بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Wasiat No. (47):
Memenuhi Janji, Amanah dalam
Ucapan, Komitmen, dan Silaturahmi
الوصية رقم (٤٧)
وفاء وأمانة بالقول والعهد والصلة
الله الله أن تعود في شيء خرجتَ عنه لله تعالى، ولا تعقد مع الله عقداً ولا عهداً ثم تنقُضه بعد ذلك وتحلّه ولا تفي به، ولو تركته لما هو خير، فإن ذلك من خاطر الشيطان فافعله، وافعل الخير الآخر الذي أخطرَه لك الشيطان حتى لا تفي بالأول، فإنَّ غرضه أن توصف بوصف الذين ينقُضون عهد الله من بعد ميثاقه
وعليك بصلة الرحم فإنها شِجْنة من الرحمن(١) وبها وقع النسب بيننا وبين الله، فمن وصل رحمه وصله الله، ومن قطع رحمه قطعه الله، وإذا استشرت في أمرٍ فقد أُمِنتَ المستشير فلا تَخُنه، فإن كان في نكاح فإن شئت أن تذكر ما تعرفه فيمن سُئلتَ عنه مما يكرهه لو سمعه، فإن ذلك الذكر ليس بغيبة يتعلق بها ذم، فإن كنت من أهل الورع الأشداء فيه، ويحوك في نفسك شيء من هذا الذكر فلا تذكر ما تعرف فيه من القبيح، وقل كلاماً مُجْمَلاً، مثل أن تقول: ما تصلحُ لكم مصاهرته، من غير تعيين، ويكفي هذا القدر من الكلام، فإن كنتَ تعلم من قرائن الأحوال أنَّ هذا الأمر الذي تذمّه به في نظرك لا يقدح عند القوم الذين يطلبون نكاحه فما خُنتهم إذا لم تذكر لهم ما يقبح عندك فإنه ليس بقبيح عندهم، وهم مُقْدِمون عليه، وهذا موقوف على معرفة أحوال الناس. ومثلُ هذا الكلام في الأسانيد في حديث رسول الله ﷺ، كان أحمد بن حنبل يقول ليحيى بن معين: تعالَ نَغْتَب في الله - والمستشار مؤتمن. وإياك والأكل والشرب في أواني الذهب والفضة، وإياك والجلوس على مائدة، يُدار عليها الخمر أو ما هو حرامٌ أصلاً، واجتنب لباس الحرير والذهب إن كنت رجلاً وهو حلال للمرأة، وإذا رأيت رؤيا تُحزنك واستيقظتَ فاتفُل عن يسارك ثلاث مرات وقل: أعوذ بالله من شرِّ ما رأيت، وتحوَّل عن جنبك الذي كنتَ عليه في حال رؤياك إلى الجنب الآخر، ولا تُحدِّث بما رأيت فإنها لا تضرك أصلاً، وحافظ على مثل هذا تَرَ برهانه، فإن كثيراً من الناس وإن استعاذوا يتحدثون بما رأوه، وقد ورد أنَّ الرؤيا معلقةٌ برِجْل طائر، فإذا قالها سقطت لما قيلت له
Bertakwalah kepada Allah, jangan sekali-kali
engkau kembali kepada sesuatu yang telah engkau tinggalkan demi Allah Ta'ala.
Jangan pula engkau mengikat suatu akad atau janji dengan Allah, kemudian
setelah itu engkau merusaknya, melepaskannya, dan tidak memenuhinya, meskipun
engkau meninggalkannya demi sesuatu yang (tampak) lebih baik. Sesungguhnya hal
itu berasal dari bisikan setan, maka tetap laksanakanlah janji tersebut, dan
lakukan pula kebaikan lain yang dibisikkan setan kepadamu (yang tadinya
digunakan) agar engkau tidak memenuhi janji yang pertama. Karena sesungguhnya
tujuan setan adalah agar engkau disifati dengan sifat orang-orang yang merusak
janji Allah setelah diikrarkan.
Dan hendaklah engkau
menyambung tali silaturahmi, karena sesungguhnya rahim itu adalah ikatan
jalinan dari Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), dan melaluinya terjalin hubungan
nisbat antara kita dengan Allah. Barangsiapa yang menyambung silaturahmi, maka
Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskan
silaturahmi, maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.
Apabila engkau
dimintai pendapat (musyawarah) dalam suatu urusan, maka sesungguhnya engkau
telah diberi amanah oleh orang yang meminta nasihat tersebut, maka janganlah
engkau mengkhianatinya. Jika urusan itu berkaitan dengan pernikahan, dan jika
engkau mau, engkau boleh menyebutkan apa yang engkau ketahui tentang orang yang
ditanyakan itu—meskipun hal itu adalah sesuatu yang tidak disukainya jika ia
mendengarnya. Sesungguhnya penyebutan hal tersebut bukanlah termasuk ghibah
(gunjingan) yang mendatangkan celaan. Namun, jika engkau termasuk orang yang
sangat berhati-hati (wara' yang kuat) dan timbul ganjalan di dalam hatimu untuk
menyebutkannya, maka janganlah engkau sebutkan keburukan spesifik yang engkau
ketahui tentangnya. Cukup katakanlah kalimat yang bersifat global, seperti
ucapanmu: "Hubungan kekerabatan/pernikahan dengannya kurang cocok bagi
kalian," tanpa menjelaskan secara rinci. Perkataan dengan kadar seperti
ini sudah mencukupi.
Apabila engkau
mengetahui dari indikasi keadaan yang ada bahwa perkara yang engkau anggap
buruk itu sebenarnya tidak menjadi masalah (tidak merusak) di mata orang-orang
yang melamarnya, maka engkau tidak dianggap mengkhianati mereka jika engkau
tidak menyebutkan apa yang buruk menurutmu tersebut, karena hal itu tidaklah
buruk bagi mereka dan mereka tetap akan melanjutkannya; hal ini bergantung pada
pengetahuan tentang kondisi dan adat manusia.
Perkataan semacam ini
juga berlaku dalam penilaian sanad hadis Rasulullah ﷺ. Dahulu, Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepada Yahya bin
Ma'in: "Kemarilah, mari kita melakukan 'ghibah' demi Allah (maksudnya
mengkritik perawi hadis demi menjaga agama)" — dan orang yang dimintai
nasihat itu adalah orang yang diberi amanah.
Dan jauhilah olehmu
makan dan minum menggunakan bejana (wadah) yang terbuat dari emas dan perak. Jauhilah
pula duduk di meja makan yang dihidangkan khamar (minuman keras) di atasnya
atau sesuatu yang pada dasarnya haram. Hindarilah memakai pakaian sutra dan
emas jika engkau seorang laki-laki, sedangkan hal itu halal bagi wanita.
Apabila engkau
bermimpi buruk yang menyedihkanmu lalu engkau terbangun, maka meludahlah
(meniup sedikit dengan air liur tipis) ke arah kirimu sebanyak tiga kali dan
ucapkanlah: "Aku berlindung kepada Allah dari keburukan apa yang aku
lihat." Dan berbaliklah dari sisi lambung tempat tidurmu semula
saat bermimpi ke sisi lambung yang lain. Jangan menceritakan mimpi tersebut
kepada siapa pun, karena mimpi itu tidak akan membahayakanmu sama sekali.
Jagalah amalan seperti ini niscaya engkau akan melihat buktinya. Sebab, banyak
orang yang walaupun sudah membaca ta'awudz (memohon perlindungan), mereka tetap
menceritakan apa yang mereka lihat dalam mimpi. Padahal, telah ada riwayat yang
menyebutkan bahwa mimpi itu bergantung pada kaki burung (artinya tidak
stabil/belum terwujud), maka apabila mimpi itu diceritakan, ia akan jatuh
(terjadi) sesuai dengan apa yang ditafsirkan atau dikatakan kepadanya.
وعليك باستعمال الطِّيب فإنه سنة، واستعمل منه - إن كنت ذكراً - ما ظهر ريحه وخفي لونه، وإن كنت امرأةً فاستعمل منه ما ظهر لونه وخفي ريحه، فإن الحديث النبوي بهذا ورد، وعليك بالسواك لكل صلاة وعند كل وضوء، وعند دخولك إلى بيتك، فإنه مطهرة للفم ومرضاة للرب. وقد ورد (إن صلاةً بسواك تفضُلُ سبعين صلاةً بغير سواك)(١) ذكره ابن زنجويه في كتاب الترغيب في فضائل الأعمال. وإياك واليمينَ الغموس فإنها تغمس صاحبها في الإثم، فإن الناس اختلفوا في كfارتها: فمنهم من ألحقها في الكفارة بالأيمان، ومنهم من قال: إنها لا كفارة فيها، وهي: اليمين التي تقطع بها حقاً للغير وجب عليك، وفي هذا فقه عجيب دقيق لمن نظر وتفقه في وجوب الحق، متى يكون؟ وبأي صفة يكون؟ وما منعني أن أبينه للناس إلا سداً للذريعة حتى لا يتأوّل فيه الجاهل فيتجاوزَ القدر الذي نذكره فيقع في الإثم وهو لا يشعر، فإن الفقهاء أغفلوا هذا الوجه الذي أومأنا إليه وما ذكروه. وإياك والمراء في القرآن فإنه كفر بنص الحديث، وهو: الخوض فيه بأنه مُحدَث، أو قديم، أو هل هو هذا المكتوب في المصاحف، والمتلو المتلفظ به عين كلام الله، أو ما هو عين كلام الله، فالكلام في مثل هذا، والخوض فيه هو الخوض في آيات الله، وهذا هو المراء والجدال في القرآن الداخل في قوله تعالى ﴿وإِذا رَأَيْتَ الذينَ يَخوضونَ في آياتِنا فَأَعْرِضْ عَنْهُم حتَّى يَخوضوا في حديثٍ غيرِهِ﴾(١) فسماه حديثاً وليس إلا القرآن، فلو أراد آياتِ غير القرآن لقال فيها بضمير الآية أو الآيات، فليس للذكورية هنا دخولٌ إلا إذا أراد آيات القرآن، والقرآنُ خبر الله والخبر عين الحديث، وقال تعالى ﴿ما يأتيهم من ذكرٍ من ربّهم محدَثٍ﴾(٢) ﴿إنّا نحنُ نزّلْنَا الذِّكْرَ﴾(٣) والذكر الحديث
Dan hendaklah engkau
memakai wewangian (minyak wangi), karena sesungguhnya hal itu adalah sunnah.
Pakailah wewangian itu—jika engkau seorang laki-laki—yang tampak (jelas)
aromanya dan tersembunyi warnanya. Sedangkan jika engkau seorang wanita, maka
pakailah wewangian yang tampak warnanya dan tersembunyi aromanya, karena
sesungguhnya hadis Nabi telah menyebutkan demikian.
Dan hendaklah engkau
bersiwak setiap kali akan salat dan setiap kali berwudu, serta ketika engkau
masuk ke dalam rumahmu, karena sesungguhnya siwak itu membersihkan mulut dan
mendatangkan rida Rabb (Tuhan). Dan telah diriwayatkan: "Sesungguhnya satu salat dengan bersiwak lebih utama daripada
tujuh puluh salat tanpa bersiwak." Hadis ini disebutkan oleh
Ibnu Zanjawayh dalam kitab Al-Targhib fi Fada'il Al-A'mal.
Dan jauhilah olehmu Yamin Al-Ghamus (sumpah palsu yang menenggelamkan),
karena sesungguhnya ia menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa. Sesungguhnya
manusia (para ulama) berbeda pendapat mengenai kafarat (denda penebusan)-nya:
di antara mereka ada yang menyamakannya dengan kafarat sumpah-sumpah biasa, dan
di antara mereka ada yang berkata: "Sesungguhnya tidak ada
kafarat di dalamnya." Yaitu, sumpah yang engkau gunakan untuk
memutus (menghilangkan atau mengambil) hak orang lain yang wajib engkau penuhi.
Di dalam hal ini terdapat pemahaman fikih yang mengagumkan dan mendalam bagi
siapa saja yang meneliti dan mendalami tentang kewajiban hak: Kapan ia terjadi?
Dan dalam sifat bagaimana ia wujud? Tidak ada yang menghalangiku untuk
menjelaskannya kepada manusia melainkan demi menutup celah (saddan li al-dzari'ah), agar orang yang bodoh tidak
menakwilkannya secara keliru lalu melampaui batasan yang kami sebutkan sehingga
ia jatuh ke dalam dosa tanpa ia sadari; karena para ahli fikih telah melalaikan
(tidak membahas) sisi yang kami isyaratkan ini dan mereka tidak menyebutkannya.
Dan jauhilah olehmu Al-Mira' (debat kusir/meragukan) dalam Al-Qur'an,
karena sesungguhnya hal itu adalah kekufuran berdasarkan teks hadis. Yang
dimaksud dengannya adalah: menyelami (memperdebatkan) Al-Qur'an tentang apakah
ia muhdats (makhluk/baru) atau qadim
(terdahulu/kekal), atau apakah yang tertulis di dalam mushaf-mushaf serta yang
dibaca dan dilafalkan ini merupakan zat asli Kalamullah (Firman Allah) atau
bukan zat asli Kalamullah. Pembicaraan dalam hal-hal semacam ini dan
menyelaminya termasuk bentuk menyelami ayat-ayat Allah. Ini adalah mira' dan perdebatan di dalam Al-Qur'an yang masuk ke
dalam firman Allah Ta'ala:
"Dan apabila kamu melihat
orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka
sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain." (QS. Al-An'am: 68).
Maka Allah
menamakannya sebagai hadits (pembicaraan), dan yang
dimaksud di sini tidak lain adalah Al-Qur'an. Seandainya yang dimaksud adalah
ayat-ayat selain Al-Qur'an, niscaya Dia akan menyebutkannya dengan kata ganti (dhamir) untuk kata tunggal 'ayat' atau 'ayat-ayat'.
Oleh karena itu, bentuk maskulin (dzukuriyyah pada
kata hadits) di sini tidak memiliki kaitan melainkan jika
yang dimaksud adalah ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah khabar (berita) dari Allah, dan khabar itu sendiri adalah esensi dari hadits (pembicaraan).
Allah Ta'ala berfirman: "Tidak datang kepada
mereka suatu peringatan yang baru (muhdats) dari Tuhan mereka..." (QS. Al-Anbiya: 2).
Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Kamilah yang
menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an)..." (QS. Al-Hijr: 9), dan Al-Dzikr di sini
adalah Al-Hadits.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.