بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Masuknya Hati ke Hadirat Yang
Maha Suci 3
وقوله : فإن كنت منهم فانضح البر بالبحر : أي فإن كنت من العارفين المحققين فانضح بر شريعتك ببحر حقيقتك بحيث ترش على شريعتك من بحر حقيقتك حتى تغمرها وتغطيها ، فتصير الشريعة عين الحقيقة ، والحقيقة عين الشريعة ، حتى يصير عملك كله بالله ، والله تعالى أعلم ، وبالله التوفيق ، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلى العظيم
وإذا دخل القلب حضرة القدس ومحل الأنس ، فهم دقائق الأسرار ، وملئ بالمواهب والأنوار ، وإلى ذلك أشار بقوله
[ أم كيف يرجو أن يفهم دقائق الأسرار وهو لم يتب من هفواته ]
الرجاء : تمنى الشيء مع السعى فى أسبابه وإلا فهو أمنية . والفهم حصول العلم بالمطلوب ودقائق الأسرار غوامض التوحيد . والتوبة : الرجوع عن كل وصف ذميم إلى كل وصف حميد ، وهذه توبة الخواص . والهفوات : جمع هفوة وهى الزلة والسقطة
قلت : فهم دقائق الأسرار لا يكون أبدا مع وجود الإصرار . أو تقول : فهم غوامض التوحيد لا يكون إلا بقلب فريد ، فمن لم يتب من هفواته ، ويتحرر من رق شهواته ، فلا يطمع فى فهم غوامض التوحيد ، ولا يذوق أسرار أهل التفريد . قال أحمد بن أبي الحوارى : وسمعت شيخى أبا سليمان الدارانى رضى الله عنه يقول إذا اعتادت النفوس ترك الآثام ، جالت فى الملكوت ورجعت إلى صاحبها بطرائف الحكمة من غير أن يؤدى إليها عالم علمًا
قال أحمد بن حنبل : صدقت يا أحمد وصدق شيخك ، ما سمعت فى الإسلام بحكاية أعجب إلى من هذه :« مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ » . وقيل للجنيد رضى الله عنه : كيف الطريق إلى التحقيق ؟ قال بتوبة تزيل الإصرار وخوف يقطع التسويف ، ورجاء يبعث على مسالك العمل ، وإهانة النفس بقربها من الأجل وبعدها من الأمل ، فقيل له بماذا يصل إلى هذا ؟ فقال : بقلب مفرد فيه توحيد مجرد اهـ . فإذا انفرد القلب بالله وتخلص مما سواه فهم دقائق التوحيد وغوامضه التى لا يمكن التعبير عنها ، وإنما هي رموز وإشارات لا يفهمها إلا أهلها ولا تفشى إلا لهم ، وقليل ما هم ، ومن أفشى شيئًا من أسرارها مع غير أهلها فقد أباح دمه وتعرض لقتل نفسه كما قال أبو مدين رضى الله عنه : وَفِى السِّرِّ أَسْرَارٌ دِقَاقٌ لَطِيفَةٌ *** تُرَاقُ دِمَانَا جَهْرَةً لَوْ بِهَا بُحْنَا
وقال آخر
وَلِي حَبِيبٌ عَزِيزٌ لَا أَبُوحُ بِهِ*** أَخْشَى فَضِيحَةَ وَجْهِي يَوْمَ أَلْقَاهُ
وهذه الأسرار هى أسرار الذات وأنوار الصفات التى تجلى الحق بها فى مظهر الأكوان
Dan perkataannya: "Jika engkau termasuk bagian dari mereka, maka percikkanlah
daratan dengan lautan": maksudnya adalah jika engkau termasuk
golongan kaum arifin yang telah mencapai hakikat (muhaqqiqin), maka percikkanlah daratan syariatmu dengan
lautan hakikatmu. Engkau memercikkan lautan hakikat ke atas syariatmu hingga ia
menggenangi dan menutupinya, sehingga syariat menjadi hakikat itu sendiri, dan
hakikat menjadi syariat itu sendiri, sampai seluruh amalmu dilakukan
semata-mata karena Allah. Wallahu Ta'ala A'lam,
dan hanya kepada Allah-lah taufik itu berasal, tidak ada daya dan upaya kecuali
dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Apabila hati telah
memasuki hadirat Yang Maha Suci dan tempat keintiman (mahal al-uns), maka ia akan memahami kelembutan
rahasia-rahasia (daqa'iq al-asrar) serta dipenuhi
dengan anugerah dan cahaya.
Hal ini diisyaratkan oleh perkataannya:
أم كيف يرجو أن يفهم دقائق الأسرار وهو لم يتب من هفواته
"Bagaimana mungkin
seseorang berharap dapat memahami kelembutan rahasia-rahasia, padahal ia belum
bertobat dari kesalahan-kesalahannya?".
Harapan (Al-Raja') adalah menginginkan sesuatu disertai usaha
menempuh sebab-sebabnya; jika tidak disertai usaha, maka itu hanyalah
angan-angan kosong (umniyah). Pemahaman (Al-Fahm) adalah tercapainya pengetahuan
tentang sesuatu yang dicari, sedangkan Kelembutan Rahasia
adalah misteri-misteri ketauhidan yang mendalam. Tobat adalah kembali
dari setiap sifat yang tercela menuju setiap sifat yang terpuji, dan inilah
tobatnya kaum khawash (istimewa). Sedangkan Kesalahan (Al-Hafawat) adalah bentuk jamak dari hafwah, yang berarti kekhilafan atau ketergelinciran.
Aku katakan: Pemahaman
akan kelembutan rahasia tidak akan pernah terjadi selama masih ada sifat keras
kepala dalam dosa (al-ishrar). Atau dapat dikatakan:
Memahami misteri tauhid tidak akan terwujud kecuali dengan hati yang menyendiri
(hanya bersama Allah). Maka barangsiapa yang tidak bertobat dari kesalahannya
dan tidak membebaskan diri dari belenggu syahwatnya, janganlah ia berambisi
untuk memahami misteri tauhid, dan ia tidak akan mencicipi rahasia-rahasia ahli
tafrid (mereka yang menyendirikan Allah).
Ahmad bin Abi
al-Hawari berkata: "Aku mendengar guruku, Abu Sulaiman ad-Darani ra.
berkata: 'Apabila jiwa-jiwa telah terbiasa meninggalkan dosa, maka ia akan
berkelana di alam Malakut dan kembali kepada
pemiliknya dengan membawa keajaiban hikmah tanpa perlu seorang alim mengajarkan
ilmu kepadanya'". Ahmad bin Hanbal berkata: "Engkau benar wahai
Ahmad, dan gurumu pun benar. Dalam Islam, aku belum pernah mendengar riwayat
yang lebih mengagumkan bagiku selain ini: "Barangsiapa mengamalkan
apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia
ketahui".
Ditanyakan kepada
Al-Junayd ra.: "Bagaimana jalan menuju pencapaian hakikat (at-tahqiq)?". Beliau menjawab: "Dengan tobat
yang menghilangkan keinginan terus-menerus dalam dosa, rasa takut yang memutus
sikap menunda-nunda, harapan yang membangkitkan semangat menempuh jalan amal,
dan merendahkan nafsu dengan menyadari dekatnya ajal serta jauhnya
angan-angan". Lalu ditanyakan lagi: "Dengan apa seseorang sampai pada
hal ini?" Beliau menjawab: "Dengan hati yang menyendiri (fokus) yang
di dalamnya terdapat tauhid yang murni". Apabila hati telah menyendiri
bersama Allah dan terbebas dari selain-Nya, maka ia akan memahami kelembutan
tauhid dan misterinya yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. Itu
hanyalah berupa simbol dan isyarat yang tidak dipahami kecuali oleh ahlinya,
dan tidak dibocorkan kecuali kepada mereka, yang jumlahnya sangat sedikit.
Barangsiapa membocorkan sedikit saja dari rahasia tersebut kepada yang bukan
ahlinya, maka ia telah menghalalkan darahnya dan membiarkan dirinya terbunuh,
sebagaimana perkataan Abu Madyan ra.:
Dan di dalam batin (sirr) terdapat rahasia-rahasia yang sangat
lembut***niscaya darah kami akan ditumpahkan secara terang-terangan jika kami
membocorkannya.
Penyair
lain berkata:
Aku memiliki Kekasih yang mulia yang tidak aku bocorkan
rahasia-Nya*** aku khawatir wajahku akan dipermalukan pada hari aku berjumpa
dengan-Nya.
Rahasia-rahasia ini adalah rahasia Dzat dan cahaya
Sifat-Sifat-Nya yang dengannya Al-Haq (Allah) menampakkan diri-Nya dalam
manifestasi alam semesta (al-akwan).
وإلى ذلك أشار بقوله : [ الكون كله ظلمة وإنما أناره ظهور الحق فيه ]
الكون : ما كونته القدرة وأظهرته للعيان ، والظلمة ضد النور وهى عدمية والنور وجودى ، وأناره أى صيره نوراً ، وظهور الحق تجليه .
قلت : الكون من حيث كونيته وظهور حسه كله ظلمة ، لأنه حجاب لمن وقف مع ظاهره عن شهود ربه ، ولأنه سحاب يغطى شمس المعانى لمن وقف مع ظاهر حس الأوانى ، وإليه أشار الششتري بقوله : لا تنظر إلى الأوانى ، وخض بحر المعانى ، لعلك ترانى ، فصار الكون بهذا الاعتبار كله ظلمة ، وإنما أناره تجلى الحق به وظهوره فيه ، فمن نظر إلى ظاهر حسه رآه جسماً ظلمانياً ، ومن نفذ إلى باطنه رآه نوراً ملكوتياً قال الله تعالى :( اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ) . فتحصل أن قول الشيخ الكون كله ظلمة إنما هو فى حق أهل الحجاب ، لانطباع ظاهر صور الأكوان فى مرآة قلوبهم . وأما أهل العرفان ، فقد نفذت بصيرتهم إلى شهود الحق ، فرأوا الكون نوراً فائضاً من بحر الجبروت ، فصار الكون عندهم كله نوراً ، قال الله تعالى :( قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ) . أى من نور ملكوته وأسرار جبروته ، أو من أسرار المعانى القائمة بالأوانى . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إن الله احتجب عن أهل السماء كما احتجب عن أهل الأرض ، وإن أهل الملأ الأعلى ليطلبونه كما تطلبونه أنتم ، وإنه ما حلّ في شيء ولا غاب عن شيء » اهـ
وهذه المعانى إنما هى أذواق لا تدرك بالعقل ولا بنقل الأوراق ، وإنما تدرك بصحبة أهل الأذواق ، فسلم ولا تنتقد
وَإِذَا لَمْ تَرَ الْهِلَالَ فَسَلِّمْ ٭٭٭ لِأُنَاسٍ رَأَوْهُ بِالْأَبْصَارِ
Hal ini diisyaratkan oleh
perkataannya:
الكون كله ظلمة وإنما أناره ظهور الحق فيه
"Alam semesta seluruhnya adalah kegelapan, dan sesungguhnya
yang meneranginya hanyalah penampakan Al-Haq di dalamnya."
Alam semesta (Al-Kawn) adalah apa yang dibentuk oleh Qudrah (kekuasaan
Allah) dan ditampakkan kepada pandangan mata. Kegelapan adalah
lawan dari cahaya; ia bersifat ketiadaan (adamiyah), sedangkan
Cahaya bersifat keberadaan (wujudiy).
Meneranginya berarti menjadikannya bercahaya, dan penampakan Al-Haq adalah tajali-Nya (manifestasi-Nya).
Aku katakan: Alam semesta dari sisi kewujudannya dan penampakan
indrawinya adalah kegelapan total, karena ia menjadi hijab (penghalang) bagi
siapa saja yang hanya berhenti pada tampilan lahiriahnya sehingga terhalang
dari menyaksikan Tuhannya. Ia juga ibarat awan yang menutupi matahari makna bagi
mereka yang terpaku pada bentuk lahiriah bejana-bejana (alam). Hal ini
diisyaratkan oleh Asy-Syusytari dalam perkataannya: "Janganlah
engkau melihat pada bejana-bejananya, tetapi selamilah lautan maknanya, niscaya
engkau akan melihat-Ku." Maka dengan pertimbangan ini, alam
semesta menjadi kegelapan total, dan ia hanya diterangi oleh tajali Al-Haq dan
penampakan-Nya di sana. Siapa yang melihat pada lahiriah indrawinya, ia akan
melihatnya sebagai raga yang gelap; namun siapa yang menembus ke batinnya, ia
akan melihatnya sebagai cahaya malakut. Allah Ta'ala berfirman: "Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi."
Maka kesimpulannya, perkataan Syeikh bahwa "alam semesta
seluruhnya adalah kegelapan" ditujukan bagi mereka yang terhijab
(terhalang), karena tercetaknya gambaran lahiriah alam semesta dalam cermin
hati mereka. Adapun bagi para ahli makrifat (ahlul 'irfan), mata
batin mereka telah menembus hingga menyaksikan Al-Haq. Mereka melihat alam
semesta sebagai cahaya yang meluap dari samudera Jabarut, sehingga
bagi mereka, alam semesta seluruhnya adalah cahaya. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di
bumi!'"
Maksudnya, (perhatikanlah) cahaya malakut-Nya dan
rahasia-rahasia jabarut-Nya, atau rahasia makna yang terkandung dalam
bentuk-bentuk lahiriah. Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sesungguhnya Allah terhijab dari penduduk langit sebagaimana
Dia terhijab dari penduduk bumi. Sesungguhnya penduduk Al-Mala' al-A'la
(malaikat tingkat tinggi) mencari-Nya sebagaimana kalian mencari-Nya. Dan
sesungguhnya Dia tidak bertempat pada sesuatu dan tidak pula absen dari
sesuatu."
Makna-makna ini hanyalah dzauq (rasa
spiritual) yang tidak dapat dicapai dengan akal semata maupun dengan sekadar
menukil lembaran-lembaran kertas. Ia hanya dapat dicapai dengan bersahabat
bersama para ahli dzauq. Maka terimalah dengan pasrah
dan jangan mengkritik:
Jika engkau tidak melihat bulan sabit, maka serahkanlah
(percayalah)*** kepada orang-orang yang telah melihatnya dengan mata kepala
mereka sendiri.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.