بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Tajul ‘Arus Bab 20:
Ilmu yang Bermanfaat 1
العلم النافع
واعلم رحمك الله تعالى أن العلم حيث ما تكرر في الكتاب العزيز أو في السنة المطهرة إنما المراد به العلم النافع الذي تقارنه الخشية، وتكتنفه المخافة، قال الله تعالى: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾ فبين أن العلم تلازمه الخشية فالعلماء هم أهل الخشية وكذلك قوله تعالى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ﴾ وقوله تعالى: ﴿الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ﴾ وقوله تعالى: ﴿وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾ وقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «العلماء ورثة الأنبياء»، إنما المراد بالعلم في هذه المواطن كلها العلم النافع، القاهر للهوى القامع للنفس، وذلك متعين بالضرورة لأن كلام الله تعالى، وكلام رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أجلّ من أن يحمل على غيرها
العلم النافع هو الذي يستعان به على الطاعة ويلزم الخشية من الله تعالى والوقوف على حدود الله تعالى وهو علم المعرفة بالله تعالى ولكن من استرسل بإطلاق التوحيد ولم يتقيد بظواهر الشريعة فقد قذف به في بحر الزندقة، ولكن الشأن أن يكون بالحقيقة مؤيدًا، وبالشريعة مقيدًا، وكذلك المحقق فلا يكون منطلقًا مع الحقيقة، ولا واقفًا مع ظاهر إسناد الشريعة وكان بين ذلك قوامًا، فالوقوف مع ظاهر الإسناد شرك؛ والانطلاق مع الحقيقة من غير تقيد بالشريعة تعطيل، ومقام الهداية فيما بين ذلك، وكل علم تسبق إليك فيه الحواجز، وتتبعها الصور وتميل إليه النفس وتلتذ به الطبيعة
فارم به وإن كان حقا وخذ بعلم الله الذي أنزله على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم واقتد به وبالخلفاء من بعده وبالصحابة والتابعين من بعدهم وبالهداة إلى الله تعالى الأئمة المبرئين من الهوى، ومتابعيهم تسلم من الشكوك والظنون والأوهام والوساوس والدعاوى الكاذبة المضلة عن الهدى وحقائقه
Ketahuilah, semoga
Allah merahmatimu, bahwa kata "ilmu" di mana pun ia diulang dalam
Al-Qur'an yang mulia atau dalam Sunnah yang suci, maksudnya adalah ilmu yang bermanfaat; yaitu ilmu yang dibarengi dengan
rasa takut (khasyah) dan diliputi oleh rasa hormat kepada Allah.
Allah Ta'ala
berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama." (QS. Fatir: 28). Maka
Allah menjelaskan bahwa ilmu itu selalu beriringan dengan rasa takut, sehingga
para ulama adalah mereka yang memiliki rasa takut. Demikian pula firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu
sebelumnya...", firman-Nya: "Orang-orang yang mendalam
ilmunya", firman-Nya: "Dan katakanlah: Ya
Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu", serta sabda Nabi SAW: "Ulama adalah pewaris para nabi."
Maksud dari
"ilmu" dalam semua konteks ini adalah ilmu yang bermanfaat, yang
mampu menundukkan hawa nafsu dan mengekang keinginan diri. Hal ini merupakan
sebuah keniscayaan karena kalam Allah dan sabda Rasul-Nya terlalu agung untuk
dimaknai selain itu.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membantu seseorang untuk
taat, mengharuskan adanya rasa takut kepada Allah, dan menjaga
batasan-batasan-Nya. Ia adalah ilmu tentang ma'rifatullah
(mengenal Allah). Namun, barangsiapa yang terlalu jauh dalam pembahasan tauhid
tanpa terikat dengan syariat yang nyata (zahir), maka ia
telah terjerumus ke dalam lautan kezindiqan (penyimpangan agama).
Seharusnya, seseorang
itu didukung oleh Hakikat namun tetap terikat oleh Syariat. Demikian pula seorang peneliti kebenaran (muhaqqiq), ia tidak boleh lepas kendali dengan hakikat
saja, dan tidak pula hanya terpaku pada aspek lahiriah syariat saja, melainkan
berada di jalan tengah yang lurus.
Sebab, terpaku hanya
pada lahiriah (tanpa esensi) adalah kesyirikan (dalam konteks tertentu/samar),
sedangkan lepas kendali bersama hakikat tanpa terikat syariat adalah ta'thil (meniadakan aturan agama). Kedudukan hidayah
itu berada di antara keduanya. Setiap ilmu yang di dalamnya terdapat penghalang
yang mendahuluimu, diikuti oleh gambaran-gambaran, dan jiwa cenderung padanya
serta tabiat merasa lezat dengannya. Maka buanglah hal itu (ilmu yang tidak
bermanfaat) meskipun terlihat benar, dan ambillah ilmu Allah yang diturunkan
kepada Rasulullah ﷺ.
Ikutilah beliau, para khalifah setelahnya, para sahabat, tabi'in, serta para
pemberi petunjuk kepada Allah—yaitu para imam yang dibersihkan dari hawa
nafsu—dan orang-orang yang mengikuti mereka. Dengan begitu, engkau akan selamat
dari keraguan, prasangka, waham (khayalan), waswas, serta klaim-klaim palsu
yang menyesatkan dari petunjuk dan hakikat kebenaran.
وحسبك من العلم النافع العلم بالوحدانية،ومن العلم محبة الله تعالى ومحبة رسوله صلى الله عليه وآله وسلم ومحبة الصحابة واعتقاد الحق للجماعة، وإذا أردت أن يكون لك نصيب مما لأولياء الله تعالى فعليك برفض الناس جملة إلا من يدلك على الله تعالى إما بإشارة صادقة أو بأعمال ثابتة لا ينقضها كتاب ولا سنة، فارفع همتك إلى مولاك واشتغل به دون غيره
سمعت الشيخ أبا العباس المرسي يقول (والله ما رأيت العز إلا في رفع الهمة عن الخلق) واذكر رحمك الله ها هنا قوله سبحانه وتعالى: ﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ﴾ فمن العز الذي أعز الله به المؤمن، رفع همته إلى مولاه وثقته به دون ما سواه، واستح من الله بعد أن يكون كساك حلة الإيمان، وزينك بزينة العرفان، أن تستولي عليك الغفلة والنسيان حتى تميل إلى الأكوان، أو تطلب من غيره وجود الإحسان، وقبيح بالمؤمن أن ينزل حاجته بغير مولاه، مع علمه بوحدانيته وانفراده بربوبيته، وهو يسمع قوله تعالى: ﴿أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ﴾ وليذكر قوله: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾، ومن العقود التي عاقدته عليها أن لا ترفع حوائجك إلا إليه ولا تتوكل إلا عليه
Cukuplah bagimu ilmu
yang bermanfaat itu adalah ilmu tentang keesaan Allah (Tauhid), dan di antara
ilmu tersebut adalah mencintai Allah Ta'ala, mencintai Rasul-Nya ﷺ, mencintai para sahabat, serta meyakini kebenaran al-jama'ah. Jika engkau ingin mendapatkan bagian dari
apa yang dimiliki oleh para wali Allah, maka hendaknya engkau meninggalkan
ketergantungan kepada manusia secara total, kecuali kepada orang yang
menunjukkanmu kepada Allah, baik melalui isyarat yang jujur maupun amal nyata
yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Maka angkatlah cita-citamu
(himmah) hanya kepada Tuanmu (Allah) dan sibukkanlah
dirimu dengan-Nya, bukan dengan yang lain.
Aku mendengar Syekh
Abu al-Abbas al-Mursi berkata: "Demi Allah, tidaklah aku melihat kemuliaan
kecuali dalam mengangkat cita-cita (melepaskan ketergantungan) dari
makhluk." Dan ingatlah—semoga Allah merahmatimu—firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala: "Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya
dan bagi orang-orang mukmin" (QS. Al-Munafiqun: 8). Di antara
kemuliaan yang diberikan Allah kepada seorang mukmin adalah ia mengangkat
cita-citanya kepada Tuhannya dan hanya percaya kepada-Nya, bukan kepada
selain-Nya.
Merasa malulah kepada
Allah, setelah Dia memakaikanmu pakaian iman dan menghiasimu dengan hiasan ma'rifat (mengenal Allah), jika engkau masih dikuasai
oleh kelalaian dan lupa hingga condong kepada makhluk (alkawn), atau mencari kebaikan dari selain-Nya. Sangat
buruk bagi seorang mukmin jika ia mengadukan kebutuhannya kepada selain
Tuhannya, padahal ia mengetahui keesaan-Nya dan kesendirian-Nya dalam sifat
ketuhanan (rububiyah), sementara ia mendengar firman-Nya: "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?"
(QS. Az-Zumar: 36). Dan hendaknya ia mengingat firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji
itu" (QS. Al-Maidah: 1). Di antara janji yang engkau sepakati
dengan-Nya adalah bahwa engkau tidak akan mengangkat kebutuhanmu kecuali
kepada-Nya dan tidak bertawakal kecuali kepada-Nya.
ورفع الهمة عن الخلق هو ميزان الفقراء ﴿وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ﴾، فيظهر الصادق بصدقه والمدعى بكذبه، وقد ابتلى الله تعالى بحكمته ووجود منته، الفقراء الذين ليسوا بصادقين بإظهار ما كمنوه من الرغبة وأسروه من الشهوة فابتذلوا أنفسهم لأبناء الدنيا مباسطين لهم، موافقين لهم على مآربهم مدفوعين عن أبوابهم، فترى الواحد منهم يتزين كما تتزين العروس معتنون بإصلاح ظواهرهم غافلون عن إصلاح سرائرهم ولقد وسمهم الحق وسمة كشف بها عوارهم وأظهر أخبارهم بعد أن كانت نسبتهم إلى الله فلو أنه صدق مع الله لحقّ أن يقال له عبد الكبير، فخرج عن هذه النسبة فصار يقال له شيخ الأمير. أولئك الكاذبون على الله تعالى الصادون العباد عن صحبة أولياء الله. ما يشهده العوام منهم يحملونه على كل منتسب إلى الله صادق وغير صادق فهم حجب أهل التحقيق وسحب شمس أهل التوفيق، ضربوا طبولهم ونشروا أعلامهم ولبسوا دروعهم، فإذا وقعت الحملة ولو على أعقابهم ناكصين ألسنتهم منطلقة بالدعوى، وقلوبهم خالية من التقوى ألم يسمعوا قوله سبحانه وتعالى: ﴿لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ﴾ أترى إذا سأل الصادقين أيترك المدعين من غير سؤال، ألم يسمعوا قوله تعالى: ﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ فهم في إظهار زي الصادقين وعملهم عمل المعرضين، قال الله تعالى ﴿وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا
Mengangkat cita-cita
(melepaskan ketergantungan) dari makhluk adalah timbangan bagi para al-fuqara (orang-orang yang fakir di hadapan Allah),
sebagaimana firman-Nya: "Dan tegakkanlah timbangan
itu dengan adil." (QS. Ar-Rahman: 9). Dengan timbangan inilah
nampak jelas mana orang yang tulus dengan kejujurannya dan mana pendusta dengan
kebohongannya.
Allah Ta'ala dengan
hikmah dan karunia-Nya telah menguji orang-orang yang mengaku "fakir"
namun tidak jujur, dengan menampakkan apa yang mereka sembunyikan berupa ambisi
keduniawian dan syahwat yang mereka rahasiakan. Mereka merendahkan diri di
hadapan budak-budak dunia, bersikap manis demi mendapatkan keinginan mereka,
namun sebenarnya mereka terusir dari pintu rahmat Allah.
Engkau akan melihat
salah satu dari mereka bersolek layaknya pengantin; mereka sangat perhatian
dalam memperbaiki penampilan lahiriah namun lalai dalam memperbaiki rahasia
batin mereka. Allah telah memberi mereka tanda yang menyingkap aib mereka dan
membongkar kedok mereka. Padahal sebelumnya mereka dianggap memiliki nisbah
(hubungan) kepada Allah, sehingga jika ia jujur kepada Allah maka ia layak
disebut "Hamba Sang Maha Besar" (Abdul Kabir). Namun
karena ia keluar dari kejujuran ini, ia justru disebut "Syekh-nya sang
Penguasa/Amir".
Mereka itulah
orang-orang yang berdusta atas nama Allah dan menghalang-halangi hamba-hamba
Allah lainnya untuk bersahabat dengan para wali Allah yang asli. Apa yang disaksikan
orang awam dari perilaku buruk mereka, akhirnya disamaratakan kepada setiap
orang yang menisbatkan diri kepada Allah, baik yang jujur maupun yang tidak.
Mereka adalah penghalang bagi para ahli hakikat (ahlul tahqiq) dan
awan mendung bagi matahari orang-orang yang mendapat taufik.
Mereka menabuh
genderang, mengibarkan bendera, dan memakai baju zirah (secara simbolis
menunjukkan kehebatan), namun ketika ujian/serangan datang, mereka lari
terbirit-birit. Lidah mereka fasih bicara tentang klaim-klaim spiritual, namun
hati mereka kosong dari ketakwaan.
Tidakkah mereka
mendengar firman Allah: "Agar Dia menanyakan
kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka." (QS.
Al-Ahzab: 8). Jika orang yang jujur saja masih ditanya, apakah engkau mengira
para pendusta akan dibiarkan tanpa pertanyaan? Tidakkah mereka mendengar
firman-Nya: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. At-Tawbah: 105).
Mereka menampakkan
pakaian orang-orang yang benar, namun perbuatan mereka adalah perbuatan
orang-orang yang berpaling. Allah Ta'ala berfirman: "Dan
masuklah ke rumah-rumah itu melalui pintu-pintunya." (QS.
Al-Baqarah: 189).
Poin Utama Halaman Ini:
- Sumber Ilmu: Mengikuti Rasulullah, Sahabat, dan ulama yang bersih
dari hawa nafsu untuk menghindari kesesatan pikiran.
- Kemandirian Spiritual: Melepaskan ketergantungan hati dari makhluk dan hanya
berharap kepada Allah (Tajrid).
- Kemuliaan Mukmin: Terletak pada kedekatan dan rasa cukupnya hamba kepada
Tuhannya tanpa perlu berpaling kepada selain-Nya.
-
Kritik terhadap Kepalsuan: Penulis mengecam mereka yang hanya mencari kedudukan duniawi
dengan menggunakan topeng spiritualitas.
-
Fitnah bagi Agama: Perilaku "ulama" atau "syekh" palsu merusak
citra para kekasih Allah yang sebenarnya di mata masyarakat awam.
- Pertanggungjawaban: Semua klaim spiritual akan diuji oleh Allah di akhirat kelak.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.