بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Wasiat No. (48):
Adab-Adab Umum dan Peringatan
الوصية رقم (٤٨)
آداب عامة وتنبيهات
اكظُمِ التثاؤب ما استطعتَ فإنه من الشيطان، وإياك أن تصوِّتَ فيه، فإن ذلك صوتُ الشيطان، والعطاس في الصلاة من الشيطان أيضاً، وفي غير الصلاة العطاس ليس من الشيطان، وإياك والطَّرْق وهو: الضرب بالحصى، قال الشاعر
لَعَمْرُكَ ما تدري الضَّوارِبُ بالحصى ... ولا زاجِراتُ الطَّيرِ ما الله صانِعُ
وكذلك العِيافة وهي: زجرُ الطير والطيرة. وعليك بالفأل، والطيرة شرك، وإياك والبصاقَ في المسجد فإن غفلتَ فادفنها فذلك كفارتها، وإياك أن تستقبل القبلة ببصاقك ولا بخلائك، ولا تستدبرها أيضاً ببول ولا غائط فإن ذلك من آداب النبوة، وإذا أردتَ أن تأكل فاغسل يديك قبل الأكل وبعده وزد المضمضة منه في الغسل بعده، وعليك بالإحسان لمن ملكت يمينُك من جارية وغلام، ولا تكلفهما فوق طاقتهما، وإن كلَّفتهما فأعنهما فإنهما من إخوانكم، وإنما الله ملَّككم رقابَهم، فالكلُّ بنو آدم فهم إخواننا، فراعِ الله فيهم، واعلم أنك مسؤول عنهم يوم القيامة، وإذا عاقبت أحدهم على جناية فاعلم أن الله يوم القيامة يوقف العبد وسيده بين يديه ويحاسبه على جنايته وعلى عقوبته على ذلك، فإن خرجتْ رأساً برأس كان، وإن كانت العقوبة أكثر من الجناية اقتصَّ للعبد من السيد فتحفَّظ ولا تزد في العقوبة على ثلاثة أسواط، فإن كَثُرت فإلى عشرة، ولا تزد إلا في إقامة حدٍّ من حدود الله، فذلك حد الله لا تتعداه، فإن عفوت عن العبد في جنايته فهو أولى بك وأحوط لك، وإذا جئتَ إلى بيت قوم فاستأذن ثلاث مرات، فإن أُذن لك وإلا فارجع، ولا تنظر في بيت أخيك من حيث لا يعرف بك، فإنك إذا نظرت فقد دخلت، وإنما جعل الإذن من أجل البصر قال الله تعالى ﴿يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتاً غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلّموا﴾(١) وقال ﴿فلا تدخلوها حتى يُؤذن لكم، وإن قيل لكم ارْجعوا فارجعوا﴾(٢) وثبت في الحديث (الاستئذان ثلاث: فإن أذن لك وإلا فارجع)(٣) وإياك أن تتخذ الجرس في عنق دابتك، فإن الملائكة تنفر منه، وقد ورد بذلك الحديث النبوي
Tahanlah menguap sebisa mungkin karena
sesungguhnya menguap itu berasal dari setan, dan jauhilah mengeluarkan suara
saat menguap, karena suara itu adalah suara setan. Bersin di dalam salat juga
berasal dari setan, sedangkan di luar salat bersin bukanlah dari setan. Dan
jauhilah olehmu Al-Tharq, yaitu: meramal dengan
melemparkan batu kerikil. Seorang penyair berkata:
"Demi umurmu,
wanita-wanita yang melempar kerikil (meramal) dan orang-orang yang mengusir
burung (mencari kesialan) tidak akan pernah tahu apa yang akan diperbuat oleh
Allah."
Demikian pula dengan Al-'Iyafah, yaitu: mengusir burung (untuk meramal
nasib) dan merasa sial karena tanda-tanda tertentu (thiyarah).
Hendaklah engkau bersikap optimistis (al-fa'l), sedangkan thiyarah (merasa sial) adalah syirik. Jauhilah meludah
di dalam masjid; jika engkau telanjur melakukannya karena lalai, maka kuburlah
(bersihkanlah) ludah itu, karena itulah tebusannya. Jauhilah pula menghadap
kiblat saat meludah atau saat buang hajat, dan jangan pula membelakanginya saat
buang air kecil maupun buang air besar, karena menjaga hal tersebut termasuk
bagian dari adab kenabian.
Apabila engkau hendak
makan, maka cucilah kedua tanganmu sebelum makan dan setelahnya, serta tambahkanlah
berkumur-kumur ketika mencuci tangan setelah makan. Hendaklah engkau berbuat
baik kepada hamba sahaya yang engkau miliki, baik pelayan wanita maupun pelayan
laki-laki. Janganlah membebani mereka di luar batas kemampuan mereka, dan jika
engkau membebani mereka, maka bantulah mereka, karena sesungguhnya mereka
adalah saudara-saudara kalian. Allah hanyalah menjadikan kalian menguasai
mereka, padahal semua manusia adalah anak cucu Adam sehingga mereka adalah
saudara kita. Maka bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan mereka dan
ketahuilah bahwa engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka kelak di
hari kiamat.
Jika engkau menghukum
salah seorang dari mereka atas suatu kesalahan, ketahuilah bahwa pada hari
kiamat Allah akan mendudukkan seorang hamba sahaya bersama tuannya di
hadapan-Nya, lalu Allah akan menghisab sang hamba atas kesalahannya dan
menghisab sang tuan atas hukuman yang diberikannya. Jika hukuman itu sebanding
(pas) dengan kesalahannya, maka selesailah urusannya. Namun, jika hukuman yang
diberikan ternyata lebih besar daripada kesalahan yang diperbuat, maka hak
hamba tersebut akan dituntut dari tuannya (qisas). Oleh karena itu,
berhati-hatilah dan jangan melampaui tiga kali cambukan dalam menghukum. Jika
terpaksa harus banyak, maka batasnya hingga sepuluh kali, dan jangan melebihi
itu kecuali dalam menegakkan hukum batas (had) dari
aturan-aturan Allah, karena itu adalah batasan Allah yang tidak boleh engkau
lompati. Jika engkau memaafkan hamba tersebut atas kesalahannya, maka itu lebih
utama bagimu dan lebih aman bagi agamamu.
Apabila engkau
mendatangi rumah suatu kaum, maka mintalah izin sebanyak tiga kali. Jika engkau
diizinkan (maka masuklah), namun jika tidak, maka pulanglah. Janganlah engkau
mengintip ke dalam rumah saudaramu dari arah yang tidak ia ketahui, karena jika
engkau mengintip, seolah-olah engkau telah masuk ke dalamnya. Sesungguhnya
disyariatkannya meminta izin itu tidak lain adalah demi menjaga pandangan mata.
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin
dan memberi salam..."
(QS. An-Nur: 27).
Dan Dia berfirman:
"...maka janganlah kamu
memasukinya sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu,
'Kembalilah', maka hendaklah kamu kembali." (QS. An-Nur: 28).
Serta telah tsabit
(sahih) dalam hadis: "Meminta izin itu tiga kali; jika
diizinkan untukmu (maka masuklah), dan jika tidak, maka kembalilah."
Dan jauhilah olehmu
memasang lonceng pada leher hewan tungganganmu, karena sesungguhnya malaikat
akan menjauh darinya, dan telah ada hadis Nabi yang menyebutkan hal tersebut.
وكان بمكة رجل من أهل الكشف يقال له ابن الأسعد من أصحاب الشيخ أبي مدين صحبه ببجاية، فكان يوماً بالطواف وهو يشاهد الملائكة تطوف مع الناس، فنظر إليهم وإذا هم قد تركوا الطواف وخرجوا من المسجد سراعاً، فلم يدرِ ما سببُ ذلك حتى بقيتِ الكعبة ما عندها مَلَك، وإذا بالجمال بالأجراس في أعناقها قد دخلتْ المسجد بالروايا تسقي الناس، فلما خرجوا رجعتِ الملائكة، وقد ثبت ان الجرس مزاميرُ الشيطان
والذي أوصيك به أن تحافظ على أن تشتري نفسك من الله بعتق رقبتك من النار بأن تقول: لا إله إلا الله سبعين ألف مرة فإن الله يعتق رقبتك بها من النار، أو رقبة من تقولها عنه من الناس، ورد في ذلك خبرٌ نبوي. ولقد أخبرني أبو العباس لأحمدُ بن علي بن ميمون بن آب التوزري المعروف بالقسطلاني بمصر قال في هذا الأمر: إن الشيخ أبا الربيع الكفيف المالقي كان على مائدة طعام، وكان قد ذكر هذا الذكر وما وهبه لأحد، وكان معهم على المائدة شابٌّ صغير من أهل الكشف من الصالحين، فعندما مدَّ يده إلى الطعام بكى، فقال له الحاضرون: ما شأنك تبكي؟ فقال: هذه جهنم أراها، وأرى أمي فيها، وامتنع من الطعام وأخذ في البكاء، قال الشيخ أبو الربيع: فقلتُ في نفسي: اللهم إنك تعلم أني قد هلَّلْتُ هذه السبعين ألفاً، وقد جعلتها عتق أُمِّ هذا الصبي من النار - هذا كله في نفسي - فقال الصبي: الحمد لله أرى أمي قد خرجت من النار، وما أدري ما سببُ خروجها، وجعل الصبي يبتهجُ سروراً. وأكل مع الجماعة، قال أبو الربيع: فصحَّ عندي هذا الخبر النبوي، وصحَّ عندي كشفُ هذا الصبي الذي كان يزعم. وقد عملتُ أنا على هذا الحديث ورأيتُ له بركة في زوجتي لما ماتت
Dahulu di Mekah ada
seorang laki-laki dari kalangan ahli kasyf (orang
yang dibukakan mata batinnya) yang dipanggil Ibnu al-As'ad, salah satu sahabat
Syekh Abu Madyan yang menyertainya di Bejaia. Suatu hari ia sedang bertawaf dan
menyaksikan para malaikat ikut tawaf bersama manusia. Tiba-tiba ia melihat para
malaikat tersebut meninggalkan tawaf dan keluar dari masjid dengan
tergesa-gesa. Ia tidak tahu apa penyebabnya, sampai-sampai tidak tersisa satu
malaikat pun di sisi Ka'bah. Tiba-tiba, masuklah unta-unta yang membawa wadah
air (al-rawaya) untuk memberi minum orang-orang, dengan
lonceng-lonceng terpasang di leher mereka. Ketika unta-unta itu keluar, para
malaikat kembali lagi. Sungguh telah sahih (dalam hadis) bahwa lonceng adalah
seruling-seruling setan.
Dan hal yang aku
wasiatkan kepadamu adalah hendaklah engkau menjaga diri untuk membeli dirimu
sendiri dari Allah dengan membebaskan lehermu dari api neraka, yaitu dengan
mengucapkan: Lā ilāha illallāh (Tiada Tuhan selain Allah) sebanyak
tujuh puluh ribu (70.000) kali. Sesungguhnya Allah akan membebaskan lehermu
dari api neraka dengannya, atau leher orang lain dari manusia yang engkau
niatkan zikir tersebut untuknya; telah ada riwayat nabi mengenai hal tersebut.
Dan sungguh, Abu
al-Abbas (Ahmad bin Ali bin Maimun bin Ab al-Tuzari yang dikenal sebagai
al-Qasthalani di Mesir) telah mengabarkan kepadaku tentang urusan ini, dia
berkata: "Sesungguhnya Syekh Abu ar-Rabi' al-Kafif al-Malaqi sedang berada
di meja makan, dan ia telah mengamalkan zikir ini namun belum menghadiahkannya
kepada siapa pun. Di meja makan itu ada seorang pemuda kecil (remaja) dari
kalangan ahli kasyf yang saleh. Ketika pemuda itu mengulurkan
tangannya ke makanan, tiba-tiba ia menangis. Orang-orang yang hadir bertanya
kepadanya: 'Ada apa denganmu sampai menangis?' Ia menjawab: 'Ini neraka Jahanam
aku melihatnya, dan aku melihat ibuku di dalamnya.' Ia pun menahan diri dari
makanan dan terus menangis.
Syekh Abu ar-Rabi'
berkata: 'Maka aku berkata dalam hatiku: Ya Allah, sesungguhnya Engkau
mengetahui bahwa aku telah bertahlil sebanyak tujuh puluh ribu kali ini, dan
aku menjadikannya sebagai penebus/pembebas ibu pemuda ini dari api neraka
—semua ini aku niatkan di dalam hatiku—.' Tiba-tiba pemuda itu berkata:
'Alhamdulillah, aku melihat ibuku telah keluar dari neraka, dan aku tidak tahu
apa penyebab keluarnya.' Pemuda itu pun menjadi sangat gembira dan bersuka
cita, lalu ia makan bersama jamaah. Abu ar-Rabi' berkata: 'Maka sahihlah bagiku
riwayat nabi ini, dan sahih pula bagiku kasyf pemuda yang ia
katakan itu. Dan aku sendiri telah mengamalkan hadis ini serta melihat
keberkahannya pada istriku ketika ia wafat.'"
وعليك بإصلاح ذات البين وهو: الفراق فإن الإصلاح بين الناس من الخير المعين في الكتاب، وإذا كان الله قد رغَّب بل أمر من أمر من المسلمين إذا جنح الكفار إلى السلم أن يجنحوا لها، فأحرى الصلح بين المتهاجرين من المسلمين. وإياك وإفسادَ ذاتِ البين فإنها الحالقة، والبين هنا: هو الوصل، ومعنى قول النبي ﷺ (الحالقة) أنها تحلق الحسنات كما يحلق الحلاق الشعر من الرأس، قال الله تعالى ﴿لقد تقطّعَ بينكم﴾(١) بالرفع يعني الوصل، والبين في اللسان من الأضداد كالجون(١). يا وليّ أطعم عبدك مما تأكل وألبسه ما تتلبس، وراعِ قدْرَه وانظر فيما ثبت فيهم من رسول الله ﷺ بقوله (إخوانكم خوَلُكم(٢) جعلهم الله تحت أيديكم، فمن كان أخوه تحت يده فليُطعمه مما يأكل، ولْيُلبسه مما يلبس)(٣) واغتنم صحة البدن والفراغ من شغل الدنيا، واستعن بهاتين النعمتين اللتين أنعم الله عليك بهما على طاعة الله،! فإنه ما أصحَّ بدنك ولا فرَّغك من هموم الدنيا إلا لطاعته والقيام بحدوده، وإلا كانت الحجة عليك لله، فاحذر أن يكون الله خصمك، ولتقل في كل يوم عند كل صباح مائة مرة سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم فإن هذا الذكر لا يبقي عليك ذنباً
Dan hendaklah engkau
mendamaikan perselisihan (iṣlāḥ żāt al-bain)—sedangkan
kata al-bain di sini bisa bermakna perpisahan—karena
sesungguhnya mendamaikan hubungan antarmanusia termasuk kebaikan yang jelas
digariskan di dalam Al-Kitab (Al-Qur'an). Dan apabila Allah telah menganjurkan,
bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk condong kepada perdamaian jika
orang-orang kafir condong kepadanya, maka tentu lebih utama lagi mengusahakan
perdamaian di antara sesama muslim yang saling menjauh (bermusuhan).
Dan jauhilah olehmu
merusak hubungan antarmanusia, karena sesungguhnya perbuatan itu adalah al-ḥāliqah (pengikis/perontok). Kata al-bain di sini juga bisa bermakna al-waṣl (hubungan/sambungan). Arti dari sabda Nabi ﷺ mengenai al-ḥāliqah adalah
bahwa perbuatan tersebut mengikis pahala kebaikan-kebaikan sebagaimana tukang
cukur mencukur habis rambut dari kepala. Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, telah terputus
(hubungan) di antara kamu." (QS. Al-An'am: 94).
Menggunakan harakat
rafa' pada kata bainukum yang berarti hubungan.
Kata al-bain dalam rumpun bahasa Arab termasuk ke dalam
kelompok kata al-aḍdād (kata yang memiliki dua arti yang saling
berlawanan), sama seperti kata al-jaun.
Wahai para pemilik
(tuan), berilah makan hamba sahayamu (pelayanmu) dari apa yang engkau makan,
dan berilah ia pakaian dari apa yang engkau pakai. Jagalah kehormatan serta
derajatnya, dan perhatikanlah apa yang telah sahih mengenai diri mereka dari
Rasulullah ﷺ
melalui sabda beliau:
"Mereka (para
pelayan/hamba sahaya) adalah saudara-saudara kalian sekaligus tanggungan kalian
yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian. Maka barangsiapa yang saudaranya
berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia
makan, dan memberinya pakaian dari apa yang ia pakai."
Dan manfaatkanlah
kesehatan badan serta waktu luangmu dari kesibukan urusan dunia. Pergunakanlah
kedua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu ini untuk taat kepada Allah!
Karena tidaklah Allah menyehatkan badanmu dan membebaskan dirimu dari beban
pikiran duniawi, melainkan agar engkau menggunakannya untuk menaati-Nya dan
menegakkan aturan-aturan-Nya. Jika tidak digunakan demikian, maka segala nikmat
itu akan berbalik menjadi hujah (bukti pelanggaran) yang memberatkanmu di
hadapan Allah. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai Allah menjadi
penuntutmu (musuhmu) kelak.
Dan ucapkanlah setiap
hari di waktu pagi sebanyak seratus kali: Subḥānallāhi wa bihamdihi,
Subḥānallāhil-'Aẓīm (Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya,
Maha Suci Allah Yang Maha Agung). Sesungguhnya zikir ini tidak akan menyisakan
satu pun dosa bagimu.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.