بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bab Kedua:
Adab Orang yang Makrifat (Al-Arif)
البَابُ الثَّانِي
آداب العارف
فلما فرغ من الباب الأول أشار إلى الباب الثاني فقال : وقال رضي الله عنه
مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ
الجهل هو ضد العلم ، وقيل هو عدم العلم بالمقصود . وهو على قسمين : بسيط ومركب : فالبسيط أن يجهل ويعلم أنه جاهل . والمركب أن يجهل جهله ، وأقبح الجهل الجهل بالله وإنكاره بعد طلب معرفته
قلت : من آداب العارف الحقيقي أن يقر الأشياء في محلها ويسير معها على سيرها ، فكلما أبرزته القدرة للعيان فهو في غاية الكمال والإتقان ، وفي ذلك قال صاحب العينية رضي الله عنه
وَكُلُّ قَبِيحٍ إِنْ نَسَبْتَ لِـحُسْنِـهِ ... أَتَتْكَ مَعَانِي الْحُسْنِ فِيهِ تُسَارِعُ
يُكَمِّلُ نُقْصَانَ الْقَبِيحِ جَمَالُهُ ... فَمَا ثَمَّ نُقْصَانٌ وَلَا ثَمَّ بَاشِعُ
وقال أبو الحسن النوري رضي الله عنه : مراد الله من خلقه ما هم عليه ، فإذا أقام الله عبدًا في مقام من المقامات فالواجب على العارف أن يقره فيه بقلبه كائنًا ما كان ، وإن كان لا تسلمه الشريعة رغبة في الخروج عنه بالسياسة وينظر ما يفعل الله . قال بعضهم : من عامل الخلق بالشريعة طال خصمه معهم ، ومن عاملهم بالحقيقة عذرهم . والواجب أن يعاملهم في الظاهر بالشريعة فيذكرهم ، وفي الباطن بالحقيقة فيعذرهم . ومن أراد أن يظهر في الوقت غير ما أظهره الله تعالى في نفسه أو في غيره فقد جمع الجهل كله ولم يترك منه شيئًا ، حيث عارض القدر ونازع القادر ، وقد قال تعالى :( إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ ) ( وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ) ( وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ)
Ketika [pengarang]
telah selesai dari bab pertama, beliau mengisyaratkan pada bab kedua seraya
berkata: "Semoga Allah meridhainya:"
مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ
"Tidaklah menyisakan
sedikit pun dari kebodohan, seseorang yang ingin menampakkan pada suatu waktu
selain apa yang ditampakkan oleh Allah di dalamnya."
Bodoh (al-jahl) adalah lawan kata dari tahu/ilmu (al-ilm), dan ada yang mengatakan bahwa bodoh adalah
ketiadaan pengetahuan terhadap apa yang dimaksud. Kebodohan itu terbagi menjadi
dua macam: Basith (bodoh ringan/biasa) dan Murakkab (bodoh kuadrat/bertingkat).
- Bodoh Basith adalah seseorang yang tidak tahu, dan ia sadar bahwa
dirinya tidak tahu.
- Bodoh Murakkab adalah seseorang yang tidak tahu, namun ia tidak tahu
(tidak sadar) akan kebodohannya.
Dan seburuk-buruknya
kebodohan adalah bodoh (tidak mengenal) Allah serta mengingkari-Nya setelah
adanya tuntutan untuk makrifat (mengenal) kepada-Nya.
Aku berkata: Di antara
adab seorang Arif yang sejati adalah menempatkan segala sesuatu pada
tempatnya, dan berjalan membersamai perkara tersebut sesuai dengan ketetapan
jalannya. Maka apa saja yang ditampakkan oleh takdir (kekuasaan Allah) ke
hadapan mata, hal tersebut berada dalam puncak kesempurnaan dan keindahan.
Mengenai hal ini, penulis kitab Al-Ainiyyah (semoga
Allah meridtainya) berkata dalam syairnya:
Setiap hal yang buruk, jika
engkau nisbatkan pada sisi kebaikan-Nya...
Niscaya makna-makna keindahan
akan segera mendatangimu pada hal tersebut.
Keindahan-Nya menyempurnakan
kekurangan dari apa yang buruk...
Maka di sana tidak ada lagi
kekurangan, dan tidak ada lagi keburukan yang menjijikkan.
Abu al-Hasan an-Nuri
(semoga Allah meridhainya) berkata: "Kehendak Allah terhadap makhluk-Nya
adalah apa yang sedang mereka jalani saat ini. Maka apabila Allah menempatkan
seorang hamba pada suatu kedudukan (maqam) di antara
kedudukan-kedudukan yang ada, wajib bagi seorang Arif untuk
menetapkan hamba tersebut di dalamnya dengan hatinya, apa pun keadaannya. Jika
(secara lahiriah) syariat tidak bisa menerimanya karena adanya keinginan untuk
keluar dari kondisi tersebut demi sebuah kemaslahatan (siyasah), maka ia tetap harus melihat apa yang akan
Allah perbuat."
Sebagian ulama
berkata: "Siapa yang menyikapi makhluk hanya dengan kacamata syariat,
niscaya perdebatannya dengan mereka akan berlangsung lama. Dan siapa yang
menyikapi mereka dengan kacamata hakikat, niscaya ia akan memaklumi (memberi
udzur kepada) mereka."
Maka yang wajib adalah
menyikapi mereka secara lahiriah dengan syariat sehingga ia bisa
menasihati/mengingatkan mereka, dan menyikapi mereka secara batiniah dengan
hakikat sehingga ia bisa memaklumi mereka.
Siapa saja yang ingin
menampakkan pada suatu waktu selain apa yang telah Allah Ta'ala tampakkan pada
dirinya sendiri atau pada diri orang lain, maka sungguh ia telah menghimpun
seluruh kebodohan dan tidak menyisakan sedikit pun darinya. Hal itu karena ia
telah menentang takdir dan menentang Zat Yang Maha Kuasa. Sungguh Allah Ta'ala
telah berfirman:
- "Sesungguhnya Tuhanmu
Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki."
- "Dan jika Tuhanmu
menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya."
- "Dan jika Tuhanmu
menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi
apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang
beriman?"
وفي بعض الأخبار : يقول الله تبارك وتعالى : « مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي ، وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِي ، فَلْيَخْرُجْ مِنْ تَحْتِ سَمَائِي وَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ
وقال عبد الله بن مسعود وابن عباس رضي الله عنهما : لأن ألمس جمرة أحرقت ما أحرقت وأبقت ما أبقت أحب إلى من أن أقول لشيء كان ليته لم يكن ، أو لشيء لم يكن ليته كان
وقال أبو عثمان رضي الله عنه : منذ أربعين سنة ما أقامني الله تعالى في حال فكرهته ، ولا نقلني إلى غيره فسخطته
وقال شيخ شيوخنا سيدي علي رضي الله عنه في كتابه : من عرف أهل حقائق الظاهر ولم ينكر عليهم شيئًا من أحوالهم يظفر بما في أيديهم ولا يمنع خيرهم قطعًا ، ومن عرف أهل حقائق الباطن ولم ينكر عليهم شيئًا من أحوالهم يظفر بما في أيديهم على كل حال ولا يمنع خيرهم قطعًا . والعارف بالله يجمع بين خير الفرقتين يصطحب معهما جميعًا ، وكل فرقة يتلون على لونها كشيخ شيوخنا رضي الله عنهم سيدي أحمد اليماني ، نفعنا الله به ، كان رضي الله عنه ممن لا ينكر حالاً من أحوال الخلق أهل الظاهر ، يتلمذهم في ظواهرهم ويدفعهم إليها ويقرهم فيها ، وأهل البواطن يتلمذهم في بواطنهم ويدفعهم إليها ويقرهم فيها ، فحصل له خير الفرقتين بما رزقه الله من المعرفة والحكمة
قيل إن الولي الكامل يتطور بجميع الأطوار يقضي جميع الأوطار اهـ
Dalam sebagian riwayat
(atstsar/hadis qudsi), Allah Tabaraka wa Ta'ala
berfirman:
"Siapa saja yang tidak
rida terhadap takdir-Ku dan tidak bersabar atas cobaan-Ku, maka keluarlah dari
bawah langit-Ku dan carilah tuhan selain diri-Ku."
Abdullah bin Mas'ud
dan Ibnu Abbas (semoga Allah meridai mereka berdua) berkata:
"Sungguh, menyentuh bara
api hingga membakar apa yang dibakarnya dan menyisakan apa yang disisakannya,
itu jauh lebih aku sukai daripada aku mengatakan terhadap sesuatu yang telah
terjadi: 'Seandainya saja ia tidak terjadi,' atau terhadap sesuatu yang tidak
terjadi: 'Seandainya saja ia terjadi'."
Abu Utsman (semoga
Allah meridainya) berkata:
"Sejak empat puluh tahun
yang lalu, tidak pernah Allah Ta'ala menempatkanku dalam suatu keadaan lalu aku
membencinya, dan tidak pernah pula Dia memindahkanku ke keadaan yang lain lalu
aku mendongkol (murka) terhadapnya."
Guru dari guru-guru
kami, Sayyidi Ali (semoga Allah meridainya), berkata di dalam kitabnya:
"Siapa yang mengenali
orang-orang yang memegang hakikat lahiriah (syariat) dan ia tidak mengingkari
sedikit pun dari keadaan mereka, niscaya ia akan beruntung mendapatkan apa yang
ada di tangan mereka dan kebaikan mereka sama sekali tidak akan terhalang
darinya. Dan siapa yang mengenali orang-orang yang memegang hakikat batiniah
(hakikat) dan ia tidak mengingkari sedikit pun dari keadaan mereka, niscaya ia
akan beruntung mendapatkan apa yang ada di tangan mereka dalam segala kondisi
dan kebaikan mereka sama sekali tidak akan terhalang darinya."
Seorang yang Arif billah (mengenal Allah) akan menghimpun kebaikan
dari kedua kelompok tersebut dengan cara menemani mereka semua. Terhadap setiap
kelompok, ia membaur sesuai dengan warna (karakteristik) mereka, sebagaimana
guru dari guru-guru kami (semoga Allah meridai mereka), yaitu Sayyidi Ahmad
al-Yamani—semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau. Beliau
(semoga Allah meridainya) termasuk orang yang tidak pernah mengingkari satu pun
keadaan dari kondisi makhluk.
Terhadap orang-orang
lahiriah (ahli syariat), beliau memosisikan diri sebagai murid dalam perkara
lahiriah mereka, mendorong mereka kepadanya, dan menetapkan mereka di dalamnya.
Sementara terhadap orang-orang batiniah (ahli hakikat), beliau memosisikan diri
sebagai murid dalam perkara batiniah mereka, mendorong mereka kepadanya, dan
menetapkan mereka di dalamnya. Maka, beliau berhasil meraih kebaikan dari kedua
kelompok tersebut berkat makrifat dan hikmah yang telah Allah anugerahkan
kepadanya.
Dikatakan bahwa
seorang wali yang sempurna (al-wali al-kamil)
dapat memasuki (menyesuaikan diri dengan) segala keadaan demi menunaikan segala
hajat/kemaslahatan. [Selesai kutipan].
قلت : ومن تأمل الأحاديث النبوية وجدها على هذا المنوال ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان سيد العارفين وقدوة المربين ، فكان يقر الناس على ما أقامهم الله في حكمتهم ويرغبهم فيها ، فلذلك تجد الأحاديث متعارضة ولا تعارض في الحقيقة ، فإذا نظرت في أحاديث الذكر قلت لا أفضل منه ، وإذا نظرت في أحاديث الجهاد قلت لا أفضل منه ، وإذا نظرت في أحاديث فضل العلم قلت لا أفضل منه ، وإذا نظرت في أحاديث الزهد والتجريد من أسباب الدنيا قلت لا أفضل منه ، وإذا نظرت في أحاديث الكسب والخدمة على العيال كذلك ، فكل حكمة رغب النبي صلى الله عليه وسلم فيها حتى تقول لا أفضل منها ، تطييبًا لخاطر أهلها ، ليكونوا فيها على بينة من ربهم ، ولم يأمرهم عليه الصلاة والسلام بالانتقال عنها ، إذ مراد الله منهم هو تلك الحكمة فأقرهم عليه الصلاة والسلام عليها ، ورغبهم فيها حتى يظن من يسمع أحاديثها أنه لا أفضل منها وهو كذلك ، إذ لا أفضل منها في حق أهلها
والحاصل : أن العارف لا ينكر شيئًا ولا يجهل شيئًا ، وقد قال بعض العارفين : ليس في الإمكان أبدع مما كان . وتأويله أن ما سبق في علم الله يكون لا يمكن غيره فلا أبدع منه وسيأتي الكلام عليه إن شاء الله ، والله تعالى أعلم
Aku berkata: Siapa yang merenungkan hadis-hadis Nabi, ia akan mendapatinya selaras dengan pola ini. Sebab, Nabi صلى الله عليه وسلم adalah pemimpin orang-orang yang makrifat (sayyid al-arifhin) dan panutan para pendidik (qudwah al-murabbin). Beliau membiarkan manusia tetap berada pada kondisi (jalan hidup) yang telah Allah tetapkan bagi mereka berdasarkan hikmah-Nya, sekaligus memotivasi mereka di dalamnya. Oleh karena itu, engkau akan mendapati hadis-hadis tampak bertentangan, padahal pada hakikatnya tidak ada pertentangan sama sekali.
· Jika engkau melihat hadis-hadis tentang zikir, engkau akan berkata tidak ada amal yang lebih utama darinya.
· Jika engkau melihat hadis-hadis tentang jihad, engkau akan berkata tidak ada yang lebih utama darinya.
· Jika engkau melihat hadis-hadis tentang keutamaan ilmu, engkau akan berkata tidak ada yang lebih utama darinya.
· Jika engkau melihat hadis-hadis tentang zuhud dan melepaskan diri (tajarru`) dari sebab-sebab duniawi, engkau akan berkata tidak ada yang lebih utama darinya.
· Begitu pula jika engkau melihat hadis-hadis tentang bekerja mencari nafkah dan melayani keluarga.
Setiap jalan hidup (hikmah) senantiasa dimotivasi oleh Nabi صلى الله عليه وسلم sampai-sampai
engkau mengira tidak ada yang lebih utama darinya. Hal itu dilakukan demi
menyenangkan hati orang yang menjalaninya, agar mereka berada di atas petunjuk
yang nyata dari Tuhan mereka. Beliau عليه الصلاة والسلام tidak menyuruh mereka untuk berpindah dari kondisi tersebut,
karena kehendak Allah bagi mereka memang ada pada jalan hidup itu. Maka Nabi
membiarkan dan memotivasi mereka di dalamnya, sampai orang yang mendengar
hadis-hadis tersebut menyangka bahwa tidak ada yang lebih utama darinya. Dan
begitulah kenyataannya; tidak ada yang lebih utama dari kondisi tersebut khusus
bagi orang yang menjalaninya (fi haqqi ahliha).
Kesimpulannya: Seorang
yang Arif tidak akan mengingkari apa pun dan tidak
mengabaikan apa pun. Sebagian orang yang makrifat berkata: "Tidak ada dalam ruang kemungkinan yang lebih indah
(sempurna) daripada apa yang telah terjadi saat ini." Maknanya
adalah bahwa apa yang telah terdahulu dalam ilmu Allah pasti terjadi dan tidak
mungkin terjadi selainnya, maka tidak ada yang lebih indah darinya. Pembahasan
mengenai hal ini akan datang nanti insyaallah. Dan Allah Ta'ala Maha
Mengetahui.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.