بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
22. 'Ilmul
Yaqin, 'Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin
عِلْمُ اليَقِيْنِ، وَعَيْنُ اليَقِيْنِ، وَحَقُّ اليَقِيْنِ
وَهٰذِهِ عِبَارَاتٌ عَنْ عُلُوْمٍ جَلِيَّةٍ . فَالْيَقِيْنُ : هُوَ العِلْمُ الَّذِيْ لَا يَتَدَاخَلُ صَاحِبَهُ رَيْبٌ عَلَى مُطْلَقِ العُرْفِ ، وَلَا يُطْلَقُ فِيْ وَصْفِ الحَقِّ سُبْحَانَهُ ؛ لِعَدَمِ التَّوْقِيْفِ . فَعِلْمُ اليَقِيْنِ هُوَ اليَقِيْنُ ، وَكَذٰلِكَ عَيْنُ اليَقِيْنِ نَفْسُ اليَقِيْنِ ، وَحَقُّ اليَقِيْنِ نَفْسُ اليَقِيْنِ ⁽¹⁾
فَعِلْمُ اليَقِيْنِ عَلَى مُوْجَبِ اصْطِلَاحِهِمْ : مَا كَانَ بِشَرْطِ البُرْهَانِ ، وَعَيْنُ اليَقِيْنِ : مَا كَانَ بِحُكْمِ البَيَانِ ، وَحَقُّ اليَقِيْنِ : مَا كَانَ بِنَعْتِ العِيَانِ
فَعِلْمُ اليَقِيْنِ لِأَرْبَابِ العُقُوْلِ ، وَعَيْنُ اليَقِيْنِ لِأَصْحَابِ العُلُوْمِ ، وَحَقُّ اليَقِيْنِ لِأَصْحَابِ المَعَارِفِ
وَلِلْكَلَامِ فِي الإِفْصَاحِ عَنْ هٰذَا مَجَالٌ ، وَتَحْقِيْقُهُ يَعُوْدُ إِلَى مَا ذَكَرْنَاهُ ، فَاقْتَصَرْنَا عَلَى هٰذَا القَدْرِ عَلَى جِهَةِ التَّنْبِيْهِ
'Ilmul
Yaqin, 'Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin
Ini adalah istilah-istilah yang
mengungkapkan pengetahuan-pengetahuan yang jelas/terang.
- Al-Yaqin (Keyakinan):
Adalah pengetahuan yang pemiliknya tidak disusupi oleh keraguan sedikit
pun secara umum. Istilah ini tidak digunakan untuk menyifati Allah Subhanahu
wa Ta'ala (Maha Suci Dia) karena tidak adanya dalil (tawqif)
yang menyebutkannya.
- Maka, 'ilmul yaqin adalah keyakinan itu
sendiri, begitu pula 'ainul yaqin adalah hakekat keyakinan
itu sendiri, dan haqqul yaqin adalah hakekat keyakinan itu
sendiri.⁽¹⁾
- Menurut istilah mereka (para ulama/sufi):
- 'Ilmul yaqin adalah sesuatu yang diperoleh dengan syarat pembuktian/dalil
(burhan).
- 'Ainul yaqin adalah sesuatu yang diperoleh dengan hukum penjelasan
yang nyata (bayan).
- Haqqul yaqin adalah sesuatu yang diperoleh dengan sifat penyaksian
langsung ('iyan).
- Tingkatan Pengguna:
- 'Ilmul yaqin adalah milik orang-orang yang berakal (arbabul
'uqul).
- 'Ainul yaqin adalah milik orang-orang pemilik ilmu (ashabul
'ulum).
- Haqqul yaqin adalah milik orang-orang pemilik ma'rifat (ashabul
ma'arif).
Pembahasan untuk menjelaskan hal ini
masih sangat luas⁽²⁾, namun penjelasan hakikinya kembali pada apa yang telah
kami sebutkan. Oleh karena itu, kami mencukupkan pada kadar ini saja sebagai
bentuk peringatan/pengingat.
23. Al-Warid
الوَارِدُ
وَيَجْرِي فِي كَلَامِهِمْ ذِكْرُ الْوَارِدَاتِ كَثِيرًا
وَالْوَارِدُ : مَا يَرِدُ عَلَى الْقُلُوبِ مِنَ الْخَوَاطِرِ الْمَحْمُودَةِ مِمَّا لَا يَكُونُ بِتَعَمُّلِ الْعَبْدِ ⁽¹⁾ ، وَكَذٰلِكَ مَا لَا يَكُونُ مِنْ قَبِيلِ الْخَوَاطِرِ فَهُوَ أَيْضًا وَارِدٌ
ثُمَّ يَكُونُ وَارِدٌ مِنَ الْحَقِّ ، وَوَارِدٌ مِنَ الْعِلْمِ
فَالْوَارِدَاتُ أَعَمُّ مِنَ الْخَوَاطِرِ ؛ لِأَنَّ الْخَوَاطِرَ تَخْتَصُّ بِنَوْعِ الْخِطَابِ أَوْ مَا يَتَضَمَّنُ مَعْنَاهُ ، وَالْوَارِدَاتُ تَكُونُ وَارِدَ سُرُورٍ وَوَارِدَ حُزْنٍ ، وَوَارِدَ قَبْضٍ وَوَارِدَ بَسْطٍ ... إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْمَعَانِي
Al-Warid
(Sesuatu yang Datang/Limpahan Karunia)
Dalam ucapan/perkataan mereka (para
ulama/sufi), istilah al-waridat (bentuk jamak dari al-warid)
sangat sering disebut.
- Pengertian Al-Warid: Adalah apa yang datang/terlintas ke dalam hati berupa
bisikan-bisikan hati (khawatir) yang terpuji, yang timbul bukan
karena usaha/sengaja (ta'ammul) seorang hamba.⁽¹⁾ Begitu pula, apa yang tidak termasuk jenis bisikan
hati (misalnya perasaan atau keadaan spiritual tertentu) juga disebut warid.
- Pembagian Warid:
- Ada warid yang datang dari Allah Yang Maha Hak
(Warid min al-Haqq).
- Ada warid yang datang dari ilmu (Warid min
al-'Ilm).
- Perbedaan Al-Waridat dan Al-Khawatir:
- Al-Waridat lebih umum daripada al-khawatir; karena al-khawatir (bisikan hati) khusus
berkaitan dengan jenis seruan (khithab) atau sesuatu yang
mengandung maknanya (seperti ucapan/pesan dalam batin).
- Sementara al-waridat bisa berupa:
- Warid kegembiraan (surur),
- Warid kesedihan (huzn),
- Warid rasa sempit/duka (qabdh),
- Warid rasa lapang/sukacita (basht),
- ... dan makna-makna lainnya.
24.Asy-Syahid
(Saksi/Kehadiran Hati)
الشَّاهِد
كثيراً ما يجري في كلامِهِم : فلانٌ بشاهِدِ العلمِ ، وفلانٌ بشاهِدِ الوجدِ ، وفلانٌ بشاهِدِ الحالِ
ويريدونَ بلفظِ (الشهيدِ) : ما يكونُ حاضرَ قلبِ الإنسانِ ؛ وهو ما كانَ الغالبَ عليهِ ذكرُهُ حتَّى كأنَّهُ يراهُ ويبصرُهُ وإنْ كانَ غائباً عنهُ ، فكلُّ ما يستولي على قلبِ صاحبِهِ ذكرُهُ . . فهو شاهدُهُ ، فإنْ كانَ الغالبَ عليهِ العلمُ . . فهو بشاهِدِ العلمِ ، وإنْ كانَ الغالبَ عليهِ الوجدُ . . يقالُ : إنَّهُ بشاهِدِ الوجدِ
ومعنى الشاهدِ : الحاضِرُ ؛ فكلُّ ما هو حاضرُ قلبِكَ فهو شاهدُكَ
وسُئِلَ الشِّبْلِيُّ رحمهُ اللهُ عنِ المشاهدةِ ، فقالَ : مِنْ أينَ لنا مشاهدةُ الحقِّ ؟! لنا شاهدُ الحقّ
أشارَ بشاهدِ الحقِّ : إلى المستولي على قلبِهِ ، والغالبِ عليهِ مِنْ ذكرِ الحقِّ ، والحاضرِ في قلبِهِ دائماً من ذكرِ الحقِّ
ومَنْ حصلَ لهُ مع مخلوقٍ تعلُّقٌ بالقلبِ . . يُقالُ : إنَّهُ شاهدُهُ ؛ يعني : أنَّهُ حاضرُ قلبِه ؛ فإنَّ المحبةَ توجبُ دوامَ ذكرِ المحبوبِ واستيلاءَهُ عليهِ
وبعضُهُم تكلَّفَ في مراعاةِ هذا الاشتقاقِ فقالَ : إنَّما سُمِّيَ الشاهدُ مِنَ الشهادةِ ، فكأنَّهُ إذا طالعَ شخصاً بوصفِ الجمالِ ؛ فإنْ كانتْ بشريَّتُهُ ساقطةً عنه ، ولمْ يشغَلْهُ شهودُ ذلكَ الشخصِ عمَّا بِهِ مِنَ الحالِ ، ولا أثَّرتْ فيهِ صحبتُهُ بوجهٍ . . فهو شاهدٌ لهُ على فناءِ نفسِهِ ، ومَنْ أثَّرَ فيهِ ذلكَ . . فهو شاهدٌ عليهِ في بقاءِ نفسِهِ وقِيامِهِ بأحكامِ بشريَّتِهِ ، فهو إمَّا شاهدٌ لهُ أو شاهدٌ عليهِ
وعلى هذا حُمِلَ قولُهُ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : « رأيتُ ربِّي ليلةَ المعراجِ في أحسنِ صورةٍ » أي : أحسنُ صورةٍ رأيتُها تلكَ الليلةَ لمْ تشغَلْني عنْ رؤيتِهِ تعالى ، بلْ رأيتُ المصوَّرَ في الصورةِ ، والمنشِئَ في الإنشاءِ ، ويريدُ بهِ رؤيةَ العلمِ ، لا إدراكَ البصرِ
Sering kali berlaku dalam percakapan mereka (kaum Sufi):
*"Si Fulan berada dengan saksi ilmu (syahid al-'ilm)"*, *"Si
Fulan dengan saksi rasa/ecstasy (syahid al-wajd)"*, dan *"Si Fulan
dengan saksi kondisi spiritual (syahid al-hal)"*.
Yang mereka maksud dengan lafaz **(Asy-Syahid)** adalah: Apa
yang hadir di dalam hati seseorang. Yaitu sesuatu yang pengingatnya (dzikirnya)
mendominasi dirinya, hingga seolah-olah ia melihat dan menyaksikannya meskipun
sesuatu itu gaib (tidak kasat mata) darinya. Maka, setiap hal yang pengingatnya
menguasai hati pemiliknya, itulah *syahid*-nya. Jika yang mendominasi dirinya
adalah ilmu, maka ia berada dalam *syahid al-'ilm*. Dan jika yang mendominasi
dirinya adalah *wajd* (perasaan spiritual yang mendalam), maka dikatakan:
*"Ia berada dalam syahid al-wajd"*.
Arti dari *Asy-Syahid* adalah: **Yang Hadir**. Maka segala
sesuatu yang hadir di dalam hatimu, itulah *syahid*-mu.
Asy-Syibli *rahimahullah* pernah ditanya tentang
*al-musyahadah* (penyaksian spiritual kepada Allah), lalu beliau menjawab:
*"Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan Al-Haq (Allah)? Kita hanya
memiliki syahid al-haqq (saksi/kehadiran Allah dalam hati)."*
Dengan istilah *syahid al-haqq*, beliau mengisyaratkan
kepada sesuatu yang menguasai hati seseorang dan mendominasi dirinya berupa
zikir kepada Al-Haq (Allah), serta apa yang selalu hadir di dalam hatinya dari
pengingat kepada Al-Haq.
Barang siapa yang memiliki keterikatan hati dengan makhluk,
maka dikatakan: *"Makhluk itu adalah syahid-nya"*, artinya: makhluk
tersebut hadir di dalam hatinya. Sebab, rasa cinta menuntut langgengnya ingatan
kepada yang dicintai dan penguasaan ingatan itu atas dirinya.
Sebagian dari mereka bersusah payah memperhatikan makna
derivasi kata ini, lalu berkata: *"Sesungguhnya dinamakan syahid berasal
dari kata asy-syahadah (kesaksian). Seolah-olah ketika seseorang memandang
orang lain yang memiliki keindahan (kecantikan/ketampanan); jika sifat
kemanusiaannya (hawa nafsunya) telah gugur dan penyaksian terhadap orang
tersebut tidak memalingkannya dari kondisi spiritualnya bersama Allah, serta
kebersamaan dengannya tidak memengaruhinya sedikit pun, maka itu menjadi saksi
yang membela dirinya (sebagai tanda) atas sirnanya nafsunya (fana'). Namun,
barang siapa yang terpengaruh oleh hal tersebut, maka itu menjadi saksi yang
memberatkan dirinya atas masih tersisanya nafsunya dan berlakunya hukum-hukum
kemanusiaannya. Jadi, hal itu bisa menjadi saksi yang membela atau saksi yang
memberatkan."*
Atas dasar pemahaman inilah diinterpretasikan sabda Nabi
*shallallahu 'alaihi wa sallam*: *«Aku melihat Tuhanku pada malam Mi'raj dalam
rupa yang paling indah»*; artinya: Bentuk paling indah yang aku lihat pada
malam itu tidak memalingkanku dari melihat Allah Ta'ala, melainkan aku melihat
Sang Maha Pembentuk Rupa di dalam rupa tersebut, dan Sang Maha Pencipta di
dalam ciptaan-Nya. Dan yang dimaksud dengannya adalah **penglihatan ilmu
(pengetahuan hati/makrifat)**, bukan penangkapan kasat mata (pancaindra).
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.