بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB KELIMA
PERSAHABATAN (AS-SUHBAH / BERGURU)
الْبَابُ الْخَامِسُ
الصُّحْبَةُ
وَلَمَّا كَانَ السَّفَرُ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ دَلِيلٍ ، وَإِلَّا ضَلَّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ افْتَتَحَ الْبَابَ الْخَامِسَ بِذِكْرِ الصُّحْبَةِ وَشُرُوطِ الْمَصْحُوبِ وَآدَابِهَا فَقَالَ :[ لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ] .ا
ا
قُلْتُ : الَّذِي يُنْهِضُكَ حَالُهُ هُوَ الَّذِي إِذَا رَأَيْتَهُ ذَكَرْتَ اللهَ ، فَقَدْ كُنْتَ فِي حَالِ الْغَفْلَةِ ، فَلَمَّا رَأَيْتَهُ نَهَضَ حَالُكَ إِلَى الْيَقَظَةِ ، أَوْ كُنْتَ فِي حَالَةِ الرَّغْبَةِ ، فَلَمَّا رَأَيْتَهُ نَهَضَ حَالُكَ إِلَى الزُّهْدِ ، أَوْ كُنْتَ فِي حَالَةِ الِاشْتِغَالِ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَلَمَّا رَأَيْتَهُ نَهَضَ حَالُكَ إِلَى التَّوْبَةِ ، أَوْ كُنْتَ فِي حَالَةِ الْجَهْلِ بِمَوْلَاكَ فَنَهَضْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ مَنْ تَوَلَّاك وَهَكَذَا . وَالَّذِي يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ هُوَ الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِاللهِ ، وَيَدُلُّ عَلَى اللهِ ، وَيَغِيبُ عَمَّا سِوَاهُ ؛ إِذَا تَكَلَّمَ أَخَذَ بِمَجَامِعِ الْقُلُوبِ ، وَإِذَا سَكَتَ أَنْهَضَكَ حَالُهُ إِلَى عَلَّامِ الْغُيُوبِ ، فَحَالُهُ يُصَدِّقُ مَقَالَهُ ، وَمَقَالُهُ مُوَافِقٌ لِعِلْمِهِ ، فَصُحْبَةُ مِثْلِ هَذَا إِكْسِيرٌ يُقْلِبُ الْأَعْيَانَ ، وَهُوَ مَفْهُومٌ مِنْ قَوْلِ الشَّيْخِ : لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ إِلَخْ : أَيْ بَلِ اصْحَبْ مَنْ يُنْهِضُكَ حَالُهُ ، وَبِذَلِكَ يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ . وَالصُّحْبَةُ فِي طَرِيقِ التَّصَوُّفِ أَمْرٌ كَبِيرٌ فِي السَّيْرِ إِلَى اللهِ تَعَالَى حَسَبَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ اللهِ تَعَالَى وَحِكْمَتُهُ ، حَتَّى قَالَ بَعْضُهُمْ : مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَالشَّيْطَانُ شَيْخُهُ . وَقَالَ آخَرُ : الْإِنْسَانُ كَالشَّجَرَةِ النَّابِتَةِ فِي الْخَلَاءِ ، فَإِنْ لَمْ تُقْطَعْ وَتُقَلَّمْ كَانَتْ دِكَارَةً . وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْعَبَّاسِ الْمُرْسِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : كُلُّ مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فِي هَذَا الشَّأْنِ لَا يُفْرَحُ بِهِ.ا
ا
وَمِنْ شُرُوطِ الشَّيْخِ أَرْبَعَةٌ : عِلْمٌ صَحِيحٌ ، وَذَوْقٌ صَرِيحٌ ، وَهِمَّةٌ عَالِيَةٌ ، وَحَالَةٌ مَرْضِيَّةٌ ، فَالْعِلْمُ الصَّحِيحُ : هُوَ مَا يَتَيَقَّنُ بِهِ فَرْضَهُ ، وَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِالْمَقَامَاتِ وَالْمَنَازِلِ الَّتِي يَقْطَعُهَا الْمُرِيدُ ، وَبِغُرُورِ النَّفْسِ وَمَكَايِدِهَا ، قَدْ سَلَكَ ذَلِكَ عَلَى يَدِ شَيْخٍ كَامِلٍ . وَذَاقَ ذَلِكَ ذَوْقًا لَا تَقْلِيدًا ، وَهُوَ الْمُرَادُ بِالذَّوْقِ الصَّرِيحِ . وَالْهِمَّةُ الْعَالِيَةُ هِيَ الْمُتَعَلِّقَةُ بِاللهِ دُونَ مَا سِوَاهُ . وَالْحَالَةُ الْمَرْضِيَّةُ : وَهِيَ الِاسْتِقَامَةُ بِقَدْرِ الِاسْتِطَاعَةِ ، وَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ جَامِعًا بَيْنَ حَقِيقَةٍ وَشَرِيعَةٍ ، وَبَيْنَ جَذْبٍ وَسُلُوكٍ ، فَبِجَذْبِهِ يَجْذِبُ الْقُلُوبَ وَبِسُلُوكِهِ يُخْرِجُهَا مِنْ حَالَةِ الْجَذْبِ إِلَى الْبَقَاءِ ، فَالسَّالِكُ فَقَطْ ظَاهِرِيٌّ لَا يَجْذِبُ وَلَا يُحَقِّقُ ، وَالْمَجْذُوبُ فَقَطْ لَا يَسِيرُ وَلَا يُوَصِّلُ ، وَفَسَادُ صُحْبَتِهِ أَكْثَرُ مِنْ نَفْعِهَا . قَالَ فِي أُصُولِ الطَّرِيقَةِ : وَمَنْ فِيهِ خَمْسٌ لَا تَصِحُّ مَشْيَخَتُهُ : الْجَهْلُ بِالدِّينِ ، وَإِسْقَاطُ حُرْمَةِ الْمُسْلِمِينَ ، وَدُخُولُ مَا لَا يَعْنِي ؛ وَاتِّبَاعُ الْهَوَى فِي كُلِّ شَيْءٍ ، وَسُوءُ الْخُلُقِ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ اهـ . فَصُحْبَةُ مِثْلِ هَذَا ضَرَرٌ مَحْضٌ وَإِلَيْهِ أَشَارَ بِقَوْلِهِ : [ رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ ] .ا
ا
قُلْتُ : رُبَّ هُنَا لِلتَّكْثِيرِ ، وَصُحْبَتُكَ فَاعِلُ «فَأَرَاكَ» ، وَالْإِحْسَانَ مَفْعُولٌ مُقَدَّمٌ ، وَالتَّقْدِيرُ : رُبَّمَا تَكُونُ مُسِيئًا فِي حَالِكَ مُقَصِّرًا فِي عَمَلِكَ ، فَإِذَا صَحِبْتَ مَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ أَرَاكَ أَيْ أَبْصَرَتْكَ صُحْبَتُكَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ . الْإِحْسَانَ مِنْكَ لِمَا تَرَى مِنْهَا مِنَ الْإِحْسَانِ وَمِنَ الْمَصْحُوبِ مِنَ التَّقْصِيرِ وَالنَّقْصَانِ ، فَتَعْتَقِدُ الْمَزِيَّةَ عَلَيْهِ ، لِأَنَّ النَّفْسَ مَجْبُولَةٌ عَلَى رُؤْيَةِ الْفَضْلِ لَهَا ، وَمُشَاهَدَةِ التَّقْصِيرِ مِنْ غَيْرِهَا عِلْمًا أَوْ عَمَلًا أَوْ حَالًا ، بِخِلَافِ مَا إِذَا صَحِبْتَ مَنْ هُوَ أَحْسَنُ مِنْهَا فَإِنَّهَا لَا تَرَى مِنْ نَفْسِهَا إِلَّا التَّقْصِيرَ ، وَفِي ذَلِكَ خَيْرٌ كَثِيرٌ .ا
Mengingat suatu perjalanan (safar)
mutlak memerlukan seorang penunjuk jalan (dalīl), yang jika tanpa
dirinya seseorang akan tersesat dari jalan yang lurus, maka pengarang membuka
Bab Kelima ini dengan menyebutkan perihal persahabatan (ash-suḥbah),
syarat-syarat sosok yang disahabi/dijadikan guru, serta adab-adabnya. Beliau
berkata:
لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
[Janganlah engkau bersahabat dengan
orang yang keadaannya (ḥāl) tidak membangkitkan semangatmu, dan
perkataannya tidak menunjukkan engkau kepada Allah.]
Aku katakan: Orang yang keadaannya (ḥāl) membangkitkan semangatmu
adalah sosok yang apabila engkau melihatnya, engkau langsung teringat kepada
Allah. Jika sebelumnya engkau berada dalam keadaan lalai, maka ketika
melihatnya, keadaanmu bangkit menuju kesadaran. Atau jika engkau sedang berada
dalam keadaan berhasrat pada dunia, ketika melihatnya keadaanmu bangkit menuju
zuhud. Atau jika engkau sedang sibuk dalam kemaksiatan, ketika melihatnya
keadaanmu bangkit menuju pertobatan. Atau jika engkau dalam keadaan jahil/bodoh
tentang Tuhanmu, engkau pun bangkit menuju makrifat kepada Zat yang
menguasaimu, dan demikian seterusnya.
Adapun sosok yang perkataannya
menunjukkan engkau kepada Allah adalah orang yang berbicara karena/bersama
Allah, menuntun menuju Allah, dan sirna dari segala sesuatu selain-Nya. Jika ia
berbicara, bicaranya menguasai sanubari hati. Jika ia diam, keadaannya
membangkitkan dirimu menuju Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Keadaan
batinnya membenarkan perkataan lahirnya, dan perkataannya sejalan dengan
ilmunya. Maka bersahabat dengan sosok seperti ini ibarat eliksir (ramuan
kimia ajaib) yang sanggup mengubah zat logam biasa menjadi emas.
Pemahaman ini diambil dari konsep
kebalikan (mafhūm) ucapan Syekh: "Janganlah engkau bersahabat
dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu..." yang
artinya: "Bersahabatlah dengan orang yang keadaannya sanggup
membangkitkan semangatmu, dan dengan demikian perkataannya akan menuntunmu
kepada Allah."
Persahabatan/berguru (ash-suḥbah)
dalam jalan tasawuf merupakan perkara yang sangat agung dalam penempuhan jalan
(sainr) menuju Allah Ta'ala, sesuai dengan Sunnatullah dan hikmah-Nya.
Sampai-sampai sebagian ulama berkata: "Barang siapa yang tidak memiliki
guru (syaykh), maka setanlah gurunya."
Ulama lain berkata: "Manusia
itu ibarat pohon yang tumbuh di lahan bebas; jika tidak dipotong dan
dirawat/dipangkas, ia akan menjadi pohon liar yang tidak berbuah."
Syekh Abu Al-Abbas Al-Mursi radhiyallahu
'anhu berkata: "Setiap orang yang tidak memiliki guru dalam urusan
(spiritual) ini, maka tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya."
Di antara syarat-syarat seorang
Guru (Syekh) ada empat:
- Ilmu yang sahih ('ilmun ṣaḥīḥ): Yaitu ilmu yang dengannya ia meyakini
kewajiban-kewajibannya. Ia harus mengetahui maqam-maqam dan tahapan
spiritual yang dilalui seorang murid, serta memahami tipu daya dan
kejahatan nafsu, di mana ia sendiri telah menempuh jalur tersebut di bawah
bimbingan seorang guru yang sempurna.
- Kegaiban/Pengalaman batin yang murni (żawqun ṣarīḥ): Yaitu merasakan pengalaman spiritual tersebut secara
langsung (żawq), bukan sekadar ikut-ikutan (taqlīd).
- Cita-cita yang luhur (himmatun 'āliyah): Yaitu cita-cita yang hanya terikat kepada Allah
semata, bukan kepada selain-Nya.
- Keadaan batin yang diridhai (ḥālatun marḍiyyah): Yaitu istiqamah sejauh kemampuannya. Ia harus
memadukan antara Hakikat dan Syariat, serta antara jażb (tarikan
ilahi) dan sulūk (penempuhan jalan). Melalui tarikan jażb-nya
ia menarik hati para murid, dan melalui sulūk-nya ia membimbing
mereka keluar dari kondisi 'mabuk' jażb menuju maqam baqā'
(kembali sadar dan mantap). Sebab, seorang sālik saja hanya
berfokus pada lahiriah sehingga tidak mampu menarik batin orang lain dan
tidak mampu mengantarkan pada hakikat; sedangkan seorang majżūb
saja tidak mampu menempuh jalan bimbingan dan tidak mampu mengantarkan
murid, bahkan kerusakan dari bersahabat dengannya lebih banyak daripada
manfaatnya.
Disebutkan dalam kitab Uṣūl
aṭ-Ṭarīqah: "Barang siapa memiliki lima perkara ini, maka tidak sah
kepemimpinannya sebagai guru:
- Kebodohan terhadap agama.
- Menggugurkan kehormatan sesama muslim.
- Mencampuri hal-hal yang tidak penting bagi dirinya (mā
lā ya'nī).
- Menuruti hawa nafsu dalam segala hal.
- Akhlak yang buruk tanpa peduli/tanpa rasa malu."
Maka bersahabat dengan orang seperti
ini adalah bahaya murni. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Ataillah dalam
hikmahnya:
رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ
[Bisa jadi engkau berada dalam
posisi berbuat buruk, lalu persahabatanmu dengan orang yang keadaannya lebih
buruk darimu membuatmu memandang buruknya amalmu itu sebagai sebuah kebaikan.]
Aku katakan: Kata rubba di sini berfungsi untuk menunjukkan
banyaknya kejadian (lit-takṡīr). Frasa ṣuḥbatuka (persahabatanmu)
menjadi subjek (fā'il) dari kata arāka (memperlihatkan kepadamu),
sedangkan al-iḥsāna (kebaikan) menjadi objek (maf'ūl) yang didahulukan.
Makna keseluruhannya: Bisa jadi
engkau berada dalam keadaan berbuat buruk dan lalai/kurang dalam beramal. Namun
ketika engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya jauh lebih buruk daripada
dirimu, maka persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk itu memperlihatkan
kepadamu bahwa keburukan yang engkau lakukan adalah suatu kebaikan (iḥsān),
disebabkan engkau melihat kebaikan yang sedikit dari dirimu berbanding terbalik
dengan kekurangan dan keburukan yang ada pada sahabatmu itu. Akhirnya engkau
merasa memiliki kelebihan dibanding dirinya. Hal itu terjadi karena pada
dasarnya nafsu manusia cenderung selalu ingin melihat kelebihan dirinya sendiri
dan memandang kekurangan orang lain, baik dalam hal ilmu, amal, maupun keadaan
batin (ḥāl).
Hal ini sangat berbeda jika engkau
bersahabat dengan orang yang keadaannya jauh lebih baik darimu; niscaya nafsumu
tidak akan melihat dari dirinya melainkan hanya kekurangan belaka (sehingga
engkau selalu terpacu untuk membenahi diri). Dan pada hal demikian terdapat
kebaikan yang sangat banyak.
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الشَّاذِلِيُّ : أَوْصَانِي حَبِيبِي فَقَالَ : لَا تَنْقُلْ قَدَمَيْكَ إِلاَّ حَيْثُ تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ ، وَلاَ تَجْلِسْ إِلاَّ حَيْثُ تَأْمَنُ غَالِبًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ ، وَلاَ تَصْطَفِ لِنَفْسِكَ إِلاَّ مَنْ تَزْدَادُ بِهِ يَقِينًا ، وَقَلِيلٌ مَا هُمْ . وَقَالَ لَهُ أَيْضًا : لاَ تَصْحَبْ مَنْ يُؤْثِرُ نَفْسَهُ عَلَيْكَ فَإِنَّهُ لَئِيمٌ ، وَلاَ مَنْ يُؤْثِرُكَ عَلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ قَلَّ مَا يَدُومُ ، وَاصْحَبْ مَنْ إِذَا ذُكِرَ ذُكِرَ اللهُ ، فَاللَّهُ يُغْنِي بِهِ إِذَا شَهِدَ ، وَيَنُوبُ عَنْهُ إِذَا فَقَدَ ، ذِكْرُهُ نُورُ الْقُلُوبِ ، وَمُشَاهَدَتُهُ مَفَاتِيحُ الْغُيُوبِ . اهـ . ا
ا
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الشَّاذِلِيُّ : أَوْصَانِي حَبِيبِي فَقَالَ : لَا تَنْقُلْ قَدَمَيْكَ إِلاَّ حَيْثُ تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ ، وَلاَ تَجْلِسْ إِلاَّ حَيْثُ تَأْمَنُ غَالِبًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ ، وَلاَ تَصْطَفِ لِنَفْسِكَ إِلاَّ مَنْ تَزْدَادُ بِهِ يَقِينًا ، وَقَلِيلٌ مَا هُمْ . وَقَالَ لَهُ أَيْضًا : لاَ تَصْحَبْ مَنْ يُؤْثِرُ نَفْسَهُ عَلَيْكَ فَإِنَّهُ لَئِيمٌ ، وَلاَ مَنْ يُؤْثِرُكَ عَلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ قَلَّ مَا يَدُومُ ، وَاصْحَبْ مَنْ إِذَا ذُكِرَ ذُكِرَ اللهُ ، فَاللَّهُ يُغْنِي بِهِ إِذَا شَهِدَ ، وَيَنُوبُ عَنْهُ إِذَا فَقَدَ ، ذِكْرُهُ نُورُ الْقُلُوبِ ، وَمُشَاهَدَتُهُ مَفَاتِيحُ الْغُيُوبِ . اهـ . ا
ا
وَحَاصِلُهُ : لاَ تَصْحَبْ مَنْ تَتَكَلَّفُ لَهُ فَوْقَ جُهْدِكَ ، وَلاَ مَنْ يَتَكَلَّفُ لَكَ كَذَلِكَ ، وَخَيْرُ الأُمُورِ أَوْسَاطُهَا ، وَهَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ فِي صُحْبَةِ الإِخْوَةِ . وَأَمَّا صُحْبَةُ الشَّيْخُوَخَةِ فَكُلُّ مَا أَمَرَ بِهِ الشَّيْخُ أَوْ أَشَارَ إِلَيْهِ أَوْ فَهِمْتَ أَنَّهُ يُحِبُّ ذَلِكَ فَلاَبُدَّ أَنْ تُبَادِرَ إِلَيْهِ بِقَدْرِ الإِمْكَانِ وَلَوْ كَانَ مُحَالاً عَادَةً لأَخَذْتَ فِي التَّهَيُّؤِ لِلْفِعْلِ . قَالَ شَيْخُ شُيُوخِنَا سَيِّدِي الْعَرَبِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْفَقِيرُ : الصَّدِيقُ هُوَ الَّذِي إِذَا قَالَ لَهُ شَيْخُهُ ادْخُلْ فِي عَيْنِ الْمِخْيَاطِ لاَ يَتَرَدَّدُ وَيَقُومُ يُبَادِرُ فِي امْتِثَالِ مَا أَمَرَ وَلَوْ كَانَ لاَ يَتَأَتَّى مِنْهُ ذَلِكَ . وَقَالَ أَيْضًا : صَاحِبِي هُوَ الَّذِي نَفْتَلُهُ بِشَعْرَةٍ اهـ . ا
ا
وَقَالَ سَيِّدِي عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِهِ : اعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُقَرِّبُ طَالِبَ اللهِ إِلَى اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ عَارِفٍ بِاللهِ إِنْ وَجَدَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَعَلَيْهِ بِذِكْرِ اللهِ لَيْلاً وَنَهَارًا قَائِمًا وَقَاعِدًا مَعَ الْعُزْلَةِ عَنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، بِعَدَمِ الْجُلُوسِ مَعَهُمْ ، وَعَدَمِ الْكَلاَمِ بِذَلِكَ ، وَعَدَمِ النَّظَرِ فِيهِمْ ، لأَنَّهُمْ سُمٌّ خَارِقٌ ، وَلاَ يُبْعِدُ مِنَ اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ فَقِيرٍ جَاهِلٍ . الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ أَقْبَحُ مِنَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ بِأَلْفِ ضِعْفٍ . الْجُلُوسُ مَعَ الْعَارِفِ بِاللهِ أَفْضَلُ مِنَ الْعُزْلَةِ ، وَالْعُزْلَةُ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْعَوَامِّ الْغَافِلِينَ ، وَالْجُلُوسُ مَعَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ . لاَ شَيْءَ فِي الْوُجُودِ يُسَوِّدُ قَلْبَ الْمُرِيدِ مِثْلُ جَلْسَةٍ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ ، كَمَا أَنَّ الْعَارِفَ بِاللهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَمَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، كَذَلِكَ الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ بِاللهِ رُبَّمَا أَتْلَفَ الْمُرِيدَ عَنْ مَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، فَمَا فَوْقَهَا . وَيَرْحَمُ اللهُ الْمَجْذُوبَ حَيْثُ يَقُولُ فِي بَعْضِ كَلاَمِهِ : الْجَلْسَةُ مَعَ غَيْرِ الأَخْيَارِ تَرُذُّلٌ وَلَوْ تَكُونُ صَافِيًا اهـ . ا
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الشَّاذِلِيُّ : أَوْصَانِي حَبِيبِي فَقَالَ : لَا تَنْقُلْ قَدَمَيْكَ إِلاَّ حَيْثُ تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ ، وَلاَ تَجْلِسْ إِلاَّ حَيْثُ تَأْمَنُ غَالِبًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ ، وَلاَ تَصْطَفِ لِنَفْسِكَ إِلاَّ مَنْ تَزْدَادُ بِهِ يَقِينًا ، وَقَلِيلٌ مَا هُمْ . وَقَالَ لَهُ أَيْضًا : لاَ تَصْحَبْ مَنْ يُؤْثِرُ نَفْسَهُ عَلَيْكَ فَإِنَّهُ لَئِيمٌ ، وَلاَ مَنْ يُؤْثِرُكَ عَلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ قَلَّ مَا يَدُومُ ، وَاصْحَبْ مَنْ إِذَا ذُكِرَ ذُكِرَ اللهُ ، فَاللَّهُ يُغْنِي بِهِ إِذَا شَهِدَ ، وَيَنُوبُ عَنْهُ إِذَا فَقَدَ ، ذِكْرُهُ نُورُ الْقُلُوبِ ، وَمُشَاهَدَتُهُ مَفَاتِيحُ الْغُيُوبِ . اهـ . ا
ا
وَحَاصِلُهُ : لاَ تَصْحَبْ مَنْ تَتَكَلَّفُ لَهُ فَوْقَ جُهْدِكَ ، وَلاَ مَنْ يَتَكَلَّفُ لَكَ كَذَلِكَ ، وَخَيْرُ الأُمُورِ أَوْسَاطُهَا ، وَهَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ فِي صُحْبَةِ الإِخْوَةِ . وَأَمَّا صُحْبَةُ الشَّيْخُوَخَةِ فَكُلُّ مَا أَمَرَ بِهِ الشَّيْخُ أَوْ أَشَارَ إِلَيْهِ أَوْ فَهِمْتَ أَنَّهُ يُحِبُّ ذَلِكَ فَلاَبُدَّ أَنْ تُبَادِرَ إِلَيْهِ بِقَدْرِ الإِمْكَانِ وَلَوْ كَانَ مُحَالاً عَادَةً لأَخَذْتَ فِي التَّهَيُّؤِ لِلْفِعْلِ . قَالَ شَيْخُ شُيُوخِنَا سَيِّدِي الْعَرَبِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْفَقِيرُ : الصَّدِيقُ هُوَ الَّذِي إِذَا قَالَ لَهُ شَيْخُهُ ادْخُلْ فِي عَيْنِ الْمِخْيَاطِ لاَ يَتَرَدَّدُ وَيَقُومُ يُبَادِرُ فِي امْتِثَالِ مَا أَمَرَ وَلَوْ كَانَ لاَ يَتَأَتَّى مِنْهُ ذَلِكَ . وَقَالَ أَيْضًا : صَاحِبِي هُوَ الَّذِي نَفْتَلُهُ بِشَعْرَةٍ اهـ . ا
ا
وَقَالَ سَيِّدِي عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِهِ : اعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُقَرِّبُ طَالِبَ اللهِ إِلَى اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ عَارِفٍ بِاللهِ إِنْ وَجَدَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَعَلَيْهِ بِذِكْرِ اللهِ لَيْلاً وَنَهَارًا قَائِمًا وَقَاعِدًا مَعَ الْعُزْلَةِ عَنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، بِعَدَمِ الْجُلُوسِ مَعَهُمْ ، وَعَدَمِ الْكَلاَمِ بِذَلِكَ ، وَعَدَمِ النَّظَرِ فِيهِمْ ، لأَنَّهُمْ سُمٌّ خَارِقٌ ، وَلاَ يُبْعِدُ مِنَ اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ فَقِيرٍ جَاهِلٍ . الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ أَقْبَحُ مِنَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ بِأَلْفِ ضِعْفٍ . الْجُلُوسُ مَعَ الْعَارِفِ بِاللهِ أَفْضَلُ مِنَ الْعُزْلَةِ ، وَالْعُزْلَةُ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْعَوَامِّ الْغَافِلِينَ ، وَالْجُلُوسُ مَعَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ . لاَ شَيْءَ فِي الْوُجُودِ يُسَوِّدُ قَلْبَ الْمُرِيدِ مِثْلُ جَلْسَةٍ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ ، كَمَا أَنَّ الْعَارِفَ بِاللهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَمَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، كَذَلِكَ الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ بِاللهِ رُبَّمَا أَتْلَفَ الْمُرِيدَ عَنْ مَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، فَمَا فَوْقَهَا . وَيَرْحَمُ اللهُ الْمَجْذُوبَ حَيْثُ يَقُولُ فِي بَعْضِ كَلاَمِهِ : الْجَلْسَةُ مَعَ غَيْرِ الأَخْيَارِ تَرُذُّلٌ وَلَوْ تَكُونُ صَافِيًا اهـ . ا
وَحَاصِلُهُ : لاَ تَصْحَبْ مَنْ تَتَكَلَّفُ لَهُ فَوْقَ جُهْدِكَ ، وَلاَ مَنْ يَتَكَلَّفُ لَكَ كَذَلِكَ ، وَخَيْرُ الأُمُورِ أَوْسَاطُهَا ، وَهَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ فِي صُحْبَةِ الإِخْوَةِ . وَأَمَّا صُحْبَةُ الشَّيْخُوَخَةِ فَكُلُّ مَا أَمَرَ بِهِ الشَّيْخُ أَوْ أَشَارَ إِلَيْهِ أَوْ فَهِمْتَ أَنَّهُ يُحِبُّ ذَلِكَ فَلاَبُدَّ أَنْ تُبَادِرَ إِلَيْهِ بِقَدْرِ الإِمْكَانِ وَلَوْ كَانَ مُحَالاً عَادَةً لأَخَذْتَ فِي التَّهَيُّؤِ لِلْفِعْلِ . قَالَ شَيْخُ شُيُوخِنَا سَيِّدِي الْعَرَبِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْفَقِيرُ : الصَّدِيقُ هُوَ الَّذِي إِذَا قَالَ لَهُ شَيْخُهُ ادْخُلْ فِي عَيْنِ الْمِخْيَاطِ لاَ يَتَرَدَّدُ وَيَقُومُ يُبَادِرُ فِي امْتِثَالِ مَا أَمَرَ وَلَوْ كَانَ لاَ يَتَأَتَّى مِنْهُ ذَلِكَ . وَقَالَ أَيْضًا : صَاحِبِي هُوَ الَّذِي نَفْتَلُهُ بِشَعْرَةٍ اهـ . ا
ا
وَقَالَ سَيِّدِي عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِهِ : اعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُقَرِّبُ طَالِبَ اللهِ إِلَى اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ عَارِفٍ بِاللهِ إِنْ وَجَدَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَعَلَيْهِ بِذِكْرِ اللهِ لَيْلاً وَنَهَارًا قَائِمًا وَقَاعِدًا مَعَ الْعُزْلَةِ عَنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، بِعَدَمِ الْجُلُوسِ مَعَهُمْ ، وَعَدَمِ الْكَلاَمِ بِذَلِكَ ، وَعَدَمِ النَّظَرِ فِيهِمْ ، لأَنَّهُمْ سُمٌّ خَارِقٌ ، وَلاَ يُبْعِدُ مِنَ اللهِ شَيْءٌ مِثْلُ جُلُوسِهِ مَعَ فَقِيرٍ جَاهِلٍ . الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ أَقْبَحُ مِنَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ بِأَلْفِ ضِعْفٍ . الْجُلُوسُ مَعَ الْعَارِفِ بِاللهِ أَفْضَلُ مِنَ الْعُزْلَةِ ، وَالْعُزْلَةُ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْعَوَامِّ الْغَافِلِينَ ، وَالْجُلُوسُ مَعَ الْعَامِّيِّ الْغَافِلِ أَفْضَلُ مِنَ الْجُلُوسِ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ . لاَ شَيْءَ فِي الْوُجُودِ يُسَوِّدُ قَلْبَ الْمُرِيدِ مِثْلُ جَلْسَةٍ مَعَ الْفَقِيرِ الْجَاهِلِ ، كَمَا أَنَّ الْعَارِفَ بِاللهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَمَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، كَذَلِكَ الْفَقِيرُ الْجَاهِلُ بِاللهِ رُبَّمَا أَتْلَفَ الْمُرِيدَ عَنْ مَوْلاَهُ بِنَظْرَةٍ أَوْ بِكَلِمَةٍ ، فَمَا فَوْقَهَا . وَيَرْحَمُ اللهُ الْمَجْذُوبَ حَيْثُ يَقُولُ فِي بَعْضِ كَلاَمِهِ : الْجَلْسَةُ مَعَ غَيْرِ الأَخْيَارِ تَرُذُّلٌ وَلَوْ تَكُونُ صَافِيًا اهـ . ا
Syekh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili berkata: "Kekasihku (guru
spiritualku) mewasiatkan kepadaku seraya berkata:
1. Janganlah engkau melangkahkan kedua kakimu melainkan ke tempat
yang engkau harapkan pahala dari Allah di sana.
2. Janganlah engkau duduk (bergaul) melainkan di tempat yang pada
umumnya engkau merasa aman dari kemaksiatan kepada Allah.
3. Dan janganlah engkau memilih sebagai sahabat karib bagi dirimu
melainkan orang yang dapat menambah keyakinanmu—dan betapa sedikitnya jumlah
mereka!
Dan beliau juga berkata kepadaku:
'Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang lebih mementingkan dirinya
sendiri daripada dirimu, karena ia adalah orang yang tercela (kikir). Dan
jangan pula bersahabat dengan orang yang selalu mementingkan dirimu daripada
dirinya sendiri, karena sikap yang demikian itu jarang bertahan lama. Tetapi
bersahabatlah dengan orang yang apabila ia diingat, maka Allah-lah yang
diingat. Allah akan mencukupi (kebutuhan batinmu) melaluinya jika ia hadir, dan
Allah akan menggantikan kedudukannya jika ia tiada. Mengingatnya adalah cahaya
bagi hati, dan memandangnya adalah kunci untuk membuka hal-hal gaib.'"
Kesimpulannya: Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang membuatmu harus
memaksakan diri (tākalluf) di luar kemampuanmu demi dirinya, dan jangan
pula dengan orang yang memaksakan diri demi dirimu. Sebaik-baik perkara adalah
yang pertengahan. Wallahu a'lam, hukum ini berlaku dalam persahabatan sesama
saudara (persaudaraan/rekan).
Adapun dalam hubungan berguru (suḥbat asy-syaikhūkhah), maka
setiap apa yang diperintahkan oleh Syekh, diisyaratkan olehnya, atau engkau
pahami bahwa ia menyukainya, engkau mutlak harus menyegerakannya sejauh
kemampuanmu. Seandainya hal itu secara adat mustahil sekalipun, engkau harus
tetap mengambil langkah persiapan untuk melaksanakannya.
Guru dari guru-guru kami, Sayyidi Al-Arabi bin Ahmad bin Abdillah Al-Faqir
berkata: "Seorang murid yang jujur/setia (aṣ-ṣiddīq) adalah sosok yang
apabila gurunya berkata kepadanya: 'Masuklah engkau ke dalam lubang jarum!',
maka ia tidak akan ragu sedikit pun dan langsung bangkit menyegerakan untuk
menaati apa yang diperintahkan, meskipun hal tersebut tidak mungkin bisa
dilakukan olehnya." Beliau juga berkata: "Sahabat sejatiku
adalah orang yang dapat kami pintal/kendalikan hanya dengan sehelai
rambut."
Sayyidi Ali radhiyallahu 'anhu berkata dalam kitabnya: "Ketahuilah,
tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan seorang pencari Allah (ṭālib
Allāh) kepada Allah melebihi duduknya ia bersama seorang yang 'Ārif billāh
(mengenal Allah) jika ia menemukannya. Apabila ia tidak menemukannya, maka ia
wajib berzikir kepada Allah siang dan malam, baik saat berdiri maupun duduk,
disertai dengan mengasingkan diri ('uzlah*) dari para pemburu dunia—dengan
tidak duduk bersama mereka, tidak membicarakan urusan mereka, dan tidak
memandang kepada mereka—karena mereka adalah racun yang mematikan. Dan tidak
ada sesuatu pun yang menjauhkan seseorang dari Allah melebihi duduknya ia
bersama seorang 'fakir yang bodoh' (faqīr jāhil / penempuh jalan sufi
tetapi bodoh). Seorang fakir yang bodoh itu seribu kali lebih buruk daripada
orang awam yang lalai.*
Duduk bersama seorang 'Ārif billāh lebih utama daripada 'uzlah
(menyendiri). Menyendiri ('uzlah) lebih utama daripada duduk bersama
orang-orang awam yang lalai. Dan duduk bersama orang awam yang lalai masih
lebih utama daripada duduk bersama seorang fakir yang bodoh. Tidak ada sesuatu
pun di alam semesta ini yang dapat menghitamkan hati seorang murid melebihi
satu majelis bersama seorang fakir yang bodoh. Sebagaimana seorang 'Ārif billāh
dapat menyatukan seorang hamba dengan Tuhannya hanya dengan satu pandangan atau
satu kalimat, demikian pula seorang fakir yang bodoh tentang Allah bisa jadi
membinasakan hubungan seorang murid dari Tuhannya hanya dengan satu pandangan
atau satu kalimat, bahkan lebih dari itu.
Semoga Allah meratai rahmat-Nya kepada Al-Majdzub di mana beliau berkata
dalam sebagian perkataannya: 'Duduk bersama selain orang-orang pilihan (shalih)
adalah suatu kehinaan/kerendahan, meskipun engkau sendiri dalam keadaan
bersih/suci.'"
وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : احْذَرْ صُحْبَةَ ثَلَاثٍ مِنْ أَصْنَافِ النَّاسِ : الْجَبَابِرَةِ الْغَافِلِينَ ، وَالْقُرَّاءِ الْمُدَاهِنِينَ ، وَالْمُتَصَوِّفَةِ الْجَاهِلِينَ اهـ . وَزَادَ الشَّيْخُ زَرُّوقٌ : عُلَمَاءَ الظَّاهِرِ ، قَالَ لِأَنَّ نُفُوسَهُمْ غَالِبَةٌ عَلَيْهِمْ اهـ .ا
ا
قُلْتُ : الْجُلُوسُ مَعَهُمُ الْيَوْمَ أَقْبَحُ مِنْ سَبْعِينَ عَامِّيًّا غَافِلًا وَفَقِيرًا جَاهِلًا ، لِأَنَّهُمْ لَا يَعْرِفُونَ إِلَّا ظَاهِرَ الشَّرِيعَةِ ، وَيَرَوْنَ أَنَّ مَنْ خَالَفَهُمْ فِي هَذَا الظَّاهِرِ خَاطِئٌ أَوْضَالٌ ، فَيَجْهَدُونَ فِي رَدِّ مَنْ خَالَفَهُمْ يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُمْ يَنْصَحُونَ وَهُمْ يَغْشُونَ . فَلْيَحْذَرِ الْمُرِيدُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ وَالْقُرْبِ مِنْهُمْ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإِنْ توقَّفَ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَمْ يَجِدْ مَنْ يَسْأَلُ عَنْهَا مِنْ أَهْلِ الْبَاطِنِ فَلْيَسْأَلْهُ فَلْيَسْأأْلْه عَلَى حَذَرٍ وَيَكُونُ مَعَهُ كَالْجَالِسِ مَعَ الْعَقْرَبِ وَالْحَيَّةِ ، وَاللهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ مِنَ الْفَقَرَاءِ قُرْبَ مِنْهُمْ وَصَحِبَهُمْ فَأَفْلَحَ أَبَدًا فِي طَرِيقِ الخُصُوصِ ، وَيَرْحَمُ اللهُ أَبَا ذَرِّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَيْثُ قَالَ : وَاللهِ لَا أَسْأَلُهُمْ دُنْيَا وَلَا أَسْتَفْتِيهِمْ عَنْ دِينِ ا هـ . قَالَ هَذَا فِي عُلَمَاءِ الصَّحَابَةِ الْأَخْيَارِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ ، فَمَا بَالَكَ الْيَوْمَ حِينَ اشْتَغَلُوا بِجَمْعِ الدُّنْيَا وَتَزْيِينِ الْمَلَابِسِ ، وَتَكْبِيرِ الْعَمَائِمِ ، وَتَحْسِينِ المَأْكِلِ وَالْمَسَاكِنِ وَالْمَرَاكِبِ ، وَرَأَوْا ذَلِكَ سُنَّةً نَبَوِيَّةً ، فَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ .ا
ا
وَكَانَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ لِعُلَمَاءِ وَقْتِهِ : يَا مَعْشَرَ الْعُلَمَاءِ دِيَارُكُمْ هَامَانِيَّةٌ ، وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُونِيَّةٌ ، وَأَطْعِمَتْكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ ، وَوَلَائِمُكُمْ جَالُوتِيَّةٌ ، وَمَوَاسِمُكُمْ جَاهِلِيَّةٌ ، وَقَدْ صَيَّرْتُمْ مَذَاهِبَكُمْ شَيْطَانِيَّةً ، فَأَيْنَ الْمِلَّةُ
الْمُحَمَّدِيَّةُ ؟
Sahl bin Abdullah radhiyallahu
'anhu berkata: "Hindarlah bersahabat dengan tiga golongan manusia:
para penguasa yang lalai, para pembaca Al-Qur'an (ulama) yang menjilat/kompromi
demi kepentingan dunia (al-mudāhinīn), dan kaum sufi yang bodoh."
Syekh Zarruq menambahkan: "Serta ulama zahir," karena menurut
beliau nafsu mereka biasanya lebih mendominasi diri mereka.
Aku katakan: Duduk bersama mereka pada hari ini jauh lebih buruk daripada
bersama tujuh puluh orang awam yang lalai ataupun fakir yang bodoh. Hal itu
karena mereka tidak mengenal kecuali hanya zahir syariat saja, dan mereka
memandang siapa saja yang menyelisihi zahir tersebut sebagai orang yang keliru
atau sesat. Mereka bersusah payah menolak orang yang menyelisihi mereka dengan
keyakinan bahwa mereka sedang menasihati, padahal sebenarnya mereka sedang
menipu (yagsyūn).
Maka hendaklah seorang murid
menjauhi persahabatan dengan mereka dan mendekati mereka sekemampuannya. Jika ia
terbentur pada suatu masalah dan tidak menemukan orang dari kalangan ahlul
batin (ahli makrifat) untuk ditanya, maka silakan ia bertanya kepada mereka
dengan penuh kehati-hatian, dan posisinya bagaikan orang yang duduk bersama
kalajengking dan ular. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang fakir
(penjalan tasawuf) pun yang mendekati dan bersahabat dengan mereka melainkan ia
tidak akan pernah beruntung selamanya dalam jalan khusus (ṭarīq al-khuṣūṣ).
Semoga Allah merahmati Abu Dzar
Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu ketika beliau berkata: "Demi
Allah, aku tidak akan meminta dunia kepada mereka dan aku tidak pula akan
meminta fatwa agama kepada mereka." Perkataan ini diucapkan beliau di
hadapan para ulama dari kalangan sahabat yang mulia radhiyallahu 'anhum.
Lantas bagaimana keadaan ulama pada hari ini, di mana mereka sibuk mengumpulkan
dunia, menghiasi pakaian, membesarkan ukuran serban, memperindah makanan,
tempat tinggal, dan kendaraan, serta menganggap semua itu sebagai sunnah Nabi?
Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Agung.
Yahya bin Mu'adz Ar-Razi radhiyallahu
'anhu biasa berkata kepada para ulama pada masanya:
"Wahai golongan ulama! Tempat
tinggal kalian bergaya Haman (menteri Fir'aun), kendaraan kalian bergaya Qarun,
makanan kalian bergaya Fir'aun, jamuan kalian bergaya Jalut, perayaan kalian
bergaya Jahiliyah, dan kalian telah menjadikan mazhab-mazhab kalian bergaya
setan. Lantas di manakah ajaran agama Nabi Muhammad SAW?"
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.