بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Adab Orang yang Makrifat (Al-Arif) 2
ثم ذكر الأدب الثاني من آداب الحضرة القدسية ، وهي ترك الرعونات البشرية فقال
[إِحَالَتُكَ الأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الفَرَاغِ مِنْ رَعُونَاتِ النُّفُوسِ]
الإحالة على الشيء : هو تسليطه وإغراؤه عليه ، والمراد هنا توقف الأمر عليه ، بحيث لا يتوجه له حتى يتيسر وجوده ، والفراغ من الشيء : خلوه منه ، وفراغ القلب : خلوه مما يشغله ، وفراغ الجوارح : خلوها من الأشغال ، والرعونة : نوع من الحمق
من آداب العارف أن يكون كامل العقل ثاقب الذهن . ومن علامة العقل انتهاز الفرصة في العمل ، ومبادرة العمر غير تسويف ولا أمل ، إذ ما فات منه لا عوض له ، وما حصل لا قيمة له . وفي الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال أَلَا وَإِنَّ مِنْ عَلَامَةِ الْعَقْلِ التَّجَافِيَ عَنْ دَارِ الْغُرُورِ ، وَالْإِنَابَةَ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ وَالتَّزَوُّدَ لِسُكْنَى الْقُبُورِ ، وَالتَّأَهُّبَ لِيَوْمِ النُّشُورِ
وقال صلى الله عليه وسلم : « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ » اهـ
والكيس : هو العاقل . ودان نفسه : حاسبها
Adab Kedua dari Adab Memasuki Hadirat yang Qudus: Meninggalkan
Kebodohan Jiwa
Kemudian pengarang
menyebutkan adab kedua, yaitu meninggalkan kepongahan atau kebodohan jiwa (al-ra'unat al-basyariyyah), beliau berkata:
[إِحَالَتُكَ الأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الفَرَاغِ مِنْ رَعُونَاتِ النُّفُوسِ]
"Penundaanmu terhadap amal
perbuatan karena menanti waktu luang, termasuk bentuk kebodohan jiwa."
Menunda (al-ihalah) atas sesuatu artinya menggantungkan atau
mendasarkan perkara padanya. Yang dimaksud di sini adalah menghentikan suatu
urusan (amal) demi menanti tersedianya waktu luang, sehingga ia tidak
mengerjakannya sampai waktu luang itu terwujud.
·
Waktu luang (al-faragh) dari sesuatu berarti kosong darinya.
·
Luangnya hati
berarti kosongnya hati dari apa yang menyibukkannya.
·
Luangnya anggota badan berarti bebasnya fisik dari berbagai kesibukan.
·
Al-Ra'unah artinya sejenis ketungulan atau kebodohan (al-humq).
Di antara adab seorang
Arif adalah memiliki akal yang sempurna dan pikiran
yang tajam. Di antara tanda kesempurnaan akal adalah memanfaatkan kesempatan
untuk beramal, serta bersegera menggunakan sisa umur tanpa menunda-nunda (taswif) maupun berpanjang angan-angan (amal). Sebab, apa yang telah luput dari umur tidak akan
ada gantinya, dan apa yang telah berlalu (tanpa amal) tidak ada nilainya.
Dalam sebuah hadis
dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau bersabar:
"Ketahuilah, di antara
tanda orang yang berakal adalah menjauhkan diri dari negeri tipuan (dunia),
kembali menuju negeri keabadian (akhirat), mempersiapkan bekal untuk tinggal di
kubur, dan bersiap-siap menghadapi hari kebangkitan."
Beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
"Orang yang cerdas (berakal)
adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan
setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang menghambakan
dirinya pada hawa nafsunya, lalu ia mengharapkan berbagai angan-angan kosong
kepada Allah." (Al-Hadis).
·
Al-Kayyis artinya orang yang berakal/cerdas.
·
Dana nafsahu artinya mengoreksi atau menghisab dirinya
sendiri.
وفي صحف إبراهيم عليه السلام : وعلى العاقل مالم يكن مغلوبًا على عقله أن تكون له ساعات ، ساعة يناجي فيها ربه عز وجل ، وساعة يحاسب فيها نفسه ، وساعة يتفكر فيها في صنع الله عز وجل ، وساعة يخلو فيها بحاجته من المطعم والمشرب . وعلى العاقل ألا يكون ظاعنًا إلا لثلاث : تزود لمعاد ، أو مرمة لمعاش ، أو لذة في غير محرم ، وعلى العاقل أن يكون بصيرًا بزمانه ، مقبلاً على شأنه ، حفاظًا للسانه . ومن حسب كلامه من عمله قل كلامه إلا فيما يعنيه اهـ
فإحالتك الأعمال وتأخيرها إلى وقت آخر تكون فيه فارغ القلب أو القالب من علامة الرعونة والحمق ، وهو غرور ، ومن أين لك أن تصل إلى ذلك الوقت والموت هاجم عليك من حيث لاتشعر ؟ وعلى تقدير وصولك إليه لاتأمن من شغل آخر يعرض لك ، وفراغ الأشغال من حيث هو نادر لقوله عليه الصلاة والسلام : «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ : الصِّحَّةُ ، وَالْفَرَاغُ
أي كثير من الناس فقدوهما وغبنوا فيهما ، إذ كثير منهم لاتجده إلا مشغولاً بدنيًا ، أو مفتونًا بهوى ، أو مريضًا مبتلى . ومفهوم الكثير أن القليل من الناس رزقهم الله الصحة والفراغ ، فإن عمروهما بطاعة مولاهم فقد شكروا وربحوا ربحًا عظيمًا ، وإن ضيعوهما فقد خسروا خسرانًا مبينًا وكفروا بهاتين النعمتين ، فجدير أن تسلبا عنهم ، وهو أيضًا من علامة الخذلان ، وسيأتي من كلام الشيخ : الخذلان كل الخذلان أن تقل عوائقك ثم لاتقبل عليه ، فالواجب على الإنسان أن يقطع علائقه وعوائقه ، ويخالف هواه ، ويبادر إلى خدمة مولاه ، ولاينتظر وقتًا آخر ؛ إذ الفقير ابن وقته ، فلا تجده مشغولاً إلا بفكرة أو نظرة أو ذكر أو مذاكرة أو خدمة شيخ يوصله إلى مولاه . وقد قلت لبعض الإخوان : الفقير الصديق ليس له فكرة ولا هدرة إلا في الحضرة أو ما يوصله للحضرة ، والله تعالى أعلم
Di dalam Suhuf (lembaran wahyu) Nabi Ibrahim alaihissalam
disebutkan: "Dan wajib bagi orang yang
berakal, selama akalnya tidak terganggu, untuk membagi waktunya menjadi
beberapa bagian: waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya yang Mahamulia lagi
Mahaagung, waktu untuk mengoreksi (menghisab) dirinya sendiri, waktu untuk
memikirkan ciptaan Allah yang Mahamulia lagi Mahaagung, dan waktu untuk
menyendiri guna memenuhi kebutuhannya berupa makan dan minum. Wajib pula bagi
orang yang berakal untuk tidak bepergian (melakukan perjalanan) kecuali untuk
tiga hal: mencari bekal untuk hari akhirat, memperbaiki penghidupan (mencari
nafkah), atau menikmati kelezatan yang tidak diharamkan. Dan wajib bagi orang
yang berakal untuk mengenali zamannya, fokus pada urusannya sendiri, serta
menjaga lidahnya. Siapa yang menghitung perkataannya sebagai bagian dari
amalnya, niscaya akan sedikit bicaranya kecuali dalam hal yang penting
baginya." [Selesai kutipan].
Maka penundaanmu
terhadap amal perbuatan dan mengakhirkannya ke waktu lain di saat hatimu atau
fisikmu luang, merupakan bagian dari tanda kebodohan serta ketungulan jiwa, dan
itu adalah bentuk tipuan belaka. Bagaimana mungkin engkau yakin bisa mencapai
waktu luang tersebut, padahal kematian bisa menyerangmu tiba-tiba dari arah
yang tidak engkau sadari?
Dan andaikata engkau
benar-benar sampai pada waktu tersebut, engkau tetap tidak akan aman dari
kesibukan lain yang siap menghadangmu. Sungguh, kondisi yang benar-benar bersih
dari kesibukan itu adalah hal yang sangat langka, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
"Dua nikmat yang banyak
manusia merugi (tertipu) di dalam keduanya: kesehatan dan waktu luang."
Maksudnya, banyak
manusia yang kehilangan manfaat dari kedua nikmat tersebut dan tertipu di
dalamnya. Engkau tidak mendapati kebanyakan dari mereka melainkan dalam kondisi
sibuk dengan urusan dunia, terfitnah oleh hawa nafsu, atau menjadi orang sakit
yang sedang diuji.
Pemahaman terbalik (mafhum) dari kata "banyak" mengisyaratkan
bahwa hanya sedikit manusia yang benar-benar dianugerahi Allah kesehatan dan
waktu luang (lalu memanfaatkannya). Jika mereka memakmurkan kedua nikmat
tersebut dengan ketaatan kepada Tuan (Allah) mereka, maka mereka telah
bersyukur dan beruntung dengan keberuntungan yang sangat besar. Namun, jika
mereka menyia-nyiakannya, maka mereka telah merugi dengan kerugian yang nyata
serta mengkufuri kedua nikmat tersebut, sehingga sudah sepantasnya kedua nikmat
itu dicabut kembali dari mereka.
Sikap menunda ini juga
termasuk tanda khidlan (dilepaskan dari taufik
Allah). Kelak akan datang penjelasan dari perkataan Syekh: "Khidlan yang sebenar-benarnya adalah ketika hambatanmu
berkurang namun engkau tetap tidak mau menghadap kepada-Nya."
Oleh karena itu, wajib
bagi manusia untuk memutuskan segala keterikatan dan hambatan duniawinya,
menyelisihi hawa nafsunya, serta bersegera mengabdi kepada Tuannya, tanpa
menunggu waktu yang lain. Sebab, seorang faqir (penempuh
jalan spiritual) adalah "anak dari waktunya" (hidup dan beramal di
saat ini). Engkau tidak akan mendapatinya sibuk melainkan dengan bertafakur,
memandang untuk mengambil pelajaran, berzikir, bermudzakarah (berdiskusi ilmu),
atau berkhidmah kepada seorang syekh yang dapat mengantarkannya kepada
Tuhannya.
Aku telah berkata
kepada sebagian ikhwan (saudara seagama):
"Seorang faqir yang sejati
(ash-shiddiq) tidak memiliki pikiran maupun ucapan melainkan selalu berada di
Hadirat-Nya atau pada hal-hal yang mengantarkannya menuju Hadirat-Nya."
Wallahu Ta'ala A'lam (Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.