بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Cahaya-Cahaya
Menghadap (Anwarut-Tawajjuh) dan Cahaya-Cahaya Perjumpaan (Anwarul-Muwajahah)
أنوار التوجه وأنوار المواجهة
ثم ذكر سبب اتساع العلوم على الواصلين دون السائرين ، وهو أن الواصلين لم يقفوا مع شهود الأنوار بل نفذوا إلى نور الأنوار ، بخلاف السائرين فإنهم واقفون مع الأنوار مفتقرون إليها مملوكون في يدها فقال : [ اهتدى الراحلون إليه بأنوار التوجه ، والواصلون لهم أنوار المواجهة . فالأولون للأنوار وهؤلاء الأنوار لهم ، لأنهم لله لا لشيء دونه ( قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرَّهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ ) ]ا
قلت : أنوار التوجيه : هي أنوار الإسلام والإيمان ، وأنوار المواجهة ، هي أنوار الإحسان . أو تقول : أنوار التوجيه ، أنوار الطاعة الظاهرة والباطنة ؛ وأنوار المواجهة هي أنوار الفكرة والنظرة . أو تقول : أنوار التوجه أنوار الشريعة والطريقة ، وأنوار المواجهة أنوار الحقيقة . أو تقول : أنوار التوجه أنوار المجاهدة والمكابدة ، وأنوار المواجهة هي أنوار المشاهدة والمكالمة ، وبيان ذلك أن الحق سبحانه إذا أراد أن يوصل عبده إليه توجه إليه أولا بنوره حلاوة العمل الظاهر ، وهو مقام الإسلام ، فيهتدى إلى العمل ويثنى فيه ويذوق حلاوته ، ثم يتوجه إليه بنور حلاوة العمل الباطن ، وهو مقام الإيمان من الإخلاص والصدق والطمأنينة والأنس بالله ، والتوحش مما سواه ، فيهتدى إليه ويفنى فيه ، ويذوق حلاوته ، ويتمكن من المراقبة ، وهذا النور أعظم من الأول وأكمل ، ثم يتوجه إليه بنور حلاوة المشاهدة وهو عمل الروح ، وهو أول نور المواجهة ، فتأخذه الدهشة والحيرة والسكرة . فإذا أفاق من سكرته ، وصحا من جذبتها ، وتمكن من الشهود وعرف الملك المعبود ، ورجع إلى البقاء كان لله وبالله ، فاستغنى عن النور بمشاهدة نور النور ، لأنه صار عين النور ، فصار مالكًا للأنوار بعد أن كانت مالكة له ، لافتقاره لها قبل وصوله إلى أصلها ، فلما وصل صار عبد الله حرًا مما سواه ، ظاهره عبودية ، وباطنه حرية
Kemudian beliau (Syekh Ibnu
Ataillah) menyebutkan sebab luasnya ilmu para Washilin (orang-orang yang
telah sampai kepada Allah) dibandingkan para Sairin (orang-orang yang
sedang berjalan menuju Allah), yaitu bahwa para Washilin tidak berhenti
pada penyaksian cahaya-cahaya semata, melainkan menembus hingga ke Cahayanya
Cahaya (Nurul Anwar). Berbeda dengan para Sairin, mereka berhenti
pada cahaya-cahaya, membutuhkan kepadanya, dan dikuasai olehnya. Beliau
berkata:
اهتدى
الراحلون إليه بأنوار التوجه ، والواصلون لهم أنوار المواجهة . فالأولون
للأنوار وهؤلاء الأنوار لهم ، لأنهم لله لا لشيء دونه ( قُلِ اللَّهُ ثُمَّ
ذَرَّهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ ) ا
[ "Orang-orang yang berjelajah
menuju-Nya mendapat petunjuk dengan cahaya-cahaya menghadap (anwarut-tawajjuh),
sedangkan orang-orang yang telah sampai (al-washilun) memiliki cahaya-cahaya
berhadapan (anwarul-muwajahah). Golongan pertama milik cahaya, sedangkan
golongan kedua cahaya milik mereka, karena mereka adalah milik Allah dan bukan
milik sesuatu selain-Nya. (Katakanlah: "Allah-lah [yang
meurunkannya]", kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesibukan
mereka) ]
Aku (Ibnu 'Ajaibah) katakan:
- Cahaya-cahaya menghadap (Anwarut-Tawajjuh) adalah cahaya Islam dan Iman, sedangkan cahaya-cahaya
berhadapan (Anwarul-Muwajahah) adalah cahaya Ihsan.
- Atau engkau dapat katakan: Cahaya menghadap adalah
cahaya ketaatan lahiriah dan batiniah; sedangkan cahaya berhadapan adalah
cahaya perenungan (fikrah) dan pandangan batin (nazharah).
- Atau engkau katakan: Cahaya menghadap adalah cahaya
Syariat dan Tarekat, sedangkan cahaya berhadapan adalah cahaya Hakikat.
- Atau engkau katakan: Cahaya menghadap adalah cahaya
kesungguhan (mujahadah) dan kepayahan perjuangan (mukabadah),
sedangkan cahaya berhadapan adalah cahaya penyaksian (musyahadah)
dan percakapan batin (mukalamah).
Penjelasan mengenai hal tersebut
adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila hendak menyampaikan
seorang hamba kepada-Nya, pertama-tama Dia akan menghadapkan padanya cahaya
manisnya amal lahiriah—yaitu maqam Islam—sehingga ia mendapat petunjuk untuk
beramal, tekun di dalamnya, serta meresapi manisnya amal tersebut.
Kemudian Dia menghadapkan padanya
cahaya manisnya amal batiniah—yaitu maqam Iman yang terdiri dari keikhlasan,
kejujuran, ketenangan, keakraban (uns) dengan Allah, serta rasa asing
dari selain-Nya. Maka ia pun mendapat petunjuk, lebur (fana) di
dalamnya, meresapi manisnya, dan mampu menguasai muraqabah (perasaan
selalu diawasi Allah). Cahaya ini lebih besar dan lebih sempurna dari yang
pertama.
Kemudian Dia menghadapkan padanya
cahaya manisnya musyahadah (penyaksian batin), yang merupakan tingkatan
amalan roh sekaligus cahaya berhadapan (nurul muwajahah) yang pertama.
Maka ia pun diliputi rasa takjub, kebingungan spiritual (hairah), dan
ketidaksadaran (sakra).
Apabila ia telah sadar dari
ketidaksadarannya dan pulih dari tarikan keilahian (jadzbah) tersebut,
serta mantap dalam penyaksian (syuhud) dan mengenali Sang Raja yang
disembah, lalu ia kembali ke maqam Baqa’ (kekekalan bersama Allah), maka
ia ada karena Allah dan bersama Allah. Ia tidak lagi membutuhkan cahaya karena
telah menyaksikan Sang Pencipta Cahaya (Nurul Anwar), sebab ia telah
menjadi "inti dari cahaya" itu sendiri. Maka ia menjadi
pemilik/penguasa atas cahaya-cahaya tersebut, setelah sebelumnya cahaya-cahaya
itu yang menguasai dirinya karena ketergantungannya pada cahaya sebelum sampai
ke sumbernya.
Ketika ia telah sampai ke sumbernya,
jadilah ia hamba Allah yang merdeka dari segala sesuatu selain-Nya: lahirnya
adalah perhambaan ('ubudiyyah), dan batinnya adalah kemerdekaan (hurriyyah).
والحاصل : أن المريد مادام في السير فهو يهتدى بأنوار التوجيه ، مفتقرًا إليها لسيره بها ، فإذا وصل إلى مقام المشاهدة حصلت له أنوار المواجهة فلم يفتقر إلى شىء ، لأنه لله لا لشىء دونه ، فالراحلون وهم السائرون للأنوار ، لافتقارهم إليها وفرحهم بها ، وهؤلاء الواصلون الأنوار لهم لاستغنائهم عنها بالله ، فهم لله وبالله لا لشىء دونه ، ثم تلا الشيخ هذه الآية على طريق أهل الإشارة : ( قُلِ اللَّهُ ) بقلبك وروحك ، وغب عما سواه ( ثُمَّ ذَرْهُمْ ) أى الناس : أى اتركهم ( فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ ) . أى يخوضون فى السُّوى لاعبين فى الهوى . وقد اعترض بعض المفسرين على الصوفية استشهادهم بهذه الآية ولم يفهم مرادهم . ( قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ) (١) . وكان الشيخ ابن عباد يقول : لا تجعلوا أهل الظاهر حجة على أهل الباطن اهـ . لأن أهل الباطن نظرهم دقيق وغزلهم رقيق ، لا يفهم إشارتهم غيرهم ، نفعنا الله بهم ، وخرطنا فى سلكهم آمين . هذا آخر الباب الثانى . وحاصلها : آداب المعارف وعلاماته ، فالآداب ثمانية ، العلامات أربع : الرجوع إليه فى كل شىء ، والاعتماد عليه فى كل حال ، والغيبة فيه عن كل شىء ، والاستدلال به على كل شىء ، واتساع أرزاق العلوم ، وفتح مخازن الفهوم ، والوصل إلى مواجهة الأنوار ، والغيبة عنها بشهود الواحد القهار .
Kesimpulannya: Bahwa seorang murid
(pejalan spiritual) selama ia masih dalam perjalanan (suluk), ia akan
mendapat petunjuk melalui cahaya-cahaya menghadap (anwarut-tawajjuh). Ia
sangat membutuhkan cahaya-cahaya tersebut karena ia menempuh perjalanan
dengannya. Namun, apabila ia telah sampai pada maqam musyahadah
(penyaksian), maka ia memperoleh cahaya-cahaya berhadapan (anwarul-muwajahah),
sehingga ia tidak lagi membutuhkan suatu apa pun, karena ia sepenuhnya milik
Allah, bukan milik sesuatu selain-Nya.
Maka para penjelajah (ar-rahilun),
yaitu mereka yang masih berjalan (as-sairun), adalah milik cahaya,
karena ketergantungan mereka padanya dan rasa gembira mereka dengannya.
Sedangkan mereka yang telah sampai (al-washilun), cahaya-cahayalah
yang menjadi milik mereka, karena ketidaktergantungan mereka pada
cahaya-cahaya tersebut berkat kecukupan dari Allah. Maka mereka adalah milik
Allah dan senantiasa bersama Allah, bukan milik sesuatu selain-Nya.
Kemudian Syekh (Ibnu Ataillah)
membacakan ayat ini melalui metode isyarat (tafsir ahli tasawuf):
(Katakanlah: "Allah") dengan hati dan rohmu, dan ghaiblah (lenyaplah) dari segala
sesuatu selain Dia, (kemudian biarkanlah mereka) yakni manusia:
maksudnya tinggalkanlah mereka (bermain-main dalam kesibukan mereka).
Yakni, mereka tenggelam dan sibuk
pada hal-hal selain Allah (as-siwa), bermain-main menuruti hawa nafsu.
Sebagian ahli tafsir pernah melontarkan kritik terhadap kaum Sufi atas
penggunaan ayat ini sebagai dalil, hal itu karena mereka (ahli tafsir tersebut)
sebenarnya tidak memahami maksud dari kaum Sufi.
(Tiap-tiap suku telah mengetahui
tempat minumnya / cara memahaminya masing-masing).
Syekh Ibnu 'Abbad pernah berkata: "Janganlah
kalian menjadikan ahli zahir (ulama syariat) sebagai hakim/hujah untuk menilai
ahli batin (ulama hakikat)." Demikian kutipannya. Hal ini dikarenakan
pandangan ahli batin itu sangat mendalam dan jalinan (pemikiran) mereka sangat
halus, sehingga tidak ada yang dapat memahami isyarat mereka kecuali dari
kalangan mereka sendiri. Semoga Allah memberikan kita kemanfaatan melalui
mereka, dan memasukkan kita ke dalam barisan mereka, Amin.
Ini adalah akhir dari Bab Kedua.
Kesimpulannya mencakup tentang
adab-adab (mencari) makrifat dan tanda-tandanya. Adabnya ada delapan, dan
tandanya ada empat:
- Kembali kepada-Nya dalam segala hal.
- Bersandar (bertawakal) kepada-Nya dalam setiap keadaan.
- Fana
(lenyap) di dalam-Nya sehingga melupakan segala sesuatu.
- Menjadikan-Nya sebagai petunjuk atas segala sesuatu.
- Luasnya limpahan rezeki ilmu (ilmu laduni).
- Terbukanya gudang-gudang pemahaman.
- Sampai pada tingkatan berhadapan dengan cahaya-cahaya (muwajahatul
anwar).
- Dan lenyap dari cahaya-cahaya tersebut karena
(tenggelam dalam) menyaksikan Zat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (Asy-Syuhud
al-Wahid al-Qahhar).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.