بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bagian Kedua
(Dari
Kitab Fikih menurut Mazhab Imam Asy-Syafi'i RA.)
(Kitab Thaharah / Bersuci)
القسم الثاني
( من الكتاب في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رضي الله عنه ) ا
( كتاب الطهارة )
قال الله تعالى : ( إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ) وقال صلى الله عليه وسلم : « مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ » رواه أبو داود والترمذي وغيرهما،
وهي لغة : النظافة والخلوص من الأدنَاس حسية كانت أو معنوية، وشرعاً : فعل ما يترتب عليه ارتفاع المنع المرتب على الحدث أو الخبث. ا
( ومقاصدها ) أربعة : الوضوء ، والغسل ، والتيمم ، وإزالة النجاسة . ( ووسائلها ) أربعة: الماء ، التراب ، وحجر الاستنجاء ، والدابغ . ( ووسائل وسائلها ) شيئان ، وهما : الإناء ، والاجتهاد .ا
أما الماء : فهو ما نزل من السماء أو نبع من الأرض على أي صفة كان من أصل الخلقة ، وينقسم إلى أربعة أقسام :ا
(أحدها)
طاهر في نفسه ، مطهر لغيره ، غير مكروه استعماله ، وهو الماء المطلق . أي الذي يسمى ماء بلا قيد .ا
(ثانيها)
طاهر في نفسه غير مطهر لغيره ، فلا يجوز استعماله في رفع حدث ، ولا في إزالة خبث ، ويجوز استعماله في غير ذلك من العادات ، كطبخ وعجن وشرب وتنظيف ، وهو نوعان :ا
أحدهما ما استعمل قليلاً فيما لا بد منه ، كالغسلة الأولى في الوضوء والغسل ، ومنه ماء وضوء الحنفي ، وإن لم ينو رفع الحدث ، وكذا ماء وضوء الصبي ، وكذا ماء غسل الذمية لتحل لحليلها المسلم أو غيره ، لأن الكافر مكلف بالفروع اعتقد توقف الحل على ذلك أم لا . وتجب النية في غسل الكافرة كاللمتناعة ، ولا يجب الإسلام في هذه النية؛ لأن المقصود التمييز عن الغسل المعتاد ، والكفر إنما ينافي نية القربة ، وكذا ماء قليل غسل به نحو ثوب متنجس ، وكان الماء وارداً وانفصل عنه بلا تغير ولا زيادة وزن بعد اعتبار ما يتشربه المغسول ، وما يمجه من الوسخ وقد طهر المحل .ا
أما لو استعمل في غير ما لا بد منه كالغسلة الثانية والثالثة في الوضوء والغسل أو مضمضة ، وتجديد وضوء وغسل مسنون ، أو جمع المستعمل فبلغ القلتين جازت الطهارة بكل ما ذكر.ا
( وثانيهما )
ما تغير بمخالط طاهر مستغنى عنه تغيراً يمنع إطلاق اسم الماء عليه ، والمخالط هو مالا يمكن فصله ، كزعفران وخل وصابون وجير ، فلا يضر التغير بالمجاور الذي لا يتحلل منه شيء ، ولو كان كثيراً ، كالتغير بالأخشاب التي تعطن في الماء ، أو بالدهن والكافور الصلب أو بالقطران الذي له دهنية بخلاف مالا دهنية له فإنه يضر التغير به ولا يضر التغير بمالا يستغنى الماء عنه ، كالتغير بأوراق الأشجار المتناثرة،ولو أيام الربيع أو بما وضع لإصلاح المقرّ كالقربة ، وكذا بالطحلب ولو تفتت بفعل فاعل ، لكن إذا أخرج من موضعه ودق أو تفتت ثم طرح وغير ضَرّ ، وكذا لا يضر التغير بالجير الذي يصنع في الفساقي والصهاريج ونحوها ، ولا ببطونس الساقية ، ولا بما ينفصل من أوساخ الأرجل المنغمسة في المياضىء والمغاطس ، وإن منع إطلاق اسم الماء عليه ، وكذا لا يضر التغير ولو كثيراً بطول المكث ولو بما في مقره كنحو ماء تغير في إناء كان به عجين إن غسل ، ولا يضر التغير بالملح المائي ولا بالتراب ، ولو كان كثيراً ما لم يصل إلى كونه طيناً .ا
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang
menyucikan diri." Dan Rasulullah SAW bersabda: "Kunci shalat
adalah bersuci." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan
lainnya).
Thaharah secara bahasa berarti kebersihan dan terbebas dari kotoran, baik kotoran
yang bersifat fisik (inderawi) maupun abstrak (maknawi). Secara syariat
berarti: melakukan suatu tindakan yang mengakibatkan hilangnya keharaman
(terangkatnya penghalang) yang timbul akibat hadas atau najis.
- Maksud/Tujuan Thaharah ada empat: Wudhu, mandi wajib, tayamum, dan
menghilangkan najis.
- Sarana Thaharah
ada empat: Air, debu/tanah, batu untuk istinja, dan alat penyamak kulit.
- Perantara dari Sarana Thaharah ada dua: Bejana (wadah air) dan ijtihad (usaha
menentukan arah/kesucian).
Adapun Air: Adalah apa saja yang turun dari langit atau memancar dari
bumi dalam kondisi apa pun sesuai bentuk asalnya. Air terbagi menjadi empat
kelompok:
- Air yang suci dan menyucikan (Thahir Mutahhir), serta tidak makruh digunakannya. Ini adalah Air Mutlak
(air murni), yaitu air yang dinamai "air" tanpa ikatan kata
tambahan tertentu.
- Air yang suci tetapi tidak menyucikan (Thahir Ghairu
Mutahhir). Air ini tidak boleh digunakan
untuk meratakan/mengangkat hadas maupun menghilangkan najis. Namun, boleh
digunakan untuk keperluan lain di luar ibadah (kebiasaan/adat), seperti
memasak, membuat adonan, minum, dan membersihkan barang. Air ini terbagi
menjadi dua jenis:
- Jenis pertama:
Air bernilai sedikit yang telah digunakan (Musta'mal) dalam
pembasuhan yang sifatnya wajib/keharusan. Contohnya: basuhan pertama pada
wudhu dan mandi wajib, air bekas wudhu penganut mazhab Hanafi (meskipun
tidak berniat mengangkat hadas), air bekas wudhu anak kecil, atau air
bekas mandi wanita dzimmiyah (non-Muslim) agar halal bagi suaminya
yang Muslim atau lainnya. Hal ini karena orang kafir tetap terkena beban
hukum cabang (furu'), baik ia meyakini halalnya keabsahan bersuci
tersebut maupun tidak. Niat tetap diwajibkan pada mandi wanita kafir
tersebut, seperti halnya wanita yang enggan mandi; dan Islam tidak
disyaratkan dalam niat ini karena tujuannya adalah membedakan antara
mandi biasa dan mandi ibadah. Kekafiran hanya merusak niat qurbah
(mendekatkan diri pada Allah). Termasuk jenis ini juga: air sedikit yang
digunakan untuk membasuh pakaian yang terkena najis, di mana air
ditumpahkan ke pakaian, lalu terpisah tanpa mengalami perubahan
rasa/warna/bau dan tanpa bertambah beratnya setelah memperhitungkan
serapan pakaian serta kotoran yang terbuang, sementara tempat yang
dibasuh sudah suci.
- Jenis kedua:
Adapun jika air digunakan untuk hal yang tidak wajib/bukan
keharusan—seperti basuhan kedua dan ketiga pada wudhu dan mandi, air
bekas kumur-kumur, wudhu pembaruan (tajdid wudhu), atau mandi
sunnah—maupun air bekas bersuci yang dikumpulkan hingga mencapai ukuran
dua qullah, maka bersuci dengan semua jenis air yang disebutkan
dalam poin ini hukumnya tetap boleh (tetap menyucikan).
(Jenis
kedua dari air yang suci tapi tidak menyucikan): Air yang berubah karena
tercampur (mukhalit) bahan suci yang sebenarnya bisa dihindari (mustaghna
'anhu), dengan perubahan yang sampai menghalangi penyebutan "air"
secara mutlak padanya. Bahan mukhalit adalah zat yang tidak mungkin dipisahkan
dari air, seperti za'faran, cuka, sabun, dan kapur.
Adapun perubahan karena bahan yang
hanya berdampingan (mujawir—zat yang tidak menyatu/larut dalam air)
tidaklah merusak (tetap menyucikan) walau perubahannya banyak. Contohnya: kayu
yang direndam di air, minyak, kapur barus padat, atau ter (qathiran)
yang berminyak—berbeda dengan ter yang tidak berminyak, maka perubahannya
merusak kesucian air.
Perubahan akibat benda yang sulit
dihindari air juga tidak merusak kesucian, seperti:
- Daun-daun pohon yang berguguran (walaupun di musim
semi).
- Benda yang ditaruh untuk memperbaiki tempat air
(seperti wadah kulit).
- Lumut, meskipun hancur karena perbuatan seseorang.
Namun jika lumut dikeluarkan dari tempatnya, ditumbuk/dihancurkan lalu
dilemparkan kembali ke air hingga mengubahnya, maka itu merusak kesucian
air.
- Kapur yang melapisi bak/kolam penampungan air, endapan
saluran air, atau kotoran kaki orang yang tercelup di tempat
wudhu/pemandian umum (meskipun sampai menghalangi penyebutan nama air
murni).
- Air yang berubah karena terlalu lama berdiam/tergenang
(thulul muktsi), atau berubah karena unsur tempatnya (seperti air
di wadah bekas adonan yang sudah dicuci).
- Garam air (garam dari penguapan air laut) dan
debu/tanah, meskipun banyak, selama tidak sampai menjadi lumpur pekat.
(ثالثها)
طاهر في نفسه مطهر لغيره مكروه استعماله ، وهو الماء المطلق المسخن بتأثير الشمس فيه بشروط أن يكون ببلد حار ، وأن تنقله الشمس من حالة إلى أخرى بحيث تنفصل من إنائه زهمة تعلوه ، وأن يكون في إناء منطبع غير النقدين كنحاس وحديد ورصاص . وأن يكون استعماله حال حرارته في بدن ولو شرباً لآدمي أو غيره وأن يكون التشاميس في زمن حار . وأن يكون الوقت متسعاً ؛ فإن ضاق الوقت ولم يجد غيره فلا كراهة . وأن لا يتحقق ولا يظن الضرر في استعماله وإلا حرم ، كماء مغصوب أو مسبل للشرب ، وكذا يكره شديد السخونة أو البرودة إن لم يحصل منه ضرر ، وإلا حرم أيضاً . ا
(رابعها)
ماء متنجس وهو الذي لاقته نجاسة ولو قليلة كقشرة قملة . وكان دون قلتين بأكثر من رطلين سواء تغير أم لا ، أو كان قلتين أو أكثر وتغير ، ويحرم استعماله في العبادات والعادات. ا
( تنبيه )
إن كوثر القليل المتنجس . ولو بمغلظ فبلغ قلتين ولا تغير طهر ، وكذا الكثير إن زال التغير بنفسه أو بماء . ولا يطهر بنحو مسك أو خل والمراد بالتغير بالطاهر أو بالنجس تغير اللون أو الطعم أو الريح . والقلتان بالوزن المصري أربعمائة وأربعون رطلاً وثلاثة أسباع رطل ، وبالمساحة ذراع وربع بذراع الآدمي وهو شبران من معتدل الخلقة طولاً وعرضاً وعمقاً في المربع . وذراعان ونصف عمقا ، وذراع عرضا في المدور ، وذراع ونصف عرضا ، وذراع ونصف طولا ، وذراعان عمقا في المثلث ، والقليل ما دون القلتين بأكثر من رطلين والكثير قلتان فأكثر. ا
(3. Kelompok Ketiga): Air yang suci pada dirinya dan menyucikan lainnya, tetapi makruh
penggunaannya. Yaitu air mutlak yang dipanaskan oleh terik matahari (Ma'
Musyammas) dengan syarat-syarat:
- Berada di daerah yang beriklim panas.
- Dipanaskan matahari hingga mengalami reaksi yang
melepaskan lapisan karat/zat berbau amis (zahmah) yang naik ke
permukaan.
- Berada dalam wadah dari logam yang dapat ditempa selain
emas dan perak (seperti tembaga, besi, atau timah).
- Digunakan saat masih panas pada badan (termasuk untuk
diminum oleh manusia atau hewan).
- Penjemuran dilakukan pada musim panas.
- Waktu shalat masih lapang. Jika waktu sempit dan tidak
ada air lain, maka tidak makruh.
- Tidak diyakini atau diduga kuat menimbulkan bahaya (dharar).
Jika diyakini membahayakan, hukumnya menjadi haram (seperti halnya air
ghashab atau air yang diwakafkan khusus untuk minum).
Demikian pula makruh hukumnya
menggunakan air yang terlalu panas atau terlalu dingin jika tidak menimbulkan
bahaya; jika membahayakan, hukumnya haram.
(4. Kelompok Keempat): Air mutanajjis (terkena najis). Yaitu air yang kejatuhan
najis—meskipun sedikit seperti kulit kutu—dan jumlah air tersebut kurang dari
dua qullah (kurang dari dua qullah lebih dari dua rithl), baik
air itu berubah ataupun tidak. Atau air tersebut mencapai dua qullah
atau lebih, tetapi mengalami perubahan (rasa, warna, atau bau). Air ini haram
digunakan untuk ibadah maupun keperluan sehari-hari.
Peringatan (Tanbih):
- Jika air sedikit yang terkena najis ditambahi air lain
(meskipun najisnya berat/mughallazhah) hingga mencapai dua qullah
dan tidak ada perubahan, maka air tersebut menjadi suci.
- Begitu pula air banyak yang terkena najis, jika
perubahannya hilang dengan sendirinya atau dengan penambahan air, maka
hukumnya kembali suci.
- Air tidak menjadi suci jika perubahannya hilang karena
dicampur benda pewangi/pembersih seperti kasturi atau cuka.
- Yang dimaksud dengan "perubahan" (baik oleh
benda suci maupun najis) adalah perubahan pada warna, rasa, atau bau.
Ukuran Dua Qullah (Qullatain):
- Berdasarkan timbangan Mesir: 440 rithl lebih 3/7 rithl (44073 rithl).
- Berdasarkan ukuran volume (hasta manusia sedang):
- Wadah berbentuk kubus: 1 41 hasta panjang, lebar, dan dalamnya.
- Wadah berbentuk tabung/lingkaran: 2 21 hasta dalamnya dan 1 hasta lebarnya.
- Wadah berbentuk segitiga: 1 21 hasta lebar, 1 21 hasta panjang, dan 2 hasta
dalamnya.
Kategori air sedikit adalah
yang kurang dari dua qullah (dengan selisih lebih dari dua rithl),
sedangkan air banyak adalah air yang mencapai dua qullah atau
lebih.
فائدتان ﴾ الأولى : ا
ينبغي لمن يتوضأ أو يغتسل من إناء فيه ماء قليل نية اغتراف : وهي قصد أخذ الماء من الإناء لا لرفع الحدث ، ومحلها في الوضوء بعد غسل الوجه وإرادة غسل اليدين . وفي الغسل بعد نيته وقبل ممارسة الماء لشيء من بدنه، وإذا لم ينو الاغتراف المذكور ووضع يديه بعد غسل الوجه في الوضوء أو شيئاً من بدنه بعد النية في الغسل صار الماء مستعملاً ، وقد تسقط في الغسل إذا أخذ الماء بكفيه قبل نيته ، ثم رفع به حدثهما خارج الإناء وحينئذ أخذ بهما لباقي بدنه بدون نية الاغتراف ( الثانية ) إذا اشتبه ماء طاهر بمتنجس أو طهور بمستعمل اجتهد فيهما إن كانا باقيين وجوباً إذا كان بعد دخول الوقت ، ولم يقدر على متيقن الطهارة وإلا فجوازاً . وكيفية الاجتهاد أن يبحث عن العلامات التي يعرف بها التنجس مثلاً كتغير أحد الإنائين ونقصه واضطرابه وقرب نحو كلب أو رشاش منه ، فإن ظهرت العلامة استعمل ما ظن طهارته ، وإن لم يظهر بالاجتهاد شيء أراقهما وتيمم
وإذا اشتبه ماء طهور بماء ورد توضأ بكل منهما على حدته أو بنجس العين أتلفهما أو أحدهما وتيمم ولا يجتهد في الصورتبن ، إذ ليس لكل من ماء الورد ونجس العين أصل في التطهير حتى يرد بالاجتهاد إليه . وإذا ظن طهارة أحد الإنائين سن له قبل استعماله إراقة الآخر ، فإن لم يرق وتغير اجتهاده قبل الاستعمال فليعمل بالثاني ، أو بعد الاستعمال لم يعمل بهما بل يتألفهما ويتيمم ، ولا يصلى بالوضوء الحاصل منه لظنه الآن نجاسة أعضائه . واعلم أنه إذا أحدث وأراد الوضوء ، وكانا باقيين لزمه الاجتهاد إن لم يكن ذاكراً للدليل الأول ، وإلا فلا يجب ، بل يتوضأ بالاجتهاد الأول ما شاء الله
Dua Faedah
Faedah Pertama: Bagi orang yang berwudhu atau mandi dari wadah berisi air
sedikit, hendaknya menyertakan niat mengambil air (niyyatul ightiraf).
Niat ini adalah maksud mengambil air dari wadah, bukan untuk mengangkat hadas
saat menyentuh air di wadah tersebut.
- Tempat niat pada wudhu: Setelah membasuh wajah dan ketika hendak membasuh
kedua tangan.
- Tempat niat pada mandi: Setelah berniat mandi dan sebelum air menyentuh bagian
tubuh mana pun.
Jika seseorang tidak menyertakan
niat ightiraf tersebut, lalu ia memasukkan kedua tangannya ke wadah
setelah membasuh wajah (pada wudhu) atau memasukkan anggota tubuhnya setelah
berniat (pada mandi), maka sisa air di wadah tersebut berubah status menjadi air
musta'mal (bekas).
Niat ightiraf ini dapat
gugur/tidak diperlukan dalam mandi apabila ia mengambil air dengan kedua
telapak tangannya sebelum berniat mandi, lalu ia mengangkat hadas pada kedua
tangannya di luar wadah; setelah itu ia boleh menggunakan kedua tangannya untuk
mengambil air bagi sisa tubuhnya tanpa perlu niat ightiraf.
Faedah Kedua: Apabila air suci tercampur/samar (isytabah) dengan
air mutanajjis, atau air menyucikan samar dengan air musta'mal:
- Hukum berijtihad (berusaha menentukan pilihan): Berhukum wajib jika kedua air tersebut masih
ada, waktu shalat sudah masuk, dan ia tidak menemukan air lain yang
diyakini kesuciannya. Jika belum masuk waktu atau masih ada air lain,
hukumnya boleh (jawaz).
- Cara berijtihad:
Menganalisis tanda-tanda yang menunjukkan ketidaksucian, seperti perubahan
pada salah satu wadah, berkurangnya volume, pergerakan air, atau jejak
dekatnya anjing maupun cipratan najis. Jika petunjuk tersebut tampak, ia
boleh menggunakan air yang diyakini/diduga kuat suci. Namun, jika ijtihad
tidak menghasilkan tanda apa pun, ia harus membuang/menumpahkan kedua air
tersebut lalu bertayamum.
Aturan Khusus Kasus Samar Lainnya:
- Samar dengan air mawar: Jika air menyucikan samar dengan air mawar, ia
hendaknya berwudhu dengan masing-masing air secara terpisah (satu per
satu).
- Samar dengan najis 'ain (zat najis murni seperti air
kencing): Ia harus membuang keduanya
atau salah satunya, lalu bertayamum. Ia tidak boleh berijtihad pada
kedua kondisi ini (kasus air mawar dan najis 'ain), karena air mawar dan
najis 'ain tidak memiliki dasar/sifat asal yang dapat menyucikan untuk
dijadikan acuan ijtihad.
- Prosedur setelah ijtihad: Jika seseorang menduga kuat kesucian salah satu wadah,
disunnahkan baginya untuk membuang wadah yang satu lagi sebelum
menggunakan air yang dipilih.
- Jika ia tidak membuangnya, lalu pandangan ijtihadnya
berubah sebelum menggunakan air, ia harus mengikuti hasil ijtihad
yang kedua.
- Jika pandangan ijtihadnya berubah setelah
menggunakan air, ia tidak boleh berpatokan pada kedua hasil ijtihad
tersebut; ia harus membuang sisa kedua air itu lalu bertayamum. Shalat
yang dikerjakan dengan wudhu pertama tidak sah untuk dilanjutkan (harus
diulang) karena ia kini menganggap anggota tubuhnya terkena najis.
- Ijtihad untuk shalat berikutnya: Jika ia berhadas kembali dan ingin berwudhu, sementara
kedua air masih tersisa, ia wajib berijtihad ulang jika ia lupa
pada dalil/petunjuk ijtihad pertama. Jika ia masih ingat petunjuk pertama,
ia tidak wajib berijtihad ulang dan boleh berwudhu berdasarkan ijtihad
pertamanya selama yang ia kehendaki.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.