بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Wasiat No. (58):
Barangsiapa Mengkafirkan Seorang
Mukmin karena Suatu Dosa
الوصية رقم ا(٥٨) ا
من
كفر مؤمناً بذنب
واحذر أن تكفر أحداً من أهل القبلة بذنب، فقد ثبت أنه من قال لأخيه: "يا كافر" فقد باء بها أحدهما: إن كان كما قال، وإلا رجعت عليه. ومعنى الرجوع عليه: أنه هو الكافر، فإنه مَنْ كَفَّرَ مسلماً لإسلامه فهو كافر. يقول الله تعالى ﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ﴾ فقال الله فيهم ﴿أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ﴾ والسفيه: هو الضعيف الرأي، يقولون: إنهم ما آمنوا إلا لضعف رأيهم وعقلهم، فجاز ذلك عليهم بقول الله ﴿أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ﴾ أي: همُ الذين ضعُفت آراؤهم، فحَالَ ذلك الضعفُ بينهم وبين الإيمان ﴿وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ﴾ا
٨
فَتَحَفَّظْ من الكلام القبيح وهو: أن تنسب صفةً مذمومة لأخيك المؤمن وإن كانت فيه لا في حضوره ولا في غيبته، فإنك إذا واجهته بذلك فقد عيرته، فما تأمنُ أن يعافيه الله من تلك الصفة ويبتليك بها، وقد ورد ﴿لا تُظْهِرِ الشَّماتَةَ بأخيك فيعافيه الله ويبتليك﴾. وإن كان غائباً فهي غيبة، وقد نهاك الله عن الغيبة، فإنك إذا ذكرته بأمر هو فيه مما يسوؤه لو قابلته به فقد اغتبته، وإن نسبت إليه من القبيح ما ليس فيه فذلك البهتانُ، ولا بد أن تجني ثمرة غرسك إلا أن يعفو الله بـإرضاء الخصم، فيعودُ عليك وبالُ ما نسبته إلى أخيك المؤمن مما ليس هو عليه.٨
٨
وكذلك خداعُ المؤمن، فلا تكن ممن يخادعُ الله، فإنك إن اعتقدتَ ذلك كنت من الجاهلين بالله حيث تخيلتَ أنك تُلَبِّسُ على الحق، وظننتَ أن الله لا يعلم كثيراً مما تعملون ﴿وَذَٰلِكُمُ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ﴾. وإن خدعت أخاك المؤمن فما تخادع إلا نفسك كما قال تعالى ﴿يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ﴾ في خداعهم الذين آمنوا، ولو كانوا مؤمنين بغير الحق فإنهم مؤمنون أيضاً بالباطل، قال تعالى ﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾ فوصفهم بالإيمان بالباطل، وقال في حديث الأنواء فيمن قال: "مُطِرْنا بِنَوْءِ كذا" (إنه كافرٌ بي مؤمنٌ بالكوكب). فهذا قوله ﴿وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ﴾ في خداعهم الذين آمنوا، وأما في خداعهم الله فإن الله هو خادعُهم بكونهم اعتقدوا أنهم يخادعون الله
Barangsiapa Mengkafirkan Seorang
Mukmin karena Suatu Dosa
Waspadalah engkau dari mengkafirkan
seorang pun dari kalangan ahli kiblat (sesama muslim) hanya karena suatu
dosa. Sebab telah shahih diriwayatkan bahwa barangsiapa berkata kepada
saudaranya: "Wahai kapor/orang kafir", maka ucapan itu akan
kembali kepada salah satu dari keduanya: jika benar apa yang ia katakan (maka
demikianlah), namun jika tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya
sendiri. Makna "kembali kepadanya" adalah: dialah yang menjadi kafir;
sebab barangsiapa mengkafirkan seorang muslim justru karena keislamannya, maka
ia telah kafir.
Allah Ta'ala berfirman: “Apabila
dikatakan kepada mereka: 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah
beriman,' mereka menjawab: 'Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang
bodoh itu beriman?'” Maka Allah berfirman mengenai mereka: “Ingatlah,
sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (safih).” As-Safih
artinya adalah orang yang lemah akal/pandangannya. Mereka mengatakan bahwa
orang-orang beriman itu tidaklah beriman melainkan karena kelemahan akal dan
pandangan mereka; maka pembalasan itu berbalik kepada mereka dengan firman Allah:
“Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh”, yakni
merekalah yang pandangannya lemah sehingga kelemahan itu menghalangi antara
mereka dengan keimanan, “tetapi mereka tidak mengetahui.”
Jagalah dirimu dari perkataan yang
buruk, yaitu: Menisbatkan/menuduhkan sifat yang tercela kepada saudaramu
yang mukmin meskipun sifat itu memang ada pada dirinya, baik di hadapannya
maupun saat ia tidak ada (ghaib). Jika engkau mencelanya secara langsung
di hadapannya, engkau telah mengolok-oloknya (ta'yir); maka engkau tidak
akan aman dari kemungkinan bahwa Allah kelak menyembuhkannya dari sifat cela
tersebut lalu menimpakan ujian sifat itu kepadamu. Sungguh telah ada riwayat: (Janganlah
engkau menampakkan rasa gembira atas penderitaan /keburukan saudaramu, niscaya
Allah akan menyelamatkannya dan mencobaimu).
Jika hal itu dikatakan saat ia tidak
ada, maka itu adalah ghibah (pengumpatan), dan Allah telah melarangmu
dari ghibah. Jika engkau menyebutkan tentang saudaramu hal yang memang ada
padanya tetapi akan menyakiti hatinya jika engkau mengatakannya di hadapannya,
maka engkau telah mengghibahinya. Adapun jika engkau menisbatkan kepadanya
keburukan yang tidak ada padanya, maka itu adalah kedustaan/fitnah
besar (buhtan). Engkau pasti akan memetik buah dari tanamanmu itu,
kecuali jika Allah memaafkan dengan cara meredakan/memuaskan pihak yang
dirugikan; jika tidak, akibat buruk dari apa yang engkau tuduhkan kepada
saudaramu yang mukmin atas hal yang tidak ada padanya akan berbalik menyerang
dirimu sendiri.
Begitu pula dengan menipu/mengkianati
seorang mukmin. Janganlah engkau menjadi bagian dari orang yang mencoba
menipu Allah! Sebab jika engkau berkeyakinan demikian, engkau termasuk
orang-orang yang tidak mengenal Allah (jahil), di mana engkau
membayangkan dapat menyamarkan/memalsukan kebenaran di hadapan Allah Yang
Mahabenar (Al-Haqq) dan menyangka bahwa Allah tidak mengetahui banyak
hal dari apa yang kamu kerjakan: “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu
yang telah kamu sangkakan terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan
kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.”
Apabila engkau menipu saudaramu yang
mukmin, hakikatnya engkau tidak menipu melainkan dirimu sendiri, sebagaimana
firman Allah Ta'ala: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang
beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak
sadar” ketika mereka menipu orang-orang beriman.
Jikapun mereka beriman kepada selain
Kebenaran, maka mereka pada hakikatnya juga beriman tetapi kepada kebatilan.
Allah Ta'ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman kepada yang batil dan
ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi.” Allah menyifati
mereka dengan "beriman kepada kebatilan". Begitu pula tersebut dalam
hadits tentang anwa' (ramalan bintang) mengenai orang yang berkata: "Kita
diberi hujan oleh bintang ini dan itu", Allah berfirman: (Ia telah
kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang).
Maka inilah maksud firman-Nya: “Padahal
mereka hanya menipu diri mereka sendiri” dalam hal penipuan mereka terhadap
orang-orang beriman. Adapun dalam hal mereka mencoba menipu Allah, sesungguhnya
Allah-lah yang balas menipu mereka karena keyakinan keliru mereka bahwa mereka
sanggup menipu Allah.
وإياك والجهلُ فإنه أَقْبَحُ صفة يتصف بها الإنسان، فإن كنت - يا وليُّ - ذا زوجةٍ فأَوْصِها بل لا تتركها ولا أُخْتاً ولا بنتاً ولا أيّ امرأة كانت ممن تحكم عليها أو تعلمُ أنها تسمع منك، أو أيّ امرأة تعرضت لك فانصحها كانت من كانت أن لا تستعطر إذا خرجت بطيبٍ يكون له ريحٌ، فإنه قد ثبت عن رسول الله ﷺ قال (أيّما امرأةٍ استعطرت فمرَّتْ على قومٍ ليجدوا ريحها فهي زانية) وقد ورد مقيداً في ذلك (أيّما امرأةٍ أصابت بخوراً فلا تشهد معنا العشاء الآخر) وذلك أن الليل آفاته كثيرة والظلمة ساترة، وما تدري إذا أصاب الرجلُ ريحها الطيبَ في طريق المسجد ما تلقى منه إذا لم يتقّ الله، فلذلك نهاها رسول الله ﷺ عن شهود العشاء الآخرة. وبالجملة فلا ينبغي للمرأة أن تخرج بطيبٍ له رائحة لا في ليل ولا في نهار. ا
ا
وإياك والاستهزاء والمسخرة بأهل الله، فإن الاستهزاء بأهل الله استهزاءٌ بدين الله، ولا تتخذهم ضحكةً فإن وبال ذلك يعود عليك يوم القيامة فيسخر الله منك ويستهزيء بك، وهو: أنا معك على طريق الهُزُءِ به والسخرية منه، فإذا كان يوم القيامة يجازيك الله عدلاً بقدر ما تراءيت به للمؤمنين من الإقبال عليهم والإيمان بما هم عليه أهل الله عز وجل، وقد رأينا على ذلك جماعةً من المدرسين الفقهاء يسخرون بأهل الله المنتمين إلى الله المُخْبِرين عن الله بقلوبهم ما يَرِدُ عليهم من الله فيها، فيأمر بمن هذه صفته إلى الجنة حتى ينظر إلى ما فيها من الخير فَيُسَرُّون كما يُسَرُّ أهل الله في حال استهزائهم بهم، ويتخيلون أنهم صادقون فيما يظهرون به إليهم، فإذا وفي الله جزاء عملهم وانْفَهَقَتْ لهم الجنةُ بخيرها أمر الله بهم أن يصرفوا عنها إلى النار، فذلك استهزاءُ الله بهم، كما أن هؤلاء المنافقين لما رجعوا إلى أهلهم قالوا: إنما نحن مستهزؤون، وقال سخروا منه ﴿فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ﴾ كما كانوا في الدنيا يضحكون من المؤمنين بإيمانهم، وكذلك بعض المؤمنين يضحكون من أهل الله في الدنيا ولا سيما الفقهاء إذا رأوا العامة على الاستقامة يتحدثون بما أنعم الله عليهم في بواطنهم يضحكون منهم ويُظهرون لهم القبول عليهم، وهم في بواطنهم على خلاف ذلك، أفلا أقلّ - يا أخي إذا لم تكن منهم - أن تسلم لهم أحوالهم، فإنك ما رأيت منهم ما يُنكره دين الله ولا ما يرده العلمُ الصحيح النَّقْلي والعقلي ﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۞ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾ هكذا والله رأيت فقهاء الزمان مع أهل الله يتغامزون عليهم ويضحكون منهم ويظهرون القبول عليهم، وهم على غير ذلك. فاحذر مَنْ هذه صفته لئلا يَسْرِقَكَ الطَّبْعُ، فما أعظم حسرتهم يوم القيامة، فهم الذين اشتروا الضلالة بالهدى، والعذاب بالمغفرة والحياة الدنيا بالآخرة فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهتدين.ا
...Dan jauhilah olehmu kebodohan
(al-jahl), karena ia adalah sifat paling buruk yang melekat pada
diri manusia. Jika engkau—wahai pengayom/pemimpin—memiliki seorang istri,
berilah ia wasiat; bahkan jangan engkau biarkan ia, begitu pula saudara
perempuanmu, anak perempuanmu, atau wanita mana pun yang berada di bawah
kekuasaanmu atau yang engkau tahu mau mendengarkan nasihatmu, atau wanita mana
pun yang menemui dirimu, maka nasihatilah ia siapa pun dia: agar ia tidak
memakai wewangian/parfum saat keluar rumah yang memiliki aroma yang tercium.
Sebab telah sahih dari Rasulullah ﷺ
bersabda: (Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu ia melewati suatu
kaum agar mereka mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina). Dan
telah diriwayatkan secara terikat (khusus) dalam hal ini: (Wanita mana saja
yang terkena wewangian/asap gaharu, maka janganlah ia menghadiri shalat Isya
bersama kami). Hal itu karena malam hari memiliki banyak bahaya dan
kegelapan itu menutupi; engkau tidak tahu jika seorang laki-laki mencium aroma
harumnya di jalan menuju masjid, bahaya apa yang akan menimpanya jika ia tidak
bertakwa kepada Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah ﷺ
melarangnya menghadiri shalat Isya. Kesimpulannya: tidak sepatutnya bagi
seorang wanita keluar dengan memakai wewangian yang semerbak baunya, baik di
malam hari maupun di siang hari.
Dan jauhilah olehmu sikap
mengolok-olok dan mengejek para Wali/Kekasih Allah (Ahlullah), karena mengolok-olok Ahlullah merupakan bentuk
mengolok-olok agama Allah! Janganlah engkau menjadikan mereka sebagai bahan
tertawaan, sebab akibat buruk dari perbuatan itu akan berbalik kepadamu pada
hari kiamat; Allah akan memperolok dan mengejekmu. Makna "Allah
memperolok" adalah: Aku membiarkanmu merasa berada di atas jalan ejekan
dan cemoohan terhadapnya, lalu ketika hari kiamat tiba, Allah membalasmu secara
adil sedemikian rupa sesuai dengan kepura-puraanmu di hadapan orang-orang
beriman—pura-pura menyambut mereka dan berpura-pura percaya terhadap kedudukan
spiritual yang dimiliki Ahlullah Azza wa Jalla.
Sungguh kami telah melihat
sekelompok pengajar dari kalangan ahli fikih (al-fuqaha') yang mengejek Ahlullah—yaitu
orang-orang yang sepenuhnya menyandarkan diri kepada Allah dan mengabarkan
tentang Allah melalui hati mereka mengenai limpahan karunia yang Allah turunkan
ke dalam hati mereka. Maka Allah memerintahkan agar orang yang bersikap
demikian digiring menuju surga hingga ia melihat kebaikan yang ada di dalamnya,
lalu mereka merasa gembira sebagaimana Ahlullah gembira saat dahulu
diejek oleh mereka; mereka membayangkan bahwa mereka benar-benar tulus dalam
apa yang mereka tampakkan. Namun ketika Allah menuntaskan balasan amal mereka
dan surga telah dibukakan lebar-lebar dengan segala kenikmatannya, Allah
memerintahkan agar mereka dipalingkan dari surga menuju neraka. Itulah
bentuk olok-olok Allah kepada mereka!
Sebagaimana halnya orang-orang
munafik ketika kembali kepada kaumnya mereka berkata: "Sesungguhnya
kami hanya berolok-olok", dan Allah berfirman bahwa mereka
mengejeknya: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman tertawa atas
orang-orang kafir”, sebagaimana dahulu orang-orang kafir di dunia tertawa
melihat orang-orang beriman karena keimanan mereka.
Begitu pula sebagian orang beriman
(bahkan ahli fikih) menertawakan Ahlullah di dunia, terlebih lagi para
ahli fikih ketika melihat masyarakat awam berada di atas istiqamah lalu
menceritakan nikmat-nikmat batin yang Allah anugerahkan kepada mereka; para
ahli fikih itu menertawakan mereka di dalam hati, seraya menampakkan penerimaan
di hadapan mereka padahal batin mereka bertolak belakang dengan itu.
Apakah tidak bisa—wahai saudaraku,
jika engkau memang bukan bagian dari Ahlullah—paling tidak engkau menerima
dan menyerahkan (taslim) kondisi spiritual (ahwal) mereka?
Sebab engkau tidak melihat pada diri mereka apa yang diingkari oleh agama
Allah, tidak pula apa yang ditolak oleh ilmu yang sahih baik jalur dalil (naqli)
maupun akal ('aqli). “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah
mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila
orang-orang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata
(mengejek).”
Demi Allah, demikianlah aku melihat
para ahli fikih zaman ini bersama Ahlullah: mereka saling mengedipkan
mata mengejek mereka, menertawakan mereka, dan berpura-pura menerima mereka
padahal kenyataannya tidak demikian. Maka waspadalah dari orang yang memiliki
sifat seperti ini agar tabiat buruk itu tidak "mencuri" (menulari)
dirimu! Betapa besarnya penyesalan mereka pada hari kiamat; mereka itulah
orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, azab dengan ampunan, dan
kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka tidaklah beruntung perdagangan
mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.