بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bab
Ketiga:
Keinginan Kuat untuk Mengenal Cacat Batin/Kekurangan diri (At-Tasyawwuf
ila Ma'rifatil 'Uyuub)
الباب
الثالث
التشوف إلى معرفة العيوب
ثم افتتح الباب الثالث بذكر التخلية والتحلية فقال رضى الله عنه : [ تشوّفك إلى ما بطن فيك من العيوب خير من تشوّفك إلى ما حجب عنك من الغيوب ] .ا
التشوف إلى الشيء : الاهتمام به والتطلع له . قلت : تشوفك أيها الإنسان إلى ما بطن فيك من العيوب ، كالفسد والكبر وحب الجاه والرياسة ، وهم الرزق وخوف الفقر وطلب الخصوصية ، وغير ذلك من العيوب ، والبحث عنها ، والسعى فى التخلص منها أفضل من تشوفك إلى ما حجب عنك من الغيوب كاطلاع على أسرار العباد ، وما يأتى به القدر من الوقائع المستقبلة ، وكالاطلاع على أسرار غوامض التوحيد قبل الأهلية له ، لأن تشوفك إلى ما بطن من العيوب سبب فى حياة قلبك ، وحياة قلبك سبب فى الحياة الدائمة والنعيم المقيم ، والاطلاع على الغيوب إنما هو فضول ، وقد يكون سببًا فى هلاك النفس ، كاتصافها بالكبر ورؤية المزية على الناس ، وسيأتى للشيخ : من اطلع على أسرار العباد ولم يتخلق بالرحمة الإلهية كان اطلاعه فتنة عليه وسببًا يجر الوبال عليه
واعلم أن العيوب ثلاثة : عيوب النفس ، وعيوب القلب ، وعيوب الروح . فعيوب النفس : تعلقها بالشهوات الجسمانية ، كطيب المآكل والمشارب والملابس والمراكب والمساكن والمناكح ، وشبه ذلك . وعيوب القلب : تعلقه بالشهوات القلبية ، كحب الجاه والرياسة والعز والكبر والحسد والأحقاد ، وحب المنزلة والخصوصية ، وشبه ذلك مما يأتى إن شاء الله فى أوصاف البشرية . وعيوب الروح : تعلقها بالحظوظ الباطنية ، كطلب الكرامات والمقامات والقصور والحور، وغير ذلك من الحرف ، فتوف المريد إلى شيء من ذلك كله ، قادح فى عبوديته ، مانع له من القيام بحقوق ربوبيته ، فاشتغاله بالبحث عن عيوبه النفسانية والقلبية والروحانية ، وسعيه فى التطهير من جميع ذلك أولى من تشوفه إلى ما حجب عنه من علم الغيوب كما تقدم ، وبالله التوفيق
Kemudian beliau (Syekh Ibnu
Ataillah) membuka Bab Ketiga ini dengan menyebutkan tentang pengosongan diri
dari sifat tercela (takhalliy) dan penghiasan diri dengan sifat terpuji
(tahalliy). Beliau radiyallahu 'anhu berkata:
تشوّفك إلى ما بطن فيك من العيوب خير من تشوّفك إلى ما حجب عنك من الغيوب
[ "Keinginanmu yang kuat untuk
mengetahui cacat-cacat batin yang tersembunyi dalam dirimu jauh lebih baik
daripada keinginanmu yang kuat untuk mengetahui hal-hal gaib yang
dihindarkan/dihalangi darimu." ]
Kata at-tasyawwuf ilasy-syai'
berarti: memberikan perhatian khusus serta berambisi untuk mencapainya.
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Keinginanmu—wahai manusia—untuk mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi di
dalam dirimu (seperti sifat dengki, sombong, gila kedudukan dan kekuasaan,
kecemasan akan rezeki, takut miskin, serta ambisi ingin diistimewakan), lalu
kamu mencarinya dan berusaha keras membebaskan diri darinya, itu jauh lebih
utama daripada keinginanmu untuk menyingkap hal-hal gaib yang dihalangi
darimu. Mislanya: berambisi mengetahui rahasia-rahasia orang lain, memprediksi
kejadian-kejadian masa depan yang ditakdirkan, atau bernafsu menyingkap
rahasia-rahasia rumit ilmu ketauhidan sebelum engkau memiliki kelayakan untuk
itu.
Hal ini karena keinginanmu untuk
mengenali cacat batin yang tersembunyi merupakan sebab hidupnya hatimu.
Dan hidupnya hatimu adalah sebab untuk meraih kehidupan abadi serta kenikmatan
yang kekal (di akhirat). Sedangkan berusaha menyingkap hal gaib hanyalah hal
yang berlebihan (fadhul), bahkan bisa menjadi penyebab kebinasaan jiwa,
seperti lahirnya sifat sombong dan merasa lebih mulia daripada orang lain.
Kelak Syekh (Ibnu Ataillah) akan
menjelaskan: "Barangsiapa yang mampu melihat rahasia-rahasia hamba lain
namun ia belum berakhlak dengan rahmat/kasih sayang ilahi, maka kelebihannya
dalam menyingkap hal gaib itu justru akan menjadi fitnah (ujian berat) baginya
dan menyeret bahaya atas dirinya."
Ketahuilah bahwa cacat batin (al-'uyuub)
itu terbagi menjadi tiga:
- Cacat Nafsu ('Uyuubun-Nafs): Terikatnya nafsu pada kesenangan-kesenangan jasmani,
seperti ketagihan pada makanan dan minuman yang enak, pakaian megah,
kendaraan mewah, tempat tinggal megah, keinginan menikah/bersetubuh berlebihan,
dan sejenisnya.
- Cacat Hati ('Uyuubul-Qalb): Terikatnya hati pada kesenangan-kesenangan
spiritual/kehormatan, seperti cinta kedudukan, kekuasaan, kemuliaan,
kesombongan, dengki, dendam, serta ambisi ingin memiliki kedudukan
khusus/keistimewaan. Hal-hal sejenis ini insya Allah akan dijelaskan pada
pembahasan sifat-sifat kemanusiaan (aushaful basyariyyah).
- Cacat Roh ('Uyuubur-Ruuh): Terikatnya roh pada bagian-bagian batiniah (al-huthuzhal-batinijyah),
seperti berambisi mengejar karomah (kesaktian/keajaiban), maqamat
(kedudukan spiritual), istana surga, bidadari, dan keindahan-keindahan
alam gaib lainnya.
Maka, amibisi seorang murid
(pejalan spiritual) terhadap salah satu dari hal-hal tersebut dapat mencederai
murninya perhambaan ('ubudiyyah)-nya dan menghalanginya untuk menunaikan
hak-hak ketuhanan Allah (huquuqur-rububiyyah). Oleh karena itu,
kesibukannya dalam mencari dan mengevaluasi cacat nafsu, hati, serta rohnya,
serta usahanya untuk membersihkan diri dari semua itu, jauh lebih utama
daripada ambisinya untuk mengetahui ilmu-ilmu gaib yang terhalang darinya
sebagaimana telah dijelaskan. Wa billahit-taufiq (Dan hanya kepada Allah
kita memohon petunjuk).
ولما ذكر التخلية ذكر ثمرتها وهي التحلية بالمعرفة ، إذا مامنع منها إلا تشوف النفس أو القلب أو الروح إلى حظوظها الوهمية فقال : [ الحق ليس بمحجوب عنك ، إنما المحجوب أنت عن النظر إليه ، إذ لو حجبه شيء لستره ما حجبه ، ولو كان له ساتر لكان لوجوده حاصر ، وكل حاصر لشيء فهو له قاهر ، وهو القاهر فوق عباده ] .ا
قلت : الحق تعالى محال في حقه الحجاب ، فلا يحجبه شيء ، لأنه ظهر بكل شيء وقبل كل شيء وبعد كل شيء ، فلا ظاهر معه ، ولا موجود سواه ، فهو ليس بمحجوب عنك ، وإنما المحجوب أنت عن النظر إليه ، لاعتقادك الغيرية ، وتعلق قلبك بالأمور الحسية ، فلو تعلق قلبك بطلب المولى وأعرضت بالكلية عن رؤية السوى ، لنظرت إلى نور الحق ساطعًا في مظاهر الأكوان ، وصار ما كان محجوبًا عنك بالوهم في معد الشهود والعيان ، والله در القائل :
لَقَدْ تَجَلَّى مَا كَانَ مُخْتَبِئْ ... وَالْكَوْنُ كُلُّهُ طُوِيَتْ طَيّْ مِنِّي عَلَيَّ دَارَتْ كُؤُوسِي ... مِنْ بَعْدِ مَوْتِي تَرَانِي حَيّْ
فالناس كلهم يشاهدون ولا يعرفون ، وكلهم في البحر ولا يشعرون . وسمعت شيخنا رضى الله عنه يقول : والله ما حجب الناس عن الله إلا الوهم ، والوهم أمر عدمى لا حقيقة له ا هـ . وسيأتي للشيخ : ما حجبك عن الحق وجود موجود معه ، إذ لا شيء معه ، وإنما حجبك عنه توهم موجود معه اهـ . إذ لو حجبه تعالى شيء حسى لستره ذلك الحجاب ، ولو كان له ساتر حسى لكان لوجوده حاصر ، إذ محال أن يستره من جميع الوجوه ولا يحصره ، وكل حاصر لشيء فهو له قاهر ، كيف والله تعالى يقول :( وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ) .
Setelah beliau (Syekh Ibnu
Ataillah) menyebutkan tentang pengosongan diri (at-takhalliy),
beliau menyebutkan buahnya yaitu penghiasan diri (at-tahalliy) dengan
makrifat. Sebab, tidak ada yang menghalangi seseorang dari makrifat melainkan
karena adanya ambisi nafsu, hati, atau roh terhadap bagian-bagian kenikmatan
semu (al-huthuzhal-wahmiyyah). Beliau berkata:
الحق
ليس بمحجوب عنك ، إنما المحجوب أنت عن النظر إليه ، إذ لو حجبه شيء لستره
ما حجبه ، ولو كان له ساتر لكان لوجوده حاصر ، وكل حاصر لشيء فهو له قاهر ،
وهو القاهر فوق عباده
[ "Allah yang Maha Haq itu
tidak terhalang (terhijab) darimu. Yang terhalang itu hanyalah engkau dari
melihat kepada-Nya. Sebab, jikalau ada sesuatu yang menghalangi-Nya, tentulah
sesuatu itu menutupi-Nya. Dan jika Dia memiliki penutup, niscaya penutup itu
akan membatasi keberadaan-Nya. Padahal, setiap yang membatasi sesuatu itu
menguasai (memaksa) sesuatu tersebut. Sedangkan Dialah yang Maha
Menguasai (Al-Qahir) di atas hamba-hamba-Nya." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Maha Benar Allah, mustahil bagi-Nya adanya penghalang (hijab), sehingga
tidak ada satu pun yang dapat menghalangi-Nya. Karena Dia telah tampak (zhahar)
pada segala sesuatu, sebelum segala sesuatu, dan setelah segala sesuatu. Maka
tidak ada yang tampak bersama-Nya, dan tidak ada yang wujud selain-Nya. Jadi,
Dia tidaklah terhalang darimu, melainkan engkaulah yang terhalang dari
memandang kepada-Nya akibat keyakinanmu tentang adanya "selain Allah"
(al-ghairiyyah) serta keterikatan hatimu pada hal-hal inderawi (al-umur
al-hissiyyah).
Seandainya hatimu terikat untuk
mencari Al-Maula (Allah) dan berpaling secara total dari melihat
selain-Nya (as-siwa), niscaya engkau akan melihat cahaya Allah terpancar
terang pada fenomena alam semesta ini. Sehingga apa yang dulunya terhalang
darimu karena persangkaan/ilusi (al-wahm), akan menjadi penyaksian nyata
dan kasat mata (asy-syuhud wal-'ayan). Sungguh indah ucapan seorang
penyair:
Telah tampak jelas apa yang dulunya
tersembunyi ... Dan alam semesta seluruhnya telah tergulung rapat. Dari diriku untuk diriku cawan-cawan keasyikan berputar
... Setelah kematiahanku (fana), engkau akan melihatku hidup kembali.
Maka seluruh manusia sebenarnya
menyaksikan (isyarat kekuasaan Allah), namun mereka tidak menyadarinya;
dan mereka semua berada di dalam lautan (karunia Allah), tetapi mereka
tidak merasakannya. Aku pernah mendengar guru kami radiyallahu 'anhu
berkata: "Demi Allah, tidak ada yang menghalangi manusia dari Allah
melainkan ilusi/prasangka (al-wahm). Padahal ilusi itu adalah sesuatu yang
ketiadaan (tidak ada), ia tidak memiliki hakikat." Sekian.
Dan kelak akan dijelaskan oleh
Syekh: "Bukanlah keberadaan sesuatu yang wujud bersama-Nya yang
menghalangimu dari Allah—karena tidak ada sesuatu pun bersama-Nya—melainkan
yang menghalangimu dari-Nya adalah anggapan/ilusi bahwa ada sesuatu yang wujud
bersama-Nya." Sekian.
Sebab, seandainya ada sesuatu yang
bersifat inderawi menghalangi Allah Ta'ala, tentulah penghalang itu
menutupi-Nya. Dan jika Dia memiliki penutup inderawi, tentulah penutup itu
membatasi keberadaan-Nya. Karena mustahil sesuatu menutupi dari segala sisi
tanpa membatasinya. Dan segala sesuatu yang membatasi sesuatu yang lain, maka
ia menguasai (memaksa) sesuatu tersebut. Bagaimana mungkin demikian,
padahal Allah Ta'ala berfirman:
( Dan Dialah yang Maha Menguasai di
atas hamba-hamba-Nya )
Maksudnya, karena hamba-hamba itu
berada dalam genggaman-Nya, di bawah kendali kekuasaan-Nya, serta pengkhususan
iradat dan kehendak-Nya. Adapun kata "keatasan" (al-fauqiyyah)
di sini adalah ungkapan untuk menggambarkan tingginya keagungan dan kedudukan, bukan
tempat/lokasi. Sebagaimana dikatakan: "Sultan berada di atas menteri",
"Tuan berada di atas hamba sahaya", atau "Pemilik
berada di atas yang dimiliki", serta contoh-contoh lainnya yang
menetapkan keagungan Allah sekaligus meniadakan sifat-sifat kebaharuan/makhluk
(al-huduts). Wallahu Ta'ala A'lam (Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
ولما كان حجاب الروح عن المعرفة أمرًا وهميًا عدميًا لاحقيقة له وهو مرضها بأوصاف البشرية ، فلو صحت لعرفت ، أشار إلى ذلك بقوله : [ اخرج من أوصاف بشريتك عن كل وصف مناقض لعبوديتك ، لتكون لنداء الحق مجيبًا ، ومن حضرته قريبًا ] ا
قلت : أوصاف البشرية هي الأخلاق التي تناقض خلوص العبودية ، ومرجعها إلى أمرين : الأول : تعلق القلب بأخلاق البهائم ، وهي شهوة البطن والفرج ، وما يتبعهما من حب الدنيا وشهواتها الفانية . قال تعالى : ( زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ) الآية
الثاني : تخلقه بأخلاق الشياطين ، كالكبر والحسد ، والحقد والغضب ، والحدة وهي القلق ، والبطر : وهي خفة العقل ، والأشر : وهو التكبر ، وحب الجاه والرياسة ، والمدح ، والقسوة والعطاء والفظاظة والغلظة ، وتعظيم الأغنياء ، واحتقار الفقراء ، وخوف الفقر وهَمِّ الرزق ، والبخل والشح ، والرياء والعُجب ، وغير ذلك مما لا يحصى حتى قال بعضهم : للنفس من النقائص ما لله من الكمالات
وقد ألف الشيخ عبد الرحمن السلمي كتابًا في عيوب النفس وأدويتها ونظمه الشيخ زروق في نحو ثمانمائة بيت ، ومن ألقاه الله إلى شيخ التربية فلا يحتاج إلى شيء سوى الاستماع والاتباع ، فإذا خرج المريد من أخلاق البهائم تخلق بأخلاق الروحانيين ، كالزهد والورع والقناعة والعفة ، والغنى بالله ، والأنس به . وإذا خرج من أخلاق الشياطين تخلق بأخلاق المؤمنين، أو بأخلاق الملائكة ، كالتواضع وسلامة الصدور ، والحلم والسكينة والرزانة ، والطمأنينة والسهولة والليونة ، والخمول ، والكتفاء بعلم الله ، والشفقة والرحمة ، وتعظيم الفقراء والمساكين ، وأهل النسبة وجميع الأمة ، والكرم والسخاء والجود والإخلاص ، والصدق والمراقبة والمشاهدة والمعرفة ، فإذا تخلق العبد بهذه الأخلاق وتحقق بها ذوقًا بعد أن تخلص من أضدادها ، كان عبدًا خالصًا لمولاه ، حرًا مما سواه ، وكان لندائه مجيبًا ، ومن حضرته قريبًا ، فإذا قال له ربه : يا عبدي قال له : يارب ، فكان صادقًا في إجابته لصدق عبوديته ، بخلاف ما إذا كان منهمكًا في شهواته الظاهرة والباطنة كان عبدًا لنفسه وشهواته . فإذا قال : يارب كان كاذبًا ، إذ من أحب شيئًا فهو عبد له ، وهو لا يحب أن يكون عبدًا لغيره ، وإذا تخلص من رق الشهوات والحظوظ كان أيضًا قريبًا من حضرة الحق بل عاكفًا فيها ، إذ ما أخرجنا عن الحضرة إلا حب هذه الخيالات الوهمية ، فإذا تحررنا منها وتحققنا بالعبودية وجدنا أنفسنا في الحضرة
أي لأنهم في قبضته ، وتحت تصريف قدرته ، وتخصيص إرادته ومشيئته . والفوقية : عبارة عن رفعة الجلال والمكانة لا المكان ، كما يقال : السلطان فوق الوزير والسيد فوق عبده ، والمالك فوق المملوك ، وغير ذلك مما يثبت الكبرياء وينفى سمات الحدوث ، والله تعالى أعلم
Mengingat penghalang (hijab)
roh dari makrifat itu hanyalah perkara ilusi dan bersifat ketiadaan (‘adamiy)
yang tidak ada hakikatnya—yakni berupa penyakit roh yang dihinggapi sifat-sifat
kemanusiaan/hawanafsu (ausaful-basyariyyah), di mana seandainya roh itu
sehat niscaya ia akan kenal kepada Allah—maka beliau (Syekh Ibnu 'Atha'illah)
mengisyaratkan hal tersebut dalam ucapannya:
اخرج من أوصاف بشريتك عن كل وصف مناقض لعبوديتك ، لتكون لنداء الحق مجيبًا ، ومن حضرته قريبًا
[ "Keluarlah engkau dari
sifat-sifat kemanusiaanmu, yaitu dari setiap sifat yang bertentangan dengan
kemurnian perhambaanmu (‘ubudiyyah), agar engkau menjadi orang yang
menyambut panggilan Allah yang Maha Benar, serta dekat dengan
hadirat-Nya." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Sifat-sifat kemanusiaan (ausaf al-basyariyyah) adalah akhlak-akhlak yang
menodai kemurnian perhambaan. Muasal dari sifat-sifat ini bermuara pada dua
hal:
- Pertama: Keterikatan hati dengan akhlak binatang (akhlaqul-bahaim), yaitu memperturutkan syahwat perut dan kemaluan,
serta segala hal yang mengikutinya berupa kecintaan terhadap dunia dan
kenikmatan fana. Allah Ta'ala berfirman:
(Dijadikan
terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang...)
— Al-Qur'an (QS. Ali 'Imran: 14).
- Kedua: Berakhlak dengan akhlak setan (akhlaqusy-syayathin), seperti sifat sombong (kibr), dengki (hasad),
dendam (hiqd), pemarah (ghadhab), emosional (hiddah),
tidak tenang/gegabah (balath), angkuh (asyar), suka
kedudukan dan kekuasaan, gila pujian, keras hati, kasar, mengagungkan
orang kaya, meremehkan orang miskin, takut miskin, cemas akan rezeki,
bakhil, pelit, riya, dan ujub (bangga diri), serta sifat tercela lainnya
yang tidak terhitung. Sampai-sampai sebagian ulama berkata: "Kejelekan
dan kekurangan yang dimiliki jiwa manusia itu banyaknya sebanding dengan
kesempurnaan yang dimiliki Allah."
Syekh Abdurrahman As-Sulami telah
menyusun sebuah kitab khusus mengenai kebiasaan/cacat jiwa beserta obatnya,
yang kemudian dinazamkan (digubah menjadi syair) oleh Syekh Zarruq dalam
sekitar 800 bait. Namun, barangsiapa yang telah diserahkan Allah kepada seorang
guru pembimbing (Syekh Tarbiyah), maka ia tidak lagi membutuhkan sesuatu
kecuali cukup mendengarkan dan mengikutinya.
- Apabila seorang murid telah berhasil keluar dari akhlak
binatang, ia akan dihiasi dengan akhlak makhluk spiritual/ruhaniah,
seperti sifat zuhud, wara', qana'ah (merasa cukup), menjaga kehormatan
diri (‘iffah), merasa kaya bersama Allah, dan merasa tenteram di
dekat-Nya.
- Apabila ia berhasil keluar dari akhlak setan, ia
akan dihiasi dengan akhlak orang-orang beriman atau akhlak para
malaikat, seperti sifat tawaduk (rendah hati), bersih dada (tidak
berprasangka buruk), penyabar (hilm), tenang, berwibawa, tenteram,
mudah bergaul, bersikap lembut, tidak menonjolkan diri (khumul),
merasa cukup dengan ilmu Allah, memiliki rasa belas kasih dan sayang,
menghormati orang miskin, menghargai para penuntut ilmu/para habaib dan
seluruh umat, dermawan, pemurah, ikhlas, jujur, merasa selalu diawasi (muraqabah),
penyaksian batin (musyahadah), serta makrifat.
Jika seorang hamba telah berakhlak
dengan sifat-sifat terpuji ini dan menghayatinya secara dzauq (penjiwaan
mendalam) setelah terbebas dari lawan-lawannya, maka ia menjadi hamba yang
murni bagi Tuhannya, merdeka dari segala sesuatu selain-Nya, menjadi
penyamud panggilannya, serta dekat dari hadirat-Nya.
Apabila Tuhannya memanggil: "Wahai
hamba-Ku!", ia akan menjawab: "Wahai Tuhanku!" dengan
jawaban yang jujur karena murninya perhambaan dalam dirinya. Berbeda dengan
orang yang masih tenggelam dalam syahwat lahir dan batinnya; ia sebenarnya
adalah hamba bagi nafsunya dan syahwatnya sendiri. Maka apabila ia mengucapkan:
"Wahai Tuhanku!", ia adalah seorang pembohong, sebab
barangsiapa mencintai sesuatu maka ia adalah hamba dari sesuatu tersebut,
sedangkan Allah tidak menyukai hamba-Nya menjadi hamba bagi selain-Nya.
Apabila seseorang telah bebas dari
perbudakan syahwat dan bagian-bagian nikmat semu, ia pun akan berada dekat
dengan hadirat Allah, bahkan senantiasa menetap (i'tikaf) di dalamnya.
Sebab tidak ada yang mengeluarkan kita dari hadirat-Nya melainkan karena
kecintaan kita pada khayalan-khayalan ilusi ini. Maka jika kita telah merdeka
darinya dan mewujudkan perhambaan yang sejati, niscaya kita akan mendapati diri
kita senantiasa berada di dalam hadirat Allah.
واعلم أن هذه الأوصاف البشرية التى احتجبت بها الحضرة إنما جعلها الله منديلا لمسح أقذار القدر ، كالنفس والشيطان والدنيا ، فجعل الله النفس والشيطان منديلا للأفعال المذمومة ؛ وجعل البشرية منديلا للأخلاق الدنيئة ، وما ثم إلا مظاهر الحق وتجليات الحق ، وما ثم سواه ، ولا حول ولا قوة إلا بالله . ثم إن هذه العيوب سبب بقائها في الإنسان باعتبار الحكمة هي الغفلة عن البحث عنها ، وسبب الغفلة عن البحث عنها هو الرضا عن النفس ، إذ لو أساء ظنه بها لبحث عن مساويها فاستخرجها وتطهر منها ،
فلذلك قال : [ أصل كل معصية وغفلة وشهوة الرضا عن النفس ] . قلت : إذ كل من رضى عن نفسه استحسن أحوالها وغطى مساويها ، لقول الشاعر : وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ
-[ وأصل كل طاعة ويقظة وعفة عدم الرضا منك عنها ] . قلت : لأن من اتَّهم نفسه ، وأساء ظنه بها ، ونظر إليها بعين السخط بحث عن عيوبها واستخرج مساويها ، لقول الشاعر : وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي المَسَاوِيَا
فابحث أيها المريد عن مساويك واتهم نفسك ، ولا تستحسن شيئًا من أحوالها ، فإنك إذا رضيت عنها واستحسنت أحوالها لدغتك وأنت لا تشعر ، وحجبتك عن الحضرة وأنت تنظر . قال أبو حفص الحداد : من لم يتهم نفسه على دوام الأوقات ، ولم يخالفها في جميع الأحوال ولم يجرُّها إلى مكروهها في سائر أيامه كان مغرورًا . ومن نظر إلى نفسه باستحسان شيء منها فقد أهلكها ، وكيف يصح لعاقل الرضا عن نفسه ، والكريم ابن الكريم ابن الكريم ابن الكريم يقول : ( وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي )
وفي معنى ذلك أنشدوا : تَوَقَّ نَفْسَكَ لَا تَأْمَنْ غَوَائِلَهَا ... فَالنَّفْسُ أَخْبَثُ مِنْ سَبْعِينَ شَيْطَانَا
وقال السرى السقطى : من عرف الله عاش ، ومن مال إلى الدنيا طاش ، والأحمق يروح ويغدو في لاش ، والعاقل عن عيوبه فتاش اهـ
Ketahuilah bahwa sifat-sifat
kemanusiaan (al-ausaful basyariyyah) yang dengannya Hadirat Allah
menjadi terhalang (terhijab) sebenarnya dijadikan oleh Allah sebagai "sapu
tangan" (pembersih) untuk menyapu kotoran-kotoran takdir, seperti halnya
nafsu, setan, dan dunia. Allah menjadikan nafsu dan setan sebagai pembersih
bagi perbuatan-perbuatan tercela, serta menjadikan sifat kemanusiaan sebagai
pembersih bagi akhlak-akhlak yang hina. Padahal pada hakikatnya tidak ada di
sana melainkan manifestasi (mamazhir) Allah dan penampakan (tajalliyat)
Allah, serta tidak ada sesuatu pun selain-Nya; Dan tidak ada daya maupun
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Kemudian, cacat-cacat ('uyuub)
ini penyebab tetap bertahannya di dalam diri manusia berdasarkan hikmah Allah
adalah karena lalai untuk mencarinya. Dan penyebab kelalaian dari
mencari cacat tersebut adalah rasa puas/pencapaian terhadap diri sendiri (ar-ridha
'anin-nafs). Sebab seandainya seseorang berprasangka buruk pada
nafsunya, niscaya ia akan mencari keburukan-keburukannya, mengeluarkannya, dan
membersihkan diri darinya. Oleh karena itu, beliau (Syekh Ibnu 'Atha'illah)
berkata:
أصل كل معصية وغفلة وشهوة الرضا عن النفس
[ "Pangkal dari setiap maksiat,
kelalaian, dan syahwat adalah rasa puas terhadap diri sendiri (ar-ridha
'anin-nafs)." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Sebab, setiap orang yang merasa puas dengan dirinya sendiri akan menganggap
baik keadaan nafsunya dan menutupi keburukan-keburukannya, sebagaimana ucapan
penyair:
"Mata yang ridha (puas) akan
tumpul dari melihat setiap cacat."
وأصل كل طاعة ويقظة وعفة عدم الرضا منك عنها
[ "Dan pangkal dari setiap
ketaatan, kesadaran batin, dan penjagaan diri ('iffah) adalah ketiadaan
rasa puasmu terhadap dirimu sendiri ('adamu r-ridha 'anha)." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Karena barangsiapa yang mencurigai nafsunya, berprasangka buruk terhadapnya,
dan memandangnya dengan pandangan benci/kritis, ia akan senantiasa mencari
cacat-cacatnya serta mengeluarkan keburukan-keburukannya, sebagaimana ucapan
penyair:
"Tetapi mata yang benci/kritis
akan menampakkan segala keburukan."
Maka carilah
keburukan-keburukanmu—wahai seorang murid—dan curigailah dirimu sendiri!
Janganlah sekali-kali engkau menganggap baik sedikit pun dari keadaan nafsumu.
Sebab jika engkau merasa puas dengannya dan menganggap baik keadaannya, ia akan
menyengatmu tanpa engkau sadari, serta menghalangimu dari Hadirat Allah
sementara engkau melihatnya.
Abu Hafs Al-Haddad berkata: "Barangsiapa
yang tidak mencurigai nafsunya sepanjang waktu, tidak menyelisihi kehendaknya
dalam setiap keadaan, dan tidak menyeretnya kepada hal-hal yang dibencinya di
sepanjang harinya, maka ia adalah orang yang tertipu. Dan barangsiapa memandang
nafsunya dengan menganggap baik sesuatu darinya, maka sungguh ia telah membinasakannya.
Bagaimana mungkin masuk akal bagi orang berakal merasa puas dengan nafsunya,
padahal sosok yang mulia putra dari orang mulia putra dari orang mulia putra
dari orang mulia (Nabi Yusuf a.s.) saja berkata:
( Dan aku tidak membebaskan diriku
(dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku ) [QS. Yusuf: 53]."
Dan berkenaan dengan makna tersebut,
mereka (para penyair) melantunkan syair:
Waspadailah dirimu dan jangan pernah
merasa aman dari bahayanya ... Karena nafsu itu jauh lebih jahat daripada tujuh
puluh setan.
Sari As-Saqati berkata: "Barangsiapa
yang mengenal Allah maka ia akan hidup (hatinya), barangsiapa yang cenderung
kepada dunia maka ia akan binasa/tersesat, orang yang bodoh akan bolak-balik
dalam kesia-siaan, sedangkan orang yang berakal akan terus-menerus mendeteksi
dan mencari cacat-cacat dirinya." Sekian.
فابحث يا أخي عن عيوبك إن أردت نصح نفسك ، فإذا بحثت عن عيوبها وفضحت عوراتها ، تخلصت وتحررت ، وتحققت ، ودخلت الحضرة ، واتسعت لك النظرَةُ ، واشتكت لك الفكرةُ
وكان شيخ شيخنا يقول : لعنة الله على من ظهرت له عورة نفسه فلم يفضحها . وكان أيضًا كثيرًا ما يوصى بعدم المراقبة للناس وعدم المبالاة بهم ، إذ لا يتخلص من دقائق الرياء إلا بأسقاطهم من عينه وسقوطه هو من عينهم . ومن أراد أن يتخلص فليصحب من تخلَّص ، ولذلك قال : [ ولأن تصحب جاهلا لا يرضى عن نفسه خير من أن تصحب عالمًا يرضى عن نفسه ] .ا
قلت : إذ صحبة من لا يرضى عن نفسه خير محض ، لتحققه بالإخلاص ، فيسرى ذلك في صاحب حتى يتحلى بالإخلاص ، ويصير من جملة الخواص ، وصحبة من يرضى عن نفسه شر محض ، ولو كان أعلم أهل الأرض ، لأن الطباع تسرق الطباع ، إذ الجهل الذي يقرب للحضرة أحسن من العلم الذي يبعد عن الحضرة ، ولذلك قال بعض العارفين : أشد الناس حجابًا عن الله العلماء ، ثم العباد ، ثم الزهاد ، لوقوفهم مع علمهم وعبادتهم وزهدهم ، والجهل الذي يوصل إلى الله علم على الحقيقة ، والعلم الذي يحجب عن الله جهل على الحقيقة ، ولذلك قال : [ فأي علم لعالم يرضى عن نفسه ؟ ] . قلت : لأنه صار حجابًا له عن ربه ، ثم قال : [ وأي جهل لجاهل لا يرضى عن نفسه ؟ ] . قلت : إذ بعدم الرضا عن نفسه بحث عنها وتخلص من رقها ، فصار عبدًا حقيقة لله فحينئذ أحبه سيده ، واصطفاه لحضرته ، واجتباه لمحبته ، وأطلعه على مكنون علمه ، فكان أعلم خلقه ، والله تعالى أعلم
Maka carilah wahai saudaraku
cacat-cacat dirimu jika engkau menginginkan kebaikan bagi dirimu. Apabila
engkau mencari cacat-cacatnya dan membongkar aib-aibnya, niscaya engkau akan
terbebas, merdeka, mencapai ketakwaan yang sejati (tahaqquq), masuk ke
dalam Hadirat-Nya, pandangan batinmu menjadi makin luas, dan pemikiran
spiritualmu akan terasah tajam.
Dahulu gurunya guru kami sering
berkata: "Laknat Allah atas orang yang tampak baginya cela/aib nafsunya
sendiri namun ia tidak membongkarnya." Beliau juga sangat sering
berwasiat untuk tidak mempedulikan penilaian manusia dan tidak merisaukan mereka.
Sebab, seseorang tidak akan terbebas dari hal-hal yang samar dari sifat riya (daqa'iqur-riya')
kecuali dengan menjatuhkan/menghilangkan kedudukan manusia dari matanya dan
menjatuhkan/menghilangkan kedudukannya sendiri dari mata mereka. Dan barangsiapa
yang ingin terbebas dari sifat tersebut, hendaknya ia bersahabat dengan orang
yang telah terbebas darinya. Oleh karena itu, beliau (Syekh Ibnu 'Atha'illah)
berkata:
ولأن تصحب جاهلا لا يرضى عن نفسه خير من أن تصحب عالمًا يرضى عن نفسه
[ "Sungguh, engkau bersahabat
dengan orang bodoh yang tidak merasa puas dengan nafsunya itu jauh lebih baik
daripada engkau bersahabat dengan seorang alim (berilmu) yang merasa puas
dengan nafsunya." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Sebab bersahabat dengan orang yang tidak merasa puas dengan nafsunya adalah
kebaikan yang murni, karena ia telah mewujudkan keikhlasan sejati. Sifat ikhlas
itu akan meresap ke dalam diri sahabatnya hingga ia pun terhiasi dengan
keikhlasan dan menjadi bagian dari golongan hamba-hamba pilihan (al-khawash).
Sedangkan bersahabat dengan orang
yang merasa puas dengan nafsunya adalah keburukan yang murni, meskipun ia
adalah orang yang paling berilmu di muka bumi. Hal ini karena watak/karakter
seseorang dapat 'mencuri' (tertular) karakter temannya. Sebab, kebodohan yang
mendekatkan seseorang ke Hadirat Allah itu jauh lebih baik daripada ilmu yang
justru menjauhkannya dari Hadirat-Nya. Oleh karena itu, sebagian ahli makrifat
(al-'arifin) berkata: "Orang yang paling terhalang (terhijab)
dari Allah adalah para ulama, kemudian para ahli ibadah, lalu para ahli zuhud;
hal itu karena mereka berhenti/terpukau pada ilmu, ibadah, dan kezuhudan mereka
sendiri." Maka kebodohan yang dapat menyampaikan seseorang kepada
Allah pada hakikatnya adalah ilmu, sedangkan ilmu yang menghalangi seseorang
dari Allah pada hakikatnya adalah kebodohan. Oleh sebab itu beliau berkata:
فأي علم لعالم يرضى عن نفسه ؟
[ "Maka ilmu apakah yang
dimiliki oleh seorang alim yang merasa puas dengan nafsunya?" ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Karena ilmunya telah menjadi penghalang (hijab) antara dirinya dengan
Tuhannya. Kemudian beliau berkata:
وأي جهل لجاهل لا يرضى عن نفسه ؟
[ "Dan kebodohan apakah yang
ada pada seorang bodoh yang tidak merasa puas dengan nafsunya?" ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Karena dengan ketiadaan rasa puas terhadap nafsunya, ia akan mengevaluasi
dirinya dan terbebas dari perbudakan nafsunya. Sehingga jadilah ia hamba Allah
yang sejati. Pada saat itulah Tuhannya menyukainya, memilihnya untuk berada di
Hadirat-Nya, mengutamakannya untuk menerima cinta-Nya, serta memperlihatkannya
pada rahasia ilmu-Nya yang tersembunyi, sehingga jadilah ia orang yang paling berilmu
di antara makhluk-Nya. Wallahu Ta'ala A'lam (Dan Allah Ta'ala Maha
Mengetahui).
وإذا تخلص العبد من حظوظه وأوصاف بشريته ، قرب من حضرة ربه ، لصحة قلبه وإشراقه بنور ربه ، ثم امتحق وجوده في وجود محبوبه ، شهوده في شهود معبوده ، وإلى ذلك أشار بقوله : [ شعاع البصيرة يشهدك قربه منك ، وعين البصيرة تشهدك عدمك لوجوده ، وحق البصيرة يشهدك وجوده لا عدمك ولا وجودك ، كان الله ولا شيء معه ، وهو الآن على ما عليه كان ] .ا
قلت : البصيرة ناظر القلب ، كما أن البصر ناظر القلب ، فالصيرة ترى المعاني اللطيفة النورانية ، والبصر يرى المحسوسات الكيفية الظلمانية الوهمية
ثم البصيرة باعتبار إدراك نور المعاني اللطيفة على خمسة أقسام : قسم فسد ناظرها فعميت ، فأنكرت نور الحق من أصله ، قال سيدي البوصيري : قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ المَاءِ مِنْ سَقَمِ
وهذه بصيرة الكفار . قال تعالى : ( فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ )
وقسم صح ناظرها لكنها مسدودة لضعف ناظرها لمرض أصابه ، فهي تقر بالنور لكنها لا تقوى على مشاهدته ، ولا تشهد قربه منها ولا بعده عنها ، وهي لعامة المسلمين . وقسم صح ناظرها وقوى شيئًا ما ، حتى قرب أن يفتح عينه ، ولكن لشدة الشعاع لم يطق أن يفتح عينه فأدرك شعاع النور قريبًا منه ، وهو لعامة المتوجهين ، ويسمى هذا المقام شعاع البصيرة . وقسم قوى ناظرها ففتح عين بصيرته فأدرك النور محيطًا به حتى غاب عن نفسه بمشاهدة النور ، وهذا لخاصة المتوجهين ، ويسمى هذا المقام عين البصيرة . وقسم صحت بصيرته واشتد نورها فاتصل نورها بنور أصلها ، فلم تر إلا النور الأصلي ، وأنكرت أن يكون ثم شيء زائد على نور الأصل ؛ كان الله ولا شيء ، وهو الآن على ما عليه كان ، ويسمى هذا حق البصيرة ، ووجه تسميته بشعاع البصيرة أن صاحبها لما كان يرى وجود الأكوان انطبعت في مرآة بصيرته ، فحجبته عن شهود النور من أصله ، لكن لما رَقَّت كثافتها وتنورت دلائلها ، رأى شعاع النور من ورائها قريبًا منه ، فأدرك الشعاع ولم يدرك النور ، وهذا هو نور الإيمان ، وهو مقام علم اليقين . ووجه تسمية عين البصيرة: أن البصيرة لما صحت وقويت انفتحت عينها فرأت النور محيطًا ومتصلا بها ، فسميت عين البصيرة ، لانفتاحها وإدراكها ما خفي على غيرها ، وهذا مقام عين اليقين . ووجه تسمية حق البصيرة : أن البصيرة لما أدركت الحق من أصله وغابت عن نور الفروع بنور الأصول ، سميت حق البصيرة ، لما أدركته من الحق ، وغابت عن شهود الخَلْق ، وهذا مقام حق اليقين ، فشعاع البصيرة هو نور الإيمان لأهل المراقبة ، وعين البصيرة هو نور الإحسان لأهل المشاهدة ، وحق البصيرة هو نور الرسوخ والتمكين لأهل المكالمة
Apabila seorang hamba telah terbebas
dari bagian-bagian kenikmatan dirinya (huthuzh) dan sifat-sifat
kemanusiaannya (ausaful-basyariyyah), ia akan dekat dengan hadirat
Tuhannya karena sehatnya hatinya serta pancaran cahaya Tuhannya di dalamnya.
Kemudian wujud dirinya lebur (immahaqa) di dalam keberadaan kekasihnya
(Allah), dan penyaksian dirinya tenggelam dalam penyaksian kepada Sang
Sembahan. Mengenai hal ini, Syekh Ibnu 'Atha'illah mengisyaratkan melalui
ucapannya:
شعاع
البصيرة يشهدك قربه منك ، وعين البصيرة تشهدك عدمك لوجوده ، وحق البصيرة
يشهدك وجوده لا عدمك ولا وجودك ، كان الله ولا شيء معه ، وهو الآن على ما
عليه كان
[ "Sinar pandangan batin (Syu'a'ul-Bashirah)
memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah padamu. Mata pandangan batin ('Ainul-Bashirah)
memperlihatkan kepadamu ketiadaan dirimu di hadapan wujud-Nya. Dan hakikat
pandangan batin (Haqqul-Bashirah) memperlihatkan kepadamu wujud-Nya
semata, bukan ketiadaanmu maupun keberadaanmu. Dahulu Allah telah ada dan tidak
ada sesuatu pun bersama-Nya, dan Dia sekarang tetap sebagaimana keberadaan-Nya
semula." ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan: Bashirah
(mata hati) adalah penglihat milik hati, sebagaimana basar adalah
penglihat fisik. Bashirah memandang makna-makna yang halus dan bercahaya
(al-ma'ani al-lathifah an-nuraniyyah), sedangkan basar memandang
hal-hal inderawi yang berbentuk, gelap, dan samar (al-mahsusat al-kaifiyyah
azh-zhulmaniyyah al-wahmiyyah).
Kemudian, bashirah ditinjau
dari kemampuan persepsinya terhadap cahaya makna-makna yang halus terbagi
menjadi lima bagian:
- Bagian yang organ penglihatnya rusak sehingga buta, lalu ia mengingkari cahaya Al-Haqq (Allah)
dari akarnya. Syekh Al-Bushiri berkata dalam syairnya:
"Mata
terkadang mengingkari cahaya matahari karena penyakit belek (ramad), dan mulut
terkadang memungkiri rasa air karena penyakit yang diderita."
Ini adalah
pandangan batin orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman:
(Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di
dalam dada) [QS. Al-Hajj: 46].
- Bagian yang organ penglihatnya sehat tetapi tertutup karena lemahnya penglihatan akibat penyakit yang
menimpanya. Ia mengakui adanya cahaya tersebut, tetapi tidak sanggup
memandangnya, serta tidak dapat menyaksikan dekat atau jauhnya cahaya itu
darinya. Ini adalah keadaan mayoritas kaum muslimin ('ammatul-muslimin).
- Bagian yang organ penglihatnya sehat dan agak kuat, sampai-sampai ia hampir bisa membuka matanya. Namun
karena sangat menyilaukannya sinar tersebut, ia tidak sanggup membuka
matanya secara penuh, sehingga ia hanya menangkap pancaran/sinar cahaya (syu'a'un-nur)
yang dekat darinya. Ini adalah keadaan mayoritas pejalan spiritual ('ammatul-mutawajjihin),
dan maqam ini dinamakan Sinar Pandangan Batin (Syu'a'ul-Bashirah).
- Bagian yang organ penglihatnya kuat, lalu ia membuka mata batinnya dan mendapati cahaya
tersebut meliputi dirinya hingga ia hilang/fana dari dirinya sendiri
karena tenggelam memandang cahaya itu. Ini adalah keadaan golongan khusus
pejalan spiritual (khashshatul-mutawajjihin), dan maqam ini
dinamakan Mata Pandangan Batin ('Ainul-Bashirah).
- Bagian yang mata batinnya sangat sehat dan makin terang
cahayanya, sehingga cahayanya menyatu
dengan cahaya asalnya. Ia tidak lagi melihat kecuali Cahaya yang Asli,
serta memungkiri adanya sesuatu yang bernilai tambah di luar Cahaya Asli
tersebut; Dahulu Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya,
dan Dia sekarang tetap sebagaimana keberadaan-Nya semula. Maqam ini
dinamakan Hakikat Pandangan Batin (Haqqul-Bashirah).
Penjelasan
Penamaan Maqam:
- Sinar Pandangan Batin (Syu'a'ul-Bashirah): Dinamakan demikian karena ketika pemiliknya masih
melihat keberadaan alam semesta, fenomena alam itu membayang dalam cermin
mata batinnya sehingga menghalanginya dari menyaksikan Cahaya Asal. Namun,
ketika bayangan tebal itu menipis dan petunjuk-petunjuknya makin
bercahaya, ia melihat sinar cahaya dari balik alam itu sangat dekat
dengannya. Ia menangkap sinarnya tetapi belum menangkap hakikat Cahayanya.
Ini adalah cahaya iman dan merupakan maqam 'Ilmul-Yaqin.
- Mata Pandangan Batin ('Ainul-Bashirah): Dinamakan demikian karena ketika pandangan batin itu
sehat dan kuat, matanya terbuka lalu melihat cahaya yang meliputi dan
tersambung dengannya. Dinamakan 'Ainul-Bashirah karena keterbukaan
matanya untuk menangkap apa yang tersembunyi bagi orang lain. Ini adalah maqam
'Ainul-Yaqin.
- Hakikat Pandangan Batin (Haqqul-Bashirah): Dinamakan demikian karena ketika pandangan batin itu
telah menangkap Al-Haqq dari sumber asalnya dan hilang (fana)
dari cahaya cabang (makhluk) menuju cahaya asal (Pencipta),
maka dinamai Haqqul-Bashirah atas apa yang ia dapati dari Al-Haqq
serta kehilangannya dari penyaksian makhluk. Ini adalah maqam Haqqul-Yaqin.
Kesimpulan
Ringkas:
- Syu'a'ul-Bashirah:
Cahaya Iman bagi pemilik maqam Muraqabah (perasaan selalu diawasi
Allah).
- 'Ainul-Bashirah:
Cahaya Ihsan bagi pemilik maqam Musyahadah (penyaksian batin).
- Haqqul-Bashirah:
Cahaya keteguhan/kemantapan (at-tamkin) bagi pemilik maqam Mukalamah
(percakapan batin bersama Allah).
أو تقول : شعاع البصيرة نور علم اليقين ، وعين البصيرة هو نور عين اليقين ، وحق البصيرة هو نور حق اليقين
فعلم اليقين لأهل الدليل والبرهان ، وعين اليقين لأهل الكشف والبيان ، وحق اليقين لأهل الشهود والعيان . مثال ذلك : كمن سمع بمكة مثلا ولم يرها ، فهذا عنده علم اليقين ، فإذا استشرف عليها ورآها ولم يدخلها فهو عين اليقين ، فإذا دخلها وتمكن فيها فهو حق اليقين ، وكذلك طالب الحق ، فمازال من وراء الحجاب فانيًا في الأعمال فهو في علم اليقين ، فإذا استشرف على الفناء في الذات ولم يتمكن من الفناء فهو عين اليقين ، فإذا رسخ وتمكن فهو في حق اليقين
أو تقول : شعاع البصيرة لأهل عالم الملك ، وعين البصيرة لأهل عالم الملكوت وحق البصيرة لأهل عالم الجبروت
أو تقول : شعاع البصيرة لأهل الفناء في الأعمال ، وعين البصيرة لأهل الفناء في الذات ، وحق البصيرة لأهل الفناء في الفناء . فشعاع البصيرة يشهدك قرب الحق منك : أي يوجب لك شهود قرب نور الحق منك . قال تعالى : ( وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ) وقال تعالى : ( وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ )
وعين البصيرة يشهدك عدمك : أي زوالك بزوال وهمك لوجوده أي وجود الحق ، إذ محال أن تشهد معه سواه ، فإذا زال عنك الوهم وفنيت عن وجودك ، شهدت ربك بربك ، وهو علامة فتح البصيرة ، وعلاج السريرة كما قال شيخ شيوخنا عبد الرحمن المجذوب
مَنْ رَأَى المَكَّوَّنَ بِالْكَوْنِ ... عُزَّهُ فِي عَمَى البَصِيرَةِ وَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ بِالمُكَوِّنِ ... صَادَفَ عِلَاجَ السَّرِيرَةِ
فظاهره أن عامة المسلمين عميت بصيرتهم . والتحقيق هو ما تقدم من التفصيل ، وأنها مسدودة فقط مع صحة ناظرها ، بخلاف بصيرة الكفار فإنها عمياء ، وحق البصيرة يشهدك وجود الحق وحده لا عدمك ولا وجودك ، لأنك مفقود من أصلك وعدمك ، إذ لا يعدم إلا ماثبت له وجود ، ولم يكن مع الله موجود . كان الله ولا شيء معه وهو الآن على ما عليه كان . وهذه الزيادة وإن لم تكن في الحديث لكن معناها صحيح ، إذ التغير عليه تعالى محال
قال محيى الدين بن محمد بن علي بن العربي الحاتمى رضى الله عنه : من شهد الخلق لا فعل لهم فقد فاز ، ومن شهدھم لا حياة لهم فقد جاز ، ومن شهدھم عين العدم فقد وصل اهـ
قلت : ومن شهدھم بعين العدم فقد تمكن وصاله ، وأنشدوا
مَنْ أَبْصَرَ الْخَلْقَ كَالَسَّرَابِ ... فَقَدْ تَرَقَّى عَنِ الحِجَابِ إِلَى وُجُودٍ تَرَاهُ رَتْقَا ... بِلَا ابْتِعَادٍ وَلَا اقْتِرَابِ فَلَا خِطَابٌ بِهِ إِلَيْهِ ... وَلَا مُشِيرٌ إِلَى الخِطَابِ
والله تعالى أعلم
Atau engkau dapat mengatakan: Sinar
Pandangan Batin (Syu'a'ul-Bashirah) adalah cahaya 'Ilmul-Yaqin,
Mata Pandangan Batin ('Ainul-Bashirah) adalah cahaya 'Ainul-Yaqin,
dan Hakikat Pandangan Batin (Haqqul-Bashirah) adalah cahaya Haqqul-Yaqin.
- 'Ilmul-Yaqin
diperuntukkan bagi ahli dalil dan pembuktian rasional (ahlud-dalil
wal-burhan).
- 'Ainul-Yaqin
diperuntukkan bagi ahli penyingkapan batin dan penjelasan (ahlul-kasyfi
wal-bayan).
- Haqqul-Yaqin
diperuntukkan bagi ahli penyaksian dan pemandangan nyata (ahlusy-syuhudi
wal-'ayan).
Perumpamaannya adalah seperti
seseorang yang mendengar berita tentang Kota Makkah namun belum pernah
melihatnya, maka ia berada pada tingkat 'Ilmul-Yaqin. Apabila ia telah
memandang dari jauh dan melihatnya tetapi belum memasukinya, maka ia berada
pada tingkat 'Ainul-Yaqin. Dan apabila ia telah memasukinya serta berada
menetap di dalamnya, maka ia berada pada tingkat Haqqul-Yaqin.
Demikian pula seorang pencari
kebenaran (talibul-Haqq):
- Selama ia masih berada di balik hijab dan fana
(lebur) dalam amal-amalnya, ia berada pada tingkat 'Ilmul-Yaqin.
- Apabila ia mulai memandang puncak fana dalam Zat
Allah namun belum mantap fana-nya, ia berada pada tingkat 'Ainul-Yaqin.
- Apabila ia telah teguh dan mantap (rasakha wa
tamakkana), ia berada pada tingkat Haqqul-Yaqin.
Atau engkau dapat katakan:
- Syu'a'ul-Bashirah
untuk penghuni alam Mulk (alam nyata/fisik).
- 'Ainul-Bashirah
untuk penghuni alam Malakut (alam gaib/spiritual).
- Haqqul-Bashirah
untuk penghuni alam Jabarut (alam keagungan Zat).
Atau engkau dapat katakan:
- Syu'a'ul-Bashirah
bagi orang yang fana dalam amal perbuatan.
- 'Ainul-Bashirah
bagi orang yang fana dalam Zat Allah.
- Haqqul-Bashirah
bagi orang yang fana dalam ke-fana-annya sendiri (fana'
fil-fana').
Makna
Masing-masing Pandangan Batin:
- Sinar Pandangan Batin (Syu'a'ul-Bashirah) membuatmu menyaksikan dekatnya Al-Haqq (Allah)
darimu, yaitu mengharuskanmu menyaksikan dekatnya cahaya Allah padamu.
Allah Ta'ala berfirman:
(Dan
sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh
hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya) [QS. Qaf: 16].
Dan Allah Ta'ala
berfirman:
(Dan
Dia bersamamu di mana saja kamu berada)
[QS. Al-Hadid: 4].
- Mata Pandangan Batin ('Ainul-Bashirah) membuatmu menyaksikan ketiadaan dirimu, yaitu
hilangnya dirimu seiring dengan lenyapnya ilusi/persangkaanmu di hadapan
wujud Al-Haqq. Sebab mustahil engkau menyaksikan sesuatu yang lain
di samping-Nya. Maka apabila ilusi itu telah sirna dan engkau fana
dari wujud dirimu sendiri, engkau menyaksikan Tuhanamu dengan (bimbingan)
Tuhanamu. Hal ini merupakan tanda terbukanya mata hati dan obat bagi
rahasia batin (sarirah), sebagaimana dikatakan oleh gurunya guru
kami, Syekh Abdurrahman Al-Majdzub:
Barangsiapa
melihat Sang Pencipta melalui alam semesta ... Tempatkanlah ia dalam kebutaan
mata hati. Dan barangsiapa melihat alam
semesta melalui Sang Pencipta ... Maka ia telah menemukan obat bagi rahasia
batinnya.
Zahir dari
bait di atas seolah menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam telah buta mata
hatinya. Namun kajian secara mendalam (at-tahqiq) adalah sebagaimana
rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu bahwa mata hati mereka hanya
sekadar tertutup (masdudah) sementara organ penglihatnya tetap sehat;
berbeda halnya dengan mata hati orang-orang kafir yang benar-benar buta.
- Hakikat Pandangan Batin (Haqqul-Bashirah) membuatmu menyaksikan wujud Al-Haqq semata,
bukan ketiadaanmu maupun keberadaanmu. Sebab pada hakikatnya engkau tidak
ada sejak asal mula dan ketiadaanmu. Kerana tidaklah dikatakan "tidak
ada" (ya'damu) kecuali bagi sesuatu yang tadinya memiliki
wujud, padahal tidak pernah ada sesuatu pun wujud bersama Allah: "Dahulu
Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya, dan Dia sekarang
tetap sebagaimana keberadaan-Nya semula." Tambahan kalimat ("dan
Dia sekarang...") ini meskipun tidak terdapat dalam riwayat matan
hadis, namun maknanya benar, sebab perubahan pada Zat Allah Ta'ala
adalah sesuatu yang mustahil.
Kutipan
Pendukung:
Syekh Muhyiddin bin Muhammad bin
'Ali bin 'Arabi Al-Hatimi radiyallahu 'anhu berkata:
"Barangsiapa menyaksikan bahwa
makhluk tidak memiliki perbuatan (hakiki), maka ia telah beruntung. Barangsiapa
menyaksikan bahwa makhluk tidak memiliki kehidupan (mandiri), maka ia telah
selamat/melintas. Dan barangsiapa menyaksikan bahwa makhluk adalah ketiadaan
yang murni ('ainul-'adam*), maka ia telah sampai
(washal) kepada Allah."* Sekian.
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
Barangsiapa yang menyaksikan makhluk dengan pandangan ketiadaan murni, maka
telah mantaplah kelanggengan penyatuannya (wisal) dengan Allah. Para
ulama bersyair:
Barangsiapa memandang makhluk
bagaikan fatamorgana ... Sungguh ia telah naik melampaui tabir penghalang, Menuju Wujud Sejati yang engkau lihat terpadu erat ...
Tanpa jarak menjauh maupun mendekat. Maka tidak ada dialog dari dirinya
kepada-Nya ... Dan tidak ada pula pengisyarat menuju dialog tersebut.
Wallahu Ta'ala A'lam (Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.