بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III :
**Makna Qadha dan Qadar**
« وَأَمَّا القَضَاءُ » فَهُوَ تَعَلُّقُ إِرَادَةِ اللهِ بِالأَشْيَاءِ فِي الأَزَلِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِيمَا لَا يَزَالُ عَلَى وَفْقِ عِلْمِهِ فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ الذَّاتِ
« وَأَمَّا القَدَرُ » فَهُوَ إِيجَادُ اللهِ الأَشْيَاءَ عَلَى قَدَرٍ مَخْصُوصٍ ، وَوَجْهٍ مُعَيَّنٍ أَرَادَهُ اللهُ تَعَالَى فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ الأَفْعَالِ . فَالقَضَاءُ قَدِيمٌ وَالقَدَرُ حَادِثٌ
« وَاعْلَمْ » أَنَّهُ لَا نِزَاعَ بَيْنَ أَهْلِ الحَقِّ فِي أَنَّ القَضَاءَ وَالقَدَرَ مِنَ العَقَائِدِ الَّتِي يَجِبُ الإِيمَانُ بِهَا، فَيَجِبُ أَنْ تَعْتَقِدَ أَنَّ عِلْمَهُ تَعَالَى وَإِرَادَتَهُ تَعَلَّقَا فِي الأَزَلِ بِالأَشْيَاءِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِيمَا لَا يَزَالُ ، وَأَنَّ قُدْرَتَهُ تَعَلَّقَتْ بِالأَشْيَاءِ فِيمَا لَا يَزَالُ عَلَى وَفْقِ تَعَلُّقِ العِلْمِ وَالإِرَادَةِ بِهَا فِي الأَزَلِ ، فَلَا حَادِثَ خَيْرًا كَانَ أَوْ شَرًّا إِلَّا وَهُوَ صَادِرٌ عَنْ إِرَادَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى وَفْقِ عِلْمِهِ وَقَدْ أَخْرَجَ التِّرْمِذِيُّ عَنْ جَابِرٍ « لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ وَحَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ » وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعَةٍ ؛ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ بَعَثَنِي بِالحَقِّ وَيُؤْمِنُ بِالبَعْثِ بَعْدَ المَوْتِ ، وَيُؤْمِنُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حُلْوِهِ وَمُرِّهِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالحَاكِمُ . وَرُبَّمَا هَجَسَ لِبَعْضِ القَاصِرِينَ أَنْ مِنْ حُجَّةِ العَبْدِ أَنْ يَقُولَ للهِ تَعَالَى: لِمَ تُعَذِّبُنِي وَالكُلُّ فِعْلُكَ ؟ فَهَذِهِ مَرْدُودَةٌ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَعْلَمُ الأَشْيَاءَ كُلَّهَا أَزَلًا عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ تَفْصِيلًا ، وَقَبْلَ وُجُودِ المَخْلُوقَاتِ عَلِمَ مَا يَخْتَارُهُ العَبْدُ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ إِذَا وُجِدَ فَكَتَبَهُ عَلَيْهِ . رَوَى مُسْلِمٌ بِسَنَدِهِ عَنْ أَبِي الأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ قَالَ : قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ : أَرَأَيْتَ مَا تَعْمَلُ النَّاسُ اليَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ ؟ أَشَيْءٌ قَضَى عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ مِنْ قَدَرٍ مَا سَبَقَ أَوْ فِيمَا يَسْتَقْبِلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتِ الحُجَّةُ عَلَيْهِمْ ؟ فَقُلْتُ : بَلْ شَيْءٌ قَضَى عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ ، قَالَ : أَفَلَا يَكُونُ ظُلْمًا ؟ قَالَ : فَفَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَزَعًا شَدِيدًا وَقُلْتُ : كُلُّ شَيْءٍ خَلْقُ اللهِ وَمِلْكُ يَدِهِ ، فَلَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ ، فَقَالَ لِي : يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزُرَ عَقْلَكَ - أَيْ لِأَمْتَحِنَ عَقْلَكَ وَفَهْمَكَ
**Adapun Qadha**, maka ia adalah keterkaitan kehendak
(*iradah*) Allah terhadap segala sesuatu di zaman azali sesuai dengan apa yang
akan terjadi nantinya secara selaras dengan ilmu-Nya, sehingga Qadha termasuk
dalam kategori **sifat dzat** Allah.
**Adapun Qadar**, maka ia adalah perbuatan Allah
dalam mewujudkan segala sesuatu pada ukuran yang khusus dan bentuk tertentu
yang telah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, sehingga Qadar termasuk dalam
kategori **sifat perbuatan** (*shifat al-af'al*) Allah.
Maka kesimpulannya, **Qadha itu bersifat qadim** (tanpa
awal/terjadi di azali) sedangkan **Qadar itu bersifat hadits** (baru
terjadi/terwujud di alam nyata).
« Dan ketahuilah » sesungguhnya tidak ada
perselisihan di antara *Ahlul Haqq* (para ulama pengikut kebenaran/Ahlus
Sunnah) bahwasanya Qadha dan Qadar termasuk bagian dari perkara akidah yang
wajib diimani. Maka wajib bagimu untuk meyakini bahwa ilmu dan kehendak
(*iradah*) Allah Ta'ala telah berpaut (*ta'alluq*) di zaman azali pada segala
sesuatu sesuai dengan apa yang akan terjadi selamanya, dan bahwasanya
kekuasaan-Nya (*qudrah*) berpaut pada segala sesuatu yang terjadi selamanya
secara selaras dengan pautan ilmu dan kehendak-Nya di zaman azali. Oleh karena
itu, tidak ada satu pun perkara baru yang terjadi—baik berupa kebaikan maupun
keburukan—melainkan ia bersumber dari kehendak dan kekuasaan-Nya yang selaras
dengan ilmu-Nya.
Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan hadits dari Jabir: Tidaklah
beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada qadar (ketentuan), baik yang
baik maupun yang buruk, dan sampai ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya
tidak akan meleset darinya, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan
menimpanya."*
Diriwayatkan pula dari Ali *karramallahu wajhah*, ia berkata
bahwa Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda:
Tidaklah beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada
empat hal: Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku
adalah utusan Allah yang diutus-Nya membawa kebenaran, beriman kepada hari
kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar (ketentuan), baik yang
baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit."* (Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
Al-Hakim).
*Bantahan bagi Kaum Jabariyah (Faham Fatalisme)*
Dan terkadang terbersit dalam benak sebagian orang yang
kurang pemahamannya sebuah argumen (dari pihak hamba) yang berkata kepada Allah
Ta'ala: *"Mengapa Engkau mengazabku padahal segala sesuatu adalah
perbuatan-Mu?"
Maka argumen ini *terbantahkan* dengan fakta bahwa Allah
Ta'ala telah mengetahui segala sesuatu di zaman azali secara terperinci sesuai
dengan apa yang akan terjadi. Sebelum makhluk-makhluk itu diwujudkan, Allah
sudah mengetahui apa saja yang akan dipilih oleh sang hamba, baik berupa
kebaikan maupun keburukan ketika hamba itu telah berwujud kelak, lalu Allah
menetapkan/menuliskan pilihan tersebut atasnya.
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Al-Aswad
Ad-Du'ali, ia berkata: Imran bin Hushain pernah bertanya kepadaku: "Bagaimana
pendapatmu tentang apa yang diamalkan dan diperjuangkan manusia pada hari ini?
Apakah hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah
berlaku atas mereka berdasarkan takdir yang telah lalu, ataukah hal itu
merupakan sesuatu yang akan mereka hadapi di masa mendatang berdasarkan apa yang
dibawa oleh Nabi mereka sehingga tegaklah hujah atas mereka?"
Maka aku (Abi
Al-Aswad) menjawab: "Tentu saja hal itu merupakan sesuatu yang telah
ditetapkan atas mereka dan telah berlaku atas mereka."
Imran bertanya lagi:
*"Lalu, bukankah hal itu berarti sebuah kezaliman (jika tetap
diazab)?"*
Abi Al-Aswad berkata: *"Maka aku pun merasa sangat
terkejut/takut karena pertanyaan itu, lalu aku menjawab: Segala sesuatu adalah
ciptaan Allah dan milik mutlak tangan-Nya, Dia tidak ditanya tentang apa yang
Dia perbuat, melainkan merekalah (makhluk) yang akan ditanya."*
Maka Imran berkata
kepadaku: *"Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya aku tidak bermaksud
mengajukan pertanyaan itu kepadamu melainkan hanya untuk mengukur akalmu—yakni
untuk menguji kecerdasan akal dan pemahamanmu."*
وَحَزَرَ مِنْ بَابِ نَصَرَ وَضَرَبَ
وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَابْنِ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنِ ابْنِ الدَّيْلَمِيِّ :
قَالَ : وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا القَدَرِ فَخَشِيتُ أَنْ يُفْسِدَ عَلَيَّ دِينِي وَأَمْرِي ، فَأَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ فَقُلْتُ : أَبَا المُنْذِرِ إِنَّهُ قَدْ وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا القَدَرِ فَخَشِيتُ عَلَى دِينِي وَأَمْرِي ، فَحَدِّثْنِي مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ ، فَقَالَ : لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ - أَيْ لِأَنَّ النَّجَاةَ مِنَ العَذَابِ إِنَّمَا هِيَ بِرَحْمَتِهِ لَا بِالأَعْمَالِ ، فَالرَّحْمَةُ خَيْرٌ مِنْهَا - وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالقَدَرِ ، فَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ . وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ ، وَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَأْتِيَ أَخِي عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ فَتَسْأَلَهُ ، فَأَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ فَسَأَلْتُهُ ، فَذَكَرَ مِثْلَ مَا قَالَ أُبَيٌّ وَقَالَ لِي : وَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَأْتِيَ حُذَيْفَةَ ، فَأَتَيْتُ حُذَيْفَةَ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ مِثْلَ مَا قَالَا ، وَقَالَ : إِيتِ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَاسْأَلْهُ ، فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ ، وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالقَدَرِ كُلِّهِ فَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ، وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ » .
a
وَلِلْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :
فَمَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ ... وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ
خَلَقْتَ العِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ ... فَفِي العِلْمِ يَجْرِي الفَتَى وَالمُسِنْ
فَهَذَا هَدَيْتَ وَهَذَا خَذَلْتَ ... وَهَذَا أَعَنْتَ وَذَا لَمْ تُعِنْ
وَهَذَا شَقِيٌّ وَهَذَا سَعِيدٌ ... وَهَذَا قَبِيحٌ وَهَذَا حَسَنْ
وَهَذَا قَوِيٌّ وَهَذَا ضَعِيفٌ ... وَكُلٌّ بِأَفْعَالِهِ مُرْتَهَنْ
(Kata *Hazara* mengikut timbangan kata dari bab
*Nasara-Yansuru* dan *Daraba-Yadribu*).
Dalam kitab *Sunan Abi Dawud* dan *Ibnu Majah*, dan lafal
hadits ini miliknya (Ibnu Majah), bersumber dari Ibnu Ad-Dailami:
Dia berkata: "Telah terbersit di dalam hatiku sesuatu
(keraguan) tentang masalah takdir ini, sehingga aku khawatir hal itu akan
merusak agama dan urusanku. Maka aku mendatangi Ubay bin Ka'ab lalu aku
berkata: 'Wahai Abu Al-Mundzir, sesungguhnya telah terbersit di dalam hatiku
sesuatu tentang takdir ini dan aku mengkhawatirkan agama serta urusanku. Maka
sampaikanlah kepadaku sesuatu (hadits) tentang hal itu, mudah-mudahan Allah
memberikan manfaat kepadaku dengannya.'
Ubay lalu berkata: 'Sekiranya Allah mengazab seluruh
penduduk langit dan bumi-Nya, niscaya Dia mengazab mereka dalam keadaan Dia
sama sekali tidak berbuat zhalim kepada mereka. Dan sekiranya Dia merahmati
mereka, niscaya rahmat-Nya itu jauh lebih baik bagi mereka daripada amal
perbuatan mereka sendiri—*maksudnya: karena keselamatan dari azab itu sejatinya
hanya terwujud berkat rahmat Allah, bukan semata karena amal perbuatan,
sehingga rahmat Allah tentu jauh lebih baik daripada amal*—dan sekiranya engkau
memiliki emas sebesar gunung Uhud yang engkau infakkan di jalan Allah, niscaya
Allah tidak akan menerima infak itu darimu sampai engkau beriman kepada takdir.
Sehingga engkau mengetahui secara yakin bahwa apa saja yang telah ditakdirkan
menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa saja yang ditakdirkan
meleset darimu tidak akan pernah menimpamu. Dan sesungguhnya jika engkau mati
dalam keadaan selain (keyakinan) ini, niscaya engkau akan masuk neraka. Tidak
ada salahnya jika engkau mendatangi saudaraku, Abdullah bin Mas'ud, untuk
bertanya kepadanya.'
Maka aku mendatangi Abdullah (bin Mas'ud) lalu bertanya
kepadanya. Beliau pun menyampaikan perkataan yang sama persis seperti yang
dikatakan oleh Ubay, lalu berkata kepadaku: 'Tidak ada salahnya jika engkau
mendatangi Hudzaifah.' Maka aku mendatangi Hudzaifah lalu bertanya kepadanya,
dan beliau mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh mereka berdua,
seraya berkata: 'Pergilah kepada Zaid bin Tsabit lalu tanyalah kepadanya.'
Maka aku mendatangi Zaid bin Tsabit lalu bertanya kepadanya,
kemudian beliau berkata: 'Aku mendengar Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa
sallam* bersabda: *"Sekiranya Allah mengazab seluruh penduduk langit dan
bumi-Nya, niscaya Dia mengazab mereka dalam keadaan Dia tidak berbuat zhalim
kepada mereka. Dan sekiranya Dia merahmati mereka, niscaya rahmat-Nya itu jauh
lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka. Dan sekiranya engkau
memiliki emas sebesar gunung Uhud yang engkau infakkan di jalan Allah, niscaya
Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir
seluruhnya, sehingga engkau mengetahui secara yakin bahwa apa saja yang telah
ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa saja yang
ditakdirkan meleset darimu tidak akan pernah menimpamu, dan sesungguhnya jika
engkau mati dalam keadaan selain ini, niscaya engkau akan masuk
neraka."*"
**Bait Syair Imam Asy-Syafii tentang Takdir**
Dan berikut adalah untaian bait syair milik Imam Asy-Syafii
*radhiyallahu 'anhu*:
*Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi, meskipun aku tidak
menghendakinya...*
*Dan apa yang aku kehendaki, jika Engkau tidak
menghendakinya, maka tidak akan pernah terjadi.*
*Engkau telah menciptakan para hamba di atas apa yang telah
Engkau ketahui dalam ilmu-Mu...*
*Maka di dalam lingkaran ilmu-Mu itulah berjalan garis hidup
seorang pemuda maupun orang yang telah tua renta.*
*Maka yang ini Engkau beri petunjuk, dan yang itu Engkau
biarkan dalam kesesatan...*
*Dan yang ini Engkau beri pertolongan, sedangkan yang itu
tidak Engkau tolong.*
*Di antara mereka ada yang celaka dan ada pula yang
bahagia...*
*Di antara mereka ada yang berwajah buruk (secara
maknawi/amal) dan ada pula yang indah.*
*Di antara mereka ada yang kuat dan ada pula yang lemah...*
*Dan setiap orang dari mereka akan digadaikan
(mempertanggungjawabkan) atas semua amal perbuatannya.*
وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ حَدِيثِ ( مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللهُ مَكَانَهَا مِنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ ) قَالَ الإِمَامُ أَبُو المُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ : سَبِيلُ مَعْرِفَةِ هَذَا البَابِ التَّوْقِيفُ مِنَ الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ دُونَ مَحْضِ القِيَاسِ وَمُجَرَّدِ العُقُولِ ، فَمَنْ عَدَلَ عَنِ التَّوْقِيفِ فِيهِ ضَلَّ وَتَاهَ فِي بِحَارِ الحَيْرَةِ ، وَلَمْ يَبْلُغْ شِفَاءَ النَّفْسِ ، وَلَا يَصِلُ إِلَى مَا يَطْمَئِنُّ بِهِ القَلْبُ ، لِأَنَّ القَدَرَ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ تَعَالَى الَّتِي ضُرِبَتْ مِنْ دُونِهَا الأَسْتَارُ ، اخْتَصَّ اللهُ بِهِ وَحَجَبَهُ عَنْ عُقُولِ الخَلْقِ وَمَعَارِفِهِمْ لِمَا عَلِمَهُ مِنَ الحِكْمَةِ ، وَوَاجِبُنَا أَنْ نَقِفَ حَيْثُ حَدَّ لَنَا وَلَا نَتَجَاوَزَهُ ، وَقَدْ طَوَى اللهُ تَعَالَى عِلْمَ القَدَرِ عَلَى العَالَمِ فَلَمْ يَعْلَمْهُ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ ، وَلَا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ اهـ فَعَلَيْكَ أَنْ تَفْهَمَ مَا قَرَّرْنَا ، وَتَعْتَقِدَ مَا ذَكَرْنَا ، وَلَا تَغْتَرَّ بِزَخَارِفِ الضَّالِّينَ وَالمُضِلِّينَ وَإِلَّا هَلَكْتَ مَعَ الهَالِكِينَ ( وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ) ( وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ) ( وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ )
Imam An-Nawawi berkata dalam *Syarah* (penjelasan) hadits:
*"Tidak ada satu jiwa pun yang bernyawa melainkan Allah telah menuliskan
tempat kedudukannya di surga atau di neraka."*
Imam Abu Al-Mudhaffar
As-Sam'ani mengatakan: "Jalan untuk
memahami bab (masalah takdir) ini adalah *Al-Tawqif* (bersandar sepenuhnya pada
petunjuk dalil) dari Al-Kitab dan As-Sunnah, bukan murni analogi (*qiyas*) dan
semata-mata akal pikiran. Barangsiapa yang berpaling dari petunjuk dalil dalam
masalah ini, niscaya ia akan sesat dan terombang-ambing di dalam lautan
kebingungan, tidak akan mencapai kesembuhan bagi jiwanya, dan tidak akan sampai
pada perkara yang membuat hatinya tenteram. Hal itu karena takdir merupakan
rahasia di antara rahasia-rahasia Allah Ta'ala yang ditutup rapat oleh
tirai-tirai di hadapannya; Allah mengkhususkan hal itu bagi diri-Nya dan
menutupinya dari akal pikiran serta pengetahuan makhluk karena suatu hikmah
yang Dia ketahui. Kewajiban kita adalah berhenti di batas yang telah ditentukan
bagi kita dan tidak melampauinya. Sungguh, Allah Ta'ala telah melipat
pengetahuan tentang takdir ini dari alam semesta, sehingga tidak ada nabi yang
diutus maupun malaikat yang dekat dengan-Nya yang mengetahuinya." Selesai
kutipan.
Maka wajib bagimu untuk memahami apa yang telah kami
tetapkan ini, dan meyakini apa yang telah kami sebutkan, serta janganlah engkau
teperdaya oleh hiasan (syubhat) orang-orang yang sesat lagi menyesatkan, karena
jika tidak, engkau akan binasa bersama orang-orang yang binasa.
*"Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus."*
*"Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya."*
*"Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorang pun yang dapat memberinya petunjuk."*
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.