بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
kebakhilan dibagi menjadi tiga
والبخل
والشح يطلق على أقسام ثلاثة:
الأول:
أن تخبل ما في يدك أن تبذله في واجبات الله تعالى.
الثاني:
أن تبخل له ولم يتعلق بك الوجوب على عباد الله.
الثالث:
أن تبخل لنفسك أن تبذلها لله تعالى.
والبخل
الأول: وهو أن تبخل فلا تؤتي الزكاة وقد
خوطبت بها، أو لا تقوم بحق وقد تعين عليك، من نفقات الأبوين في فقرهما، والأولاد
في فقرهم، وصغرهم، وكنفقات الزوجات.
وبالجملة:
فكل حق أوجب الله عليك القيام به، فتخلفك عنه مما يطلق عليك لسان الذم، وتستحق به
العقوبة، وفي ذلك جاء قوله تعالى:
{والذين
يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم}.
قال
أهل العلم: الكنز هو المال الذي لا تؤدي زكاته، فإذا أديت زكاته لا يكون كنزا، معناه لا يدخل تحت
هذا الوعيد ولا يطلق عليه لسان الذم.
القسم
الثاني: البخل بالبذل فيما لم يتعلق به الوجوب، كمن اخرج زكاة ماله ثم لم يبذل منه
شيئا بعد ذلك، وهذا وان كان قد فعل ما أمره الله تعلى به من إخراج ما وجب عليه،
فينبغي أن يقتصر عليه فان الاقتصار على الواجبات وترك نوافل الخيرات إنما هو حال
الضعفاء.
Kekikiran dan kebakhilan dibagi menjadi tiga bagian:
Pertama: Anda kikir terhadap apa yang ada di tangan Anda untuk mengeluarkannya dalam kewajiban-kewajiban kepada Allah Ta'ala.
Kedua: Anda kikir untuk [mengeluarkannya] padahal tidak ada kewajiban atas Anda [untuk memberikannya] kepada hamba-hamba Allah.
Ketiga: Anda kikir terhadap diri Anda sendiri untuk mengeluarkannya [sebagai bentuk pendekatan diri] kepada Allah Ta'ala.
Kekikiran Pertama: Yaitu Anda kikir dengan tidak menunaikan zakat padahal Anda telah diperintahkan, atau tidak menunaikan hak [yang wajib] padahal telah ditentukan atas Anda, seperti nafkah kedua orang tua dalam kefakiran mereka, nafkah anak-anak dalam kefakiran dan masa kecil mereka, serta nafkah istri-istri.
Secara keseluruhan: Setiap hak yang diwajibkan Allah atas Anda untuk dipenuhi, maka keterbelakangan Anda darinya adalah hal yang membuat Anda berhak mendapatkan celaan, dan Anda berhak mendapatkan hukuman karenanya, dalam hal itu firman Allah Ta'ala turun:
{Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka kabarkanlah kepada mereka, [bahwa mereka akan mendapat] siksa yang pedih}.
Ahli ilmu berkata: Kanzu (simpanan harta) adalah harta yang tidak ditunaikan zakatnya, maka jika zakatnya ditunaikan, itu tidak menjadi kanzu, artinya tidak masuk dalam ancaman ini dan tidak berhak mendapatkan celaan.
Bagian Kedua: Kikir dalam berinfak pada hal yang tidak terkait dengan kewajiban, seperti orang yang mengeluarkan zakat hartanya kemudian tidak menginfakkan darinya sedikitpun setelah itu. Ini, meskipun dia telah melakukan apa yang diperintahkan Allah Ta'ala kepadanya berupa mengeluarkan apa yang diwajibkan kepadanya, maka seharusnya tidak mencukupkan diri padanya, karena mencukupkan diri pada yang wajib dan meninggalkan amalan sunnah kebaikan, sesungguhnya itu adalah keadaan orang-orang yang lemah.
فلا ينبغي للمؤمن المعتني بإصلاح شأنه مع الله تعالى أن يترك معاملة الله تعالى فيما لم يوجبه الله عليه، فانه أن كان كذلك كان حاله كمن يصلي الفرائض ولا يقوم برواتبها.
ويكفيك أيها العبد قوله تعالى فيم حكاه عنه رسول الله عليه الصلاة والسلام:
(ما تقرب إلي المتقربون بمثل أداء ما افترضت عليهم، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت له سمعا وبصرا، ولسانا وقلبا وعقلا ويدا ومؤيدا).
فقد بين سبحانه وتعالى، أن تكرار النوافل، والقيام بها يوجب العبد وجود الحب من الله تعالى، والنوافل كل ما يطلبك بها لسان إيجاب من صلاة أو صدقة أو حج أو غير ذلك.
ومثل القائم بالفرائض من الصلوات المقتصر عليها، والقائم بها، وبالنوافل أو المخرج للزكاة، المقتصر عليها، والمخرج لها، والمؤثر معها، كعبدين لسيد جعل عليهما كل يوم خراجا على كل عبد درهمين.
فأما العبد الواحد، فانه يؤتى للسيد بذلك ولا يزيد عليه شيئا، ولا يهاديه ولا يواده.
وأما العبد الآخر فانه يقوم للسيد كل يوم بما قام به صاحبه لكن يشتري من الطرف والفواكه ما يهدي إلى سيده زائدا عن خراجه، فهذا العبد لا محالة أحظى عند السيد، وأوفر نصيبا من الحب، وأقرب إلى إقبال السيد.
لأن العبد القائم بما خورج عليه غير متودد للسيد، وإنما أعطاه إشفاقا من عقوبته.
والعبد الذي أعطى لسيده ما خارجه عليه، وهاداه بعد ذلك فهو قد سلك مسلك التودد للسيد والتعرض لحبه فهو حري أن يظفر بقربه وحبه.
وإنما جعل الحق تعالى الإيجاب على العباد علما منه بما هم عليه من وجود الضعف، وبما نفوسهم متصفة به، من وجود الكسل فأوجب عليهم ما أوجب لأنه لو خيرهم فيما أوجب عليهم لم يكونوا به قائمين إلا قليلا وقليل ما هم، فأوجب عليهم وجود طاعته. وفي التحقيق: ما أوجب عليهم إلا دخول جنته، فساقهم إلى بسلاسل الإيجاب.
(عجب ربك من قوم يساقون إلى الجنة بالسلاسل)
Tidak layak bagi seorang mukmin yang peduli pada perbaikan keadaannya dengan Allah Ta'ala untuk meninggalkan bermuamalah dengan Allah Ta'ala dalam hal-hal yang tidak diwajibkan oleh Allah kepadanya, karena jika ia demikian, maka keadaannya seperti orang yang shalat fardhu namun tidak melakukan shalat rawatib.
Cukuplah bagimu wahai hamba, firman Allah Ta'ala dalam apa yang dikisahkan oleh Rasulullah SAW:
(Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, lisannya, hatinya, akalnya, tangannya, dan penolongnya).
Maka Allah SWT telah menjelaskan bahwa pengulangan amalan sunnah, dan melakukan apa yang mewajibkan hamba mendapatkan cinta dari Allah Ta'ala, dan amalan sunnah adalah segala yang dituntut oleh lisan kewajiban baik shalat, sedekah, haji, atau lainnya.
Perumpamaan orang yang melakukan shalat fardhu saja dengan orang yang melakukan fardhu dan amalan sunnah, atau pengeluar zakat saja dengan yang mengeluarkannya dan amalan sunnah, seperti dua hamba yang majikannya menetapkan pajak dua dirham setiap hari atas setiap hamba.
Adapun hamba yang satu, ia datang kepada majikan membawa pajak itu dan tidak menambahinya sedikitpun, tidak memberinya hadiah dan tidak mengasihinya.
Adapun hamba yang lain, ia melakukan untuk majikannya setiap hari apa yang dilakukan temannya, tetapi ia membeli buah-buahan yang ia hadiahkan kepada majikannya sebagai tambahan atas pajaknya, maka hamba ini tidak diragukan lagi lebih disayangi di sisi majikan, dan lebih besar bagian cintanya, dan lebih dekat kepada penerimaan majikan.
Karena hamba yang melakukan apa yang dibebankan padanya tidak berkasih sayang kepada majikan, dan hanya memberikannya karena takut akan hukumannya.
Dan hamba yang memberikan kepada majikannya apa yang dibebankan padanya, lalu memberinya hadiah setelah itu, maka ia telah menempuh jalan kasih sayang kepada majikan dan mencari cintanya, maka ia layak mendapatkan kedekatan dan cintanya.
Hanya saja Allah Ta'ala menetapkan kewajiban kepada hamba-hamba-Nya karena ilmu-Nya tentang kelemahan yang ada pada mereka, dan tentang kemalasan yang melekat pada jiwa mereka, maka Allah mewajibkan apa yang diwajibkan, karena jika Allah memberi pilihan kepada mereka dalam apa yang diwajibkan, niscaya mereka tidak akan melaksanakannya kecuali sedikit, dan sedikitlah mereka itu. Maka Allah mewajibkan ketaatan kepada-Nya.
Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan kepada mereka kecuali masuk surga-Nya, maka Allah menuntun mereka dengan rantai kewajiban.
Tuhanmu kagum pada kaum yang diseret ke surga dengan rantai.
<<Lebih percayalah pada jaminan Allah
Selanjutnya>>
Bab ke 10
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.