بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Kitab Tajul ‘Arus Bab 20:
Pintu
rezeki adalah taat kepada Sang Pemberi Rezeki
فاعلم أن باب الرزق طاعة الرازق، فكيف يطلب منه بمعصيته، أم كيف يستدر فضله بمخالفته، وقد قال عليه أفضل الصلاة والسلام: (لا ينال ما عند الله بسخطه) أي لا يطلب رزقه إلا برضاه، وقد قال تعالى مبيناً لذلك بقوله تعالى: ﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾ ولهذا المعنى قال الشيخ أبو العباس رضي الله تعالى عنه في حزبه: لما قال وأعطنا كذا وكذا قال والرزق الهنيء، الذي لا حجاب به في الدنيا، ولا حساب ولا سؤال ولا عقاب عليه في الآخرة، على بساط علم التوحيد والشرع سالمين من الهوى والشهوة والطبع
واحذر من التدبير مع الله، فمثال المدبر مع الله كعبد أرسله السيد إلى بلد ليصنع له ثياباً فدخل العبد تلك البلدة فقال أين أسكن ومن أتزوج؟ فاشتغل بذلك وصرف همته لما هنالك وعطل ما أمره السيد به حتى دعاه إليه، فجزاؤه من السيد أن جازاه القطيعة ووجود الحجاب اشتغاله بأمر نفسه عن حق سيده كذلك أنت أيها المؤمن أخرجك الحق إلى هذه الدار وأمرك فيها بخدمته وقام لك بوجود التدبير منه لك فإن اشتغلت فيها بتدبير نفسك عن حق سيدك، فقد عدلت عن سبيل الهدى وسلكت مسالك الردى
ومثال المدبر مع الله كعبدين للملك أما أحدهما فمشتغل بأوامر سيده لا يلتفت إلى ملبس ولا مأكل بل إنما همته خدمة السيد فأشغله ذلك عن التفرغ لحظوظ نفسه
وأما العبد الآخر فكيف ما طلبه سيده وجده، يغسل ثيابه وفي سياسة مركوبه وتحسين زيه، فالعبد الأول أولى بقبول سيده من العبد الثاني؛ والعبد إنما يُشترى للسيد لا لنفسه، كذلك العبد البصير الموافق لا تراه إلا مشغولاً بحقوق الله، وامتثال أوامره عن مجاب نفسه ومهماتها
فلما كان كذلك قام له الحق سبحانه وتعالى بكل أوامره وتوجه له بجزيل عطائه لصدقه في توكله، لقوله تعالى: ﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ والغافل ليس كذلك لا تجده إلا في تحصيل دنياه، وفي الأشياء التي توصله إلى هواه
Ketahuilah bahwa pintu
rezeki adalah ketaatan kepada Sang Pemberi Rezeki (Ar-Raziq). Maka
bagaimana mungkin rezeki diminta dari-Nya melalui kemaksiatan kepada-Nya? Atau
bagaimana mungkin karunia-Nya diharapkan melalui pelanggaran terhadap
aturan-Nya? Nabi ﷺ
telah bersabda: "Apa yang ada di sisi Allah tidak akan
didapatkan dengan kemurkaan-Nya." Artinya, rezeki-Nya tidak
boleh dicari kecuali dengan keridaan-Nya. Allah Ta'ala telah menjelaskan hal
ini dalam firman-Nya: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2-3).
Karena makna inilah,
Syekh Abu al-Abbas ra. dalam doa hizb-nya, setelah
beliau meminta ini dan itu, beliau berkata: "Dan (berilah kami) rezeki
yang menyenangkan, yang tidak menjadi penghalang (hijab) di dunia,
serta tidak ada hisab, pertanyaan, maupun azab atasnya di akhirat; (rezeki yang
berada) di atas hamparan ilmu tauhid dan syariat, selamat dari hawa nafsu,
syahwat, dan watak rendah."
Dan waspadalah dari
sikap mengatur sendiri (tadbir) bersama
Allah. Perumpamaan orang yang sok mengatur di hadapan Allah adalah seperti
seorang hamba sahaya yang diutus tuannya ke suatu kota untuk menjahitkan
pakaian. Begitu sampai di kota itu, si hamba malah bertanya-tanya: "Di
mana aku akan tinggal? Dengan siapa aku akan menikah?" Ia pun sibuk dengan
urusan itu dan mengerahkan seluruh cita-citanya untuk kepentingan di sana,
hingga ia mengabaikan apa yang diperintahkan tuannya sampai tiba saatnya ia
dipanggil pulang. Balasan dari tuannya adalah pemutusan hubungan dan pemberian
penghalang, karena ia lebih sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri daripada
menunaikan hak tuannya.
Begitu pula engkau,
wahai orang mukmin. Al-Haq (Allah) telah mengeluarkanmu ke dunia ini dan
memerintahkanmu untuk mengabdi kepada-Nya, sementara Dia telah menjamin
pengaturan urusanmu. Jika engkau justru sibuk mengatur dirimu sendiri hingga
melalaikan hak Tuhanmu, maka engkau telah menyimpang dari jalan hidayah dan
menempuh jalan kebinasaan.
Perumpamaan orang yang
mengatur sendiri bersama Allah adalah seperti dua orang hamba milik seorang
raja:
·
Salah satunya sibuk dengan perintah tuannya, ia tidak menoleh
pada urusan pakaian maupun makanan, melainkan cita-citanya hanyalah melayani
tuannya. Hal itu membuatnya tidak sempat memikirkan kepentingan nafsu
pribadinya.
Adapun
hamba yang satunya lagi, bagaimana pun tuannya mencarinya, ia selalu ditemukan
sedang mencuci pakaiannya sendiri, mengurus kendaraannya, atau memperbagus
penampilannya. Maka hamba yang pertama (yang fokus melayani tuan) tentu lebih
pantas diterima oleh tuannya daripada hamba yang kedua ini; karena seorang
hamba dibeli untuk kepentingan tuannya, bukan untuk kepentingan dirinya
sendiri. Begitu pula seorang hamba yang memiliki mata batin (bashirah) dan
patuh, engkau tidak akan melihatnya kecuali ia sibuk dengan hak-hak Allah dan
menjalankan perintah-Nya, mengalahkan keinginan dan urusan pribadinya.
Ketika keadaannya
sudah demikian, maka Allah Yang Maha Benar (Al-Haq) akan
menjamin seluruh urusannya dan melimpahkan pemberian yang agung kepadanya
karena kejujurannya dalam bertawakal, sebagaimana firman-Nya: "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq: 3). Sedangkan orang
yang lalai tidaklah demikian; engkau tidak akan mendapatinya kecuali sibuk
mengejar dunianya dan hal-hal yang menyampaikannya pada hawa nafsunya.
Poin Utama Halaman Ini:
·
Rezeki dan Takwa: Rezeki yang berkah hanya diperoleh melalui jalan yang diridai
Allah.
·
Bahaya Tadbir (Mengatur Sendiri): Penulis memperingatkan agar manusia tidak
terlalu sibuk mencemaskan urusan dunia (yang sudah diatur Allah) sampai
melupakan tugas utamanya untuk beribadah.
·
Fokus Hamba:
Seorang hamba yang sejati adalah mereka yang fokus pada tugas dari Tuannya,
yakin bahwa sang Tuan akan mencukupi segala kebutuhannya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Tajul ‘Arus Bab 20: Pintu rezeki adalah taat kepada Sang Pemberi Rezeki
Description : Kitab Tajul ‘Arus Bab 20: P intu rezeki adalah taat kepada Sang Pemberi Rezeki فاعلم أن باب الرزق طاعة الرازق ، فكيف يطلب منه بمعصيته، ...