بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 34.
KEUTAMAAN KAUM FAKIR 4
ولقد كانت عائشة رضي الله تعالى عنها تفرق مائة الف درهم في يوم واحد يوجهها إليها معاوية وابن عامر وغيرهما وإن درعها المرفوع وتقول لها الجارية : لو اشتريت لك بدرهم لحما تفطرين عليه وكانت صايمة . فقالت لو ذكرتيني لفعلت وكان قد أوصاها رسول الله ﷺ وقال إن أردت اللحوق بي فعليك بعيش الفقراء وإياك مجالسة الأغنياء ولا تنزعي درعك حتى ترفعيه
وجاء رجل الى ابراهيم بن أدهم بعشرة آلاف درهم فأبى عليه أن يقبلها فالح عليه الرجل . فقال له ابراهيم أتريد أن أمحو أسمي من ديوان الفقراء بعشرة آلاف درهم لا أفعل ذلك أبداً ، رضي الله عنه .
وقال رسول الله ﷺ : طوبى لمن هدي إلى الاسلام وكان عيشه كفافا وقنع به . وقال ﷺ یا معشر الفقراء أعطوا الله الرضا من قلوبكم تظفروا بثواب فقركم وإلا فلا فالأول القانع وهذا الراضي يكاد يشعر هذا بمفهومه أن الحريص لا ثواب له على فقره ولكن المعلومات الواردة في فضل الفقر تدل على ان له ثوابا كما سيأتي تحقيقه فلعل المراد بعدم الرضا هو الكراهة لفعل الله في حبس الدنيا عنه ورب راغب في المال لا يخطر بقلبه إنكار على الله تعالى ولا كراهة في فعله فتلك الكراهة هي التي تحبط ثواب الفقر .
( وروي ) عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن النبي أنه قال : أن لكل شيئا مفتاحا ومفتاح الجنة حب المساكين والفقراء لصبرهم هم جلساء الله تعالى يوم القيامة
. روي عن علي كرم الله وجهه عن النبي أنه قال : أحب العباد إلى الله تعالى الفقير برزقه الراضي عن الله تعالى
وقال : اللهم اجعل قوت - محمد كفاف ، من منا من أحد غني ولا فقه لا ود يوم القيامة أنه كان أوتي قونا في الدنيا وأوحى الله تعالى إلى اسماعيل عليه السلام أطلبني عند المنكسرة قلوبهم قال : زمن هم قال الفقراء الصادقون
وقال لا أحد أفضل من الفقير إذا كان راضياً
Adalah Aisyah r.a. membagikan seratus ribu dirham dalam satu hari. Uang itu dikirimkan kepadanya oleh Mu’awiyah dan ibnu Amir dan lainnya dan pada bajunya terdapat tambalan.
Sahayanya berkata: Kiranya engkau beli daging seharga satu dirham untuk berbuka puasa dengannya.
Pada waktu itu Aisyah sedang puasa. Maka Aisyah berkata: Andaikata engkau ingatkan aku tentu aku lakukan.
Rasulullah SAW sudah pernah berwasiat kepadanya dan berkata: Jika engkau ingin menyusulku, hendaklah engkau menjalani kehidupan kaum fakir dan jangan duduk dengan orang-orang kaya dan jangan melepas bajumu hingga engkau menambalnya.
Seorang lelaki datang kepada Ibrahim bin Adham membawa sepuluh ribu dirham, namun ia menolak menerimanya.
Orang itu mendesaknya. Maka Ibrahim berkata kepadanya: Apakah engkau ingin aku menghapus namaku dari daftar orang-orang fakir dengan sepuluh ribu dirham? Aku tidak akan melakukannya untuk selamanya. Rodhiyalloh anhu.
Rasulullah SAW bersabda: “Beruntunglah siapa yang diberi petunjuk hingga masuk Islam dan hidup secukupnya dan ia merasa puas dengannya.”
Nabi SAW bersabda: “Hai kaum fakir, berilah Allah keridhaan dari hatimu, niscaya kalian mendapat pahala kefakiranmu. Kalau tidak, maka kalian tidak mendapatkannya.”
Yang pertama ialah orang yang puas dengan apa yang ada dan yang ini adalah orang yang ridha.
Hadits ini menunjukkan dengan pengertiannya bahwa orang yang tamak tidak mendapat pahala, meskipun miskin.
Akan tetapi keumuman yang disebutkan tentang keutamaan kemiskinan menunjukkan bahwa ia mendapat pahala.
Barangkali yang dimaksud dengan tidak adanya keridhaan adalah tidak menyukai perbuatan Allah dalam menahan dunia darinya. Terkadang orang yang menyukai harta tidak terlintas di hatinya untuk mengingkari keputusan Allah Ta’ala maupun tidak menyukai perbuatan-Nya. Ketidaksukaan itulah yang membatalkan pahala kefakiran.
Diriwayatkan dari Umar ibnul Khathab r.a. dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai kunci dan kunci surga adalah cinta kaum miskin dan fakir karena kesabaran mereka. Mereka adalah orang-orang yang duduk di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat.”
Diriwayatkan dari Ali karromallahu wajhahu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala ialah orang fakir yang puas dengan rezekinya dan ridha kepada Allah Ta’ala.”
Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, jadikan makanan pokok keluarga Muhammad kecukupan.”
Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang kaya maupun seorang miskin. melainkan ia berangan-angan pada hari kiamat kiranya ia dulu diberi makanan pokok di dunia.”
Allah Ta’ala mewahyukan kepada Isma’il alaihis salam: Carilah Aku di tempat orang-orang yang patah hati.
Isma’il berkata: Siapa mereka itu?
Allah menjawab: Orang-orang fakir yang berkata benar.
Nabi SAW bersabda: “Tidak ada orang yang lebih utama daripada orang fakir apabila ia ridha.”
وقال يقول الله تعالى يوم القيامة أين صفوتي من خلقي ، فتقول الملائكة ومن هم يا ربنا . فيقول فقراء المسلمين القانعون لعطائي الراضون بقدري أدخلوهم الجنة فيدخلوها ويأكلون ويشربون والناس في الحساب يترددون .
فهذا في القانع الراضي ، وأما الزاهد فسنذكر فضله إن شاء الله تعالى
وأما الآثار في الرضا والقناعة فكثيرة ولا يخفى أن القناعة يضادها الطمع وقد قال عمر رضي الله عنه أن الطمع فقر واليأس غنى وأنه من يئس عما في أيدي الناس وقنع استغنى عنهم .
وقال ابن مسعود رضي الله تعالى عنه ما من يوم إلا وملك ينادي من تحت العرش يا ابن آدم قليل يكفيك خير من كثير يطغيك . وقال أبو الدرداء رضي الله تعالى عنه ما من أحد إلا وفي عقله نقص ، وذلك انه إذا أتته الدنيا بالزيادة ظل فرحاً مسروراً والليل والنهار دائبان في هدم عمره ثم لا يحزنه ذلك ويح ابن آدم ما ينفع ما يزين وعمر ينقص
وقيل لبعض الحكماء ما الغنى . قال قلة تمنيك ورضاك بما يكفيك وقيل كان ابراهيم بن أدهم من أهل النعمة بخراسان فبينما هو يشرف من قصر له ذات يوم اذ نظر إلى رجل في فناء القصر وفي يده رغيف يأكله فلما أكل نام فقال لبعض غلمانه إذا قام فجئني به فلما قام جاء به اليه فقال ابراهيم ايها الرجل أكلت الرغيف وانت جائع . قال : نعم قال : فشبعت قال : نعم ثم نمت طيبا قال نعم فقال ابراهيم في نفسه فما أصنع أنا بالدنيا والنفس تقنع بهذا القدر
ومر رجل بعامر بن عبد القيس وهو يأكل ملحا وبقلا فقال له يا عبد الله أرضيت من الدنيا بهذا . فقال ألا أدلك على من رضي بشر من هذا قال بلى فقال من رضي بالدنيا عوضاً عن الآخرة ، وكان محمد بن واسع رحمة الله عليه يخرج خبزا يابسا فيبله بالماء ويأكله بالملح ، ويقول من رضي من الدنيا بهذا لم يحتج إلى أحد
Nabi SAW bersabda: “Allah Ta’ala berkata pada hari kiamat: Di mana orang-orang pilihan dari makhluk-Ku?
Para malaikat berkata: Siapa mereka itu, ya Tuhan kami?
Allah menjawab: Mereka adalah kaum fakir muslimin yang merasa puas dengan pemberian-Ku dan ridha dengan takdir-Ku, masukkan mereka ke dalam surga. Maka mereka memasukinya, makan dan minum sementara orang-orang menjalani hisab mondar mandir.
Ini mengenai orang yang puas dan ridha.
Adapun atsar-atsar mengenai keridhaan dan qana’ah, maka jumlahnya banyak. Adalah jelas bahwa qana’ah adalah kebalikan dari sifat tamak.
Umar r.a. berkata: Sesungguhnya tamak adalah kemiskinan dan kepuasan adalah kekayaan.
Barangsiapa yang tidak mengharapkan milik orang lain dan merasa puas dengan apa adanya, maka ia pun tidak membutuhkan mereka.
Ibnu Mas’ud berkata: Setiap hari seorang malaikat berseru dari bawah Arsy: Sedikit rezeki yang mencukupimu lebih baik daripada banyak harta yang membuatmu sombong.
Abu Darda’ r.a. berkata: Setiap orang mempunyai kekurangan dalam akalnya. Hal itu disebabkan apabila datang dunia kepadanya … dengan membawa tambahan, ia pun senang dan gembira sementara malam dan siang terus berjalan menghabiskan umurnya, kemudian hal itu tidak membuatnya sedih.
Kasihan anak Adam, tidaklah bermanfaat harta yang bertambah sementara umur berkurang.
Dikatakan kepada seorang bijak: Apa yang dimaksud dengan kekayaan? la menjawab: Sedikitnya keinginanmu dan keridhaanmu dengan apa yang mencukupimu.
Diceritakan: Ibrahim bin Adham dulunya adalah seorang kaya di Khurasan. Pada suatu hari ia mengamati dari istananya, ternyata ia melihat seorang lelaki di halaman istana memegang sepotong roti dan memakannya. Setelah selesai makan, ia tidur.
Maka Ibrahim berkata kepada seorang pelayannya: Jika ia bangun, bawalah dia kepadaku.
Ketika ia sudah bangun. pelayan itu membawanya kepada Ibrahim: Hai orang, engkau makan roti dalam keadaan lapar.
Orang itu menjawab: Ya. Ibrahim berkata: Maka engkau merasa kenyang?. Orang itu menjawab: Ya.
Ibrahim berkata: Kemudian engkau tidur dengan nyenyak.
Orang itu menjawab: Ya.
Ibrahim berkata dalam hatinya: Apa yang aku perbuat dengan dunia, sedangkan jiwa merasa puas dengan kadar ini.
Seorang lelaki melewati Amir bin Abdul Qais yang sedang makan garam dan sayuran. Maka ia berkata kepadanya: Hai hamba Allah, apakah engkau ridha dari dunia dengan ini?
Amir menjawab: Maukah aku tunjukkan kepadamu orang yang ridha dengan sesuatu yang lebih buruk dari ini?
Orang itu menjawab: Ya.
Amir berkata: Orang yang ridha dunia sebagai ganti akhirat.
Adalah Muhammad bin Waasi’ rahimahullah mengeluarkan roti kering, lalu membasahinya dengan air dan memakannya dengan garam. la berkata: Siapa yang ridha dari dunia dengan ini, ia pun tidak butuh kepada seseorang.

Al-Hasan rahimahullah berkata: Semoga Allah melaknat orang-orang yang ketika Allah Ta’ala bersumpah, mereka tidak mempercayaiNya. Kemudian ia membaca: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu". Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” Adz-Dzariyaat: 22-23
Pada suatu hari Abu Dzarr r.a. duduk di antara orang banyak. Tiba-tiba datang istrinya kepadanya. la berkata kepadanya: Apakah engkau duduk di antara orang-orang ini? Demi Allah, di rumah ada minuman maupun makanan.
Abu Dzarr menjawab: Hai istriku, sesungguhnya di depan kita ada hambatan yang sulit. Tidak ada yang selamat darinya, kecuali setiap orang yang ringan bebannya.
Maka istrinya kembali dan ridha.
Dzunnun Al-Mishri rahimahullah berkata: Manusia yang paling dekat kepada kekufuran adalah orang miskin yang tidak sabar.
Diriwayatkan bahwa Allah SWT berfirman dalam beberapa kitab terdahulu yang diturunkan: Wahai anak Adam, seandainya seluruh dunia menjadi milikmu, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa darinya kecuali makanan pokok. Jadi, jika Aku memberimu makanan pokok dan menyerahkan perhitungannya kepada selainmu, maka Aku berbuat baik kepadamu.
Tentang Qonaah: Telah dikatakan tentang kepuasan:
Merendahlah kepada Allah, jangan merendah kepada manusia, dan puaslah dengan keputusasaan, karena kemuliaan ada dalam keputusasaan.
Merasa cukup dari kerabat dan keluarga, karena orang yang kaya adalah orang yang merasa cukup dari manusia.
Juga dikatakan dalam makna ini:
Wahai pengumpul dan penghalang harta, padahal zaman mengawasinya, kematian akan mendatanginya saat dia berpikir bagaimana dia mengumpulkan harta. Katakan padaku, apakah kamu mengumpulkan harta untuknya (dirimu)? Harta itu tersimpan di sisimu untuk ahli warisnya. Tenanglah wahai pemuda yang berjalan dengan keyakinan, harga dirinya terjaga, tidak ternoda oleh apa pun yang mencemarinya. Sesungguhnya kepuasan, siapa pun yang singgah di halamannya, tidak akan menemukan kekhawatiran yang mengganggunya di bawah naungannya.
KEUTAMAAN KAUM FAKIR 3
BAB 5
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.