بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Keberhasilan
di Akhir dan Penyebabnya
النجاح
في النهايات وسببه
ومَن كان علمه بالله كان راجعًا إليه في كل شيءٍ ومعتمدًا عليه في كل حال، وإليه أشار بقوله: [من علامة الناجح في النهايات الرجوع إلى الله في البدايات] . النجح في الشيء: هو بلوغ القصد، والمراد فيه، ونجحت مطالبه إذا قضيت وبلغ منها ما أحب، ونهاية الشيء: تمامه، وبدايته: أوله
قلت: إذا توجهت همتك أيها المريد إلى طلب شيء أَيَّ شيء كان، وأردت أن ينجح أمره، وتبلغ مرادك فيه، وتكون نهايته حسنة، وعاقبته محمودة، فارجع إلى الله في بداية طلبه، وانسلخ من حولك وقوتك، وقل كما قال عليه الصلاة والسلام
« إِنْ يَكُنْ مِنْ عِنْدِ اللهِ يُمْضِهِ فَلَا تَحْرِصْ عَلَيْهِ وَلَا تَهْتَمَّ بِشَأْنِهِ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ رَبُّنَا لَمْ يَكُنْ، فَلَوِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يُقَدِّرْهُ اللهُ لَكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يُقَدِّرْهُ اللهُ عَلَيْكَم لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ، جَفَّتِ الأَقْلَامُ وَطُوِيَتِ الصُّحُفُ » كما في الحديث
فإذا طلبت شيئًا وكنت معتمدًا على الله ومفوضًا أمرك إلى الله تنظر إلى ما سبق في علم الله، كان ذلك علامة نجح نهايتك، وحصول مطلبك، قُضيَتْ في الحس أو لم تُقْضَ، لأن مرادك مع مراد الله لا مع مراد نفسك، قد انقلبت حظوظك حقوقًا، لا تشتهي إلا ما قضى الله، ولا تنظر إلا ما يبرز من عند الله، فَنَفَيْتَ عن حظوظك وشهواتك، وإن طلبت شيئًا بنفسك، معتمدًا على حولك وقوتك، حريصًا على قضائها، جاهدًا في طلبها، كان ذلك علامة على عدم قضائها، وخيبة الرجاء فيها وعدم نجح نهايتها، وإن قضيت في الحس وُكِّلْتَ إليها، فتعبت بسببها ولم تُعَنْ على شئونها ومآربها، وهذا كله مجرب صحيح عند العام والخاص، وهذه الحكمة تتميم لما قبلها وشرح لها، والله تعالى أعلم
Barang siapa yang pengetahuannya
tentang Allah baik, maka ia akan kembali kepada-Nya dalam segala hal dan
bersandar kepada-Nya dalam setiap keadaan. Dan kepada hal inilah beliau (Ibnu
Ataillah) mengisyaratkan dengan perkataannya:
[من علامة الناجح في النهايات الرجوع إلى الله في البدايات]
[Di antara tanda keberhasilan
seseorang di akhir adalah kembali (bersandar) kepada Allah di awal usaha.]
- Keberhasilan (النجح) pada sesuatu artinya: Tercapainya maksud dan tujuan.
Seseorang dikatakan berhasil tuntutannya jika kebutuhannya terpenuhi dan
ia mencapai apa yang disukainya.
- Akhir (نهاية) sesuatu artinya: Kesempurnaannya.
- Awal (بداية) sesuatu artinya: Permulaannya.
Saya (Penulis) katakan: Jika tekadmu—wahai para murid (pencari kebenaran)—telah
terarah untuk menuntut/menginginkan sesuatu, apa pun itu, dan engkau ingin
urusan itu berhasil, tercapai tujuanmu padanya, memiliki akhir yang baik, serta
kesudahan yang terpuji, maka kembalilah kepada Allah pada awal pencariannya,
lepaskanlah dirimu dari daya dan kekuatarmu sendiri, dan ucapkanlah sebagaimana
yang disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Jika sesuatu itu datang dari
sisi Allah, maka Allah akan melaksanakannya. Maka janganlah engkau terlalu
berambisi padanya dan jangan pula terlalu cemas dengan urusannya. Apa yang
dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan
terjadi. Seandainya seluruh manusia dan jin berkumpul untuk memberimu manfaat
dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu
melakukannya. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu
dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan Allah atasmu, mereka tidak akan mampu
melakukannya. Pena telah kering dan lembaran-lembaran telah diangkat." (sebagaimana terdapat dalam hadis).
Maka, jika engkau menginginkan
sesuatu sementara engkau bersandar kepada Allah dan memasrahkan urusanmu
kepada-Nya, serta selalu melihat kepada apa yang telah ada dalam ilmu Allah,
maka itu merupakan tanda keberhasilan akhir urusanmu dan tercapainya
keinginanmu—baik itu terwujud secara nyata (lahiriah) maupun tidak terwujud.
Sebab, keinginanmu telah selaras dengan keinginan Allah, bukan dengan keinginan
nafsumu. Bagian/keinginan pribadimu telah berubah menjadi pemenuhan hak-hak
Allah; engkau tidak menyukai kecuali apa yang telah ditetapkan Allah, dan tidak
melihat kecuali apa yang muncul dari sisi Allah, sehingga engkau telah terbebas
dari hawa nafsu dan kesenangan pribadimu.
Sebaliknya, jika engkau menginginkan
sesuatu dengan bersandar pada dirimu sendiri, mengandalkan daya dan
kekuatanmu, sangat bernafsu untuk memenuhinya, serta bersusah payah mencarinya,
maka hal itu merupakan tanda tidak akan terwujudnya keinginan tersebut,
kekecewaan dari harapan padanya, dan ketidakberhasilan pada akhirnya. Kalaupun
keinginan itu terwujud secara nyata (lahiriah), engkau akan dipasrahkan pada
dirimu sendiri, sehingga engkau akan merasa lelah karenanya dan tidak dibantu
dalam mengurus serta menyelesaikan urusan-urusannya.
Semua ini adalah hal yang telah
teruji dan benar menurut kalangan awam maupun khusus. Hikmah ini merupakan
penyempurna dan penjelasan bagi hikmah sebelumnya. Wallahu ta'ala a'lam
(Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
ثم كمل هذه المسألة بقاعدة كلية تصدق بما تقدم وبغيره ، فقال : [ من أشرقت بدايته أشرقت نهايته ] . قلت : إشراق البداية : هو الدخول فيها بالله ، وطلبها بالله ، والاعتماد فيها على الله ، مع السعي في أسبابها والاعتناء في طلبها ، قيامًا بحق الحكمة ، وأدبًا مع القدرة ، ويعظم السعي في السبب بقدر عظمة مطلب بقدر المجاهدة تكون بعدها المشاهدة : ﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾ ﴿ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
فمن رأيناه في بدايته جادًّا في طلب الحق ، معرضًا عن الأنس بالخلق ، مستغرقًا في خدمة مولاه ، ناسيًا لحظوظه وهواه ، علمنا أن نهايته مشرقة ، وعاقبته محمودة ، ومآربه مقضية ومن رأيناه مقصرًا في طلب مولاه ، لم يخرج عن نفسه وهواه ، علمنا أنه كاذب في دعواه ، فنهايته الحرمان ، وعاقبته الخذلان ، إلا أن يتداركه الكريم المنان . هذا في طريق الوصول إلى حضرة الحق
وأما إشراق البداية في طلب حوائج الدنيا أو المقامات أو المراتب أو الخصوصية مثلا ، فهو بالزهد فيها والإعراض عنها ، والاشتغال بالله عنها . قال بعضهم : لا تدرك المراتب إلا بالزهد فيها . قال الشيخ أبو الحسن : كنت أنا وصاحب لي نعبد الله في مغارة ونقول في هذا الشهر يفتح الله علينا ، في هذه الجمعة يفتح الله علينا ؛ فوقف على باب المغارة رجل عليه سمات الخير فقال : السلام عليكم فرددنا عليه السلام وقلنا له : كيف أنت ؟ فنهض علينا وقال : كيف يكون حال من يقول : في هذا الشهر يفتح الله ، في هذه الجمعة يفتح الله ، لا فتح ولا فلاح ، هلا عبدنا الله كما أمرنا ؟ ثم غاب عنا ، تفهمنا من أين أخذنا ، فرجعنا على أنفسنا باللوم ، ففتح الله علينا اهـ بالمعنى ذكره في التنوير. فمن طلب الخصوصية كان عبد الخصوصية وفاته حظه من الله حتى يتوب . ومن كان عبد الله نال حظه من العبودية ، وأدركته الخصوصية من غير التفات ولا طلب ، والله تعالى أعلم
Kemudian beliau (Ibnu Ataillah)
menyempurnakan masalah ini dengan sebuah kaidah menyeluruh yang membenarkan
penjelasan sebelumnya dan hal lainnya, beliau berkata:
[ من أشرقت بدايته أشرقت نهايته ]
[Barang siapa yang permulaannya
bersinar (diawali karena Allah), maka puncaknya/akhirnya pun akan bersinar.]
Saya (Penulis) katakan: Yang dimaksud "Sinar Permulaan" (إشراق البداية) adalah: Memulai sesuatu karena Allah,
mencarinya dengan memohon pertolongan Allah, dan bersandar kepada Allah dalam
hal itu, disertai ikhtiar pada sebab-sebabnya dan bersungguh-sungguh dalam
mencarinya—sebagai bentuk menunaikan hukum hikmah (syariat/sebab-akibat) dan
beradab terhadap takdir/kekuasaan Allah. Usaha dalam mencari sebab akan semakin
besar sebanding dengan keagungan tujuan yang dicari, sebab tingkat musyahadah
(penyaksian keagungan Allah) setelahnya tergantung pada kadar mujahadah
(kesungguhan/perjuangan):
"Dan orang-orang yang berjihad
untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69) "Sesungguhnya
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS.
Al-A'raf: 56)
Barang siapa yang kita lihat pada
permulaannya bersungguh-sungguh dalam mencari Al-Haq (Allah), berpaling
dari rasa nyaman bergantung pada makhluk, tenggelam dalam berkhidmat kepada
Tuhannya, serta melupakan bagian hawa nafsunya, maka kita tahu bahwa akhirnya
akan bersinar, kesudahannya terpuji, dan tujuannya akan dikabulkan.
Sebaliknya, barang siapa yang kita
lihat lalai dalam mencari Tuhannya, tidak keluar dari lingkar nafsu dan
keinginannya, maka kita tahu bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Maka akhirnya
adalah kerugian dan kesudahannya adalah kehampaan/penelantaran, kecuali
jika Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi Karunia menyelamatkannya. Ini
berlaku dalam jalan wushul (sampai) ke hadirat Allah Al-Haq.
Adapun "Sinar
Permulaan" dalam menuntut hajat-hajat duniawi, pangkat, kedudukan,
atau keutamaan khusus (khashshiyyah), maka hal itu dicapai dengan cara berzuhud
padanya (tidak terikat), berpaling darinya, dan sibuk fokus kepada Allah
daripada mengejar hal-hal tersebut.
Sebagian ulama berkata: "Derajat/kedudukan
tinggi tidak akan tercapai kecuali dengan berzuhud (tidak berambisi) terhadap
kedudukan itu sendiri."
Syaikh Abu Al-Hasan (Asy-Syadzili)
bercerita:
"Dahulu aku dan seorang sahabatku
beribadah kepada Allah di dalam sebuah gua. Kami sering berkata: 'Bulan ini
Allah akan membuka pintu fath (kebukakan spiritual) untuk kita', atau
'Jumat ini Allah akan membuka fath untuk kita'.
Tiba-tiba di pintu gua berdiri
seorang laki-laki yang memiliki tanda-tanda kebaikan, ia berkata: 'Assalamu
'alaikum'. Kami membalas salamnya dan bertanya: 'Bagaimana kabarmu?'
Laki-laki itu justru menegur kami
dan berkata: 'Bagaimana bisa berhasil keadaan seseorang yang selalu berkata:
"Bulan ini Allah akan memberi fath, Jumat ini Allah akan memberi
fath"? Tidak akan ada fath dan keberuntungan! Mengapa kita tidak menyembah
Allah saja sebagaimana yang Dia perintahkan kepada kita (tanpa menuntut
balasan/waktu)?'
Kemudian orang itu menghilang dari
kami. Kami pun paham dari mana kami meneguk pelajaran (kesalahan kami), lalu
kami menyalahkan diri kami sendiri. Setelah itu, barulah Allah membukakan (fath)
untuk kami."
(Selesai riwayat secara makna yang
disebutkan dalam kitab At-Tanwir).
Maka barang siapa yang menuntut
keistimewaan (khashshiyyah), pada hakikatnya dia adalah hamba
keistimewaan (bukan hamba Allah) dan dia kehilangan bagian keridaan dari
Allah sampai dia bertobat. Dan barang siapa yang menjadi hamba Allah yang
sejati, ia akan mendapatkan bagian dari kehambaaannya, dan keistimewaan itu
akan mendatanginya tanpa perlu berpaling mengejarnya ataupun memintanya.
Wallahu ta'ala a'lam (Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
ثم إن هذه الأمور التي تشرق بها البداية وتكون علامة على إشراق النهاية هي أمور باطنية ، كالاعتماد على الله ، والرجوع إليه ، أو كثرة الشوق والاشتياق إليه ، ولكن لابد من ظهور أثرها على الظاهر ، وإليه أشار بقوله : [ ما استودع من غيب السرائر ظهر في شهادة الظواهر ]
استودع أي وضع ، فالاستيداع : هو وضع الشيء في محل ليحفظ ، وغيب السرائر هو باطنها ، والمراد بالسرائر هو القلوب والأرواح ، وشهادة الظواهر : هي ظاهر الجوارح
قلت : ما استودع الله سبحانه في القلوب وجعله فيها ، من خير أو شر ، من نور أو ظلمة ، من علم أو جهل ، من رحمة أو قسوة ، من بخل أو شُحّ ، أو كرم وسخاء ، وقبض وبسط ، ويقظة أو غفلة ، ومعرفة أو نكران ، أو غير ذلك من الأخلاق المحمودة أو المذمومة ، لابد أن يظهر آثار ذلك على الجوارح ، من أدب وتهذيب ، وسكون وطمأنينة ورزانة ، وبذل وعفو ، أو طيش وقلق وغضب ، وغير ذلك من الأحوال القلبية والأعمال القالبية قال تعالى
﴿ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ ﴾ (1) وقال تعالى : ﴿ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم ﴾ (2) وقال صلى الله عليه وسلم : « مَنْ سَرَّ سَرِيرَةً كَسَاهُ اللهُ رِدَاءَهَا
فأفعال الجوارح تابعة لأحوال القلوب ، فمن أودع في سر غيبه معرفة مولاه لم يطلب مَن سواه ؛ ومن أودع في سر غيبه الجهل بمولاه تعلق بما سواه ،وهكذا أحوال الظاهر تابعة لأحوال الباطن ، كما تقدم في قوله : تنوعت أجناس الأعمال لتنوع واردات الأحوال
فالأسرَّة تدل على السريرة ، والكلام صفة المتكلم ، وما فيك ظهر على فيك : « وكل إناء بالذي فيه يَرْشَحُ » وما خامر القلوب فعلى الوجوه أثره ، والله تعالى أعلم
Kemudian, sesungguhnya
perkara-perkara yang membuat permulaan seseorang bersinar (diawali dengan baik)
serta menjadi tanda atas bersinarnya akhir (keberhasilan) adalah hal-hal
yang bersifat batiniah, seperti bersandar kepada Allah, kembali kepada-Nya,
atau besarnya rasa rindu dan kerinduan yang mendalam kepada-Nya. Namun,
bekas/pengaruhnya pasti akan tampak pada amalan lahiriah. Dan kepada hal inilah
beliau (Ibnu Ataillah) mengisyaratkan dengan perkataannya:
[ ما استودع من غيب السرائر ظهر في شهادة الظواهر ]
[Apa yang dititipkan/disimpan dalam
keghaiban batin (hati), niscaya akan tampak pada kesaksian lahiriah (anggota
tubuh).]
- Disimpan (Ustaudi'a): Artinya diletakkan. Penitipan/penyimpanan adalah
meletakkan sesuatu di suatu tempat agar terjaga.
- Keghaiban batin (Ghaib as-Sarair): Adalah bagian dalam dari batin itu sendiri. Yang
dimaksud dengan as-sarair (rahasia-rahasia batin) adalah hati dan
roh.
- Kesaksian lahiriah (Syahadat azh-Zhawahir): Adalah bagian luar dari anggota tubuh (jawarih).
Saya (Penulis) katakan: Apa pun yang dititipkan dan dijadikan oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala di dalam hati—baik berupa kebaikan atau keburukan, cahaya atau
kegelapan, ilmu atau kebodohan, kasih sayang atau keras hati, sifat kikir/pelit
atau sifat pemurah/dermawan, rasa sesak/cemas (qabdh) atau lapang (basht),
kesadaran atau kelalaian, pengenalan (ma'rifah) atau pengingkaran,
maupun akhlak-akhlak terpuji dan tercela lainnya—niscaya bekas/pengaruhnya
akan tampak pada anggota tubuh.
Hal itu akan terlihat dari sikap
adab, kesantunan, ketenangan, kedamaian, kemuliaan diri, kedermawanan, serta
pemaaf; atau sebaliknya berupa kecerobohan, kecemasan, kemarahan, dan hal-hal
lainnya yang merupakan cerminan dari kondisi hati (ahwal qalbiyah) serta
amalan fisik (a'mal qalbiya).
Allah Ta'ala berfirman:
"Engkau mengenal mereka dari
tanda-tanda mereka..." (QS.
Al-Baqarah: 273)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tanda-tanda mereka tampak pada
wajah mereka..." (QS. Al-Fath: 29)
Dan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang
menyembunyikan suatu rahasia batin, niscaya Allah akan memakaikan baju luar
(menampakkan sifat) dari rahasia batinnya itu."
Maka perbuatan anggota tubuh itu
pada hakikatnya mengikuti kondisi hati. Barang siapa yang di dalam rahasia
batinnya dititipkan ma'rifah (pengenalan) kepada Tuhannya, maka ia tidak
akan mencari selain-Nya. Dan barang siapa yang di dalam rahasia batinnya
dititipkan kebodohan akan Tuhannya, maka ia akan bergantung kepada selain-Nya.
Demikianlah kondisi lahiriah selalu
mengikuti kondisi batiniah, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya pada
bait: "Beraneka ragamnya jenis-jenis amalan adalah karena beraneka
ragamnya dorongan kondisi batin (wardat al-ahwal)."
Maka raut wajah (as-sarrah)
menunjukkan rahasia hati (as-sarirah), dan perkataan adalah sifat dari
orang yang berbicara. Apa yang ada di dalam dirimu akan tampak pada lisanmu:
"Setiap bejana hanya akan
memercikkan/mengalirkan apa yang ada di dalamnya."
Dan apa yang menyatu di dalam hati,
maka bekasnya akan terlihat jelas pada raut wajah. Wallahu ta'ala a'lam
(Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
وأعظم ما استودع في غيب السرائر معرفة الله . وهي على قسمين : معرفة البرهان ومعرفة العيان ، أشار إلى الفرق بينهما فقال
شتان بين من يستدل به أو يستدل عليه ، المستدل به عرف الحق لأهله ، فأثبت الأمر من وجود أصله ، والاستدلال عليه من عدم الوصول إليه ، وإلا فمتى غاب حتى يستدل عليه ؟ ومتى بعد حتى تكون الآثار هي التي توصل إليه
شتان : بمعنى بعد وافترق ، ولا تكون إلا في افتراق المعاني دون الحسيات
قلت : اعلم أن الحق سبحانه لما أراد أن يتجلى بأسرار ذاته وأنوار صفاته أظهر بقدرته قبضة من نوره الأزلي ، فاقتضت القدرة ظهور آثارها وشود أنوارها ، واقتضت الحكمة إسبال حجابها وإظهار أستارها ، فلما أفرغت القدرة نورها في مظاهر الكون أسدلت عليها الحكمة رداء الصون ، فصارت الأكوان كلها نورًا في حجاب مستور
ثم إن الحق سبحانه قسم الخلق قسمين وفرقهم فرقتين : قسم اختصاصهم بمحبته وجعلهم من أهل ولايته ، ففتح لهم الباب ، وكشف لهم الحجاب ، فأشهدهم أسرار ذاته ، ولم يحجبهم عنه بآثار قدرته . وقسم أقامهم لخدمته ، وجعلهم من أهل حكمته ، أسدل عليهم حجاب الوهم ، وغيب عنهم نور العلم والفهم ، فوقفوا مع ظواهر القشور ولم يشهدوا بواطن النور ، مع شدة الظهور ، فسبحان من أخفى سره بحكمته ، وأظهر نوره بقدرته . فأما أهل المحبة وهم أهل الولاية والعرفان ، من أهل شهود والعيان ، فهم يستدلون بالنور على وجود المستور ، فلا يرون إلا النور ، وبالحق على وجود الخلق فلا يجدون إلا الحق ، وبقدرته على حكمته فوجدوا قدرته عين حكمته ، وحكمته عين قدرته ، فغابوا بشهود الحق عن رؤية الخلق ، إذ محال أن تشهده وتشهد معه سواه ، وأما أهل الخدمة من أهل الحكمة فهم يستدلون بظهور المستور على وجود النور ، وبالخلق على وجود الحق ، غابوا عنه في حال حضوره ، وحجبوا عنه بشدة ظهوره
قال بعض العارفين : أثبت الله تعالى للعامة المخلوق فأثبتوا به الخالق ، وأثبت للخاصة نفسه فأثبتوا به المخلوق اهـ . فشتان : أي فرق كبير بين من يستدل به على ظهور أثره ، وبين من يستدل بظهور أثره على وجوده ، لأن من يستدل به عرف الحق وهو الوجود الحقيقي لأهله : أي لمن هو أهل له ويستحقه وهو الله الواجب الوجود ، الملك المعبود . وأثبت الأمر وهو القدم للوجود الحقيقي من وجود أصله ، وهو الجبروت الأصلي القديم الأزلي ، يعني أن من عرف الله حتى صار عنده ضروريًّا عرف الوجود إنما هو الله ، وانتفى عنه وجود ما سواه ، وأثبت القدم لأوله ومنتهاه
أو تقول : عرف الحق وهو الوجود الأصلي لأهله وهو الله تعالى ، وأثبت الأمر وهو الوجود الفرعي من وجود أصله : أي ألحقه بأصله ، فإذا التحق الفرع بالأصل صار الجميع جبروتيًّا أصليًّا ، ويحتمل أن يكون معناهما واحدًا ، ويكون التقدير عرف الوجود الحقيقي لأهله ، وأثبت ذلك الأمر من أصله ، كقولك : عرفت هذا الحكم وأثبت به من أصله ، والله تعالى أعلم
Dan hal paling agung yang dititipkan
dalam keghaiban batin (hati) adalah ma'rifatullah (pengenalan kepada Allah).
Ma'rifat itu terbagi menjadi dua kelompok: Ma'rifat al-Burhan
(pengenalan melalui dalil/bukti) dan Ma'rifat al-'Iyan (pengenalan
melalui penyaksian batin langsung). Beliau (Ibnu Ataillah) mengisyaratkan
perbedaan antara keduanya dengan perkataannya:
شتان بين من يستدل به أو
يستدل عليه ، المستدل به عرف الحق لأهله ، فأثبت الأمر من وجود أصله ،
والاستدلال عليه من عدم الوصول إليه ، وإلا فمتى غاب حتى يستدل عليه ؟ ومتى
بعد حتى تكون الآثار هي التي توصل إليه
[Sungguh jauh berbeda antara orang
yang menjadikan Allah sebagai dalil (untuk mengenali makhluk) dengan orang yang
menjadikan makhluk sebagai dalil untuk mengenali Allah. Orang yang menjadikan
Allah sebagai dalil, ia mengenal Al-Haq (Allah) bagi yang berhak memilikinya,
lalu ia menetapkan adanya hal lain dari keberadaan Dzat Aslinya. Sedangkan
menjadikan makhluk sebagai dalil untuk mengenali Allah menunjukkan belum
sampainya ia kepada Allah. Sebab, bilakah Allah pernah ghaib (bersembunyi)
hingga membutuhkan dalil untuk membuktikan-Nya? Dan bilakah Allah pernah jauh
hingga bekas-bekas ciptaan-Nya yang menjadi perantara untuk sampai kepada-Nya?]
- Syattana (شتان): Artinya sangat jauh atau berbeda, dan kata ini hanya
digunakan untuk perbedaan makna/kualitas batiniah, bukan benda fisik.
Saya (Penulis) katakan: Ketahuilah bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala
hendak bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) dengan rahasia-rahasia Dzat-Nya
dan cahaya-cahaya sifat-Nya, Dia menampakkan dengan kekuasaan-Nya (qudrah)
segenggam dari cahaya-Nya yang azali. Maka qudrah menghendaki tampaknya
bekas-bekas ciptaan dan terlihatnya cahaya-cahaya tersebut, sedangkan hikmah (hikmah)
menghendaki dilaskannya tirai pelindung (hijab) dan ditutupi-Nya rahasia
tersebut. Ketika qudrah mencurahkan cahayanya pada penampakan alam
semesta, hikmah membentangkan di atasnya tirai penjagaan, sehingga seluruh alam
semesta menjadi cahaya yang terbungkus di dalam hijab yang tertutup.
Kemudian Allah Subhanahu wa
Ta'ala membagi makhluk menjadi dua golongan dan memisahkan mereka menjadi
dua kelompok:
- Golongan Khusus (Ahlul Mahabbah / Para Wali / Arifin): Orang-orang yang dikhususkan dengan kecintaan-Nya dan
dijadikan sebagai wali-wali-Nya. Allah membukakan pintu bagi mereka dan
menyingkap hijab (kasyf), sehingga mereka menyaksikan
rahasia-rahasia Dzat-Nya dan tidak terhalang oleh bekas-bekas
kekuasaan-Nya. Mereka menjadikan Cahaya (Allah) sebagai dalil untuk
melihat hal yang tersembunyi. Mereka tidak melihat kecuali Cahaya Allah,
dan menjadikan Allah sebagai dalil atas keberadaan makhluk, sehingga
mereka tidak menemukan kecuali Allah. Dalam penyaksian batin (musyahadah),
mereka teralihkan dari melihat makhluk karena tenggelam dalam menyaksikan
Allah, sebab mustahil menyaksikan Allah sekaligus menyaksikan selain-Nya
secara bersamaan.
- Golongan Umum (Ahlul Hikmah / Ahlul Khidmah): Orang-orang yang ditegakkan untuk berkhidmat dan dijadikan
sebagai ahli hikmah. Allah membentangkan atas mereka tirai
prasangka/keraguan (sittar/waham) serta menyembunyikan cahaya ilmu
dan pemahaman dari mereka. Maka mereka terhenti pada kulit luar (zhawahir
al-qusyur) dan tidak menyaksikan hakikat cahaya batin (bawatin
an-nur), padahal kebenaran itu sangat nyata. Maha Suci Allah yang
menyembunyikan rahasia-Nya dengan hikmah-Nya dan menampakkan cahaya-Nya
dengan kekuasaan-Nya. Mereka menjadikan tampaknya ciptaan sebagai dalil
atas keberadaan Cahaya (Allah). Mereka terhalang dari-Nya justru karena
sangat nyatanya keberadaan-Nya.
Sebagian Arifin (orang yang
kenal Allah) berkata:
"Allah Ta'ala menetapkan
keberadaan makhluk bagi kaum awam, maka kaum awam membuktikan adanya Pencipta
melalui makhluk tersebut. Sedangkan Allah menetapkan Dzat-Nya sendiri bagi kaum
khusus (khawas), maka kaum khusus membuktikan adanya makhluk melalui keberadaan
Allah."
Maka Syattana bermakna:
Sungguh merupakan perbedaan yang sangat besar antara orang yang menjadikan
Allah sebagai dalil untuk melihat bekas ciptaan-Nya, dengan orang yang
menjadikan bekas ciptaan sebagai dalil untuk membuktikan keberadaan Allah.
Sebab, orang yang menjadikan Allah
sebagai dalil telah mengenal Al-Haq (keberadaan yang hakiki) bagi
Pemilik-Nya yang berhak, yaitu Allah Yang Wajib Ada (Wajib al-Wujud),
Raja Yang Maha Disembah. Ia menetapkan segala hal (keberadaan alam) berasal
dari Dzat Aslinya Yang Maha Dahulu lagi Azali. Artinya, barang siapa yang
mengenali Allah hingga pengenalan itu menjadi hal yang mutlak/pasti baginya, ia
tahu bahwa hakikat keberadaan hanyalah milik Allah, dan lenyaplah keberadaan
selain-Nya.
Atau engkau dapat katakan: Ia
mengenal Al-Haq yaitu Keberadaan Asli bagi Pemilik-Nya (Allah Ta'ala),
dan ia menetapkan adanya keberadaan cabang (makhluk) sebagai turunan dari
Keberadaan Aslinya. Ketika cabang disandarkan kepada Aslinya, maka semuanya
menyatu kembali pada Keberadaan Asli tersebut.
Wallahu ta'ala a'lam (Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui).
وأما من يستدل عليه فلأجل جُهْلِهِ، وُلِغَيْبَتِهِ عنه في حال حضوره، وبُعْدِهِ عنه في حال قربه منه، ولِعَمَائِهِ عن فهمه، وإلا فمتى غاب حتى يستدل عليه، إذ هو أقرب إليك من حبل الوريد، ﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ﴾ (1)
إذ أثر القدرة هو عينها، فالصفة لا تفارق الموصوف، إذ لا قيام لها إلا به، ولا ظهور لها إلا منه، وسيأتي له في المناجاة: إلهي كيف يُستدَلّ عليك بما هو في وجوده مفتقر إليك، أيكون لغيرك ما ليس لك حتى يكون هو المظهر لك؟ متى غبت حتى تحتاج إلى دليل يدل عليك؟ ومتى بُعِدتَ حتى تكون الآثار هي التي توصل إليك؟ والله تعالى أعلم
ولما كان المستدلون بالله قد وسع عليهم دائرة العلوم، وفتحت لهم مخازن الفهوم، بخلاف المستدلين عليه قد قتر الله عليهم أرزاق العلم، بوجوب حجاب الوهم، أشار إلى ذلك بقوله
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ: الوَاصِلُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ: السَّائِرُونَ إِلَيْهِ
السعة: هي الغنى، وقُدِرَ عليه: ضُيِّقَ عليه. قلت: أما الواصلون إليه فلأنهم لما نفذت أرواحهم من ضيق الأكوان إلى فضاء الشهود والعيان
أو تقول: لما عرَجَت أرواحهم من عالم الأشباح إلى عالم الأرواح، أو من عالم الملك إلى عالم الملكوت، اتسعت عليها دائرة أرزاق العلوم، وفتحت لها مخازن الفهوم، فأنفقوا من سعة غناهم جواهر العلم المكنون، ومن مخازن كنزهم يواقيت السر المصون، فاتسع لهم ميدان المجال، وركبوا أجياد البلاغة وفصاحة المقال، فما أسرع الغنى لمن واجهته منهم العناية، وما أعظم فتح من لحظته منهم الرعاية. إن لله رجالًا من نظر إليهم سعد سعادة لا يشقى بعدها أبدا، وهم أهل السر والحال. أما السائرون إلى الله فلأنهم باقون في ضيق الأكوان، وفي عالم الأشباح مسجونون في سجن الوهم، لم يفتح لهم شيء من مخازن الفهم، مشغولون بجهاد نفوسهم، ومعاناة tصفية قلوبهم، مضیق عليهم في العلوم، ومقتر عليهم في سائر الفهوم، فإن جَدُّوا في السير وصلوا، وانتقلوا من ضيق الأكوان، ورحلوا وتبختروا في رياض العلوم، ورَفَلُوا فظفروا بما أَمَّلُوا واستغنوا بعد ما إن ملوا، وإن رجعوا من الطريق أو قصروا فقد خابوا وخسروا
تنبیه: إن أردت أن يتسع عليك علم الأذواق فاقطع عنك مادة الأوراق، فما دمت متكلا على كنز غيرك لا تحفر على كنزك أبدًا، فاقطع عنك المادة، وافتقر إلى الله تفيض عليك المواهب من الله: ﴿إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ﴾ (1)
إن أردت بسط المواهب عليك فصحح الفقر والفاقة لديك. وقد قال الشيخ الدباس لتلميذه ميمونة حين تأخر عنه الفتح، فركضه فوجده يطالع رسالة القشيري: اطرح كتابك واحفر في أرض نفسك يخرج لك ينبوع، وإلا فاذهب عني اهـ وبالله التوفيق
Adapun orang yang menjadikan makhluk
sebagai dalil untuk membuktikan keberadaan Allah, hal itu terjadi karena ketahuannya,
serta karena perasaannya yang merasa jauh dari-Nya di saat Dia sejatinya
hadir, dan merasa jauh di saat Dia sangat dekat, serta butanya pemahaman
mereka. Sebab, bilakah Allah pernah ghaib (bersembunyi) hingga membutuhkan
dalil untuk membuktikan-Nya? Padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada urat
lehermu sendiri:
"Dan Dia bersamamu di mana saja
kamu berada." (QS. Al-Hadid: 4)
Sebab, bekas/pengaruh kekuasaan (atsar
al-qudrah) itu pada hakikatnya adalah penampakan dari qudrah itu
sendiri. Sifat tidak mungkin terpisah dari Dzat yang disifati, sebab sifat
tidak akan berdiri sendiri melainkan dengan Dzat-Nya, dan tidak akan tampak
melainkan dari-Nya. Dan kelak akan hadir penjelasan beliau (Ibnu Ataillah)
dalam kalimat munajatnya:
"Wahai Tuhanku, bagaimana
mungkin keberadaan-Mu dibuktikan dengan sesuatu (makhluk) yang dalam
keberadaannya sendiri justru sangat membutuhkan-Mu? Apakah selain-Mu memiliki
penampakan yang tidak Engkau miliki sehingga ia bisa menjadi penjelas bagi-Mu?
Bilakah Engkau ghaib hingga membutuhkan dalil yang menunjukkan keberadaan-Mu?
Dan bilakah Engkau jauh hingga bekas-bekas ciptaan-Mu menjadi perantara yang
menyampaikan kepada-Mu?"
Wallahu ta'ala a'lam.
Ketika orang-orang yang menjadikan
Allah sebagai dalil (Al-Mustadilluna billah) telah dilapangkan bagi
mereka lingkaran berbagai ilmu dan dibukakan bagi mereka gudang-gudang
pemahaman, berbeda halnya dengan orang-orang yang menjadikan makhluk sebagai
dalil untuk mencari Allah (Al-Mustadilluna 'alaihi) yang mana Allah
menyempitkan rezeki ilmu bagi mereka karena tertutup oleh tirai
prasangka/keraguan (hijab al-waham), maka beliau (Ibnu Ataillah)
mengisyaratkan hal itu dengan perkataannya:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ: الوَاصِلُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ: السَّائِرُونَ إِلَيْهِ
[Hendaklah orang yang mempunyai
kelapangan menafkahkan dari kelapangannya: yaitu orang-orang yang telah sampai
kepada-Nya (Al-Washilun ilaih). Dan orang yang disempitkan rezekinya:
yaitu orang-orang yang sedang berjalan menuju kepada-Nya (As-Sairun ilaih).]
- Kelapangan (As-Sa'ah): Adalah kecukupan/kekayaan batin.
- Disempitkan rezekinya (Qudira 'alaih): Adalah disempitkan/dibatasi.
Saya (Penulis) katakan: Adapun orang-orang yang telah sampai kepada-Nya (Al-Washilun),
hal itu karena ketika roh-roh mereka telah menembus sempitnya alam semesta
menuju luasnya alam penyaksian (syuhud) dan penglihatan batin ('iyan).
Atau engkau katakan: Ketika roh-roh
mereka naik dari alam jasad/fisik ('alam al-asybahr) ke alam roh, atau
dari alam fisik/dunia ('alam al-mulk) ke عالم
malakut ('alam al-malakut), maka meluaslah bagi mereka lingkaran rezeki
ilmu-ilmu ketuhanan dan dibukakan bagi mereka gudang-gudang pemahaman. Maka
mereka pun menafkahkan dari kelapangan kekayaan mereka berupa permata ilmu yang
tersembunyi (al-'ilm al-maknun), serta dari gudang simpanan mereka
berupa rahasia yang terjaga. Luaslah lapangan pemikiran bagi mereka, dan mereka
menunggangi indahnya kiasan bahasa dan kefasihan perkataan. Maka alangkah
cepatnya kekayaan batin menghampiri orang yang mendapatkan perhatian ('inayah)
dari mereka, dan alangkah agungnya keterbukaan (fath) bagi orang yang
ditatap dengan pandangan kasih sayang oleh mereka. Sesungguhnya Allah memiliki
hamba-hamba pilihan yang barang siapa menatap/dipandang oleh mereka, ia akan
bahagia dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah celaka setelahnya
selama-lamanya; mereka adalah pemilik rahasia batin dan hal (kedudukan
spiritual).
Adapun orang-orang yang sedang
berjalan menuju Allah (As-Sairun), hal itu karena mereka masih tertahan
dalam sempitnya alam semesta, dan di dalam alam fisik mereka terpenjara di
dalam penjara keraguan (sijni al-waham). Belum dibukakan bagi mereka
sedikit pun dari gudang-gudang pemahaman. Mereka sibuk memerangi hawa nafsu
mereka sendiri dan bersusah payah membersihkan hati. Rezeki ilmu disempitkan atas
mereka dan pemahaman mereka dibatasi. Namun, jika mereka sungguh-sungguh dalam
perjalanan spiritualnya, mereka akan sampai (wushul), berpindah dari
sempitnya alam semesta, berkelana dan menikmati indahnya taman-taman ilmu,
hingga meraih apa yang mereka harapkan dan merasa cukup setelah sebelumnya
merasa dahaga. Akan tetapi, jika mereka berbalik mundur dari jalan tersebut
atau lalai/kurang bersungguh-sungguh, maka mereka telah gagal dan rugi.
Peringatan
/ Catatan (Tanbih)
Jika engkau ingin dilapangkan bagimu
ilmu rasa/pengalaman batin ('ilm al-adzwaq), maka putuskanlah
ketergantunganmu dari lembaran-lembaran kertas (teori/buku semata). Selama
engkau masih bersandar pada harta simpanan orang lain, engkau tidak akan pernah
menggali harta simpanan yang ada di dalam dirimu sendiri.
Maka putuskanlah ketergantungan
materi tersebut dan merasa butuhlah (iftaqir) hanya kepada Allah,
niscaya karunia-karunia karunia dari Allah akan melimpah kepadamu:
"Sesungguhnya sedekah-sedekah
itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin..." (QS. At-Taubah: 60)
Jika engkau menginginkan bentangan
karunia-Nya melimpah kepadamu, maka murnikanlah rasa fakir dan kebutuhanmu
yang amat sangat di hadapan-Nya.
Sungguh Syaikh Ad-Dabbas pernah
berkata kepada muridnya, Maimun, ketika muridnya tersebut tertunda dari
mendapatkan fath (keterbukaan batin). Syaikh mendatangi dan mendapatinya
sedang mempelajari kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, lalu beliau
menegurnya:
"Lemparkan kitabmu itu dan
galilah di dalam tanah dirimu sendiri, niscaya akan keluar sumber mata air
untukmu! Jika tidak, maka pergilah meninggalkanku!"
(Selesai rincian ini, dan hanya
kepada Allah-lah segala taufik).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.