بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab Ke-53.
Penjelasan tentang Keutamaan Tobat
**الباب الثالث والخمسون**
**في بيان فضل التوبة**
جاء في فضل آيات كثيرة كقوله تعالى: ﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ وقوله: ﴿وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا * وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا﴾ (٢)
والأحاديث في ذلك كثيرة أخرج مسلم: «أن الله يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها
والترمذي وصححه: «أن من قبل المغرب لباباً مسيرة عرضه أربعون عاماً، أو سبعون سنة فتحه الله عز وجل للتوبة، يوم خلق السموات والأرض، فلا يغلقه حتى تطلع الشمس منه
وصحح أيضاً: «إن الله تعالى جعل بالمغرب باباً عرضه مسيرة سبعين عاماً للتوبة لا يغلق ما لم تطلع الشمس من قبله» وذلك قوله تعالى: ﴿يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا﴾ (٣) الآية.
قيل: وليس هذه الرواية ولا الأولى تصريح برفعه كما صرّح به البيهقي. انتهى. ويجاب بأن مثل هذا لا يقال من قبل الرأي، فله حكم المرفوع
والطبراني بسند جيد: «للجنة ثمانية أبواب سبعة مغلقة، وباب مفتوح للتوبة، حتى تطلع الشمس من نحوه
وابن ماجه بسند جيد: «لو أخطأتم حتى تبلغ خطاياكم السماء ثم تبتم لتاب الله عليكم
والحاكم وصححه: «من سعادة المرء أن يطول عمره ويرزقه الله الإنابة» والترمذي وابن ماجه والحاكم وصححه: «كل ابن آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون
Banyak ayat yang menerangkan tentang keutamaan tobat,
seperti firman Allah Ta'ala:
*"Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."* (QS. An-Nur: 31).
Dan firman-Nya:
*"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain
beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang
melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal
dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat,
beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang
bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada
Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya."* (QS. Al-Furqan: 68-71).
Hadis-hadis mengenai hal ini juga sangat banyak. **Imam
Muslim** meriwayatkan:
*"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada
malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan Dia
membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam
hari bertobat, sampai matahari terbit dari sebelah barat."*
**Imam At-Tirmidzi** meriwayatkan dan mensahihkannya:
*"Sesungguhnya di arah barat terdapat sebuah pintu yang
jarak lebarnya sejauh perjalanan empat puluh atau tujuh puluh tahun, yang telah
dibuka oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk tobat sejak hari Dia menciptakan langit
dan bumi. Pintu itu tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari arah barat
(pintu tersebut)."*
Beliau (At-Tirmidzi) juga mensahihkan hadis lain:
*"Sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan sebuah pintu di
arah barat yang lebarnya sejauh perjalanan tujuh puluh tahun untuk tobat. Pintu
itu tidak akan ditutup selama matahari belum terbit dari arahnya."* Hal
itu sebagaimana firman Allah Ta'ala: *"Pada hari datangnya sebagian
tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang..."* (QS.
Al-An'am: 158) hingga akhir ayat.
*Dikatakan:* Riwayat ini maupun riwayat yang pertama tidak
secara tegas dinyatakan sebagai hadis *marfu’* (disandarkan langsung kepada
Nabi), sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Baihaqi. Selesai kutipan. Namun, hal
ini disanggah bahwa perkara (gaib) semacam ini tidak mungkin dikatakan
berdasarkan pendapat/logika semata, sehingga status hukumnya disamakan dengan
hadis *marfu’* (*lahu hukmul marfu’*).
**Imam At-Thabrani** meriwayatkan dengan sanad yang baik
(*jayyid*):
*"Surga memiliki delapan pintu, tujuh di antaranya
tertutup, dan satu pintu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari
arahnya."*
**Imam Ibnu Majah** meriwayatkan dengan sanad yang baik
(*jayyid*):
*"Seandainya kalian berbuat dosa hingga dosa-dosa
kalian mencapai langit, kemudian kalian bertobat, niscaya Allah akan menerima
tobat kalian."*
**Imam Al-Hakim** meriwayatkan dan mensahihkannya:
*"Di antara kebahagiaan seseorang adalah apabila
usianya panjang dan Allah mengaruniakannya ketundukan (kembali bertobat
kepada-Nya)."*
Serta **Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim** (dan
beliau mensahihkannya) meriwayatkan:
*"Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan
sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat."*
والشيخان: «أن عبداً أصاب ذنباً فقال: يا رب إني أذنبت ذنباً، فاغفره لي. فقال له ربه: علم عبدي أن له رباً يغفر الذنب، ويأخذ به، فغفر له. ثم مكث ما شاء الله، ثم أصاب ذنباً آخر. وربما قال: أذنب ذنباً آخر. فقال: يا رب إني أذنبت ذنباً آخر فاغفره لي. فقال ربه: علم عبدي أن له رباً يغفر الذنب ويأخذ به. فغفر له، ثم مكث ما شاء الله تعالى ثم أصاب ذنباً آخر وربما قال: أذنب ذنباً آخر. فقال: يا رب إني أذنبت ذنباً آخر. فاغفره لي، فقال ربه: علم عبدي أن له رباً يغفر الذنب، ويأخذ به. فقال ربه: غفرت لعبدي. فليعمل ما شاء
قال المنذري: قوله: «فليعمل ما شاء» معناه - والله أعلم -: أنه ما دام كلما أذنب ذنباً، استغفر وتاب منه ولم يعد إليه. بدليل قوله: ثم أصاب ذنباً آخر. فليعمل إذا كان هذا دأبه ما شاء، لأنه كلما أذنب كانت توبته واستغفاره، كفارة لذنبه. فلا يضره، لا أن المعنى أنه يذنب الذنب فيستغفر منه بلسانه من غير إقلاع، ثم يعاوده. فإن هذه توبة الكذابين
وروى جماعة وصححوه: «إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتة سوداء في قلبه، فإن تاب ونزع واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلق بها قلبه. فذلك الران الذي ذكر الله في كتابه ﴿كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾(١)
والترمذي وحسّنه: «إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر» أي تبلغ روحه حلقومه
والطبراني بسند حسن لكن فيه انقطاع، والبيهقي بسند فيه مجهول عن معاذ، قال: أخذ بيدي رسول الله ﷺ فمشى ميلاً ثم قال: «يا معاذ، أوصيك بتقوى الله، وصدق الحديث، ووفاء العهد، وأداء الأمانة، وتترك الخيانة، ورحمة اليتيم، وحفظ الجوار، وكظم الغيظ، ولين الكلام، وبذل السلام، ولزوم الإمام، والتفقه في القرآن، وحبّ الآخرة، والجزع من الحساب، وقصر الأمل، وحسن العمل، وأنهاك أن تشتم مسلماً، أو تُصدّق كاذباً، أو تكذب صادقاً، أو تعصي إماماً عادلاً، وأن تُفسد في الأرض
يا معاذ، اذكر الله عند كل شجر وحجر، وأحدث لكلّ ذنب توبةً: السرّ بالسرّ، والعلانية بالعلانية
**Asy-Syaikhani (Imam Al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan:**
> "Ada seorang hamba yang melakukan suatu dosa lalu
dia berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dosa, maka
ampunilah aku.' Maka Tuhannya berfirman: 'Hambaku tahu bahwa dia memiliki Tuhan
yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka Aku mengampuninya.'
Kemudian dia terdiam (tidak berbuat dosa) selama kurun waktu yang dikehendaki
Allah, lalu dia melakukan dosa yang lain lagi. (Perawi) terkadang menyebutkan:
dia melakukan dosa lain. Lalu hamba itu berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya
aku telah melakukan dosa yang lain, maka ampunilah aku.' Tuhannya berfirman:
'Hambaku tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum
karena dosa, maka Aku mengampuninya.' Kemudian dia terdiam selama kurun waktu
yang dikehendaki Allah Ta'ala, lalu dia melakukan dosa yang lain lagi. Lalu dia
berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang lain, maka
ampunilah aku.' Tuhannya berfirman: 'Hambaku tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang
mengampuni dosa dan menghukum karena dosa.' Lalu Tuhannya berfirman: 'Aku telah
mengampuni hambaku, maka hendaklah dia berbuat sesukanya'."
**Al-Mundziri berkata:**
> "Maksud dari sabda Nabi: *'maka hendaklah dia
berbuat sesukanya'* — wallahu a'lam (dan Allah yang lebih mengetahui) — adalah:
Selama setiap kali dia melakukan dosa, dia langsung beristighfar dan bertobat
darinya serta tidak berniat mengulanginya lagi. Hal ini dibuktikan dengan
kalimat: *'kemudian dia melakukan dosa yang lain'*. Maka silakan dia berbuat
sesukanya jika memang ini telah menjadi kebiasaan dan karakternya (yaitu selalu
memperbarui tobat), karena setiap kali dia berdosa, tobat dan istighfarnya
menjadi pelebur (kafarah) bagi dosanya, sehingga dosa itu tidak
membahayakannya. Maknanya bukanlah dia melakukan dosa lalu beristighfar hanya
dengan lisannya saja tanpa menghentikan maksiat tersebut, lalu dia kembali
mengulanginya secara sengaja. Karena sesungguhnya, yang demikian itu adalah
tobatnya para pendusta."
**Diriwayatkan oleh sekelompok ulama dan mereka
mensahihkannya:**
> "Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu
dosa, maka akan timbul bercak hitam di dalam hatinya. Jika dia bertobat,
melepaskan diri (dari dosa tersebut), dan memohon ampun, maka hatinya akan
kembali dibersihkan. Namun jika dosanya bertambah, bercak hitam itu pun akan
semakin bertambah hingga menutup hatinya. Itulah *'Al-Ran'* (karat/penutup)
yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya: *'Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.'*"
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
**Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dan menghasankannya:**
> "Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba
selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (ghargharah)."
**Imam At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad hasan namun ada
keterputusan (inqitha'), dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang di
dalamnya terdapat perawi majhul (tidak dikenal), dari Mu'adz, ia berkata:**
> Rasulullah ﷺ memegang tanganku
lalu berjalan sejauh satu mil, kemudian beliau bersabda: "Wahai Mu'adz,
aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, jujur dalam perkataan,
menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan pengkhianatan, menyayangi anak
yatim, menjaga hubungan baik dengan tetangga, menahan amarah, melembutkan
perkataan, menyebarkan salam, menaati pemimpin, mendalami pemahaman Al-Qur'an,
mencintai akhirat, takut akan hari perhitungan (hisab), memendekkan
angan-angan, dan membaguskan amal perbuatan. Dan aku melarangmu mencela seorang
muslim, membenarkan pembohong, mendustakan orang yang jujur, mendurhakai
pemimpin yang adil, atau berbuat kerusakan di muka bumi. Wahai Mu'adz, ingatlah
Allah di dekat setiap pohon dan batu, dan perbaruilah tobat untuk setiap dosa
yang dilakukan: dosa yang rahasia dengan tobat yang rahasia, dan dosa yang
terang-terangan dengan tobat yang terang-terangan."
والأصفهاني: «إذا تاب العبد من ذنوبه أنسى الله حفظته ذنوبه، وأنسى ذلك جوارحه ومعالمه من الأرض، حتى يلقى الله يوم القيامة وليس عليه شاهد من الله بذنب
والأصفهاني أيضاً: «النادِمُ ينتظرُ مِن اللهِ الرَّحْمَةَ، والمُعْجَبُ ينتظرُ المَقْتَ. واعْلَمُوا عبادَ اللهِ أنَّ كلَّ عامِلٍ سَيَقْدَمُ على عَمَلِهِ، ولا يَخْرُجُ مِن الدُّنيا حتى يرى حُسْنَ عَمَلِهِ وسُوءَ عَمَلِهِ، وإنَّما الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا. واللَّيْلُ والنَّهَارُ مَطِيَّتَانِ، فَأَحْسِنُوا السَّيْرَ عَلَيْهِمَا إلى الآخرةِ. واحْذَرُوا التَّسْوِيفَ، فإنَّ المَوْتَ يَأْتِي بَغْتَةً (١)، ولا يَغْتَرَّنَّ أَحَدُكُمْ بِحِلْمِ اللهِ عزَّ وجلَّ، فإنَّ النَّارَ أَقْرَبُ إلى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ». ثم قرأ رسول الله ﷺ: ﴿فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾ (٢)
والطبراني بسندٍ صحيحٍ لكن فيه انقطاعٌ: «التَّائِبُ مِن الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ».
ورواه البيهقي من طريقٍ آخَرَ، وزاد: «والمُسْتَغْفِرُ مِن الذَّنْبِ وهو مُقِيمٌ عليه كَالمُسْتَهْزِئِ بِرَبِّهِ
وابن حبان في «صحيحه» والحاكم وصححه: «النَّدَمُ تَوْبَةٌ» أي أنَّهُ مُعْظَمُ أَرْكَانِهَا كَخَبَرِ: «الحَجُّ عَرَفَةُ». ولا بُدَّ في النَّدَمِ أن يكون من حيث المعصية، وقُبْحِها وخَوْفِ عِقَابِها، بخلافه لنحوِ هَتْكٍ أو ضِيَاعِ مالٍ على المعصيةِ، أو نحو ذلك
والحاكم وصححه لكن فيه ساقطٌ: «ما عَلِمَ اللهُ من عَبْدٍ نَدَامَةً على ذَنْبٍ إلا غُفِرَ له قبل أن يَسْتَغْفِرَ منه
ومسلم، وغيره: «والذي نَفْسِي بِيَدِهِ لو لم تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ غَيْرِكُمْ يُذْنِبُونَ وَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لهم
ومسلم: «ليسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إليه المَدْحُ مِن اللهِ؛ من أَجْلِ ذلك مَدَحَ نَفْسَهُ، وليسَ أَحَدٌ أَغْيَرُ مِن اللهِ، من أجل ذلك حَرَّمَ الفَوَاحِشَ، وليسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إليه العُذْرُ مِن اللهِ؛ من أجل ذلك أَنْزَلَ الكِتَابَ، وأَرْسَلَ الرُّسُلَ
ومسلم: إنَّ امرأةً من جُهَيْنَةَ أَتَتْ رسولَ اللهِ ﷺ وهي حُبْلَى من الزِّنَا، فقالت: يا رسولَ اللهِ أصَبْتُ حَدَّاً فَأَقِمْهُ عليَّ، فَدَعَا نبيُّ اللهِ ﷺ وَلِيَّهَا، فقال: «أَحْسِنْ إليها، فإذا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بها» فَفَعَلَ فَأَمَرَ بها نبيُّ اللهِ ﷺ فَشُدَّتْ عليها ثِيَابُهَا، ثم أَمَرَ بها فَرُجِمَتْ، ثم صَلَّى عليها. فقال عُمَرُ: تُصَلِّي عليها يا رسولَ اللهِ وقد زَنَتْ؟ قال ﷺ: «لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لو قُسِمَتْ بين سَبْعِينَ من أهلِ المَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وهل وَجَدْتَ أَفْضَلَ ممَّا جَادَتْ بِنَفْسِهَا للهِ عزَّ وجلَّ
والترمذي وحسنه، وابن حِبَّان في «صحيحه»، والحاكم وصححه عن ابن عمر رضي الله عنهما، قال: سمعتُ رسولَ اللهِ ﷺ يحدث حديثاً لو لم أسمعه إلا مرةً أو مرتين حتى عد سبع مرات، ولكن سمعته أكثر، سمعت رسول الله ﷺ يقول: «كان الكفل من بني إسرائيل لا يتورع من ذنب عمله، فأتته امرأة فأعطاها ستين ديناراً على أن يطأها. فلما قعد منها مقعد الرجل من امرأته، أرعدت وبكت
فقال: ما يبكيك، أكرهتكِ؟ قالت: لا. ولكنه عملٌ ما عملته قطُّ، وما حملني عليه إلا الحاجة. فقال: تفعلين أنتِ هذا، وما فعلته قطُّ، اذهبي فهي لكِ. وقال: لا والله، لا أعصي بعدها أبداً. فمات من ليلته. فأصبح مكتوباً بأعلى بابه: إن الله قد غفر للكفل
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كانت قريتان إحداهما صالحة، والأخرى طالحة، فخرج رجل من القرية الطالحة يريد القرية الصالحة، فأتاه الموت حيث شاء الله فاختصم فيه الملك والشيطان. فقال: الشيطان: والله ما عصاني قط، وقال الملك: إنه قد خرج يريد التوبة. فقضى الله بينهما أن ينظر إلى أيهما أقرب. فوجدوه أقرب إلى القرية الصالحة بشبر، فغفر له. قال معمر: وسمعت من يقول: قرب الله إليه القرية الصالحة
والشيخان: «كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفساً فسأل عن أعلم أهل الأرض فدُلَّ على راهب فأتاه، فقال له: إنه قتل تسعة وتسعين نفساً فهل له من توبة؟ فقال: لا. فقتله فكمل به مائة، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض، فدُلَّ على رجل عالم فقال له: إنه قتل مائة نفس فهل من توبة؟ فقال: نعم، ومن يحول بينك وبين التوبة، انطلق إلى أرض كذا وكذا فإن بها أناساً يعبدون الله فاعبد معهم، ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء، فانطلق حتى إذا بلغ نصف الطريق أتاه الموت فاختصم فيه ملائكة الرحمة، وملائكة العذاب
فقالت ملائكة الرحمة: جاء تائباً مقبلاً بقلبه إلى الله تعالى. وقالت ملائكة العذاب: إنه لم يعمل خيراً قط. فأتاهم ملك في صورة آدمي، فجعلوه بينهم. فقال: قيسوا ما بين الأرضين، فإلى أيتهما هو أدنى كان له. فقاسوها فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد، فقبضته ملائكة الرحمة
**Al-Ashfahani meriwayatkan:**
> "Jika seorang hamba bertobat dari dosa-dosanya,
Allah akan membuat malaikat pencatatnya lupa akan dosa-dosanya tersebut, dan
Allah juga membuat anggota tubuhnya serta tempat-tempat di bumi (yang menjadi
saksi) lupa akan bekas dosanya, hingga kelak dia menemui Allah pada hari kiamat
dalam keadaan tidak ada satu pun saksi dari makhluk Allah yang menuntutnya atas
dosa tersebut."
**Al-Ashfahani juga meriwayatkan:**
> "Orang yang menyesal (atas dosanya) menanti rahmat
dari Allah, sedangkan orang yang membanggakan diri (*ujub*) menanti kemurkaan.
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa setiap orang yang beramal akan
mendatangi amalnya tersebut (di akhirat), dan dia tidak akan keluar dari dunia
ini sampai dia melihat akibat baik atau buruk dari amalnya, karena sesungguhnya
amal perbuatan itu dinilai dari bagian akhirnya (*khawatim*). Malam dan siang
adalah dua kendaraan, maka baguskanlah perjalanan kalian di atas keduanya
menuju akhirat. Waspadalah terhadap sikap menunda-nunda (*taswif*), karena
kematian itu datang secara tiba-tiba, dan janganlah sekali-kali salah seorang
dari kalian terbuai oleh sifat santun (*hilm*) Allah 'Azza wa Jalla, karena
sesungguhnya neraka itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian
daripada tali sandalnya sendiri." Kemudian Rasulullah ﷺ
membaca: *"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."*
(QS. Az-Zalzalah: 7-8).
**Imam At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad shahih namun
ada keterputusan (*inqitha'*):**
> "Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti
orang yang tidak memiliki dosa."
> **Imam Al-Baihaqi** meriwayatkannya melalui jalur lain
dan menambahkan: "Dan orang yang memohon ampun dari suatu dosa namun dia
tetap terus-menerus melakukannya, maka dia seperti orang yang memperolok-olok
Tuhannya."
**Ibnu Hibban dalam kitab *Shahih*-nya dan Al-Hakim (dan
beliau menshahihkannya):**
> "Penyesalan adalah tobat." Maksudnya,
penyesalan adalah rukun terbesar dari tobat, sebagaimana sabda Nabi:
*"Haji itu adalah Arafah"*. Penyesalan tersebut haruslah muncul
karena kesadaran akan buruknya maksiat itu sendiri dan rasa takut akan azab
Allah; bukan penyesalan karena hal lain seperti karena terbongkarnya aib,
hilangnya harta akibat kemaksiatan tersebut, atau hal sejenisnya.
**Al-Hakim meriwayatkan dan menshahihkannya, namun di dalam
sanadnya ada perawi yang gugur:**
> "Tidaklah Allah mengetahui adanya penyesalan di
dalam hati seorang hamba atas suatu dosa, melainkan dosa itu diampuni untuknya
sebelum dia memohon ampunan darinya."
**Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan:**
> "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan
mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampunan
kepada Allah, dan Allah pun mengampuni mereka."
**Imam Muslim meriwayatkan:**
> "Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian
daripada Allah; oleh karena itulah Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada
seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah; oleh karena itulah Dia
mengharamkan perbuatan-perbuatan keji. Dan tidak ada seorang pun yang lebih
menyukai pemberian udzur (alasan/kesempatan tobat) daripada Allah; oleh karena
itulah Dia menurunkan Kitab dan mengutus para Rasul."
**Imam Muslim meriwayatkan:**
> Sesungguhnya ada seorang wanita dari kabilah Juhainah
datang menghadap Rasulullah ﷺ dalam keadaan hamil karena zina. Wanita
itu berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum batas (*had*),
maka tegakkanlah hukuman itu atasku." Nabi Allah ﷺ
lalu memanggil wali wanita tersebut dan bersabda: "Berbuat baiklah
kepadanya, dan jika dia telah melahirkan, bawalah dia kepadaku." Wali itu
pun melaksanakannya. Kemudian Nabi Allah ﷺ
memerintahkan (untuk menegakkan hukuman), lalu pakaian wanita itu diikatkan
erat-erat pada tubuhnya, kemudian beliau memerintahkan agar dia dirajam, lalu
beliau menyalatinya. Umar bertanya: "Apakah engkau menyalatinya wahai
Rasulullah, padahal dia telah berzina?" Beliau ﷺ
bersabda: "Sungguh dia telah bertobat dengan tobat yang seandainya
dibagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, niscaya tobat itu
akan mencukupi mereka semua. Dan adakah engkau dapati sesuatu yang lebih utama
daripada dia menyerahkan jiwanya dengan tulus karena Allah 'Azza wa
Jalla?"
والترمذي وحسنه، وابن حِبَّان في «صحيحه»، والحاكم وصححه عن ابن عمر رضي الله عنهما، قال: سمعتُ رسولَ اللهِ ﷺ يحدث حديثاً لو لم أسمعه إلا مرةً أو مرتين حتى عد سبع مرات، ولكن سمعته أكثر، سمعت رسول الله ﷺ يقول: «كان الكفل من بني إسرائيل لا يتورع من ذنب عمله، فأتته امرأة فأعطاها ستين ديناراً على أن يطأها. فلما قعد منها مقعد الرجل من امرأته، أرعدت وبكت
فقال: ما يبكيك، أكرهتكِ؟ قالت: لا. ولكنه عملٌ ما عملته قطُّ، وما حملني عليه إلا الحاجة. فقال: تفعلين أنتِ هذا، وما فعلته قطُّ، اذهبي فهي لكِ. وقال: لا والله، لا أعصي بعدها أبداً. فمات من ليلته. فأصبح مكتوباً بأعلى بابه: إن الله قد غفر للكفل
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كانت قريتان إحداهما صالحة، والأخرى طالحة، فخرج رجل من القرية الطالحة يريد القرية الصالحة، فأتاه الموت حيث شاء الله فاختصم فيه الملك والشيطان. فقال: الشيطان: والله ما عصاني قط، وقال الملك: إنه قد خرج يريد التوبة. فقضى الله بينهما أن ينظر إلى أيهما أقرب. فوجدوه أقرب إلى القرية الصالحة بشبر، فغفر له. قال معمر: وسمعت من يقول: قرب الله إليه القرية الصالحة
والشيخان: «كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفساً فسأل عن أعلم أهل الأرض فدُلَّ على راهب فأتاه، فقال له: إنه قتل تسعة وتسعين نفساً فهل له من توبة؟ فقال: لا. فقتله فكمل به مائة، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض، فدُلَّ على رجل عالم فقال له: إنه قتل مائة نفس فهل من توبة؟ فقال: نعم، ومن يحول بينك وبين التوبة، انطلق إلى أرض كذا وكذا فإن بها أناساً يعبدون الله فاعبد معهم، ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء، فانطلق حتى إذا بلغ نصف الطريق أتاه الموت فاختصم فيه ملائكة الرحمة، وملائكة العذاب
فقالت ملائكة الرحمة: جاء تائباً مقبلاً بقلبه إلى الله تعالى. وقالت ملائكة العذاب: إنه لم يعمل خيراً قط. فأتاهم ملك في صورة آدمي، فجعلوه بينهم. فقال: قيسوا ما بين الأرضين، فإلى أيتهما هو أدنى كان له. فقاسوها فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد، فقبضته ملائكة الرحمة
وفي رواية: «فكان إلى القرية الصالحة أقرب بشبر، فجُعل من أهلها».
وفي رواية: «فأوحى الله تعالى إلى هذه أن تباعدي، وإلى هذه أن تقربي. وقال: قيسوا ما بينهما. فوجدوه إلى هذه أقرب بشبر فغُفر له
وفي رواية: قال قتادة: قال الحسن: ذُكر لنا أنه لما أتاه ملك الموت، ناء بصدره نحوها
والطبراني بسند جيد: «إن رجلاً أسرف على نفسه، فلقي رجلاً فقال: «إن الآخر قتل تسعة وتسعين نفساً كلّهم ظلماً فهل تجد لي من توبة؟ قال: لا. فقتله، وأتى آخر فقال: إن الآخر قتل مائة نفس كلّهم ظلماً فهل تجد لي من توبة؟ فقال: إن حدثتك أن الله لا يتوب على من تاب، كذبتك. ههنا قوم يتعبدون، فألهم تعبد الله معهم، فتوجه إليهم فمات على ذلك، فاختصمت ملائكة الرحمة وملائكة العذاب. فبعث الله إليهم ملكاً، فقال: قيسوا ما بين المكانين، فأيهم كان أقرب فهو منهم، فوجدوه أقرب إلى قرية التوّابين بأنملة، فغُفر له
وفي رواية له: «ثم أتى رجلاً آخر. فقال: إني قتلت مائة نفس فهل تجد لي من توبة؟ فقال: أسرفت، ما أدري ولكن هنا قريتان قرية يقال لها: نصرة، والأخرى يقال لها: كفرة، فأما أهل نصرة فيعملون عمل أهل الجنة لا يثبت فيها غيرهم، وأما أهل كفرة فيعملون عمل أهل النار، لا يثبت فيها غيرهم، فانطلق إلى نصرة فإن ثبت فيها وعملت عمل أهلها، فلا شك في توبتك. فانطلق يريدها حتى إذا كان بين أهل القريتين أدركه الموت، فسألت الملائكة ربَّها عنه. فقال: انظروا إلى أيِّ القريتين كان أقرب فاكتبوه من أهلها. فوجدوه أقرب إلى نصرة بقيد أنملة، فكتب من أهلها
**Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (dan beliau
menghasankannya), Ibnu Hibban dalam kitab *Shahih*-nya, serta Al-Hakim (dan
beliau menshahihkannya) dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:**
> "Aku mendengar Rasulullah ﷺ
menyampaikan sebuah hadis yang seandainya aku tidak mendengarnya melainkan
sekali atau dua kali saja—bahkan ia menghitungnya hingga tujuh kali—(niscaya
aku tidak akan meriwayatkannya), akan tetapi aku mendengarnya lebih sering dari
itu. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dahulu ada seorang laki-laki
bernama Al-Kifli dari kaum Bani Israil yang tidak menahan diri dari dosa apa
pun yang dilakukannya. Suatu ketika datanglah seorang wanita kepadanya, lalu
Al-Kifli memberinya enam puluh dinar dengan syarat agar wanita itu mau berzina
dengannya. Ketika Al-Kifli telah mendudukinya sebagaimana posisi seorang suami
terhadap istrinya, wanita itu gemetar dan menangis.
> Al-Kifli bertanya: *«Apa yang membuatmu menangis? Apakah
aku memaksamu?»* Wanita itu menjawab: *«Tidak. Akan tetapi, ini adalah suatu
perbuatan yang belum pernah aku lakukan sama sekali, dan tidak ada yang
mendorongku melakukannya melainkan karena desakan kebutuhan semata.»* Maka
Al-Kifli berkata: *«Kamu menangis sekadar melakukan ini padahal kamu belum
pernah melakukannya, pergi dan bawalah uang itu, ia mutlak menjadi milikmu.»*
Al-Kifli lalu berkata: *«Demi Allah, setelah ini aku tidak akan bermaksiat lagi
kepada-Nya selama-lamanya.»* Ternyata dia meninggal dunia pada malam harinya.
Keesokan paginya, tertulis di atas pintu rumahnya: *«Sesungguhnya Allah telah
mengampuni Al-Kifli»*'."
**Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata:**
> "Dahulu ada dua buah desa, yang satu desa yang
baik (shalihah) dan yang lain desa yang buruk (thalihah). Maka keluarlah
seorang lelaki dari desa yang buruk dengan maksud menuju desa yang baik. Di
tengah perjalanan, maut menjemputnya di tempat yang dikehendaki Allah. Maka
malaikat dan setan pun saling memperebutkan jiwanya. Setan berkata: *«Demi
Allah, dia tidak pernah mendurhakai aku sama sekali.»* Sedangkan malaikat
berkata: *«Sesungguhnya dia telah keluar untuk bertobat.»* Maka Allah
memutuskan perkara di antara keduanya agar mengukur jarak ke arah desa mana dia
lebih dekat. Ketika diukur, mereka mendapati posisinya lebih dekat ke desa yang
baik sejarak satu jengkal, maka Allah mengampuninya." Ma'mar berkata:
"Dan aku mendengar ada yang mengatakan bahwa Allah mendekatkan desa yang
baik itu kepadanya."
**Asy-Syaikhani (Imam Al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan:**
> "Dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang
laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Ia lalu bertanya
tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang
rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatangi rahib tersebut dan berkata:
*«Sesungguhnya dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih
ada pintu tobat baginya?»* Rahib itu menjawab: *«Tidak ada.»* Maka orang itu
membunuh rahib tersebut sehingga genaplah jumlah korbannya menjadi seratus
jiwa.
> Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling
alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang lelaki yang berilmu
(ulama). Ia berkata kepadanya: *«Sesungguhnya dia telah membunuh seratus jiwa,
apakah masih ada pintu tobat baginya?»* Ulama itu menjawab: *«Ya, siapakah yang
dapat menghalangi antaramu dengan tobat? Pergilah ke daerah sana karena di sana
ada orang-orang yang beribadah kepada Allah, maka beribadah sajalah bersama
mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu adalah tempat yang
buruk.»*
> Maka pergilah lelaki itu, hingga ketika ia sampai di
tengah perjalanan, maut menjemputnya. Maka bertengkarlah malaikat rahmat dan
malaikat azab mengenai dirinya. Malaikat rahmat berkata: *«Dia datang dalam
keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah Ta'ala.»* Sedangkan
malaikat azab berkata: *«Sesungguhnya dia belum pernah berbuat kebaikan sedikit
pun.»*
> Lalu datanglah seorang malaikat yang menyerupai wujud
manusia kepada mereka, kemudian mereka menjadikannya sebagai penengah di antara
mereka. Malaikat penengah itu berkata: *«Ukurlah jarak antara kedua tanah
tersebut (desa asal dan desa tujuan), ke arah mana posisinya lebih dekat, maka
dia menjadi milik malaikat tersebut.»* Lalu mereka mengukurnya dan mendapati
posisinya lebih dekat ke tanah (desa) yang ditujunya, maka jiwanya pun diambil
oleh malaikat rahmat."
**Dan dalam sebuah riwayat disebutkan:**
> "Maka posisinya ke arah desa yang baik (shalihah)
lebih dekat sejarak satu jengkal, lalu ia pun dijadikan sebagai bagian dari
penduduk desa tersebut."
**Dalam riwayat lain disebutkan:**
> "Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada bumi yang ini
(desa yang buruk): 'Menjauhlah kamu!', dan kepada bumi yang ini (desa yang
baik): 'Mendekatlah kamu!'. Lalu Allah berfirman: 'Ukurlah jarak di antara
keduanya.' Ketika diukur, mereka mendapati posisinya lebih dekat ke desa yang
baik sejarak satu jengkal, maka ia pun diampuni."
**Dalam riwayat lain:**
> Qatadah berkata: Al-Hasan berkata: "Telah
disebutkan kepada kami bahwa ketika malaikat maut mendatanginya, ia (orang yang
bertobat tersebut) merentangkan/condong dengan dadanya ke arah desa
tujuan."
**Imam At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik
(*jayyid*):**
> "Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang telah
melampaui batas terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa). Ia lalu menemui
seseorang dan bertanya: 'Sesungguhnya orang ini telah membunuh sembilan puluh
sembilan jiwa seluruhnya secara zalim, apakah engkau mendapati adanya pintu
tobat untukku?' Orang itu menjawab: 'Tidak.' Maka ia pun membunuhnya. Kemudian
ia mendatangi orang lain lagi dan berkata: 'Sesungguhnya orang ini telah
membunuh seratus jiwa seluruhnya secara zalim, apakah engkau mendapati adanya
pintu tobat untukku?' Orang kedua itu menjawab: 'Jika aku mengatakan kepadamu
bahwa Allah tidak menerima tobat orang yang bertobat, niscaya aku telah
membohongimu. Di sana ada sekelompok orang yang rajin beribadah, maka
bergabunglah dengan mereka untuk beribadah kepada Allah.' Maka ia pun pergi
menuju ke arah mereka, namun ia meninggal dunia di tengah jalan.
> Akhirnya, malaikat rahmat dan malaikat azab saling
memperebutkannya. Lalu Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka dan
berkata: 'Ukurlah jarak di antara kedua tempat ini, ke arah mana posisinya
lebih dekat, maka ia termasuk golongan mereka.' Ketika diukur, mereka mendapati
posisinya lebih dekat ke desa orang-orang yang bertobat sejarak satu ruas jari
(*anmulah*), maka ia pun diampuni."
**Dan dalam riwayat lain milik At-Thabrani:**
> "Kemudian ia mendatangi lelaki yang lain dan
berkata: 'Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah engkau mendapati
adanya pintu tobat untukku?' Lelaki itu menjawab: 'Kamu telah melampaui batas,
aku tidak tahu pasti. Akan tetapi, di sini ada dua desa; desa yang satu disebut
*Nushrah* (pertolongan/ketaatan) dan desa yang lainnya disebut *Kufrah*
(kekafiran/kemaksiatan). Adapun penduduk desa Nushrah, mereka beramal dengan
amalan penduduk surga dan tidak ada orang lain yang menetap di sana selain
mereka. Sedangkan penduduk desa Kufrah, mereka beramal dengan amalan penduduk
neraka dan tidak ada orang lain yang menetap di sana selain mereka. Oleh karena
itu, pergilah kamu ke desa Nushrah. Jika kamu menetap di sana dan mengamalkan
amalan penduduknya, maka tidak ada keraguan lagi atas tobatmu.'
> Maka pergilah ia menuju desa tersebut, hingga ketika
posisinya berada di antara kedua desa tersebut, maut menjemputnya. Para
malaikat pun bertanya kepada Tuhan mereka tentang urusan lelaki itu. Allah
berfirman: 'Lihatlah ke arah desa mana posisinya lebih dekat, lalu catatlah ia
sebagai bagian dari penduduk desa tersebut.' Ketika diukur, mereka mendapati
posisinya lebih dekat ke desa Nushrah seukuran satu ruas jari, maka ia pun
dicatat sebagai bagian dari penduduk desa tersebut."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.