بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab Ke-52.
**Penjelasan tentang Rasa Takut terhadap Dosa**
**الباب الثاني والخمسون**
**في بيان الخوف من الذنب**
اعلم أنَّ أعظم زاجر عن الذنوب هو خوف الله تعالى، وخشية انتقامه وسطوته، وحذر عقابه وغضبه وبطشه: ﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ (١)
جاء أنه ﷺ دخل على شاب وهو في الموت، فقال: «كيف تجدك؟» قال: أرجو الله يا رسول الله وأخاف ذنوبي
فقال رسول الله ﷺ: «لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن، إلا أعطاه الله ما يرجو، وآمنه (٢) مما يخاف
وعن وهب بن ورد قال: كان عيسى صلى الله عليه وعلى نبينا وعليه وعلى سائر الأنبياء والمرسلين وسلم يقول: حب الفردوس، وخشية جهنم يورثان الصبر على المصيبة، ويبعدان العبد من لذات الدنيا وشهواتها ومعاصيها
وعن الحسن قال: والله، لقد مضى بين أيديكم أقوام لو أنفق أحدهم عدد الحصى ذهباً يخشى أن لا ينجو، لعظم الذنب في نفسه
وقال رسول الله ﷺ: «هل تسمعون ما أسمع؟. أطَّتِ (٣) السماء وحق لها أن تئط، والذي نفسي بيده ما فيها موضع أربع أصابع إلا وملك ساجد لله تعالى أو قائم أو راكع، ولو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيراً ولخرجتم أو لصعدتم إلى الصعدات - أي الجبال - تجأرون إلى الله تعالى خوفاً من عظيم سطوته وشدة انتقامه
وفي رواية: «لا تدرون تنجون أو لا تنجون
وقال بكر بن عبدالله المزني: من أتى الخطيئة، وهو يضحك دخل النار وهو يبكي
وفي الحديث: «لو يعلم المؤمن بكل الذي عند الله من العذاب لم يأمن النار
وفي الصحيحين: قام رسول الله ﷺ حين أنزل عليه ﴿وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ﴾ (١) فقال: «يا معشر قريش، اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا بني عبد مناف، لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا عباس عمَّ رسول الله لا أغني عنك من الله شيئاً، يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئاً، يا فاطمة بنت محمد، سليني من مالي ما شئت لا أغني عنك من الله شيئاً
Ketahuilah bahwa pencegah paling besar dari perbuatan dosa
adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala, takut akan balasan dan kekuasaan-Nya,
serta waspada terhadap siksaan, kemurkaan, dan azab-Nya: *"Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa cobaan
(fitnah) atau ditimpa azab yang pedih."* (QS. An-Nur: 63).
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menjenguk seorang
pemuda yang sedang menghadapi sakaratul maut, lalu beliau bertanya:
"Bagaimana keadaanmu?" Pemuda itu menjawab: "Aku berharap kepada
Allah, wahai Rasulullah, namun aku juga takut akan dosa-dosaku."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah berkumpul kedua hal ini (rasa harap
dan takut) dalam hati seorang hamba pada situasi seperti ini, melainkan Allah
akan memberikan apa yang dia harapkan dan menyelamatkannya dari apa yang dia
takuti."
Dari Wahb bin Ward, dia berkata: Nabi Isa—semoga selawat dan
salam tercurah kepadanya, kepada Nabi kita, dan kepada seluruh nabi serta
rasul—pernah berkata: "Cinta kepada surga Firdaus dan rasa takut terhadap
neraka Jahanam akan membuahkan kesabaran dalam menghadapi musibah, serta
menjauhkan seorang hamba dari kelezatan dunia, syahwat, dan
kemaksiatannya."
Dari Al-Hasan (Al-Bashri), dia berkata: "Demi Allah,
sungguh telah berlalu sebelum kalian kaum-kaum yang andai salah seorang dari
mereka menginfakkan emas sebanyak tumpukan kerikil, dia tetap merasa takut tidak
akan selamat, karena besarnya (perkara) dosa di dalam pandangan dirinya."
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar? Langit merintih
(bersuara berat karena beban), dan sudah selayaknya ia merintih. Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu tempat seukuran empat jari
melainkan di sana ada malaikat yang sedang bersujud kepada Allah Ta'ala, atau
berdiri, atau rukuk. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya
kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan tentulah kalian akan
keluar menuju jalan-jalan mendaki—yaitu gunung-gunung—seraya berseru (memohon)
dengan suara keras kepada Allah Ta'ala karena takut akan besarnya kekuasaan dan
pedihnya siksaan-Nya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Kalian tidak akan tahu
apakah kalian akan selamat atau tidak selamat."
Bakr bin Abdullah Al-Muzani berkata: "Barangsiapa yang
melakukan dosa dalam keadaan tertawa, maka dia akan masuk neraka dalam keadaan
menangis."
Dalam sebuah hadis disebutkan: "Seandainya seorang
mukmin mengetahui seluruh siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya dia tidak
akan pernah merasa aman dari api neraka."
Dalam kitab *Shahihain* (Al-Bukhari dan Muslim): Rasulullah ﷺ
berdiri ketika diturunkan ayat kepadanya: *"Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat."* (QS. Asy-Syu'ara: 214).
Beliau lalu bersabda: "Wahai kaum Quraisy, tebuslah diri kalian dari Allah
(dengan ketaatan), aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan Allah.
Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan
Allah. Wahai Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat membela dirimu sedikit pun
di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat membela
dirimu sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah
kepadaku dari hartaku apa yang engkau mau, (namun) aku tidak dapat membela
dirimu sedikit pun di hadapan Allah."
وعن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: يا رسول الله ﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ (٢) أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ﴾ (٣) يا رسول الله، هو الذي يزني ويسرق ويشرب الخمر، وهو يخاف الله؟ قال: «لا، يا بنت أبي بكر، يا بنت الصدِّيق، ولكنه الرجل يصلي ويصوم ويتصدق ويخاف أن لا يتقبل منه». رواه أحمد
وقيل للحسن البصري: يا أبا سعيد، كيف نصنع بمجالسة قوم يحدثوننا عن الرجاء حتى تكاد قلوبنا تطير؟ فقال له: إنك والله إن تصحب قوماً يخوفونك حتى تدرك أمناً، خير لك من أن تصحب أقواماً يؤمنونك حتى تلحقك المخاوف
ولما طُعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه وقربت وفاته قال لابنه: ويلك ضع خدي على الأرض لا أمَّ لك، وويلي وأمّي ويلي إن لم يرحمني. وقال له ابن عباس: ما هذا الخوف يا أمير المؤمنين؟ وقد فتح الله بك الفتوح، ومصّر بك الأمصار، وفعل بك وفعل. قال: وددت أن أنجو لا عليَّ ولا ليَّ
وفي رواية: لا أجراً ولا وزراً
وكان زين العابدين علي بن الحسين رضي الله عنهم إذا توضأ وفرغ من وضوئه أخذته رِعْدَةٌ (٤) فقيل له في ذلك، فقال: ويحكم أتدرون إلى مَنْ أقوم؟ ولمن أريد أن أناجي؟
وقال أحمد بن حنبل: الخوف يمنعني من أكل الطعام والشراب فما أشتهيه
وفي الصحيحين أنه ﷺ ذكر من السبعة الذين يظلهم الله تحت ظل عرشه يوم لا ظل إلا ظله، «رجلاً ذكر الله - أي وعيده وعقابه - خالياً ففاضت عيناه» أي خوفاً مما جناه واقترفه من المخالفات والذنوب
وفي حديث ابن عباس عن النبيِّ ﷺ أنه قال: «عينان لا تمسهما النار، عين بكت في جوف الليل من خشية الله، وعين باتت تحرس في سبيل الله تعالى
وفي حديث أبي هريرة عن النبيِّ ﷺ أنه قال: «كلُّ عين باكية يوم القيامة إلا عيناً غضَّت عن محارم الله، وعيناً سهرت في سبيل الله، وعيناً يخرج منها مثل رأس الذباب من خشية الله تعالى
وأخرج الترمذي وقال: حسن صحيح. عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: «لا يلج - أي لا يدخل النار - رجل بكى من خشية الله تعالى حتى يعود اللبن في الضرع، ولا يجتمع غبار في سبيل الله ودخان جهنم
وقال عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما: لأن أدمع دمعة من خشية الله أحب إليَّ من أن أتصدق بألف دينار
Dan dari Aisyah *radiyallahu 'anha*, ia berkata: "Wahai
Rasulullah, mengenai ayat: *'Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah
mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya
mereka akan kembali kepada Tuhan mereka'*. Wahai Rasulullah, apakah dia adalah
orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamar, sementara dia takut kepada
Allah?" Beliau bersabda: "Tidak, wahai putri Abu Bakar, wahai putri
As-Siddiq. Melainkan dia adalah seseorang yang mendirikan salat, berpuasa, dan
bersedekah, namun dia takut jika amalannya tidak diterima." (HR. Ahmad).
Dan dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri: "Wahai Abu
Said, bagaimana kami harus bersikap dengan majelis suatu kaum yang terus
menceritakan kepada kami tentang harapan (*raja'*), sampai-sampai hati kami
hampir terbang (terbuai)?" Maka beliau menjawab: "Demi Allah,
sesungguhnya jika engkau berteman dengan kaum yang menakut-nakutimu (dengan
ancaman Allah) hingga engkau meraih rasa aman, itu jauh lebih baik bagimu
daripada engkau berteman dengan kaum yang membuatmu merasa aman hingga akhirnya
engkau dikejar oleh berbagai ketakutan (di akhirat)."
Ketika Umar bin Al-Khattab *radiyallahu 'anhu* ditikam dan
kematiannya telah dekat, beliau berkata kepada putranya: "Celaka engkau,
letakkan pipiku ke tanah, tiada ibu bagimu! Celakalah aku, dan celakalah ibuku
jika Dia (Allah) tidak merahmatiku." Ibnu Abbas lalu berkata kepadanya:
"Rasa takut apa ini, wahai Amirul Mukminin? Padahal Allah telah membuka
banyak kemenangan melaluimu, membangun kota-kota melaluimu, dan telah melakukan
banyak hal besar bersamamu." Umar menjawab: "Aku hanya berharap bisa
selamat, tidak mendapatkan dosa dan tidak pula menuntut pahala."
Dalam riwayat lain: "Tidak mendapatkan pahala dan tidak
pula memikul dosa."
Zainal Abidin, Ali bin Al-Husain *radiyallahu 'anhum*,
apabila selesai berwudu, tubuhnya seketika gemetar. Ketika beliau ditanya
mengenai hal itu, beliau menjawab: "Celaka kalian! Tahukah kalian di
hadapan siapa aku akan berdiri? Dan kepada siapa aku ingin bermunajat?"
Ahmad bin Hanbal berkata: "Rasa takut (kepada Allah)
menghalangiku dari menyantap makanan dan minuman, hingga aku tidak berselera
lagi."
Dalam kitab *Shahihain* (Al-Bukhari & Muslim) disebutkan
bahwa Nabi ﷺ
menyebutkan tentang tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan
Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya:
*"Seseorang yang mengingat Allah (yakni ancaman dan siksaan-Nya) dalam
keadaan sunyi, lalu kedua matanya meneteskan air mata"*—yaitu karena takut
terhadap dosa dan pelanggaran yang telah ia perbuat.
Dalam hadis Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis di
tengah malam karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga semalaman karena
mengawal di jalan Allah Ta'ala."
Dalam hadis Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Setiap mata akan menangis pada hari kiamat, kecuali mata yang menundukkan
pandangan dari apa yang diharamkan Allah, mata yang terjaga di jalan Allah, dan
mata yang mengeluarkan air mata meski sebesar kepala lalat karena takut kepada
Allah Ta'ala."
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata hadis ini hasan
sahih, dari Abu Hurairah *radiyallahu 'anhu*, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut
kepada Allah Ta'ala sampai air susu kembali masuk ke dalam puting induknya. Dan
tidak akan bersatu antara debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahanam."
Abdullah bin Amr bin Al-Aas *radiyallahu 'anhuma* berkata:
"Sungguh, meneteskan sebutir air mata karena takut kepada Allah lebih aku
cintai daripada bersedekah dengan seribu dinar."
وقال عون بن عبدالله: بلغني أنَّه لا تصيب دموع الإنسان من خشية الله مكاناً من جسده، إلا حرم الله ذلك المكان على النار. وكان لصدر رسول الله ﷺ أزيز كأزيز المرجل من البكاء، أي فوران وغليان كغليان القدر على النار
وقال الكندي: البكاء من خشية الله تعالى تطفىء الدمعة منه أمثال البحار من النار
وكان ابن السَّمَّاك يُعاتب نفسه، ويقول لها: تقولين قول الزاهدين، وتعملين عمل المنافقين، ومع ذلك الجنة تطلبين أن تدخليها، هيهات هيهات للجنة قوم آخرون، ولهم أعمال غير ما نحن عاملون
وعن سفيان الثوري قال: دخلت على جعفر الصادق. فقلت له: يا ابن رسول الله أوصني. قال: يا سفيان لا مروءة لكذوب، ولا راحة لحسود، ولا إخاء لملول ولا سؤدد لسيِّئ الخلق
قلت: يا ابن رسول الله ﷺ زدني، قال: يا سفيان كفّ عن محارم الله تكن عابداً، وارضَ بما قسم الله لك تكن مسلماً، واصحب الناس بما تحب أن يصحبواك به تكن مؤمناً، ولا تصحب الفاجر فيعلمك من فجوره - أي لحديث: «المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل» وشاور في أمرك الذين يخشون الله
قلت: يا ابن رسول الله زدني. قال: يا سفيان من أراد عزاً بلا عشيرة، وهيبة بلا سلطان، فليخرج من ذل معصية الله إلى طاعة الله
قلت: يا ابن رسول الله زدني. قال: أدبني أبي بثلاث: قال لي: أي بني إن من يصحب صاحب السوء لا يسلم، ومن يدخل مدخل السوء يتهم، ومن لا يملك لسانه يندم
وقال ابن المبارك: سألت وهب بن ورد أيجد طعم العبادة من يعصى الله تعالى؟ قال: لا. ولا من يهم بمعصية الله تعالى
وقال الإمام أبو الفرج بن الجوزي: الخوف: هو النار المحرقة للشهوات، فإذا فضيلته بقدر ما يحرق من الشهوة، وبقدر ما يكف عن المعصية ويحث على الطاعة
'Aun bin Abdullah berkata: "Telah sampai kepadaku
(kabar) bahwa tidaklah air mata seseorang karena takut kepada Allah mengenai
suatu bagian dari tubuhnya, melainkan Allah akan mengharamkan bagian tubuh
tersebut dari api neraka." Dan dari dada Rasulullah ﷺ terdengar suara
gemuruh (tertahan) akibat menangis seperti gemuruhnya air di dalam periuk,
yaitu gejolak dan didihan seperti mendidihnya panci di atas api.
Al-Kindi berkata: "Menangis karena takut kepada Allah
Ta'ala—yang mana satu tetesan air matanya—dapat memadamkan api neraka yang
luasnya seumpama lautan."
Ibnu As-Sammak sering mencela dirinya sendiri seraya berkata
kepada jiwanya: "Engkau mengucapkan ucapan orang-orang yang zuhud, namun
engkau mengamalkan perbuatan orang-orang munafik. Kendati demikian, engkau
tetap menuntut untuk masuk surga? Jauh, sungguh amat jauh! Surga itu milik kaum
yang lain, dan mereka memiliki amal-amal yang berbeda dari apa yang kita
amalkan."
Dari Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata: Aku mengunjungi Ja'far
Ash-Shadiq, lalu aku berkata kepadanya: "Wahai putra (cucu keturunan)
Rasulullah, berilah aku wasiat." Beliau berkata: "Wahai Sufyan, tidak
ada kehormatan (muruah) bagi seorang pendusta, tidak ada ketenangan bagi
seorang pendengki, tidak ada persaudaraan yang sejati bagi seorang yang bosan
(tidak setia), dan tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya."
Aku berkata: "Wahai putra Rasulullah ﷺ, tambahkanlah
untukku." Beliau berkata: "Wahai Sufyan, menahan dirilah dari hal-hal
yang diharamkan Allah niscaya engkau menjadi seorang ahli ibadah. Ridalah
dengan apa yang Allah bagikan untukmu niscaya engkau menjadi seorang muslim
(yang berserah diri). Pergaulilah manusia dengan cara yang engkau sukai mereka
mempergaulimu dengannya niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Janganlah engkau
berteman dengan orang yang fajir (pelaku dosa besar) karena dia akan
mengajarimu kefajirannya—yaitu merujuk pada hadis: *'Seseorang itu berada di
atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat
siapa yang dijadikan teman dekatnya'*—dan bermusyawarah lah dalam urusanmu
dengan orang-orang yang takut kepada Allah."
Aku berkata: "Wahai putra Rasulullah, tambahkanlah
untukku." Beliau berkata: "Wahai Sufyan, barangsiapa yang menghendaki
kemuliaan tanpa (bantuan) belaan kaum kerabat, dan kewibawaan tanpa kekuasaan
pemerintahan, maka hendaklah dia keluar dari hinanya maksiat kepada Allah
menuju mulianya taat kepada Allah."
Aku berkata: "Wahai putra Rasulullah, tambahkanlah
untukku." Beliau berkata: "Ayahku mendidikku dengan tiga perkara,
beliau berkata kepadaku: 'Wahai anakku, sesungguhnya barangsiapa yang berteman
dengan teman yang buruk tidak akan selamat, barangsiapa yang memasuki
tempat-tempat yang buruk akan dituduh, dan barangsiapa yang tidak mampu
mengendalikan lidahnya akan menyesal.'"
Ibnu Al-Mubarak berkata: Aku bertanya kepada Wahb bin Ward:
"Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala dapat merasakan manisnya
(lezatnya) ibadah?" Beliau menjawab: "Tidak, begitu pula orang yang
baru sekadar berniat (berkeinginan kuat) untuk bermaksiat kepada Allah
Ta'ala."
Imam Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi berkata: "Rasa takut
(khauf) itu laksana api yang membakar syahwat. Maka keutamaannya diukur
berdasarkan seberapa besar ia mampu membakar syahwat, dan seberapa kuat ia
menahan diri dari maksiat serta mendorong seseorang pada ketaatan."
وكيف لا يكون الخوف إذًا فضيلةً وبه تحصل العفة والورع، والتقوى والمجاهدة، والأعمال الفاضلة التي يتقرب بها إلى الله سبحانه وتعالى، كما عُلم من الآيات والأخبار كقوله تعالى: ﴿هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ﴾ (١)
وقوله تعالى: ﴿رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ﴾ (٢)
وقوله تعالى: ﴿وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾ (٣)
وقال تعالى: ﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ﴾ (٤)
وقال تعالى: ﴿سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ﴾ (١)
وقال تعالى: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾ (٢) وكلُّ ما دلَّ من الآيات والأحاديث على فضيلة العلم دلَّ على فضيلة الخوف لأنَّ الخوف ثمرة العلم
وأخرج ابن أبي الدنيا أنه ﷺ قال: «إذا اقشعر جلد العبد من مخافة الله عز وجل، تحاتت عنه خطاياه كما يتحات عن الشجرة اليابسة ورقها
وقال ﷺ: «قال الله سبحانه وتعالى: وعزتي لا أجمع على عبدي خوفين، ولا أجمع له أمنين، إن أمنني في الدنيا أخفته يوم القيامة، وإن خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة
وقال أبو سليمان الداراني: كل قلب ليس فيه خوف الله فهو خراب. وقد قال الله تعالى: ﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾ (٣)
Dan bagaimana mungkin rasa takut (kepada Allah) tidak
menjadi sebuah keutamaan, padahal dengannya dapat terwujud sifat memelihara
diri (iffah), kewaspadaan dari syubhat (wara'), ketakwaan, kesungguhan jiwa
(mujahadah), serta amal-amal utama yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana hal ini diketahui dari ayat-ayat
al-Quran dan riwayat-riwayat hadis, seperti firman Allah Ta'ala: *"...menjadi
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya."* (QS.
Al-A'raf: 154).
Dan firman Allah Ta'ala: *"...Allah rida terhadap
mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi
orang yang takut kepada Tuhannya."* (QS. Al-Bayyinah: 8).
Dan firman Allah Ta'ala: *"...dan takutlah kepada-Ku,
jika kamu orang-orang yang beriman."* (QS. Ali 'Imran: 175).
Dan Allah Ta'ala berfirman: *"Dan bagi orang yang takut
akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga."* (QS. Ar-Rahman: 46).
Dan Allah Ta'ala berfirman: *"Orang yang takut (kepada
Allah) akan mendapat pelajaran."* (QS. Al-A'la: 10).
Dan Allah Ta'ala berfirman: *"Di antara hamba-hamba
Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama."* (QS. Fatir: 28). Dan
setiap dalil dari ayat maupun hadis yang menunjukkan keutamaan ilmu, maka ia
juga menunjukkan keutamaan rasa takut, karena rasa takut adalah buah dari ilmu.
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ
bersabda: "Jika kulit seorang hamba gemetar karena takut kepada Allah
'Azza wa Jalla, maka rontoklah dosa-dosanya sebagaimana daun-daun berguguran
dari pohon yang kering."
Dan Nabi ﷺ
bersabda: "Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 'Demi keagungan-Ku, Aku
tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada diri hamba-Ku, dan Aku tidak akan
mengumpulkan dua rasa aman padanya. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka
Aku akan membuatnya takut pada hari kiamat. Dan jika dia takut kepada-Ku di
dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman pada hari kiamat.'"
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Setiap hati yang di
dalamnya tidak ada rasa takut kepada Allah, maka hati itu adalah hati yang
rusak (hancur)." Dan Allah Ta'ala telah berfirman: *"...Maka tidak
ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang rugi."* (QS.
Al-A'raf: 99).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.