بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III :
Telaga (Haudh) Nabi Muhammad Saw.
ومما يجب اعتقاده أن حوض نبينا صلى الله عليه وسلم حق وهو جسم مخصوص كبير متسع الجوانب ترده أمته بعد خروجهم من قبورهم عطاشاً ، ففي الصحيحين من حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما مرفوعاً ( حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ وزَوَايَاهُ سَوَاءٌ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ ورِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ وكِيزَانُهُ أَكْثَرُ مِنْ نُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلا يَظْمَأُ أَبَداً ) وفيما أوحى الله تعالى إلى عيسى عليه الصلاة والسلام من صفة نبينا صلى الله عليه وسلم له حوض أبعد من مكة إلى مطلع الشمس فيه آنية مثل عدد نجوم السماء وله لون كل شراب الجنة وطعم كل ثمار الجنة . وقد ورد تحديده بجهات مختلفة في البعد في روايات متعددة ولا تنافي في ذلك لأن الله تعالى تفضل عليه باتساعه شيئاً فشيئاً فأخبر صلى الله عليه وسلم بالمسافة القصيرة أولاً ثم أخبر بالطويلة، وأشار الإمام النووي رضي الله عنه إلى أن الاعتماد على ما يدل على أطولها مسافة
وقد ورد أن أطفال المسلمين حوله ، وعليهم أقبية الديبا ومناديل من نور وبأيديهم أباريق من فضة وأقداح من ذهب يسقون آباءهم وأمهاتهم الذين صبروا عند فقدهم ، وأما الذين سخطوا فلا يؤذن لهم في سقيهم ( واعلم ) أن ورود الحوض ليس عاماً لجميع الأمة بل هو خاص بمن تمسك بشريعته صلى الله عليه وسلم ولم يبدل ولم يغير ولم يتخذ عقيدة غير ما عليه صلى الله عليه وسلم وأصحابه بخلاف من غيّر أو بدّل فإنه يطرد عنه كالمرتد والمخالف لجماعة المسلمين كالخوارج والروافض والمعتزلة على اختلاف فرقهم ، والظلمة الجائرين والمصلين بالكبائر المستخف بالمعاصي وأهل الزيغ والبدع والكفار ، ففي مسلم « تَرِدُ أُمَّتِي عَلَيَّ الحَوْضَ وأنا أَذُودُ الناسَ كما يَذُودُ الرجلُ إِبلَ الرجلِ عن إِبلِه ، قالوا يارسول الله أَتَعْرِفُنَا ؟ قال نعم لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لأَحَدٍ غَيْرِكُمْ تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ ولَيُصَدَّنَّ عني طائفةٌ مِنْكُمْ فلا يصلون إِلَيَّ ، فَأَقُول : يَارَبِّ أَصْحَابِي أَصْحَابِي ، فيقول : هل تدري ما احدثوا بعدك ؟
نعم المغير بغير الكفر كالمبتدع الذي لم يكفر ببدعته يشرب منه بعد الرد ، اما الكافر فلا يشرب منه ابداً ( فائدة ) روى الترمذي مرفوعاً « إِنَّ لِكُلِّ نبي حوضاً وإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أكثرُ وَارِدَةً وأنا أرجو أنْ أكونَ أنا أكثرهُمْ وَارِدَةً
(Dan di antara perkara yang
wajib diyakini) adalah bahwa
Telaga (Haudh) Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
nyata (haqq). Ia adalah sebuah fisik materiil tertentu yang
besar lagi luas sisi-sisinya, yang akan didatangi oleh umatnya setelah mereka
keluar dari kubur mereka dalam keadaan haus.
Dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), dari hadis
Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma secara marfu':
(Telagaku seluas perjalanan
sebulan, sudut-sudutnya sama panjang, airnya lebih putih daripada susu,
aromanya lebih harum daripada minyak kasturi, dan gayung-gayungnya lebih banyak
daripada bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya, niscaya ia
tidak akan pernah haus selama-lamanya).
Dan di antara apa yang
Allah Ta'ala wahyukan kepada Isa 'alaihissalatu wassalam mengenai sifat Nabi kita
shallallahu 'alaihi wa sallam adalah: Beliau memiliki telaga yang jaraknya
lebih jauh daripada jarak antara Makkah hingga tempat terbitnya matahari (ufuk
timur). Di dalamnya terdapat wadah-wadah sebanyak jumlah bintang di langit,
memiliki warna seperti warna setiap minuman surga, dan rasa seperti rasa setiap
buah-buahan surga.
Mengenai ukuran jarak
telaga tersebut, telah datang riwayat-riwayat yang berbeda-beda dalam berbagai
sudut pandang jaraknya. Hal ini tidaklah saling bertentangan, karena Allah Ta'ala
melimpahkan karunia-Nya kepada beliau dengan memperluas telaga tersebut sedikit
demi sedikit. Maka pada awalnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan
jarak yang pendek, kemudian mengabarkan jarak yang lebih panjang. Imam
An-Nawawi radhiyallahu 'anhu mengisyaratkan bahwa acuan yang dipegang adalah
riwayat yang menunjukkan jarak yang paling panjang.
Telah diriwayatkan
pula bahwa anak-anak kaum muslimin (yang wafat sebelum baligh) berada di
sekitar telaga tersebut. Mereka mengenakan jubah sutra tebal (dibaj) dan saputangan dari cahaya. Di tangan mereka
terdapat teko-teko dari perak dan cawan-cawan dari emas, memberikan minum
kepada ayah dan ibu mereka yang bersabar ketika kehilangan mereka. Adapun orang
tua yang murka (tidak rida atas kematian anaknya), maka anak-anak tersebut
tidak diizinkan memberi minum kepada mereka.
(Dan ketahuilah) bahwa mendatangi telaga ini tidak berlaku
umum bagi seluruh umat, melainkan khusus bagi orang-orang yang berpegang teguh
pada syariat beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mengubahnya, tidak
menggantinya, serta tidak mengambil akidah selain apa yang diyakini oleh beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Berbeda halnya dengan
orang yang mengubah atau menggantinya, maka dia akan diusir dari telaga
tersebut. Contohnya seperti orang murtad dan orang-orang yang menyelisihi
jamaah kaum muslimin—seperti sekte Khawarij, Rafidhah (Syi'ah ekstrem), dan
Mu'tazilah dengan berbagai macam sekte mereka—serta para penguasa yang zalim
lagi sewenang-wenang, orang-orang yang meremehkan dosa besar, orang-orang yang
menganggap enteng kemaksiatan, ahli kesesatan (ziyagh), ahli bidah,
dan orang-orang kafir.
Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan: (Umatku akan mendatangi
telagaku, lalu aku menghalau orang-orang asing sebagaimana seseorang menghalau
unta orang lain dari untanya. Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah,
apakah engkau mengenali kami saat itu?" Beliau menjawab: "Ya, kalian
memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain kalian; kalian
mendatangi telagaku dalam keadaan putih bersinar wajah, tangan, dan kaki kalian
karena bekas air wudu. Dan sungguh, benar-benar akan ada sekelompok orang dari
kalian yang dihalangi dariku sehingga mereka tidak bisa mencapai telagaku. Maka
aku berkata: 'Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabatku, sahabatku!' Lalu
dikatakan: 'Apakah engkau tahu apa yang mereka ada-adakan (ubah)
setelahmu?'").
Benar, bagi orang yang
mengubah ajaran namun tidak sampai pada batas kekafiran—seperti pelaku bidah
yang tidak dikafirkan karena kebidahannya—ia tetap dapat meminumnya setelah
sempat diusir terlebih dahulu. Adapun orang kafir, maka ia tidak akan pernah
meminumnya sama sekali.
(Faedah)
Imam At-Tirmidzi
meriwayatkan secara marfu':(Sesungguhnya setiap nabi
memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membanggakan siapakah di antara
mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan aku berharap akulah yang paling
banyak pengunjungnya).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.