بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
21. (Al-Khawathir) Lintasan
Hati
الخواطر
وَالْخَوَاطِرُ: خِطَابٌ يَرِدُ عَلَى الضَّمَائِرِ؛ فَقَدْ يَكُونُ بِإِلْقَاءِ مَلَكٍ، وَيَكُونُ بِإِلْقَاءِ الشَّيْطَانِ، وَيَكُونُ أَحَادِيثَ النَّفْسِ، وَيَكُونُ مِنْ قِبَلِ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
فَإِذَا كَانَ مِنَ الْمَلَكِ.. فَهُوَ الْإِلْهَامُ، وَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ النَّفْسِ.. قِيلَ لَهُ: الْهَوَاجِسُ، وَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ الشَّيْطَانِ.. فَهُوَ الْوَسْوَاسُ، وَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِلْقَائِهِ فِي الْقَلْبِ.. فَهُوَ خَاطِرُ حَقٍّ، وَجُمْلَةُ ذَلِكَ مِنَ قَبِيلِ الْكَلَامِ.
فَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ الْمَلَكِ.. فَإِنَّمَا يُعْلَمُ صِدْقُهُ بِمُوَافَقَةِ الْعِلْمِ، وَلِهَذَا قَالُوا: كُلُّ خَاطِرٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ ظَاهِرٌ.. فَهُوَ بَاطِلٌ.
وَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ الشَّيْطَانِ.. فَأَكْثَرُهُ يَدْعُو إِلَى الْمَعَاصِي. وَإِذَا كَانَ مِنْ قِبَلِ النَّفْسِ.. فَأَكْثَرُهُ يَدْعُو إِلَى اتِّبَاعِ شَهْوَةٍ، أَوْ اسْتِشْعَارِ كِبْرٍ، أَوْ مَا هُوَ مِنْ خَصَائِصِ أَوْصَافِ النَّفْسِ
وَاتَّفَقَ الْمَشَايِخُ عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ أَكْلُهُ مِنَ الْحَرَامِ.. لَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ الْإِلْهَامِ وَالْوَسْوَسَةِ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ يَقُولُ: مَنْ كَانَ قُوتُهُ مَعْلُومًا.. لَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ الْإِلْهَامِ وَالْوَسْوَسَةِ، وَإِنَّ مَنْ سَكَنَتْ عَنْهُ هَوَاجِسُ نَفْسِهِ بِصِدْقِ مُجَاهَدَتِهِ.. نَطَقَ بَيَانُ قَلْبِهِ بِحُكْمِ مُكَابَدَتِهِ
وَأَجْمَعَ الشُّيُوخُ عَلَى أَنَّ النَّفْسَ لَا تُصَدَّقُ، وَأَنَّ الْقَلْبَ لَا يَكْذِبُ. وَقَالَ بَعْضُ الْمَشَايِخِ: (إِنَّ نَفْسَكَ لَا تُصَدَّقُ، وَقَلْبَكَ لَا يَكْذِبُ، وَلَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ أَنْ تُخَاطِبَكَ رُوحُكَ.. لَمْ تُخَاطِبْكَ)
وَفَرَّقَ الْجُنَيْدُ بَيْنَ هَوَاجِسِ النَّفْسِ وَوَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ: بِأَنَّ النَّفْسَ إِذَا طَالَبَتْكَ بِشَيْءٍ.. أَلَحَّتْ، فَلَا تَزَالُ تُعَاوِدُ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ حَتَّى تَصِلَ إِلَى مُرَادِهَا وَتُحَصِّلَ مَقْصُودَهَا، اللَّهُمَّ إِلَّا أَنْ يَدُومَ صِدْقُ الْمُجَاهَدَةِ، ثُمَّ إِنَّهَا تُعَاوِدُ وَتُعَاوِدُ
وَأَمَّا الشَّيْطَانُ إِذَا دَعَا إِلَى زَلَّةٍ فَخَالَافْتَهُ.. يَتْرُكُ ذَلِكَ وَيُوَسْوِسُ بِزَلَّةٍ أُخْرَى؛ لِأَنَّ جَمِيعَ الْمُخَالَفَاتِ لَهُ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَكُونَ دَاعِيًا أَبَدًا إِلَى زَلَّةٍ مَا، وَلَا غَرَضَ لَهُ فِي تَخْصِيصِ وَاحِدٍ دُونَ وَاحِدٍ
وَقِيلَ: كُلُّ خَاطِرٍ يَكُونُ مِنَ الْمَلَكِ.. فَرُبَّمَا يُوَافِقُهُ صَاحِبُهُ وَرُبَّمَا يُخَالِفُهُ، فَأَمَّا خَاطِرٌ يَكُونُ مِنَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ.. فَلَا يَحْصُلُ خِلَافٌ مِنَ الْعَبْدِ لَهُ.
وَتَكَلَّمَ الشُّيُوخُ فِي الْخَاطِرِ الثَّانِي إِذَا كَانَ الْخَاطِرَانِ مِنَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ: هَلْ هُوَ أَقْوَى مِنَ الْأَوَّلِ؟
فَقَالَ الْجُنَيْدُ: الْخَاطِرُ الْأَوَّلُ أَقْوَى؛ لِأَنَّهُ إِذَا بَقِيَ.. رَجَعَ صَاحِبُهُ إِلَى التَّأَمُّلِ، وَهَذَا بِشَرْطِ الْعِلْمِ، فَتَرْكُ الْأَوَّلِ يُضْعِفُ الثَّانِيَ
وَقَالَ ابْنُ عَطَاءٍ: الثَّانِي أَقْوَى؛ لِأَنَّهُ ازْدَادَ قُوَّةً بِالْأَوَّلِ
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ خَفِيفٍ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ: هُمَا سَوَاءٌ؛ لِأَنَّ كِلَيْهِمَا مِنَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ، فَلَا مَزِيَّةَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ؛ وَالْأَوَّلُ لَا يَبْقَى فِي حَالِ الثَّانِي؛ لِأَنَّ الْآثَارَ لَا يَجُوزُ عَلَيْهَا الْبَقَاءُ
Lintasan
Hati (Al-Khawathir)
Bisikan Hati (Khawatir) adalah seruan yang masuk ke dalam batin (jiwa). Bisikan ini
bisa berasal dari penyampaian Malaikat, dari penyampaian Setan, dari bisikan
Hawa Nafsu, atau berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Jika berasal dari Malaikat, maka itu dinamakan Ilham.
- Jika berasal dari Nafsu, maka dinamakan Hawajis
(bisikan nafsu/keinginan diri).
- Jika berasal dari Setan, maka dinamakan Waswas
(godaan/bisikan setan).
- Jika berasal dari Allah Ta'ala yang dihembuskan
ke dalam hati, maka itu adalah Khathir Haq (bisikan kebenaran).
Kesemua hal tersebut tergolong sebagai bentuk perkataan/seruan batin.
Ciri-Ciri
Sumber Bisikan Hati
- Bisikan Malaikat:
Kebenarannya dapat diketahui dari kesesuaiannya dengan ilmu (syariat).
Oleh karena itu para ulama berkata: "Setiap bisikan hati yang
tidak didukung oleh dalil yang nyata (zahir syariat), maka bisikan itu
batil."
- Bisikan Setan:
Sebagian besar mengajak kepada kemaksiatan.
- Bisikan Nafsu:
Sebagian besar mengajak untuk menuruti syahwat, memunculkan rasa sombong,
atau hal-hal yang menjadi sifat/karakteristik nafsu.
para ulama/syaikh sepakat bahwa siapa
saja yang makanannya berasal dari barang haram, maka ia tidak akan mampu
membedakan antara ilham (dari malaikat) dan waswas (dari setan).
Pendapat
Para Syaikh dan Ulama Sufi
Saya mendengar Ustadz Abu Ali
ad-Daqqaq berkata:
"Barang siapa yang
makanan/rezekinya tidak jelas (diragukan kehalalannya), ia tidak akan bisa
membedakan antara ilham dan waswas. Dan barang siapa yang bisikan nafsunya
telah tenang karena kesungguhan mujahadah (perjuangan batinnya), maka ungkapan
hatinya akan memancarkan kebenaran sesuai kadar perjuangannya."
Para ulama juga sepakat bahwa Nafsu
itu tidak pernah benar (tidak jujur), sedangkan Hati tidak pernah berdusta.
Sebagian syaikh berkata:
"Sesungguhnya nafsumu tidak
pernah jujur, dan hatimu tidak pernah mendustakanmu. Sekalipun engkau berusaha
sekuat tenaga agar ruhmu berbicara kepadamu, ruh itu tidak akan berbicara
kepadamu."
Perbedaan
Bisikan Nafsu dan Bisikan Setan Menurut Imam Al-Junayd
Imam Al-Junayd membedakan antara
bisikan nafsu (hawajis) dan bisikan setan (waswas):
- Bisikan Nafsu:
Jika nafsu menginginkan sesuatu, ia akan terus mendesak dan
berulang-ulang—meskipun setelah sekian lama—sampai ia berhasil mencapai
keinginan dan tujuannya. Kecuali jika seseorang terus-menerus melakukan mujahadah
(perlawanan batin) secara sungguh-sungguh, namun nafsu akan tetap kembali
dan mengulanginya.
- Bisikan Setan:
Ketika setan mengajak pada suatu kesalahan lalu engkau menentangnya, ia
akan meninggalkan ajakan tersebut dan beralih menggoda dengan
kesalahan/dosa yang lain. Hal ini karena semua bentuk penentangan (dosa)
baginya adalah sama. Setan hanya ingin selalu menjadi pendorong menuju
kesalahan apa saja, tanpa peduli pada dosa tertentu secara khusus.
Perbedaan
Bisikan Malaikat dan Bisikan Allah
Dikatakan pula: Setiap bisikan dari Malaikat,
terkadang seseorang menelitinya/menyesuaikannya dan terkadang menentangnya.
Namun untuk bisikan yang datang langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala,
tidak akan ada penentangan dari seorang hamba terhadapnya.
Para syaikh juga memperbincangkan
tentang bisikan kedua, jika kedua bisikan tersebut sama-sama berasal dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala: Apakah bisikan kedua lebih kuat daripada bisikan
pertama?
- Imam Al-Junayd berkata: "Bisikan pertama lebih kuat. Karena jika
bisikan pertama menetap, orang tersebut akan kembali merenungkannya—dengan
syarat berdasarkan ilmu. Maka meninggalkan bisikan pertama akan melemahkan
bisikan kedua."
- Ibnu 'Atha' berkata:
"Bisikan kedua lebih kuat, karena kekuatannya bertambah berkat
adanya bisikan pertama."
- Abu Abdullah bin Khafif (dari kalangan ulama
belakangan) berkata: "Keduanya
sama saja, karena keduanya berasal dari Allah Ta'ala, sehingga tidak ada
kelebihan salah satunya atas yang lain. Bisikan pertama tidak tersisa saat
hadirnya bisikan kedua, karena bekas/pengaruh tidak mungkin bersifat
kekal."
-
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : TERJEMAH RISALATUL-QUSYAIRIYYAH (Bab 4): 21. AL-KHAWATHIR (Lintasan Hati)
Description : TERJEMAH KITAB RISALATUL-QUSYAIRIYYAH الرسالة القشيرية Bab Keempat 21. (Al-Khawathir) Lintasan Hati الخواطر وَالْخَوَاطِرُ: خِطَاب...