بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bab Keenam:
Karunia-Karunia Ilahi (Al-Waridat
Al-Ilahiyyah)
الواردات الإلهية
وإذا حيي القلب بمعرفة الله كان محلا لتجلي الواردات الإلهية ، وإلى ذلك أشار بقوله : [ إنما أورد عليك الوارد لتكون به عليه وارداً ] . قلت : الوارد نور إلهي يقذفه الله في قلب من أحب من عباده ، وهو على ثلاثة أقسام ، على حسب البداية والوسط والنهاية . أو تقول : على حسب الطالبين والسائرين والواصلين . ا
ا
القسم الأول ، وارد الانتباه : وهو نور يخرجك من ظلمة الغفلة إلى نور اليقظة ، وهو لأهل البداية من الطالبين ، فإذا تيقظ من نومه وانتبه من غفلته استوى على قدمه طالباً لربه ، فيقبل عليه بقلبه وبقالبه ، وينجمع عليه بكليته . ا
ا
القسم الثاني ، وارد الإقبال : وهو نور يقذفه الله في قلب عبده فيحركه لذكر مولاه ويغيبه عما سواه ، فلا يزال مشتغلا بذكره غائباً عن غيره ، حتى يمتلئ القلب بالنور ، ويغيب عما سوى المذكور ، فلا يرى إلا النور ، فيخرج من سجن الأغيار ويتحرر من رق الآثار . ا
ا
القسم الثالث ، وارد الوصال : وهو نور يستولي على قلب العبد ثم يستولي على ظاهره وباطنه ، فيخرجه من سجن نفسه ويغيبه عن شهود حسه . وقد أشار إلى القسم الأول وهو وارد الانتباه بقوله : إنما أورد عليك إلخ ، أي إنما أشرق عليك نور اليقظة والانتباه وهو الوارد ، لتكون بسببه وارداً عليه وسائراً إليه ، ولو لم يورد عليك هذا الوارد لبقيت في وطن غفلتك نائماً في سكرتك دائماً في حسرتك . ا
ا
ثم أشار إلى القسم الثاني وهو وارد الإقبال فقال : [ أورد عليك الوارد ، ليتسلمك من يد الأغيار ، وليحررك من رق الآثار ] . ا
ا
أي إنما أورد عليك وارد الإقبال ، ليؤنسك بذكر الكبير المتعال ، فإذا اشتغلت بذكره وغبت عن غيره تسلمك : أي أنقذك من يد لصوص الأغيار بعد أن شدوا أوثاقك بحبل هواك ، وسجنوك في سجن حظوظك ومناك ، وليحررك ويعتقك أيضاً من رق الآثار ، بعد أن ملكتك بما أظهرته لك من زخرف الاغترار . فإذا تسلمت من يد الأغيار أفضيت إلى شهود الأنوار ، وإذا تحررت من رق الآثار ترقيت إلى شهود الأسرار ، فالأنوار أنوار الصفات ، والأسرار أسرار الذات ، فالأنوار لأهل الفناء في الصفات ، والأسرار لأهل الفناء في الذات . ا
Ketika hati telah hidup dengan ma'rifatullah
(mengenal Allah), hati tersebut menjadi tempat bertajallinya (menjelasnya)
karunia-karunia Ilahi (al-waridat al-ilahiyyah). Hal ini diisyaratkan
oleh perkataan beliau:
إنما أورد عليك الوارد لتكون به عليه وارداً
"Hanyalah Allah menurunkan karunia (al-warid)
kepadamu agar dengan karunia itu engkau dapat datang (warid) menghadap kepada-Nya."
Aku katakan: Al-Warid adalah
cahaya Ilahi yang dicampakkan Allah ke dalam hati hamba yang dicintai-Nya.
Karunia ini terbagi menjadi tiga bagian, sesuai dengan tingkat permulaan (al-bidayah),
pertengahan (al-wasat), dan puncak (al-nihayah). Atau dapat
dikatakan: sesuai tingkat pencari (at-talibin), berjalan (as-sairin),
dan yang telah sampai (al-wasilin).
Bagian Pertama: Warid al-Intibah
(Karunia Keadaran) Yaitu cahaya yang mengeluarkanmu
dari kegelapan kelalaian menuju cahaya kesadaran. Ini diperuntukkan bagi
orang-orang pemula dari kalangan pencari. Ketika seseorang terbangun dari
tidurnya dan tersadar dari kelalaiannya, ia berdiri tegak melangkah mencari
Tuhannya, lalu ia menghadap kepada-Nya dengan hati dan fisiknya, serta
menyatukan seluruh dirinya untuk-Nya.
Bagian Kedua: Warid al-Iqbal
(Karunia Pendekatan Diri) Yaitu
cahaya yang dicampakkan Allah ke dalam hati hamba-Nya sehingga menggerakkannya
untuk mengingat Pelindungnya (Allah) dan mengalihkannya dari selain-Nya. Ia
terus-menerus sibuk mengingat-Nya dan alpa dari selain-Nya, hingga hatinya
penuhi dengan cahaya dan lupa akan segala sesuatu selain yang diingat-Nya (al-Madhkur),
sehingga ia tidak melihat kecuali cahaya. Maka ia pun keluar dari penjara
keterikatan selain Allah (al-aghyar) dan bebas dari perbudakan
jejak-jejak keduniaan (al-atsar).
Bagian Ketiga: Warid al-Wisal
(Karunia Penyatuan/Kedekatan Puncak)
Yaitu cahaya yang menguasai hati seorang hamba, kemudian menguasai lahir dan
batinnya, sehingga mengeluarkannya dari penjara dirinya sendiri dan
mengalihkannya dari kesaksian inderawinya.
Beliau di atas telah mengisyaratkan
bagian pertama (warid al-intibah) dengan perkataannya: "Hanyalah
Allah menurunkan karunia kepadamu..." dan seterusnya. Artinya: Cahaya
kesadaran itu disinarinya kepadamu—itulah al-warid—agar dengan sebab itu
engkau datang menghadap-Nya dan berjalan menuju-Nya. Seandainya karunia ini
tidak diturunkan kepadamu, niscaya engkau akan tetap berada dalam negeri
kelalaianmu, tertidur dalam kemabukanmu, dan berada dalam penyesalan abadi.
Kemudian beliau mengisyaratkan
bagian kedua, yaitu warid al-iqbal, dengan mengatakan:
أورد عليك الوارد ، ليتسلمك من يد الأغيار ، وليحررك من رق الآثار
"Allah
menurunkan karunia (al-warid) kepadamu untuk menyelamatkanmu dari genggaman
selain-Nya (al-aghyar), dan untuk membebaskanmu dari perbudakan jejak-jejak
keduniaan (al-atsar)."
Maksudnya: Allah menurunkan warid
al-iqbal kepadamu untuk membahagiakanmu melalui ingatan kepada yang Maha
Besar lagi Maha Tinggi. Apabila engkau telah sibuk dengan mengingat-Nya dan
alpa dari selain-Nya, Dialah yang akan menyelamatkanmu: yakni menyelamatkanmu
dari cengkeraman perampok-perampok al-aghyar (selain Allah) setelah
mereka mengikatmu dengan tali hawa nafsumu dan memenjarakanmu dalam penjara
bagian nafsu serta cita-citamu. Dia juga membebaskan dan memerdekakanmu dari
perbudakan al-atsar (keduniaan) setelah hal itu menguasaimu dengan
gemerlap kemewahan yang menipu.
Apabila engkau telah terbebas dari
genggaman selain Allah, engkau akan sampai pada kesaksian cahaya-cahaya (syuhud
al-anwar). Dan apabila engkau terbebas dari perbudakan keduniaan, engkau
naik ke tingkat kesaksian rahasia-rahasia (syuhud al-asrar).
Cahaya-cahaya tersebut adalah cahaya sifat-sifat Allah (anwar as-sifat),
sedangkan rahasia-rahasia itu adalah rahasia-rahasia Zat Allah (asrar az-zat).
Maka cahaya-cahaya itu diperuntukkan bagi orang yang lebur dalam
sifat-sifat-Nya (al-fana' fi as-sifat), dan rahasia-rahasia itu untuk
orang yang lebur dalam Zat-Nya (al-fana' fi az-zat).
ثم أشار إلى القسم الثالث وهو وارد الوصول فقال : [ أورد عليك الوارد ، ليخرجك من سجن وجودك إلى فضاء شهودك ] . أي إنما أورد عليك وارد الوصال ، بعد أن أهب عليك نفحات الإقبال ، ليخرجك من سجن رؤية وجودك إلى فضاء ، أي اتساع شهودك لربك ، فرؤيتك وجودك مانعة لك من شهود ربك ، إذ محال أن تشهده وتشهد معه سواه ، وجودك ذنب لا يقاس به ذنب ، وأنشد الجنيد : وُجُودِيَ أَنْ أَغِيبَ عَنِ المَوْجُودِ ... بِمَا يَبْدُو عَلَيَّ مِنَ الشُّهُودِ فالفناء عن النفس وزوالها أصعب من الفناء عن الكون وهدمه ، فمهما زالت النفس وهدمت انهدم الكون ولم يبق له أثر ، وقد يهدم الكون وتبقى في النفس بقية ، فلذلك قدم الشيخ رق الأكوان على سجن وجود الإنسان ، والله تعالى أعلم . ا
ا
ثم فسر تلك الواردات فقال : [ الأنوار مطايا القلوب والأسرار ] . قلت : النور نكتة تقع في قلب العبد من معنى اسم أو صفة ، يسري معناها في كليته حتى يبصر الحق والباطل إبصارًا لا يمكنه التخلف معه عن موجبه ، قاله الشيخ زروق . والمطايا : جمع مطية ، وهي الناقة المهيأة للركوب . والقلوب : جمع قلب ، وهو الحقيقة القابلة للمفهومات . والأسرار : جمع سر ، وهو الحقيقة القابلة للتجليات . والسر أدق وأصفى من القلب : والكل اسم للروح ، فإن الروح ما دامت مظلمة بالمعاصي والذنوب والشهوات والعيوب سميت نفسًا ، فإذا انزجرت وانعقلت انقال البعير سميت عقلًا ، فما زالت تتقلب في الغفلة والحضور فلذلك سميت قلبًا ، فإذا اطمأنت وسكنت واستراحت من تعب البشرية سميت روحًا ، فإذا تصفت من غبش الحس سميت سرًّا لكونها صارت سرًّا من أسرار الله حين رجعت إلى أصلها وهو سر الجبروت ، فإذا أراد الله تعالى أن يوصل عبده إلى حضرة قدسه ويحمله إلى محل أنسه أمده بؤازدات الأنوار والمطايا ، فيحمل عليها في محفة العناية مروَّحًا عليه بنسيم الهداية ، محفوفًا بنصرة الرعاية ، فترحل الروح من عوالم البشرية إلى عوالـم الروحانية حتى تصير سرًّا من أسرار الله لا يعلمها إلا الله : ( قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي ) . ا
ا
فالأنوار التي هي الواردات مطايا القلوب تحملها إلى حضرة علام الغيوب ، وهي أيضًا مطايا الأسرار تحملها إلى جبروت العزيز الجبار ، فالسلوك هداية ، والجذب عناية ، فوارد الانتباه والإقبال حمله سلوك وارد الوصال حملة جذب ، فالأنوار التي هي مطايا القلوب تحملهم على جهة السلوك إلا أنهم محمولون فيه بحلاوة نور الانتباه والإقبال ، فصار سلوكهم كأنه جذب . وأما الأنوار التي تحملهم على مطايا الأسرار ، فإنها تحملهم على جهة الجذب ممتزجًا بسلوك فيكونون بين جذب وسلوك ، وهذا الحمل أعظم ، والله تعالى أعلم . ا
Kemudian beliau mengisyaratkan bagian ketiga, yaitu warid al-wusul
(karunia sampai/penyatuan), dengan berkata:
أورد عليك الوارد ، ليخرجك من سجن وجودك إلى فضاء شهودك
"Allah menurunkan karunia
(al-warid) kepadamu untuk mengeluarkanmu dari penjara eksistensi (keberadaan
ego) dirimu menuju kelapangan kesaksianmu (syuhud)."
Maksudnya: Allah menurunkan warid al-wusal kepadamu—setelah
menghembuskan anugerah pendekatan diri (iqbal) kepadamu—untuk
mengeluarkanmu dari penjara memandang keberadaan dirimu sendiri menuju
kelapangan, yaitu luasnya penyaksianmu terhadap Tuhanmu. Sebab, pandanganmu
terhadap keberadaan dirimu menjadi penghalang bagimu untuk menyaksikan Tuhanmu;
sungguh mustahil engkau menyaksikan-Nya sementara engkau masih menyaksikan
selain-Nya bersama-Nya. Keberadaan egomu adalah dosa yang tak tertandingi oleh
dosa apa pun. Al-Junaid mengalunkan syair: "Keberadaanku adalah ketika
aku alpa dari segala yang ada... disebabkan oleh kesaksian yang tampak nyata padaku."
Maka, lebur (fana') dari diri sendiri dan sirnanya ego itu jauh lebih
sulit daripada fana' dari alam semesta dan kehancurannya. Apabila
nafsu/diri telah sirna dan hancur, niscaya alam semesta pun ikut hancur dan
tidak tersisa lagi bekasnya. Namun kadang alam semesta bisa tampak hancur (di
mata batin), tetapi dalam nafsu masih tersisa sisa-sisa ego. Oleh karena itu,
Syekh menempatkan "perbudakan alam semesta" sebelum "penjara
keberadaan manusia". Wallahu ta'ala a'lam.
Kemudian beliau menjelaskan karunia-karunia tersebut dengan berkata:
الأنوار مطايا القلوب والأسرار
"Cahaya-cahaya
(al-anwar) adalah kendaraan (mataya) bagi hati dan rahasia-rahasia batin
(al-asrar)."
Aku katakan: Cahaya (al-nur) adalah titik spiritual yang jatuh ke
dalam hati hamba dari makna suatu Asma (Nama) atau Sifat Allah, yang maknanya
meresap ke dalam seluruh jiwanya sehingga ia dapat melihat kebenaran dan
kebatilan dengan penglihatan yang jelas yang tidak memungkinkan baginya
berpaling dari konsekuensinya—demikian disampaikan oleh Syekh Zarruq.
Al-Mataya adalah bentuk jamak dari matiyyah, yaitu unta betina
yang disiapkan untuk ditunggangi. Al-Qulub adalah jamak dari qalub
(hati), yaitu hakikat jiwa yang siap menerima pemahaman. Al-Asrar adalah
jamak dari sirr (rahasia batin), yaitu hakikat jiwa yang siap menerima
penampakan Ilahi (tajalliyat). Sirr itu lebih halus dan lebih
bersih daripada hati (qalub). Semuanya merupakan penamaan bagi ruh:
·
Selama ruh itu masih gelap
oleh maksiat, dosa, syahwat, dan aib, ia dinamakan Nafsu (nafs).
·
Apabila ia berhasil dicegah
dan diikat seperti diikatnya unta, ia dinamakan Akal ('aql).
·
Selama ia masih
berbolak-balik antara kelalaian dan kesadaran, ia dinamakan Hati (qalub).
·
Apabila ia telah tenang,
tenteram, dan beristirahat dari kelelahan sifat kemanusiaan, ia dinamakan Ruh
(ruh).
·
Apabila ia telah bersih
dari keruhan indrawi, ia dinamakan Rahasia Batin (sirr), karena
ia telah menjadi salah satu rahasia Allah saat kembali ke asalnya, yaitu
rahasia kekuasaan Ilahi (sirr al-jabarut).
Maka apabila Allah Ta'ala berkehendak menyampaikan hamba-Nya ke hadirat
kesucian-Nya dan membawanya ke tempat kemesraan dengan-Nya, Dia membantunya
dengan penopang cahaya dan kendaraan spiritual. Hamba itu diangkut di atas
tandu pemeliharaan Ilahi, dihembusi angin sepoi-sepoi petunjuk, dan dilindungi
oleh pertolongan penjagaan-Nya. Maka ruh pun bertualang dari alam kemanusiaan
menuju alam kerohanian hingga menjadi rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: ( Katakanlah: "Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku" ).
Maka cahaya-cahaya yang merupakan karunia (al-waridat) tersebut
adalah kendaraan bagi hati yang membawanya menuju hadirat Dialah yang Maha
Mengetahui hal-hal gaib. Cahaya itu juga menjadi kendaraan bagi asrar
(rahasia batin) yang membawanya menuju kekuasaan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Gagah. Maka menempuh jalan (as-suluk) adalah petunjuk, sedangkan tarikan
Ilahi (al-jadzb) adalah pertolongan khusus.
Warid al-intibah (kesadaran) dan al-iqbal (pendekatan)
pembawaannya berbentuk suluk (perjalanan usaha), sedangkan warid
al-wisal (penyatuan) pembawaannya berbentuk jadzb (tarikan Ilahi).
Cahaya-cahaya yang menjadi kendaraan hati membawa mereka melalui jalur suluk,
hanya saja mereka diangkut di dalamnya dengan kelezatan cahaya kesadaran dan
pendekatan, sehingga suluk mereka terasa seolah-olah tarikan Ilahi (jadzb).
Adapun cahaya-cahaya yang membawa mereka di atas kendaraan asrar
(rahasia batin), ia membawa mereka melalui jalur jadzb yang berpadu
dengan suluk, sehingga mereka berada di antara jadzb dan suluk.
Dan pengangkutan jenis inilah yang paling agung. Wallahu ta'ala a’lam.
ثم بين كيفية السير على هذه المطايا وما يعوقها عن السير فقال : ا ا[ النور جند القلب ، كما أن الظلمة جند النفس ، فإذا أراد الله أن ينصر عبده أمده بجنود الأنوار ، وقطع عنه مدد الظلم والأغيار ]. ا
قلت : الظلمة نكتة تقع من الهوى في النفس عن عوارض الوهم فتوجب العمى عن الحق ؛ لتمكن الباطل من الحقيقة ، فيأتي العبد وينذر على غير بصيرة . قاله الشيخ زروق . ا
قلت : قد تقدم أن النفس والعقل والقلب والروح والسر أسماء لمسمى واحد ، وهو اللطيفة الربانية النورانية المودعة في هذا القالب الجسماني الظلماني ، وإنما اختلفت أسماؤها باختلاف أحوالها وتنقل أطوارها ، ومثال ذلك كماء المطر النازل في أصل الشجر ، ثم يصعد في فروعها فيظهر ورقًا ثم نورًا وأزهارًا ، ثم يعقد ثمرة ينمو حتى يكمل ، فالماء واحد واختلفت أسماؤه باختلاف أطواره ، هكذا قال الساحلي في بغيته . وقد نظمت في ذلك قصيدة ذكرت في غير هذا الكتاب ، فعلى هذا يكون تقابل القلب مع النفس بالمحاربة كناية عن صعوبة انتقال الروح من وطن الظلمة التي هي محل النفس إلى وطن النور الذي هو الطلب وما بعده . فالقلب يحاربها لينقلها إلى أصلها ، وهي تتقاعد وتسقط إلى أرض البشرية وشهواتها ، فالقلب له أنوار الواردات تقربه وتنصره حتى يترقى إلى الحضرة التي هي أصله وفيها كان وطنه ، وكأنها جنود له من حيث إنه يتقوى بها وينتصر على ظلمة النفس ، وهذه الأنوار هي الواردات المتقدمة ، والنفس لما ركنت إلى الشهوات واستحلتها صدرت كأنها جنود لها ، وهي ظلمة من حيث إنها حجبتها عن الحق ومنعتها من شهود شموس العرفان ، فإذا هاجت النفس بجنود ظلماتها وشهواتها إلى معصية أو شهوة رحل إليها القلب بجنود أنواره فيلتحم بينهما القتال ، فإذا أراد الله عناية عبده ونصره أمد قلبه بجنود الأنوار وقطع عنه من جهة النفس مدد الأغيار ، فيستولي النور على الظلمة وتولى النفس منهزمة ، وإذا أراد الله خذلان عبده أمد نفسه بالأغيار ، وقطع عن قلبه شوارق الأنوار ، فيأتي المنصور بالأمر على وجهه ، والمخذول بالشيء على عكسه . ا
ا
قال الشيخ زروق رضي الله عنه : وأمداد الأنوار ثلاثة : أولها يقين لا يخالطه شك ولا ريب . الثاني علم تصحبه بصيرة وبيان . الثالث إلهام يجري بعد العيان . ا
ا
وأمداد الظلم ثلاثة : أولها ضعف اليقين . ثانيها غلبة الجهل على النفس . ثالثها الشفقة على النفس ، وذلك كله أصله رضا عن النفس وعدمه ، ومظهره الثلاث المرتبة عليه ، وهي المعاصي والشهوات والغفلات ، وأضدادها المتقدمة في الباب الثالث فافهم ا.هـ . ا
Kemudian beliau menjelaskan cara berjalan di atas kendaraan-kendaraan
spiritual ini serta hal-hal yang menghalanginya, lalu berkata:
النور جند القلب ، كما أن الظلمة جند النفس ، فإذا أراد الله أن ينصر عبده أمده بجنود الأنوار ، وقطع عنه مدد الظلم والأغيار
"Cahaya adalah tentara hati, sebagaimana kegelapan adalah tentara
nafsu. Apabila Allah berkehendak menolong hamba-Nya, Dia membantunya dengan
tentara-tentara cahaya dan memutuskan bantuan kegelapan serta keterikatan
selain-Nya (al-aghyar) darinya."
Aku katakan: Kegelapan adalah bintik hitam yang jatuh dari hawa nafsu ke
dalam jiwa akibat bisikan prasangka (waham), sehingga menyebabkan kebutaan dari
kebenaran karena tertanamnya kebatilan dalam hakikat diri. Akibatnya, hamba
tersebut berbuat dan bertindak tanpa basirah (pandangan batin). Demikian
disampaikan oleh Syekh Zarruq.
Aku katakan: Telah dijelaskan sebelumnya bahwa nafsu, akal, hati, ruh, dan
sirr (rahasia batin) adalah nama-nama untuk satu hakikat yang sama, yaitu
al-latifah ar-rabbaniyyah an-nuraniyyah (kelembutan ketuhanan yang bercahaya)
yang dititipkan dalam jasad tubuh yang gelap ini. Penamaannya hanya
berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi (ahwal) dan perpindahan fasenya
(atwar). Perumpamaannya seperti air hujan yang turun ke pangkal pohon, kemudian
naik ke dahan-dahannya lalu muncul sebagai dedaunan, kemudian tunas dan bunga,
lalu menjadi buah yang tumbuh hingga sempurna. Airnya satu, tetapi namanya
berbeda-beda sesuai dengan fasenya. Demikianlah yang dikatakan As-Sahili dalam
kitab Bughyah-nya. Mengenai hal ini, aku telah menyusun قصيدة (syair) yang disebutkan di luar kitab ini.
Berdasarkan hal tersebut, pertentangan antara hati dan nafsu dalam
peperangan merupakan metafora dari sulitnya perpindahan ruh dari "negeri
kegelapan" (tempat kedudukan nafsu) menuju "negeri cahaya"
(tingkat pencarian dan setelahnya). Hati memerangi nafsu untuk mengembalikannya
ke asalnya, sedangkan nafsu enggan dan jatuh ke bumi kemanusiaan serta
syahwatnya. Bagi hati, terdapat cahaya karunia (anwar al-waridat) yang
mendekatkan dan menolongnya hingga ia naik ke Hadirat Ilahi yang merupakan asal
dan negerinya. Cahaya-cahaya tersebut seolah-olah menjadi tentara bagi hati
karena menguatkan dan memenangkannya atas kegelapan nafsu. Cahaya-cahaya ini
adalah al-waridat yang telah dijelaskan sebelumnya.
Adapun nafsu, ketika ia cenderung dan menyukai syahwat, syahwat itu menjadi
tentara baginya. Nafsu adalah kegelapan karena ia menghalangi jiwa dari
Kebenaran (Allah) dan menghalanginya dari menyaksikan matahari ma'rifat.
Apabila nafsu berkecamuk membawa pasukan kegelapan dan syahwatnya menuju
kemaksiatan, hati akan mendatangi pertempuran itu dengan pasukan cahayanya,
sehingga berkecamuklah peperangan di antara keduanya.
Jika Allah menghendaki pertolongan
dan pemeliharaan bagi hamba-Nya, Dia menopang hatinya dengan pasukan cahaya dan
memutuskan bantuan al-aghyar dari pihak nafsu. Maka cahaya pun menguasai
kegelapan dan nafsu lari terhimpit kekalahan.
Sebaliknya, jika Allah menghendaki
kehinaan bagi hamba-Nya, Dia membantu nafsunya dengan al-aghyar dan memutuskan
pancaran cahaya dari hatinya. Maka orang yang ditolong akan mendatangkan
perkara sesuai tempatnya, sedangkan orang yang terhina akan mendatangkan hal
sebaliknya.
Syekh Zarruq radhiyallahu 'anhu berkata: Bantuan cahaya itu ada tiga:
Keyakinan (yaqin) yang tidak
dicampuri oleh keraguan dan kebimbangan sedikit pun.
Ilmu yang disertai dengan
pandangan batin (basirah) dan penjelasan yang terang.
Ilham yang mengalir setelah
penyaksian langsung ('ayan).
Sedangkan bantuan kegelapan ada tiga:
Lemahnya keyakinan.
Dominasi kebodohan (jahal) atas
jiwa.
Rasa kasihan/belas kasihan yang
berlebihan terhadap nafsu (memanjakan ego).
Semua itu pangkalnya adalah rasa ridha (puas) terhadap diri sendiri atau
ketiadaannya. Manifestasinya terlihat pada tiga tingkatan yang dibangun di
atasnya, yaitu: kemaksiatan, syahwat, dan kelalaian (ghaflah)—serta
kebalikan-kebalikannya sebagaimana telah dijelaskan pada Bab Ketiga. Maka
pahamilah. Selesai.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.