بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Rintangan-Rintangan di Tengah
Jalan
عقبات في الطريق
وقال في حل الرموز : ثم اعلم أنك لا تصل إلى منازل القربات ، حتى تقطع
ست عقبات :
العقبة الأولى: فطم الجوارح عن المخالفات الشرعية .
العقبة الثانية فطم النفس عن المألوفات العادية
العقبة الثالثة: فطم القلب عن الرعونات البشرية .
العقبة الرابعة: فطم النفس عن الكدورات الطبيعية .
العقبة الخامسة فطم الروح عن البخورات الحسية .
العقبة السادسة فطم العقل عن الخيالات الوهمية .
فتشرف من العقبة الأولى على ينابيع الحكم القلبية ، وتطلع من العقبة الثانية على أسرار العلوم اللدنية ، وتلوح لك في العقبة الثالثة أعلام المناجاة الملكوتية ، ويلمع لك في العقبة الرابعة أنوار المنازلات القربية ، وتطلع لك في العقبة الخامسة أنوار المشاهدات الحبية ، وتهبط من العقبة السادسة على رياض الحضرة القدسية ، فهنالك تغيب بما تشاهده من اللطائف الأنسية عن الكثائف الحسية ، فإذا أرادك لخصوصيته الاصطفائية ، سقاك بكأس محبته شربة تزداد بتلك الشربة وبالذوق شوقاً ، وبالقرب طلبا ، وبالسكر قلقا اهـ المراد منه . ظمأ
تتميم : أشكل على بعض الفضلاء قوله تعالى : ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ( مع قوله صلى الله عليه وسلم : «لَنْ يَدْخُلَ أَحَدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ » الحديث .
Penulis
berkata dalam Hal
ar-Rumuz,
Kemudian ketahuilah bahwa engkau tidak akan sampai kepada
kedudukan-kedudukan kedekatan (kepada Allah) hingga engkau melewati
enam
rintangan.
• Rintangan
pertama adalah memutuskan anggota-anggota tubuh dari pelanggaran pelanggaran
syariat.
• Rintangan
kedua adalah memutuskan nafsu dari kebiasaan-kebiasaan adat.
• Rintangan
ketiga adalah memutuskan hati dari kecerobohan-kecerobohan kemanusiaan.
• Rintangan
keempat adalah memutuskan nafsu dari kekeruhan-kekeruhan tabiat.
• Rintangan
kelima adalah memutuskan ruh dari aroma-aroma indrawi.
• Rintangan
keenam adalah memutuskan akal dari khayalan-khayalan imajinasi.
Maka, dari
rintangan pertama engkau akan melihat mata air-mata air hikmah qalbu.
Dari
rintangan kedua engkau akan mengetahui rahasia-rahasia ilmu-ilmu ilahi. Pada
rintangan
ketiga akan tampak bagimu tanda-tanda perbincangan-perbincangan kerajaan.
Pada
rintangan keempat akan berkilau bagimu cahaya-cahaya kedudukan-kedudukan
kedekatan.
Pada rintangan kelima akan terbit bagimu cahaya-cahaya syuhudah-syuhudah
cinta. Dan
dari rintangan keenam engkau akan turun ke kebun-kebun hadirat kesucian. Di
sana engkau
akan lenyap dengan apa yang engkau saksikan dari kelembutan-kelembutan
keakraban,
sehingga terpisah dari kekasaran-kekasaran indrawi. Jika Dia menghendakimu
untuk
kekhususan pemilihan-Nya, Dia akan memberimu minum dengan cawan cintaNya satu
tegukan, yang dengan tegukan itu engkau akan bertambah haus karena rasa,
bertambah
rindu karena kedekatan, bertambah gelisah karena keresahan.
Maksudnya, untuk menyempurnakan masalah yang membingungkan
sebagian orang
berilmu, yaitu firman Allah, “Masuklah ke dalam surga karena apa
yang kamu kerjakan,” (QS. an-Nahl:
32), bersamaan dengan sabda Rasulullah—shalawat dan salam Allah
atasnya—, “Tidak
seorang pun di antara kalian yang akan masuk surga dengan amalnya,” (al-hadits).
والجواب : أن الكتاب والسنة وردا بين شريعة وحقيقة .
أو تقول بين تشريع وتحقيق ، فقد يشرعان في موضع ويحققان في آخر في ذلك الشيء بعينه ، وقد يحققان في موضع ويشرعان فيه في آخر ، وقد يشرع القرآن في موضع وتحققه السنة ، وقد تشرع السنة فى موضع ويحققه القرآن فالرسول عليه الصلاة والسلام مبين لما أنزل الله . قال تعالى
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
فقوله تعالى : ( ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون ) هذا تشريع لأهل الحكمة وهم أهل الشريعة ، وقوله صلى الله عليه وسلم « لن يدخل أحدكم الجنة بعمله » هذا تحقيق لأهل القدرة وهم أهل الحقيقة ، كما أن قوله تعالى : وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاء الله ) (۳) تحقيق
وقوله صلى الله عليه وسلم إِذَا هَم أَحَدُكُمُ بِحَسَنَةٍ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ » تشريع
والحاصل أن القرآن تقيده السنة ، والسنة يقيدها القرآن ، فالواجب على الإنسان أن تكون له عينان
إحداهما تنظر إلى الحقيقة ، والأخرى تنظر إلى الشريعة ، فإذا وجد القرآن قد شرع في موضع فلابد أن يكون قد حقق في موضع آخر ، أو تحققه السنة وإذا وجد السنة قد شرعت فى موضع فلابد أن تكون قد حققت في موضع آخر أو حققها القرآن ، ولا تعارض حينئذ بين الآية والحديث ، ولا إشكال
وهنا جواب آخر : وهو أن الله تعالى لما دعا الناس إلى التوحيد والطاعة علم أنهم لا يدخلون فيه من غير طمع فوعدهم بالجزاء على العمل ، فلما رسخت أقدامهم في الإسلام أخرجهم عليه الصلاة والسلام من ذلك الحرف ورقاهم إلى إخلاص العبودية والتحقق بمقام الإخلاص ، فقال لهم : « لن يدخل أحدكم الجنة بعمله » والله تعالى أعلم ، وهنا أجوبة لأهل الظاهر لا تجدى شيئا ...
ولما كان الانتقال من عمل الظاهر إلى عمل الباطن لابد أن يظهر أثره على الجوارح قال تعالى : ( إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا (1) الآية
Jawabannya adalah bahwa Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah datang
dengan membawa
syariat dan hakikat, atau dapat dikatakan antara penetapan syariat dan
realisasi hakikat.
Keduanya dapat menetapkan syariat pada suatu tempat dan merealisasikan hakikat
pada tempat
lain untuk hal yang sama. Keduanya dapat merealisasikan hakikat pada suatu
tempat dan
menetapkan syariat pada tempat lain. Al-Qur’an dapat menetapkan syariat pada suatu
tempat dan Sunnah merealisasikan hakikatnya. Sunnah dapat menetapkan syariat
pada suatu tempat dan Al-Qur’an merealisasikan hakikatnya. Rasul—kesejahteraan
atasnya—adalah
penjelas bagi apa yang diturunkan Allah. Allah berfirman, “Dan Kami
turunkan
kepadamu Adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan
kepada
mereka.” (QS an-Nahl:
44) Maka, firman Allah, “Masuklah ke
dalam surga karena apa yang kamu kerjakan,” adalah
penetapan syariat bagi ahli hikmah, yaitu ahli syariat. Sabda Rasulullah—shalawat
dan salam Allah atasnya—, “Tidak seorang pun di antara kalian
yang akan
masuk surga dengan amalnya,” adalah realisasi hakikat bagi ahli
kekuasaan, yaitu ahli hakikat. Sebagaimana firman Allah, “Dan kamu
tidak menghendaki kecuali apa yang Allah kehendaki,” (QS
al-Insan: 30) adalah realisasi hakikat, dan sabda Rasulullah—shalawat dan
salam Allah
atasnya—, “Jika
salah seorang di antara kalian berniat melakukan kebaikan, maka ditulis baginya
satu kebaikan,”
adalah penetapan syariat.
Kesimpulannya, Al-Qur’an
membatasi Sunnah dan Sunnah membatasi Al-Qur’an.
Maka, wajib
bagi manusia memiliki dua perspektif: Pertama, memandang
kepada hakikat dan
kedua
memandang
kepada syariat. Jika Al-Qur’an menetapkan syariat pada suatu tempat, maka
pasti ia telah merealisasikan hakikat pada tempat lain atau Sunnah yang
merealisasikannya.
Jika Sunnah menetapkan syariat pada suatu tempat, maka pasti ia telah
merealisasikan
hakikat pada tempat lain atau Al-Qur’an yang merealisasikannya. Dengan
demikian,
tidak ada pertentangan antara ayat dan hadits, dan tidak ada keraguan.
Ada jawaban
lain,
yaitu bahwa Allah Yang Maha Tinggi, ketika mengajak manusia kepada tauhid
dan ketaatan dengan dasar bahwa mereka tidak akan memasukinya tanpa
harapan, maka
Dia menjanjikan ganjaran atas amal. Ketika kaki mereka telah kokoh dalam
Islam,
Rasul—kesejahteraan atasnya—mengeluarkan mereka dari huruf itu dan menaikkan
mereka ke
tingkat keikhlasan keabdian dan realisasi maqam keikhlasan, lalu berkata kepada
mereka, “Tidak seorang
pun di antara kalian yang akan masuk surga dengan amalnya.” Wallahu
a’lam.
Ada
jawaban-jawaban bagi ahli zahir yang tidak memberikan manfaat apa pun.
Karena
perpindahan dari amal zahir ke amal batin pasti menampakkan pengaruhnya pada
anggota-anggota
tubuh, Allah berfirman, “Sesungguhnya
para raja, jika memasuki suatu negeri, mereka
merusaknya,” (QS.
an-Naml: 34).
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Iqazh al-Himam BAB 1: (Rintangan-Rintangan di Tengah Jalan)
Description : Rintangan-Rintangan di Tengah Jalan عقبات في الطريق وقال في حل الرموز : ثم اعلم أنك لا تصل إلى منازل القربات ، حتى تقطع ست عقبات : الع...