Karya
Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi
Bab 6.
AJARAN KAUM SUFI TENTANG
SIFAT-SIFAT TUHAN
الباب السَّادس
شَرْحُ قَوْلِهِمْ فِي الصِّفَات
أجمعوا على أنَّ لله صفاتٍ على الحقيقة هو بها موصوفٌ: من العلمِ، والقُدْرَةِ، والقُوَّةِ، والعِزِّ، والحِلْمِ، والحِكْمَةِ، والكِبْرِياءِ، والجَبَرُوتِ، والقِدَمِ، والحَياةِ، والإِرادَةِ، والمَشِيئَةِ، والكَلامِ.
وأنها ليست بأجسامٍ، ولا أعراضٍ، ولا جواهرَ، كما أنَّ ذاته ليس بجسمٍ ولا عَرَضٍ ولا جوهرٍ.
وأنَّ له سمعًا، وبصرًا، ووجهًا، ويدًا، على الحقيقة، ليس كالأَسْماع والأبصار والأَيْدي والوجوه.
وأجمعوا أنها صفاتٌ لله وليست بجوارحَ، ولا أعضاءٍ ولا أجزاءٍ.
وأجمعوا أنها ليست هي هو ولا غيره، وليس معنى إثباتها أنه محتاجٌ إليها، وأنه يفعل الأشياء بها، ولكن معناها: نفي أضدادها وإثباتها في أنفسها، وأنها قائماتٌ به.
ليس معنى العلم نفي الجهل فقط، ولا معنى القوة نفي العجز، ولكن إثبات العلم والقدرة؛ ولو كان بنفي الجهل عالِمًا، وبنفي العجز قويًّا، لكان الموات بنفي الجهل والعجز عنه عالمًا وقادرًا. وكذلك جميع الصفات.
وليس وَصْفُنا له بهذه الصِّفات صفةً له، بل وصْفُنا صِفَتُنا، وحكايةٌ عن صفةٍ قائمةٍ به، ومن جعل صِفَةَ الله وَصْفَهُ له من غير أن يُثبت لله صفةً على الحقيقة فهو كاذبٌ عليه في الحقيقة، وذاكرٌ له بغير وَصْفِهِ، وليس هذا كالذكر فيكون مذكورًا بذكر في غيره؛ لأنَّ الذكر صفة الذاكر وليس بصفة للمذكور، والمذكور مذكورٌ بذكر الذاكر والموصوف ليس بموصوفٍ بِوَصْفِ الواصف، ولو كان وَصْفُ الواصف صفةً له لكانت أوصاف المشركين والكَفَرَةِ صفاتٍ له، كنحو الزوجة والولد والأنداد! وقد نَزَّهَ الله تعالى نفسه عن وَصْفِهم له فقال: ﴿سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ﴾ [الأنعام: ١٠٠]، فهو جَلَّ وعزَّ موصوفٌ بصفةٍ قائمةٍ به، ليست بائِنَةً عنه، كما قال تعالى: ﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦ﴾ [البقرة: ٢٥٥]، وقال: ﴿أَنزَلَهُۥ بِعِلْمِهِۦ﴾ [النساء: ١٦٦]، وقال: ﴿وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ﴾ [فاطر: ١١]، وقال: ﴿ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ﴾ [الذاريات: ٥٨]، ﴿ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ﴾ [البقرة: ١٠٥]، ﴿فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾ [فاطر: ١٠]، ﴿ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ﴾ [الرحمن: ٢٧].
وأجمعوا أنها لا تَتَغاير ولا تَتَماثل، وليس عِلْمُهُ قدرته ولا غير قدرته, وكذلك جميع صفاته: من السَّمع والبصر والوجه واليد، ليس سَمْعُهُ بصرَه ولا غير بصره، كما أنه ليس هي هو ولا غيره.
واختلفوا في الإتيان والمجيء والنزول: فقال الجمهور منهم: إنها صفاتٌ له كما يليق به، ولا يُعَبَّرُ عنها بأكثر من التلاوة والرِّواية، ويجب الإيمان بها، ولا يجب البحث عنها.
وقال محمَّد بن موسى الواسطيُّ: «كما أنَّ ذاته غير مَعْلُولةٍ، كذلك صفاته غير معلولةٍ، وإظهار الصَّمدية إياسٌ عن المطالعة على شيءٍ من حقائق الصِّفات، أو لطائف الذَّات».
وأوَّلها بعضهم فقال: «معنى الإتيان منه: إيصاله ما يريد إليه، ونزوله إلى الشيء: إقباله عليه، وقُرْبُهُ: كرامته، وبُعْدُهُ: إهانته، وعلى هذا جميع هذه الصِّفات المتشابهة
Penjelasan tentang Pendapat Mereka (Kaum Sufi) mengenai Sifat-Sifat
Mereka (kaum Sufi) sepakat bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang hakiki yang dengannya Dia disifati, yaitu: Ilmu (Maha Mengetahui), Qudrah (Maha Kuasa), Quwwah (Maha Kuat), 'Izz (Maha Perkasa), Hilm (Maha Penyantun), Hikmah (Maha Bijaksana), Kibriya' (Maha Megah), Jabarut (Maha Gagah), Qidam (Maha Dahulu), Hayah (Maha Hidup), Iradah (Maha Menghendaki), Masyi'ah (Maha Berkehendak), dan Kalam (Maha Berfirman).
Dan sesungguhnya sifat-sifat tersebut bukanlah fisik (tubuh), bukan sifat materi ('aradh), dan bukan pula substansi materi (jauhar), sebagaimana Dzat-Nya juga bukanlah fisik, bukan sifat materi, dan bukan pula substansi materi.
Dan sesungguhnya Dia memiliki pendengaran, penglihatan, wajah, dan tangan secara hakiki, yang tidak seperti pendengaran, penglihatan, tangan, dan wajah (makhluk).
Mereka juga sepakat bahwa hal-hal tersebut adalah sifat-sifat bagi Allah, bukan berupa indra, anggota badan, ataupun potongan-potongan bagian tubuh.
Mereka sepakat bahwa sifat-sifat itu bukanlah Dzat-Nya itu sendiri dan bukan pula sesuatu yang lain dari Dzat-Nya. Menetapkan sifat-sifat tersebut bukan berarti bahwa Dia membutuhkan sifat-sifat itu atau Dia melakukan sesuatu dengannya. Akan tetapi, maknanya adalah: meniadakan kebalikan dari sifat-sifat tersebut, menetapkan keberadaan sifat-sifat itu pada diri-Nya, dan bahwa sifat-sifat tersebut tegak (ada) pada Dzat-Nya.
Arti dari sifat Ilmu bukanlah sekadar meniadakan kebodohan saja, dan arti Quwwah bukanlah sekadar meniadakan kelemahan, melainkan merupakan penetapan bagi sifat Ilmu dan Qudrah. Sebab, andaikata makna "Maha Mengetahui" itu hanya sebatas meniadakan kebodohan, dan makna "Maha Kuat" hanya sebatas meniadakan kelemahan, niscaya benda mati pun akan disebut maha mengetahui dan maha kuasa karena kebodohan dan kelemahan tiada padanya. Demikian pula berlaku bagi seluruh sifat lainnya.
Penyifatan kita kepada-Nya dengan sifat-sifat ini bukanlah sifat bagi-Nya, melainkan penyifatan kita adalah sifat (perbuatan) kita sendiri, yang merupakan hikayat (penjelasan) tentang sifat yang tegak pada Dzat-Nya. Barang siapa yang menganggap bahwa penyifatan yang dilakukannya untuk Allah adalah sifat Allah itu sendiri tanpa menetapkan adanya sifat yang hakiki bagi Allah, maka dia telah berdusta atas nama Allah yang sebenarnya, dan dia menyebut Allah tanpa sifat-Nya yang hakiki. Hal ini tidak sama dengan perkara dzikir (mengingat/menyebut) yang mana sesuatu yang diingat menjadi madzkur (yang diingat) karena adanya dzikir dari pihak lain. Sebab, dzikir adalah sifat dari orang yang berdzikir dan bukan sifat dari yang diingat. Yang diingat menjadi disebut karena dzikirnya orang yang mengingat, sedangkan Yang Disifati (Allah) tidaklah disifati oleh penyifatan orang yang menyifati. Andaikata penyifatan orang yang menyifati itu menjadi sifat bagi-Nya, niscaya sifat-sifat orang musyrik dan orang kafir (tuduhan mereka) akan menjadi sifat bagi-Nya pula, seperti tuduhan memiliki istri, anak, dan sekutu! Padahal Allah Ta'ala telah menyucikan diri-Nya dari penyifatan mereka, sebagaimana firman-Nya: "Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sifatkan." (QS. Al-An'am: 100). Maka Dia Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa disifati dengan sifat yang tegak pada Dzat-Nya, yang tidak terpisah dari-Nya, sebagaimana firman-Nya: "dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 255), dan firman-Nya: "Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya..." (QS. An-Nisa': 166), dan firman-Nya: "Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya..." (QS. Fatir: 11), dan firman-Nya: "Dialah Yang Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Az-Zariyat: 58), "(Allah) Yang Mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Baqarah: 105), "Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya." (QS. Fatir: 10), "Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 27).
Mereka juga sepakat bahwa sifat-sifat tersebut tidaklah saling berbeda (dalam arti terpisah menjadi entitas lain) dan tidak pula saling serupa. Ilmu-Nya bukanlah qudrah-Nya dan bukan pula selain qudrah-Nya. Demikian pula seluruh sifat-Nya: seperti pendengaran, penglihatan, wajah, dan tangan. Pendengaran-Nya bukanlah penglihatan-Nya dan bukan pula selain penglihatan-Nya, sebagaimana sifat-sifat itu bukanlah Dzat-Nya dan bukan pula sesuatu yang lain dari Dzat-Nya.
Namun, mereka berbeda pendapat mengenai sifat al-Ityan (datang), al-Maji' (datang), dan an-Nuzul (turun): mayoritas (jumhur) dari mereka mengatakan: "Sesungguhnya itu semua adalah sifat-sifat bagi-Nya yang sesuai dengan keagungan-Nya, tidak boleh diungkapkan lebih dari sekadar tilawah (membaca ayatnya) dan riwayah (menyampaikan riwayatnya). Wajib beriman kepadanya, dan tidak boleh membahas (hakikat)-nya."
Muhammad bin Musa Al-Wasiti berkata: "Sebagaimana Dzat-Nya tidak memiliki sebab (ghairu ma'lulah), demikian pula sifat-sifat-Nya tidak memiliki sebab. Menampakkan sifat Ash-Shomadiyah (Maha Dibutuhkan/Tempat bergantung) memutus harapan untuk dapat meneliti hakikat sifat-sifat-Nya atau kelembutan Dzat-Nya."
Sementara sebagian lainnya menakwilkannya dengan berkata: "Makna al-ityan (datang) dari-Nya adalah: menyampaikan apa yang Dia kehendaki kepada makhluk-Nya. Dan nuzul-Nya (turun-Nya) kepada sesuatu berarti: menyambutnya dengan kebaikan (iqbal). Dekat-Nya berarti kemuliaan dari-Nya, sedangkan jauh-Nya berarti kehinaan dari-Nya. Dan atas dasar inilah seluruh sifat-sifat mutasyabihat (samar/serupa) ini ditakwilkan."