بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Masuknya Hati ke Hadirat Yang
Maha Suci 2
أو تقول : وإن لم تقدر على الطهارة الحقيقية التي هي الطهارة الباطنية فانتقل للطهارة المجازية التي هي الطهارة الظاهرية
أو تقول : وإن لم تقدر على طهارة المقربين فانتقل لطهارة أهل اليمين
أو تقول : وإن لم تقدر على طهارة أهل المحبة فانتقل لطهارة أهل الخدمة ، قوم أقامهم الله لخدمته ، وقوم اختصهم بمحبته : كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
فطهارة أهل المحبة الفكرة والنظرة ، وطهارة أهل الخدمة بالمجاهدة والمكابدة ، بين عبادة ظاهرة كصلاة وصيام وذكر وتلاوة وتعليم وغير ذلك ، وبين عبادة خفية كخوف ورجاء وزهد وصبر وورع ورضى وتسليم ورحمة وشفقة ، وغير ذلك مما لا يظهر للعيان ، وهذا هو تصوف أهل الظاهر . وأما تصوف أهل الباطن : فهو الغيبة عن الأكوان بشهود المكون ، أو الغيبة عن الخلق بشهود الملك الحق ، وهو الذي عبر عنه الناظم بماء الغيب ، فكل من لم يدرك تصوف أهل الباطن فهو من أهل التيمم ، فإن كان مشغولاً بالعمل الظاهر كالصلاة والصيام ونحوهما فهو كالمتيمم بالصعيد لظهورها كظهور أثر التراب على الجوارح ، وإن كان مشغولاً بالعبادة الخفية كالزهد والورع ونحوهما فهو كالمتيمم بالصخر ، لعدم ظهورها في الغالب ، كعدم ظهور أثر الصخر
ولما أمرك بالغيبة عن السوى خاف عليك إنكار الواسطة وإسقاط الحكمة ، فتقع في الزندقة فقال : وقدم إماماً كنت أنت إمامه ، والمراد بالإمام هو النبي صلى الله عليه وسلم ، ومن كان على قدمه ممن جمع بين الحقيقة والشريعة ، فأمرك باتباع الشريعة المحمدية في حال غيبتك عن السوى ، فيكون ظاهرك سلوكاً وباطنك جذباً ، ظاهرك مع الحكمة ، وباطنك مع القدرة ، ولابد أن تقتدي بإمام كامل سلك الطريقة على يد شيخ كامل ، يعلمك كيفية العمل بالشريعة ، ويدلك على الحقيقة ، وإلا بقيت مريضاً على الدوام تستعمل طهارة المرضى على الدوام . وانظر قول القرافي رضي الله عنه ، لما سقط على شيخ التربية قال : تيممت بالصعيد زماناً ، والآن سقطت على الماء ، إذ لا تجد ماء
Atau
engkau katakan: Jika engkau tidak mampu melakukan penyucian yang hakiki, yaitu
penyucian batin, maka beralihlah kepada penyucian majazi (kiasan), yaitu
penyucian lahiriah.
Atau engkau katakan: Jika engkau tidak
mampu melakukan penyucian kaum Muqarrabin (orang-orang yang
didekatkan), maka beralihlah kepada penyucian Ash-habul Yamin
(golongan kanan).
Atau engkau katakan: Jika engkau tidak
mampu melakukan penyucian ahli mahabbah (pecinta), maka beralihlah kepada
penyucian ahli khidmah (pelayan), yakni kaum yang Allah tempatkan untuk
berkhidmat kepada-Nya, dan kaum yang Allah khususkan dengan cinta-Nya:
"Kepada masing-masing golongan (baik golongan ini maupun
golongan itu) Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan
Tuhanmu tidak dapat dihalangi." (QS. Al-Isra: 20).
Maka penyucian ahli mahabbah adalah
melalui perenungan (fikrah) dan pandangan mata batin (nazharah). Sedangkan
penyucian ahli khidmah adalah dengan mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) dan
mukabadah
(menanggung kesulitan), baik melalui ibadah lahiriah seperti salat, puasa,
zikir, tilawah, mengajar, dan sebagainya; maupun melalui ibadah yang
tersembunyi seperti rasa takut, harap, zuhud, sabar, wara', rida, taslim
(berserah diri), rahmat, kasih sayang, dan lain sebagainya yang tidak tampak
oleh mata. Inilah yang disebut Tasawuf Ahli Lahir.
Adapun Tasawuf Ahli Batin adalah
lenyapnya kesadaran dari alam semesta (al-akwan) karena
menyaksikan Sang Pencipta (al-Mukawwin), atau lenyap dari
makhluk karena menyaksikan Sang Raja Yang Haq. Inilah yang diungkapkan oleh
penggubah syair dengan istilah "Air Gaib". Maka barangsiapa yang
belum mencapai Tasawuf Ahli Batin, ia termasuk golongan yang bertayammum. Jika
ia disibukkan dengan amal lahiriah seperti salat dan puasa, maka ia ibarat
orang yang bertayammum dengan debu karena amalnya tampak jelas sebagaimana
bekas debu pada anggota tubuh. Dan jika ia disibukkan dengan ibadah batin
seperti zuhud dan wara', maka ia ibarat orang yang bertayammum dengan batu
karena amalnya seringkali tidak tampak jelas, sebagaimana tidak tampaknya bekas
(debu) dari batu.
Ketika penulis memerintahkanmu untuk
lenyap dari selain Allah (al-ghaybah 'an as-siwa), ia
khawatir engkau akan mengingkari perantara (wasithah) dan
menggugurkan hikmah (syariat), sehingga engkau terjerumus ke dalam kezindikan.
Maka ia berkata: "Dan majukanlah seorang imam yang tadinya
engkau adalah imamnya". Yang dimaksud dengan Imam di sini
adalah Nabi ﷺ
dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau, yaitu mereka yang menghimpun
antara hakikat dan syariat. Penulis memerintahkanmu untuk mengikuti Syariat Muhammadiah
saat engkau dalam keadaan lenyap dari selain Allah, sehingga lahiriahmu tetap
dalam suluk (perilaku ibadah) sementara batinmu dalam tarikan (jadzab); lahiriahmu
bersama hikmah (sebab-akibat/syariat) dan batinmu bersama qudrah (ketetapan
Tuhan).
Engkau harus meneladani imam yang
sempurna, yang telah menempuh jalan spiritual di bawah bimbingan guru yang
sempurna, yang akan mengajarkanmu tata cara mengamalkan syariat dan
menunjukkanmu kepada hakikat. Jika tidak, engkau akan selamanya tetap menjadi "orang
sakit" yang terus-menerus menggunakan penyuciannya orang sakit (tayammum).
Lihatlah perkataan Al-Qarafi ra. ketika ia bertemu dengan guru pendidik (Syaikh at-Tarbiyah),
ia berkata: "Aku telah bertayammum
dengan debu dalam waktu yang lama, dan sekarang aku telah menemukan air",
karena ia tidak menemukan air (sebelumnya).
قال : تيممت بالصعيد زماناً ، والآن سقطت على الماء ، إذ لا تجد ماء الغيب ولا تقدر على استعماله إلا بصحبة أهل هذا الماء الذين شربوه وسكروا به ، ثم صحوا من سكرتهم ، وسلكوا من جذبتهم ، فتملكهم زمام أمرك وتنقاد إليهم بكليتك ، بعد أن أطلعك الله على خصوصيتهم ، وكشف لك عن أسرارهم ، فشهدت لهم روحك بالتقديم وسرك بالتعظيم ، فتقدمهم أمامك بعد أن كنت أنت إمامهم ، وهم يطلبونك للحضرة ، وكذلك النبي صلى الله عليه وسلم كان يدعو الناس إلى الله وهم فارون أمامه ، فلما عرفوا الحق قدموه أمامهم ، وهذا معنى قوله : كنت أنت إمامه ، وقوله : وصل صلاة الفجر في أول العصر ، وفي بعض النسخ : وصل صلاة الظهر في أول العصر : أي اجمع ظهر الشريعة لعصر الحقيقة ، وفي أكثر النسخ : وصل صلاة الفجر في أول العصر : أي ارجع إلى البقاء بعد كمال الفناء ، أو إلى السلوك بعد الجذب ، إذ الغالب على المريد أن يتقدمه السلوك ثم يأتيه الجذب ، فأوله سلوك وآخره جذب ، كما أن أول النهار صلاة الفجر وآخره صلاة العصر : أي ارجع إلى صلاة الفجر التي كانت في أول نهارك فصلها في آخر نهارك ، فارجع إلى السلوك الذي كان في أول أمرك فاجعله في آخر أمرك ، وهو معنى قولهم منتهى الكمال مبدأ الشرائع . وقالوا أيضاً نهاية السالكين بداية المجذوبين ، ونهاية المجذوبين بداية السالكين . وقالوا أيضاً : علامة النهاية الرجوع إلى البداية وسيأتي الكلام على هذا في محله إن شاء الله ، وقوله : . فهذي صلاة العارفين بربهم ، لأنهم تطهروا الطهارة الأصلية وصلوا الصلاة الدائمة . قال الله تعالى :( الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ )
فالعوام حد صلاتهم أوقاتهم ، والعارفون في الصلاة على الدوام . قيل لبعضهم هل للقلوب صلاة ؟ فقال نعم ، إذا سجد لا يرفع رأسه أبداً : أي إذا سجدت الروح لهيبة الجلال والجمال لا ترفع رأسها أبداً ، وإليه أشار الششتري بقوله
فَاسْجُدْ لِهَيْبَةِ الجَلَالِ عِنْدَ التَّدَانِي ... وَلْتَقْرَأْ آيَةَ الكَمَالِ سَبْعَ المَثَانِي
Ia berkata: "Aku telah bertayamum dengan debu dalam waktu yang lama, dan
sekarang aku telah menemukan air". Sebab, engkau tidak akan
menemukan "Air Gaib" dan tidak akan mampu menggunakannya kecuali
dengan bersahabat (berguru) kepada ahli waris air ini, yaitu mereka yang telah
meminumnya dan merasakan "mabuk" (fana) karenanya, kemudian mereka
sadar dari mabuknya dan kembali menempuh jalan (suluk) dari tarikan
jadzabnya. Maka engkau serahkan kendali urusanmu kepada mereka dan tunduklah
kepada mereka sepenuhnya, setelah Allah memperlihatkan kepadamu keistimewaan
mereka dan menyingkapkan rahasia-rahasia mereka. Rohmu pun bersaksi untuk
mendahulukan mereka dan rahasia batinmu mengagungkan mereka; maka engkau
memajukan mereka di depanmu setelah sebelumnya engkaulah yang menjadi
"imam" bagi dirimu sendiri.
Mereka membimbingmu
menuju Hadirat Tuhan. Demikian pula Nabi ﷺ
senantiasa mengajak manusia kepada Allah sementara mereka lari dari hadapannya;
namun ketika mereka telah mengenal Kebenaran (Al-Haq), mereka pun memajukan
beliau di depan mereka. Inilah makna perkataan: "Engkau memajukan imam
yang tadinya engkau adalah imamnya".
Adapun perkataan: "Dan kerjakanlah salat Fajar di awal waktu Ashar"
(dalam sebagian naskah tertulis: "Salat Zuhur di awal waktu
Ashar") artinya: Himpunlah "Zuhur" Syariat ke dalam
"Ashar" Hakikat. Dalam kebanyakan naskah, maknanya adalah: Kembalilah
kepada kondisi Baqa' (kekekalan bersama Allah)
setelah sempurnanya Fana' (kebinasaan diri), atau
kembalilah kepada Suluk (perilaku disiplin lahiriah)
setelah mengalami Jadzab (tarikan spiritual). Sebab,
umumnya seorang murid memulai dengan Suluk lalu datanglah
Jadzab; awalnya adalah suluk dan akhirnya adalah
jadzab.
Sebagaimana awal siang
adalah salat Fajar dan akhirnya adalah salat Ashar, maknanya: Kembalilah kepada
"salat Fajar" yang ada di awal siangmu untuk engkau kerjakan di akhir
siangmu. Kembalilah pada perilaku Suluk yang ada di
awal urusanmu untuk engkau terapkan di akhir urusanmu. Inilah maksud dari
perkataan ulama: "Puncak kesempurnaan adalah kembali ke
titik awal syariat". Dikatakan pula: "Akhir
perjalanan para pejalan (salikin) adalah awal bagi orang yang ditarik
(majdzubin), dan akhir bagi orang yang ditarik adalah awal bagi para
pejalan". Dikatakan juga: "Tanda pencapaian akhir
adalah kembali ke permulaan".
Perkataan: "Itulah salat bagi mereka yang mengenal Tuhannya",
karena mereka telah bersuci dengan penyucian yang asli dan melaksanakan salat
yang abadi. Allah Ta'ala berfirman: "Mereka yang tetap setia
melaksanakan salatnya secara terus-menerus" (QS. Al-Ma'arij:
23).
Bagi orang awam,
batasan salat mereka adalah waktu-waktunya, sedangkan bagi para Arifin (orang yang mengenal Allah), mereka senantiasa
dalam keadaan salat setiap saat. Pernah ditanyakan kepada sebagian mereka: "Apakah hati itu memiliki salat?" Ia
menjawab: "Ya, jika ia sujud, ia tidak akan mengangkat kepalanya
selamanya". Artinya, jika roh telah sujud di hadapan kewibawaan
Keagungan (Jalal) dan Keindahan (Jamal) Tuhan, ia
tidak akan pernah mengangkat kepalanya lagi. Hal ini diisyaratkan oleh
Asy-Syusytari dalam syairnya:
"Sujudlah pada kewibawaan
Al-Jalal saat mendekat... dan bacalah ayat kesempurnaan, yaitu Sab'ul Matsani
(Al-Fatihah)."
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.