بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bagian Kedua
(Fasal Mengenai Istinja)
(فَصْلٌ فِي الاسْتِنْجَاءِ)
وَالاسْتِنْجَاءُ وَاجِبٌ مِنْ كُلِّ خَارِجٍ مُلَوِّثٍ مِنَ الْقُبُلِ أَوْ الدُّبُرِ لا رِيحٍ وَدُودَةٍ وَحَصَاةٍ وَبَعْرَةٍ بِلَا رَطُوبَةٍ وَمَنِيٍّ وَرَطُوبَةِ فَرْجٍ طَاهِرٍ — بِمَاءٍ أَوْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَلَوْ فِي نَادِرٍ كَدَمٍ وَقَيْحٍ، أَوْ بِثَلَاثَةِ أَطْرَافِ حَجَرٍ وَاحِدٍ. وَالثَّلَاثَةُ وَاجِبَةٌ وَإِنْ أَنْقَى المَحَلُّ بِوَاحِدٍ، فَإِنْ لَمْ يَحْصُلِ الإِنْقَاءُ بِالثَّلَاثَةِ وَجَبَ الإِنْقَاءُ بِرَابِعٍ فَأَكْثَرَ أَوْ مَا يَقُومُ مَقَامَ الحَجَرِ، مِنْ كُلِّ جَامِدٍ طَاهِرٍ قَالِعٍ غَيْرِ مُحْتَرَمٍ. وَيُشْتَرَطُ فِي الاسْتِنْجَاءِ بِالحَجَرِ وَمَا فِي مَعْنَاهُ أَنْ لَا يَجِفَّ الخَارِجُ، وَأَنْ لَا يَنْتَقِلَ مِنَ المَوْضِعِ الَّذِي اسْتَقَرَّ فِيهِ عِنْدَ الخُرُوجِ، وَأَنْ لَا يَتَجَاوَزَ الصَّفْحَةَ وَالحَشَفَةَ، وَأَنْ لَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ أَجْنَبِيٌّ نَجِسٌ مُطْلَقًا أَوْ طَاهِرٌ رَطْبٌ. وَأَمَّا الطَّاهِرُ الجَافُّ فَلَا يَضُرُّ، فَإِنِ انْتَفَى شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ تَعَيَّنَ المَاءُ. ا
ا
وَيُنْدَبُ أَنْ يَبْدَأَ بِالحَجَرِ الأَوَّلِ مِنْ مُقَدَّمِ الصَّفْحَةِ اليُمْنَى وَيُمِرَّهُ إِلَى مَوْضِعِ ابْتِدَائِهِ، ثُمَّ الحَجَرِ الثَّانِي مِنْ مُقَدَّمِ الصَّفْحَةِ اليُسْرَى كَذَلِكَ، ثُمَّ يُمِرَّ الثَّالِثَ عَلَى الصَّفْحَتَيْنِ وَالمَسْرَبَةِ جَمِيعًا، وَيَنْبَغِي وَضْعُ الحَجَرِ أَوَّلًا بِمَوْضِعٍ طَاهِرٍ ثُمَّ يُمِرُّهُ.ا
ا
وَيُسَنُّ لِقَاضِي الحَاجَةِ أَنْ لَا يَقْضِيَهَا فِي مَاءٍ رَاكِدٍ وَلَا فِي قَلِيلٍ مَاءٍ جَارٍ، وَلَا فِي مَهَبِّ رِيحٍ وَلَا تَحْتَ شَجَرٍ، وَلَا فِي ثَقْبٍ وَلَا فِي سِرْبٍ وَلَا فِي ظِلٍّ وَلَا فِي طَرِيقٍ، وَلَا يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ، وَلَا يَنْظُرَ إِلَى عَوْرَتِهِ وَلَا إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهُ، وَلَا يَتَكَلَّمَ إِلَّا لِضَرُورَةٍ، وَلَا يَعْبَثَ بِيَدِهِ وَلَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا، وَيَسْتَرْخِيَ قَلِيلًا عِنْدَ الاسْتِنْجَاءِ وَيَسْتَتِرَ عَنِ العُيُونِ.ا
ا
وَيَسْتَبْرِئَ مِنَ البَوْلِ عِنْدَ انْقِطَاعِهِ، كَأَنْ يَضَعَ السَّبَّابَةَ وَالإِبْهَامَ مِنَ اليَدِ اليُسْرَى وَيَسُلْتَ ذَكَرَهُ بِهِمَا ثُمَّ يَنْتِرَهُ نَثْرًا خَفِيفًا. وَأَمَّا المَرْأَةُ فَتَضَعُ أَصَابِعَ يَدِهَا اليُسْرَى عَلَى عَانَتِهَا مَعَ التَّحَامُلِ، وَكَيْفِيَّةُ الاسْتِبْرَاءِ تَخْتَلِفُ بِحَسَبِ عَادَةِ الإِنْسَانِ، فَإِذَا صَارَتْ عَادَتُهُ أَنَّهُ لَا يَنْقَطِعُ بَوْلُهُ إِلَّا بِالاسْتِبْرَاءِ وَجَبَ ذَلِكَ فِي حَقِّهِ.ا
ا
وَيَحْرُمُ البَوْلُ عَلَى مَطْعُومٍ وَلَوْ لِلْجِنِّ كَعَظْمٍ، وَعَلَى مَا كُتِبَ عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ كَاسْمِ اللهِ، وَقَبْرِ مُسْلِمٍ، وَفِي مَسْجِدٍ وَلَوْ فِي إِنَاءٍ، وَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُ القِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارُهَا بِبَوْلٍ أَوْ غَائِطٍ فِي الصَّحْرَاءِ وَالبُنْيَانِ بِدُونِ سَاتِرٍ. وَيُشْتَرَطُ فِي السَّاتِرِ: أَنْ يَكُونَ مُرْتَفِعًا قَدْرَ ثُلُثَيْ ذِرَاعٍ وَعَرِيضًا بِحَيْثُ يَسْتُرُ بَدَنَ قَاضِي الحَاجَةِ، وَأَنْ لَا يَبْعُدَ عَنْهُ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ. أَمَّا مَعَ السَّاتِرِ المَذْكُورِ فَلَا يَحْرُمَانِ، بَلْ هُمَا خِلَافُ الأَوْلَى، وَإِرْخَاءُ ذَيْلِهِ كَافٍ فِي السَّتْرِ.ا
ا
هَذَا كُلُّهُ فِي غَيْرِ المُعَدِّ لِقَضَاءِ الحَاجَةِ. وَأَمَّا هُوَ فَيَجُوزُ الاسْتِقْبَالُ وَالاسْتِدْبَارُ فِيهِ مُطْلَقًا، وَيُسَنُّ أَنْ يُقَدِّمَ يُسْرَاهُ عِنْدَ الدُّخُولِ، وَيُمْنَاهُ عِنْدَ الخُرُوجِ، وَلَا يَسْتَصْحِبَ شَيْئًا مُعَظَّمًا كَاسْمِ اللهِ أَوْ اسْمِ رَسُولِهِ، وَلَا يَدْخُلَ حَاسِرَ الرَّأْسِ، وَلَا حَافِيَ القَدَمَيْنِ، وَيَقُولَ عِنْدَ إِرَادَةِ دُخُولِهِ بَيْتَ الخَلَاءِ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبْثِ وَالخَبَائِثِ، وَإِذَا خَرَجَ قَالَ: غُفْرَانَكَ(ثَلَاثًا) الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الأَذَى وَعَافَانِي.ا
Istinja hukumnya wajib untuk
setiap sesuatu yang keluar serta mengotori dari kemaluan depan (kubul) atau
belakang (dubur) — bukan berupa angin, cacing, batu kerikil, kotoran hewan yang
kering (tanpa kelembapan), mani, maupun cairan vagina yang suci — baik
menggunakan air atau tiga buah batu, meskipun keluar hal yang jarang seperti
darah dan nanah, atau dengan tiga sisi dari satu batu.
Penggunaan tiga batu adalah wajib
meskipun tempat keluarnya sudah bersih hanya dengan satu batu. Jika belum
bersih dengan tiga batu, maka wajib menambah batu keempat dan seterusnya hingga
bersih, atau menggunakan benda yang dapat menggantikan fungsi batu, yaitu
setiap benda yang padat, suci, dapat membersihkan, dan tidak dimuliakan.
Disyaratkan dalam ber-istinja
menggunakan batu dan sesamanya:
- Kotoran yang keluar belum kering.
- Kotoran tidak berpindah dari tempat ia menetap saat
keluar.
- Kotoran tidak melewati bagian bokong (صفحة) dan ujung kemaluan (حشفة).
- Tidak kejatuhan benda asing lain yang najis secara
mutlak, atau benda suci yang basah. (Adapun jika kejatuhan benda suci yang
kering, maka tidak mengapa).
Jika salah satu syarat tersebut
tidak terpenuhi, maka wajib hukumnya menggunakan air (ta'ayyanal-ma'u).
Disunnahkan memulai dengan batu
pertama dari bagian depan bokong kanan lalu mengusapkannya kembali ke tempat
semula, kemudian batu kedua dari bagian depan bokong kiri dengan cara yang
sama, lalu batu ketiga diusapkan ke kedua bokong dan saluran tempat keluarnya
kotoran secara keseluruhan. Hendaknya meletakkan batu pertama kali pada tempat
yang suci baru kemudian mengusapkannya.
Disunnahkan bagi orang yang buang
hajat untuk:
- Tidak buang hajat di air yang tenang (menggenang) dan
air mengalir yang sedikit.
- Tidak di tempat hembusan angin, di bawah pohon (yang
berbuah/teduh), di lubang tanah, di lorong/sarang binatang, di tempat
berteduh, dan di jalan umum.
- Tidak memegang kemaluan dengan tangan kanan.
- Tidak melihat ke arah auratnya maupun kotoran yang
keluar.
- Tidak berbicara kecuali dalam keadaan darurat.
- Tidak bermain-main dengan tangannya dan tidak menoleh
ke kanan maupun ke kiri.
- Sedikit merenggangkan badan saat ber-istinja dan
menutup diri dari pandangan orang lain.
Disunnahkan melakukan istibra'
(menuntaskan sisa air seni) dari kencing setelah alirannya terhenti. Cara bagi
laki-laki: meletakkan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri pada pangkal
kemaluan lalu mengurutnya perlahan, kemudian mengibaskannya secara perlahan.
Adapun bagi perempuan: meletakkan jari-jari tangan kirinya di atas pangkal
kemaluan ('anah) sambil menekan pelan. Cara istibra' berbeda-beda
sesuai dengan kebiasaan masing-masing orang. Jika seseorang memiliki kebiasaan
bahwa kencingnya tidak akan tuntas kecuali dengan istibra', maka
hukumnya menjadi wajib baginya.
Diheramkan kencing di atas makanan —
meskipun makanan untuk jin seperti tulang —, di atas sesuatu yang tertulis
tulisan yang dimuliakan seperti nama Allah, di atas kuburan muslim, dan di
dalam masjid (meskipun di dalam wadah/bejana).
Diharamkan menghadap atau
membelakangi kiblat saat kencing atau buang air besar di tempat terbuka (padang
pasir) maupun di bangunan tanpa adanya penghalang (satir).
Syarat penghalang (satir)
tersebut adalah:
- Tingginya minimal 2/3 hasta (± 30 cm).
- Lebarnya dapat menutupi tubuh orang yang buang hajat.
- Jaraknya tidak lebih dari 3 hasta (± 1.5 meter) dari
dirinya.
Adapun jika terdapat penghalang
sesuai syarat di atas, maka menghadap atau membelakangi kiblat tidak
diharamkan, melainkan hanya khilaful aula (menyelisihi yang lebih
utama). Menjulurkan ujung pakaian sudah cukup dianggap sebagai penghalang.
Semua ketentuan di atas berlaku
untuk tempat yang bukan dikhususkan untuk buang hajat (seperti
lapangan/alam terbuka). Adapun pada tempat yang memang disediakan untuk buang
hajat (seperti toilet/WC), maka diperbolehkan menghadap atau membelakangi kiblat
secara mutlak.
Disunnahkan:
- Mendahulukan kaki kiri saat masuk dan kaki kanan saat
keluar.
- Tidak membawa sesuatu yang dimuliakan seperti nama
Allah atau nama Rasul-Nya.
- Tidak masuk dalam keadaan kepala terbuka (disunnahkan
menutup kepala) dan tidak telanjang kaki (disunnahkan memakai alas kaki).
- Membaca doa saat hendak masuk toilet:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبْثِ
وَالخَبَائِثِ
(Dengan nama Allah, ya Allah sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan).
غُفْرَانَكَ (ثَلَاثًا) الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ
عَنِّي الأَذَى وَعَافَانِي
(Aku memohon ampunan-Mu [3 kali]. Segala
puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit/kotoran dariku dan telah
menyembuhkan/menyehatkanku).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.