari zikir yang disertai
kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran (yaqazhah), yaitu
tersadarkannya makna-makna zikir saat sibuk melafalkannya. Dan dari zikir yang
disertai kesadaran menuju zikir yang disertai kehadiran Zat yang Diingat (Al-Madzkūr)
serta terlukisnya keagungan-Nya dalam gambaran batin, hingga hati menjadi
tenang dengan berzikir kepada Allah dan hadir hatinya bersamaan dengan
kesinambungan zikirnya. Inilah zikir tingkat khawāṣṣ (orang-orang
khusus), sedangkan yang pertama tadi adalah zikir tingkat 'awām (orang
awam).
Jika engkau terus-menerus berada
dalam zikir kehadiran hati (hudhūr), maka Allah akan mengangkatmu menuju
zikir yang disertai peleburan/sirnanya pandangan (ghaibah) dari segala
sesuatu selain Zat yang Diingat (Al-Madzkūr), disebabkan melimpahnya
cahaya (nūr) yang memenuhi hatimu. Bahkan terkadang makin membesar
kedekatan cahaya Zat yang Diingat hingga ia tenggelam dalam cahaya tersebut,
sampai-sampai ia sirna dari segala sesuatu selain Zat yang Diingat. Hingga
akhirnya si pembaca zikir (adz-dzākir) menyatu menjadi yang diingat (al-madzkūr),
si pencari (at-ṭālib) menjadi yang dicari (al-maṭlūb), dan orang
yang sampai (al-wāṣil) menjadi yang disambungkan (al-mauṣūl).
ا﴿ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ ﴾ . ا
ا
أَيْ بِمُمْتَنِعٍ ، فَقَدْ يَرْفَعُ فِي أَعْلَى الدَّرَجَاتِ مَنْ كَانَ فِي أَسْفَلِ الدَّرَكَاتِ ، وَهَاهُنَا يَسْكُتُ اللِّسَانُ ، وَيَنْتَقِلُ الذِّكْرُ لِلْجَنَانِ ، فَيَصِيرُ ذِكْرُ اللِّسَانِ غَفْلَةً فِي حَقِّ أَهْلِ هَذَا الْمَقَامِ ، كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ :ا
ا
مَا إنْ ذَكَرْتُكَ إلَّا هَمَّ يَلْعَنُنِي ... سِرِّي وَقَلْبِي وَرُوحِي عِنْدَ ذِكْرَاكَا حَتَّى كَأَنَّ رَقِيبًا مِنْكَ يَهْتِفُ بِي ... إيَّاكَ وَيْحَكَ وَالتَّذْكَاَرَ إيَّاكَا أَمَا تَرَى الْحَقَّ قَدْ لَاحَتْ شَوَاهِدُهُ ... وَوَاَصَلَ الْكُلَّ مِنْ مَعْنَاهُ مَعْنَاهَا
ا
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ مُشِيرًا إلَى هَذَا الْمَقَامِ : الذَّاكِرُونَ فِي ذِكْرِهِ أَكْثَرُ غَفْلَةً مِنَ النَّاسِينَ لِذِكْرِهِ ، لِأَنَّ ذِكْرَهُ سِوَاهُ اهـ . يَعْنِي أَنَّ الذَّاكِرِينَ اللهَ بِالْقُلُوبِ هُمْ فِي حَالِ ذِكْرِهِمْ لِلَّهِ بِلِسَانِهِمْ أَكْثَرُ غَفْلَةً مِنَ التَّارِكِينَ لِذِكْرِهِ ، لِأَنَّ ذِكْرَهُ بِلِسَانِهِ وَتَكَلُّفَهُ يَقْتَضِي وُجُودَ النَّفْسِ وَهُوَ شِرْكٌ ، وَالشِّرْكُ أَقْبَحُ مِنَ الْغَفْلَةِ ، هَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ : لِأَنَّ ذِكْرَهُ سِوَاهُ ، أَيْ لِأَنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يَقْتَضِي اسْتِقْلَالَ الذَّاكِرِ ، وَالْفَرْضُ أَنَّ الذَّاكِرَ مَحْوٌ فِي مَقَامِ الْعِيَانِ . قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : حَقِيقَةُ الذِّكْرِ الِانْقِطَاعُ عَنِ الذِّكْرِ إلَى الْمَذْكُورِ وَعَنْ كُلِّ شَيْءٍ سِوَاهُ ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا ﴾ (٢) .ا
ا
وَقَالَ الْقُشَيْرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :ا
الذِّكْرُ انْدِرَاجُ الذَّاكِرِ فِي مَذْكُورِهِ ، وَاسْتِظْلَامُ السِّرِّ ظُهُورَهُ ، وَفِي مَعْنَى ذَلِكَ أَنْشَدُوا : ذَكَرْتُكَ لَا أَنِّي نَسِيتُكَ لَمْحَةً ... وَأَيْسَرُ مَا فِي الذِّكْرِ ذِكْرُ لِسَانِي
وَصِرْتُ بِلَا وَجْدٍ أَهِيمُ مِنَ الْهَوَى ... وَهَامَ عَلَى الْقَلْبِ بِالْخَفَقَانِ
فَلَمَّا أَرَانِي الْوَجْدُ أَنَّكَ حَاضِرِي ... شَهِدْتُكَ مَوْجُودًا بِكُلِّ مَكَانِ
فَخَاطَبْتُ مَوْجُودًا بِغَيْرِ تَكَلُّمٍ ... وَشَاهَدْتُ مَوْجُودًا بِغَيْرِ عِيَانِ
ا
وَفِي هَذَا الْمَقَامِ يَتَحَقَّقُ الْمُرِيدُ بِعِبَادَةِ الْفِكْرَةِ أَوْ النَّظْرَةِ ، وَفِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَبْعِينَ سَنَةً ، وَلِذَلِكَ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْعَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَوْقَاتُنَا كُلُّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ : أَيْ عِبَادَتُنَا كُلُّهَا مُضَاعَفَةٌ مَعَ خَفَائِهَا وَتَحْقِيقِ الْإِخْلَاصِ فِيهَا ، إِذْ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا مَلَكٌ فَيَكْتُبَهُ ، وَلَا شَيْطَانٌ فَيُفْسِدَهُ : وَفِي ذَلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ ، قِيلَ هُوَ الْحَلَّاجُ : ا
قُلُوبُ الْعَارِفِينَ لَهَا عُيُونٌ ... تَرَى مَا لَا يُرَى لِلنَّاظِرِينَا
وَأَلْسِنَةٌ بِأَسْرَارٍ تُنَاجِي ... تَغِيبُ عَنِ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَا
وَأَجْنِحَةٌ تَطِيرُ بِغَيْرِ رِيشٍ ... إلَى مَلَكُوتِ رَبِّ الْعَالَمِينَا
ا
وَقَدْ ذَيَّلْتُهَا بِبَيْتَيْنِ فَقُلْتُ :ا
وَأَفْئِدَةٌ تَهِيمُ بِعِشْقِ وَجْدٍ ... إلَى جَبَرُوتِ ذِي حَقٍّ يَقِينَا
فَإنْ تَرَدَّنْ تَبَاكُرُ ذِي الْمَعَانِي ... فَبَذْلُ الرُّوحِ مِنْكَ يَقِلُّ فِينَا
Dan hal yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah﴾ (QS. Ibrahim: 20).
Maksudnya: Tidak ada yang mustahil.
Sungguh Allah terkadang mengangkat seseorang yang berada di tempat paling bawah
(asfal ad-darakāt) menuju derajat yang paling tinggi (a'lā ad-darajāt).
Dan pada maqam ini, lisan pun bungkam dan zikir beralih ke dalam hati (janān).
Sehingga zikir lisan menjadi suatu 'kelalaian' bagi pemilik maqam ini,
sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:
Tidaklah aku menyebut nama-Mu
melainkan sirr (rahasia batin), hati, dan ruhku mencelaku saat aku
mengingat-Mu. Hingga seolah-olah ada pengawas
dari-Mu yang berseru kepadaku: 'Awas engkau! Celaka engkau jika masih
menyebut-nyebut nama-Nya!' Tidakkah engkau melihat bahwa bukti-bukti
Sang Maha Benar telah tampak jelas, dan seluruh maknanya telah menyatu dengan
makna batinnya?
Al-Wasiti memberi isyarat pada maqam
ini dengan berkata: "Orang-orang yang berzikir dalam kondisi zikirnya
justru lebih lalai daripada orang-orang yang melupakan zikir-Nya, karena
zikirnya itu masih selain Diri-Nya."
Maksudnya adalah orang-orang yang
telah berzikir dengan hati, ketika mereka berzikir kepada Allah dengan lisan
mereka, mereka dianggap lebih lalai daripada orang yang meninggalkan zikir
lisan. Sebab, zikir dengan lisan beserta keterpaksaannya menuntut keberadaan
"ego/diri" (an-nafs), dan hal itu adalah bentuk kemusyrikan
(halus), sedangkan syirik lebih buruk daripada kelalaian. Inilah arti dari
perkataannya: "karena zikirnya itu masih selain Diri-Nya",
yaitu karena zikir lisan menuntut adanya kemandirian si pembaca zikir (istiklāl
adz-dzākir), padahal ketentuannya adalah si pembaca zikir itu harus lebur (maḥw)
dalam maqam penyaksian langsung ('iyān).
Syekh Abu Al-Hasan (Asy-Syadzili) radhiyallahu
'anhu berkata: "Hakikat zikir adalah terputusnya pandangan dari
zikir menuju Zat yang Diingat (Al-Madzkūr) dan dari segala sesuatu
selain-Nya." Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: ﴿Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan tekun/sepenuhnya (memutuskan
hubungan dari selain-Nya)﴾ (QS.
Al-Muzzammil: 8).
Syekh Al-Qusyairi radhiyallahu
'anhu berkata: "Zikir adalah masuknya si pembaca zikir ke dalam Zat
yang Diingat-Nya, serta redupnya rahasia batin (sirr) oleh kemunculan
cahaya-Nya." Mengenai makna ini, penyair mendendangkan:
Aku mengingat-Mu bukan karena aku
melupakan-Mu walau sekejap mata ... dan zikir yang paling ringan adalah zikir
lisanku. Aku menjadi mabuk cinta tanpa
kerinduan buatan ... dan hati ini bergetar dalam kerinduan yang mendalam. Maka
ketika kerinduan memperlihatkan kepadaku bahwa Engkau hadir di sisiku ... aku
menyaksikan-Mu ada di setiap tempat. Maka aku menyapa Zat yang Ada tanpa
lewat kata-kata ... dan aku menyaksikan Zat yang Ada tanpa lewat pandangan
mata.
Pada maqam ini, seorang murid
merealisasikan ibadah fikrah (perenungan batin) atau nazhrah
(pandangan batin). Dan perenungan sesaat itu lebih baik daripada ibadah tujuh
puluh tahun. Oleh karena itu, Syekh Abu Al-Abbas radhiyallahu 'anhu
berkata: "Seluruh waktu kami adalah Lailatul Qadar," maksudnya
seluruh ibadah kami dilipatgandakan pahalanya beserta kerahasiaannya dan
perwujudan keikhlasan di dalamnya, sebab tidak ada malaikat yang melihatnya
lalu mencatatnya, dan tidak pula ada setan yang dapat merusaknya. Mengenai hal
tersebut sebagian ulama berkata, dan dikatakan bahwa ini adalah ucapan
Al-Hallaj:
Hati orang-orang yang arif ('ārifīn*) memiliki mata ... yang dapat melihat apa yang
tidak terlihat oleh para pelihat.* Dan lisan-lisan mereka bermunajat membawa
rahasia ... yang tersembunyi dari para malaikat pencatat (Kirāman Kātibīn).
Serta kepakan sayap-sayap yang terbang tanpa bulu ... menuju alam Malakut
Tuhan semesta alam.
Dan aku memberikan dua bait tambahan
(tadzyīl) pada bait-bait di atas dengan berkata:
Dan hati-hati yang mabuk dalam
gejolak kerinduan ... menuju alam Jabarut milik Zat Yang Mahabenar lagi Maha
Menyakinkan. Maka jika pengulangan
makna-makna ini mendatangi kita ... niscaya pengorbanan jiwa darimu terasa
sangat sedikit bagi kami.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.