بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Adab Orang yang Makrifat (Al-Arif) 3
ثم ذكر الأدب الثالث : وهو إقامته حيث أقامه الله ، فقال
لَا تَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيمَا سِوَاهَا ، فَلَوْ أَرَادَكَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ
قلت : من آداب العارف الاكتفاء بعلم الله والاستغناء به عما سواه ، فإذا أقامه الله تعالى في حالة من الأحوال فلا يستحقرها ويطلب الخروج منها إلى حالة أخرى ، فلو أراد الحق تعالى أن يخرجه من تلك الحالة ويستعمله فيما هواها لاستعمله من غير أن يطلب منه أو يخرجه ، بل يمكث على ما أقامه فيه الحق تعالى حتى يكون هو الذي يتولى إخراجه كما تولى إدخاله :( وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ ) .
فالمدخل الصدق : هو أن تدخل فيه بالله ، والمخرج الصدق : هو أن تخرج منه بالله وهذا هو الفهم عن الله ، وهو من علامة تحقق المعرفة بالله ، فالعارف بالله إذا كان أعزب لايتمنى التزويج ، وإذا كان متزوجًا لايتمنى الفراق ، وإذا كان فقيرًا لايتمنى الغنى ، وإذا كان غنيًا لايتمنى الفقر ، وإذا كان صحيحًا لايتمنى المرض ، وإذا كان مريضًا لايتمنى الصحة وإذا كان عزيزًا لايتمنى الذل ، وإذا كان ذليلاً لايتمنى العز ، وإذا كان مقبوضًا لايتمنى البسط ، وإذا كان مبسوطًا لايتمنى القبض . وإذا كان قويًا لايتمنى الضعف ، وإذا كان ضعيفًا لايتمنى القوة ، وإذا كان مقيمًا لايتمنى السفر ، وإذا كان مسافرًا لايتمنى الإقامة ، وهكذا باقي الأحوال ينظر مايفعل الله به ولا ينظر مايفعل بنفسه لتحقق زواله ، بل يكون كالميت بين يدي الغاسل أو كالقلم بين الأصابع كما قال صاحب العينية رضي الله عنه
أَرَانِي كَالْآلَاتِ وَهْوَ مُحَرِّكِي ... أَنَا قَلَمٌ وَالْاِقْتِدَارُ أَصَابِعُ
قال تعالى : ( وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ) وقال تعالى : ( وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ )
Adab
Ketiga: Menetap di Tempat yang Telah Ditentukan Allah
Kemudian
pengarang menyebutkan adab ketiga, yaitu komitmen hamba untuk menetap di mana
pun Allah menempatkannya. Beliau berkata:
لَا تَطْلُبْ
مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيمَا سِوَاهَا ،
فَلَوْ أَرَادَكَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ
"Janganlah
engkau meminta kepada-Nya agar mengeluarkanmu dari suatu kondisi demi
mempekerjakanmu (menggunakan dirimu) pada kondisi yang lain. Sebab, andaikata
Dia menghendaki dirimu (berada di kondisi lain itu), niscaya Dia akan
mempekerjakanmu tanpa harus mengeluarkanmu (dari kondisimu saat ini)."
Aku
berkata: Di antara adab seorang Arif adalah merasa
cukup dengan pengetahuan Allah serta merasa kaya bersama-Nya dari segala
sesuatu selain-Nya. Apabila Allah menempatkannya dalam suatu kondisi dari
berbagai kondisi kehidupan, maka ia tidak akan meremehkan kondisi tersebut dan
tidak pula menuntut untuk keluar darinya menuju kondisi yang lain.
Andaikata
Allah Yang Mahabenar menghendaki untuk mengeluarkannya dari kondisi tersebut
dan mempergunakannya pada kondisi yang ia inginkan, niscaya Allah akan
mempergunakannya tanpa perlu hamba itu memintanya atau bersusah payah keluar.
Sebaliknya, ia tetap berdiam di atas apa yang telah Allah tetapkan baginya,
hingga Allah sendiri yang mengaturnya untuk keluar, sebagaimana Allah pula yang
mengaturnya saat masuk. Allah berfirman:
"Dan
katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (jujur) dan
keluarkanlah aku secara keluar yang benar (jujur)."
·
Masuk
yang benar (mudkhala shidqin)
adalah engkau memasuki suatu urusan bersama Allah (bersandar kepada-Nya).
·
Keluar
yang benar (mukhraja shidqin)
adalah engkau keluar dari suatu urusan bersama Allah.
Inilah
bentuk kepahaman yang mendalam dari Allah, dan termasuk tanda nyata dari
pencapaian makrifat kepada Allah. Maka, seorang yang Arif
billah:
·
Jika
ia masih melajang, ia tidak berambisi menuntut pernikahan.
·
Jika
ia telah menikah, ia tidak berangan-angan untuk berpisah.
·
Jika
ia dalam keadaan miskin, ia tidak menuntut kekayaan.
·
Jika
ia dalam keadaan kaya, ia tidak berangan-angan menjadi miskin.
·
Jika
ia dalam keadaan sehat, ia tidak mengharapkan sakit.
·
Jika
ia dalam keadaan sakit, ia tidak menuntut kesembuhan (dengan rasa tidak rida).
·
Jika
ia dalam keadaan mulia, ia tidak mengharapkan kehinaan.
·
Jika
ia dalam keadaan hina, ia tidak menuntut kemuliaan.
·
Jika
hatinya sedang mengalami rasa sempit (maqbudh), ia tidak
menuntut kelapangan (basth).
·
Jika
hatinya sedang lapang (mabsuth), ia tidak menuntut
kesempitan (qabdh).
·
Jika
ia kuat, ia tidak mengharapkan kelemahan.
·
Jika
ia lemah, ia tidak menuntut kekuatan.
·
Jika
ia sedang menetap (muqim), ia tidak menuntut safar
(bepergian).
·
Jika
ia sedang bersafar, ia tidak menuntut untuk menetap.
Demikianlah
pada kondisi-kondisi lainnya; ia senantiasa melihat pada apa yang Allah perbuat
atas dirinya, bukan melihat pada apa yang ingin ia perbuat untuk dirinya
sendiri demi mewujudkan hilangnya kondisi itu. Sebaliknya, ia memosisikan diri
laksana mayat di hadapan orang yang memandikannya, atau laksana pena di antara
jemari tangan, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis kitab Al-Ainiyyah (semoga Allah meridtainya) dalam syairnya:
Aku
melihat diriku laksana perkakas, sementara Dia yang menggerakkanku...
Aku
bagaikan pena, dan takdir kekuasaan-Nya adalah jemari yang menggerakkan.
Allah
Ta'ala berfirman:
·
"Dan
Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak
ada pilihan bagi mereka."
·
"Dan
kamu tidak mampu menginginkan (sesuatu) kecuali bila dikehendaki Allah."
وأوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام فقال : ياداود تريد وأريد ولايكون إلا ما أريد ، فإن سلمت لي ما أريد أتيتك بما تريد ، وإن لم تسلم لي ما أريد أتعبتك فيما تريد ولايكون إلا ما أريد
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي هريرة
« جَفَّ القَلَمُ بِمَا أَنْتَ لَاقٍ » وفي حديث آخر : « جَفَّتِ الأَقْلَامُ ، وَطُوِيَتِ الصُّحُفُ »
وقال شيخ شيوخنا سيدي أحمد اليماني رضي الله عنه حين سأله أصحابه عن حقيقة الولاية فقال لهم : حقيقة الولاية أنه إذا كان صاحبها جالسًا في الظل لا تشتهي نفسه الجلوس في الشمس ، وإذا كان جالسًا في الشمس لا تشتهي نفسه الجلوس في الظل اهـ. وهذا كله مع الاختيار دون الأمر الضروري ، وقد تقدم قول شيخ شيوخنا سيدي علي رضي الله عنه : من أوصاف الولي الكامل ألا يكون محتاجًا إلا على الحال الذي يقيمه مولاه فيه في الوقت ، يعني ما له مراد إلا ما يبرز من عنصر القدرة لا تشتهي نفسه غيره ا هـ
قلت : فإذا تجلى في العارف شيء من هذه الأمور أعني الانتقال من حال إلى حال فليتأن وليصبر حتى يفهم أنه من الله ، بإشارة ظاهرة أو باطنة أو هاتف حسي أو معنوي ، ولينصت إلى الهواتف فإن الله تعالى يخاطبه بما يفعل ، وهذا أمر مجرب صحيح عند العارفين حتى إنهم لا يتصرفون إلا بإذن من الله ورسوله ، إذ لا فرق عند أهل الجمع ، جعلنا الله منهم آمين . وهذا كله إذا كان الحال الذي هو فيه موافقًا للشريعة وإلا فليطلب الخروج منه بما يمكن
Dan
Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Dawud 'alaihis salam, Dia berfirman:
"Wahai Dawud, engkau berkehendak dan Aku pun berkehendak, namun tidak akan
terjadi kecuali apa yang Aku kehendaki. Jika engkau berserah diri (ridha)
kepada-Ku atas apa yang Aku kehendaki, maka Aku akan mencukupkanmu dalam apa
yang engkau kehendaki. Namun jika engkau tidak berserah diri kepada-Ku atas apa
yang Aku kehendaki, niscaya Aku akan membuatmu lelah dalam mengejar apa yang
engkau kehendaki, dan tetap tidak akan terjadi kecuali apa yang Aku
kehendaki."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah:
"Pena
telah kering mencatat apa yang akan engkau temui." Dan dalam hadis yang lain disebutkan: "Pena-pena telah kering dan lembaran-lembaran catatan telah
dilipat."
Syaikh
dari guru-guru kami, Sayyidi Ahmad Al-Yamani radhiyallahu 'anhu, ketika para
sahabatnya bertanya kepadanya tentang hakikat kewalian (wilayah), beliau menjawab: "Hakikat kewalian
adalah apabila pemiliknya sedang duduk di tempat yang teduh, jiwanya tidak
berhasrat untuk duduk di bawah terik matahari. Dan jika ia sedang duduk di
bawah terik matahari, jiwanya tidak berhasrat untuk duduk di tempat yang
teduh." (Selesai kutipan). Semua ini berlaku dalam kondisi memilih
(keinginan bebas), bukan dalam kondisi darurat. Dan telah berlalu perkataan
Syaikh dari guru-guru kami, Sayyidi 'Ali radhiyallahu 'anhu: "Di antara
sifat wali yang sempurna adalah ia tidak merasa butuh kecuali pada kondisi di
mana Tuannya (Allah) menempatkannya saat itu. Artinya, ia tidak memiliki
keinginan kecuali apa yang muncul dari kuasa-Nya, dan jiwanya tidak berhasrat
kepada selain itu." (Selesai kutipan).
Aku
(penulis) berkata: Jika tampak pada diri seorang arif (orang yang
makrifat) sesuatu dari perkara-perkara ini—maksudku perpindahan dari satu
kondisi (hal) ke kondisi lainnya—maka hendaklah ia bersikap
tenang dan bersabar sampai ia memahami bahwa hal itu datang dari Allah; baik
melalui isyarat yang zahir (nyata), batin, maupun suara gaib (hatif) yang bersifat indrawi atau maknawi. Hendaklah ia
mendengarkan suara-suara gaib tersebut, karena sesungguhnya Allah Ta'ala sedang
menyapanya melalui apa yang Dia lakukan. Perkara ini telah teruji kebenarannya
di kalangan para arif, bahkan mereka tidak bertindak
kecuali dengan izin dari Allah dan Rasul-Nya, karena tidak ada perbedaan bagi Ahlul Jam'i (orang-orang yang telah sampai pada maqam
penyatuan rasa kepada Allah). Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka,
Amin. Semua ini berlaku apabila kondisi yang dialaminya selaras dengan syariat;
jika tidak, maka hendaklah ia berusaha keluar dari kondisi tersebut dengan
segala cara yang memungkinkan.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.