بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Sandaran dalam Beramal
الاعتماد في الأعمال
ولا يعتمد المريد فى سلوك هذه المقامات على نفسه ولا على عمله ولا على حوله وقوته ، وإنما يعتمد على فضل ربه وتوفيقه وهدايته وتسديده . قال تعالى
) وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ويَختارُ ، مَا كانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ) وقال تعالى : ) وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ (1) . ( وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ) (۳)
وقال صلى الله عليهِ وَسَلَّم : « لَنْ يَدْخُلَ أَحَدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ ، قَالُوا : ولا أَنْتَ يارسول الله ؟ قَالَ : وَلا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ » .
فالاعتماد على النفوس من علامة الشقاء والبؤس، والاعتماد على الأعمال من عدم التحقق بالزوال، والاعتماد على الكرامة والأحوال من عدم صحبة الرجال ، والاعتماد على الله من تحقق المعرفة بالله . وعلامة الاعتماد على الله أنه لا ينقص رجاؤه إذا وقع في العصيان ، ولا يزيد رجاؤه إذا صدر منه إحسان .
أو تقول : لا يعظم خوفه إذا صدرت منه غفلة كما لا يزيد رجاؤه إذا وقعت منه يقظه ، قد استوى خوفه ورجاؤه على الدوام ، لأن خوفه ناشئ عن شهود الجلال ، ورجاؤه ناشئ عن شهود الجمال ، وجلال الحق وجماله لا يتغيران بزيادة ولا نقصان ، فكذا ما ينشأ عنها ، بخلاف المعتمد على الأعمال ، إذا قل عمله قل رجاؤه ، وإذا كثر عمله كثر رجاؤه لشركه مع ربه وتحققه بجهله ، ولو فني عن نفسه وبقى بربه لاستراح من تعبه وتحقق بمعرفة ربه ، ولابد من شيخ كامل يخرجك من تعب نفسك إلى راحتك بشهود ربك . فالشيخ الكامل هو الذي يريحك من التعب لا الذي يدلك على التعب .
Murid tidak boleh bersandar dalam
menempuh maqam-maqam ini pada dirinya sendiri, pada
amalnya, atau pada kekuatan dan dayanya, melainkan ia bersandar pada keutamaan
Tuhannya,
keberhasilan dari-Nya, petunjuk-Nya, dan pembetulan-Nya. Allah berfirman,
“Dan Tuhanmu
menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih; mereka tidak memiliki pilihan.”(QS.
Al-Qashash: 68). Allah juga berfirman, “Jika Tuhanmu
menghendaki, mereka tidak akan melakukannya,” (QS.
Al-An’am: 112) dan “Jika Tuhanmu
menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia satu
umat, tetapi mereka terus berbeda-beda kecuali yang dirahmati oleh Tuhanmu.” (QS.Hud:
118).
Rasulullah—shalawat
dan salam Allah atasnya—bersabda, “Tidak seorang pun di antara kalian
yang akan masuk surga dengan amalnya.” Mereka bertanya, “Tidak juga
engkau, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah meliputi
aku dengan
rahmat-Nya.”
Maka, ketergantungan
pada nafsu adalah tanda kesengsaraan dan kebinasaan.
Ketergantungan
pada amal adalah tanda ketidakrealisasian akan kefanaan. Ketergantungan
pada
kemuliaan dan keadaan-keadaan adalah tanda ketiadaan pergaulan dengan para
lelaki (yang
saleh). Ketergantungan pada Allah adalah tanda realisasi pengenalan kepada
Allah.
Tanda
ketergantungan pada Allah adalah bahwa harapannya tidak berkurang jika ia jatuh dalam
kemaksiatan, dan harapannya tidak bertambah jika ia melakukan kebaikan.
Atau dapat
dikatakan, ketakutannya tidak bertambah besar jika ia melakukan kelalaian,
sebagaimana
harapannya tidak bertambah jika ia berada dalam kewaspadaan. Ketakutan
dan
harapannya tetap seimbang secara terus-menerus, karena ketakutannya muncul dari
syuhudah keagungan,
dan harapannya muncul dari syuhudah keindahan.
Keagungan Hakikat dan
keindahan-Nya tidak berubah dengan pertambahan atau pengurangan, maka demikian
pula apa yang
muncul darinya. Berbeda dengan orang yang bersandar pada amal: jika
amalnya
sedikit, harapannya berkurang; jika amalnya banyak, harapannya bertambah,
karena ia
menyekutukan sesuatu dengan Tuhannya dan merealisasikan kebodohannya.
Seandainya ia
lenyap dari dirinya dan kekal bersama Tuhannya, niscaya ia akan beristirahat
dari
keletihannya dan merealisasikan pengenalan kepada Tuhannya. Tidak dapat
dihindari adanya syaikh yang sempurna yang mengeluarkanmu dari keletihan
nafsumu menuju ketenanganmu dengan syuhudah Tuhanmu.
Syaikh yang sempurna
adalah yang memberikan ketenangan kepadamu dari keletihan, bukan yang
menunjukkanmu
pada keletihan.
من ذلك على العمل فقد أتعبك ، ومن ذلك على الدنيا فقد غشك ، ومن ذلك على الله فقد نصحك ، كما قال الشيخ ابن مشيش رضى الله عنه والدلالة على الله هى الدلالة على نسيان النفس ، فإذا نسيت نفسك ذكرت ربك . قال تعالى : ( وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ ((۱) أي ماسواه ، وسبب التعب هو ذكر النفس والاعتناء بشئونها وحظوظها . وأما من غاب عنها فلا يلقى إلا الراحة . وأما قوله تعالى : ( لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ في كَبَد )) . أي في تعب ، فهو خاص بأهل الحجاب . أو تقول خاص بإحياء النفوس ، وأما من مات فقد قال الله تعالى فيه
) فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ . فَرَوْحٌ وَرَيْحَانَ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ ((۱)
أي فروح لوصال ، وريحان الجمال ، وجنة لكمال . وقال تعالى :
) لا يَسُهُمْ فِيهَا نَصَبٌ ((٢)
أي تعب ، ولكن لا تدرك الراحة إلا بعد التعب ، ولا يحصل الظفر إلا بالطلب
« حُفْتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ »
أَيُّهَا الْعَاشِقُ مَعْنَى حُسْنِنَا مَهْرُنَا غَالِ لِمَنْ يَخْطُبُنَا جَسَدٌ مُضْنَى وَرُوحٌ فِي الْعَنَا وَجُفُونٌ لا تَذُوقُ الْوَسَنَا. وَفُؤَادُ لَيْسَ فِيهِ غَيْرُنَا وَإِذَا مَا شِئْتَ أَدَّ الثَّمَنَا فَافْنَ إِنْ شِئْتَ فَنَاءً سَرْمَدًا فَالفَنَا يُدْنِي إِلَى ذَاكَ الْفِنَا وَاخْلَعِ النَّعْلَيْنِ إِنْ جِئْتَ إِلَى ذَلِكَ الْحَيُّ فَفِيهِ قُدْسُنَا وَعَنِ الْكَوْنَينَ كُنْ مُنْخَلِعًا وَأَزِلْ مَا بَيْنَنَا مِنْ بَيْنِنَا وَإِذَا «ما » قِيلَ مَنْ تَهْوَى فَقُلْ أَنَا مَنْ أَهْوَى وَمَنْ أَهْوَى أَنَا
Barang siapa menunjukkanmu pada amal, maka ia telah melelahkanmu. Barang siapa menunjukkanmu pada dunia, maka ia telah menipumu. Barang siapa menunjukkanmu pada Allah, maka ia telah menasihatimu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibn Masyisy—semoga Allah meridhainya—. Penunjukan kepada Allah adalah penunjukan kepada pelupaan diri. Jika engkau melupakan dirimu, engkau akan mengingat Tuhanmu. Allah berfirman, “Dan ingatlah Tuhanmu jika engkau lupa,” (QS. Al-Kahfi: 24), yaitu lupa terhadap selain-Nya. Penyebab
keletihan
adalah mengingat nafsu dan memperhatikan urusan-urusannya serta
bagianbagiannya. Adapun barang siapa yang lenyap darinya, ia tidak akan menemui
kecuali ketenangan.
Adapun firman Allah, “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan,” (QS.
Al-Balad: 4), maksudnya dalam keletihan,
ini khusus bagi ahli hijab.
Atau dapat
dikatakan, khusus bagi mereka yang menghidupkan nafsu-nafsu.
Adapun barang
siapa yang telah mati, Allah berfirman tentangnya, “Adapun jika
ia termasuk dari golongan yang didekatkan, maka
baginya ketenangan, keharuman, dan surga kenikmatan,”
(QS.
Al-Waqiah: 88-89), yaitu ketenangan penyambungan, keharuman keindahan, dan
surga
kesempurnaan. Allah berfirman, “Mereka tidak
disentuh oleh keletihan di dalamnya.” (QS. Al-Hijr:
48).
Namun, ketenangan tidak dapat dicapai kecuali
setelah keletihan, dan kemenangan
tidak diperoleh kecuali dengan pencarian.
“Surga
dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai.”
Wahai
pencinta makna keindahan kami,
Mahar kami
mahal bagi yang meminang kami.
Jasad yang
lelah dan ruh dalam kesusahan,
Kelopak mata
yang tidak merasakan tidur,
Dan hati yang
tidak ada di dalamnya selain kami.
Jika engkau
mau, bayar harganya.
Lenyaplah jika
engkau mau dengan kelengkapan abadi, Karena
kelengkapan mendekatkan kepada kelengyapan itu.
Lepaskan
kedua sandalmu jika engkau datang ke sana,
Ke tempat
itu, karena di sana telah bersinar.
Lepaskan diri
dari dua alam,
Dan hilangkan
apa yang ada di antara kami dari antara kami.
Jika
dikatakan, ‘Siapa yang engkau cintai?’ maka katakan,
‘Aku adalah
yang kucintai, dan yang kucintai adalah aku.’
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.