Al-Ta'arruf li-Madzhab Ahl
al-Tashawwuf
(Mengenal Madzhab Ahli Tasawuf)
Karya Imam Abi Bakr Muhammad
bin Ishaq al-Bukhari al-Kalabadzi
Segala puji bagi
Allah, yang berhijab dengan keagungan-Nya dari jangkauan pandangan mata; yang
perkasa dengan keagungan dan kekuasaan-Nya dari persangkaan yang menyertai;
yang tunggal Zat-Nya dari keserupaan dengan zat makhluk-makhluk; yang Maha Suci
sifat-sifat-Nya dari sifat-sifat makhluk yang baru; Yang Maha Terdahulu (Qadim)
yang tiada bermula dan Maha Kekal yang tiada berakhir; Yang Maha Tinggi dari
keserupaan, tandingan, dan bentuk-bentuk.
Dialah yang
menunjukkan kepada makhluk-Nya akan keesaan-Nya melalui tanda-tanda dan
ayat-ayat-Nya; yang memperkenalkan diri-Nya kepada para kekasih-Nya
(wali-wali-Nya) dengan nama-nama, sifat-sifat, dan keagungan-Nya; yang
mendekatkan rahasia batin mereka kepada-Nya; yang memalingkan hati mereka untuk
cenderung kepada-Nya; yang menerima mereka dengan kelembutan-Nya dan menarik
mereka kepada-Nya dengan kasih sayang-Nya. Dia telah menyucikan rahasia batin
mereka dari kekotoran hawa nafsu, dan memuliakan kedudukan mereka dari sekadar
mengikuti formalitas adat kebiasaan.
Dia memilih siapa saja
di antara mereka yang Dia kehendaki untuk mengemban risalah-Nya, dan menyaring
siapa yang Dia kehendaki untuk menerima wahyu dan menjadi utusan-Nya. Dia
menurunkan kitab-kitab kepada mereka yang berisi perintah dan larangan,
menjanjikan pahala bagi yang taat, dan mengancam dengan siksa bagi yang
bermaksiat. Dia menjelaskan keutamaan mereka di atas seluruh manusia, dan
mengangkat derajat mereka hingga tidak dapat dicapai oleh kedudukan orang yang
memiliki pengaruh besar sekalipun.
Dia menutup para
utusan tersebut dengan Nabi Muhammad—semoga rida, selawat, dan salam tercurah
kepadanya dan kepada mereka semua—serta memerintahkan untuk beriman dan
berserah diri (Islam) kepadanya. Maka agamanya adalah sebaik-baik agama, dan
umatnya adalah sebaik-baik umat; tidak ada penghapusan (nasakh) bagi
syariatnya, dan tidak ada umat lagi setelah umatnya.
Di antara umatnya,
Allah menjadikan orang-orang pilihan, insan-insan terbaik, mulia, dan berbakti.
Telah terdahulu bagi mereka ketetapan kebaikan (al-husna) dari Allah, dan Allah
mewajibkan kepada mereka kalimat takwa. Dia memalingkan jiwa mereka dari
keduniawian; kesungguhan (mujahadah) mereka terbukti benar sehingga mereka
meraih ilmu-ilmu pelajaran ('ulum ad-dirasah),
dan interaksi (mu'amalah) mereka tulus di atasnya
sehingga mereka dianugerahi ilmu-ilmu warisan para nabi ('ulum al-wiratsah). Sanubari mereka bersih sehingga
mereka dimuliakan dengan kebenaran firasat (firasah). Kaki
mereka teguh, pemahaman mereka suci, dan jalan petunjuk mereka terang
benderang.
Maka mereka paham
tentang Allah, berjalan menuju Allah, dan berpaling dari segala sesuatu selain
Allah. Cahaya-cahaya mereka menembus tirai-tirai penghalang, rahasia batin
mereka berkelana di sekitar Arsy, kedudukan mereka agung di sisi Pemilik Arsy,
dan pandangan mereka buta dari segala hal di bawah Arsy.
Secara fisik mereka
adalah jasad, namun secara batin mereka adalah ruhani; di bumi mereka bersifat
samawi (langit), dan di tengah makhluk mereka bersifat rabbani. Mereka adalah
orang-orang yang banyak diam namun tajam pengamatannya; mereka tampak gaib
(tidak menonjol) padahal sejatinya hadir; mereka adalah raja-raja yang
berpakaian compang-camping; mereka berasal dari berbagai suku yang terasing,
pemilik keutamaan, dan cahaya dari petunjuk-petunjuk.
Telinga mereka tajam
mendengar (kebenaran), rahasia batin mereka jernih, dan sifat-sifat mereka
tersembunyi. Mereka adalah golongan pilihan (shafwiyyah), ahli
sufi (shufiyyah), bercahaya (nuriyyah), dan suci
(shafiyyah). Mereka adalah titipan-titipan Allah di
antara makhluk-Nya, pilihan-Nya di alam semesta, wasiat-wasiat-Nya kepada
Nabi-Nya, dan rahasia-rahasia-Nya yang tersimpan pada hamba pilihan-Nya.
Di masa hidup Nabi,
mereka adalah Ahl al-Shuffah (para penghuni serambi masjid), dan
setelah wafatnya beliau, mereka adalah sebaik-baik umatnya. Orang yang pertama
senantiasa menyeru orang yang kedua, dan orang yang terdahulu menyeru orang
yang datang kemudian melalui lisan perbuatannya (keteladanan), yang mana hal
itu sudah cukup bagi mereka tanpa perlu banyak kata.
.Hingga akhirnya
gairah (terhadap ilmu/tasawuf) menipis dan pencarian pun melemah. Keadaan
kemudian berubah menjadi sekadar tanya-jawab, serta tumpukan buku dan
surat-menyurat. Padahal, makna-makna sejati dahulu begitu dekat bagi para
pemiliknya, dan dada mereka pun begitu lapang untuk memahaminya.