بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Adab Orang yang Makrifat (Al-Arif) 8
Beramal dengan billah,lillah,minallah, ilallah.
ثم ذكر الأدب الثامن
وهو أن يكون تصرفه بالله ولله ومن الله وإلى الله ، وهو مقام الصدق الذى هو لب الإخلاص ، وإخلاص خواص الخواص فقال
[ ما توقف مطلب أنت طالبه بربك ، ولا تيسر مطلب أنت طالبه بنفسك ] .
التوقف : الحبس والتعذر ، والمطلب ما يطلب قضاؤه ، والتيسر : التسهيل
قلت : إذا عرضت لك حاجة من حوائج الدنيا والآخرة وأردت أن تقضى لك سريعًا فاطلبها بالله ولا تطلبها بنفسك ، فإنك إذا طلبتها بالله تيسر أمرها وسهل قضاؤها ، وإن طلبتها بنفسك صعب قضاؤها وتعسر أمرها ؛ ولا يتوقف ويحبس أمر طلبته بربك ؛ ولا يتيسر ويسهل أمر طلبته بنفسك . قال تعالى حاكيًا عن سيدنا موسى عليه السلام
( قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
فكل من استعان بالله وصبر في طلب حاجته كانت العاقبة له وكان من المتقين ، وقال تعالى : ( وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ )
أى كافيه كل ما أهمه . وقال صلى الله عليه وسلم لبعض أصحابه وهو سويد ابن غفلة :« لَا تَطْلُبْ الْإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَهَا وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أَتَتْكَ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
وعلامة الطلب بالله هو الزهد في ذلك الأمر والاشتغال بالله عنه ، فإذا جاء وقته تكون بإذن الله . وعلامة الطلب بالنفس هو الحرص والبطش إليه . فإذا تعذر عليه ، انقبض وتغير عليه ، فهذا ميزان من كان طلبه بالله وطلبه بنفسه ، فمن طلب حوائجه بالله قضيت معنى وإن لم تقض حسًّا ، ومن طلب حوائجه بنفسه خاب سعيه وضاع وقته ، وإن قضيت نهمته وحاجته
Kemudian penulis menyebutkan adab yang kedelapan, yaitu
hendaknya segala tindakan seorang hamba didasarkan bersama Allah (billah), karena Allah (lillah), berasal
dari Allah (minallah), dan kembali kepada Allah (ilallah). Ini merupakan tingkatan kejujuran spiritual (maqamush shidqi) yang menjadi inti kesucian niat (lubbul ikhlas), sekaligus keikhlasan tingkat tinggi
para hamba pilihan (ikhlasu khawashil khawash). Beliau
berkata:
ما توقف مطلب أنت طالبه بربك ، ولا تيسر مطلب أنت طالبه بنفسك
[Tidak
akan terhenti suatu urusan yang engkau tuntut dengan bersandar kepada Tuhanmu,
dan tidak akan menjadi mudah suatu urusan yang engkau tuntut dengan
mengandalkan dirimu sendiri.]
·
At-Tawaqquf: Berarti tertahan dan sulit terwujud.
·
Al-Mathlab: Segala hajat atau perkara yang dituntut penyelesaiannya.
·
At-Tayassur: Berarti kemudahan.
Aku
(penulis) berkata: Apabila muncul suatu hajat kepadamu, baik dari hajat-hajat
dunia maupun akhirat, dan engkau ingin hajat itu segera terpenuhi bagimu, maka
mintalah ia dengan bersandar kepada Allah (billah) dan
janganlah memintanya dengan mengandalkan dirimu sendiri (binafsika). Karena sesungguhnya, apabila engkau
menuntutnya dengan bersandar kepada Allah, niscaya urusannya akan dimudahkan
dan penyelesaiannya menjadi gampang. Sebaliknya, jika engkau menuntutnya dengan
mengandalkan dirimu sendiri, niscaya penyelesaiannya akan menjadi sulit dan
urusannya menjadi sukar. Perkara yang engkau tuntut dengan bersandar kepada
Tuhanmu tidak akan tertahan atau mandek, dan perkara yang engkau tuntut dengan
mengandalkan dirimu sendiri tidak akan menjadi gampang atau mudah. Allah Ta'ala
berfirman menceritakan tentang junjungan kita Nabi Musa 'alaihis salam:
(“Musa
berkata kepada kaumnya: 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah;
sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskannya kepada siapa yang Dia
kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi
orang-orang yang bertakwa'”).
Maka,
setiap orang yang memohon pertolongan kepada Allah dan bersabar dalam menuntut
hajatnya, niscaya kesudahan yang baik akan menjadi miliknya dan ia termasuk ke
dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Allah Ta'ala juga berfirman: (“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya”), artinya Dia akan mencukupi segala
hal yang meresahkannya.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada sebagian sahabatnya,
yaitu Suwaid bin Ghafalbah:
"Janganlah
engkau menuntut jabatan/kekuasaan! Karena sesungguhnya jika engkau diberikan
jabatan karena menuntutnya, niscaya engkau akan dibiarkan sendirian mengurusnya
(tanpa pertolongan Allah). Namun, jika jabatan itu datang kepadamu tanpa engkau
memintanya, niscaya engkau akan diberi pertolongan dalam menjalankannya."
·
Tanda
menuntut bersandar kepada Allah (alth-thalab billah): Adalah adanya rasa zuhud (tidak terikat) terhadap urusan
tersebut dan batinnya sibuk berzikir kepada Allah daripada memikirkannya.
Sehingga ketika saatnya tiba, urusan itu terwujud dengan izin Allah.
·
Tanda
menuntut dengan mengandalkan diri sendiri (alth-thalab bin-nafs): Adalah adanya rasa ambisi yang menggebu-gebu (al-hirsh) dan memaksakan diri (al-bathsy) untuk meraihnya. Jika urusan tersebut
terhambat baginya, hatinya langsung merasa sesak (inqabadha) dan
perangainya berubah menjadi buruk.
Inilah
timbangan untuk membedakan antara orang yang tuntutannya bersandar kepada Allah
dengan orang yang menuntut dengan mengandalkan egonya sendiri. Barang siapa
yang memohon hajat-hajatnya dengan bersandar kepada Allah, maka hajatnya telah
terpenuhi secara maknawi (esensi batinnya dikabulkan) meskipun secara kasatmata
(hassan) belum terwujud. Sebaliknya, barang siapa yang
menuntut hajat-hajatnya dengan mengandalkan dirinya sendiri, niscaya usahanya
akan sia-sia dan waktunya terbuang cuma-cuma, sekalipun ambisi dan hajat
lahiriahnya terpenuhi.
وها هنا ضابط يعرف به أهل العناية من أهل الخذلان ، وأهل الولاية من أهل الخسران ذكره الشيخ أبو الحسن الشاذلي رضى الله عنه فقال : إذا أكرم الله عبدًا في حركاته وسكناته نصب له العبودية لله ، وستر عنه حظوظ نفسه ، وجعله يتقلب في عبوديته والحظوظ عنه مستورة مع جرى ما قدر له ، ولا يلتفت إليها كأنه في معزل عنها . وإذا أهان الله عبدًا في حركاته وسكناته نصب له حظوظ نفسه ، وستر عنه عبوديته ، فهو يتقلب في شهواته وعبودية الله عنه بمعزل ، وإن كان يجرى عليه شيء منها في الظاهر . قال وهذا باب من الولاية والإهانة
وأما الصديقية العظمى والولاية الكبرى ، فالحظوظ والحقوق كلها سواء عند ذوى البصيرة ، لأنه بالله فيما يأخذ ويترك اهـ . نقله الشيخ زروق في بعض شروحه
والحاصل : أن تصرفات العارف كلها بالله وتصرفات غيره كلها بالنفس ولو كانت بالله ، فالعمل بالله يوجب القربة ، والعمل لله يوجب المثوبة . العمل بالله صاحبه داخل الحجاب في مشاهدة الأحباب ، والعمل لله يوجب الثواب من وراء الباب . العمل بالله من أهل التحقيق والعمل لله من أهل التشريع . العمل لله من أهل قوله تعالى : ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ ) . والعمل بالله من أهل قوله تعالى : ( وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ )
وقال شيخ شيوخنا سيدي على رضى الله عنه : بين العمل بالله والعمل لله ما بين الدينار والدرهم ا هـ . وبالله التوفيق
Dan
di sini terdapat sebuah kaidah parameter (dhabit) untuk
mengenali antara orang-orang yang mendapatkan pertolongan (ahlul 'inayah) dengan orang-orang yang ditelantarkan (ahlul khidznan), serta untuk membedakan wali-wali
kekasih Allah (ahlul wilayah) dengan orang-orang
yang merugi (ahlul khusran). Parameter ini disebutkan oleh Syaikh
Abu Hasan Asy-Syadzili radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Apabila
Allah memuliakan seorang hamba dalam setiap gerak-gerik dan diamnya, maka Allah
akan menegakkan (memfokuskan) batin hamba tersebut pada penghambaan diri kepada
Allah (al-'ubudiyah), serta menutupi dirinya dari melihat
bagian kesenangan egonya (hazhuzhun nafs). Allah
menjadikannya senantiasa berbolak-balik dalam penghambaan, sementara kesenangan
egonya ditutupi dari pandangannya, seiring berjalannya apa yang telah
ditakdirkan untuknya. Ia pun tidak menoleh pada ego tersebut, seolah-olah ia
berada di tempat terisolasi darinya. Sebaliknya, apabila Allah menghinakan
seorang hamba dalam setiap gerak-gerik dan diamnya, maka Allah akan menegakkan
(memfokuskan) dirinya pada bagian kesenangan egonya, serta menutupi dirinya
dari melihat sisi penghambaan kepada Allah. Akibatnya, ia senantiasa
berbolak-balik dalam menuruti syahwatnya, sementara penghambaan kepada Allah
terisolasi darinya, meskipun secara zahir tampak ada sesuatu dari ibadah yang
berjalan pada dirinya." Beliau berkata: "Dan ini adalah satu pintu
penentu antara kewalian (al-wilayah) dan
kehinaan (al-ihanah)."
Adapun
tingkatan kejujuran spiritual tertinggi (al-shiddiqiyatal 'uzhma)
dan kewalian yang besar (al-wilayatul kubra),
maka perkara pemenuhan hak-hak Tuhan (al-huquq) maupun
pemenuhan bagian kesenangan diri (al-hazhuzh) semuanya
bernilai sama saja di mata orang-orang yang memiliki mata batin (dzawil bashirah). Hal itu dikarenakan ia selalu merasa
bersama Allah (billah) dalam apa saja yang ia
ambil maupun yang ia tinggalkan. (Selesai kutipan). Kalimat ini dinukil oleh
Syaikh Zarruq di dalam sebagian kitab syarahnya.
Kesimpulannya
(Wal Hashil):
Sesungguhnya
segala tindakan orang yang makrifat ('arif) semuanya
bersandar bersama Allah (billah), sedangkan
tindakan orang selainnya semuanya digerakkan oleh dorongan ego (bin-nafs) walau tujuannya karena Allah (lillah).
·
Beramal
bersama Allah (al-'amalu billah):
Membuahkan kedekatan yang teramat intim (al-qurbah).
·
Beramal
karena Allah (al-'amalu lillah):
Membuahkan pahala ganjaran (al-matsubah).
·
Orang
yang beramal bersama Allah (billah) posisinya
telah masuk ke dalam balik tirai pembatas, tenggelam dalam menyaksikan para
kekasih (musyahadatul ahbab). Sedangkan orang yang beramal
karena Allah (lillah), ia berhak mendapatkan pahala namun posisinya
masih berada di luar pintu pembatas.
·
Beramal
bersama Allah (billah) merupakan karakteristik
ahli hakikat (ahlul tahqiq), sedangkan beramal karena Allah (lillah) merupakan karakteristik ahli syariat (ahlul tasyri').
·
Beramal
karena Allah (lillah) adalah bagian dari orang-orang yang
merealisasikan firman-Nya Ta'ala: (“Hanya kepada-Mu lah kami
menyembah - Iyyaka na'budu”). Sedangkan beramal bersama Allah (billah) adalah bagian dari orang-orang yang
merealisasikan firman-Nya Ta'ala: (“Dan hanya kepada-Mu lah kami
memohon pertolongan - Iyyaka nasta'iin”).
Syaikh
dari guru-guru kami, Sayyidi 'Ali radhiyallahu 'anhu, berkata:
"Perbandingan antara beramal bersama Allah (billah) dengan
beramal karena Allah (lillah) adalah seperti perbandingan
nilai antara mata uang dinar (emas) dan dirham (perak)." (Selesai
kutipan).
Dan
hanya dari Allah-lah segala taufik.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.