بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Lebih percayalah pada jaminan Allah
اعلم
أن من عرف الله وثق بضمانه، وكفالته، وانه لا يكمل فهم العبد حتى يكون بما في يدي
الله أوثق منه بما في يديه وبضمان الحق أوثق منه بضمان الخلق، ويكفيك جهلا أن لا
تكون كذلك.
ورأى
بعضهم رجلا يلازم الجامع، ولا يخرج منه، فتعجب من ملازمته، وفكر في نفسه من أين
يأكل؟
فقال
له يوما: من أين تأكل؟
فقال
له ذلك الرجل: أن لي صاحبا يهوديا وعدني كل يوم برغيفين، فهو يأتيني بهما.
فقال
له: ذاك إذا؟
فقال
له ذلك العارف: يا مسكين وثقت لي بوعد يهودي، وما وثقت بي بوعد الله سبحانه وتعالى
؟ وهو الصادق الوعد الذي لا يخلف الميعاد؟ وقد قال تعالى:
{وما
من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها}.
فاستحيا
منه ذلك الرجل وذهب.
وعن
آخر: انه صلى خلف إمام أياما، فقال له الإمام يوما، وقد تعجب من ملازمته المسجد،
وتركه الأسباب من أين تأكل؟ فقال: قف حتى أعيد صلاتي، فإني لا أصلي خلف من شك في
الله.
والحكايات
في هذا كثيرة.
قيل
لعلي بن أبى طالب رضي الله عنه: لو أن إنسانا ادخل بيتنا وطين ذلك أبيت عليه، من
أين يأتيه رزقه؟
فقال
يأتيه رزقه من حيث يأتيه اجله.
فانظر
هذه الحجة، ما ابهرها، وهذه البينة ما أظهرها.
Ketahuilah bahwa siapa yang mengenal Allah akan percaya pada jaminan dan pemeliharaan-Nya, dan pemahaman hamba tidak akan sempurna sampai ia lebih percaya pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri, dan lebih percaya pada jaminan Kebenaran (Allah) daripada jaminan makhluk. Cukuplah kebodohan bagimu jika tidak demikian.
Beberapa orang melihat seorang pria yang selalu berada di masjid dan tidak pernah keluar. Mereka heran dengan ketekunannya dan berpikir dalam hati, "Dari mana dia makan?"
Suatu hari mereka bertanya kepadanya, "Dari mana kamu makan?"
Pria itu menjawab, "Saya punya teman Yahudi yang menjanjikan dua potong roti setiap hari, dan dia membawakannya untuk saya."
Mereka bertanya, "Itu saja?"
Orang arif itu berkata kepadanya, "Wahai orang malang, kamu percaya pada janji seorang Yahudi, tetapi kamu tidak percaya pada janji Allah Yang Maha Suci? Padahal Dia adalah Yang Menepati Janji dan tidak pernah mengingkari janji? Dia berfirman: {Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (hidup) di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya, dan Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.} Pria itu merasa malu dan pergi.
Dari cerita lain: Seseorang salat di belakang seorang imam selama beberapa hari. Imam itu, yang heran dengan ketekunannya di masjid dan ketidakpeduliannya terhadap pekerjaan duniawi, bertanya kepadanya, "Dari mana kamu makan?" Pria itu menjawab, "Berhentilah sampai saya mengulangi salat saya, karena saya tidak salat di belakang orang yang ragu kepada Allah."
Dan kisah-kisah tentang ini sangat banyak.
Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib RA: "Jika seseorang masuk ke rumah kami dan menutupinya dengan tanah (mengurungnya), dari mana rezekinya datang?"
Dia menjawab, "Rezekinya datang dari tempat ajalnya datang."
Maka lihatlah argumen ini, alangkah indahnya, dan bukti ini, alangkah jelasnya.
وقول الشيخ رحمه الله: ومن التفكير والتدبير في تحصيله.
فالتفكر: أن تستحضر في نفسك انه لا بد لك من غذاء يقيم بنيتك والتدبير أن تقول هو من وجه كذا وكذا لا ولكن هو من وجه كذا وكذا، ويكثر ذلك، ويتردد على القلب حتى لا تدري أن كنت مصليا ماذا صليت، أو تاليا ماذا تلوت، فتتكدر عليك تلك الطاعة التي أنت فيها، وتحرم أنوارها وتمنع أسرارها.
فإذا أورد عليك ذلك، فاهدم بناءه بفأس الثقة، ودكه بوجود اليقين واعلم رحمك الله أن الله تعالى قد تولى تدبيرك من قبل أن تكون وانك أن أردت نصح نفسك لا تدبر لها، فان التدبير منك لها إضرار بها إذ ذاك مما يوجب إحالتك عليك، ويمنع إمداد اللطف أن يصل إليك، والمؤمن لا يدعه الحق سبحانه وتعالى لوجود التدبير ولا لمنازعة المقادير.
فان عرض ذلك عليك، أو خط فلا تثبت له، فان نور الإيمان لا يدعه لذلك.
{وكان حقا علينا نصر المؤمنين}.
{بل نقذف بالحق على الباطل فيدمغه فإذا هو زاهق}.
وقول الشيخ رحمه الله تعالى: ومن الشح والبخل بعد حصوله، فهذان من العوارض بعد الحصول، وهما ينشآن عن ضعف، وعدم الثقة فحينئذ يكون الشح، ويقع البخل، وقد ذم الله تعالى الشح والبخل كليهما في كتابه العزيز فقال تعالى:
{ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون}.
فمفهومه أن صاحب الشح لا فلاح له أي لا نور له والفلاح هو النور.
وقال تعالى في وصف المنافقين:
{أشحة على الخير أولئك لم يؤمنوا فأحبط الله أعمالهم}.
وقال تعالى: {ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين، فلما آتاهم من فضله بخلوا به وتولوا وهم معرضون}. وقال تعالى: {ومن يبخل فإنما يبخل عن نفسه}.
Perkataan Syekh, semoga Allah merahmatinya, "Dan dari memikirkan dan mengatur dalam memperolehnya."
Adapun berfikir: engkau menghadirkan dalam dirimu bahwa engkau pasti butuh makanan yang menegakkan tubuhmu. Dan mengatur: engkau berkata rezeki itu dari jalan ini dan itu, tidak, tetapi dari jalan ini dan itu. Hal itu memperbanyaknya dan terlintas di hati sampai engkau tidak tahu apakah engkau sedang shalat, apa yang engkau shalat kan, atau sedang membaca, apa yang engkau baca. Sehingga ibadah yang engkau lakukan menjadi keruh, engkau diharamkan dari cahayanya, dan terhalang dari rahasianya.
Apabila hal itu terlintas padamu, maka hancurkan bangunannya dengan kapak kepercayaan, dan ratakan dengan adanya keyakinan. Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa Allah Ta'ala telah mengurus pengaturanmu sebelum engkau ada. Dan sesungguhnya jika engkau ingin menasihati dirimu sendiri, janganlah engkau mengatur untuknya. Karena pengaturan darimu untuknya adalah bahaya baginya, karena yang demikian itu mewajibkan penyerahan urusan kepadamu, dan menghalangi datangnya pertolongan kelembutan sampai kepadamu. Dan orang mukmin, al-Haq Subhanallah Ta'ala tidak membiarkannya karena adanya pengaturan, tidak pula karena pertentangan takdir.
Apabila hal itu ditawarkan kepadamu, atau terlintas, maka janganlah engkau tetap padanya, karena cahaya iman tidak membiarkannya untuk hal itu.
"{Dan sungguh bagi Kami menolong orang-orang yang mukmin}"
"{Bahkan Kami melemparkan yang hak kepada yang batil, maka yang hak itu melenyapkannya, maka lenyaplah ia}"
Perkataan Syekh, semoga Allah Ta'ala merahmatinya, "Dan dari kikir dan pelit setelah memperolehnya." Maka ini adalah di antara hal yang baru terjadi setelah memperoleh, dan keduanya timbul dari kelemahan dan kurangnya kepercayaan. Maka ketika itu terjadilah kikir, dan jatuh pada pelit. Sungguh Allah Ta'ala mencela kikir dan pelit keduanya dalam kitab-Nya yang mulia, maka Allah Ta'ala berfirman:
"{Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran jiwanya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung}"
Maka pemahamannya adalah pemilik kikir tidak ada keberuntungan baginya, yaitu tidak ada cahaya baginya, dan keberuntungan adalah cahaya.
Allah Ta'ala berfirman dalam sifat orang munafik:
"{Kikir terhadapmu. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka}"
Allah Ta'ala berfirman: "{Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.'
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)}."
Allah Ta'ala berfirman: "{Dan siapa yang kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap diri sendiri}"
<<Raih Kemuliaan Bersama Alloh 2
Selanjutnya>>
Bab ke 10
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.